I'll Save The Second Male Lead

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Pairing : Sasuke U. x Sakura H.

.

Enjoy this chapter

.

.

Sakura nampak berpikir dengan keras. Seingatnya tadi malam ia ketiduran setelah menangis karena membaca novel. Lalu setelah itu, bangun - bangun ia malah jadi tokoh di novel yang ia baca. Mana tokoh antagonis pula. Udah tokoh antagonis bentar lagi mati. Double kill banget emang.

Baiklah pertama - tama ia harus menyusun rencana untuk menghindari flag kematiannya sekaligus menyelamatkan tokoh favoritnya.

Cara untuk terhindar dari flag kematiannya adalah dengan tidak bersaing menjadi putri mahkota.

Cukup mudah. Ia hanya perlu gagal dalam tes selanjutnya.

Nah sekarang bagaimana caranya menyelamatkan Sasukenya?.

Sakura mengetuk - ngetukkan pena diatas meja. Dirinya berpikir keras dan mengingat - ingat seluruh cerita di novel yang ia masuki ini.

Kalau tidak salah, Sasukenya mulai jatuh cinta pada lady Hinata pada pandangan pertama saat mereka tidak sengaja terlibat insiden.

Nah masalahnya kapan dan apa insidennya? Ah sialan penulisnya tidak menuliskan dengan jelas pertemuan mereka.

Kalau ia tidak salah ingat, di novel diceritakan bahwa ketika lady Hinata hendak berangkat ke ibukota untuk mengikuti seleksi putri mahkota.

Jika dilihat dari timelinenya, bisa saja mereka sudah bertemu bisa saja belum.

Ah penulis sialan. Kalau niat nulis yang bener dong.

"Ah sudahlah, lebih baik aku pikirkan besok lagi"

.

.

.

Sudah seminggu berlalu semenjak ia masuk kedalam dunia novel ini. Bahkan setelah satu minggu berjalan pun dirinya masih belum tahu apa yang harus ia lakukan untuk menyelamatkan Sasuke-nya.

"Nona, mau sampai kapan Anda seperti ini?"

Sakura menoleh kearah Mai, dayangnya. Ia mengernyit mendengar pertanyaan Mai. Maksudnya dia begini itu kenapa? Ia salah apa?

"Maksudnya?" Tanya Sakura.

Sakura melihat Mai menghembuskan napas lelah. Lalu berjalan kearah Sakura dan menatapnya dengan serius.

"Mau sampai kapan Nona melakukan hobi unik ini?"

Hobi unik? Apanya yang unik coba. Ia kan hanya sedang berkebun saja. Menanam terong, wortel, kubis dan mentimun. Padahal kan lumayan kalau panen nanti. Bahkan ia berencana akan menanam strawberry dan anggur.

Jus strawberry sepertinya enak. Eh tapi apa di sini ada blender?

"Nona?"

"Mai, aku hanya bosan dan apa salahnya berkebun? Kalau panen kan lumayan bisa dijual", ujar Sakura mantap.

"Lebih baik Nona membaca buku - buku pengobatan saja daripada harus berkebun."

Ah iya selain berkebun, selama seminggu ini Sakura menghabiskan waktunya dengan membaca buku - buku pengobatan.

Yah mungkin karena pengaruh dulunya ia adalah Mahasiswi Fellow tahun kedua departemen bedah umum. Dirinya jadi penasaran tentang bagaimana pengobatan disini. Terlepas dari dunia novel yang bahkan ada sihir, naga, peri, dan iblis. Bukankah lebih besar kemungkinan kalau orang - orang disini mengobati dengan sihir atau semacamnya.

"Sekarang jadwalku berkebun Mai", jawabnya santai.

"Sudahlah toh ayah dan ibu tidak masalah kok", lanjutnya.

"Tapi kelakuan dan penampilan Nona sekarang benar - benar tidak mencerminkan keanggunan putri dari Marquess Haruno"

Sebentar apa - apaan tatapan mencemooh itu? Sopankah begitu? Memang apa yang salah dengan penampilannya sekarang?

Sakura meneliti penampilannya sekarang. Ia masih cantik kok. Bahkan dengan seragam tukang kebun yang saat ini ia pakai, visual Sakura masih diatas rata - rata.

Gini ya rasanya jadi cantik? Pakai apa aja masih cakep gitu. Nggak bakalan keliatan gembel.

"Kalau bosan Anda bisa belajar menyulam atau belajar untuk pemilihan Putri Mahkota nanti".

