Kediaman Naruto

18.00 PM

.

"Ahhh airnya segar sekali!" gumam Kuroka sambil mengusap-usap rambutnya dengan handuk lalu membantu adiknya mengeringkan rambutnya. "Kau benar sekali," timpal Akeno yang menyisir rambutnya.

"Shamponya sungguh harum sekali, apa Naruto akan mengabulkan jika aku meminta shampo di kamar mandi ini ya?" gumam Ino dan langsung mendapat pukulan pelan di kepalanya dari Sakura.

"Jangan berpikir aneh-aneh, ini bukan rumahmu jadi jangan macam-macam."

"Kamar mandinya besar sekali dan memiliki fasilitas yang bagus untuk kamar mandi di satu kamar, orang kaya memang luar biasa," gumam Xenovia sambil melihat ke arah kamar mandi yang cukup besar di sebuah kamar.

"Sepertinya menjadi orang kaya itu enak ya, bisa membuat dan memiliki apa yang mereka mau," gumam Rias sambil menyisir rambutnya, "aku penasaran apakah semua ini hasil dari kerja mereka menjadi Ghost Thief... Rumah Shikamaru-san, Issei-kun saja terlihat biasa-biasa saja."

"Bukankah Naruto-san bilang bahwa uang-uang yang mereka curi di berikan kepada mereka yang membutuhkan? Aku rasa dia tidak berbohong dengan perkataannya itu," balas Sona berpikir positif. "Sasuke-kun pernah cerita kepadaku bahwa Keluarga Naruto itu kerja di Amerika, jadi aku rasa wajar saja uang mereka banyak dan bisa membangun rumah seperti ini," timpal Sakura.

Semua yang mendengar itu kecuali Akeno dan Kuroka yang memang tahu pekerjaan keluarga Naruto serta pernah mampir ke rumah ini, sedikit terkejut karena pekerjaan orang tua Naruto.

"Tapi kalau tidak salah Naruto-kun itu anak tunggal bukan? Bukankah ini sedikit berlebihan untuk membuat rumah hingga sampai tingkat empat?" tanya Rossweisse mengingat dia sempat melihat foto keluarga Naruto yang hanya ada Naruto seorang diri bersama ayah dan ibunya.

"Aku ingat Naruto-kun itu punya Kakek dan Nenek, jadi kamar yang terisi adalah tiga, mungkin yang terakhir itu tempat Sasuke-san, Issei-san dan Shikamaru-san tidur jika mereka menginap di sini," jawab Akeno yang memang sudah berteman dengan Naruto sejak kecil, tapi dia sendiri tidak tahu apakah benar salah satu kamarnya itu di gunakan untuk itu.

Arthuria yang sudah selesai merapikan diri sejak tadi hanya diam sambil memerhatikan foto Naruto yang terpajang di kamar ayah dan ibu Naruto, kenapa mereka di sana karena di kamar tersebut mereka membersihkan diri atas perintah Naruto dan ia juga memberi izin untuk menggunakan pakaian ibunya.

"Itu mungkin saja, pasalnya di lantai tiga aku melihat sebuah ruangan dengan game konsol dan tempat Gym, sementara lantai empat adalah Rooftop," timpal Xenovia yang memang sempat ke lantai 3 dan 4.

"Agar lebih jelas sebaiknya kita langsung saja bertanya kepada orangnya," ujar Tsubaki yang sudah selesai merapikan dirinya dengan pakaian ibu Naruto yang memang di izinkan oleh Naruto menggunakannya.

Mereka pun sama-sama keluar dari kamar ibu dan ayah Naruto karena mereka mandi di kamar tersebut. Saat mereka sudah mencapai ruang tamu mereka bisa melihat Naruto, Chouji dan Sasuke yang tengah melakukan pemasangan Equipment pada senjata-senjata yang mereka ambil dari truk, Shikamaru dan Issei tengah membuat sesuatu dengan alat-alat yang mereka ambil di Supermarket.

Para perempuan juga bisa melihat beberapa senjata tajam yang di sandarkan di kursi sofa serta senjata berbentuk seperti palu dan senjata berat yang belum pernah mereka lihat.

"Ah kalian sudah selesai?" tanya Naruto ketika melihat ada gerakan menuruni tangga. "Ha'i, Arigato atas pakaian dan kamar mandinya, Naru-kun," ucap Kuroka sambil tersenyum begitu juga Naruto.

"Ya, sama-sama. Nanti malam kalian tidurlah di kamar ayah dan ibuku, serta kamar di sebelah yang biasa di gunakan kakek dan nenekku dan kamar satu lagi yang biasa di tinggali mereka ketika menginap di sini," ujar Naruto sambil menunjuk Shikamaru, Issei, dan Sasuke sesaat.

Semua perempuan kecuali Kuroka melirik Akeno karena perkataan Akeno benar, padahal mereka baru saja akan bertanya. Rossweisse yang melihat dapur Naruto pun berjalan ke sana dan melihat isi kulkas Naruto yang terdapat banyak bahan makanan, "Xenovia-san, Irina-san, kemari dan bantu aku, kita akan memasak makan malam untuk kita semua," ujar Rossweisse. Xenovia dan Irina yang mendengar itu menoleh ke arah Rossweisse dan berjalan cepat ke dapur untuk membantunya.

Hinata, Rias, Sona, Ino, dan Tsubaki yang melihat layar hologram terdapat foto keluarga mereka dan beberapa potong gambar dari CCTV, rekaman ponsel, ATM, pantulan cermin yang bergerak mundur.

Mereka tahu bahwa itu pertanda Shikamaru tengah mencoba mencari mereka, tapi sepertinya tidak membuahkan hasil sedikit pun.

"Sugoii! Banyak sekali ada senjata!" kagum Koneko sambil berjalan cepat ke samping Naruto dan melihat-lihat senjata yang ada di dekatnya.

"He-Hey! Anak kecil tidak boleh dekat-dekat! Ini bahaya!" bentak Sasuke menatap tajam Koneko, sementara yang di tatap tajam membalasnya dengan menjulurkan lidah ke arah Sasuke.

"Aku sudah tahu! Jangan memperlakukanku seperti anak kecil! Kakak pantat ayam!" ujar Koneko membuat alis Sasuke berkedut kesal, Naruto yang mendengar itu tertawa begitu juga yang lainnya.

"Hey! Siapa yang mengajarimu berkata seperti itu kepada orang dewasa! Namaku itu Uchiha Sasuke! Pemuda tertampan di sekolah," ujar Sasuke dengan narsis. Koneko yang mendengar itu memasang wajah jijik dan ingin muntah, Koneko merapatkan dirinya ke Naruto, "Padahal lebih tampan Naruto-nii di bandingkan Senpai... Narsis amat," gumam Koneko membuat hati Sasuke seperti tertusuk panah.

"Ngomong-ngomong bagaimana kabarmu? Apakah airnya segar?" Koneko yang mendengar itu tersenyum dan mengangguk.

"Aku baik-baik saja, airnya sungguh nikmat sekali Naruto-nii, dan kamar mandinya sungguh besar sekali!" jawab Koneko membuat Naruto tersenyum kecil.

"Baguslah kalau begitu, maafkan aku karena belum memiliki baju untuk anak seusiamu jadi kau harus memakai pakaian sekolahmu lagi."

