"Matte Dobe! Kita ini mau ke mana?!"

"Kita harus pergi dari sini, salah satu dari mereka telah lolos dan seperti yang kalian lihat, dia telah menggigit Sensei tadi," jawab Naruto, "mungkin ada salah satu guru yang bersamanya tadi dan berhasil melarikan diri, dan itu membuat makhluk mengerikan itu mengikutinya."

"Itu Artinya... Dia saat ini ada di ruang Guru ya," gumam Shikamaru. "Begitulah, mereka yang tergigit akan menjadi seperti mereka atau kemungkinan lainnya adalah...," gantung Naruto.

"Zombie."

"Zombie?! Bukankah itu hanya ada di film?" tanya Issei tidak percaya. "Tapi ini bukanlah mimpi?!" balas Naruto setengah berteriak.

"Matte Dobe! Aku tidak akan pergi sampai kita menyelamatkan Sakura-chan dulu?!"

"Tapi!"

"Sasuke benar Naruto! Kita tidak bisa pergi begitu saja! Kita masih memiliki teman yang lainnya!" timpal Rias sambil menarik baju Naruto untuk berhenti.

"Mereka benar Naruto, kita masih memiliki waktu yang cukup untuk menyelamatkan mereka, apakah kau memikirkan dirimu sendiri? Apa kau tidak memikirkan yang lainnya yang masih ingin hidup?" ujar Shikamaru juga setuju. Naruto yang mendengar itu menggenggam erat tongkat besi di tangannya.

Perkataan Shikamaru terus terdengar di telinganya seperti kaset rusak, ia tidak memikirkan dirinya sendiri, dia peduli dengan teman-temannya... tapi apakah itu memang benar bahwa dia peduli terhadap teman-temannya, yang ada dia hanya mementingkan bahwa mereka selamat tanpa memikirkan teman-teman mereka.

Naruto yang merasa menjadi manusia terburuk membenturkan tongkat besi dengan keras ke kepalanya membuat mereka terkejut.

"O-Oi! Naruto! Apa yang kau lakukan?!" tanya Issei tidak percaya dengan apa yang di lakukan temannya. "Maafkan aku... Aku tidak bisa berpikir dengan jernih, aku hanya berpikir agar kita selamat dan melupakan yang lainnya... Aku...," gumam Naruto membuat semuanya diam.

"Itu tidak benar Dobe... Kau berusaha menyelamatkan kami itu sudah membuktikan bahwa perbuatanmu tidak sepenuhnya salah," ujar Sasuke mencoba mengembalikan semangat Naruto kembali.

"Sasuke benar Naruto! Untuk sekarang tidak ada waktu untuk menyalahkan diri sendiri!" timpal Shikamaru sambil menepuk pundak Naruto, "kita masih punya waktu untuk menyelamatkan mereka, ayo!".

"Ya," jawab Naruto sambil tersenyum lalu bersiap lari ke tempat awal. "Sasuke-kun!" Naruto dan yang lain mendengar sebuah teriakan langsung berhenti saat akan kembali ke tempat awal.

Mereka bisa melihat empat perempuan berlari ke arah mereka, satu perempuan berambut pink sebahu, satu perempuan berambut hitam sebahu dengan kaca mata melekat di wajahnya, Satu perempuan berambut kuning di ikat pony tail dan satu perempuan berambut hitam panjang sambil membawa sebuah tongkat kayu di tangannya.

"Sa-Sakura!" kejut Sasuke langsung memeluk perempuan rambut pink dengan erat. "Ino!" gumam Shikamaru lalu menerima pelukan dari perempuan berambut kuning yang di ikat pony tail.

"Sona-chan!" teriak Rias langsung memeluk perempuan berambut hitam sebahu dengan erat. "Tsubaki-chan!" panggil Akeno melepaskan tangan Naruto dan mendekati perempuan berambut hitam panjang yang membawa tongkat kayu di tangannya lalu memeluknya sesaat.

"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Sasuke sambil melepaskan pelukannya dan menatap tajam Sakura.

"Kami mendengar suara teriakan yang sangat keras dan juga kami melihat Si kuning ini membunuh sesuatu yang mengerikan, karena takut terjadi sesuatu aku dan mereka langsung datang mencari kalian di kelas dan kami menemukan...," gumam Sakura menggantung ucapannya.

"Jadi kalian melihat itu juga?" tanya Sasuke dan di jawab anggukan oleh Sakura, "lanjutkan Sakura-chan."

"Tapi teman sekelasmu bilang bahwa kalian sudah pergi jadi aku dan mereka langsung mengejar kalian!" balas Sakura membuat Sasuke tidak percaya, ia langsung memeluk Sakura kembali dengan erat.

Sementara Naruto yang di panggil si Kuning hanya Sweatdrop lalu menghembuskan nafasnya, "Padahal aku sudah berniat menyelamatkanmu Sakura-chan, tapi panggilanmu itu menyakitkan."

"Bagaimana bisa makhluk mengerikan itu di sini? Bagaimana bisa Sensei itu terbunuh? Dan kenapa kalian keluar dari kelas kalian?" tanya Sona meminta jawaban.

"Bagaimana Makhluk mengerikan itu di sini aku tidak begitu tahu, lalu kenapa Sensei tersebut terbunuh... Itu karena ada salah satu makhluk mengerikan telah menggigitnya dan menyebarkan sebuah virus yang membuatnya menjadi Zombie dan akulah yang membunuh guru tersebut sebelum menggigit yang lainnya," jawab Naruto membuat Sona, Tsubaki, Sakura dan Ino terkejut.

"Ka-Kau pasti bercanda bukan, Namikaze Naruto?" tanya Tsubaki tidak percaya, namun Naruto hanya diam saja sebagai jawaban menandakan dia benar-benar serius.

"Saat ini kita satu makhluk mengerikan yang lolos mungkin telah sampai di ruang guru dan beberapa guru mencoba menahannya walau hasilnya mungkin mustahil, pasti sudah ada yang tergigit dan sebentar lagi akan merambat ke seluruh kelas ini... selagi mereka mengulur waktu kita harus pergi dari sini."

"Kyaaaah!" mereka semua seketika menegang ketika mendengar suara teriakan di belakang mereka, dengan patah-patah mereka menoleh ke sumber suara dan mereka mendengar suara keributan dan beberapa teriakan lainnya.

"Itu dari arah kelas kita," gumam Issei.

"Kemungkinan besar salah satu guru yang terinfeksi ke sana dan menggigit salah satu teman kita... Atau mungkin...," gumam Naruto lalu tersentak ketika ingat sesuatu.

"Cairan Hijau itu?!"

.

Disclaimer :

Naruto Masashi Kisimoto

High School DxD Ichiei Ishibumi

Summary : Dunia Modern, dimana Dunia sudah maju dengan teknologi canggih yang membantu peradaban manusia, namun karena saking canggihnya, para ilmuwan nekat membuat sesuatu yang berbahaya, namun saat melakukan tes terjadi kesalahan besar. Sesuatu yang berbahaya itu menyebar dengan cepat membuat panik orang-orang dan mereka harus melarikan diri untuk bertahan hidup, akankah peradaban manusia musnah sepenuhnya?

This Is The End the World?

Pair :

... x ...

Genre : Alternative Universe, Adventure, Fantasy, Horror, Tragedy, Mystery, Humor, Sci-Fi, Ecchi, Future.

Rate : M

Warning : Typo, OC, OOC, AU, Multichap, Alur berantakan dan Lain-lain, Smart!Naru.

