Summary: Aku telah kembali dari tugas yang telah di berikan. Kini saatnya aku akan mengembalikan semua yang telah ku tinggalkan, termasuk keluargaku.

.

.

.

Disclaimer

Naruto by Masashi Kishimoto

Akame Ga Kill by Takahiro

.

.

Rate: M

.

Pair: (?)

.

.

Warning: Pemula, Acak-acakan, Ga jelas dsb.

.

.


Suatu pagi di sebuah hutan yang tidak terlalu jauh dari kekaisaran, ada sebuah kereta kuda yang sedang berjalan perlahan yang di kendarai oleh dua pria yang lagi mengobrol. Awalnya semua tampak normal sampai tanah di depan mereka bergetar.

Krak!

Krak!

Duar!

Retakan mulai muncul di mana-mana sampai tanah terangkat menampilkan seekor monster besar berwarna coklat yang terlihat ganas.

Jelas kemunculan monster itu membuat kereta kuda tadi berhenti mendadak. "I-itu!? Naga tanah!!" teriak salah satu pria kaget. Mereka lagi bernasib sial harus bertemu dengan monster naga tanah ini.

"Grooaaarrrr!"

Naga itu berteriak. Dengan instingnya, sang monster menghunuskan tangannya yang di lengkapi kuku-kuku tajamnya siap untuk melenyapkan kedua pria yang tidak bisa berbuat apa-apa karena ketakutan.

Wush!

Jrash!

Sebuah ayunan pedang yang muncul tiba-tiba memotong tangan kanan monster itu. Cairan berwarna merah pekat menyembur keluar dari bagian tubuh monster yang terpotong.

Tap..

Tap..

Datang seorang pemuda yang berkisar umur 16-17 tahun berlutut di tanah sambil memegang sebuah pedang. Nampaknya pemuda ini lah yang melakukan hal yang baru saja terjadi.

Duar!

Tangan monster yang terputus jatuh ke tanah menimbulkan debu tepat di belakang pemuda itu. Kalau seandainya ada orang lain yang melihat di depan sang pemuda, mungkin ia akan melihat adegan yang keren.

"Monster berbahaya tingkat satu, Naga tanah." pemuda itu berbicara sambil berdiri dan berbalik ke arah naga tanah. "Lawan yang pantas." lanjutnya menatap monster coklat itu yang mengamuk dan mengangkat tubuhnya lebih tinggi bersiap untuk menghabisi pemuda yang telah memotong bagian tubuhnya.

Pemuda bersurai coklat dengan mata berwarna hijau itu tersenyum tipis. "Kau marah, ya?" tanyanya dengan nada santai. Ia memakai sweater putih dengan baju kemeja putih di dalamnya dan memakai celana hitam. Di punggungnya terdapat sarung pedang.

Seolah menjawab pertanyaan remaja itu, monster naga tanah kembali mengamuk dan menghunuskan tangannya yang tersisa.

Boom!

Pukulan monster itu menghantamkan tepat di tempat pemuda itu berdiri tapi yang di dapat hanyalah kekosongan. Naga itu mendongak ke atas dan melihat pemuda yang menghindari serangannya berancang-ancang dengan pedangnya.

"Selesai sudah!" ucap pemuda itu menatap tajam monster di bawahnya.

Dia berputar-putar di udara dan mengayunkan pedangnya menebas monster tanah itu. Cepatnya tebasan itu membuat hanya terlihat seperti meninggalkan bekas cahaya laju pedang.

Sring!

Sring!

Setelah melakukan itu, sang pemuda berlutut tepat di hadapan monster yang terdiam.

Brush...

Tiba-tiba di sekujur tubuh naga tanah itu menyemburkan darah yang cukup banyak. Perlahan naga itu jatuh ambruk ke belakang dengan luka di seluruh badannya dan mati di tempat.

Merasa keadaan sudah aman, dua pria tadi segera menghampiri remaja yang mulai berdiri. "Hebat sekali anak muda!" seru salah satu pria itu kagum. Ia merasa pemuda di hadapannya hebat.

"Kau benar-benar mengalahkan monster berbahaya itu sendirian." ucap pria satunya memuji anak muda yang sedang menyarungkan kembali pedang miliknya di punggungnya.