"Tidak apa," jawab Koneko sambil tersenyum, "Ngomong-ngomong, Naruto-nii bagaimana kabarnya? Beberapa bulan ini Naruto-nii tidak pernah datang berkunjung... Bahkan saat aku datang ke sini Naruto-nii tidak ada? Bahkan aku sampai meminta Nee-chan, Naruto-nii juga tidak bisa datang," tanya Koneko sambil mengembungkan pipinya.

"Aku sehat dan baik-baik saja... Dan untuk itu maafkan aku ya, Koneko-chan... Aku memang sibuk beberapa bulan ini karena pekerjaanku," jawab Naruto sambil mengelus rambut putih Koneko sesaat.

"Dia sangat ingin bertemu denganmu, maka dari itu aku sering mengajakmu untuk berkunjung tapi kau tidak bisa datang karena kesibukanmu itu," ucap Kuroka yang duduk di samping Koneko. "Begitu ya... Maaf ya, Koneko-chan. Aku itu sibuk berlatih senjata-senjata seperti ini serta sibuk berlatih berkendara, jadi aku tidak bisa berkunjung," ucap Naruto meminta maaf kembali.

"Souka... Pantas saja Naruto-nii bisa menggunakan senjata tembak sama berkendara ekstrem seperti tadi," gumam Koneko paham. "Bukan hanya itu, Naruto-kun itu adalah Ghost Thief loh, Koneko-chan," ucap Akeno yang di belakang Koneko membuat perempuan berambut putih tersebut terkejut dan menatap Naruto tidak percaya.

"Na-Naruto-nii adalah Ghost Thief?!" kejut Koneko. "Bukan hanya dia, Shikamaru-san, Sasuke-san dan Issei-san itu juga Ghost Thief," ujar Kuroka membuat Koneko melihat ke arah Sasuke yang tersenyum seperti mengatakan

'Kau dengar?'

"Apa pantat ayam itu bisa melakukan tugas dengan benar?" hati Sasuke seketika kembali tertusuk sesuatu yang tak kasap mata ketika mendengar perkataan pedas Koneko.

"Gh! Tentu saja aku bisa! Asal kau tahu aku yang menghapus jejak mereka di kantor kepolisian dan aku juga yang ikut membantunya mencuri!" balas Sasuke dengan ekspresi kesal.

"Heh... Apa yang dikatakannya itu memang benar?" tanya Koneko dengan ekspresi tidak percaya. "Itu memang benar, dia juga membantu Naruto dalam menjalankan tugas Ghost Thief, kau pasti sering melihat Ghost Thief itu ada dua mobil kan? Satunya mobil seperti Naruto dan satunya lagi adalah Mobil Nissan Skyline, satunya lagi itu adalah Sasuke," bukan Sasuke yang menjawab, melainkan Shikamaru.

"Aku memang sering mendengar ada dua mobil yang menjadi Ghost Thief, tapi aku tidak tahu jenis mobil Baka-senpai." Shikamaru yang mendengar itu terkena damage kecil di dadanya. Dia lupa kalau Koneko itu masih anak Sekolah Menengah dan dia adalah perempuan, wajar saja dia tidak tahu.

"Benar juga... Maafkan aku, tapi yang pasti Sasuke ini ikut membantu Naruto menjadi Ghost Thief," ucap Shikamaru membuat Koneko menggumam pelan.

"Shikamaru, apa kau bisa menemukan keluarga kita?" tanya Hinata dan di jawab gelengan oleh Shikamaru. "Aku tidak bisa menemukan tanda-tanda mereka di seluruh Tokyo," jawab Shikamaru.

"Maka dari itu aku sedang membuat alat untuk merantas sinyal di menara BTS nanti, dengan itu aku bisa merantas menara-menara lainnya yang ada di seluruh Jepang dan dengan itu aku bisa melakukan pencarian di seluruh Jepang. Tapi dari jangkauan Tokyo aku belum bisa menemukan mereka... kemungkinan besar mereka sudah keluar ke tempat aman yang lainnya, kemungkinan lainnya juga... Mereka telah...," gantung Shikamaru sambil menundukkan kepalanya.

"Itu masih kemungkinan bukan? Kita masih bisa berharap bahwa keluarga kita berhasil keluar dari bencana ini, maka dari itu kita harus cepat-cepat pergi dari sini," ujar Naruto serius, "Tokyo sudah tidak aman lagi, para JSDF masih berusaha membombardir setiap Zombie yang bergerak keluar Tokyo, mereka bergerak Yokohama, Saitama dan lain-lain beberapa Zombie biasa dan yang lainnya memang mati... Tapi Zombie berbentuk kadal, dan Cyclops memiliki insting untuk bertahan dari serangan berbahaya yang melayang ke kepala mereka."

"Cyclops?" tanya Issei dengan tanda tanya besar begitu juga yang lainnya. "Kau ingat dengan Zombie berkepala enam tentakel tajam dengan satu mata besar? Itu nama untuk Zombie itu," jawab Naruto membuat Issei terdiam sesaat lalu menggumam pelan ketika mengingat Zombie yang di maksud Naruto.

"Lalu bagaimana dengan Cyclops yang terkena panah bajamu itu, Naruto-kun?" tanya Arthuria karena mengingat jika Zombie itu mati dengan mudah karena panah baja. "Itu karena waktu itu serangan kita lebih cepat dari reaksinya, apa lagi Reaksinya terganggu karena dia terjatuh maka dari itu dia bisa terkena panah baja," jawab Naruto lalu menarik Iron Sight dari Sniper Paladin HB50 yang dia pegang.

"Ok, semua telah di set dengan sempurna, sekarang ayo kita mulai pembagian senjatanya untuk kalian latihan."

Disclaimer :

Naruto Masashi Kisimoto

High School DxD Ichiei Ishibumi

Summary : Dunia Modern, dimana Dunia sudah maju dengan teknologi canggih yang membantu peradaban manusia, namun karena saking canggihnya, para ilmuwan nekat membuat sesuatu yang berbahaya, namun saat melakukan tes terjadi kesalahan besar. Sesuatu yang berbahaya itu menyebar dengan cepat membuat panik orang-orang dan mereka harus melarikan diri untuk bertahan hidup, akankah peradaban manusia musnah sepenuhnya?

This Is The End the World?

Pair :

... x ...

Genre : Alternative Universe, Adventure, Fantasy, Horror, Tragedy, Mystery, Humor, Sci-Fi, Ecchi, Future.

Rate : M

Warning : Typo, OC, OOC, AU, Multichap, Alur berantakan dan Lain-lain, Smart!Naru.

" Naruto " berbicara

" Naruto " batin

["Naruto."] bicara melalui walkie talkie

["Naruto."] balasan dari Walkie talkie.

.

Chapter 6 : Day 1 Survivor

.

Setelah mengatakan itu Naruto meletakkan Paladin HB50 yang dia pegang di samping puluhan senjata yang sudah di set.

"Ok... Tsubaki-san, apa kau bisa menggunakan Remington 870 yang aku berikan waktu itu?" tanya Naruto dan di jawab anggukan oleh Tsubaki. "Dia bahkan berhasil membunuh Zombie yang masuk ke dalam bus dengan santai," ujar Sona membuat Naruto tersentak.

"E-Eh?! Ada zombie yang berhasil masuk ke bus kalian?" tanya Naruto dan di jawab anggukkan oleh orang-orang yang ada di bus. "Dia masuk melalui pintu atap bus yang belum kau tutup, untungnya Xenovia, Irina dan Hinata menahannya jadi Tsubaki bisa membunuhnya dengan mudah," jawab Akeno membuat Naruto melihat ke arah Hinata.

