I'll Save The Second Male Lead
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Pairing : Sasuke U. x Sakura H.
.
Enjoy this chapter
.
.
Sudah dua hari berlalu semenjak sang tokoh favoritnya, Grand Duke Sasuke mengantarkannya ke ibukota. Dan sejak saat itu pula dirinya tidak mendapati batang hidung dari Sasuke. Bagaikan hilang ditelan bumi.
Padahal nih ya Sakura udah bela - belain sliweran lewat didepan barak prajurit yang ada didekat istana. Kali - kali aja gitu bisa ketemu.
Hingga hari inilah puncaknya, hari dimana puncak perayaan kemenangan kekaisaran diselenggarakan. Dan ya akan ada pesta perayaan juga didalamnya. Pastinya Sasuke juga akan menghadiri pesta tersebut karena dialah bintang utamanya.
Tentunya bukan hanya akan dihadiri oleh Sasuke saja namun Putra Mahkota serta Lady Hinata juga mungkin akan menghadiri pesta ini. Dan Sakura tidak akan membiarkan Sasuke sayangnya bertemu apalagi jatuh cinta dengan Lady Hinata.
"Saat ini kelakuan Nona benar- benar tidak mencerminkan kebangsawanan Anda"
Sakura menoleh ke arah suara. Mai dayangnya sedang menyindirnya sambil membersihkan meja tempat cemilannya berada. Sedangkan Sakura sedang asik rebahan di kasur sambil memilih - milih aksesori yang akan ia kenakan saat pesta nanti.
"Aku kan hanya rebahan saja mana yang tidak mencerminkan?" Sahut Sakura.
"Kaki yang disandarkan ke tiang ranjang, rambut yang awut - awutan dan Nona yang memilih aksesori dengan mengupil. Astaga" jawab Mai lelah.
Sakura hanya mencibir saja. Memang apa yang salah dengan mengupil toh enggak mengganggu siapapun.
"Cerewet banget sih udah kayak ibu kost nagih duit bulanan aja" sahut Sakura.
"Ibu apa?"
Sakura hanya mengendikkan bahu. Lagipula ia malas menjelaskan apa itu ibu kost. Disini pun sepertinya kosa kata itu tidak ada.
"Sebenarnya sampai kapan nona akan bermain-main?" Tanya Mai.
Sakura menghela nafas lalu memandang Mai. Sakura paham kenapa dayangnya ini sampai bertanya hal semacam itu. Karena ya bisa dibilang besok adalah hari dimana ujian akhir pemilihan Putri Mahkota dilaksanakan. Mendapati Nona yang dilayaninya malah mondar - mandir disekitaran ibukota dan asik memilih aksesori bukannya belajar tentu saja membuat Mai frustasi.
"Aku tidak sedang main main tuh,"Jawab Sakura.
Terdengar helaan napas lelah dari Mai.
"Tapi Nona, besok Anda akan mengikuti ujian Putri Mahkota" ujar Mai.
Sakura yang pada dasarnya memang tidak memperdulikan perihal tetek bengek ujian Putri Mahkota hanya menjawab sekenanya saja.
"Santai saja Mai, aku kan pintar. Lagipula kalau tidak jadi Putri Mahkotapun aku tidak peduli. Tinggal jadi pengangguran kaya saja."
"Tuan Putri Sakura Haruno telah tiba"
Suara penjaga istana yang berjaga didepan pintu masuk aula pesta terdengar sesaat Sakura berjalan mendekat kearah pesta berlangsung. Dari pandangannya, ada lebih dari 50 bangsawan yang hadir dalam pesta ini. Suasanya pesta yang awalnya ramai menjadi hening seketika saat kehadirannya.
