"E-Eh... A-Apa yang kau katakan Naruto?" tanya Shikamaru sambil mengorek kupingnya untuk memastikan jika dia tak salah dengar, "aku pasti salah dengar."
"Kau tidak salah dengar Shikamaru," jawab Naruto membuat suasana kembali hening. "I-Itu tidak mungkin... Kiba-kun pasti sampai ke tempat aman... Dia pasti ada di tempat aman sekarang," balas Hinata mengeluarkan ponselnya dan mencoba menghubungi Kiba.
"Hentikan..."
Hinata yang tidak mendapat respons dari Kiba sekali pun menggigit bawah bibirnya berharap kekasihnya mengangkat panggilannya, "Ayo... Kiba-kun... tolong angkat."
"Hentikan..."
"Aku mohon angkat!"
"AKU SUDAH BILANG UNTUK HENTIKAN BUKAN!" bentak Naruto sambil memegang dua bahu Hinata, Hinata yang mendengar teriakan Naruto terdiam matanya juga bisa melihat Mata biru Naruto yang memperlihatkan rasa sedih dan bersalah kepadanya.
"Aku sudah bilang pada kalian bahwa aku membunuh Kiba! Dia telah menjadi bagian dari mereka! Aku tidak punya pilihan lain selain membunuhnya!" ujar Naruto sambil melepaskan kedua bahu Hinata. "Ti-Tidak mungkin... Kau... Kau pasti bohong kan Naruto-kun! Kau pasti bohong!" ujar Hinata sambil mendorong Naruto dan mencoba pergi turun, namun langkahnya di tahan oleh Naruto.
"Lepaskan aku! Aku harus melihatnya secara langsung!" ujar Hinata meronta dari genggaman Naruto. "Jika aku berbohong aku tidak mungkin mengatakan ini!" balas Naruto menarik Hinata kembali lalu berlutut di depan Hinata.
"Aku tahu kau tidak terima! Kau pasti marah padaku! Karena itu... Hunuskan pedang itu dan bunuhlah aku sebagai rasa kesalmu padaku karena membunuh kekasihmu!"
Semua yang mendengar itu terdiam, Hinata yang pikirannya sudah bercampur aduk karena mendengar kematian sang kekasih, dan yang membunuhnya adalah Naruto membuatnya tak bisa berpikir jernih, ia mulai mengangkat Katana tersebut seperti siap membunuh Naruto.
"HINATA! HENTIKAN!"
PLAK!
Kuroka dengan cepat menahan tangan Hinata lalu menampar pipi Hinata dengan keras membuat Hinata melebarkan matanya begitu juga yang lain kecuali Naruto yang menundukkan kepalanya.
"Ada apa dengan pikiranmu Hinata!" bentak Kuroka sambil memegang kerah Hinata, "apa kau sudah tidak waras?!"
"O-Oi! Kuroka-chan! Kau...," Issei yang ingin menghentikan Kuroka terhenti karena Rias menahan tangannya sambil menggelengkan kepalanya pelan.
"kau tidak dengar apa yang di katakan Naru-kun?! Kiba-kun sudah terinfeksi Virus itu dan menjadi salah satu dari mereka?! Kau pikir bagaimana perasaan Kiba-kun saat menjadi bagian dari mereka?! Senang?! Puas?! Gembira?! Kesal?! Yang ada dia merasa menderita Hinata?!" ujar Kuroka menatap tajam mata Hinata, "Kiba-kun sangat menderita?! Dia harus merasakan rasa sakit yang luar biasa dan dia harus merasakan rasa sakit karena harus membunuh kekasihnya nanti?!"
"Karena itulah Naruto melepaskan penderitaannya! Dia tidak ingin pacarmu itu membunuhmu?! Dia tidak ingin kau melihat keadaannya saat menjadi Zombie?! Karena itulah Naru-kun menanggung semuanya?! Dia semua penderitaan Kiba-kun dan siap mengorbankan nyawanya untukmu?! Dia bahkan rela mati menanggung amarahmu?! Tapi apa kah kau tidak ada rasa terima kasih sedikit pun?!"
"Dia telah menyelamatkanmu! Memberikan harapan hidup yang juga pasti di inginkan oleh Kiba-kun untukmu agar tetap hidup?! Dan kau ingin membunuh orang yang mengabulkan keinginan pacarmu itu?! Aku mohon sadarlah Hinata-chan?!" teriak Kuroka membuat suasana semakin hening.
Hinata pun menjatuhkan pedang yang ia pegang dan jatuh terduduk, Kuroka langsung ikut dan memeluk Hinata dengan erat, sementara Hinata ia menangis di pelukan Kuroka karena apa yang di katakan olehnya semua benar.
Ia terlalu egois karena mementingkan keinginannya, dia ingin bersama kekasihnya sampai akhir, namun takdir berkata lain, ia bahkan ingin membunuh orang yang menyelamatkannya, orang yang menanggung penderitaan pacarnya, dan orang yang rela mengorbankan nyawanya hanya demi keinginan egoisnya.
Dia benar-benar merasa bersalah sekarang, untungnya temannya ini menyadarkan dirinya bahwa keinginan Kiba di saat ini pasti ingin dirinya tetap hidup, dia juga pasti tak ingin melihatnya mati di waktu seperti ini.
"HAAAAAAA!" teriak Hinata meluapkan kesedihannya
.
Disclaimer :
Naruto Masashi Kisimoto
High School DxD Ichiei Ishibumi
Summary : Dunia Modern, dimana Dunia sudah maju dengan teknologi canggih yang membantu peradaban manusia, namun karena saking canggihnya, para ilmuwan nekat membuat sesuatu yang berbahaya, namun saat melakukan tes terjadi kesalahan besar. Sesuatu yang berbahaya itu menyebar dengan cepat membuat panik orang-orang dan mereka harus melarikan diri untuk bertahan hidup, akankah peradaban manusia musnah sepenuhnya?
This Is The End the World?
Pair :
... x ...
Genre : Alternative Universe, Adventure, Fantasy, Horror, Tragedy, Mystery, Humor, Sci-Fi, Ecchi, Future.
Rate : M
Warning : Typo, OC, OOC, AU, Multichap, Alur berantakan dan Lain-lain, Smart!Naru.
" Naruto " berbicara
" Naruto " batin
["Naruto."] bicara melalui walkie talkie
["Naruto."] balasan dari Walkie talkie.
.
Chapter 3 : Run
.
Setelah semua kejadian itu dan saling memperkenalkan diri satu sama lain agar saling mengenal lebih dalam, mereka saat ini tengah melihat ke arah kota dengan tatapan tidak percaya, terdapat kebakaran di beberapa tempat yang membuat asap hitam melambung ke langit, mereka juga bisa mendengar suara kepanikan orang-orang di Kota.
"Ini... benar-benar mengerikan," gumam Shikamaru tidak percaya, Sasuke yang baru melihat keadaan kota mengepalkan tangannya lalu memukul pagar besi yang ada di atap dengan keras.
Naruto mencoba mengeluarkan ponsel miliknya begitu juga yang lain, mereka mencoba menghubungi keluarga mereka namun panggilan mereka sama sekali belum mendapat respons.
Naruto yang tidak mendapat Respons menggeram pelan, "Ayo... Angkat! Angkat!" batin Naruto.
["Na-Naruto-kun! Kau tidak apa-apa anakku?!"]
"Kaa-chan! Syukurlah tersambung! Kalian saat ini ada di mana?!" tanya Naruto membuat semua menoleh ke arahnya. ["Anakku! Cepatlah pergi ke tempat aman! Di sini sudah tidak aman lagi... Se... it..."]
"Ha-Halo! Tou-chan?! Tou-chan?!" panggil Naruto dengan wajah panik. ["Kami tidak apa! Kami akan baik-baik saja! Sebaiknya sekarang kau mencari tempat aman dulu Anakku! Kami menyayangimu!"] ucap Minato dan setelah itu panggilan mereka terputus.
Naruto yang mendengar itu terdiam sambil mengepalkan tangannya dengan kuat, "Naru-kun, bagaimana keadaan, Kushina-baa-san dan Minato-jii-san?" tanya Kuroka membuat Naruto menghembuskan nafasnya kasar.
"Mereka baik-baik saja... Itu kata mereka... Tapi... Apakah mereka benar-benar baik-baik saja dalam situasi seperti ini," jawab Naruto membuat semuanya terdiam, "bagaimana dengan kalian?"
"Kami belum mendapat panggilan sedikit pun," jawab Rias membuat Naruto menggumam pelan. "Maaf kata-kataku tadi mungkin akan membuat kalian semakin khawatir tadi," ujar Naruto meminta maaf.
"Jangan terlalu di pikirkan Naruto, kita berharap saja mereka baik-baik saja," balas Shikamaru sambil menepuk pundak temannya.
