I'll Save The Second Male Lead
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Pairing : Sasuke U. x Sakura H.
.
Enjoy this chapter
.
.
Sakura berjalan – jalan santai sambil menatap hiruk pikuk jalanan. Saat ini dirinya sedang berjalan – jalan di sekitaran pasar yang terletak dijalan utama ibukota kekaisaran Konoha. Sebenarnya niat awalnya tadi mau mampir ke barak prajurit, tentunya untuk mencari keberadaan Second Lead kesayangannya sekaligus mencari tahu seberapa jauh cerita ini telah berubah.
Akan tetapi ketika tiba di barak prajurit dan bertanya tentang keberadaan Sasuke yang ternyata sedang tidak ada di tempat, Sakura memutuskan untuk berjalan – jalan saja di sekitar pasar.
Sakura benar - benar bingung dengan hal yang terjadi saat pesta dansa kemarin. Rasanya ada yang salah saja. Oke jika memang Sasuke benar - benar tidak jatuh cinta dengan Lady Hinata, itu suatu kemajuan yang besar karena progress kematian lelaki itu akan berkurang atau bahkan tidak terjadi?. Akan tetapi karena peruabahannyaa terlalu besar, dirinya mulai merasa aneh saja. Itulah sebabnya ia ingin mencari tahu.
"TOLONG"
Disela - sela pikirannya yang berkecamuk, langkah kaki Sakura berhenti seketika saat mendengar teriakan dari seorang wanita. Dari arah suara tersebut Sakura melihat ada seorang laki – laki sedang berlari kearahnya sambil membawa tas?.
Apa jangan – jangan dia pencopet? Pikir Sakura.
"Nona Apa yang Anda lakukan?!" Teriak Mai spontan saat melihat Nona yang dilayaninya sedang berlari kencang.
Tidak pernah terbanyangkan sedikitpun di benak Sakura, pemandangan dirinya yang sedang berlari mengejar pencopet dengan mengenakan gaun. Ketika jarak antara dirinya dengan pencopet itu semakin dekat, Sakura mengangkat sebelah kakinya dan mengambil salah satu sepatunya untuk kemudian dilempar ke arah pencopet tersebut.
"ADUH"
Langkah Sakura berhenti seketika. Memang saat ini pencopet tersebut berhasil dibekuk karena terjatuh. Tapi sialnya pencopet tersebut bukannya jatuh karena terkena lemparan cinta sepatunya akan tetapi karena tersandung batu.
Jadi kemanakah lemparan sepatunya berhasil mendarat?
"Anda tidak apa - apa tuan? " tanya seorang wanita kepada seorang pria yang berada di ujung gang.
Sakura menoleh mendengar pertanyaan dari wanita tersebut kepada laki - laki didepannya.
Jadi tadi sepatunya mengenai kepala lelaki itu? Astaga.
Terus terang saja dirinya tidak enak kalau harus mengambil kembali sepatu itu. Apa lebih baik ia kabur saja? Lagipula dirinya tidak sengaja kok. Kan tujuan awalnya ingin memberi pelajaran pencopet tadi eh malah salah sasaran.
Lagian ngapain coba mereka berduaan di gang kecil gini? Mesum ya? Ckckck.
"Tidak apa - apa. " ujar lelaki tersebut sambil celingak - celinguk mencari sesuatu.
Sakura langsung membalik badannya bersiap untuk pergi. Bodo amat dah mau cuma pake sebelah sepatu doang apa sekalian nelapak aja, yang penting saat ini mending kabur dulu.
"Astaga Nona Sakura"
Tubuh Sakura membeku saat baru akan berbalik pergi. Kenapa dayangnya ini harus datang di saat yang tidak tepat sih. Kan bisa gitu datengnya pas Sakura udah sampe rumah misalnya.
"Kenapa Anda main lari begitu? Itu sepatu yang satunya kemana?" Cecar Mai.
Eh elah ini pake acara bilang sepatunya ilang lagi. Kan jadi nggak bisa kabur.