"Souka? Jadi kau sudah mulai berani ya, Hinata-chan? Baguslah kalau begitu," gumam Naruto sambil tersenyum membuat pipi Hinata merona.

"Sekarang mayatnya sudah di letakan di samping halaman, dan Sakura serta Shizuka-sensei tengah mencari penawar untuk mencegah cairan hijau mereka jika terkena kita," ucap Kuroka membuat Naruto menggumam pelan.

Setelah itu ia pun mengambil sebuah senjata Shotgun berwarna putih, "Ok, Tsubaki-san, Sakura, Chouji dan Xenovia-san, kalian akan mempelajari senjata ini," ucap Naruto menunjukkan senjata di tangannya, "Nama senjata ini adalah Saiga 12, aku sudah melakukan full set up pada senjata ini dengan long barrel, Grip, Extended Mag, Max Load, dan Scope Sight Reflex," ucap Naruto.

"Kenapa aku ingin kalian membawa senjata ini? Karena kalian memiliki tenaga yang kuat dan aku yakin kalian bisa menahan guncangan senjata ini saat di tembakkan," ucap Naruto lalu memberikan mereka masing-masing Shotgun Saiga kecuali Xenovia karena memasak di dapur.

"Pelajari itu besok."

"Ha'i!" jawab Tsubaki dan Chouji mengangguk. "Lalu Xenovia dan Sakura, kalian akan membawa QSZ-92 sebagai Secondary Weapon kalian, dan Melee Weapon kalian adalah ini...," ucap Naruto sambil menunjuk sebuah pedang besar dan sebuah senjata kapak dan palu.

"Eh! Yang benar aku boleh membawa itu?" tanya Xenovia dengan antusias.

"Kenapa kami harus membawa banyak senjata Naruto? Dan lagi kenapa aku harus membawa senjata seperti kapak dan palu ini?" tanya Sakura sambil menunjuk senjata di tangan kanan Naruto.

"Sebagai perempuan tenagamu lebih besar dari yang lainnya, dan lagi Strike Aquarius ini memiliki ledakan gelombang begitu di hantam kan, semakin keras di benturkan bagian palunya, semakin keras gelombangnya," ucap Naruto sambil menyerahkan senjata berbentuk kapak dan palu bernama STRIKE AQUARIUS kepada Sakura.

Sakura yang mendengar itu terdiam sambil menerima senjata palu dan kapak itu lalu menarik gagangnya hingga akhirnya gagang senjata tersebut memanjang.

"Ini adalah CRAKER GIGA VOLT, memang pedangnya cukup terlihat aneh, tapi mungkin senjata ini bisa di gunakan untuk membunuh Zombie-Zombie kadal, mengingat tajamnya pedang ini dan bisa membelah Baja dengan mudah," ucap Naruto sambil menunjukkan pedang besar di tangannya kirinya, "dan sepertinya kau menyukai pedang ini Xenovia-san... Apa kau mau membawanya?"

"Jika boleh aku mau!" jawab Xenovia dan setelah itu Naruto mengayunkan pedang tersebut hingga berubah menjadi sebuah tongkat karena sisi mata pedangnya terlipat dengan tabung kecil mengeluarkan cahaya merah di sisi lain pedang.

"Kau mendapatkannya," ucap Naruto lalu meletakkan senjata tersebut, "Kuroka-chan, apa kau sudah terbiasa menggunakan SG-550 itu?" tanya Naruto.

"A-Ah! Ha'i, aku sudah terbiasa," jawab Kuroka sambil mengangguk. "SG-550 tidak akan bisa di gunakan lagi, senjata yang akan kau buat latihan adalah senjata ini," ucap Naruto sambil menunjukkan senjata di tangannya

"Namanya adalah Swordfish, Attachment yang aku pasang di senjata ini adalah Suppresor, Scope Holographic, High Caliber, Hybrid Mag dan senjata ini memiliki mode Penta Brust."

Naruto pun memberikan senjata tersebut kepada Kuroka dan di terima tanpa ragu olehnya, "Ini lebih ringan dari sebelumnya," gumam Kuroka lalu mencoba gaya menggunakan senjata tersebut.

"Sugoii! Nee-chan kau bisa menggunakannya?" tanya Koneko dan mendapat tepukan pelan dari Naruto di kepalanya. "Belum, maka dari itu dia akan berlatih besok," ucap Naruto lalu mengelus rambut putih Koneko.

"Lalu Ino, kau akan mempelajari ini...," gantung Naruto sambil menunjukkan senjata di tangannya. "E-Eh?! Aku juga?" tanya Ino tidak percaya bahwa dia akan membawa senjata api.

"Tentu saja, kau tidak akan hanya duduk diam, kau juga akan membawa senjata untuk membantu kita, agar kau juga bisa bertahan hidup, jika kita terpisah siapa yang akan melindungimu nanti?" jawab Naruto lalu menyerahkan senjata di tangannya kepada Ino, "Ini adalah Peacekeeper MK2, Attachmentnya Scope Holographic, Suppresor, High Caliber, Grip, Fast Mag dan Rapid Fire," ucap Naruto sambil menunjukkan masing-masing attachment.

"Besok kau akan mempelajarinya dan ingat dunia yang sekarang sudah berubah, jadi kita semua juga harus berubah," ucap Naruto membuat Ino terdiam, "maaf jika perkataanku sedikit keras tapi ketahuilah... Kita semua ingin hidup dan keluar dari sini mencari tempat aman, dan kita juga belum bertemu dengan orang tua kita, bisa saja mereka selamat dan berlindung di tempat aman."

"Dan di luar sana banyak Zombie yang menghalangi kita, jika kita ingin melewati mereka... Kita tidak boleh hanya diam... Kau paham kan?" Ino yang mendengar itu mengangguk pelan, "baguslah."

"Lalu Irina-san, kau akan berlatih Vesper besok," ucap Naruto membuat Irina melihat ke arah Naruto sambil menunjukkan senjata di tangan kanannya.

"Ini Vesper, attachment yang di set up oleh Sasuke adalah Scope Reflex, FMJ, Long Barrel, Fast Mag, Grip, dan Rapid Fire," ucap Naruto menunjukkan senjata di kirinya.

"Apa kau siap?"

"Mau tidak mau, kita harus siap bukan?" tanya Irina membuat Naruto tersenyum lalu meletakkan senjata yang dia pegang ke tempatnya kembali. "lalu Melee Weapon yang akan kau bawa adalah... Ini," ucap Naruto menunjukkan sebuah pedang berwarna abu-abu.

"Namanya adalah Axe Solfarancs, ini seperti Katana biasa sih tapi bahannya lebih bagus lagi, kau tidak keberatan bukan?"

"Ha'i!" jawab Irina lalu kembali fokus memasak. "Berikutnya Sona-san, kau akan berlatih Weevil, senjata ini adalah perubahan dari P90, attachment senjata itu adalah Scope Holograpich, FMJ, Grip, Extended mag dan Suppresor, guncangannya juga tidak terlalu besar jadi cocok untuk perempuan sepertimu," ucap Naruto memberikan senjata seperti P90 bernama Weevil.

"Kenapa kau harus menjelaskan semuanya?" tanya Sona sambil menerima senjata tersebut. "Agar kalian tahu apa saja yang menempel di senjata kalian ini," jawab Naruto sambil tersenyum tipis.