Sejak hari dimana ia terbangun menjadi Lady Sakura, sang tokoh antagonis dicerita ini, tidak satu haripun Sakura lalui tanpa pandangan mencemooh dan pura - pura dari banyak bangsawan. Yah, Sakura sadar hal ini terjadi karena kelakuannya sendiri dimasa lalu. Kalau saja dirinya bukalah putri dari Marquess Haruno serta calon Putri Mahkota, mungkin saja dirinya tidak segan segan dicaci maki oleh banyak orang.
Sakura mengabaikan semua tatapan tidak suka dari semua orang. Ia berjalan lurus menuju sang Kaisar dan Permaisuri, hendak memberi salam.
"Salam kepada yang Mulia Kaisar dan Permaisuri, Semoga Cahaya Kekaisaran Selalu Menyertai" Salam Sakura sambil menekuk lutut dan sedikit membungkuk.
Setelah memberi salam, Sakura memutuskan untuk pergi dari hadapan pemimpin Kekaisaran. Lebih baik dirinya mojok sambil makan dibelakang. Dirinya sudah lelah pura - pura tidak peduli dengan pandangan orang - orang. Daripada ia terus berada ditengah pesta dengan pandangan penuh cemooh dari orang lain lebih baik ia mojok saja.
Seusai kepergian Sakura dari tengah aula pesta, entah disengaja atau tidak kondisi yang awalnya hening menjadi ramai kembali. Seolah - olah kedatangan Sakura tadi seperti jelangkung saja. Cih dasar orang - orang tidak sopan. Untung Sakura baik hati dan tidak sombong, kalau sifatnya sama kayak dinovelnya mungkin udah di headshot kali tuh satu satu.
Sebenarnya terkucilkanya Sakura dari para bangsawan cukup disyukuri olehnya, karena pertama ia bebas dari topik membosankan mulai dari membanggakan diri sendiri, aset keluarga, pertunangan antar kaum bangsawan bahkan julidan bangsawan kasta tinggi ke kasta rendah. Sumpah ya rasanya lebih parah daripada pas lebaran ditanyain "kapan nikah?" sama tante - tante julid. Ckck.
Lalu yang kedua, ia bebas kalau mau ngecengin tokoh kesayangannya. Siapa lagi kalau bukan ayang Duke Uchiha Sasuke yang gantengnya mana tahan dan tajirnya sepuluh turunan lima belas tanjakan.
Ngomong - ngomong ya dari tadi ia belum melihat pancaran sinar kegantengan dari Sasuke?. Kemana sih ayang bebnya?.
Coba lihatlah penampilannya yang paripurna saat ini. Ia mengenakan gaun berwarna biru pastel dengan potongan A line dan pada bagian pundak berpotongan sabrina dengan aksen kain lace dan tulle disepanjang gaun.
Rambutnya ditata bergelombang, dikepang kecil pada tengah rambut serta ditambah dengan hair piece flower disepanjang kepang. Bisa dibilang penampilan Sakura saat ini sangat menawan.
Disaat - saat dirinya berdandan dengan proper sekali malah nggak ketemu sama ayang beb Sasukenya. Padahal kan mau coba tepe - tepe gitu. Kali aja kepincut kan?.
Bosan melanda Sakura, dirinya memutuskan untuk mengambil makanan yang tersaji didekatnya. Ada banyak sekali hidangan yang bahkan Sakura belum pernah lihat sebelumnya. Saat ia hendak mengambil kue telur, tangannya bersentuhan dengan seseorang.
Sakura menoleh dan mengamati nona bergaun merah muda yang barusan berebut kue telur dengannya.
Kalau dilihat - lihat nona dihadapannya ini cantik. Kulitnya putih porcelain yang nggak seputih dirinya sih tapi masih diatas rata - rata, rambutnya hitam panjang berkilau yang ditata ponytail menyamping.
Kalau dilihat - lihat kenapa penampilan nona ini familiar ya? Padahal ia yakin 100 persen kalau dirinya belum pernah bertemu apalagi bertegur sapa sebelumnya.