Sakura melirik lelaki tersebut dari sudut matanya. Lelaki yang terkena lemparan sepatunya tersebut, memiliki surai berwarna merah, memiliki mata biru hijau pucat dan ada tato di dahinya.
Saat ini lelaki tersebut sedang berjalan mendekatinya sambil membawa sepatunya.
Gila mana tatoan lagi tuh laki. Jangan - jangan preman?
"Apa sepatu ini milik Nona?" tanya lelaki tersebut sambil menatapnya tajam.
Ditatap tajam seperti itu tentu saja membuat Sakura keki. Baiklah daripada mencoba melarikan diri lebih baik dihadapi saja. Sakura langsung memasang tampang yang tak kalah datar.
"Iya, Tuan. Terima kasih sudah dikembalikan"
"Sepatu ini tadi cukup mengganggu kemesraan saya dengan Nona manis yang tadi"
Terus dirinya harus bilang wow gitu?. Cih.
Sakura hanya merolling matanya bosan. Emang dasar lelaki kerdus.
"Saya mohon maaf sebesar - besarnya tuan. Saya tadi hanya berniat menjegal pencopet tadi eh malah salah timpukan" ujar Sakura kembali minta maaf dan menjelaskan.
Lelaki kerdus itu hanya manggut - manggut saja mendengar penjelasan darinya.
"Baiklah Nona, tapi sepertinya saya mungkin gegar otak karena lemparan sepatu ini"
Hah? Ini dirinya nggak salah denger nih? Seriusan ini lelaki bilang kalau gegar otak gara-gara kena lemparan sepatu?!. Wah Ngadi ngadi nih.
Bilang aja mau morotin Sakura kan? Iya kan? Ngaku!
"Baiklah, saya akan bertanggungjawab dengan pengobatan Anda"
"Bagaimana cara Anda bertanggungjawab? Apa dengan memberi saya uang?" Tanya lelaki itu.
Sakura mengernyitkan dahinya bingung. Kalau bukan dengan memberi uang untuk pengobatannya lalu ia harus apa? Ngobatin gitu? Emang dirinya dokter apa. Lagian itu paling kepalanya cuma benjol sedikit.
"Lalu apa yang Anda inginkan tuan?"
Lelaki bersurai merah itu hanya tersenyum miring mendengar pertanyaan Sakura.
"Sebelumnya apa Anda tidak ingin tahu siapa nama saya"
Hah? Kenapa jadi nama? Random banget ini. Apa jangan- jangan bener lagi kalau gegar otak.
"Mengapa saya perlu tahu nama anda?" Ujar Sakura pada lelaki merah itu.
Emang ente artis ibukota?
Lagipula paling lelaki kardus itu hanyalah tokoh ekstra yang tidak penting saja. Jadi tidak penting siapa namanya. Setelah ia memberikan uang untuk berobat paling juga udah puas.
"Nama saya Gaara"
Sakura tersentak, apa tadi dia bilang? siapa namanya? Gaara? Claudius Gaara el Sabaku? si Penyihir Menara itu? Apa cuma kebetulan doang?
Di Novel Prince Lover, keberadaan Gaara memang misterius. Ia hanya disebutkan sekilas saja bahwa ia adalah seorang Penyihir Menara sekaligus penyihir istana termuda.
Informasinya hanya sebatas itu saja, tapi siapa yang mengira bahwa si penyihir misterius itu aslinya adalah lelaki kerdus?!. Cih percuma cakep kalau buaya.
Sakura menatap Gaara lurus, sebisa mungkin ia harus terlihat tidak panik. Dan kenapa tokoh yang seharusnya jarang muncul di novelnya malah muncul sekarang. Bahkan harus berurusan dengannya hanya karena sepatu?.
"Saya sudah minta maaf kalau sepatu saya tidak sengaja mengenai anda. Saya juga akan bertanggungjawab dalam pengobatan anda. Bukankah sudah cukup?"
Bilang aja ngapa sih butuhnya apa. Kzl.
"Baiklah Anda tidak perlu membiayai pengobatan saya. Tapi sebagai gantinya-" Gaara sengaja menggantungkan kalimatnya dan menatap lurus pada mata Sakura. "Nona harus mengabulkan satu permintaan saya" ujar Gaara.