"Lalu, Arthuria-senpai," panggil Naruto sambil menunjukkan dua Sniper yaitu Paladin HB50 serta Locus, "aku tahu kau memiliki mata yang tajam, maka dari itu kau aku sarankan mempelajari Sniper, tapi Sniper mana yang akan kau pilih?" tanya Naruto.

"... Aku akan memilih Sniper bernama Paladin itu, Naruto-kun," jawab Arthuria dan mendapat senyuman dari Naruto. "Baiklah," ucap Naruto mengambil Paladin HB50 dan memberinya kepada Arthuria.

"Senjata ini telah aku pasang Attachment berupa High Caliber 2, Stabilizer, dan Suppresor, lalu Senpai... Kau akan membawa pedang bernama BLADE REAXIS ini," ucap Naruto sambil menunjukkan pedang dengan sarung hitam di sertai beberapa lampu berwarna ungu.

Arthuria pun menerima senjata tersebut dan menariknya dari sarungnya hingga terlihat bilah pedang berwarna hitam dan terdapat lubang kecil memanjang di tengah bilah pedang.

"Bagaimana?" Arthuria pun memasukkan pedang tersebut kembali ke sarungnya dan mengangguk sambil tersenyum kecil. "Arigato Naruto-kun," ucap Arthuria tersenyum dan di balas anggukan oleh Naruto.

"Terakhir Akeno-chan, Hinata-chan dan Rias-chan ya...," gumam Naruto sambil melihat ke arah Akeno, Hinata dan Rias.

"Untuk Akeno-chan aku sudah menyiapkan KN-44 dengan Attachment Scope Holograpic, FMJ, Fast Mag, Grip, dan Suppresor," ucap Naruto sambil menunjukkan senjata seperti AK tapi lebih modern lalu memberikannya kepada Akeno, "Senjata keduamu sudah aku berikan saat di bus, dan karena pelurunya sedikit kau akan membutuhkan Melee Weapon yaitu BLADE DIAFROST ini," lanjut Naruto sambil mengambil pedang panjang bersarung hitam dan menyerahkannya kepada Akeno.

Akeno pun menerima pedang tersebut dan menarik pedang tersebut dari sarungnya hingga terlihat bilah pedang berwarna hitam dengan sisi tajam pedang berwarna Silver.

"Sugoii... Arigato Naruto-kun," ucap Akeno sambil tersenyum manis kepada Naruto. "Sama-sama," jawab Naruto lalu melihat ke arah Rias dan Hinata yang tersisa

"bagaimana denganmu Issei? Apa yang akan kau berikan kepada Rias-chan?" gumam Naruto lalu bertanya kepada Issei.

"Kenapa kau bertanya padaku?" tanya Issei. "Karena kau pacarnya," jawab Naruto singkat.

"Kenapa kau tidak melakukan itu kepada Sasuke tadi? Dia kan pacar Sakura?" tanya Issei kembali. "Aku sudah membicarakannya kepada Naruto jadi dia tidak perlu bertanya lagi," jawab Sasuke, Issei yang mendengar itu mendesis pelan lalu melihat senjata yang di kumpulkan.

"Berikan Rias-chan itu Naruto."

"GKS ya?" tanya Naruto mengambil senjata seperti UMP, "Baiklah, Rias-chan... Ini adalah GKS senjata Submanchine gun, attachment senjata ini adalah Scope Reflex, Suppresor, dan Grip, guncangan senjata ini tidak terlalu keras jadi mungkin cocok untukmu," ucap Naruto menunjukkan senjata GKS kepada Rias.

"Cobalah untuk membiasakan dirimu dengan ini," ucap Naruto sambil menyerahkan senjata tersebut kepada Rias. "Ba-Baik," gumam Rias menerima senjata tersebut.

"Benar juga, kau sudah memiliki Senjata kedua yaitu Glock-17 ya, besok kau berlatihlah untuk menembak dengan pistol lebih dahulu, setelah itu baru gunakan senjatamu ini." Rias yang mendengar itu kembali mengangguk.

"Selanjutnya Hinata-chan ya," gumam Naruto lalu menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal, "Sasuke kau akan membawa senjata apa?"

"Aku akan membawa Thales F90 dengan set M203," jawab Sasuke membuat Naruto melirik ke arah Shikamaru dan Issei. "Kalau kalian berdua?" tanya Naruto lagi.

"Aku cukup sederhana dengan Senjata Kuda sudah cukup untukku," jawab Shikamaru sambil fokus membuat alat untuk merantas sinyal menara BTS. "Aku akan menggunakan AUG milik Sasuke dengan tambahan peluru SG-550, kasihan bukan senjata seperti itu tidak di pakai, apa lagi ada M203," jawab Issei membuat Naruto menyentuh dagunya berpikir.

"Jika begitu, kau akan berlatih HK416 besok Hinata-chan," ucap Naruto sambil mengambil HK416 berwarna hitam, "attachment di senjata ini adalah Scope Holograpic, Grip, Exetended Mag, dan Fast Mag," lanjut Naruto lalu memberikan senjata tersebut kepada Hinata.

Naruto pun mengambil satu pistol revolver berwarna putih, bentuknya seperti pistol revolver hitamnya namun dengan Laras lebih kecil.

"Dan ini adalah Heavy Revolver : The Executioner, dengan 8 peluru," ucap Naruto memperlihatkan pistol di tangannya serta mengayunkannya ke samping hingga mag bulat pistolnya keluar dan memperlihatkan 8 peluru karet, lalu memasukkan magnya kembali.

"Setiap senjata yang akan kalian gunakan untuk latihan telah kami ganti dengan peluru karet, jadi kita tidak akan langsung menggunakan peluru asli langsung saat latihan untuk menjaga amunisi kita sampai kita bisa pergi dari sini."

"Peluru karet? Apa di brangkas-brangkas itu terdapat peluru karet?" tanya Sona aneh jika senjata-senjata seperti ini juga terdapat peluru karet. "Tidak, aku memiliki sekitar dua kotak kayu besar penuh peluru karet di kamarku," jawab Naruto sambil melipat tangannya di dada.

"Karena menjalankan tugas berbahaya kami sering berlatih perang di beberapa tempat termasuk di sini, dan Tou-chan dan Kaa-chan tidak mempermasalahkannya karena aku meminta ini sebagai permainan saja," jawab Naruto sambil tersenyum karena waktu itu dia berhasil menipu orang tuanya dengan mengatakan ini hanya sebagai permainan untuk menghibur diri dan adrenaline, tapi kenyataannya mereka bermain seperti itu untuk melindungi diri dari para orang jahat yang tak segan-segan merebut nyawanya.

"Sepertinya menjadi anak orang kaya enak ya? Apa pun yang di minta akan di kabulkan?" Naruto yang mendengar itu mengangkat kedua bahunya. "Tidak juga, terkadang apa yang aku minta tidak pernah di kabulkan jadi tidak semua orang kaya bisa mendapatkan apa pun," balas Naruto.

"Lalu bagaimana dengan mobilmu itu?" tanya Tsubaki. "Etto... Bisa di bilang mobil itu aku beli dengan uang dari tugas kami menjadi Ghost Thief," jawab Naruto sambil tersenyum canggung, dan langsung mendapat tarikan di kedua pipinya dari Akeno dan Kuroka.

"Itu artinya kau tidak sepenuhnya memberikan kepada yang membutuhkan."

"Ittettette... A-Aku menggunakan uang mereka untuk berbuat baik, apakah salah?" tanya

"Naruto-nii! Apa aku tidak dapat senjata? Aku ingin membantu!" pinta Koneko membuat Sasuke mantapnya tajam. "Hey! anak kecil tidak boleh menggunakan senjata api! Jika kau terluka bagaimana!" bentak Sasuke dan mendapat juluran lidah dari Koneko.