Pemuda itu melirik ke belakang dengan ujung matanya sebentar lalu menghadap ke depan lagi. "Hmm.." Ia tersenyum entah karena apa.

Remaja laki-laki itu berbalik. "Tentu saja, dong!. Buatku, itu bukan apa-apa." ucap pemuda itu memasang mimik wajah menyebalkan membuat rasa ingin menonjoknya naik drastis. "Mengalahkannya itu gampang." lanjutnya masih membanggakan diri sendiri membuat kedua pria yang di tolong nya sweatdrop.

"Omong-omong, namaku-"

"Oi!"

Sebuah suara memotong perkataan pemuda iris hijau itu. Muncul seorang pemuda bertubuh tinggi yang entah bagaimana berada di samping kedua pria kereta kuda itu. Ia melemparkan sebuah ransel besar ke depan dengan sekuat tenaga membuat remaja di depannya jatuh dengan tidak elit karena menerima itu dengan wajahnya membuat dua pria itu kembali sweatdrop.

Pemuda itu berambut pirang memakai jubah hitam yang menutupi baju biru tua miliknya, celana hitam panjang dan sepatu unik berwarna hitam. Iris biru shappirenya menatap tajam pemuda di depannya. "Kau tahu, Tatsumi. Aku hanya meninggalkanmu sebentar untuk buang air kecil dan saat aku kembali, kau sudah tidak ada dan meninggalkan tasmu itu." ucapnya dengan nada menyeramkan. Hei, siapa yang tidak marah saat kau di tinggal temanmu sendiri?

Tatsumi yang mengelus wajahnya berkeringat dingin. "Eh! sabar Naruto-san. Aku hanya ingin menyelamatkan paman-paman itu. Ini adalah langkah awal untuk membuatku menjadi terkenal di ibukota kerajaan!" seru Tatsumi membela diri sekaligus menyombongkan diri sendiri membuat Naruto menghela nafas akibat kepedean Tatsumi.

Salah satu pria dewasa itu memicingkan matanya saat mendengar ucapan Tatsumi. Jangan bilang kedua pemuda itu...

"Kalian ingin menjadi terkenal di ibukota kerajaan?" tanya pria itu serius membuat Naruto meliriknya curiga.

'Ada yang tidak beres.'

"Dari nadanya, pria-pria itu seperti mewaspadai tempat itu."

Naruto mengangguk pelan tanpa di sadari oleh mereka.

.

Tatsumi kemudian berdiri. Ia menyilangkan tangannya di depan dada dan menutup mata. "Tentu! Sukses dan terkenal di ibukota, itu impian setiap lelaki desa!"

"Ralat, hanya kau yang seperti itu. Aku cuma mampir ke sana sebelum berpetualang lagi." Naruto membantah pernyataan dari Tatsumi.

Kedua pria yang sebut saja A dan B ini sedikit bernafas lega. Untung salah satu dari mereka hanya ingin berkunjung saja. Tapi untuk pemuda yang satu lagi, pria-pria itu membuat alasan agar dia mengurungkan niatnya.

"Ibukota itu bukan tempat harapan dan impian seperti yang kau pikirkan, nak."

Tatsumi mengubah ekspresinya menjadi heran mendengar perkataan dari pria A, sementara Naruto membatin.

'Aku ingin tahu kondisi di sana.'

"Apa maksudmu?" Tanya Naruto setelah berjalan di samping Tatsumi dan menghadap kedua pria itu.

Bukan pria A lagi yang menjawab, tapi pria satunya. "Disana memang ramai, tapi ada monster yang lebih buruk daripada naga tanah itu." Pria B menjawab sambil menunjuk ke belakang dengan jempolnya.

Tatsumi melepaskan silangan tangannya dan sedikit memiringkan kepalanya "Apa? Maksudmu ada monster berbahaya di kota?" tanyanya tidak mengerti. Bukankah itu akan menguntungkan dirinya kalau ia berhasil melenyapkan monster itu di kota?

"Manusia... Mereka memang manusia tapi hati mereka seperti monster." Pria A mengatakan itu dengan keringat dingin di dahinya. "Ibukota penuh dengan orang macam itu."

Naruto yang mendengar itu mengerutkan keningnya, berbeda dengan Tatsumi yang tersenyum dan memasang ransel di punggungnya. "Walau aku berterimakasih atas nasihatmu, tapi aku tidak bisa mundur sekarang." kata Tatsumi melirik ke arah belakang.