" Naruto " berbicara

" Naruto " batin

["Naruto."] bicara melalui walkie talkie

["Naruto."] balasan dari Walkie talkie.

.

Chapter 2 : Pergi menuju Atap

.

"Apa maksudmu Naruto?!" tanya Sasuke tidak mengerti. "Mereka yang tergigit memiliki virus di tubuh mereka dan makhluk yang menggigit mereka memberikan semacam cairan hijau kepada subjek yang dia gigit," jawab Naruto, "kemungkinan salah satu teman kita menyentuh cairan hijau yang di keluarkan oleh guru yang aku bunuh dan membuatnya terinfeksi."

"Jika cairan itu masih ada di tangannya dan bersentuhan dengan yang lainnya..."

"Mereka akan terinfeksi," gumam semuanya dengan keringat mengalir di kening mereka. "J-Jika begitu apa yang harus kita lakukan?" tanya Sakura sambil melihat ke arah teman-temannya.

"Jika kita pergi dari sekolah ini dan menuju kota mungkin kita akan bertemu yang seperti mereka dan lebih banyak lagi, untuk saat ini kita harus pergi ke atap secepat mungkin dan menunggu bantuan datang," jawab Shikamaru.

"C-Chouji...," gumam Ino lalu memegang kedua bahu Shikamaru, "Shikamaru! Kita harus menyelamatkan Chouji! Dia ada jadwal olahraga hari ini, kita harus cepat menyelamatkannya dan pergi ke tempat aman!"

Shikamaru yang mendengar itu menggigit jempol miliknya, "Lapangan ya... Jika kita ke sana kemungkinan besar mereka yang sudah terinfeksi akan memenuhi setiap lorong ini."

Naruto yang mendengar itu melihat senjata di tangannya, di tangan Shikamaru, Sasuke dan Issei, senjata mereka tidak memadai untuk melawan banyak Zombie nanti.

"Lapangan ya," gumam Naruto sambil mengelus dagunya lalu tersentak dan tersenyum ke arah Akeno.

"Akeno-chan, Club Kendo memiliki bangunan tersendiri bukan?" tanya Naruto dan di balas anggukan pelan oleh Akeno. "Um, jaraknya sekitar 20 meter dari lapangan sekolah," jawab Akeno.

"Apa ada Boken, pedang kayu atau pun pedang asli di sana?" tanya Naruto kembali. "Kalau Boken ada sekitar 6, pedang kayu atau 3 dan pedang Asli ada Dua... walau saat ini tengah di ledakkan dalam kota kaca," jawab Akeno kembali membuat Naruto tersenyum.

"Ruang UKS juga dekat dengan lapangan bukan? Kita akan terbagi menjadi tiga team dan pergi ke masing-masing tempat tersebut," ujar Naruto menjelaskan rencananya.

"Teme, Sakura-chan, Rias-chan dan Tsubaki-chan bukan? kalian pergilah ke ruang UKS untuk mengambil beberapa obat-obatan," ucap Naruto melihat ke arah Sasuke dengan serius, "lalu Shikamaru dan Issei Kalian bersama Ino-san dan Hinata-chan pergilah ke lapangan selamatkan Chouji dan ambil beberapa senjata yang bisa di gunakan di sana."

"Sementara aku, Akeno-chan, Kuroka-chan dan Kaichou akan pergi ke Club Kendo untuk mengambil beberapa senjata yang ada di sana," lanjut Naruto memberitahu tugas masing-masing, "kau tidak keberatan ikut dengan seorang pembunuh sepertiku, Kaichou?"

Sona yang mendengar itu menghembuskan nafasnya pelan, "Sudah cukup Naruto-san... Kau membunuhnya karena memiliki alasan yang cukup, kau bukanlah pembunuh, tapi seorang penyelamat."

"Dan tolong jangan panggil aku Kaichou, panggil saja Sona," lanjut Sona membuat Naruto tersenyum tipis. Akeno dan Kuroka yang melihat itu menggembungkan pipi mereka lalu mencubit pinggang Naruto hingga membuatnya mengaduh kesakitan.

"Matte, Naruto bukannya kau bilang mereka tidak bisa di sembuhkan?" tanya Shikamaru. "Memang, tapi tidak ada salahnya melakukan pencegahan sebelum Virus itu menyebar bukan?" jawab Naruto sambil tersenyum lalu menyiapkan tongkat besinya.

"Baiklah jika sudah kita akan sama-sama berkumpul di tangga lantai satu lalu sama-sama pergi ke atap," ujar Sasuke setuju. "Kalian semua berhati-hatilah," ucap Sakura dan di jawab anggukan oleh semuanya.

"Hinata-chan, apa yang kau lakukan?" tanya Shikamaru melihat ke arah Hinata yang asik pada ponselnya. "Aku mencoba menanyakan kabar keluargaku dan memberitahu Kiba-kun untuk pergi ke atap lebih dulu," jawab Hinata membuat Shikamaru menganggukkan kepalanya, tidak ada salahnya dia melakukan itu.

"Sasuke! Jaga Rias-chan baik-baik! Jika terjadi sesuatu awas saja kau!" ujar Issei dan di balas anggukan oleh Sasuke. "berhati-hatilah, Issei-kun," ucap Rias lalu pergi ke kelompok Sasuke.

"Jika sudah mengerti ayo kita pergi, kalian semua berhati-hatilah, tempat ini sudah tidak aman lagi... Tidak perlu segan-segan membunuh mereka yang terinfeksi virus, Kita ini memiliki tekad untuk hidup, jika kita tergigit maka habis sudah," ucap Naruto sambil menyiapkan tongkat besi di tangannya.

"Dan yang terakhir, jika kalian melihat ada yang terinfeksi, tusuk dan patahkan lehernya," lanjut Naruto membuat semuanya meneguk ludahnya, "Ikuzo!"

Setelah itu Naruto dan yang lainnya pun langsung berlari menuju bagian belakang sekolah lalu menuruni tangga dan berpencar, Team Naruto ke Club Kendo, Team Shikamaru ke arah Lapangan dan Team Sasuke ke arah UKS.

"Temanmu itu mengerikan ya, Sasuke-kun, dia bahkan tidak ragu mengucapkan kata membunuh," ujar Rias membuat Sasuke tersentak pelan. "H-Hn," balas Sasuke singkat.

"Tapi dalam situasi seperti ini bukankah wajar? Membunuh mereka yang terinfeksi sebelum semakin berbahaya... jika kita juga terinfeksi kita akan menjadi seperti makhluk mengerikan itu dan membunuh teman-teman kita sendiri," jawab Sakura berpikir logis.

"Itu memang benar sih... Aku juga tidak mau menjadi seperti mereka dan membunuh kalian," timpal Rias.

"Jika saja kalian tahu... Dobe sudah melalui banyak rintangan hingga membuat tubuhnya berlumuran banyak darah, maka dari itu dia tidak ragu-ragu untuk membunuh," batin Sasuke mengingat misi pertama mereka mencuri brankas para pemerintah yang Koruptor.

Brangkas tersebut terdapat banyak penjaga dengan senjata tembak, mereka awalnya ingin mencuri uang di brangkas tersebut dengan membius para penjaga, namun salah satu penjaga mengetahui bahwa ada penyusup.

Di saat ia, dan Issei pergi melarikan diri, hanya Naruto saja yang terjebak di dalam, karena tak ingin mati Naruto terpaksa melawan dengan membunuh mereka menggunakan senjata tembak dari orang yang dia bius.

Naruto yang pertama kalinya membunuh shock berat padahal rencana mereka tidak ingin sampai ada yang terbunuh... Namun pada akhirnya rencana mereka harus memakan korban jiwa.