"H-Hmm... Kalian semua... Mari berkumpul, ada sesuatu yang perlu kita bicarakan pada kalian bukan?" ajak Naruto sambil membalikkan badannya dan pergi ke sisi dinding dekat pintu menuju lantai 3 untuk mencari tempat teduh.
"Hah... Baiklah karena aku mendapat informasi lebih banyak jadi aku akan lebih dahulu yang menjelaskannya kepada kalian," gumam Naruto menghembuskan nafasnya.
"Baiklah bagi yang belum tahu awal mula bencana ini aku akan ceritakan kronologinya," lanjut Naruto, "Pagi hari sekitar menjelang jam pertama, dua Zombie berpakaian jubah putih berusaha masuk ke tempat ini, petugas yang melihat itu mencoba mengeceknya namun petugas itu tergigit salah satu dari mereka dan satunya lagi masuk ke sekolah."
"Zombie yang masuk ke dalam sekolah ini menggigit salah satu guru, dan ada kemungkinan guru yang tergigit di dalam sekolah ini bersama guru lain dan mengejar guru tersebut."
"Guru yang tergigit ini pun menuju kelasku dan mencoba meminta tolong tapi dia sudah jadi Zombie lebih dulu dan aku pun membunuh Zombie itu, tapi siapa sangka yang aku bunuh mengeluarkan cairan hijau dan ada yang menyentuhnya, pada akhirnya..."
"Virusnya pun menyebar," gumam Arthuria paham.
"Lalu Zombie ini memiliki serangga yang keluar dari mulut mereka, Serangga ini adalah bagian utama yang membuat mereka memiliki bentuk aneh," jelas Naruto kembali, "alasan kenapa kita juga harus membunuh mereka di leher adalah karena Serangga ini... Bagaimana mengatakannya ya," gumam Naruto sambil mengelus dagunya.
"Bisa di bilang seluruh saraf kita di ambil alih serangga ini dan menyebarkan virus ini ke tubuh kita," jawab Naruto membuat mereka menaikkan sebelah alis mereka kebingungan.
"Arrghh... Maksudku adalah... huft... Alasan kenapa darah para Zombie tidak bercampur dengan cairan hijau itu adalah karena cairan hijau itu adalah larva dari serangga ini, mereka tinggal di daging, kulit, organ dan saraf kita," jelas Naruto membuat mereka terkejut.
"Karena itulah jika kita melukai mereka, luka mereka akan pulih karena Larva-larva ini memperbaiki bagian yang rusak dengan cepat, mereka bisa membagi diri dengan cepat bahkan dalam jumlah banyak, dan juga bagaimana mereka memiliki bentuk yang berbeda karena larva ini juga dapat membentuk sel-sel baru mengikuti perintah induknya untuk bertahan diri dan menyerang."
"Naruhodo! Alasan kenapa kita memutuskan leher mereka adalah memutuskan jaringan saraf yang di ambil alih serangga itu yang di gunakan menyebarkan larva ini, karena kehilangan kendali dari induknya, mereka pun tidak tahu tujuan mereka dan keluar dari saraf lalu akhirnya menyatu dengan darah kita," gumam Shikamaru sambil mengelus dagunya.
"Karena jaringan saraf ini di putus, sang induk pun meronta dan keluar dari tempatnya, sebelum dia mencari tempat baru, serangga ini harus di bunuh," ucap Naruto, Sasuke yang mendengar ada yang janggal pun bertanya.
"Lalu bagaimana cara serangga ini lahir Naruto? Jika begitu mereka semua akan menjadi Zombie yang mengerikan itu?" tanya Sasuke. "Serangga ini memuntahkan telur serta cairan hijau larva lain dari mulutnya ke mulut kita, maka dari itulah serangga ini ada," jawab Naruto membuat para cewek menutup mulut mereka.
"Kuso! Kau membuatku mual Naruto!" bentak Issei. "Hey, kau pikir aku tidak jijik saat mengatakannya?" balas Naruto dengan perasaan kesal.
"Kenapa Zombie yang kita lawan di lorong terlihat biasa... Itu karena mereka tidak memiliki telur dari serangga itu, larva-larva ini mengambil sel kehidupan kita dan mengubahnya menjadi bagian dari mereka, karena itulah kulit mereka pucat," lanjut Naruto, "larva-larva ini juga mengeluarkan cairan lain yang langsung bergerak ke otak dan mengambil alih otak kita dengan menjadikannya insting untuk bertahan hidup."
"Mereka memakan kita dan larva yang ada di seluruh tubuh mereka bahkan gigi sekalipun saat menggigit kita, larva-larva ini pun langsung masuk ke tubuh kita lalu ke saraf kita dan langsung membagi diri dengan cepat, saat Zombie yang memakan mereka sudah cukup mendapat persediaan untuk bertahan hidup mereka pun meninggalkan orang yang mereka makan dan mencari daging yang lain karena daging yang telah mereka makan tidak cocok untuk energi mereka, sementara Zombie yang sudah di makan ini akan pulih kembali karena Larva-larva ini lalu ikut mencari sumber energi mereka."
"Daging adalah menu utama mereka, karena tubuh kita sudah di ambil alih sepenuhnya oleh virus ini, maka sistem kerja organ tubuh kita juga akan sama, daging itu akan menjadi sumber mereka bertahan hidup," gumam Shikamaru membuat semua menoleh ke arahnya, "lalu saat mereka memakan daging kita, larva yang ada di gigi zombie yang menggigit kita menemukan tempat baru secara tak sengaja dan membagi dirinya kembali dan begitu seterusnya, ya...," lanjut Shikamaru sambil mengangguk pelan.
"Hm, jadi begitu... Memutuskan saraf yang ada di leher membuat sistem jaringan saraf ke otak terputus begitu juga yang ke seluruh tubuh, karena otak kita mati dan mereka tidak tahu harus berbuat apa pun akhirnya keluar dan menyatu bersama darah kita lalu akhirnya Zombie ini mati," gumam Sona juga sudah paham mengenai penjelasan Naruto.
"Kemungkinan besar, yang gendut itu mendapat Larva yang berlebihan membuat dagingnya sendiri di makan oleh larva tersebut dan membuat kulitnya sangat tipis, maka dari itu saat dia membentur dinding kulitnya tidak kuat menahan benturan yang membuat tubuhnya hancur," batin Naruto, "saking kuatnya ledakan tadi itu pasti membuat serangga itu juga mati."
"Dan alasan tubuh Zombie gendut itu belum pulih-pulih walau di makan temannya adalah Energi kehidupan untuk larva itu sudah tidak lagi dan akhirnya larva-larva itu mati serta membuat kulit Zombie menjadi semakin pucat karena sel-sel larva itu mati."
"Kenapa tidak kita hancurkan saja otak mereka?" tanya Tsubaki. "Itu bisa saja, tapi senjata kita ini seperti ini, bagaimana caranya kita menghancurkan otak mereka? Akan memakan waktu lama hanya demi menghancurkan satu kepala beserta otaknya, belum lagi jika kita memukul kepalanya, kepalanya itu akan pulih kembali," jawab Naruto.
"Yang kita butuhkan adalah senjata tembak, sekali tembak itu bisa menembus otaknya, tapi kita tidak memiliki senjata tembak satu pun."
"Ah... Jadi begitu," gumam Chouji.
"Kau ternyata pintar juga Naruto," puji Shikamaru membuat alis Naruto berkedut. "Jadi selama ini aku bodoh?" tanya Naruto membuat Shikamaru mengangkat bahunya.
"Lalu... Bagaimana dengan mereka yang terkena cairan Hijau itu? Padahal mereka di tangan? Dan tidak mendapatkan luka sedikitpun?" tanya Irina kembali membuat Xenovia mengelus kepala temannya lalu memukulnya dengan sedikit keras membuatnya mengaduh kesakitan.
"Sakit, Xenovia-chan!"
"Bukankah sudah di katakan tadi? Cairan hijau itu larva, tentu saja saat terkena tangan kita mereka menerobos masuk dengan memakan daging kita lalu menggantinya dengan yang baru dan saat mereka masuk mereka pun langsung menuju saraf kita dan membagi diri mereka," jelas Xenovia.
"Ah! Naruhodo... Naruhodo," gumam Irina baru paham.
"Hah... Jadi begitu, jika saja kalian tidak menyelamatkan kami, kami pasti sudah menjadi seperti mereka," gumam Arthuria menghembuskan nafasnya pelan.