Pemuda surai coklat itu melihat ke arah langit biru cerah. "Aku... bukan. Kami akan pergi ke ibukota kerajaan, dan menyelamatkan desa kami!" ucap Tatsumi penuh tekad. Benar, tidak perduli apa yang akan terjadi ke depannya, kita akan berjuang sampai mati. Bukan begitu...?

'Sayo, Ieyasu. Tunggu aku!'

Nostalgia, itulah yang dirasakan Naruto saat mendengar deklarasi dari pemuda yang belum lama ia kenal. Senyuman tipis terpatri di wajah penyamarannya.

'Dia mengingatkanku kepada Menma dulu'

"Ikuzo, Naruto-san!" Tatsumi langsung berjalan terlebih dahulu meninggalkan Naruto dan kedua pria kereta kuda.

Naruto tidak menjawabnya. Ia melihat kedua pria itu dan membungkuk sedikit. "Terima kasih atas nasihatnya." ucapnya dengan sopan. Tanpa menunggu ucapan mereka, ia langsung menyusul Tatsumi yang telah sedikit jauh darinya.

"Hati-hati, nak."

-o0o-

Opening: Skyreach - Sora Amamiya

-o0o-

"Wah... Sugoi. Jadi ini ibukota kerajaan ya...?" teriak takjub Tatsumi yang baru tiba. Pandangannya kesana kemari melihat ke sekitarnya. Orang-orang yang ramai, bangunan yang bergaya arsitektur abad pertengahan. Semua itu terasa asing di mata Tatsumi.

"Kalau aku sukses di sini, aku bisa membeli desa dan isi-isinya." ucap Tatsumi membayangkan ia di kelilingi gadis-gadis di desanya termasuk Sayo, temannya.

Naruto menepuk jidatnya melihat wajah mesum dari Tatsumi. Ia menduga bahwa remaja yang kiranya dua tahun lebih muda darinya sedang berkhayal aneh-aneh.

Bletak

"Itai... Kenapa kau memukul kepalaku!?" ujar Tatsumi tidak terima.

Naruto tersenyum puas karena pemuda itu sudah sadar akibat tindakannya. "Berhentilah menghayal kawan." ucapnya dengan nada mengejek membuat Tatsumi menggerutu sambil mengelus kepalanya yang benjol.

"Daripada itu, bukannya kau harus pergi ke suatu tempat?"

Tatsumi mengerutkan keningnya, ia sedang berfikir sesaat "Oh iya, aku harus pergi ke baraknya." katanya dengan gerakan tangan kanan yang terkepal di atas telapak tangan kirinya. Tatsumi melihat ke arah Naruto yang tinggi badannya jauh melebihinya. Kalau di ukur, tingginya hanya sebatas dada dari pemuda surai pirang itu.

"Apa kita berpisah di sini, Naruto-san?"

Naruto paham yang Tatsumi maksud. Singkat cerita, saat ia sedang berjalan-jalan mencari info tentang kedua adiknya, ia tidak sengaja melihat Tatsumi sedang bertarung dengan para serigala. Sebagai orang yang baik, ia membantu orang yang kesusahan. Dan disitulah mereka bertemu.

"Hmm... mungkin aku menemanimu terlebih dahulu." jawab Naruto seadanya dengan mengangkat kedua bahunya.

Ekspresi Tatsumi langsung cerah. "Arigatou... Ayo pergi kesana, Naruto-san!" serunya. Ia berjalan dengan penuh semangat ke barak terdekat di ikuti Naruto yang menatapnya malas.

"Iya. Iya."

Tanpa mereka sadari, ada seorang yang melihat mereka sambil meminum teh.

1 Jam kemudian

Duagh...

"KELUAR!!"

Naruto yang sedang bersandar di sebuah bangunan langsung menatap ke depan. Ia sweatdrop melihat Tatsumi yang menungging dengan wajah menghantam aspal.

"Apa-apaan kau!? kenapa tidak mengetesku dulu!?" tanya Tatsumi marah sambil berdiri dan menantang orang yang menendangnya.

"Jangan bercanda! Karena ada resesi, kami di banjiri pelamar. Ada batasan orang yang bisa kami pekerjakan!" teriak pria yang ternyata resepsionis dari barak tersebut.