Ia dan Shikamaru berusaha menghilangkan jejak mereka begitu juga Naruto, para polisi yang datang mengecek kejadian tersebut dan mereka mengatakan tidak menemukan jejak pembunuh.

Dia bernafas lega bersama Shikamaru dan Issei karena jejak mereka berhasil di hapus, namun yang menjadi masalah berikutnya adalah Naruto... Dia bahkan tidak mau keluar dari kamarnya karena masih ketakutan dan mentalnya langsung Down, dia hanya keluar saat tengah malam untuk mengambil makanan dan kembali ke kamarnya.

Ayah dan Ibu Naruto khawatir dengan keadaan putra mereka dan mencoba membujuknya keluar, namun Shikamaru mengatakan kepada ayah dan ibu Naruto bahwa dia saat ini tertekan karena sesuatu.

Shikamaru meminta mereka memberikan waktu kepada Naruto untuk menenangkan diri, selama dua Minggu akhirnya Naruto keluar dari kamar dan kembali bersekolah dia bahkan bisa tersenyum kembali seolah kejadian tersebut berlalu begitu saja.

Ayah dan Ibu Naruto melihat putra mereka keluar langsung menangis dan memeluk putra mereka tersebut. Naruto juga meminta maaf karena membuat mereka khawatir karena dia membutuhkan waktu untuk sendiri.

Beberapa hari berikutnya, mereka terkejut ketika Naruto mengajak mereka kembali mencuri uang beberapa Koruptor. Padahal mereka sudah setuju untuk tidak melakukannya lagi, tapi Naruto tetap memaksa.

Mereka bahkan mencoba menghentikan Naruto dan mengingatkan apa yang dia lakukan dulu, jika dia melakukannya lagi kejadian yang sama akan terulang lagi.

Namun Naruto hanya berekspresi biasa saja dan tetap melakukannya, dia hanya meminta Shikamaru untuk membantunya dari jauh dan dia yang menghapuskan jejaknya.

Dan hasilnya sangat mengerikan. Naruto membantai para penjaga brangkas tanpa ragu sedikit pun, mencuri uang yang ada di brangkas lalu meledakkannya.

Dia, Issei dan Shikamaru tidak habis pikir dengan Naruto, dan saat mereka bertanya kenapa dia tanpa ragu membunuh mereka.

Naruto menjawab, "Buat apa menampung penjahat tersebut di dunia ini? Mereka sudah membunuh banyak orang tak bersalah, jika kita hanya diam kita juga akan mati, dari pada kita di bunuh oleh orang seperti mereka, sebaiknya mereka di bunuh saja." Saat Naruto menjawabnya, dia mengeluarkan tatapan kosong dan dingin.

Keesokan harinya mereka melihat Naruto serta keluarganya pergi ke dengan pakaian hitam, saat mereka bertanya ada apa, Ayah Minato menjawab bahwa salah satu teman mereka, dan juga teman Naruto sejak kecil meninggal karena tertembak oleh para penjaga brangkas.

Mereka mulai paham kenapa Naruto menjadi seperti itu. Dia tidak bisa memaafkan kematian teman masa kecilnya, dan dia menumpahkan semua amarahnya kepada mereka.

Pada akhirnya mereka melanjutkan tujuan mereka, yaitu mencuri uang para koruptor, namun sebisa mungkin mereka mencoba melumpuhkan para penjaga, namun jika ada penjaga tambahan dan menembaki mereka, tidak ada pilihan lain selain membunuh mereka dan ikut melumuri tangan mereka dengan darah.

Pada akhirnya, mereka pun juga mengalami apa yang Naruto rasakan yaitu tekanan Mental, namun seiring berjalan waktu mereka mulai terbiasa. "Sebenarnya bukan Dobe saja sih," batin Sasuke merasa bersalah karena saat Rias bertanya Naruto itu mengerikan dia setuju, tapi tidak mungkin dia mengatakan dirinya dan yang lain juga memberikan bukan.

"Tapi apa yang di katakan Sakura-chan benar... Kata membunuh sudah wajar jika situasi seperti ini," batin Sasuke menggeleng pelan sambil fokus kembali ke depan menuju ruang UKS, "seperti kata Dobe dulu, jika kita membiarkan mereka membunuh kita semua, jika kita diam justru kita akan mati juga, jadi tak ada cara lain selain membunuh mereka jika tetap ingin hidup."

"Dobe... Minna, berhati-hatilah."

.

Shikamaru Side

.

Sementara itu di sisi Shikamaru, Issei, Hinata dan Ino, mereka saat ini tengah berlari di sisi lapangan dan mereka melihat beberapa murid dan di sana juga terdapat wanita berambut silver tengah menjelaskan sesuatu kepada mereka.

"Chouji!" panggil Shikamaru dan Ino bersamaan membuat para murid menoleh, salah satu murid yang berbadan gemuk pun berdiri di antara para murid tersebut dan menghadap ke arah mereka.

"Shikamaru, Ino, ada apa?" tanya pemuda bernama Chouji. "Kita harus pergi dari sini! Tidak ada waktu untuk menjelaskannya, ayo!" ajak Ino menarik Chouji keluar dari kerumunan murid.

"E-Eh?! Ada apa sih?"

"Sudah ikut saja!"

Sementara Issei dan Hinata mereka telah pergi ke gudang peralatan sekolah, mulai dari 5 tombak lembing, dan 5 pemukul Base Ball. Issei yang melihat beberapa bola mengambil sekitar 6 bola lalu memasukkannya ke saku rompi sekolahnya.

"Hinata-san! Bagaimana?" tanya Issei dan di jawab anggukan oleh Hinata lalu berlari keluar dengan barang-barang yang mereka bawa.

"Matte! Yamanaka-san! Nara-san! Apa yang kalian lakukan?!" bentak sang guru sambil memegang lengan Chouji lagi satu. "R-Rossweisse-sensei! Kita tidak punya waktu lagi, kita harus pergi dari sini!" ujar Shikamaru membuat guru bernama Rosswaisse kebingungan.

"Huh? Bicara apa kau? Apa kau berniat membolos?" balas Rosswiesse tidak mengerti. "Lepaskan Chouji! Saat ini kami sedang ada pelajaran!" bentak Perempuan berambut biru sebahu sambil ikut menarik Chouji bersama Rosswaise.

"I-Ittettette, Xe-Xenovia-san! Sakit!" ucap Chouji sambil melihat perempuan berambut biru yang menariknya bersama Rosswaisse-sensei.

"Shikamaru! Ino-san! Kami sudah mendapatkan apa yang di butuhkan!" ucap Issei dan Hinata mendekati mereka. "Kalian... Mau apa dengan alat-alat itu?!" tanya Rosswaisse semakin tegas.

"So-Soal itu..."

Bziiiit!

Shikamaru, Ino, Issei dan Hinata yang mendengar suara bising dari Speaker yang ada di tiang dekat lapangan menegang.

.

At Same time

Naruto side

.

Di waktu yang sama saat berpisah, Naruto, Akeno, Kuroka dan Sona sama-sama berlari cepat menuju sebuah rumah dari kayu berukuran cukup besar dan berarsitektur Jepang Clasic.

"Jadi itu tempat Club Kendo?" gumam Kuroka menatap lekat Club Kendo yang terlihat clasic. "Untuk menjaga nilai budaya negara kita, pemerintah menetapkan setiap sekolah harus menyiapkan tempat seperti itu untuk mereka yang masuk Club Kendo agar bisa fokus berlatih, maka dari itu sampai sekarang bangunan seperti itu masih ada," jawab Sona menjelaskan.

