Summary: Aku telah kembali dari tugas yang telah di berikan. Kini saatnya aku akan mengembalikan semua yang telah ku tinggalkan, termasuk keluargaku.

.

.

.

Disclaimer

Naruto by Masashi Kishimoto

Akame Ga Kill by Takahiro

.

.

Rate: M

.

Pair: (?)

.

.

Warning: Pemula, Acak-acakan, Ga jelas dsb.

.

.


Besar dan megah. Itu penilaian dari Tatsumi dan Naruto saat memasuki mansion milik gadis yang mengajak mereka ke sini. Bahkan karena luasnya mansion itu, Tatsumi sampai ternganga melihatnya yang membuat Naruto memukul pelan kepala Tatsumi atas sikap norak pemuda itu yang di balas gerutuannya.

Aria yang berada di depan mereka terkikik kecil melihat interaksi kedua pemuda itu.

Rombongan pemuda pemudi dan kedua penjaga tadi berjalan menuju ke suatu tempat. Saat telah sampai di suatu pintu, salah satu penjaga itu membukanya. Mereka melihat satu pasangan sedang duduk terpisah di dekat perapian, karena memang sofa yang mereka duduki itu hanya khusus satu orang saja. Dari penampilan mereka, Naruto yakin kalau mereka adalah orang tua Aria.

"Hawa mereka tidak berbeda dari gadis itu." celetuk Kurama yang berada di alam sadar memperingati Naruto saat ia merasakan perasaan jahat dari keluarga itu.

'Aku mengerti.'

"Oh... Aria membawa orang lagi ke rumah."

Lamunan Naruto buyar saat pria yang jadi ayah Aria berbicara sambil tersenyum ramah. Tapi ia tahu kalau senyuman itu penuh kepalsuan.

"Ara... Susah kebiasaannya. Entah sudah berapa banyak orang yang di bawa." Naruto melirik ke arah kanan di mana wanita dengan surai kuning panjang tersenyum sementara Tatsumi masih melihat sekeliling ruangan yang penuh dengan barang-barang mahal, jauh berbeda yang ada di desanya.

"Okaa-san!" teriak Aria saat ibunya mengatakan hal yang memalukan baginya. Teriakan itu membuat Tatsumi menghentikan tingkahnya.

"Terima kasih..." ujar Tatsumi gugup sambil menundukkan kepalanya. Ia merasa malu atas sikapnya.

"Haha... tidak usah gugup begitu."

Mata Tatsumi melihat ke arah dua pengawal yang berada di belakang pria tambun yang tertawa. 'Mereka yang disana sepertinya kuat...' pikirnya. Lalu ia melihat ke arah keluarga Aria yang menatap dirinya dan Naruto. 'Mungkin karena ada mereka, keluarga Aria-san tidak merasa terancam dan berbaik hati dengan orang tidak dikenal.'

"Kalian pasti lapar..." kata ibunya Aria.

'Syukurlah masih ada orang seperti mereka bahkan di ibukota kerajaan ini.' lanjut Tatsumi di dalam hatinya sambil menangis terharu dengan gaya seperti orang berdoa di hiasi background dua malaikat yang menyinari dirinya membuat semua orang yang melihatnya Sweatdrop termasuk Naruto.

"Arigatou telah mengundang kami kesini." tukas Naruto tersenyum tipis dengan menundukkan kepalanya sedikit diikuti oleh Tatsumi yang sudah sadar dari khayalannya.

Rona merah muncul di pipi gadis iris biru itu yang duduk di sebelah kiri Naruto saat melihat senyuman pemuda itu yang menurutnya menawan.

"Silahkan duduk." tawar ayah Aria. Tatsumi kemudian duduk di sofa sementara Naruto hanya berdiri di belakangnya.

"Ada yang bisa ku bantu?"