Rossweisse yang mendengar itu gemetar dan menggelengkan kepalanya dengan cepat, "J-Jangan mengatakan sesuatu yang seperti itu, Arthuria-san," ucap Rossweisse lalu menundukkan kepalanya, "maaf karena tidak mempercayai kalian tadi, aku pikir kalian hanya bercanda tapi ini benar-benar kenyataan, jika saja kami tidak ikut dan memaksa kalian untuk lebih lama lagi... Mungkin kita sudah...," gantung Rossweisse.
Shikamaru, Ino, dan Issei yang mendengar itu terdiam sesaat lalu menghembuskan nafas mereka, "Tidak apa, Rossweisse-sensei... Itu wajar karena kami tidak memiliki bukti tadi," ujar Shikamaru.
"Tapi itu sudah terjadi, untungnya kita bisa sampai di sini bersama," timpal Ino sambil menyandarkan dirinya bersama Sakura. "Ne, Naruto bagaimana kau yakin jika kita akan mendapat bantuan di atas atap sekolah ini?" tanya Sakura membuat Naruto menaikkan sebelah alisnya.
"Melewati jalan raya adalah hal mustahil untuk tim penyelamat, maka yang tersisa adalah lewat udara, Jietai pasti akan datang melintasi sekolah ini," jawab Shikamaru memberikan jawaban logis.
"Jika melewati darat kendaraan Tim penyelamat itu harus besar dan tebal, jadi tinggal terobos saja dan lindas mereka hingga menjadi keripik."
"Atau perlu gunakan Tank untuk meledakkan mereka."
"Molotov saja untuk membakar mereka."
"Kita tidak bisa pergi nanti baka!"
"Ah, benar juga."
"Cih... Kalian berduanya terlihat asyik sekali," ucap Sasuke membuat Naruto menyipitkan matanya. "Apaan sih? setidaknya berterima kasihlah, Teme! Karena aku telah membagi informasi untuk keselamatanmu," balas Naruto membuat Sasuke mendengus pelan.
Mata biru Naruto beralih ke arah Hinata yang masih di tenangkan oleh Kuroka, melihat kesedihan Hinata membuat Naruto menundukkan kepalanya kembali.
"Kau masih memikirkan yang tadi, Naruto-kun?" tanya Akeno yang ada di samping Naruto membuatnya sedikit tersentak. "A-Ah... Itu...," gumam Naruto bingung harus mengatakan apa.
"Kau tidak perlu khawatir, dia sudah memaafkanmu bukan," ucap Akeno sambil menyandarkan kepalanya di pundak Naruto, "arigato telah menyelamatkan kami, Naruto-kun."
Naruto yang mendengar itu mengelus kepala Akeno sambil tersenyum tipis. Kuroka yang melihat itu mengembungkan pipinya, "Kuroka-chan...," panggil Hinata membuatnya menoleh ke arahnya.
"Um? Ada apa?"
"Arigato untuk tadi itu," ucap Hinata berterima kasih sambil tersenyum tulus. "Sama-sama, Hinata-chan," balas Kuroka ikut tersenyum.
"Naruto-kun," panggil Hinata sambil mendekati Naruto lalu memegang tangan Naruto dengan erat, semua yang melihat itu hanya diam dan menunggu kelanjutan apa yang Hinata akan lakukan.
"Aku ucapkan terima kasih atas apa yang kau lakukan padaku... Begitu juga Kiba-kun, Arigato."
Naruto yang mendengar Hinata memaafkannya menghembuskan nafas pelan lalu mengelus rambut Hinata dengan lembut, "Arigato telah memaafkanku, Hinata-chan... Aku akan menepati janjiku pada Kiba," ucap Naruto sambil memejamkan matanya.
"Ne, Naruto," panggil Issei membuatnya tersentak lalu menoleh ke arahnya, "apa kita harus memberi nama Zombie-Zombie ini?"
"Huh? Kenapa?"
"Kau tahu, jika kita berpisah dan ada yang berusaha menyerang kalian, kita bisa memberitahukan jenis Zombie yang menyerang kita," jawab Issei membuat Naruto terdiam saat lalu paham maksud Issei.
"Zombie biasa tetaplah Zombie, berbadan gemuk dan bisa meledakkan cairan hijau aku beri nama Boomber, yang memiliki sesuatu di punggung dan mulutnya aku beri nama Tenta Z, setiap banyak tentakel mereka maka itu lah versi mereka," ucap Naruto memberikan nama kepada Zombie-Zombie yang ia temui, "Zombie yang memuntahkan cairan bernama Spitter, sementara yang badan besar dan memiliki cara menyerang dengan menyeruduk aku beri nama Charger, sementara yang memiliki senjata di tangan mereka aku beri nama Wennoz."
Semua yang mendengar Naruto memberi nama Zombie terdiam lalu sweatdrop dengan ekspresi, 'Kau serius?'
"Kau serius memberi nama-nama aneh itu?" tanya Issei membuat alis Naruto berkedut kesal. "Kau yang memintaku untuk memberikan mereka nama dan kau ingin protes sekarang?! Kenapa tidak kau saja sialan?!" balas Naruto dengan wajah kesalnya.
"Ternyata kau bodoh sekali memberi nama Naruto!" ujar Shikamaru membuat Naruto mendelik ke arahnya. "Oi! Apa maksudmu Pemalas!" balas Naruto.
"Hn, memang bodoh," timpal Sasuke. "Jangan ikut-ikutan Teme!"
"Ya aku tidak ahli memberikan nama sih, tapi bisakah kau mencari nama yang lebih keren lagi, Baka?" tanya Issei tanpa dosa membuat Naruto menarik katananya lalu menatap Issei, Sasuke dan Shikamaru dengan aura intimidasi, "u-uh.. Naruto... I-Itu katana asli loh."
"Hoho, memberi potongan tubuh kalian lebih keren lagi... kalian mau?" Issei, Shikamaru dan Sasuke yang mendengar itu meneguk ludah mereka, Issei pun membungkuk kepada Naruto. "Maaf... Aku Cuma bercanda," ucap Issei meminta maaf.
"H-Hahaha... Santai sedikit Naruto, kami bercanda," ucap Shikamaru sambil melambaikan tangannya dan tertawa kaku. "Santailah sedikit, Naruto," ucap Sasuke sambil mengalihkan pandangannya.
"Mou, jangan begitu Namikaze-kun... Jika kamu begitu nanti Sensei akan memberikan sebuah ciuman untuk membuatmu tenang," ucap Shizuka sambil tersenyum manis. Semua yang mendengar itu terdiam, sementara Naruto wajahnya sudah sangat memerah sekali.
"HAHH?!" teriak semuanya kecuali Hinata yang masih di peluk Kuroka. "Marikawa-san! Apa yang kau katakan! Itu tidak boleh!" bentak Rossweisse sambil mengguncang bahu Shizuka pelan.
"Ternyata kau sangat mengerikan, Namikaze-kun," ucap Tsubaki memandang tajam Naruto. "Apa kau melakukan sesuatu kepada Shizuka-sensei, Naruto-san?" tanya Sona juga memandang tajam Naruto.
"Aku ingin tahu lebih apa hubungan kalian?" tanya Akeno menyiapkan pedang kayunya. "Ne, Akeno-chan, bolehkah aku menitipkan 100 pukulan pada Naru-kun?" tanya Kuroka tanpa dosa.
"KALIAN JANGAN SALAH PAHAM?! AKU TIDAK ADA HUBUNGAN SEDIKITPUN DENGAN SHIZUKA-SENSEI!"
"Sialan kau Naruto! Kau padahal sudah mendapatkan yang besar dan kau ingin yang lebih besar lagi, tidak akan aku maafkan kau Naruto?!" teriak Issei dengan mata berapi.
"Itu benar Dobe! Kau sudah mendapatkan yang enak tapi aku mendapatkan yang alot?! Aku tidak akan memaafkanmu?!" teriak Sasuke keluar dari sifat coolnya.
"Hm... jika saja tidak dalam keadaan begini aku sudah akan meledakkanmu, Naruto," ucap Shikamaru sambil menyentuh dagunya.
"BISAKAH KALIAN TIDAK MEMPERBURUK KEADAAN?! LAGI PULA KENAPA KALIAN MARAH DAN BERNIAT MEMBUNUHKU?!" balas Naruto berteriak kesal karena tiga temannya semakin memperburuk keadaan dan berniat membunuhnya, "APA KALIAN IRI KARENA SHIZUKA-SENSEI BERKATA BEGITU KEPADAKU?!"
"Tentu saARRGHH!" teriak Sasuke, Issei dan Shikamaru bersamaan ketika Sakura memelintir tangan Sasuke, Rias yang menjewer telinga Issei serta Ino yang mencubit pinggang Shikamaru dengan kuat.
"Heh, aku ingin tahu apa maksud dari 'alot' itu Sasuke-kun?" tanya Sakura dengan aura hitam di atasnya. "Aku juga ingin dengar Issei-kun... Apakah kau tidak terima dengan punyaku?" tanya Rias dengan aura hitam di atasnya.