Setelah sampai mereka pun langsung masuk ke dalam dan mereka melihat satu perempuan berambut kuning di ikat tengah berlatih pedang kayu, "Arthuria-senpai!" panggil Akeno membuat perempuan tersebut menghentikan latihannya dan menoleh ke arahnya.

"Himejima-san?" gumam perempuan bernama Arthuria kebingungan sambil memasukkan pedang kayunya ke sarung yang ada di pinggangnya. Akeno pun langsung berlari ke arahnya dan memeluknya erat, sementara Naruto dan Kuroka pergi mengambil 2 boken dan 4 pedang kayu.

Naruto yang melihat dua pedang di dalam kota kaca langsung menghancurkan dua kota kaca tersebut dengan Boken yang dia ambil hingga Boken di tangannya juga hancur, Arthuria yang melihat itu terkejut dengan tindakan Naruto.

"Oi! Apa yang sedang kau lakukan?!"

"Senpai, kita harus pergi dari sini! Situasi saat ini benar-benar gawat!" ujar Akeno membuat Arthuria kebingungan. "Apa yang kau katakan?" tanyanya bingung.

"Saat ini terjadi bencana di dalam sekolah, kita harus pergi secepatnya dari sini," ujar Sona datar dan tegas membuatnya semakin kebingungan.

Naruto yang sudah mengambil dua pedang dalam kota kaca menarik gagang pedangnya hingga ia melihat bilah pedang yang tajam, Naruto pun menyeringai lalu memasukkannya kembali dan meletakkannya di kedua punggungnya.

Bzziiit!

Naruto, Akeno, Kuroka dan Sona yang mendengar suara bising di Speaker yang ada di ruangan tersebut menegang, "Pengumuman?" gumam Arthuria dengan sebelah alis terangkat.

"Kuso! Jika begitu jalan menuju atap akan terhalangi," umpat Naruto, pasalnya tangga yang di gunakan untuk ke lantai dua di belakang sekolah tidak langsung ke lantai 3, justru tangga menuju lantai 3 hanya ada di bagian depan sekolah serta bagian tengah tengah sekolah, karena tangga lantai 3 di bagian sekolah hancur karena tanah yang sudah tidak kuat jadinya tangga di tutup dan sedang melakukan perbaikan.

Mendecih pelan, ia pun berlari ke arah Arthuria dan menggenggam tangannya erat, "maafkan aku Senpai, tapi ikutlah dengan kami!"

.

At Same Time

Sasuke Side

UKS

.

Brak!

Dengan keras, Sasuke membuka pintu Ruang UKS begitu sampai di ruangan tersebut, "Kyaaa!" teriak seorang wanita terkejut ketika Sasuke membuka pintu UKS dengan keras.

"Ma-Marikawa-sensei, kau ada di sini?" gumam Sakura lalu masuk ke dalam UKS bersama yang lainnya. "Tentu saja, aku kan guru UKS," jawab guru tersebut dengan polosnya lalu berkecak pinggang terhadap Sasuke

"Dasar Uchiha-kun! Kau harusnya membuka pintu dengan pelan karena ada yang terluka tahu!" ucap guru tersebut. "S-Sensei! Cepatlah! Tanganku sakit sekali! Ghhha!" Sasuke, Rias, Tsubaki, dan Sakura yang mendengar itu melebarkan mata mereka.

"Sensei! Menjauh darinya!" ucap Rias menarik guru UKS tersebut dan memeluknya, Sasuke dan Tsubaki pun berdiri di depan mereka sambil menyiapkan senjata di tangan mereka.

Mereka bisa melihat seorang siswa saat ini tengah memegang tangannya yang terdapat cairan Hijau, mereka yang melihat itu melebarkan mata mereka.

"Dia telah terinfeksi," gumam Rias, "Sakura-chan! Kau cepat kumpulkan obat-obatan yang di butuhkan! Lalu..."

"Sasuke-kun! Tsubaki-chan! Kalian tahu harus berbuat apa bukan?!"

"Ya, tentu saja," balas Sasuke lalu mengambil sat selimut lalu menutupi siswa tersebut lalu naik ke atas siswa tersebut dan menyiapkan tongkat kayu di tangannya, "gomenasai!"

Jrash!

Tanpa ragu, Sasuke menusukkan tongkat kayunya ke leher siswa di bawahnya hingga mengeluarkan darah dan mengenai kain yang menutupinya.

"Uchiha-kun! Apa yang kau lakukan?!" kejut Guru tersebut. "Dia tidak bisa di selamatkan lagi Sensei! Dia itu monster!" balas Rias menahan guru UKS itu.

"AAARRGHHHHHH!"

lengan Siswa tersebut berusaha memegang kaki Sasuke, namun Tsubaki memukul tangan tersebut hingga patah.

"GHHHRAAAAAAA!"

Kretek!

Sasuke pun memutar tongkat kayu di tangannya mematahkan leher siswa tersebut membuatnya berhenti bergerak. Sasuke yang melihat itu menghembuskan nafasnya, lalu turun dari siswa tersebut, "Arigato," ucap Sasuke berterima kasih dan di jawab anggukan oleh Tsubaki.

"Bagaimana Sakura?!" tanya Sasuke melihat ke arah Sakura yang tengah mengumpulkan obat-obatan ke dalam sebuah tas hingga penuh lalu menutupnya.

"Sudah! Sekarang ayo kita..."

Bziit!

Sasuke, Tsubaki, Rias dan Sakura yang mendengar suara bising dari Speaker tersentak, Sasuke yang tahu itu pertanda bahaya berteriak kembali.

"Ayo cepat pergi dari sini!" teriak Sasuke berlari sambil menarik Sakura. "Ikuti kami, Sensei!" ucap Rias lalu menarik Shizuka-sensei pergi dari sana di ikuti Tsubaki belakangnya.

Saat mereka keluar, mereka di kejutkan di sisi lorong lain, telah banyak orang yang terinfeksi Virus dan telah menjadi Zombie, saat ini para Zombie tengah berjalan ke arah mereka.

"Kuso! Ayo cepat!" umpat Sasuke lalu berlari bersama yang lainnya meninggalkan kerumunan Zombie itu.

.

Shikamaru Side

.

"Kuso, jika begini ikutlah bersama Kami Rossweisse-sensei, Xenovia-san, tempat ini tidak aman lagi!" teriak Shikamaru menarik Chouji semakin kuat, para murid yang mendengar itu kebingungan.

"Memangnya ada apa?" tanya Perempuan berambut cokelat di ikat twins berdiri dan mendekati mereka. "Aku sendiri tidak mengerti apa yang mereka katakan, Irina!" balas Xenovia

"Tidak ada waktu menjelaskannya di sini, yang terpenting kita harus ke atap dulu!" ujar Issei lalu mendorong Xenovia, Irina dan Rosswaisse untuk ikut.

"O-Oi! Jangan dorong-dorong!" bentak Xenovia. "Jika kalian ingin hidup kalian harus ikut dengan kami!" teriak Shikamaru membuat Chouji, Xenovia, Rosswaisse dan perempuan di Irina terkejut.

Bziiiit!

["Tolong di dengar! Telah terjadi penyerangan! Aku ulangi telah terjadi penyerangan! Para guru terluka! Sesuatu yang berbahaya ada di sekolah ini! Karena itu..."]