Tatsumi mulai menjelaskan alasannya dan apa yang ia alami selama perjalanannya ke ibukota termasuk saat bertemu dengan Naruto. Naruto nampak mendengar cerita Tatsumi sesekali mengangguk apa yang di katakan teman barunya itu. Tapi sebenarnya Naruto mengaktifkan sensor miliknya yang di campur dengan sedikit chakra Kurama untuk merasakan keadaan di sekitarnya. Ia melirik ke arah jendela dimana ia merasakan ada sesuatu yang tidak beres.

'Aku merasakan firasat buruk.'

.

"Jadi begitu..." ucap pria itu setelah meminum tehnya membuat Naruto menghentikan sensornya. Ayah Aria sudah mengerti garis besar dari cerita Tatsumi.

"Kau ingin sukses di militer dan menyelamatkan desamu?" tanya sang kepala keluarga menatap pemuda surai coklat itu.

"Ha'i!"

Lalu pria itu melihat ke arah Naruto. "Dan kau ingin melanjutkan pengembaraan mu setelah temanmu di terima?" tanya sekali lagi yang di balas anggukan pelan dari remaja surai kuning tersebut.

Tanpa mereka sadari, Aria memasang wajah kecewa saat Naruto tidak menetap di ibukota.

"Tapi apa kalian tahu..." ujar ayah Aria meletakkan gelasnya di atas meja. "Di dalam ibukota kerajaan sangatlah damai. Tapi, kerajaan ini dikelilingi oleh tiga bangsa yang berbeda. Kau bisa saja di tugaskan ke perbatasan kerajaan untuk bertarung." lanjutnya menatap serius Tatsumi.

"Aku sudah siap untuk itu." ucap Tatsumi tegas. Demi desanya, ia akan melakukan apapun.

"Begitu ya. Semangat yang hebat!" kata sang pria kagum dengan tekad Tatsumi.

"Apa Tatsumi datang dari desa sendirian?" tanya Aria penasaran. Tatsumi menengok ke arah gadis itu.

"Tidak, kami bertiga." Ekspresi Tatsumi berubah menjadi sedikit murung. "Sebenarnya..."

(Skip sama seperti canon.)

"Dan kami pergi dengan semangat tinggi. Tapi setelah itu, bandit menyerang kami dan kami terpisah sejak itu." Tatsumi mengakhiri ceritanya membuat di tatap kasihan oleh keluarga Aria.

"Walau mereka itu kuat dan membuat aku tidak terlalu khawatir, tapi leyasu itu sangat buruk dalam menentukan arah." tambah Tatsumi sambil membayangkan temannya yang marah-marah tidak terima. "Aku penasaran apa dia bisa menentukan tempat bertemu yang sudah kami tentukan..." Ia sudah pesimis dengan keadaan teman-temannya.

"Baiklah."

"Eh?"

"Akan ku bicarakan ini dengan kenalanku di militer dan aku juga akan meminta pencarian untuk mereka berdua." ucapan pria di depannya bagaikan secercah harapan bagi Tatsumi.

"Benarkah? Terima kasih banyak!" Tatsumi berdiri dari duduknya dan membungkuk sedalam-dalamnya. Naruto yang melihatnya dari belakang hanya memberikan tatapan datarnya.

"Perkiraan ku biasanya selalu benar. Pasti kamu akan segera bertemu dengan mereka." ucap Aria tersenyum membuat Tatsumi merona merah tapi tidak bagi Naruto. Senyuman itu... senyuman yang sama persis dengan salah satu temannya yang ada di Konoha.

'Itu mengingatkanku pada Sai.'

"Aria-san..." gumam Tatsumi pelan.

-o0o-

Malam sudah semakin larut. Banyak penduduk di ibukota sudah tertidur lelap demi aktivitas besok. Namun di dalam sebuah kamar, Naruto melihat pemandangan lampu-lampu bangunan di balik jendela dengan tatapan sulit di artikan.

"Masih memikirkan gadis bercepol dua itu?"

Sedikit tersentak saat Kurama berbicara, ekspresi Naruto berubah sedikit murung. "Iya." gumam Naruto berbisik. Ia memikirkan gadis yang menyatakan cinta padanya waktu itu. Parahnya ia belum menjawab perasaannya dan pergi tanpa pamit dari teman-temannya di Konoha karena ia tidak ingin mereka semua bersedih.