"Naruto-nii kan bisa mengajariku! Dasar pantat ayam bodoh!"

"Apa kau bilang?!"

"Gomen, Koneko-chan aku tidak bisa memberikan senjata-senjata berat ini kepadamu, tapi jika kau ingin berlatih aku akan meminjamkan Airsoft Gun ku yang biasa aku gunakan untuk latihan," ucap Naruto membuat Koneko tersenyum dan mengangguk.

"Hey, kau serius Dobe? Dia masih anak kecil!" bentak Sasuke. "Tepatnya kelas 2 Sekolah menengah," balas Naruto sambil melirik Sasuke.

"Jangan khawatir, lagi pula dia akan mempelajari Airsoft dan aku tidak akan memberikan senjata asli padanya," jawab Naruto sambil mengelus rambut Koneko.

"Baiklah kita hentikan dulu pembahasan kalian dengan makan malam bersama! Kami sudah memasakkan makanan untuk kita semua!" ujar Rossweisse membawakan masakan yang dia masak bersama Xenovia dan Irina ke meja makan.

"Sugoii! Kelihatan lezat sekali!" gumam Chouji dengan mata membinar. "Aku akan pergi mengecek mobilku, Kalian semua makanlah dan isi energi kalian karena sejak tadi kalian semua belum pada makan bukan? Kalian tidak perlu takut jika ada Zombie yang datang karena mereka tidak akan bisa menerobos pelindung rumah ini jadi kalian tidak perlu khawatir, Shikamaru, Issei dan Sasuke kalian sebaiknya juga," ucap Naruto sambil berdiri dari duduknya dan berniat pergi, namun tangannya di tahan oleh Kuroka.

"Begitu juga denganmu! Kau juga harus istirahat dan makan bersama kami!" Naruto yang mendengar itu menggeleng pelan lalu mengelus rambut Kuroka. "Tidak sekarang, aku akan menyusul kalian nan... ti." Perkataan Naruto seketika terganggu dengan dimana dia terhuyung sedikit ke belakang namun dengan sigap Sasuke menahannya.

"Sebaiknya kau istirahat juga Dobe, kau sudah melakukan banyak pekerjaan di banding kami... Kau yang lebih membutuhkan istirahat." Naruto yang mendengar itu melenguh pelan lalu duduk di sofa kembali sambil menyandarkan kepalanya di bagian belakang Sofa.

"Itu benar, kau lebih banyak mengeluarkan tenaga di bandingkan kami, jadi kau perlu istirahat masalah mobilmu itu bisa kau selesaikan besok," timpal Sakura membuat Naruto mengangguk pelan.

Shikamaru yang melihat Naruto seketika teralih ke holorgramnya di mana akhirnya ia mendapatkan tanda-tanda dari orang-orang yang di cari.

"Minna! Lihat!" ucap Shikamaru membuat semua berkumpul, beberapa potongan CCTV dari berbagai tempat pun muncul dan memperlihatkan rekaman keluarga mereka yang panik berlarian saat para Zombie menyerang.

Dari rekaman bandara, terlihat ayah dan ibu Naruto yang dalam keadaan panik bersama beberapa masyarakat, mereka tidak tahu harus pada ke mana hingga beberapa Intel muncul dan langsung menggiring keluarga Naruto beserta masyarakat ke dalam lapangan pesawat.

Tak lama setelah itu muncul dua pesawat berukuran besar mendarat di lapangan bandara bersama beberapa helikopter tempur, pesawat besar itu pun membukakan pintu yang langsung di masuki para masyarakat termasuk ayah dan ibunya.

"I-Itu pesawat Ark," gumam Naruto dengan tatapan terkejut. "Pesawat Ark?" tanya Kuroka mewakili yang lainnya.

"Pesawat tempur besar JSDF... Biasanya di gunakan untuk mengantar alat-alat besar, tapi sekarang pesawat itu di gunakan untuk menyelamatkan warga," jawab Naruto sambil terus fokus.

Para Intel yang menahan para Zombie yang semakin banyak pun memutuskan masuk ke dalam pesawat lalu pergi dari sana entah ke mana karena ketika titik merah tersebut terbang ke arah timur dan menghilang karena jangkauan sinyal tidak mencukupi.

Beberapa rekaman lain juga menunjukkan keluarga Shikamaru, Rias, Sona dan lain-lain tengah panik karena serangan Zombie berhasil di amankan oleh beberapa Intel dengan pesawat besar yang sama serta di lindungi beberapa helikopter dan menghilang entah ke mana.

Semua yang melihat itu menitikkan air mata mereka dan tersenyum senang karena keluarga mereka semua selamat, Naruto yang melihat itu juga tersenyum senang sambil menangis karena harapannya untuk hidup tidak sia-sia.

"Syukurlah... Syukurlah mereka baik-baik saja," lirih Hinata sambil menutup mulutnya dan sambil menangis, Rias yang juga menangis bahagia memeluk Hinata untuk melampiaskan rasa senang mereka.

"Padahal ada pesawat penyelamat sebesar itu... Bagaimana bisa kita tidak melihatnya?" gumam Sasuke sambil bertanya kepada Shikamaru. "Rekaman ini ada saat kita masih ada di atap sekolah dan berniat akan turun ke bus, wajar saja kita tidak melihatnya karena kita fokus membunuh para Zombie selain itu gedung-gedung di sekitar kita menghalangi pandangan kita," jawab Shikamaru lalu mengetik-ngetik hologramnya dan memperbesar layar peta dan terlihatlah beberapa tempat yang memiliki bentuk seperti bekas tertindih dan ukurannya sama seperti pesawat Ark.

"Ini...," gumam Sona menyipitkan matanya.

"Ini adalah bekas kapal Ark yang mendarat, di sekitar sekolah kita tidak ada bekas kapal Ark artinya selama kita pergi tidak ada kapal yang datang, jadi kita beruntung pergi dari sana karena tidak ada regu penyelamat," jawab Shikamaru lalu menekan beberapa tombol lagi hingga terlihat waktu pada setiap bekas pendaratan pesawat Ark.

"Di jalur menuju rumahku ternyata terdapat pesawat Ark yang mendarat, andai saja kita lebih cepat dan memikirkan rencana untuk pergi dengan bus di awal, kita pasti sudah keluar dengan pesawat Ark dan pergi ke tempat aman," lanjut Shikamaru lalu menyandarkan tubuhnya di sofa, "Dan ini juga penyebab kenapa di jalur rumahku terdapat banyak Zombie."

"Tapi kita juga tidak menyangka bahwa saat di atap ada yang akan menyelamatkan kita terkena serang bukan?" Shikamaru mengangguk, dia juga tidak menyangka hal itu.

Keputusan mereka pergi ke atap juga benar, hanya saja kesialan datang kepada mereka hingga membuat mereka terjebak di atap apalagi saat salah satu tentara mengatakan tidak ada yang bisa menyelamatkan mereka dan itu membuat mereka kesal, hingga akhirnya mereka pun memikirkan rencana untuk bertahan dan keluar dari bencana ini dengan mencari senjata-senjata ini serta mencari tempat aman dengan alatnya.

Dia sendiri... Tidak lebih tepatnya mereka juga bahkan tidak tahu dan tidak menyangka jika JSDF menggerakkan pesawat Ark untuk menyelamatkan masyarakat. Jika saja dia bawa laptopnya tadi pagi dan melacak tempat aman hingga menemukan pesawat Ark, mereka pasti sudah keluar dari sini.