Suara tersebut terhenti, Shikamaru, Issei, Sasuke, Naruto, Akeno, Kuroka, Hinata, Rias, Sona, Tsubaki, dan Sakura yang berlari meneguk ludah mereka. Arthuria yang melihat ekspresi ketakutan Naruto, Akeno, Kuroka dan Sona menaikkan sebelah alisnya, "Sebenarnya ada apa?"

Naruto pun langsung tersadar dan langsung menatap serius Arthuria, "akan kami jelaskan di perjalanan, untuk saat ini ikutlah bersama kami."

"Tidak... Sebelum kau menjelaskan apa yang terjadi! Kau juga tidak bisa memaksa seniormu!"

"Ikut saja Senpai! Berikutnya kau akan tahu!" ujar Akeno menarik tangan Arthuria untuk berlari mengikuti mereka.

"Sesuatu yang berbahaya?" gumam Rosswaisse kebingungan begitu juga beberapa murid, Rosswiesse yang mendengar suara berisik di sekolah melihat ke arah sekolah, "Apa mungkin..."

"Hey! Lepaskan aku..."

["Brak!"]

["GHHRAAAAA!"] seketika semua menegang begitu mendengar suara benturan keras serta suara yang mengerikan dan keras. ["CHIKUSO! DASAR MONSTER MENGERIKAN! MENJAUH DARI SINI!"]

"Mo-Monster," gumam Rossweisse dengan ekspresi shock. "Kuso! Ayo kalian! Kita tidak punya banyak waktu! Kami akan menjelaskan apa yang terjadi!" ucap Shikamaru menarik Chouji pergi di ikuti Rossweisse, Xenovia, Irina, Issei dan Hinata.

.

["BRAK!"]

["GHWAAAARRGGH!"]

["C-CHIKUSO!"]

"Te-Teriakan apa itu tadi?" gumam Arthuria tergagap, ia bahkan tidak melawan tarikan Naruto dan Akeno saat ini. "Itulah yang kami bicarakan, ada semacam Virus yang telah menyebar di dalam sekolah dan membuat mereka menjadi Zombie, dan yang menjadi induk dari virus di dalam sekolah saat ini berusaha menyerang orang yang tengah berbicara di Speaker itu," jawab Akeno membuat Arthuria melebarkan matanya.

"Ji-Jika begitu kita harus menolongnya!"

"Mustahil! Mereka yang terinfeksi tidak bisa di tolong lagi!" balas Naruto setengah berteriak. "Ti-Tidak mungkin," gumam Arthuria tidak percaya.

.

"Kau pasti bercanda bukan, Nara-san?!" tanya Rossweisse dengan ekspresi tidak percaya. "Kami sedang tidak bercanda Rossweisse-sensei!" jawab Shikamaru tegas.

"Mereka yang terinfeksi sudah tidak bisa di tolong lagi, dan agar kita sampai di atap sekolah kemungkinan sudah ada beberapa Zombie di lantai dua, jadi kita harus membunuh mereka!"

"Me-Membunuh mereka?!" kejut Irina ingin menghentikan larinya tapi Xenovia langsung menariknya kembali, "le-lepaskan aku Xenovia!"

"Jangan bodoh! Kau dengar yang dia katakan kan?! Dan suara monster itu bukanlah gurauan!" bentak Xenovia. "Jika kita ingin hidup, kita harus membunuh mereka dan pergi ke tempat aman, terlebih lagi mungkin saja Evakuasi tengah berlangsung di Kota saat ini, bisa saja orang tua kita berhasil selamat dan jika kita mati di sini... Kalian pikir apa yang akan di rasakan oleh orang tua kalian?!" ujar Shikamaru kembali membuat Xenovia, Irina, dan Rossweisse terdiam sambil terus berlari.

"Tapi... Shikamaru...," gantung Chouji. "Aku tahu... Aku tahu mental kalian akan tertekan karena membunuh mereka, tapi mereka bukan lagi manusiawi, tapi seekor monster! Monster yang akan membunuh kita tanpa belas kasihan!" balas Shikamaru

.

"Karena itulah kita harus membunuh mereka!" ucap Naruto sambil melirik ke arah Arthuria, "jadi, apa pilihanmu... Senpai?"

Arthuria pun terdiam sesaat lalu melepaskan tangan Naruto serta Akeno dan ikut berlari bersama mereka. "Kau benar... Aku masih belum mau mati di sini," jawab Arthuria dengan serius.

"Aku masih ingin hidup dan bertemu keluargaku!" lanjutnya membuat Naruto, Akeno, Kuroka dan Sona tersenyum.

.

"Jawaban yang bagus!" ucap Issei, "Chouji!" lanjut Issei memberikan satu pemukul kepada Chouji lalu melemparkan satu tombak lembing ke arah Shikamaru, sementara Hinata memberikan Xenovia dan Irina masing-masing tombak lembing yang dia bawa.

Shikamaru yang melihat Naruto di depannya memberikan tanda lambaian tangan. Naruto yang melihat itu membalas lambaian Shikamaru singkat lalu berlari ke dalam lebih dahulu hingga berpapasan dengan Sasuke dan yang lainnya.

"Dobe!" panggil Sasuke dan ia tersentak ketika Naruto melemparkan satu pedang kayu ke arahnya. "Gunakan itu, Teme!" ucap Naruto lalu lari naik ke tangga menuju lantai dua.

"Dobe! Lantai satu sudah di penuhi Zombie!" ucap Sasuke membuat semuanya terkejut. "Se-Secepat itu?!" kejut Sona tidak percaya.

"Rias-chan! Sakura-san! Terima ini!" ujar Issei memberikan mereka masing-masing satu pemukul.

"Shikamaru! Kau di depan bersamaku! Chouji, kau di belakang kami berdua bersama Hinata-chan dan Arthuria-senpai. Lalu Rias-chan! Sakura-chan! Kalian ikuti Chouji dan Arthuria-senpai, lindungi mereka jika ada serangan dari samping," ucap Naruto memberitahukan posisi mereka.

"Rossweisse-sensei dan Shizuka-sensei tetaplah di bagian tengah formasi, Sona-san, Tsubaki-san, lindungi bagian belakang mereka, tugas kalian sama seperti Rias-san dan Sakura-san! Lalu... kalian berdua, siapa nama kalian?"

"Namaku Xenovia, temanku ini Irina."

"Xenovia-san kau jaga bagian depan Rossweisse-sensei dan Shizuka-sensei, sementara Irina jaga bagian belakang mereka," ujar Naruto memberi rencana dan di balas anggukan oleh mereka, "lalu..."

"Aku dan Kuroka-chan melindungi bagian belakang dan mensupport jika terjadi serangan dari belakang yang di lindungi oleh Sasuke-san dan Issei-san, bukan begitu?" potong Akeno membuat Shikamaru tersenyum karena mereka sudah paham.

"Yosh! Ayo kita pergi! Kita harus cepat sebelum mereka panik dan menutup jalan kita," ucap Naruto bersama Shikamaru mulai berlari lebih dulu di lorong lalu di ikuti sesuai formasi yang sudah di siapkan. Naruto melirik ke arah lapangan dan dia mendecih ketika melihat para murid masih diam di tempat walau Speaker telah terdengar suara mengerikan yang menandakan itu bukanlah candaan.

"Andai saja tangga di belakang tidak hancur kita pasti bisa..."

["BRAAAK!"]

["ARRRGHH!"]

Langkah mereka seketika terhenti ketika mereka mendengar benturan keras dari Speaker pengumuman serta secara langsung, tubuh mereka bergetar hingga tidak bisa di gerakkan.