Tatsumi mengedipkan matanya. Ia baru tahu soal ini. "Oh, begitu ya?"

"Kalau kau mengerti, pergi sana! Dasar bocah sialan!" pria itu kembali berteriak dan menutup pintunya dengan keras.

Pemuda itu menatap pintu yang tertutup sebentar sebelum ia duduk di jalanan sambil menyilangkan tangannya dan menutup mata. "Apa aku membuat masalah dan menjelekkan reputasi ku?" gumam Tatsumi pelan.

Naruto kemudian menghampiri Tatsumi yang sedang berfikir. "Setelah ini, bagaimana sekarang?" tanya Naruto setelah berada di sampingnya.

"Haruskah aku membuat kekacauan dan membuat reputasi sendiri?"

Naruto menatap datar pemuda yang lagi depresi. Apa dia sudah berputus asa? sampai-sampai memikirkan ide konyol seperti itu. "Kalau kau melakukannya, yang ada kau akan di tangkap prajurit kerajaan."

Tatsumi semakin pundung dengan garis- bergelombang di kepalanya. "Kau benar, Naruto-san."

Tap..

Tap..

"Hai~"

Datang seseorang yang dari suaranya yang ternyata wanita menghampiri mereka berdua. Naruto mengalihkan pandangannya di ikuti oleh Tatsumi yang mendongakkan kepalanya ke atas menatap wanita di belakangnya.

Di mata mereka, Wanita itu memiliki surai kuning pucat dan iris mata emas kehitaman. Ia memakai baju yang sangat sulit di jelaskan serta memakai syal putih di lehernya.

"Sepertinya ada sesuatu yang mengganggu kalian, pemuda-pemuda-san." kata wanita itu tersenyum ramah. Ia mengulurkan tangannya "Apa mau Onee-san bantu?"

"Gaah!" tiba-tiba Tatsumi tersentak kaget karena menatap dada wanita itu yang terbilang besar di balut oleh kain hitam yang menggantung di atasnya. "J-jadi ini ibukota..." ujar Tatsumi sambil membayangkan empuknya jepitan dada wanita itu di mukanya. Tanpa sadar, dia memasang wajah nista.

"Dia seperti kodok mesum itu."

Naruto sweatdrop mendengar celetukan dari Kurama. Tapi ia setuju dengan perkataannya.

"Kau kenapa?" tanya wanita itu tidak mengerti. Perasaan ia hanya menawarkan bantuan, tapi kenapa pemuda di bawahnya hanya diam? Sang Wanita kemudian melihat Naruto yang menatapnya datar. Tiba-tiba wajah cantik wanita itu sedikit merona.

'Astaga, dia tampan. Dan juga tipeku..' pikirnya menatap mata biru milik Naruto.

Kali ini Naruto yang menaikkan alisnya. Kenapa wanita ini memerah? "Kau siapa, nona?" tanya Naruto sopan.

Wanita itu tersentak, ia berdehem untuk mengendalikan dirinya. "Ah, namaku Leone. Penduduk asli dari kota. Kalau namamu? " tanya wanita yang bernama Leone ini mengulurkan tangannya.

"Namaku? hanya Naruto." setelah mengatakan itu, ia tersenyum tipis dan menerima uluran tangan Leone.

Kali ini Leone tidak bisa menyembunyikan rona merahnya. Mimpi apa semalam, sampai ketemu pangeran impiannya. Ia melepaskan tautan tangan mereka. "Ah. Ngomong-ngomong, kalian datang dari desa karena bermimpi jadi sukses di ibukota kan?"

"A-

"Bagaimana kau bisa tahu!?" ucapan Naruto terpotong dari seruan kaget Tatsumi yang langsung berdiri menatap cepat Leone.

Leone menutup mata. Rona merah tadi di wajahnya menghilang. "Aku tahu semuanya. Kalau kau sudah lama tinggal di kota, kau bisa membedakan orang luar." jelas Leone sambil mengangguk-nanggukan kepalanya. "Jadi, aku tahu cara tercepat untuk di pekerjakan oleh pemerintah." lanjutnya memberi solusi.

Tatsumi langsung antusias "Benarkah?" ujarnya berharap.

"Mau tahu?"

Tatsumi menangguk cepat.

"Kalau begitu, traktir Onee-san makan."