"Hah... Yang berlalu biarlah berlalu," ucap Naruto membuat semua menoleh ke arahnya, "kita juga tidak tahu bahwa JSDF menggerakkan pesawat Ark, tapi lihat sisi baiknya...," gantung Naruto.

"Dengan itu kita memiliki tekad untuk bertahan dan keluar dari bencana ini, serta keyakinan bahwa keluarga kita selamat juga tak sia-sia," lanjut Naruto, "jadi jangan terlalu di pikirkan, yang terpenting sekarang kita tahu bahwa keluarga kita selamat begitu juga beberapa masyarakat, dengan itu sudah cukup membuat kita yakin bahwa pasti ada tempat aman dari bencana ini, dan yang perlu kita lakukan adalah mencarinya."

"Mungkin mencarinya akan menghabiskan waktu lama, tapi itu tidak masalah, yang terpenting sekarang adalah kita harus terus bertahan dari bencana ini sampai kita menemukan tempat tersebut dan pergi ke sana bersama, dan mungkin saja di perjalanan nanti kita akan menemukan banyak rintangan maka dari itu mulai besok kita akan memulai latihan kita agar kita semua bisa sampai di tempat tujuan dengan selamat." Semua yang mendengar perkataan Naruto tersenyum, apa yang di katakannya memang benar.

Mereka tidak tahu apa yang akan terjadi ke depannya, bisa saja banyak Zombie yang menyerang mereka nanti, dan tidak mungkin 5 laki-laki melindungi mereka semua sekaligus.

Karena itu mereka harus cepat menguasai senjata mereka agar bisa membantu mereka agar bisa keluar bersama dari bencana ini menuju tempat aman.

"Ha'i-Ha'i, selain itu kita juga harus menjaga kesehatan tubuh kita, jika salah satu dari kita sakit bisa gawat, apalagi orang penting sepertimu, Danchou-kun," ucap Kuroka sambil duduk di samping Naruto dan menarik pipi Naruto membuatnya mengaduh kesakitan.

"Da-Danchou?"

"Itu memang panggilan yang cocok untukmu, kita membutuhkan ketua di grup ini, apa lagi kau sering memimpin dalam bertugas bukan? Kau juga tadi yang banyak bicara mengenai menyusun rencana kita, mengarahkan kita semua serta memberi kami tujuan untuk hidup, semua itu membuktikan kau cocok untuk menjadi ketua kami," ucap Shikamaru sambil tersenyum.

"Aku tidak mau, kau saja yang menjadi ketua Shikamaru!"

"Maaf, kami semua setuju dengan itu, Naruto-san... Kau adalah orang yang cocok untuk menjadi ketua di grup ini," ucap Sona membuat Naruto melenguh pelan. "Nah, Danchou-kun, karena kau sudah bekerja keras kau pasti lelah bukan? Biarkan aku menyuapimu makan," ucap Akeno yang sudah mengambilkan makanan untuk Naruto lalu menyuapi Naruto, "Ayo buka mulutmu."

"Ah! Akeno-nee curang! Aku juga ingin menyuapi Naruto-nii!" ujar Koneko membuat Akeno tertawa halus. "Itu benar! Aku juga ingin menyuapinya!" ujar Kuroka sambil mengembungkan pipinya.

"He-Hey, aku bisa makan sendiri, kalian tidak perlu menyuapiku," ucap Naruto berusaha menenangkan mereka, "lagi pula lelahku langsung hilang begitu melihat Tou-chan dan Kaa-chan selamat, jadi biarkan aku makan sendiri ya."

"Tidak mau!" balas Akeno, "kau sudah merahasiakan sesuatu yang besar dari kami, kau juga membahayakan nyawamu tanpa memikirkan kami, dan kau selalu membuat kami khawatir, jadi anggap saja ini balasan dari semua perbuatanmu itu!"

"U-Ugh...," lenguh Naruto, mendengar apa yang di katakan oleh Akeno benar-benar membuatnya merasa bersalah kembali, dia harus menebus kesalahannya. Mungkin dengan menerima suapan mereka adalah bayaran yang tidak terlalu buruk dari pada mereka marah dan melakukan hal yang lebih parah, "ba-baiklah... Aku akan menerima suapan kalian," jawab Naruto dengan rona di pipinya.

Akeno, Koneko dan Kuroka mendengar itu tersenyum senang, Naruto pun membuka mulutnya dan menerima suapan dari Akeno karena sejak tadi dia menyodorkan makanan padanya dengan pipi merona.

"Bagaimana Naruto-kun?"

"U-Um... Enak sekali, ini enak sekali, Rossweisse-sensei," jawab Naruto lalu melihat ke arah Rossweisse. "Benarkah syukurlah kalau begitu, ayo kalian semua kita juga makan," ajak Rossweisse dan di balas anggukan oleh yang lainnya.

"Kau jadi terlihat seperti Playboy Naruto, karena berhasil memikat 3 perempuan," ucap Sakura membuat wajah Naruto, Akeno, Kuroka, Koneko dan Arthuria merona.

"Aku bukan seperti itu?!"

Sasuke, Shikamaru dan Sasuke yang melihat Naruto di suapi oleh Akeno, Kuroka dan Koneko terdiam dengan alis berkedut kesal, "Sialan kau Naruto?!"

"Ah benar juga, sambil makan bukankah kau sudah berjanji akan menceritakan pekerjaanmu itu? Aku ingin dengan dari awal," pinta Kuroka, membuat Naruto menggumam pelan.

"Baiklah, aku juga sudah berjanji, tapi tidak dalam keadaan makan, setelah selesai aku akan menceritakannya kepada kalian."

.

.

Setelah selesai makan, Naruto pun menceritakan awal mula mereka bertugas hingga sekarang, dan tentu saja Naruto juga menceritakan masa traumanya saat pertama kali bertugas.

Mereka kecuali Shikamaru, Sasuke, dan Issei terkejut karena tugas mereka cukup berbahaya, saking berbahayanya Naruto yang tidak ingin membunuh harus membunuh dan menyebabkan trauma.

Tapi trauma tersebut sirna dan membuat Naruto jadi tak segan-segan membunuh karena kematian teman masa kecilnya. Kuroka dan Akeno memang tahu bahwa Naruto pernah tidak mau keluar dari kamar jadi itu penyebabnya dan kenapa Naruto tampak tak segan-segan membunuh adalah karena penyebab kematian teman masa kecilnya.

Setelah semua di ceritakan oleh Naruto, mereka pun memutuskan untuk beristirahat, kecuali Shikamaru dan Issei yang masih bekerja membuat alat perentas sinyal, Chouji berjaga di lantai dua dalam keadaan tertidur, Sasuke yang berjaga di lantai 3 dalam keadaan tertidur di sofa tempat mereka biasa bermain game konsol dan Naruto yang duduk di kursi lantai empat sambil melihat ke arah kota yang tampak kacau dengan kebakaran yang semakin besar.

Naruto yang mendengar suara langkah kaki menoleh dan ia melihat Arthuria yang berdiri di pintu dengan gaun tidur berwarna biru, rambut yang di ikat Cepol kuda membuatnya terlihat semakin cantik.

Naruto yang melihat itu sedikit merona lalu kembali melihat ke arah kota, "Bukankah kau harusnya tidur, Arthuria-senpai... Besok kau akan berlatih dan membutuhkan tenaga jadi jangan memaksakan dirimu," ucap Naruto.