["T-TOLONG! TOLONG! TOLONG! TOLONG AKU! TOLONG SELAMATKAN AKU! ARRGHH! MENJAUH! MENJAUH DASAR MONSTER! ARG! AAAAAARRRRGHHHH!"]

Bzitt! Bzitt!

["GGHWAARRRHHHH!"]

Zziit!

Speaker itu pun mati seketika, suasana hening seketika, Shikamaru yang mendapat kesadaran lebih dahulu langsung berteriak, "Semuanya bersiap benturan!" teriakan Shikamaru pun menyadarkan semuanya dan lagi mereka tepat di samping pintu kelas, Shikamaru pun langsung memiringkan tombaknya di depan dada.

"KYYAAAAA!"

"SELAMATKAN DIRI KALIAN!"

Begitu mereka keluar, Shikamaru menahan mereka dengan tombak lembingnya agar tidak menabrak mereka karena mereka bagaikan air yang tak terkendali.

"MINGGIR SIALAN!"

"MINGGIR!"

"Me-Mereka mementingkan diri mereka sendiri," gumam Rias tidak percaya sambil menahan Shikamaru karena dorongan kuat mereka. Naruto yang melihat itu mengeluarkan ekspresi dinginnya lalu mengambil nafas dalam-dalam, "KALIAN SEMUA! CEPAT LAH KE LANTAI SATU! DI SANA KALIAN AKAN AMAN! TEROBOS SAJA MEREKA!"

Shikamaru dan yang lain mendengar itu melebarkan mata mereka karena Naruto mengarahkan mereka ke sebuah neraka. Mereka yang mendengar teriakan Naruto langsung saja mengikuti instruksi Naruto.

Orang-orang yang di depan melihat beberapa Zombie di depan mereka pun memutuskan menerobos dan ada juga yang menerobos mereka melalui lantai satu, namun beberapa orang harus tertangkap oleh Zombie dan di gigit oleh mereka, bahkan ada juga yang terkena cairan Hijau dan menyebarkannya ke seluruh orang.

"Na-Naruto, kau...," gumam Chouji tidak percaya. "APA YANG KAU LAKUKAN NARUTO! KAU MEMBUAT KEADAAN SEMAKIN MEMBURUK!" teriak Shikamaru tidak percaya dengan tindakan temannya.

"Shikamaru, aku tanya padamu...," gantung Naruto sambil melirik Shikamaru dengan sorot yang dingin, "Jika mereka ikut dengan kita, lalu jika kita tidak mendapatkan bantuan di atap dan mereka menjadikan kita umpan dan mengambil senjata kita, apakah kau mau seperti itu?"

Pertanyaan Naruto membuat semuanya bungkam, "I-Itu...," gumam Shikamaru mencoba menjawab pertanyaan Naruto, namun tetap saja jawaban yang paling pasti adalah No.

Dia tidak mau mati begitu saja menjadi umpan bagi mereka yang egois, Shikamaru tidak berpikiran sampai ke sana. Ia memang melihat mereka tampak egois dan ingin hidup sendiri, dan tidak memikirkan risiko seperti yang di katakan Naruto.

Dia juga belum terlalu mengenal mereka, jadi dia belum tahu apakah mereka baik atau tidak, bisa saja mereka di peralat nanti, dia tidak ingin dirinya dan teman-temannya mati begitu saja setelah sampai sini hanya karena tusukan dari belakang.

"Maafkan aku, Naruto."

"Sudahlah, sekarang ayo kita bergerak!" balas Naruto lalu berlari menuju tangga yang ada di tengah lorong begitu juga yang lainnya.

Tiga Zombie yang ada di lorong tengah menggigit seseorang di bawah mereka mulai mengangkat kepala mereka ketika mendengar derap langkah kaki.

"GWAARRRGHH!"

Jrash!

Baru saja berteriak, Zombie bagian tengah harus menerima tusukkan di bagian lehernya dan terdorong ke depan, sementara lagi Dua telah di basmi oleh Naruto dan Chouji yang menghantam wajah mereka ke dinding dengan pedang kayu serta tongkat pemukul.

Naruto yang terkena darah sempat langsung khawatir dan menyiapkan katananya jika terjadi sesuatu padanya, namun dia sama sekali tak merasakan sakit sedikit pun.

Ia pun mengambil bercak darah yang ada di pipinya dan mengeceknya dengan jarinya m, dan tetap tidak terjadi apa-apa, "Apakah cairan hijau mereka tak tercampur dengan darah mereka?" batin Naruto.

"Informasi baru! Jika kalian terkena darah mereka kalian tidak akan terkena Zombie, darah mereka tidak tercampur dengan cairan hijau itu."

Semua yang mendengar itu sedikit bernafas lega karena di tubuh mereka terdapat beberapa bercak darah dan untungnya tidak membuat mereka menjadi Zombie.

Shikamaru yang melihat Zombie yang dia dorong berusaha memegang tongkatnya dengan tangan berlumuran cairan hijau pun memutar tombak lembingnya mematahkan leher Zombie tersebut membuat tangannya langsung terkulai lemas.

Naruto pun langsung menghantamkan pedang Kayunya pada Zombie yang ada di tombak lembing Shikamaru hingga terlepas lalu terkena injak oleh mereka.

"To-Tolong di percepat! Ada beberapa Zombie berlari ke arah kita!" ujar Issei menatap horror dari balik beberapa Zombie yang berjalan pincang keluar beberapa Zombie yang bisa berlari ke arah mereka.

Sasuke dan Akeno yang melihat itu menyiapkan Pedang kayu di tangan mereka lalu menghantamkannya ke arah dada Zombie-Zombei yang berlari ke arah mereka lalu menghantamkan kembali pedang kayu mereka ke kepala Zombi hingga membuat kepala mereka membentur lantai.

Rossweisse dan Shizuka hanya bisa mengalihkan pandangan mereka dengan sedikit menundukkan kepala mereka dengan tidak melihat eksekusi para Zombie yang di lakukan oleh murid-muridnya.

Naruto dan Shikamaru yang melihat tangga menuju lantai tiga dan ada beberapa Zombie di tangga serta satu di dekat dinding tengah menggigit seseorangpun mempercepat lari mereka, Shikamaru yang lebih dulu langsung mengayunkan tombak lembingnya membuat Zombie-Zombie di tangga berjatuhan dan berguling ke bawah.

Sementara Naruto berlari ke arah Zombie yang tengah menggigit seseorang dan mengayunkan pedangnya membentur Kepala Zombie tersebut membuatnya terjungkal ke samping, setelah itu Naruto pun mengayunkan pedangnya lagi satu menghancurkan leher Zombie tersebut.

Naruto pun menoleh ke arah orang yang terjatuh sambil memegang lehernya, ia melihat ke arah Naruto sambil tersenyum.

"Arigato karena telah menyelamatkanku."

Naruto yang mendengar itu menyiapkan pedang kayunya, "Tidurlah dengan tenang." Setelah mengatakan itu Naruto mengayunkan pedang kayunya mematahkan leher orang tersebut lalu menusuknya dengan satu pedang lagi dan memutarnya membuat orang tersebut meninggal.

Shikamaru yang tadi fokus menjatuhkan Zombie dari tangga langsung tersentak ketika ada Zombie di sampingnya membuatnya melangkah mundur sekali. Dan saat itu juga Arthuria muncul dan memukul dagu Zombie tersebut dengan pedang Kayunya membuatnya terjungkal ke belakang dan jatuh ke tangga.

"Berhati-hatilah Kouhai!" ujar Arthuria membuat Shikamaru tersentak lalu menghembuskan nafasnya. "A-Arigato, Senpai," ucap Shikamaru berterima kasih.