"Ma-Ma - Maafkan sa-saya" ujar gadis itu terbata - bata.
Kok gagap?
"Tidak apa -apa"
Nona cantik dihadapannya ini agak kaget dengan jawaban Sakura. Mungkin menurutnya, Sakura dan kata - kata minta maaf ada dua hal yang tidak mungkin bisa bersatu.
Dia sudah terbiasa.
"To-tolong ampuni sa-saya" lanjut Hinata ketakutan.
"Memangnya apa salahmu? Sudahlah tidak apa - apa"
Memangnya kenapa Nona ini sampai setakut ini karena bersenggolan dengannya?.
Sakura kembali mengalihkan fokusnya pada kue - kue dihadapannya. Tapi entah mengapa ia merasa bahwa terus diperhatikan sejak tadi oleh Nona disampingnya ini.
Memangnya dirinya TV apa? Ck.
"Apa ada hal lain yang ingin Nona sampaikan?" Tanya Sakura dingin.
"Ah ma- ma- maafkan ke-kecero-bohan sa-saya. Se-sebenarnya sa-saya"
Nona itu tampak panik. Padahal nih ya Sakura tuh nggak bermaksud memarahinya.
"Tenanglah Nona, bicaralah pelan- pelan saja" ujar Sakura.
Sakura mencoba tersenyum ramah, memang benar wajahnya terlalu kaku dan dingin makanya wajar kalau Nona didepannya ini sedikit takut.
"Lady Hinata, apa yang Anda lakukan disini?"
Sakura tersentak. Wait. Tadi dia bilang apa? Lady Hinata? Lady Hinata yang itu? Serius? Kok bisa? OMG.
Pantas saja tampak familiar sekali. Lha wong emang dialah sang pemeran utamanya. Tapi nih ya seingetnya di novel nggak ada itu adegan bertemunya Sakura dengan Hinata apalagi ketemunya gara - gara rebutan kue telur. Kok ya nggak elit.
Terkadang Sakura tidak paham dengan jalan pikiran sang penulis novel ini. Ya memang benar kalau dilihat secara visual, tampang dari Lady Hinata memang cocok sebagai pemeran utama. Wajahnya cantik dan lembut. Tapi kenapa sifatnya harus kikuk dan tidak percaya diri? Ayo tunjukkan pesonamu dong harusnya.
Eh tapi sebentar deh tadi yang manggil nama Hinata juga tampak familiar.
Sakura memperhatikan pria disampingnya. Rambutnya kuning keemasan, matanya biru saphire, kulitnya agak tan, postur tubuhnya tinggi tegap. Yah bisa dibilang lumayan tampan walaupun menurutnya masih kalau jauh kalau dibandingkan dengan Sasuke.
"Ya-Yang Mu-Mulia" jawab Hinata.
Hah? Yang Mulia? Kaisar Minato kan sedang asik duduk di singgasana bersama permaisuri.
Apa jangan - jangan?
"Sudah kubilang panggil aku Naruto saja"
"Ba-Baik"
Mungkin jika digambarkan, akan terlihat suasananya berwarna pink lengkap dengan kuncup - kuncup bunga yang mekar.
Padahal Sakura memutuskan untuk tidak terlibat dan menjaga jarak sejauh mungkin dengan pemeran utama novel ini. Tapi kenapa nasibnya seburuk ini? Mana pada ngebucin didepannya lagi. Nggak tau apa kalau Sakura tuh jomlo.
Lihatlah dua orang bucin dihadapannya ini. Emang ya kalau bucin tuh nggak kenal tempat. Dunia serasa milik berdua yang lain cuma ngekost aja. Mana dari tadi saling pandang - pandangan sambil senyum - senyum gitu. Sakura ingin muntah.
"Ehm, salam kepada Putra Mahkota," interupsi Sakura.