Ah, ini mudah bagi Tatsumi. Cuma traktir dia doang, masalahnya akan selesai. Sementara Naruto menatap Tatsumi yang memasang wajah berseri-seri.

"Kurasa kita berpisah di sini, Tatsumi." ucap Naruto berbalik badan dan melangkah menjauhi Tatsumi dan Leone.

"Eh? apa kita akan bertemu lagi, Naruto-san?"

"Entahlah. Mungkin suatu saat."

Tatsumi memasang ekspresi kecewa. "Begitu... Terima kasih telah menemaniku ke sini." Ia melambaikan tangannya yang di balas sama oleh Naruto tanpa melihatnya.

"Eh? dia bukan temanmu?" Leone seketika bingung dengan mereka.

"Kami belum lama bertemu, tapi kami sudah berteman. Ia adalah seorang pengembara. Ia kesini hanya untuk mampir saja."

Leone sedikit kecewa mendengarnya. Padahal ia ingin mengenalnya lebih dalam. Tapi katanya, pemuda surai kuning itu adalah seorang pengembara, yang artinya ia bisa bertemu dengannya lagi di luar bukan?

Siapa sebenarnya Leone ini?

-o0o-

"Aku jadi kasihan kepadanya."

Naruto sekarang berada di tengah kota. Ia berwajah datar mendengar celetukan Kurama yang berada di dalam tubuhnya. 'Biarkan, untuk jadi pembelajarannya agar tidak langsung percaya pada orang asing.'

Orang bodoh mana yang langsung percaya kepada orang asing yang memberi saran kepadanya saat ia baru datang pertama kali? Apalagi sarannya sangat tidak masuk akal.

Kurama diam sesaat sebelum berbicara lagi. "Naruto."

'Hm?'

"Kenapa kau memakai Henge no Jutsu ciptaanmu dalam wujud Menma?" tanya Kurama yang bisa di bilang err.. jengkel. Hei, dia sudah bosan dengan Menma yang menurutnya menyebalkan. Dan sekarang partner barunya menyamar dengan wujud itu? Ingin rasanya ia berteriak kesal tapi itu akan melukai harga dirinya sebagai bijuu terkuat.

'Er.. mungkin... dia... terlalu mencolok?' ucap Naruto ragu-ragu.

Alasan macam apaan itu? "Kalau dia tahu, kau akan di habisi dengan Rasen Shuriken miliknya."

Naruto membayangkan ekspresi murka Menma yang tidak terima dengannya. Ia tersenyum kikuk saat dirinya di serang dengan salah satu jurus Menma.

'Kau benar.'

Pemuda tanpa marga itu kemudian melihat sekeliling. Ia menyadari bahwa tempat ini sangat besar bahkan lebih besar dari Konoha yang ia ingat. Banyak orang berlalu lalang karena sibuk dengan kegiatan mereka. Tapi...

"Sepertinya tempat ini tidak sesuai dari luarnya."

Naruto setuju dengan perkataan Kurama. Memang tempat ini sangat ramai, tapi di perhatikan lagi, setiap orang memasang wajah sedih, takut dan pasrah. Selain itu, banyak prajurit sedang berpatroli di sini.

"Di luar memang terlihat indah, tapi di dalamnya begitu memuakkan." Desis Naruto pelan.

Jangan menilai sesuatu dari sampulnya. Itu cocok dengan keadaan ibukota.

Naruto terus berjalan sambil melihat-lihat sampai ia berhenti di sebuah papan pengumuman kota. Ia melihat tiga buah poster di sana.

"Night Raid? Nama yang menarik."

Naruto tidak membalas ujaran bijuu ekor sembilan itu. Ia berfokus kepada salah satu poster yang bergambar seperti gadis. Ia tersentak kecil setelah tahu siapa dalam poster tersebut apalagi dengan nama yang tertulis di poster itu. Tidak salah lagi...

Senyuman kecil tercipta di wajah penyamaran Naruto. 'Ketemu...'

.

"Ada yang bisa ku bantu, anak muda?"

Seorang prajurit datang menghampiri Naruto. Ia melakukannya karena penasaran dengan pemuda ini yang melihat poster cukup lama.

Naruto melihat kearah prajurit itu. Bagus, sumber informasi datang dengan sendirinya. "Ah, aku ingin tahu tentang mereka." kata Naruto pura-pura penasaran dengan menunjuk ke arah poster.