"Heh... Jadi kau mesum juga ya, Shikamaru? Aku pikir kau itu adalah orang jenius, tapi kau mesum juga," ucap Ino dengan aura hitam di atasnya.
Sasuke, Issei dan Shikamaru yang melihat itu meneguk ludah mereka, "Me-Menyeramkan!"
Naruto yang melihat itu mendengus pelan lalu memasukkan kembali Katananya ke sarung, "Kalian harusnya lihat wajah ketakutan kalian itu, sungguh lucu sekali," ucap Naruto sambil tersenyum mengejek membuat mereka menatap kesal Naruto.
Semua yang melihat itu sedikit tertawa karena mereka mencoba menghilangkan suasana yang tegang. Semua seketika tersentak ketika mendengar suara helikopter dan tak lama itu tiga helikopter melintas di atas mereka menuju kota.
"I-Itu... JDF, Japan Defens Force!" gumam Shikamaru. Mereka pun langsung berdiri dan berlari ke dekat pagar pembatas, mereka bisa melihat banyak helikopter bergerak ke kota.
"Apa situasinya sangat buruk hingga mereka mengirim banyak pasukan?" gumam Xenovia tidak percaya. Naruto yang mendengar suara Helikopter di belakang siap melintasi mereka berlari ke bangunan yang terdapat pintu untuk turun lantai tiga lalu melompat setinggi mungkin menaiki bangunan itu dan melambaikan tangannya.
"Oi! Tolong kami!" teriak Naruto dengan keras. Tak lama setelah itu satu helikopter pun menurunkan kecepatannya lalu berputar lalu bersiap terbang ke sisi bangunan untuk menjemput mereka.
Shikamaru dan yang lainnya pun mundur sementara sampai Helikopter itu menemukan jarak yang tepat untuk mengangkut mereka. Namun tidak di sangka sebuah batu besar menghantam ekor helikopter membuatnya tidak terkendali, mereka yang melihat itu terkejut
"Apa itu tadi? Apa yang menghantam ekor Helikopternya?" tanya Arthuria entah kepada siapa.
"kita tidak tahu, tapi ada seseorang yang melempar benda besar untuk menghancurkan Helikopter itu," jawab Sona.
"MAYDAY! MAYDAY! KAMI AKAN JATUH! KAMI AKAN JATUH!"
"SEMUA MENYINGKIR!" teriak Shikamaru menggiring semuanya menyingkir, Hinata yang ingin berlari tersandung sesuatu yang membuatnya terjatuh. "Hinata!" panik Kuroka karena Hinata terjatuh namun dia terus di tarik oleh Sakura.
Naruto yang melihat itu langsung saja turun dari atas bangunan lalu berlari ke arah Hinata dan menggendongnya, saat itu juga Helikopter itu pun meledak di udara, Naruto langsung saja memeluk Hinata dan membalikkan badannya agar tidak terkena ledakan.
Sebelum helikopter itu meledak, dua tentara melompat dari helikopter berusaha mencapai atap sekolah di mana Naruto dan yang lain berada, namun sayang sekali ledakan Helikopter itu membuat mereka terpental dan menabrak dinding dengan keras.
"Ghhh!" lenguh Naruto ketika punggung terkena dari ledakan Helikopter di belakangnya. "Naruto-kun!" panik Hinata ketika mendengar lenguh kesakitan Naruto.
Helikopter yang meledak itu pun terjatuh ke tanah dan meledak kembali di bawah membuat beberapa Zombie di bawah terpental.
"Naru-kun!/Naruto-kun!" Kuroka, dan Akeno langsung berlari ke arah Naruto bersama yang lain serta dua tentara yang terpental karena ledakan Helikopter tadi.
Naruto yang merasakan bajunya terbakar melepaskan Hinata lalu melepaskan bajunya secepat mungkin lalu membuangnya.
"Naruto-kun! Kau tidak apa?!" panik Hinata sambil mengecek punggung Naruto apakah ada luka atau tidak. "Hah... Ya... Aku tidak apa-apa," jawab Naruto sambil tersenyum meyakinkan.
Akeno dan Kuroka yang juga baru sampai ikut melihat keadaan Naruto, mereka beruntung karena Naruto baik-baik saja. Naruto pun mendudukkan dirinya sambil menghela nafasnya, para perempuan yang melihat tubuh berotot Naruto, serta sebuah kalung dengan kunci mobil menggantung di dadanya, merona lalu mengalihkan pandangan mereka jika mereka melihat terlalu lama mereka akan di cap sebagai cewek mesum.
"Be-Berotot sekali," batin Akeno dan Kuroka sambil menyentuh pipi mereka yang memerah.
"U-Ugh... Tubuhnya...," batin Tsubaki dan Sona menggelengkan kepala mereka.
Sasuke, Issei, dan Arthuria berlari ke pinggir pagar untuk melihat bangkai helikopter itu dan mencoba mencari siapa yang menyerang helikopter itu, dan mereka melihat Zombie berukuran besar tengah tertindih Helikopter dengan kepala serta lehernya tertancap baling-baling Helikopter.
"Ok... Itu Zombie baru lagi... Harus beri nama apa?" tanya Issei melihat ke arah Sasuke dan Arthuria. "Kita tidak ada waktu untuk memberinya nama, kita harusnya memikirkan bagaimana caranya kita pergi dari sini!" balas Arthuria setengah kesal membuat Issei meneguk ludahnya.
"Maaf."
Arthuria pun berbalik dan wajahnya langsung memerah begitu melihat tubuh berotot Naruto.
"PAKAI BAJUMU MESUM?!"
"BAJUKU TERBAKAR TAHU?!"
"Bagaimana, Sensei?" tanya Shikamaru kepada Shizuka dan Rossweisse yang mengecek keadaan dua tentara. "Mereka tidak selamat, benturan yang mereka alami terlalu keras," jawab Shizuka memejamkan matanya, semua yang mendengar itu juga memejamkan mata mereka karena pahlawan yang harusnya menyelamatkan mereka tewas.
"Sekarang bagaimana kita pergi dari sini, kita tidak melihat tanda Helikopter sedikitpun melintas kemari."
Shikamaru yang mendengar itu membuka matanya dan melihat terdapat dua senjata tebak tergeletak di lantai. Shikamaru pun berjalan ke arah dua senjata tembak tersebut dan mengeceknya, "Ini masih berfungsi," gumam Shikamaru.
Mata hitamnya bergulir ke arah mayat tentara serta tas yang di sandarkan ke dinding, di dalam sana pasti ada sesuatu untuk membawa mereka pergi dari sini.
"Kalian, bongkar tas mereka dan periksa di seluruh tubuh mereka apakah ada benda penting atau tidak!" ucap Shikamaru. Sakura, Rias, Hinata, Xenovia, Irina, Chouji, Sona dan Tsubaki pun melakukan apa yang di katakan oleh Shikamaru.
Setelah beberapa menit berlalu, mereka menemukan Dua Walkie Talkie, Dua senjata Rifle SG-550 Ext, Dua Pistol FN-57, Dua Pistol QSZ-92 serta masing-masing peluru cadangan, beberapa equipment senjata, beberapa Grenade dan Flashbang di tas mereka.
Naruto juga mengambil satu baju mayat tentara itu untuk menutupi tubuhnya, tidak mungkin dia tidak mengenakan pakaian di depan perempuan.
"Hanya ada ini ya," gumam Issei lalu melirik semuanya yang duduk melingkar pada benda penting di depan mereka. "Shikamaru-kun, senjata apa saja ini?" tanya Rias penasaran.
"Yang besar itu adalah senjata tipe Assault Riffle, SG-550. Sementara sisanya adalah Pistol tipe FN-57 dan QSZ-92," jawab Shikamaru memperkenalkan setiap senjata yang ada.
"Dua Walkie Talkie ini masih mati dan belum hidup mungkin jika kita hidupkan kita bisa meminta bantuan," gumam Naruto mengambil satu Walkie Talkie lalu menghidupkannya.
[Bzziit!]
["Hawk 7! Disini Hawk 8! Di mana posisimu kami membutuhkan bantuan!"]
["Kuso! Hawk 1! Menghindar!"]
["Fox 4 Luncurkan!"]
Semua yang mendengar ada suara dari Walkie Talkie itu tersenyum, alat itu tersambung dengan yang lain. Namun senyum itu hilang sesaat karena mengingat dua mayat tentara yang berusaha menyelamatkan mereka, menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan Naruto pun siap untuk bicara.
["Disini, Hawk 7! Merespons."]
["Siapa ini! Di mana pilot kapal?!"]
