Kyoto, Mount Sajikigatake
.
Kyoto, sebuah kota besar selain Tokyo, Osaka dan beberapa kota lainnya, kota Kyoto saat ini di tutup oleh dinding dari kota Otsu sampai Kota kecil Susami, dari ujung ke ujung. Di atas dinding terdapat berbagai meriam dengan ratusan pasukan yang berjaga, begitu juga di bawah dinding di mana terdapat banyak tank dengan ratusan pasukan yang berjaga, dan membuat dinding lapisan ke dua dari pohon-pohon yang di tebang dan di buat runcing.
Di dalam kota, terlihat beberapa pasukan tengah mengarahkan beberapa masyarakat untuk masuk ke sebuah truk pengangkut yang biasanya di gunakan untuk membawa pasukan dan kali ini di gunakan untuk membawa masyarakat ke tempat aman.
Swusshh!
Dari atas langit terlihat tiga pesawat Ark datang dan terbang menuju sebuah pegunungan Sajikigatake yang ada di tengah Prefecture Kyoto. Gunung tersebut juga di kelilingi oleh gunung Kurama, gunung Misao usui Kurama, gunung Atago, dan gunung Monako.
Di kaki gunung Hiei terdapat 5 lubang besar yang langsung di masuki oleh pesawat Ark, dan sampai di dalam terlihatlah sebuah markas besar yang di lapisi banyak baja dan beberapa kendaraan berlalu lalang menurunkan masyarakat, markas tersebut sangat besar bahkan hingga dalam puncak gunung Sajikigatake.
Para dokter bergerak ke sana kemari mengurus mereka yang lansia dan yang tidak bisa bergerak ke tempat khusus untuk mereka, beberapa polisi dan tentara juga mengarahkan mereka ke sebuah kamar yang mereka telah sediakan untuk mereka serta membagikan bekal kebutuhan untuk mereka makan dan lain.
Tap!
Dan di antara kerumunan tersebut, terlihat pria berambut kuning tengah gelisah seperti mencari seseorang namun ia tidak menemukannya sampai sekarang, pria tersebut mengacak rambutnya frustrasi, melihat seorang tentara lewat ia mencoba bertanya padanya.
"Permisi nak! Bolehkah aku bertanya? Apakah ada seorang anak bernama Namikaze Naruto kemari?"
"Maaf pak, kami sedang sibuk! Kami tidak ada waktu untuk mencarinya!" balas tentara tersebut mempercepat langkahnya membuat pria tersebut semakin frustrasi.
"Naruto, kau di mana?" desisnya benar-benar gelisah.
"Oi! Minato!" pria berambut kuning itu seketika menoleh dan ia melihat seorang pria berambut hitam di kuncir datang ke arahnya bersama pria berambut kuning di ikat pony tail. "Shikaku! Inoichi!" seru pria bernama Minato tersebut lalu memeluk Shikaku sesaat, begitu juga dengan Inoichi.
"Kalian ternyata ada di sini?"
"Ya, saat mendengar ledakan di kota aku dan istriku keluar dan melihat apa yang terjadi, dan kami tidak menyangka ada penyerangan Zombie di dekat rumahku, aku dan istriku pergi melarikan diri ke tempat aman dan tak lama setelah itu datang pesawat Ark dan beberapa helikopter menyelamatkan kami dan membawa kami kemari," jawab Shikaku menjelaskan kronologinya.
"Aku tak jauh beda dengan Shikaku, tapi penyerangan Zombienya saat aku mengurus tanaman-tanamanku," timpal Inoichi. "Lalu bagaimana dengan Fugaku? Hiashi-san dan Chouza?" tanya Minato kembali.
"Fugaku tengah mengurus para polisi untuk ikut membantu para tentara dan Intel jika ada Zombie yang menyerang ke kota, sementara Chouza membantu membagikan kebutuhan ke masyarakat yang membutuhkan, sementara Hiashi-san aku tidak melihatnya sejak tadi," jawab Shikaku membuat Minato memijit keningnya yang terasa pening.