Merasa dipanggil, sang Putra Mahkota Naruto menoleh dan tampak terkejut melihatnya. Lalu seolah mengganggap Sakura tidak ada, Naruto kembali fokus kepada Lady Hinata seakan mengabaikan keberadaannya.
Woi ini orang lho bukan setan, nggak sopan banget sih.
Sakura hanya bisa mengerjap menatap dua sejoli yang sedang dimabuk asmara. Kalau saja ini sesuai cerita di novel aslinya, mungkin Hinata sudah dipermalukan saat ini. Cuma karena saat ini dirinyalah yang ada tentu saja ia tidak peduli dan santai saja.
Tapi perilaku dari Putra Mahkota ini bener - bener nyebelin. Udah tadi disapa nggak digubris eh ini asik- asikan ngebucin tanpa liat sikon.
Malangnya Sakura.
Kenapa Sakura di novel sangat menyukai pangeran kurang ajar ini?. Dilihat darimana pun tidak ada tuh positifnya.
"Ehm" Sakura berdeham dengan niat menginterupsi.
Kok nggak digubris? Cih.
Ah muak.
Sebenarnya jika mereka berdua bermesraan ditempat lain sih Sakura tidak peduli. Tapi masalahnya mereka malah bermesraan didepan matanya. Catet. Didepan MATANYA. Bukannya dia cemburu, tapi Sakura kesel soalnya dirinya jadi tidak bisa mengambil kue telurnya.
Kalau mau ngegombal mbok ya pindah tempat dulu kek. Seenggaknya geser gitu 10 meter. Biar Sakura bisa ngambil snack terus ngacir deh. Daripada ngedengerin gombalan alay mereka berdua. Cih.
"Nona Hinata semakin cantik dari hari ke hari" ujar Naruto.
"Ya-yang Mu-lia ju-juga ta-tampan" ujar Hinata malu - malu.
UGH.
Sial ia tidak tahan lagi.
Oke. Ayo kita pikirkan jalan keluarnya. Pertama ia sudah muak mendengar ocehan penuh rayuan alay dari Naruto maka lebih baik mari kita pisahkan saja mereka.
Sakura berjalan mendekati Hinata. Jadi saat ini posisinya Sakura berada diantara Hinata dengan Pangeran Naruto.
"Lady Hinata mau menemani saya makan di sana?" ajak Sakura sambil menggenggam tangan Hinata.
Hinata terlihat kalang kabut dengan ajakan Sakura. Hinata menundukkan kepalanya dan menjawab Sakura dengan anggukan pelan.
"Oh ya Yang Mulia, sepertinya acaranya akan dimulai lebih baik Anda kembali saja" sindir Sakura.
"Tunggu. Nona Sakura sepertinya menginginkan berbicara dengan saya kan tadi?" Tanya Naruto.
"Tidak tuh" jawab Sakura cepat.
"Nona pasti ingin sesuatu kan? Ayo jawab. Misalnya seperti menggandeng tangan saya?" Tanya Naruto lagi.
Hah? Darimana kepercayaan dirinya itu berasal. Seorang Sakura ingin menggandeng tangan Pangeran Rubah Kuning? Ckckck. Lebih baik ia menggandeng salah satu dari pengawalnya saja.
"Tidak Yang Mulia. Oh iya jangan khawatir saya hanya ingin makan dan berbincang saja dengan Nona Hinata", dengus Sakura.
"Ayo Lady Hinata"
Sakura menarik tangan Hinata meninggalkan Putra Mahkota yang masih cengo.
"Mengapa kau setakut itu padaku tadi?"
Setelah dirinya memisahkan Hinata dengan Naruto dan mengajaknya menemani makan. Tak lama setelah itu, Naruto kembali mengusiknya. Untungnya setelah itu Naruto dipanggil karena puncak acara pesta akan segera dimulai.
Saat ini Sakura sedang berbincang dengan Hinata sambil makan. Sesungguhnya ia juga kepo dengan apa yang tadi ingin dikatakan Hinata sebelum terganggu kehadiran Naruto.