Naruto yang mendengar itu menghembuskan nafasnya kembali, ["Di sini... Namikaze Naruto, Siswa Konoha Gakuen melapor... Hawk 7... Sudah jatuh."]
["A-Apa?! Hawk 7 terjatuh?!"]
["Apa yang terjadi?!"]
["Mereka... Terhantam batu besar yang di lempar oleh Zombie berukuran besar saat berusaha menyelamatkan kami, Helikopter menjadi tak terkendali dan akhirnya meledak, dua tentara mencoba kabur sebelum Helikopter meledak, namun mereka menerima benturan keras."]
["Jadi begitu kau bisa berkomunikasi menggunakan ini."]
["Kami mohon tolong antarkan bantuan kemari! Kami terjebak di atap sekolah dan tidak memiliki jalan keluar karena banyak Zombie telah memenuhi lorong,"] ucap Naruto memohon agar di kirimkan bantuan.
["Maafkan kami nak, kami tidak bisa menolong! Banyak Zombie mengerikan di sini dan mereka memiliki insting membunuh yang mengerikan, beberapa dari kami telah jatuh, jadi sebaiknya kau dan teman-temanmu..."]
["Kapten! Awas!"]
[Blaaar! Bziiiit!]
["Halo! Halo! HALO! SIAPAPUN TOLONG KIRIMKAN BANTUAN!"] teriak Naruto mencoba untuk mendapatkan Respons dari tentara lain.
["Hawk 8 jatuh!"]
["Kuso! Mereka ini benar-benar monster mengerikan!"]
["Kau dengar apa yang di katakan Hawk 8 tadi bukan gaki! Kami tidak memiliki waktu untuk menyelamatkan kalian?!"]
["Monster-monster ini memiliki kekuatan mengerikan jika mereka menghancurkan pesawat ini sama seperti Hawk 7 dan Hawk 8!"]
["Sebaiknya kalian tetap saja bertahan di sana!"]
[Bzziiit!]
Naruto dan yang lain mendengar sambungan terputus kembali menatap satu sama lain tidak percaya, tidak akan ada bantuan yang datang entah karena alasan apa.
Naruto yang frustrasi ingin membanting Walkie Talkie di tangannya namun ia tahan lalu duduk bersama yang lainnya kembali sambil memijit keningnya.
"Jadi... Bagaimana selanjutnya?" tanya Tsubaki sambil melihat teman-temannya. "Ini kacau... Benar-benar Kacau," gumam Sakura meneteskan air matanya lalu memeluk Sasuke dengan erat karena mereka tidak bisa keluar dari sini.
"Tamat sudah, di setiap lorong sekolah sudah terdapat banyak Zombie dan kita tidak bisa pergi ke jalan raya begitu saja karena jumlahnya pasti lebih banyak lagi," ucap Arthuria sambil memijit keningnya yang terasa pening.
"Kita juga belum bisa menghadapi mereka dengan senjata seperti ini jika jumlah mereka sangat banyak," timpal Xenovia.
"Aduh... Bagaimana ini, Shikamaru?" tanya Ino menatap Shikamaru penuh harapan. "Diamlah sebentar Ino, aku sedang memikirkannya," jawab Shikamaru lalu menyentuh dagunya memikirkan rencana untuk kabur dari atap sekolah.
Mereka pikir atap sekolah akan menjadi tempat penyelamatan mereka, tapi ini di luar dugaan mereka.
"Kita ini bagaikan benda yang tertutup rapat di dalam brangkas ketat yang di tutup rapat," gumam Irina membuat Naruto melebarkan matanya begitu juga Shikamaru.
"Itu dia!" teriak Naruto dan Shikamaru sambil tersenyum senang, sementara yang lainnya sama-sama memandang kebingungan. "Ada apa?" tanya Issei penasaran.
"Rossweisse-sensei, Shizuka-sensei, apakah ada bus kecil di parkir guru?" tanya Naruto membuat dua guru itu tersentak lalu memandang satu sama lain.
"Y-Ya, mobil itu ada di parkir guru." Naruto dan Shikamaru semakin melebarkan senyum mereka lalu bangun dan pergi ke sisi pagar pembatas untuk melihat parkir guru yang ada di sebelah bangunan, semua yang melihat itu semakin Kebingungan.
"Itu dia!" ucap Shikamaru sambil menunjuk bus berukuran sedang. Naruto dan Shikamaru yang melihat itu sama-sama mengadu tinju mereka lalu kembali ke tempat teman-teman mereka dan berkumpul.
"Ok! Kami punya rencana! Dengarkan baik-baik," ucap Naruto lalu memberikan tanda kepada Shikamaru untuk menjelaskan rencana mereka. "Baiklah, kita akan pergi dari sini menuju bus sekolah dengan senjata-senjata ini, lalu kita mampir sesaat di kediaman ku untuk mengambil sesuatu." Ucap Shikamaru menjelaskan rencananya.
"Mengambil apa? Sesuatu yang kau sembunyikan di bawah kasur dan melihatnya pada saat tidak ada siapa pun di rumahmu?" tanya Xenovia dengan ekspresi tak berdosa. "BUKAN ITU!" balas Shikamaru dengan rona di pipinya.
"Aku ingin mengambil benda yang sangat penting di kamarku, benda ini sudah seperti sesuatu yang sangat penting dan tak ternilai harganya," lanjut Shikamaru membuat Sasuke dan Issei terkejut.
"Hm, jadi kau maksudmu Buku mesummu lebih berharga dan tak ternilai?"
"SUDAH AKU BILANG BUKAN ITU?!"
"O-Oi! Shikamaru! Naruto! Kalian bercanda bukan?" tanya Issei, namun mereka berdua menunjukkan ekspresi serius.
"Kami tidak bercanda Issei," balas Naruto sambil tersenyum.
"Seperti yang di katakan Xenovia-san... Kita mungkin tidak akan bisa mengatasi banyaknya Zombie nanti, maka saat kita sudah mengambil barang yang ada di rumahku, kita akan mencari senjata baru untuk bertahan hidup dari banyaknya Zombie di kota," ucap Shikamaru membuat mereka saling bertatapan satu sama lain kecuali Sasuke dan Issei.
"Huh? Senjata baru lagi?" tanya Sona menaikkan sebelah alisnya. "Ya, hari ini adalah hari di mana di umumkannya peluncuran senjata baru, dan dalam situasi seperti ini mereka pasti berhenti di suatu tempat, dan kita akan mencarinya," jawab Naruto.
"Bagaimana caranya?" tanya Rias ingin tahu. "Di situlah alat yang kita ambil di rumahku akan mengambil peran, aku akan melacak keberadaan kendaraan yang membawa senjata-senjata baru ini," jawab Shikamaru
"Memangnya kau bisa, Nara... Tidak, Shikamaru?" tanya Tsubaki dan di jawab anggukan oleh Shikamaru.
"Ya... aku bisa melakukannya," jawab Shikamaru lalu menghembuskan nafasnya pelan, "kalian ingin ikut, atau tetap di sini untuk bertahan?"
Semua yang mendengar itu saling berpandangan satu sama lain lalu menatap serius Shikamaru, "Tentu saja Kami ikut!" balas Ino tegas dan di balas anggukan setuju oleh Sakura.
"Tentu saja, kita semua adalah satu team, maka sudah pasti kita harus bersama dan saling melindungi satu sama lain," jawab Sona sambil tersenyum kecil di balas anggukan setuju Rias, dan Tsubaki.
"Jika itu untuk ke tempat yang aman bersama kalian, kami ikut. Kami tidak ingin mati di sini karena menyerah begitu saja," jawab Xenovia membuat Irina tersenyum lalu memeluk temannya tersebut dengan erat.
"Kau tahu aku Shikamaru, aku akan ikut denganmu kapan pun," jawab Chouji membuat Shikamaru ikut tersenyum.
"Bagaimana denganmu, Arthuria-senpai?" tanya Naruto menatap lekat Arthuria yang tengah diam seperti memikirkan sesuatu. "Aku ingin bertanya kepada kalian berdua," ucap Arthuria sambil menatap Naruto lekat.
"Senjata baru ini pasti dilindungi sesuatu bukan? Seperti Brangkas, atau apa pun itu, bagaimana cara kita mengambilnya jika kita tidak tahu kodenya?" tanya Arthuria membuat Rias dan yang lain terdiam lalu menepuk jidat mereka karena tidak berpikiran ke sana. "Ah... Benar... Bagaimana cara kita mendapatkannya?" tanya Xenovia ingin tahu.
"Kunci Bus nya juga bagaimana?" tanya Sakura membuat Naruto tersenyum lalu mengeluarkan banyak kunci yang dia bawa dari ruang guru, "tidak perlu khawatirkan itu."