"Baru pertama kali lihat?" Tanya prajurit dan di jawab anggukkan Naruto.

"Mereka adalah sekelompok pembunuh yang menakutkan di ibukota kekaisaran."

Naruto mengerutkan keningnya. "Pembunuh?"

Prajurit itu mengangguk. "Iya. Sesuai namanya, mereka menyerang korban pada malam hari dan menargetkan orang-orang tertentu. Kusarankan agar tidak keluar malam-malam untuk berjaga-jaga. Poster-poster ini hanya tiga dari mereka." Prajurit itu kemudian menunjuk poster gadis berambut panjang. "Terutama gadis ini. Dia sangat berbahaya." ucapnya penuh waspada.

Naruto melihat poster itu kembali. "Akame." gumamnya pelan. Lalu melihat poster yang lain yang bergambar satu orang pria dan satu orang wanita. "Bulat... Najenda..."

Informasi ini sangat berharga untuknya.

Naruto membungkuk sedikit. "Terimakasih atas informasinya, tuan prajurit."

"Sama-sama, anak muda. Kalau kau melihat salah satu dari mereka, segera laporkan kepada kami." Prajurit itu melenggang pergi dari sana.

Naruto hanya menatap datar prajurit itu sebelum melihat kembali poster-poster itu. Adiknya bergabung dalam kelompok pembunuh? Lalu di mana adiknya yang lain? Apa yang terjadi selama ia meninggalkan mereka?

"Kurasa aku mengerti pemikiranmu." Kurama berkomentar pelan.

Banyak sekali pertanyaan yang terkumpul di kepalanya. Tidak ada pilihan lain, untuk mendapatkan jawabannya, ia harus melakukan satu hal.

.

"Aku harus menetap di tempat ini." desis Naruto pelan penuh penekanan.

.

Malam Harinya.

Seorang pria dengan sweater putih dan tas ransel di punggungnya sedang berdiri di jalanan yang sudah sepi. Ia terlihat sangat lesu sambil memegang kantong yang sudah kosong.

"Sialan, setelah membayar traktiran itu, aku jadi bangkrut." ujar lemah Tatsumi entah kepada siapa. Ia menggenggam kantung itu dengan erat. "Si dada itu! bukan, cewek itu! Jadi ini pelajaran berharga yang di maksud!?" Tatsumi berteriak marah dengan berlinang air mata. Ia membayangkan wanita yang ia lupa namanya sedang tertawa terbahak bahak seakan mengejek dirinya membuat dirinya semakin kesal.

"Oh itu kau, Tatsumi?"

Tatsumi mengedarkan pandangannya. Ia melihat pemuda bertubuh tinggi dengan surai pirang berponi panjang sedagu di kedua sisi wajahnya dan iris mata biru. Dia memakan sebuah roti. Dia kan...

"Na~ru~to~san~" Pemuda yang baru di tipu itu cepat bergegas ke arah temannya dengan merentangkan kedua tangannya seolah ingin memeluknya.

Duagh

Bukan sebuah pelukan, melainkan tendangan dari Naruto membuat Tatsumi terpental kebelakang.

"Menggelikan." desis Naruto memasang wajah sinis. Ia sempat merinding karena kelakuan dari pemuda yang ia tendang barusan.

.

"Jadi, kenapa kau mengumpat di tengah jalan tadi?"

Naruto bertanya kepada Tatsumi sambil membagi rotinya yang ia rasa tidak terlalu enak.

Tatsumi menerima roti itu dengan putus asa. "Aku... Ditipu... " gumamnya semakin pelan.

Sudah Naruto duga, tapi ia ingin tahu rincian kejadian yang di alami oleh Tatsumi. "Hm? Ditipu?"

"Sebenarnya..."

.

Flashback

Glek

Glek

"Fuuaahhh... Minum di siang hari memang paling enak!" ucap Leone mendesah lega setelah meminum segelas sake terakhir dari 4 botol sake yang dipesan. Tatsumi yang melihat banyaknya tumpukan mangkok dan sake pun menatapnya dengan pandangan pucat. Dan parahnya, semua itu harus di tanggung oleh dirinya sendiri. Berbeda dengan wanita itu, Ia hanya memesan segelas air es saja.

'Wanita ini, nafsunya gila!'