"Ada ru-rumor yang bi-bilang kalau No-na suka mengoleksi ja-jari" cicit Hinata takut.
Hah?!
Sakura mengerjap bingung. Sebentar maksudnya apa? Dan lagi buat apa ia mengoleksi jari? Lebih baik mengoleksi cogan ya kan.
"Untuk apa aku mengoleksi jari? Jadi kau ketakutan karena takut aku mengambil jarimu? Begitukah?"
"Sa-saya tidak tahu karena sa-saya belum pernah mengoleksi jari. Dan i-iya maafkan sa-saya. Saya harusnya tidak percaya ru-rumor", jawab Hinata pelan.
Astaga sebenarnya rumor tentang dirinya sudah sejauh apa?. Kenapa coba sampe serandom itu. Dikira ini novel genre thriller apa?.
"Kau pikir aku pernah mengoleksi jari? Aku juga tidak pernah. Ah terserahlah."
"Ma-maafkan sa-saya Nona Sa-Sakura."
Sakura mengangguk mengiyakan permintaan maaf Hinata. Toh tidak perlu diperpanjang. Setelah ini pun dirinya akan berusaha menjaga jarak sejauh mungkin dari para pemeran utama.
15 menit telah berlalu semenjak ia dan Hinata makan. Tetapi puncak acaranya masih belum dimulai. Dan saat ini pun Hinata sedang mengambil minuman jadilah dirinya sendirian. Padahal keinginannya cuma melihat ayang Sasukenya diberi penghargaan. Mana dari tadi nggak kelihatan lagi bau - bau Sasuke.
Argh Sakura butuh cogan.
"Lady Sakura, acaranya sudah dimulai. Anda dipersilakan menuju aula pesta", ucap seorang pelayan yang tiba - tiba menghampirinya.
Mendengar acaranya sudah dimulai, Sakura langsung berdiri dan bergerak cepat menuju tengah aula. Dirinya sudah tidak sabar melihat ketampanan sang second lead kesayangannya. Sakura setengah berlari kecil menuju ke pusat keriuhan acara.
Kenapa ribut sekali? Pikirnya heran.
Sakura berusaha memfokuskan pandangannya ketengah - tengah aula. Disana ia melihat Sasuke baru saja memasuki aula dengan menggandeng lengan seseorang.
Wait. Menggandeng lengan seseorang? Siapa? Karena dikerumuni banyak orang jadi tidak terlihat.
Sudah pasti bukan Hinata karena saat ini Hinata masih berjalan dibelakangnya. Lagipula di timeline novel pun seharusnya Sasuke datang sendirian.
"Bukankah itu Grand Duke Uchiha? Wah sepertinya rumornya benar ya?" Bisik seorang bangsawan disampingnya.
Kalau mendengar rumor udah pasti lah Sakura langsung kepo. Apalagi kalau rumor tentang Sasuke, sebagai fans garis keras number one harus terus update hal - hal terkini soal bias. Sakura memusatkan telinganya agar bisa mendengar bisikan bangsawan tersebut.
"Aku dengar Grand Duke Uchiha akan bertunangan dengan Putri Karin. Dan sekarang mereka datang bersama" lanjut bangsawan tadi.
Jadi seseorang yang bergandengan tangan dengan Ayang beb Sasuke itu Putri Karin?!. OMG.
-TBC-
Hai hai semua, balik lagi nih di lapak Isekai ini.
Kangen nggak sama lapak ini? Kali ini aku kasih 2100an word nih. Di bab kali ini kita ketemu sama pemeran utamanya nih emang dasar nasib Sakura aja yang apes.
Niat pengen tepe - tepe. Eh pas di akhir malah ayang bebnya gandengan sama cewek lain. Sakit ya wkwkwk.
Sampai jumpa di bab selanjutnyaa.
Sincelery,
Ten