"Masalah mencuri alat yang ada di brangkas biar aku yang urus, aku menambahkan sedikit rencana saja, saat kita sudah selesai mengambil barang Shikamaru, Aku akan mengambil sesuatu untuk mengatasi cara mengambil senjata baru itu," jawab Naruto sambil melihat ke arah Sasuke yang juga melihatnya dengan serius.
"Bisakah kami percaya dengan kalian?"
"Jika Senpai ingin melihatnya secara langsung, aku tidak keberatan Senpai ikut denganku," balas Naruto membuat Sasuke dan Issei melebarkan mata mereka.
"O-Oi! Naruto, kau yakin?" tanya Sasuke dan di balas anggukan serius oleh Naruto, "astaga... Aku tidak percaya hari itu akan datang," lanjut Sasuke menutup wajahnya, semua yang mendengar itu menaikkan sebelah alisnya bingung.
"Bagaimana, Senpai? Kau ingin ikut denganku?" tanya Naruto membuat Arthuria melihatnya dengan serius, mata hijaunya bisa melihat keseriusan di mata biru Naruto, pipinya langsung memanas serta jantungnya berdetak kencang, Naruto yang melihat Arthuria tak kunjung menjawab melambaikan tangannya.
"Senpai?"
"A-Ah... Ya... Karena kau menyelamatkan hidupku maka aku akan ikut denganmu dan menjagamu," jawab Arthuria lalu mengalihkan pandangannya, "a-ada apa denganku sih?" batin Arthuria.
"Naru-kun! Aku ingin ikut denganmu!" ucap Kuroka dengan tegas, Akeno dan Hinata yang mendengar itu tersentak lalu juga ikut menatap Naruto dengan serius.
"A-Aku juga ingin membantumu, Naruto-kun! A-Aku berjanji tidak akan merepotkanmu?" ucap Hinata sedikit tergagap. "Aku juga Naruto-kun!" timpal Akeno
namun mereka hanya mendapat tepukan pelan di kepalanya. "Tidak perlu, kalian akan mendapatkan tugas penting nanti, jadi kalian tetaplah bersama yang lain," jawab Naruto sambil tersenyum tipis.
"Ta-Tapi..."
"Jangan paksa dirimu, Hinata-chan," potong Naruto, "kau masih dalam keadaan bimbang untuk membunuh mereka, jika terjadi sesuatu padamu janjiku pada Kiba akan hilang, setidaknya kau harus menetapkan hatimu dulu." Hinata yang mendengar itu tersentak lalu menundukkan kepalanya.
Apa yang di katakan Naruto ada benarnya, ia masih bimbang untuk membunuh Zombie, jika terjadi sesuatu padanya itu akan membuat Naruto semakin repot.
"Ma-Maafkan aku," ucap Hinata meminta maaf, Naruto yang mendengar itu mengelus kepala Hinata dengan lembut. "Tidak perlu meminta maaf, kau sudah berjuang semampumu, Hinata-chan," ucap Naruto kembali tersenyum untuk menenangkan Hinata.
Kuroka yang tidak di perbolehkan ikut dengan Naruto hanya mengembungkan pipinya sambil mengalihkan pandangannya.
"Bisakah kau berjanji akan baik-baik saja nanti?" tanya Akeno menatap Naruto penuh harap. "Ya, aku akan baik-baik saja nanti, percayalah," jawab Naruto sambil mengelus kepala Akeno juga lalu menarik pipi Kuroka hingga membuatnya mengaduh kesakitan.
"Ittai, Naru-kun!" ucap Kuroka sambil mengelus pipinya. "Jangan cemberut seperti itu, suatu saat jika ada sesuatu yang harus di cari kalian boleh ikut denganku, tapi bergantian," ucap Naruto membuat Kuroka, Akeno dan Hinata membinar.
"Namikaze-kun? Apakah kau cowok Playboy?" tanya Tsubaki dengan wajah tanpa dosa.
"TENTU SAJA TIDAK!"
"Hah... sudah cukup, untuk rencana selanjutnya kita bahas lagi nanti, kita sekarang harus bersiap untuk keluar dari sini dengan Formasi seperti tadi," ujar Shikamaru sambil berdiri di ikuti yang lainnya.
"Bolehkah aku mengganti senjataku? Aku tidak terlalu biasa menggunakan tombak lembing," pinta Xenovia. "Aku juga," timpal Irina membuat Naruto menghembuskan nafasnya lalu memberikan mereka masing-masing satu pedang kayunya.
"Gunakanlah itu, lagi pula aku sudah memiliki ini," ucap Naruto sambil menunjuk Katana yang ada di punggungnya, "lalu untuk Tombak lembing itu berikan padaku kita akan gunakan ini untuk menerobos nanti," lanjut Naruto sambil mengambil tombak lembing mereka.
"Aku akan membawa Pistol FN-57 ini dan Naruto kau bawalah satu SG-550 dan satu FN-57 untuk menembak Zombie barisan depan bersama beberapa Grenade. Issei kau bawalah pistol QSZ-92 dan Sasuke kau bawalah satu SG-550 untuk menembak Zombie-Zombie di belakang," lanjut Shikamaru sambil mengambil satu pistol FN-57 lalu mengecek pistol yang dia pegang.
Naruto pun juga mengambil SG-550 yang ada di lantai dan mengeceknya, melihat ada beberapa equipment senjata itu, Naruto langsung memasangnya dan menyetelnya.
Equipment yang di gunakan senjata Naruto, Scope bermodelkan BOA 3, Suppresor, serta bagian untuk mempercepat reload senjata, Fast Mag.
Sasuke pun juga meniru Set yang di buat Naruto, sementara Shikamaru dan Issei hanya memasang Suppresor di senjata mereka untuk memperkecil suara tembakkan.
"Kalian... Tampaknya terbiasa sekali dengan senjata itu ya?" tanya Sona, membuat beberapa di antara mereka terhenti kecuali Naruto yang sudah memasukkan beberapa cadangan peluru di sakunya bersama beberapa Grenade dan Flashbang, sisanya dia berikan kepada Chouji untuk membawakannya.
"Hm, begitulah Sona-chan," ucap Naruto lalu menarik Rapid Fire miliknya untuk menyetel pelurunya masuk ke dalam barrel tembak, lalu menggantungkan senjatanya itu dan mengambil dua tombak lembing yang awalnya di bawa Xenovia dan Irina sambil bersiap di depan pintu.
"A-hahahaha... Kami berempat sering ke tempat permainan perang jadi kami sudah terbiasa," jawab Issei sambil menggaruk belakang kepala, lalu mendekati Naruto dan menyikunya dengan keras, "Hey! Bukankah kita sudah bersumpah untuk merahasiakan identitas kita! Kau tadi membuat kita terlihat mencolok!" bisik Issei membuat Naruto menghembuskan nafasnya kasar.
"Identitas kita tidak perlu di sembunyikan lagi dalam situasi ini, Issei," ucap Naruto lalu menatap tajam Issei, "mana yang lebih penting nyawamu, atau identitasmu sebagai anggota Ghost Thief?"
Issei yang mendengar itu bungkam, Shikamaru yang sudah di samping Naruto menepuk pundak Issei, "Ini sudah saatnya mereka tahu, ayo pergilah ke posisimu, Issei."
Issei yang akan pergi di tahan oleh Naruto membuatnya melihat ke arah Naruto, "Issei apa yang sejak tadi kau bawa di saku bajumu?" tanya Naruto membuat Issei tersentak lalu mengeluarkan empat bola baseball yang dia bawa dari gudang penyimpanan olahraga.
"Buat apa kau membawa itu?" tanya Shikamaru. "Aku pikir ini akan berguna nanti," jawab Issei ingin membuang bola baseball yang ia bawa namun di tahan oleh Naruto.
"Tetap bawa saja, Issei... Ini akan berguna nanti," jawab Naruto lalu mengambil satu bola baseball, dan sisa kain dari bajunya yang terbakar dan satu Grenade.
Naruto pun mengikat dua benda itu menggunakan kain bajunya dengan erat dan memastikan jika dua benda ini tidak akan terlepas saat di lempar.
"Apa yang sedang kau lakukan Naruto?" tanya Sasuke membuat Naruto menyeringai. "Kita akan membuat jalur terbuka di tangga, setelah ini meledak kita langsung pergi, bersiaplah," jawab Naruto, lalu mengintip dari jendela pintu dan di bagian tangga tidak ada Zombie.
Naruto pun memberi tanda untuk keluar secara perlahan dan tidak berisik, mereka pun keluar bersama menuruni satu tangga dan melirik kembali di lorong lantai 3 telah banyak ada zombie yang berjalan pelan tidak menentu di lorong.