Bilang kek dari tadi make muter muter dulu. Apa sih apa emang permintaannya?
"Oke. Jadi apa permintaan Anda?" Tanya Sakura malas. Sebenarnya ia sudah jengah berurusan dengan lelaki merah kerdus ini.
"Permintaan saya akan saya katakan di pertemuan kita selanjutnya, Nona Sakura" Jawab Gaara dan langsung menghilang setelah mengatakannya.
Mata Sakura membola kaget, jadi Gaara mengetahui siapa dirinya?
.
.
.
"Jadi kemarin gadis itu membuat masalah dengan Penyihir Menara?"
Sasuke sedang membaca dan mengoreksi beberapa laporan mengenai wabah yang sedang menjalar di kekaisaran saat dirinya mendengar laporan dari Sekretarisnya tentang apa saja yang dilakukan oleh Putri Marquess Haruno.
Jika bukan karena permintaan Putra Mahkota rubah itu mana mau dirinya yang notabene sangat sibuk ini memgintai Putri Haruno.
"Iya, Yang Mulia"
"Apa yang gadis itu lakukan pada Gaara?"
Seingat Sasuke, sang Penyihir Menara yang digadang-gadang akan menjadi Kepala Menara Sihir selanjutnya itu amat sangat tertutup dan misterius. Lalu bagaimana caranya ia jadi bermasalah dengan gadis gila itu?
"Sebenarnya lebih karena ketidaksengajaan. Saat itu Nona Sakura sedang mengejar pencopet"
Alis Sasuke mengernyit. Sebentar ini dirinya tidak salah mendengar? Mengejar pencopet? Seorang putri bangsawan mengejar pencopet? Seberapa gila sih sebenarnya gadis itu?!.
"Mengejar pencopet?" Ulang Sasuke.
"Benar Yang Mulia. Saat itu Nona Sakura sedang berjalan-jalan dan tidak sengaja melihat pencopet lalu Nona mengejarnya" Lanjut Kakashi yang merupakan Sekretaris Sasuke.
"Oke. Lanjutkan"
"Lalu saat sampai di sebuah gang kecil didekat pasar, Nona Sakura melemparkan sebelah sepatunya yang bertujuan untuk menghentikan pencopet itu, tetapi malah Tuan Gaara yang terkena lemparan sepatu itu." Jelas Kakashi.
Sasuke mendengus geli. Saat ini dirinya ingin sekali tertawa keras mendengar kronologi sepatu terbang Sakura. Tapi ia tahan karena masih ada Kakashi.
Gadis itu memang sangat aneh tidak seperti rumornya. Bahkan sekarang Sasuke mulai ragu jika gadis itu punya tujuan lain tentang alasannya yang tiba-tiba menyerah menjadi putri mahkota. Menurut Sasuke, gadis itu bukannya licik tapi memang otaknya geser saja.
"Oke kau boleh pergi"
Mendengar perintah dari Sasuke, sang sekretaris Kakashi langsung undur diri meninggalkan ruangan kerja majikannya tersebut.
Saat hendak menutup pintu, Kakashi tidak sengaja melirik ke arah Sasuke dan langsung syok.
Grand duke yang itu bisa tersenyum lebar seperti itu?!. Batin Kakashi heran.
Tersadar dari kekagetannya, Kakashi benar-benar menarik ganggang pintu dan menutupnya. Dan begitu pintu tertutup dirinya masih mendengar suara tertawa dari Sang Grand Duke yang jarang sekali tersenyum itu.
Sebenarnya majikannya itu kesambet apa sih?.
-TBC-
Hallo semuaa, balik lagi sama kisah putri prik dan grand duke yang mukanya kek tembok. Di bab kali ini kita kenalan sama penyihir menara nih. Kira2 si Gaara ini gimana ya kedepannya? Antagonis kah? Second lead kah? Atau malah cuma tokoh ekstra nggak penting aja?
Aku usahain nyelesain semua fic aku satu persatu ya. Tapi emang maaf kalau nggak bisa cepat.
Sincelery,
Ten