"Ayo minum sedikit, anak muda. Ayo bersenang-senang!" Leone menawarkan setengah isi sake dari gelas yang baru ia minum. Wajahnya merona merah bertanda ia sudah meminum sake terlalu banyak.

"Cukup beri tahu aku saja cara di pekerjakan oleh pemerintah!" Tatsumi mengebrak meja dengan pelan. Oke, dia sudah mulai habis kesabarannya.

"Oh, kalau itu..." wanita surai kuning pucat menghabiskan sakenya. "Intinya memiliki kenalan orang dalam dan uang." lanjutnya menatap Tatsumi di depannya.

"U-uang?"

"Aku kenal seseorang di militer. Jika kau memberikan uang secepatnya, mungkin-"

"Apa segini cukup?" kata Tatsumi memotong perkataan Leone sembari menaruh satu kantung penuh uang koin di atas meja.

Mata Leone berbinar-binar. "Oh~ tentu saja!" ucapnya penuh senang.

"Dalam perjalananku, aku mengumpulkan hasil sayembara untuk membunuh monster berbahaya dan inilah hasilnya." Tatsumi menjelaskan dengan nada membanggakan diri.

'Anak muda ini...' Leone menatap Tatsumi tidak terbaca. "Kau kuat juga, ya..."

"Kau pasti bisa menjadi komandan!" ucap wanita itu pun beranjak dari tempat duduknya dan mengambil kantung koin itu.

"Iya! Ku serahkan kepadamu!" kata Tatsumi dengan girang. Enaknya di ibukota. Hanya dengan uang, ia bisa masuk ke pekerjaan pemerintah.

"Oh sebelum itu, pertemuanmu denganku akan memberikan pelajaran yang berharga bagimu, anak muda." tutur Leone menengok ke belakang dengan melambaikan tangannya dan berkedip genit. "Aku akan mengusahakannya dengan cepat, jadi tunggu aku di sini, ya?" setelah itu, Leone melangkah pergi keluar bar.

"Oke." balas Tatsumi melambaikan tangannya juga.

2 Jam kemudian...

"Mungkin memang agak lama." Tatsumi mencoba berfikir positif.

4 Jam kemudian...

Bar mulai ramai pengunjung tapi Tatsumi tetap duduk menunggu.

8 Jam kemudian...

Sangking lamanya menunggu, Tatsumi sampai tertidur di atas meja.

10 Jam kemudian...

"Aku mulai curiga." Tatsumi yang sudah terbangun dari tidurnya sweatdrop menatap kursi yang diduduki wanita pirang tadi.

"Tuan, kami sudah mau tutup." ucap yang sepertinya pemilik bar sedang mengelap meja.

Tatsumi menengok ke arah pria tua itu. "O-oh, aku sedang menunggu seseorang." balas Tatsumi yang mulai terbata-bata. Ia mulai merasakan perasaan tidak enak.

"Maaf saja. Tapi kau itu sudah di tipu."

"Eh?" Tatsumi memproses kata-kata pria tua yang berkacak pinggang.

Tik

Tik

Tik

"HAH!?" teriak Tatsumi yang shock. Jadi selama ini ia di tipu!?

"Tak ku sangka kau bisa sepercaya itu dengan ibukota di saat seperti ini."

"Itu penipuan. Akan ku laporkan dia." Tatsumi segera bergegas mengambil barangnya ke luar bar, tapi kata-kata selanjutnya dari pemilik itu membuatnya tercengang.

"Percuma, yang di tipulah yang salah."

.

Flashback End.

.

Naruto yang berjalan bersama dengan Tatsumi hanya memberikan reaksi biasa saja. "Naruhodo..." ucapnya datar. Eits, itu hanya di luarnya saja, berbeda lagi dengan mindscapenya yang di tempati oleh Kurama.

"HAHAHAHAHAHA"

"HAHAHAHAHAHA"

Rupanya Naruto dan Kurama tertawa terpingkal-pingkal mendengar cerita ngenes dari Tatsumi.

"Coba seandainya aku berada di sana..."

"Mungkin itu akan seru..."

"HAHAHAHA/HAHAHAHA" Mereka berdua kembali tertawa berguling-guling.

Dasar tak ada rasa kasihan. Kalian sungguh jahat bahkan mungkin iblis akan belajar dari kalian.