Naruto pun menarik pin Grenade ya lalu melemparnya ke tangga menuju lantai dua, bagian bola terbentur dinding lalu terpental menuju lorong lantai dua, para Zombie yang mendengar benturan bergerak ke sumber suara dan beberapa detik setelahnya Grenade meledak dengan keras membunuh Zombie-Zombie di lorong dua.
"Ikuzo!" teriak Naruto memberi tanda sambil menyiapkan dua tombak lembingnya lalu berlari turun bersama yang lain.
Naruto yang melihat Zombie datang ke arahnya langsung menusuk leher Zombie itu dengan satu tombak lembing lalu memutarnya hingga lehernya terputus lalu mendorongnya untuk menyapu bersih Zombie di depannya.
"HUOOOORA! MENYINGKIR KALIAN SIALAN!" teriak Naruto menyapu bersih Zombie di tangga turun menuju lorong lantai dua, setelah akan mencapai lorong lantai dua ia melirik ke arah Chouji.
"Chouji! Hantamkan pemukulmu!" ucap Naruto yang langsung di turuti oleh Chouji di mana ia menghantam kayu tombak lembing Naruto membuat tombak lembing itu menembus leher Zombie yang di bunuh Naruto dan mengenai empat Zombie lainnya dan tombak lembing itu pun menancap di kaca dengan lima Zombie terbunuh.
Pst! Pst!
Shikamaru yang sudah sampai di lorong lantai dua menembak beberapa Zombie di samping lorong kanan dengan pistol miliknya hingga mengenai kepala Zombie hingga bolong lalu jatuh di tempat.
"Ternyata benar... Jika otaknya hancur mereka akan mati," gumam Shikamaru lalu melanjutkan menembaknya hingga lorong kanan terbuka lebar. Naruto yang juga telah menyapu lorong kiri langsung berlari turun bersama yang lainnya dan Sasuke serta Issei pun mengambil peran menembak para Zombie agar bagian belakang terus terbuka.
Karena lorong dua sudah terbuka lebar dan Zombie-Zombie di lorong dua cukup sedikit karena telah di bunuh oleh Naruto awalnya langsung turun menuju tangga lantai satu.
"Aku akan membuka jalan di tangga siapkan tombaknya untuk menyapu lorong," ucap Arthuria turun lebih dulu dan menyapu bersih Zombie-Zombie di tangga. "Chouji! Grenade di lorong kiri!" ujar Naruto langsung di turuti Chouji dengan membuka pin satu Grenade lalu melempar ke lorong kiri begitu mereka sampai lantai 1.
BOOM!
Zombie di lorong kiri pun terkena ledakan dahsyat hingga membuat puluhan Zombie mati dan darahnya memenuhi dinding lorong. "MINGGIR!" teriak Naruto menusukkan satu tombak lembingnya tersisa pada satu Zombie di depannya lalu mendorongnya dengan kuat membuat Zombie-Zombie di belakangnya ikut terdorong.
Pst! Pst!
Shikamaru yang melihat terlalu banyak yang di dorong oleh Naruto membantu meringankan beban Naruto dengan menembak beberapa Zombie hingga membuatnya jatuh ke tanah.
"Terus Naruto! Kita hampir keluar!" ujar Sakura memberi semangat. "HUUOOOAAAAA!" teriak Naruto semakin kuat mendorong tombak lembingnya.
"Chouji!" teriak Naruto melepas tombak lembingnya dan saat itu juga Chouji bersiap memukul tombak lembing itu kembali. "SEMANGAT! CHOUJI-KUN!" teriak Shizuka membuat mata Chouji berapi dan memukul tombak itu bagaikan tenaga gajah.
Jrash!
Tombak lembing itu pun menebus sekitar sebelas Zombie dan berhenti ketika menancap di tubuh Zombie ke dua belas. "Wah! Sugoii! Chouji-kun!" puji Shizuka dan Chouji membalasnya dengan senyum senang di wajahnya, Naruto dan Shikamaru hanya bisa poker face ketika melihat itu sementara yang lainnya sweatdrop.
"Hoi! Tetaplah fokus!"
Setelah mencapai lorong sepatu, Naruto menyiapkan SG-550 miliknya dan menembak beberapa Zombie yang mengarah kepada mereka hingga jalur mereka terbuka lebar.
"Sekarang pecah formasi! Dan secepat mungkin pergi ke bus! Kuroka! Akeno! Jaga Hinata!" ujar Naruto dan setelah itu formasi pun pecah begitu mereka keluar dari sekolah dan berlari menuju parkir guru.
Sambil bersama-sama membunuh Zombie di depan mereka, Xenovia dan Irina tetap fokus menjaga guru mereka karena mereka saja yang tidak menggunakan senjata.
"Oi! Matte!" Sasuke dan Issei yang menjaga bagian belakang tersentak ketika melihat beberapa kelompok datang berlari ke arah mereka.
"Merek...," gumam Sasuke.
"Mereka Riser, Raynare, Dohnasek, Freed, dan Kalawarner Mereka masih selamat," gumam Issei. "Naruto! Bagaimana ini?! Ada yang masih hidup?!" tanya Sasuke sambil berteriak.
Naruto yang mendengar itu menoleh lalu memberikan kunci mobil bus kepada Shikamaru, lalu memberi tanda kepada Arthuria untuk membuka jalan.
Naruto pun memelankan larinya, dan berkumpul bersama Issei dan Sasuke. "Bunuh Zombie-Zombie yang ingin menangkap mereka," ucap Naruto lalu membidik Zombie melalui Scope BOA 3 miliknya dan menembak Zombie-Zombie yang mendekati Riser bersama kelompoknya.
Sasuke dan Issei yang mendengar itu pun mengikuti perkataan Naruto, mereka menembak Zombie-Zombie yang mendekati mereka.
Setelah dekat mereka pun melanjutkan lari mereka mengikuti yang lainnya, "Arigato! Karena telah menyelamatkan kami!" ucap Riser berterima kasih.
Namun Naruto, Issei dan Sasuke hanya melirik mereka sesaat dan fokus ke depan kembali serta menembak Zombie-Zombie yang ada di samping mereka.
Shikamaru yang sudah sampai di bus langsung membuka pintunya sambil menjaga yang lainnya sampai masuk dengan menembak-nembak Zombie di sekitarnya lalu mengisi ulang Pistolnya dengan cepat.
"Cepat masuk! Aku, Shikamaru dan Arthuria-senpai akan menjaga kalian," teriak Naruto sambil menjaga yang lain bersama Shikamaru dan Arthuria.
Kuroka yang belum masuk mengatur nafasnya yang terengah-engah, Riser yang ada di belakang kuroka menyeringai dan dengan cepat ia menyekap Kuroka lalu melangkah mundur bersama yang lain sambil menodongkan pisaunya.
"KUROKS-CHAN!" panik Naruto sambil menyiapkan senjatanya. "BERANI SAJA KALIAN MENEMBAK DIA AKAN MATI!" ancam Riser membuat Naruto dan yang lain terhenti.
"NARUTO-KUN!" panik Kuroka mencoba melawan namun Raynare, Dohansek, Freed dan Kalawarner menahan gerakan Kuroka serta mulutnya agar tidak berteriak.
"Kuroka-chan!" panik Akeno ingin membantu namun Issei menahannya. "Akeno-chan! Berbahaya! Jangan ke sana dan tenanglah dulu!" ujar Issei.
"Bagaimana aku bisa tenang jika temanku dalam bahaya!" balas Akeno. "Naruto pasti bisa menyelamatkannya, percayalah!" balas balik Issei dengan ekspresi serius.
"Apa yang kau inginkan bajingan?" tanya Naruto dengan nada dingin serta tatapan penuh intimidasi miliknya. "Ga-Gawat... Sifat sadisnya muncul," batin Shikamaru meneguk ludahnya.
"Heh! Kalian semua menyingkirkan dari bus itu, dan berikan senjata kalian kepada kami!" ujar Freed membuat Naruto mengepalkan tangannya.
"Jika tidak nyawanya akan melayang! Atau jika perlu aku bisa membuat sesuatu yang bejat kepadanya!" timpal Riser sambil meremas dada Kuroka membuatnya mendesah pelan, Naruto yang melihat itu menggtaja, mata biru Naruto berkilat tajam ke arah Riser lalu ia mengambil isi peluru di saku miliknya, Naruto yang merasakan sesuatu di sakunya melirik sesaat lalu menyeringai mengerikan.
"Shikamaru, Arthuria-senpai, jika aku beri tanda tutup mata kalian, beritahu yang lainnya juga," bisik Naruto mengambil Mags senjata miliknya lalu melanjutkan mengisi ulang peluru senjatanya.
"A-Apa yang akan kau lakukan?" tanya Shikamaru dan Naruto memperlihatkan kantungnya yang terdapat Flashbang. Shikamaru yang mengerti pun masuk ke bus dan memberitahu yang lainnya.