Arthuria yang mendengar itu mendekati Naruto, "Aku hanya tidak bisa tidur, bukankah kau juga harus tidur Naruto-kun? Kau bilang kita akan aman di sini bukan? Kau juga harus beristirahat."

Naruto yang mendengar itu tetap melihat ke varah Kota, "Aku hanya mengawasi siapa tahu ada pesawat Ark yang datang menyelamatkan kita," jawab Naruto, "tapi sepertinya tidak ada."

"Mungkin daerah sini sudah tidak ada pesawat penyelamatan lagi dan lebih memprioritaskan tempat lainnya," ucap Arthuria dan di balas anggukan pelan oleh Naruto. "Itu mungkin saja, tapi tidak ada salahnya berharap jika ada pesawat Ark datang menyelamatkan bukan?" balas Naruto dan di balas anggukan Arthuria.

"Ano... Naruto-kun," panggil Arthuria membuat Naruto melihat ke arahnya, "b-begini... A-Aku ingin mengatakan sesuatu padamu..."

"T-Tentang apa?" tanya Naruto dengan rona tipis di pipinya, "apa yang ingin dia katakan?! Apakah pernyataan cinta?! Mustahil?! Dalam situasi begini itu mustahil?!" lanjutNaruto dalam batin.

"Etto... aku ingin bilang... Terima kasih karena telah menyelamatkanku saat di sekolah," ucap Arthuria sambil sedikit membungkukkan badannya kepada Naruto lalu berdiri tegak kembali, "saat kau masuk ke ruang Kendo dan berkata ada bencana, aku berpikir kau hanya bercanda tapi kau menarikku keluar menyelamatkan diriku dan membuktikan perkataanmu, kau juga menyelamatkanku dari ketidakberanianku saat membunuh Zombie anak kecil, serta Zombie kadal yang datang saat kita menyelamatkan Koneko-san... Arigato, Naruto-kun."

"Ah... Jadi mengenai itu," gumam Naruto lalu tersenyum, "Aku pikir apa, jadi dia ingin berterima kasih tentang itu."

"Tidak masalah, nyawa Senpai itu sangat penting bukan, maka dari itu aku menyelamatkan Senpai, dan juga Senpai sendiri bilang bahwa Senpai ingin hidup dan bertemu keluarga Senpai," jawab Naruto lalu melihat ke arah kota.

"Tapi... Kenapa saat di sekolah itu... Kau tidak menyelamatkan teman-temanmu? Dan membiarkan mereka mati?" Naruto yang mendengar itu terdiam lalu menghembuskan nafasnya.

"Seperti yang aku katakan saat di atap... mereka tidak bisa di percaya... Mereka bahkan menjadikan teman mereka umpan untuk menyelamatkan diri, bagaimana jika kita juga di jadikan umpan oleh mereka, orang-orang seperti itu pantas menerima karma karena keegoisan mereka," jawab Naruto sambil menyandarkan dagunya di lipatan tangan yang dia letakan di pagar pembatas Rooftop.

"Jika begitu, Kenapa kau yakin aku tidak akan melakukan hal seperti itu kepada kalian?" tanya Arthuria kembali. "Itu karena Senpai berbeda, saat kita pergi ke atap Senpai tidak ada sedikitpun mementingkan diri sendiri, Senpai juga menyelamatkan teman-temanku, Senpai bahkan datang menyelamatkanku juga bukan? Itu membuktikan bahwa Senpai adalah orang baik," jawab Naruto sambil menatap serius Arthuria lalu tersenyum tulus membuat pipi Arthuria memerah.

"S-Souka...," gumam Arthuria dan di balas anggukan oleh Naruto yang kembali melihat ke arah Kota, Arthuria pun ikut melihat ke arah kota dan duduk di samping Naruto.

Beberapa jam berlalu, Naruto pun tertidur di pagar pembatas sementara Arthuria masih terjaga, mata hijau Arthuria bergulir ke arah Naruto yang terlelap dari tidurnya dan itu membuat wajah Naruto tampak lucu dan tampan di matanya.

Rona merah muncul di pipi Arthuria, walau pertama kali bertemu entah kenapa jantungnya berdetak kencang ketika melihat wajah Naruto. Tanpa di sadar, Arthuria mendekatkan wajahnya ke wajah Naruto dan mencium pipi Naruto tanpa membangunkannya.

Setelah beberapa menit, Arthuria pun menjauhkan jaraknya dari Naruto sambil menyentuh bibirnya dengan wajah memerah.

"A-Apa yang aku lakukan...," batin Arthuria lalu pergi meninggalkan Naruto yang terlelap di pagar pembatas dengan kepala bersandar di lipatan tangannya.

.

.

Senin, 27 Juli 2056

Kediaman Naruto

06.00 AM

.

Pagi hari pun tiba, namun kekacauan di kota tetap terjadi, para penghuni yang tinggal di rumah Naruto pun terbangun ketika mendengar suara mesin yang berisik.

Shikamaru dan Issei yang tertidur di sofa juga langsung tersentak dari tidur dan mengucek mata mereka. "Kuso... Siapa sih yang membuat suara berisik itu?" gumam Issei kesal.

Mereka pun memutuskan untuk keluar melihat siapa yang membuat berisik dengan suara mesin hingga ia melihat Naruto keluar dari garasi dengan membawa beberapa sasaran manusia dari kayu yang di tanamkan di halaman.

"Naruto, kau tidak tidur semalaman?" tanya Shikamaru bersama Issei mendekati Naruto. "Ah, Shikamaru, Issei, Ohayo," sapa Naruto sambil melanjutkan kegiatannya memasang papan sasaran.

"Tentu saja aku tidur semalam, dan aku bangun pagi-pagi sekali membuatkan sasaran untuk latihan mereka nanti."

"Lalu di mana kau mendapatkan semua bahan ini?" tanya Issei sambil melihat dan mengecek papan sasaran yang terbuat dari kayu.

"Dari rumah-rumah tetangga sekitar yang tidak berpenghuni lagi," jawab Naruto membuat Issei dan Shikamaru terkejut. "Tu-Tunggu? Kau mematikan barriernya seorang diri dan pergi keluar sama mencari bahan-bahan ini? Bagaimana jika ada Zombie yang masuk?" tanya Shikamaru.

"Tenang saja baka, aku melakukan ini bersama Sasuke dan Chouji, mereka saat ini di garasi membantuku membuat papan sasaran ini lebih banyak," ucap Naruto membuat Shikamaru dan Issei melihat ke garasi di mana terdapat Chouji dan Sasuke yang tengah membuat papan sasaran.

"Hahh... Jadi begitu," gumam Shikamaru sambil memijit keningnya, dia lupa kalau ada Sasuke dan Chouji di sini. "Lalu bagaimana denganmu?" tanya Naruto sambil melirik Shikamaru.

"Ada yang harus di tambah dan lagi, aku harus melakukan tes dengan alatnya agar melihat hasilnya apakah berhasil atau tidak," jawab Shikamaru membuat Naruto menggumam pelan.

"Souka... Melakukan tes ya," gumam Naruto sambil menyentuh dagunya, "Shikamaru, berapa besar alat yang kau buat itu?"

"Hm? Sebesar koin, atau bisa di bilang sebesar alat yang biasa kita gunakan untuk mematikan mesin mobil."

"Sebesar itu ya."