.

"Ya sudahlah." Naruto sadar dari mindscapenya mendengar ucapan pasrah dari Tatsumi.

Mereka berdua berjalan cukup lama sampai berada di sebuah jembatan kota.

"Sudahlah, aku akan tidur di sini saja. Aku bisa tidur di mana saja." Tatsumi duduk di pinggir jembatan karena sudah lelah fisik dan batin.

Naruto pun ikut duduk juga membuat Tatsumi heran. "Kenapa kau ikut duduk di sini, Naruto-san?"

Yang di tanyai hanya memberikan pandangan biasa saja. "Kurasa aku juga tidur di sini sambil menemanimu."

Tatsumi memasang ekspresi terharu. Ia sangat beruntung mengenal pemuda baik ini. "Naruto-san!"

"Hentikan, oi."

Kletek

Kletek

Klek

Sreettt

Di saat Tatsumi yang ingin memeluk Naruto yang berusaha menjauhkannya, tiba-tiba sebuah kereta kuda yang cukup mewah yang tengah berjalan berhenti di depan mereka. Saat pintu kereta itu terbuka, terlihat seorang gadis berambut pirang berjalan keluar ingin menghampiri Naruto dan Tatsumi.

"Lagi, nona!?" ujar kaget salah satu pengawal gadis tersebut.

"Mau bagaimana lagi, itu sudah kebiasaanku." Setelah mengucapkan itu, gadis itu melanjutkan langkahnya.

Naruto dan Tatsumi yang sedang dalam kegiatan mereka menyadari seseorang datang ke arah mereka. Mereka menatap seorang gadis pirang dan bermata biru.

"Kalau tidak punya tempat untuk beristirahat, maukah kalian tinggal di rumahku?"

Raut wajah Tatsumi sangat bahagia. Ia bagaikan melihat seorang malaikat suci datang kepadanya untuk menyelamatkannya. Tapi berbeda Naruto yang menatap datar gadis tersebut.

Tapi Tatsumi menyadari sesuatu "Ak- Kami tidak punya uang sepeserpun." ujar Tatsumi sedikit meralat perkataannya membuat Naruto heran.

Gadis itu tertawa kecil. "Kalau punya, kalian tidak akan tidur di sini, 'kan?

Lalu datanglah dua pengawal gadis tersebut. "Nona Aria tidak bisa mengabaikan orang seperti kalian." ucap salah satu pengawal itu.

"Harusnya kalian menerima kebaikannya." ucap pengawal gadis bernama Aria yang satunya.

"Jadi bagaimana?" tanya Aria menatap kedua pemuda itu dengan senyuman. Tetapi ia menatap Naruto dengan sedikit merona.

Tatsumi merona melihat senyuman indah dari Aria sementara Naruto tidak mengubah ekspresinya.

"Yah, sepertinya itu lebih baik daripada tidur disini" ucap Tatsumi sedikit gugup sambil menggaruk kepalanya.

"Hmm.. Kami menerimanya." Dan akhirnya Naruto berbicara dengan sopan.

"Baiklah, ikut denganku ya!" ucap Aria merasa senang. Ia berhasil mengajak kedua pemuda terutama pemuda pirang itu yang merupakan tipenya. Aria kemudian kembali ke arah keretanya di ikuti oleh oleh kedua pengawalnya. Tatsumi mengikutinya dari belakang. Tidak ada yang menyadari tatapan menyelidik dari Naruto yang sengaja menyusul paling belakang terutama ia menatap gadis pirang itu dengan salah satu pengawalnya.

Sejak awal, ia sudah tidak percaya terhadap mereka. Ia sengaja menerimanya karena tidak ingin Tatsumi celaka.

.

.

.

'Aku harus waspada terhadap mereka.'

"Hati-hati Naruto. Aku merasakan niat jahat dari mereka. Ikuti saja alur mereka dan lihat apa yang mereka lakukan kepada kalian."

'Arigatou, Kurama'

.

.

.


Yo Welcome Back..

AH!!! Sudah sebulan tidak update lagi. Karena terlalu fokus ke game, jadinya lupa.

Mah, aku ingin puas-puasin masa-masaku sebelum memikul tanggung jawab.

Oke sampai di sini saja.

Jangan lupa tinggalkan kritik dan saran di komentar di kolom review.

See You Next Time