"Semuanya! Cepat naik! Aku akan menjaga kalian sampai naik, Shikamaru! Arthuria-senpai! Pimpin bagian depan! Setelah kalian sampai di lantai 3 cek kelas terdekat dan ambil sekiranya 10 meja dan semua kursi kelas untuk menutup pintu ke atap," ucap Naruto memberi perintah, "Huh? Apa yang kau katakan?! Bagaimana denganmu?! Jika kamu menutup pintunya bagaimana caranya kau masuk?!"tanya Sakura.

"Ada yang aku lupakan, kalian duluan saja... Aku akan baik-baik saja, tangga menuju lantai atap bukan hanya satu Sakura-chan, jangan khawatirkan," ucap Naruto sambil menyimpan dua pedang kayu di pinggangnya lalu menarik dua katana yang ada di punggungnya. Shikamaru dan yang lain mendengar itu masih terdiam di tempat, Naruto yang menyadari itu menghembuskan nafasnya, "CEPATLAH! APA KALIAN INGIN MATI?!"

Semua yang mendengar itu tersentak, Shikamaru yang mendengar itu menghembuskan nafasnya lalu menoleh ke arah Sasuke dan Issei yang mengangguk pelan.

"Berhati-hatilah, Dobe!" Naruto yang mendengar itu mengangguk pelan. "Ayo, Minna!" ucap Shikamaru menaiki tangga bersama yang lain meninggalkan Naruto sendirian.

Naruto pun melirik ke belakang dan ia sudah melihat banyak Zombie mendekatinya, ia pun menghembuskan nafasnya kembali lalu menyiapkan Katana miliknya.

Sret! Wush!

Naruto pun langsung berlari dengan cepat sambil menebaskan Katana memenggal semua Zombie yang ada di depannya, dengan ekspresi kosong Naruto membantai mereka semua bahkan yang baru saja menjadi Zombie sudah mati lebih dahulu sebelum menggigit orang.

Naruto yang melihat tikungan menuju lorong lain dan tangga menuju lantai tiga lagi satu pun berlari berbelok ke lorong lain menuju gedung sebelah dan kembali menebas-nebaskan Katana di tangannya ke arah Zombie di depannya.

Duak!

Naruto yang melihat tikungan lagi dan tangga dari lantai satu gedung sebelah terdapat Zombie yang gendut, menyipitkan matanya pasalnya dia tidak pernah melihat orang gendut selain Chouji.

"Dia... Berbeda dari yang pertama aku bunuh dan yang lainnya," batin Naruto lalu menendang Zombie tersebut hingga membuatnya terjungkal dan tak lama setelah itu Zombie itu meledak dan memuncratkan banyak cairan Hijau.

Naruto yang merasakan ledakan Zombie tersebut tersentak sesaat lalu melirik ke belakang sesaat dan fokus kembali ke depan, "Dia meledak? Hanya karena aku tendang?" batin Naruto.

"Aku akan memberitahu mereka nanti," batin Naruto lalu menghentikan langkahnya ketika melihat sebuah ruangan di dekat tangga menuju lantai 3 gedung sebelah.

Naruto pun melihat ke arah tangga yang tak terdapat siapa pun lalu mengintip dari pintu yang terbuka dan ia melebarkan matanya ketika melihat para Guru yang tergigit memiliki bentuk yang berbeda, di mana satu memiliki lengan yang memiliki bentuk seperti kapak, satunya memiliki sesuatu yang bergerak liar dari mulutnya, Satunya lagi memiliki sebelah lengan yang besar dan tubuhnya juga sangat besar.

Guru Wanita yang berubah menjadi mengerikan dengan mengeluarkan cairan hijau dari mulut mereka dan satu lagi memiliki dua tentakel tajam di punggungnya tengah menggigit bibir seorang guru di sebuah ruangan kecil dan mengeluarkan cairan hijau di mulutnya.

Mata biru Naruto bergulir ke arah papan kayu yang terdapat banyak kunci. Naruto pun menyiapkan pedang kayu miliknya lalu mengambil nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan.

.

Di sisi Shikamaru dan yang lain, Shikamaru, Arthuria, Sasuke dan Issei saat ini tengah membunuh Zombie-Zombie yang mendekati mereka dan melindungi area tangga menuju atap. Sementara Sakura, Hinata, Rias, Tsubaki, Sona, Xenovia, Chouji, Rossweisse, Shizuka, Akeno dan Kuroka mengumpulkan meja-meja serta kursi dan meletakkannya di atap.

"Kuso! Sebenarnya apa yang di pikirkan oleh Kouhai itu!" umpat Arthuria. "Dia pasti memiliki alasan, dan kita hanya perlu mengikutinya saja," jawab Shikamaru membuat Arthuria tidak percaya bahwa mereka tidak khawatir sedikit pun.

"Apa kau tidak khawatir dengannya?!"

"Tentu saja kami khawatir!" balas Shikamaru berteriak dan menatap tajam Arthuria, "Tentu saja... Aku khawatir dengannya, tapi... Dia itu sangat kuat dari yang Senpai kira."

.

Naruto pun langsung masuk dan melempar satu katananya hingga mengenai satu Zombie dengan senjata kapak di tangannya. Semua Zombie di ruang guru pun langsung menoleh ke arah Naruto dan menyerang Naruto secara bersamaan.

Naruto yang melihat Zombie besar berlari ke arahnya siap menyeruduknya bersamaan dengan Zombie yang memiliki tentakel tajam serta yang keluar di mulutnya menyerangnya bersamaan, langsung ikut berlari ke arah Zombie yang berbadan besar dan langsung merendahkan tubuhnya menghindari serangan tersebut.

Blaar!

Zombie berbadan besar itu pun menabrak dinding dengan keras bersamaan tentakel tajam serta tentakel yang keluar dari salah satu Zombie terkena benturan Zombie besar tersebut.

"GHHHHRAAHHHH!"

"GWWWAAAAHHHH!"

Tentakel itu pun tertarik kembali ke tubuh mereka, akibat benturan yang di buat oleh Zombie besar itu pun membuat retakan hingga besar hingga ke atap ruang guru.

Naruto pun kembali berdiri lalu berlari ke salah satu meja dan menaikinya lalu menghindari semburan cairan hijau dari dua guru perempuan ke atas lemari buku lalu menendang ujung lemari hingga membuatnya miring lalu masuk ke bagian belakang lemari dan menendang bagian tengah Lemari dengan keras membuat Lemari tersebut terdorong ke arah dua guru wanita serta Zombie yang memegang mulutnya tertimpa tak buku dan memuncratkan cairan hijau.

Naruto pun keluar dari tempatnya dan mengayunkan pedang di tangan kirinya ke samping hingga mengenai kepala Zombie yang memiliki dua tentakel tajam yang telah hancur gara-gara temannya sendiri.

"Jadi kau yang lolos itu huh?" gumam Naruto lalu mengambil pedangnya lagi satu dan membelah Zombie yang tertancap pedang yang dia lempar tadi membuat Zombie yang ingin pulih itu mati.

Mata biru Naruto bergerak cepat ke arah Zombie yang dia belah dan di leher dia sudah terdapat serangga yang juga terbelah, lalu ke arah Zombie yang berbadan besar siap menyeruduknya kembali, dan berpindah lagi ke arah Zombie yang berusaha menggapainya dengan tangannya serta mulutnya berusaha memuntahkan cairan hijau ke arah Naruto.

"Selamat tinggal," ucap Naruto membelah Zombie di sampingnya dan saat itu juga Zombie berbadan besar itu berlari ke arahnya dengan gaya menyeruduk.