"Apa tidak bisa kita lakukan tes dengan sinyal yang ada di rumah Naruto ini, dengan mematikan sinyalnya habis itu tempeli alat ini untuk melakukan hack merentas sinyal?" tanya Issei.

"Tidak, sistem menara BTS sangat berbeda, jadi kita harus langsung melakukan percobaan pada menaranya," jawab Shikamaru sambil mengelus dagunya, "aku memiliki beberapa alat yang biasa kita gunakan dulu seperti Drone, dan Mobil mainan yang biasa kita gunakan untuk memata-matai... Apakah kita gunakan itu saja?"

"Tidak, aku dan Sasuke akan melakukannya," jawab Naruto membuat Shikamaru dan Issei melihat ke arahnya. "Kau serius?" tanya Shikamaru.

Naruto mengangguk sebagai jawaban, "Kita sudah memiliki senjata hebat bahkan dengan peluru ledak, jadi tidak perlu khawatir, lagi pula kau misa merentas senjata-senjata di sekitar sana jika ada Zombie yang mendekati kami bukan? Jika kita ingin selamat setidaknya kita harus mengambil sedikit risiko."

Shikamaru yang mendengar itu menghembuskan nafasnya, "Kau memang selalu begitu, Naruto."

"Yosh, sudah selesai, sekarang tinggal mengecek mesin mobilku," gumam Naruto sambil meregangkan badannya. "Dobe, kami harus letakkan ini di mana?" tanya Sasuke setengah berteriak.

"Letakkan saja di samping lemari alat-alat," jawab Naruto dan di balas anggukan Sasuke yang langsung meletakkan papan sasaran yang dia buat bersama Chouji lalu kembali membuat yang baru.

"Kalau begitu kami akan masuk dan melanjutkan tugas kami," ujar Shikamaru berbalik masuk ke rumah Naruto bersama Issei untuk melanjutkan tugas mereka.

"Ya," jawab singkat Naruto yang berjalan ke mobilnya lalu membuka kap depan mobilnya, dan terlihatlah sebuah mesin mobil dengan empat kipas, serta dua kotak hitam dengan selang ke dalam mesin.

Naruto pun masuk ke dalam mobil dan menghidupkan mesin mobilnya, hingga terdengarlah suara engine mobil yang cukup berisik.

.

Shikamaru dan Issei yang baru saja masuk ke dalam rumah, langsung di sambut dengan para Akeno, Kuroka, Rossweisse dan Shizuka yang memasak di dapur, serta Sona, Tsubaki, dan Sakura yang baru turun tangga.

"Ohayo, Shikamaru-san, Issei-san," sapa Akeno dan di balas lambaian tangan sesaat oleh Shikamaru dan Issei, "kalian habis dari mana? Dan suara berisik apa itu?"

"Sasuke dan Chouji tengah membuat papan sasaran untuk latihan kalian, sementara Naruto saat ini tengah memeriksa mesin mobilnya apakah baik-baik saja atau tidak," jawab Shikamaru duduk di sofa dan melanjutkan tugasnya bersama Issei.

"Pantas saja pagi-pagi sudah berisik," gumam Sona sedikit kesal karena tidurnya sedikit terganggu tapi dia tidak bisa marah karena mereka memang harus berlatih hari ini, lebih awal lebih bagus bukankah begitu.

Beberapa menit berlalu, perempuan yang lain pun keluar dari kamar dan turun ke ruang makan untuk sarapan, Arthuria yang baru saja selesai turun dari tangga sedikit tersentak ketika Naruto datang mendekati Shikamaru.

"Hey, Shikamaru, di mana oli yang kau belikan untukku?" tanya Naruto. "Kalau itu...," gumam Shikamaru sambil membongkar tas belanja di sampingnya mencari oli mobil untuk Naruto.

Naruto yang tak sengaja melihat Arthuria pun tersenyum sementara Arthuria memerah wajahnya karena mengingat kejadian kemarin di mana dia mencium pipi Naruto saat tidur.

"Ohayo, Arthuria-senpai, Minna-san juga," sapa Naruto. "O-Ohayo," balas Arthuria lalu berjalan cepat meninggalkan Naruto membuat sebelah alis Naruto terangkat.

"Ada apa dengannya?" batin Naruto bertanya-tanya. "Naruto, ini oli mu!" ucap Shikamaru menyerahkan Dua Oli yang sama kepada Naruto.

"Thanks, Shikamaru," ucap Naruto sambil menerima dua oli yang di serahkan oleh Shikamaru, "baiklah kalian semua dengar, setelah selesai sarapan kita akan memulai latihan kita."

"Hari pertama bertahan hidup, di mulai hari ini."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

TBC

Note : Huft akhirnya selesai juga.

Bagaimana menurut kalian? Well di sini memang tidak terlalu banyak scene seperti chapter sebelumnya, karena mereka sudah sampai di Home Base yang artinya mereka akan aman-aman saja.

Seperti yang kalian baca, saya sudah membagikan setiap orang senjata kecuali Rossweisse dan Shizuka yang akan fokus dalam kendaraan besar serta pengobatan.

Lalu, Pesawat Ark, pesawat ini mirip seperti kapal di Film "2012", tapi yang membedakannya pesawat ini punya mesin baling-baling seperti pesawat dari Helicarrier ( Marvel )

Lalu luas daerah Tokyo itu melingkupi Kota Tokyo dan Shinjuku, dan di sekitar dua kota ini masih luas ada Prefecture Saitama, Yokohama dan lain-lain.

Osaka dan Kyoto masih jauh sekali dari Tokyo.

Lalu kenapa Light Machine Gun tidak di berikan siapa pun? Light Manchine Gun adalah senjata tembak dengan kapasitas peluru banyak, mereka di gunakan saat terdesak saja.

Lalu apakah itu Attachment? Itu adalah alat-alat yang biasa di pasang untuk menambah akurasi, damage dan lain-lain, seperti FMJ ( Full Metal Jacket ), ingin lebih tahu? Tanyakan Mbah Google.

Beberapa Karakter juga saya berikan Melee Weapon di antaranya Akeno, Naruto, Arthuria, Xenovia, Irina dan Sakura. Lalu di mana karakter yang lain? Akan muncul nanti.

Btw saya mau mengatakan sesuatu yang mungkin gak masuk akal di cerita ini tapi menurutku ini penting agar kalian tahu.

Setiap Cerita, Anime dan Chapter, pasti ada karakter yang memegang peran, contoh halnya, misalkan Animenya Naruto, tapi ada episode di mana Naruto tak di perlihatkan dan lebih menonjol ke karakter sampingan.

Itu wajar karena tidak harus Naruto saja yang selamanya di perlihatkan, paham? Jika Naruto saja yang di perlihatkan kalian pasti akan spontan bertanya di mana karakter lainnya?

Kalian itu orang mudah di tebak -_-. Ini salah itu salah, apa pun di lakukan pasti salah di mata beberapa orang, kalian yang hanya bisa bacot mengatakan cerita orang jelek cobalah untuk membuat cerita sendiri, bagus atau tidak.

Hah... Sudahlah.

Lalu ini yang terakhir, saya meminta kalian kembali untuk melakukan Vote untuk adegan akhir cerita nanti. Kalian ingin Itachi hidup atau Mati? Itu saja

Ok sampai bertemu di cerita lainnya, jaga kesehatan kalian, tetap di rumah saja, semoga puasa kalian lancar dan jangan berbuat masalah di situasi begini -_-.

Saya 4kagiSetsu undur diri Jaa~ Na~

4kagiSetsu Out