"Baiklah... Tapi bisakah kalian mundur lagi? Jika kalian terlalu dekat kalian sendiri malah menyerahkan nyawa kalian dan membuatku bisa menyelamatkannya," ujar Naruto membuat mereka saling berpandangan lalu melangkah mundur hingga jarak tertentu membuat Naruto menyeringai.
"Kuroka-chan! Tutup matamu!" ujar Naruto membuat Kuroka menatap Naruto tidak yakin, "percayalah padaku! Dan jangan buka matamu sampai suaraku sangat dekat denganmu!" lanjut Naruto dengan ekspresi meyakinkan.
Kuroka yang melihat itu menutup matanya, setelah cukup pas Naruto pun melepas tali senjatanya yang dia gunakan untuk memudahkannya membawanya dan saat itu juga Naruto menyiapkan Flashbang miliknya.
Ting!
Naruto pun menarik pin Flashbang dan saat itu juga Naruto melempar senjatanya ke arah Riser, lalu saat semua perhatian teralih ke arah senjata itu, Naruto melempar Flashbang miliknya dan menutup matanya, "SEKARANG!"
Tiiing!
Riser dan teman-temannya pun tersentak dan tak lama setelah itu sebuah ledakan cahaya mengenai mata mereka membuat mereka menggerang kesakitan.
"AAAARGHHH! MATAKU!"
"SAKIT! SAKIT SEKALI!"
Naruto yang merasa ledakan Flashbang sudah terjadi langsung berlari secepat mungkin menangkap senjatanya lalu menembak kedua kaki mereka hingga membuat mereka menggerang kesakitan kembali
Shikamaru dan Arthuria yang mendengar suara tembakkan membuka mata mereka dan mereka melihat Naruto telah mencapai Kuroka sementara Riser dan teman-temannya menggerang kesakitan karena kaki mereka tertembak.
Kuroka yang merasakan kekangannya terlepas terganti dengan rasa sebuah pelukan erat di pinggangnya, ia juga bisa merasakan hembusan nafas di samping telinganya membuat pipinya merona.
"Buka matamu, Kuroka-chan." Kuroka yang mendengar suara Naruto membuka matanya dan ia bisa melihat Naruto sudah di dekatnya sambil memeluk pinggangnya, ekspresi Kuroka semakin memerah ketika melihat ekspresi serius Naruto.
"Na-Naru-kun."
"Kau tidak apa?" tanya Naruto dan di balas anggukan olehnya. "K-Kisama..." Naruto dan Kuroka mengalihkan pandangan mereka karena saat ini mereka tengah menginjak tubuh Riser dengan Naruto mengarahkan lonsong senjatanya ke mulut Riser.
Semua yang melihat itu terdiam, Naruto berhasil menyelamatkan Kuroka sendirian, Akeno yang melihat itu bernafas lega, Issei, dan Sasuke yang melihat itu hanya diam karena mereka sudah bisa menduga Naruto bisa melakukan itu.
"D-Dia itu... Bagaikan seorang profesional saja," gumam Sona. Irina yang tidak melihat ada yang duduk di bagian kemudi pun bersuara, "lalu siapa yang akan mengemudi bus ini?" tanya Irina membuat mereka terdiam.
"Rossweisse-chan, kenapa tidak kau saja?" ujar Shizuka sambil tersenyum membuat Rossweisse tersentak. "E-Eh?! Aku?! Kenapa aku?!" balas Rossweisse.
"Ara? Bukannya kau..."
"Baik-baik! Akan aku lakukan!" potong Rossweisse sambil menutup mulut Shizuka. "Shikamaru! Senpai! Masuklah!" ujar Sasuke ketika Rossweisse sudah menghidupkan mobilnya.
"Tapi..."
"Kita akan menjemput mereka."
"Ne...," panggil Naruto sambil menatap dingin Riser sambil menekan lonsong senjatanya, "inilah akibatnya jika kau macam-macam dengan orang terdekatku," lanjut Naruto sambil bersiap menekan pelatuk senjatanya.
Kuroka yang mendengar itu merona, ia tak percaya Naruto benar-benar menyelamatkannya, apa lagi posisi kali ini seperti seorang pahlawan yang tengah menyelamatkan orang yang di cintai ya dari penjahat yang menahannya, itulah pikir Kuroka.
Kuroka pun memeluk leher Naruto dengan erat dan menyembunyikan wajahnya di leher Naruto. "Kuroka-chan... Harus aku apakan orang ini karena berani menyentuhmu?" tanya Naruto membuat Kuroka terdiam sejenak, ia berpikir jika Naruto membunuh manusia yang masih hidup dia akan di anggap sebagai pembunuh, tapi jika dia membunuh Zombie dia akan di anggap sebagai penyelamat.
Menghembuskan nafasnya pelan di leher Naruto membuat tubuh Naruto bergetar pelan karena sensasi nafas Kuroka, perempuan yang memeluk Naruto itu pun menatap mata biru Naruto intens dan menggelengkan kepalanya pelan.
"Jangan bunuh dia, aku tidak ingin kau di anggap sebagai pembunuh." Naruto yang mendengar itu terdiam. "Oi! Cepatlah! Mereka mulai mendekat loh!" ujar Shikamaru yang sudah di belakang Naruto bersama yang lain di dalam bus.
"Baiklah, tapi...," gantung Naruto sambil menarik lonsong senjatanya dan mengarahkannya ke lengan Riser yang di gunakan untuk menyentuh dada Kuroka tadi, "ini balasan karena kau berani menyentuh Kuroka-chan."
"Dan selamat menikmati waktu kalian menjadi Zombie."
Dor!
.
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC
Note : Yo! Bagaimana menurut kalian Chapter kali ini?
Ya semoga aja kalian puas, untuk di Chapter ini sudah di jelaskan bagaimana bisa virus ini bekerja, Virus ini adalah Larva yang masuk ke tubuh, Saraf, dan daging, mereka lebih memilih ke saraf untuk mencari tempat inang agar bisa hidup.
Kenapa tidak darah? Ah tidak, itu lebih berat malah mereka jadinya bukan membunuh tapi menghindar saja, jika begitu tak akan ada asiknya.
Selain itu para Zombie yang bisa kita anggap Mutant ini memili serangga di leher mereka, dengan bokongnya yang mengambil alih semua saraf manusia termasuk yang di otak lalu mengendalikannya, maka dari itu jika saraf itu di putuskan maka otak akan mati dan serangga akan meronta keluar.
Lalu senjata tumpul untuk menghancurkan otak? Nah itu akan memakan waktu lama, belum lagi lukanya bisa pulih. Jadi pilihan untuk membunuh mereka yang tidak ada serangga adalah menggunakan senjata tajam dengan mengincar kepala berisi otak serta memutuskan lehernya, serta pilihan ke dua adalah menembak kepalanya dengan mengincar bagian otaknya.
Tingkatan Zombie juga sudah saya jelaskan di atas.
Pertama : Zombie Biasa.
Ke dua : Tenta Z ( Zombie yang memiliki tentakel, berapa jumlah tentakel miliknya maka itu versi mereka, contohnya jika dua tentakel maka dia adalah Tenta Z V2. )
Ke tiga : Wennoz, Zombie yang memiliki senjata di tangan mereka.
Ke empat : Spitter, Zombie yang memuntahkan cairan Hijau dari mulutnya ( Aku ambil dari Leaf 4 Dead 2 )
Ke lima : Boomber, Zombie yang bisa meledak.
Ke enam : Charger, Zombie tipe penyeruduk
Masih banyak yang belum terlihat Zombie di sini, bahkan Mutant paling awal tercipta juga belum muncul, yang paling pertama adalah versi yang paling mengerikan nanti.
Berikutnya, mereka sudah mendapatkan senjata dari tentara yang ingin menyelamatkan mereka, namun sayang mereka harus mati karena Zombie tipe ke tujuh menyerang mereka, Zombie ke tujuh ini apakah? Tunggu aja kelanjutannya.
Senjata yang saya ambil adalah SG-550 ( Assasult Riffle ), QSZ-92 ( Pistol ), serta FN-57 (Pistol)
Saya langsung ke pelarian agar tidak bilang mirip seperti, fic Has Ended. Saya akan ambil alur yang berbeda. Lalu skill Naruto yang seperti profesional, sudah di jelaskan bahwa Naruto sudah terbiasa di aksi kriminal bahkan dia tak segan-segan membunuh jadi wajar.
Dan bagi penggemar Kuroka saya mohon maaf menyakiti mata kalian :v
Ok kira-kira bagaimana ya selanjutnya, tunggu saja ke depannya ya, Jaa~ na!
4kagiSetsu out