Menyulam katanya? Duh males banget. Lebih baik ia malas - malasan sambil makan dan baca novel romansa daripada harus belajar menyulam.

Dan lagi apa katanya tadi? Belajar untuk pemilihan Putri Mahkota? Belum tahu saja rencana penggagalan yang sudah ia pikirkan. Lagipula untuk apa ia susah - susah belajar kalau nanti Pangeran Rubah itu malah ngejar cewek lain.

Tapi kalau berdebat dengan Mai itu tidak ada habisnya. Ia bahkan heran sebenarnya siapa sih yang majikan.

"Kamu mencariku ada perlu apa?" Ujar Sakura mengalihkan pembicaraan.

"Ah iya, bukankah Nona penasaran tentang peristiwa besar apa yang akan terjadi dalam waktu dekat?"

"Iya"

"Sebentar lagi akan ada festival besar di ibukota. Bagaimana kalau Nona pergi ke ibukota saja? "

"Festival?"

"Iya Nonai"

"Festival dalam rangka apa?"

"Sebenarnya festival ini sekaligus perayaan kemenangan prajurit Kekaisaran Konoha melawan Wilayah Timur"

"Prajurit kekaisaran?"

"Iya Nona"

Kalau prajurit kekaisaran jangan - jangan ini ayang Sasuke lagi. Jangan bilang ini timelinenya. Sebentar ia harus memastikan apa benar dugaannya.

"Mai, siapa pemimpin para prajurit kekaisaran yang menang saat ini?"

"Tentu saja pemilik pedang suci kekaisaran, Tuan Grand Duke Uchiha Nona"

OH MAI GOD.

Akhirnya ia tahu timeline pertemuan antara Duke Uchiha dan Lady Hyuuga. Meskipun ini baru dugaannya saja tidak ada salahnya kan kalau ia mencoba pergi.

Dan jika ini bukan timeline pertemuan mereka, setidaknya ia bisa bertemu dengan Sasuke.

"Mai, kapan perayaannya dimulai?"

"Tiga hari lagi Nona, tepat dengan datangnya pasukan kekaisaran"

"Ayo kita pergi"

Baiklah Sasuke sayang akan aku selamatkan nasib burukmu.

.

.

.

"Sebenarnya saya bingung kenapa Nona ngotot ingin pergi ke festival? Padahal tiga hari lagi Nona akan menghadapi ujian Putri Mahkota."

"Bukankah kau yang menyuruhku datang?"

"Benar sih, tapi itu sebelum surat pemberitahuan ujian selanjutnya datang"

Yah memang benar sih. Kalau ini adalah Sakura asli, sudah dapat dipastikan ia tidak akan datang ke festival seperti ini apalagi jadwal ujiannya sudah dekat.

Hei tapi kalau ia ikuti alurnya seperti semula yang ada ia mati terpenggal. Untuk apa dirinya susah - susah belajar jadi Putri Mahkota kalau ia bisa jadi pengangguran kaya?

"Anggap saja aku sedang refreshing sebelum ujian", kilah Sakura.

Sakura memandang ke jendela kereta kudanya. Saat ini ia sedang dalam perjalanan menuju wilayah Ibukota. Jarak tempuh dari Wilayah Marquess Haruno ke ibukota memang cukup jauh dan harus melewati beberapa hutan.

Kereta kuda yang dinaikinya tiba - tiba berhenti. Menurut kusirnya ada masalah pada ban dan sedang diperbaiki.

Karena bosan menunggu, Sakura memutuskan untuk jalan - jalan disepanjang jalan hutan ini. Kata kusirnya tadi, didekat sini ada danau kecil.

Sakura menelusuri jalan setapak menuju danau. Suasana dihutan yang ia lewati cukup sunyi tetapi tetap indah.

Akhirnya ia sampai pada danau kecil yang dimaksud. Sakura benar - benar takjub dengan pemandangan didepannya. Danau itu memang tidak terlalu besar, airnya sangat jernih hingga dasar dari danau bisa terlihat. Airnya tenang serta dikelilingi pohon - pohon besar. Mungkin karena ia dikehidupan sebelumnya tinggal di kota, Sakura merasa sangat terpesona.

Hingga tanpa sadar ia mempercepat laju kakinya. Rasanya ia ingin sekali mencelupkan kakinya ke dalam danau. Semakin dekat. Semakin dekat dan -

BRAK

Sakura terjatuh. Ia tidak menyangka bahwa tiba - tiba ada seseorang yang menabraknya dari depan.