Sementara itu di sebuah ruangan khusus terlihat terdapat beberapa pemimpin kota tengah berkumpul di meja bundar besar yang berisi peta dan mereka tampak membicarakan sesuatu.
"Situasi saat ini, di Tokyo para Zombie sudah mulai bergerak menyerang Prefecture Saitama, Tochigi dan Ibaraki, Prefecture Tokyo telah hancur dan di penuhi oleh Zombie. Sementara di Nagano saat ini tengah melakukan pengungsian dengan bantuan dari Indonesia serta mereka juga mencoba menahan beberapa Zombie yang sudah tersebar di sana. Di Shizuouka saat ini juga tengah melakukan pengundian dengan kapal laut dengan bantuan dari Vietnam, di Aichi dan Nagoya juga saat ini tengah melakukan pengungsian dengan bantuan dari Singapura, sementara Fukui dan Shiga sudah di kosongkan," ujar seseorang sambil memberikan penjelasan bagaimana situasi yang terjadi saat ini.
"Kemungkinan besar dalam waktu dua hari, Zombie dari Nagoya akan sampai kemari, untuk kota lainnya saat ini tidak ada konfirmasi bahwa ada zombie jadi kita tidak bisa menarik para polisi di sana untuk meminta bantuan," lanjut orang tersebut.
"Apakah kalian tidak bisa membunuhnya?! Walau dengan bantuan sepertinya mereka semakin banyak saja?!" teriak salah satu pimpinan tampak kesal. "Dari laporan yang kami dapat, mereka tidak bisa di bisa di bunuh jika di tembak di kepala, tapi ada beberapa Zombie yang juga memiliki pertahanan kuat di kepala mereka, bahkan Rocket Launcher, Laser Plasma, bom dari pesawat dan runtuhan gedung tak cukup untuk membunuh mereka," ucap orang tersebut membuat para pemimpin terkejut.
"Selain itu, kami baru saja mendapat laporan baru bahwa jika terkena cairan hijau yang keluar dari Zombie maka kita akan menjadi Zombie dan setiap Zombie yang memiliki bentuk aneh memiliki serangga setiap mereka di bunuh dari mulut mereka, lalat itu akan keluar dan mencari wadah baru lagi dengan kata lain jika kita tergigit olehnya maka habis sudah," ucap orang tersebut sambil membaca data kertas di tangannya.
"Apa-apaan dengan Zombie ini... Apa tidak ada cara untuk membunuh mereka," desis pemimpin perempuan sambil menggigit jempolnya. "Tuan Presiden kita harus meminta bantuan Amerika untuk menjatuhkan bom nuklir ke tempat-tempat tersebut, dengan begitu mereka pasti musnah!" ujar pemimpin lain kepada seorang pria dua yang duduk tenang di dampingi dua pengawal.
"Apa?! Kau jangan bercanda sialan?! Apa kau ingin semua yang kita bangun hancur rata begitu saja?! Apa kau sudah kehilangan akalmu?!" bentak pemimpin perempuan sambil mencengkeram kerah pemimpin yang menyarankan menjatuhkan bom nuklir.
"Cukup Hiroshima dan Nagasaki saja yang menerima bom nuklir?! Tidak ada lagi bom nuklir?!"
"Lalu bagaimana cara kita mengalahkan mereka?!"
"Pasti ada cara lain?!"
"Ibiki-san!" panggil sang Presiden membuat orang yang membacakan data berdiri tegak.
"Ha'i!"
"Apakah di tempat ini ada orang bernama Azazel? Dan juga Carikan aku nama Namikaze Minato, Nara Shikaku, dan Yamanaka Inoichi, jika mereka ada di sini panggilkan mereka kemari."
"Azazel? Pencipta setiap senjata di Jepang itu?" tanya salah satu pemimpin. "Benar sekali, dia berencana mempublikasikan senjata buatannya dua hari yang lalu, tapi karena bencana ini senjatanya pasti terjebak dan di ambil beberapa orang," jawab sang presiden.