"Hagoromo-jiji. Sampaikan salam perpisahan ku pada mereka. Aku... mungkin tidak akan pernah kembali kesini." Itulah yang ia katakan terakhir kalinya kepada Rikudou Sennin setelah misi menyelamatkan Hanabi di bulan sebelum ia kembali ke sini. Sejak awal, dirinya hanyalah orang luar yang ikut campur di dimensi orang lain walau itu tugas dari Kami-sama.

"Aku... memang yang terburuk ya." gumam Naruto menunduk sehingga poninya menutupi ekspresinya. Ia merasa sangat bersalah terhadap gadis itu.

Kurama diam. Ia juga bingung untuk membalas apa yang di katakan Naruto. Sebagai Bijuū, ia dulu hanya diliputi rasa kebencian terhadap manusia selama hidupnya sebelum bertemu Menma dan Naruto seperti sekarang ini. Jadi ia tidak bisa memahami perasaan manusia.

Di saat Naruto bergemelut dengan pikirannya, Tatsumi datang ke arah samping Naruto. "Kita beruntung. Pada akhirnya, kita di selamatkan oleh orang baik." ujar Tatsumi dengan melihat pemandangan di depannya.

Saat Tatsumi di sebelahnya, Naruto sudah kembali ke ekspresinya yang normal untuk menyembunyikan perasaannya. "Kau terlalu percaya kepada orang yang baru dikenal. Apa kau sudah lupa kalau kau sebelumnya di tipu oleh wanita tadi siang?" tanya Naruto tanpa melihat Tatsumi yang mencak-mencak mengingat kejadian apesnya.

"Urusai, Naruto-san!" teriak Tatsumi kesal. "Lagipula aku yakin dengan pendirianku, buktinya Naruto-san sangat baik padaku sampai aku bingung untuk membalasnya."

Naruto terdiam. Remaja ini... dia sangat percaya padanya sampai seperti itu. Senyuman tipis muncul di wajahnya. Sekarang ia yakin kalau Tatsumi mirip dengan Menma.

"Souka..." Naruto berbalik badan, lalu berjalan ke arah pintu yang di tatap bingung oleh Tatsumi. Saat memegang knock pintu, ia melirik kebelakang dengan sudut matanya.

"Aku keluar sebentar ke kamar mandi." Naruto membuka pintu kamar dan keluar dari sana tanpa melihat Tatsumi yang mengangguk-anguk mengerti.

.

"Baik, ya?" gumam Naruto pelan saat mengingat perkataan Tatsumi tadi. "Sayangnya aku tidak sebaik itu, Tatsumi." Ia berhenti berjalan setelah agak menjauh dari pintu kamar yang ia dan Tatsumi tempati.

Ia mengambil nafas sejenak. Naruto yang berada di lorong kemudian melihat sekeliling agar tidak ada orang yang melihatnya. Ia membuat beberapa Handseal.

[Fuinjutsu: Henge: Ka'i]

Setelah mengucapkan nama jurusnya, tubuh Naruto bercahaya sedikit. Saat cahaya itu menghilang, tidak banyak perubahan dari penampilan Naruto kecuali di bagian kepala yang menunjukkan wajah aslinya.

Lalu Naruto membuat satu Handseal Tora dengan tangan kanannya.

"Saatnya mencari kebenaran, Kurama."

"Hm."

Naruto langsung menghilang dengan sedikit percikan petir.

.

.

.


Yo halo welcome back.

Huft sudah lama aku tidak update fanfic ini. Untuk awalan aku akan mengambil alur canon dengan sedikit perbedaan.

Ya bagaimana lagi, saya masih nob dalam dunia fanfic.

Untuk fanfic The Shiba sudah capai 85%

Kalau Fanfic Bang Dream baru 60%.

jadi sabar ya.

Oke sampai di sini dulu, jangan lupa kritik dan sarannya agar aku semakin bersemangat menulis.

See you next time.