"Heh kalau punya mata itu dipake dong. What the f-", Sakura cepat - cepat menoleh kearah sang penabrak.

"Oppa?"

.

.

.

"Oppa?", tanya seseorang yang menabraknya bingung.

Bodoh bisa - bisanya ia malah menyebutkan kata - kata asing seperti itu. Iya memang dulu ia suka sekali menonton drama korea apalagi kalau pemeran prianya setampan pria dihadapannya ini.

Menurut Sakura semua lelaki tampan itu "oppa" nya.

"Tuan Duke Uchiha, Anda tidak apa - apa?", Tanya seorang ksatria yang ebtah datang dari mana.

Duke Uchiha?

Jangan bilang kalau manusia tampan didepannya ini Duke Sasuke Uchiha.

"Tidak apa - apa"

"Tuan Duke Sasuke Uchiha?" Tanya Sakura spontan.

Pria didepannya ini tampak mengernyit dengan pertanyaan Sakura. Kemudian ia mengangguk pelan.

"Apa Nona mengenal saya?" Tanya Sasuke heran.

Jadi benar dia Grand Duke Sasuke Uchiha. Sasuke sayangku? Apa ia sedang bermimpi sekarang?

Gila. Benar - benar gila.

Ia tidak menyangka bahwa Sasuke, sang Second Lead favoritnya yang bahkan membuat matanya sembab karena menangis semalaman itu setampan ini.

Kok bisa gitu ada orang yang cakepnya nggak ngotak gitu.

Tubuhnya yang tinggi dan tegap, Rambutnya raven, matanya tajam dan hitam, kulitnya putih mulus, bibirnya kissable dan lihat itu dadanya. Kalau dibuka six pack tuh Sakura yakin. Kalau nggak inget sekarang statusnya Putri Marquess terhormat, udah nemplok kali tuh Sakura. Abis pelukable banget sih.

Tapi kalau dipikir - pikir ya, ada pria secakep, sekompeten, sekaya, dan sekuat ini kok ya bisa gitu nasibnya cuma jadi Second Lead. Kayak nggak adil banget gitu. Kalau di novel lain mungkin udah jadi pemeran utama nih.

Ini penulisnya punya dendam apa coba sama Sayangku.

"Nona baik - baik saja?"

Sakura tersadar dari lamunannya. Ia mendongak dan menatap Sasuke dengan berbinar. Sakura mengangguk pelan atas pertanyaan Sasuke bahkan dengan mulut yang masih terbuka.

Duh silau sekali wajahnya.

"Saya baik - baik, Sayangku", ujar Sakura spontan.

"Maaf?"

Sakura spontan menepuk mulut lancangnya. Bodoh. Ini mulut nggak bisa difilter emang kalau liat cowok cakep dikit.

Sakura tahu reaksi tubuh dan jiwanya sekarang sedang bermasalah. Bukan hanya wajahnya yang memerah, bahkan saat ini pun ia tidak bisa berkedip dan menutup mulutnya.

Rasanya aku seperti di surga.

"Nona?"

"Apa yang tuan Duke lakukan disini?" Tanya Sakura mengalihkan pembicaraan.

"Saya sedang dalam perjalanan menuju ibukota. Saat ini rombongan saya sedang beristirahat didekat sini. Nona sendiri sedang apa disini?"

Apa ini takdir? Kok bisa gitu ketemu nggak sengaja. Mana sama - sama satu tujuan lagi.

Sakura akhirnya menceritakan alasan mengapa ia bisa ada di danau ditengah hutan.

"Kalau Nona tidak keberatan saya bisa mengantar Nona."

Mengantar ke ibukota? Berarti ia akan berdua saja dong di kereta kuda bersama Sasuke sayangku. Ya ampun Sayangku kenapa bisa so sweet banget sih.

.

.

.

Sasuke kesulitan mencerna situasi saat ini. Ia tahu siapa orang yang saat ini sedang duduk berhdapan dengannya.

Lady Sakura Haruno, putri bungsu dari keluarga Marquess Haruno dan calon terkuat Putri Mahkota saat ini. Tapi yang Sasuke tahu bahwa sifat dari lady Sakura itu cenderung dingin, cerdik dan sangat manipulatif.

Seharusnya begitulah sifat Lady Sakura, tapi apa ini? Ada apa dengan tatapan berbinar penuh nafsu dari Lady didepannya ini?

Lady Sakura yang sekarang terlalu banyak memiliki ekspresi.