Naruto yang melihat itu pun melompat ke depan membuatnya berhasil menghindar membuat Zombie tersebut menabrak dinding kembali dan saat itu juga Naruto melompati satu meja kembali dan melompat ke arah Zombie besar dari arah belakang sambil menyiapkan katananya.

.

Bllaar!

Shikamaru, Arthuria, Sasuke dan Issei yang masih di tangga untuk menunggu Naruto tersentak ketika mendengar suara runtuhan bangunan, Shikamaru pun langsung maju ke jendela di depannya untuk melihat apa yang terjadi dengan Issei dan Arthuria melindunginya, sementara Sasuke menahan Zombie-Zombie yang ada di tangga dengan bantuan meja-meja yang di susun seperti blok agar mereka tidak bisa naik.

Mata hitam Shikamaru melebar ketika gumpalan asap itu berasal di ruang guru, Shikamaru yang melihat itu mengepalkan tangannya, "Dia... Apa dia pergi ke sana?!" batin Shikamaru tidak percaya.

"Shikamaru! Ada apa?" tanya Sasuke lalu mematahkan lima leher Zombie yang datang ke arahnya. "Naruto itu... Dia pergi ke ruang Guru," jawab Shikamaru membuat Arthuria, Sasuke dan Issei terkejut.

"Huh?! Apa yang di pikirkan olehnya?!" teriak Sasuke kesal, saking kesalnya Sasuke mengambil satu meja dan melemparnya ke arah Zombie-Zombie di tangga membuat beberapa Zombie tertindih dan memuncratkan darah.

Shikamaru yang juga kesal dengan tindakan gegabah Naruto harus tersentak ketika Naruto keluar dalam keadaan baik-baik saja namun keadaannya sedikit berantakkan serta berlumuran darah.

"Itu Naruto! Dia baik-baik saja!" ujar Shikamaru sambil tersenyum senang, Arthuria yang mendengar itu menghembuskan nafasnya begitu juga Issei dan Sasuke.

"Dia akan naik ke atap dari tangga yang lagi satu, ayo kita jemput dia!" ucap Shikamaru dan di balas anggukan oleh mereka, Sasuke pun berlari ke pintu atap dan memberitahu teman-temannya. "Kalian! Blok pintu ini, kami akan ke pintu sebelah untuk menjemput Naruto!" ujar Sasuke dan di balas anggukan oleh mereka.

"Sasuke-kun!" panggil Kuroka sambil menahan Sasuke dan menatapnya dengan tatapan memohon. "Tolong pastikan dia baik-baik saja," pinta Kuroka dan di balas anggukan oleh Sasuke.

"Begitu juga, Issei... Sasuke-kun!" Sasuke kembali memgangguk lalu turun dan pergi ke tangga sebelah bersama Arthuria, Shikamaru dan Issei.

Sementara Naruto yang melihat cairan hijau yang masih ada karena Zombie yang meledak tadi pun melompati cairan hijau yang untungnya tak terlalu lebar, saat melompat ia juga bisa melihat bangkai Zombie berbadan besar itu di mangsa Zombie lain, setelah melewatinya ia kembali berlari menuju tangga menuju lantai tiga gedung sebelah.

Namun langkahnya terhenti ketika melihat orang tak asing berdiri di depannya dengan tubuh pucat serta tangan terarah kepadanya dengan mulut terbuka.

Mulutnya mengeluarkan geraman keras yang membuat Naruto terdiam. Dia memasukkan satu pedangnya ke dalam sarung di punggungnya lalu menyiapkan satu pedangnya.

"Souka... Jadi kau sudah menjadi bagian dari mereka, Kiba-san," gumam Naruto dan di balas gerakan orang bernama Kiba yang telah menjadi Zombie, "aku tahu ini adalah keputusan sepihak, tapi kau pasti menderita... Dengan keadaanmu itu bukan?"

"Karena itu... Aku akan melepaskan penderitaanmu Kiba-san, dan aku akan menjaga Hinata-chan untukmu," ucap Naruto dengan tangan bergetar, ia pun mengambil nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan, "Selamat tinggal Kiba."

Jrash!

.

Shikamaru, dan Sasuke yang baru turun ke lantai dua sambil membunuh Zombie-Zombie yang ada di tangga tersenyum ketika mereka tepat waktu karena Naruto baru saja akan naik tangga.

Naruto yang menundukkan kepalanya mengangkat kepalanya dan ia bisa melihat Shikamaru dan Sasuke yang tersenyum padanya, "Kami datang menjemputmu, Baka."

Setelah sampai atap, Naruto pun langsung mendapat pelukan erat dari Akeno dan Kuroka, bahkan mereka menangis di dada Naruto karena khawatir dengan keadaannya.

Namun Naruto hanya diam sambil mengelus kepala mereka lalu memberikan kumpulan kunci kepada Shikamaru.

"Kunci pintunya, Shikamaru." Shikamaru pun menerima kumpulan kunci tersebut lalu melihat keadaan Naruto kembali, "Jadi ini alasanmu pergi ke ruang guru?" tanya Shikamaru dan hanya di balas anggukan pelan oleh Naruto.

"Jadi bagaimana? Apa kau bertemu monster itu?" tanya Arthuria dan di jawab dengan Naruto yang menarik katana di punggungnya yang berlumuran darah. "Mereka sudah mati," jawab Naruto masih menundukkan kepalanya.

Ia pun melepaskan pelukan Akeno dan Kuroka dengan lembut lalu menarik sebuah katana di punggungnya dan memberikannya kepada Hinata.

"Hinata-chan, tolong pegang ini," pinta Naruto dan di turuti olehnya, Naruto pun mundur satu langkah lalu berlutut kepada Hinata membuat semuanya terkejut sekaligus kebingungan.

"Maafkan aku Hinata-chan... Aku... Sudah membunuh kekasihmu."

Embusan angin pun menerpa mereka membuat rambut mereka melambai mengikuti gerakan angin, mereka memasang wajah terkejut ketika mendengar perkataan Naruto.

Pacar Hinata... Telah di bunuh oleh Naruto?

.

.

.

.

.

.

.

.

TBC

Note : Yosh! Bagaimana menurut kalian?

Benar-benar berubah drastis dari yang sebelumnya kan? Ya walau kematian Kiba tak bisa di hindarkan, namun kali ini Neji, Lee dan Tenten tidak ada di sini. Selain itu Shizuka Marikawa :v, saya sengaja menambahkannya karena Rossweisse akan memiliki peran lain nanti.

Lalu senjata tembak? Hoho, mereka akan dapat beberapa di chapter depan. Lalu Cairan Hijau yang membuat musibah ini terjadi, sebenarnya bagaimana cara kerjanya? Kenapa tidak tercampur darah? Akan terjawab chapter depan.

Lalu Arthuria, saya memang sengaja menambahkannya, dia juga punya peran lain di sini, dan wujud Arthuria di sini ambil saja bentuknya saat jadi yang Lancer.

Lalu pertarungan Naruto melawan Zombie-Zombie yang ada di ruang guru, dia sudah pernah bertarung di jalanan dan banyak penjahat bersenjata tembak, jadi melawan Zombie-Zombie seperti mereka mudah bagi Naruto.

Lalu berikutnya kira-kira bagaimana ya selanjutnya :v, tunggu saja deh. Karena aku remake nih Chapter jadinya bersabar lagi untuk Chapter 3 nya. Aku lanjutin yang lain dulu.

Ok itu aja, sampai jumpa lain waktu, Jaa!

4kagiSetsu Out