Bahkan saat ini Sasuke tidak berani mencoba memandang ataupun mencoba mencari topik pembicaraan dengan Sakura. Karena sepertinya akan berbahaya.

Dan lagi untuk apa seorang calon putri mahkota yang bahkan sebentar lagi akan melakukan ujian malah terjebak di hutan? Dan akan pergi ke festival di ibukota? Sebenarnya apa sih yang dipikirkan gadis didepannya ini.

"Tuan Duke?"

"Iya Nona ada yang bisa saya bantu?"

Sasuke mengernyit dengan sikap Sakura yang nampak ragu - ragu. Kadang mencuri - curi pandang kadang menatapnya. Sebenarnya apa yang dipikirkannya sampai seperti itu?.

"Terima Kasih", ujar Sakura sembari tersenyum lebar.

Sasuke tersentak, matanya membola. Ia tidak menyangka bahwa Lady Sakura akan berterima kasih kepadanya dengan senyuman secantik itu.

Tunggu. Senyuman cantik?. Yah ia memang menyadari bahwa gadis didepannya ini cantik. Tidak, bahkan sangat cantik. Bisa dibilang tercantik se kekaisaran. Tapi dirinya tidak boleh lengah. Bisa saja ini cuma akal - akalan dari Lady Sakura.

Ingat Lady Sakura itu manipulatif. Batinnya yakin.

"Saya tahu bahwa Tuan Duke waspada dengan sikap saya. Tapi saya tulus mengatakan terima kasih atas bantuannya", tambah Sakura seakan bisa membaca pikirannya.

Sasuke speechless. Dirinya tidak menyangka kalau Lady Sakura akan bereaksi seperti itu. Ia memang hanya mendengar banyak rumor tentang Sakura. Menyaksikan bagaimana sifat asli dari Lady yang digadang - gadang menjadi calon Ratu benar - benar membuatnya bingung.

"Anu, Tuan Duke?"

"Iya Nona ada apa?" Jawab Sasuke.

"Apa saya boleh menanyakan sesuatu?"

Apaan nih yang mau ditanyain? Meski kepo tapi Sasuke tetap menjaga mimik mukanya. Ia mengangguk mengiyakan.

"Apa Tuan Duke pernah terlibat suatu insiden dengan seorang putri bangsawan?"

"Mungkin beberapa hari belakangan ini? " Tambah Sakura.

Hah? Maksudnya apa nih?

Terlibat insiden dengan putri bangsawan? Maksudnya siapa? Setelah terjun perang selama 2 tahun terakhir, baru hari ini ia kembali ke ibukota. Jangankan terlibat insiden dengan wanita, menginjakkan kaki dirumahnya saja belum.

"Saya tidak mengerti maksud Nona?"

Sakura menatap Sasuke dengan tidak percaya.

"Saya baru kembali dari medan perang setelah 2 tahun. Saya belum pernah terlibat insiden apapun dengan putri bangsawan." Lanjutnya.

Terlibat insiden dengan putri bangsawan? Iya sih bener baru saja dirinya terlibat dengan Lady Sakura. Bahkan sekarang dirinya mengantarkan Putri Marquess Haruno itu ke ibukota.

Senyuman nampak terbit dari bibir Sakura.

"Tuan kalau sampai tuan Duke berpapasan dengan seorang putri bangsawan cantik berambut hitam panjang dengan bola mata lavender tolong hindari saja ya."

Hah? Sebenarnya apa sih yang mau dikatakan oleh Sakura? Sasuke semakin sulit mencerna maksudnya.

"Pokoknya pesan saya jangan membantu atau terlibat ya Tuan. Terutama jangan Jatuh Cinta pada pandangan pertama!" Tutur Sakura tegas.

Sasuke cengo. Dirinya sekarang yakin untuk tidak mempercayai rumor apapun. Apalagi rumor mengenai Lady didepannya ini.

Cih apanya yang cerdas, dingin dan manipulatif. Satu kata untuk menggambarkan Sakura, Gadis Gila.

-TBC-

Hai hai semua, balik lagi nih di lapak Isekai ini. Gimana chapter kali ini? Akhirnya Sakura ketemu juga sama ayang Sasuke.

Dan buat Sasuke, yang sabar ya ngadepi Sakura. Mana udah di cap gila lagi. Gimana ya reaksi Sakura kalau taudia dicap gila sama kesayangannya? Wkwkwkw.

Sampai jumpa di bab selanjutnyaa.

Sincelery,

Ten