"Jika dia di sini kita mungkin bisa meminta bantuannya untuk membuat alatnya kembali yang bisa membunuh mereka."
"lalu tiga orang yang kau sebutkan tadi itu... Apa mereka bisa berguna?"
"Tuan Presiden, nama yang Anda sebutkan ada di sini," ucap Ibiki membuat president menoleh ke arahnya. "Bisakah kau menjelaskan informasi tentang mereka?" pinta Presiden
"Siap, laksanakan!"
"Namikaze Minato, mantan anggota tentara saat muda di Amerika saat umurnya 29 tahun dengan pangkat Letnan dan menjadi pelindung Presiden Amerika serikat, dia memiliki banyak catatan yang luar biasa di mana dia membunuh 300 pasukan seorang diri," ujar Ibiki menjelaskan informasi tentang Minato, "pada umur 35 tahun dia berhenti menjadi pelindung presiden Amerika dan bekerja di perusahaan bersama istrinya dan ia memiliki satu anak bernama Namikaze Naruto, dan saat ini anaknya belum ada di sini."
"Nara Shikaku, mantan tentara berpangkat mayor dari JSDF sekaligus otak paling penting yang di miliki JSDF dulu, dia mampu membuat rencana matang dan menangkap beberapa penjahat dengan rekannya Yamanaka Inoichi, ia adalah pemecah kode yang selalu di kirimkan para penjahat melalui kode Morse, dan mengirim kode Morse palsu hingga akhirnya para penjahat tertangkap," ucap Ibiki menjelaskan tentang informasi Shikaku dan Inoichi, "mereka juga di karunai satu anak, tapi anak mereka juga tidak ada di sini."
"Mereka pasti ada di suatu tempat, dan berharaplah mereka selamat," gumam Presiden sambil sedikit menundukkan kepalanya, "sekarang panggilkan mereka, kita akan membahas cara membunuh makhluk ini?!"
"Siap! Laksanakan!"
.
Disclaimer :
Naruto Masashi Kisimoto
High School DxD Ichiei Ishibumi
Summary : Dunia Modern, dimana Dunia sudah maju dengan teknologi canggih yang membantu peradaban manusia, namun karena saking canggihnya, para ilmuwan nekat membuat sesuatu yang berbahaya, namun saat melakukan tes terjadi kesalahan besar. Sesuatu yang berbahaya itu menyebar dengan cepat membuat panik orang-orang dan mereka harus melarikan diri untuk bertahan hidup, akankah peradaban manusia musnah sepenuhnya?
This Is The End the World?
Pair :
Naruto x ...
Sasuke x Sakura
Issei x Rias
Shikamaru x ...
Genre : Alternative Universe, Adventure, Fantasy, Horror, Tragedy, Mystery, Humor, Sci-Fi, Ecchi, Future.
Rate : M
Warning : Typo, OC, OOC, AU, Multichap, Alur berantakan dan Lain-lain, Smart!Naru.
" Naruto " berbicara
" Naruto " batin
["Naruto."] bicara melalui walkie talkie
["Naruto."] balasan dari Walkie talkie.
.
Chapter 8 : Day 2 Survivor Part 1
.
Rabu, 29 Juli 2056
Kediaman Naruto
05.00 AM
.
Di pagi subuh yang tenang, di kamar dari rumah besar yang di lindungi Barrier berwarna biru, terdapat seorang pemuda yang tertidur lelap dengan dua perempuan yang tidur di setiap sisinya serta selimut tebal menutupi tubuh mereka.
Salah satu perempuan di sana melenguh pelan dan membuka matanya memperlihatkan mata berwarna ungu yang indah, hal pertama yang dia lihat adalah wajah seorang pemuda dengan guratan seperti kumis kucing yang tertidur lelap.
"Naruto-kun...," batinnya.
Perempuan tersebut mengerjapkan matanya perlahan hingga ia teringat kejadian di mana ia tak sengaja menemukan sebuah cokelat di kulkas Naruto dan mencobanya, dan ternyata cokelat tersebut berisi alkohol yang membuatnya mabuk.
Ia pun menaikkan sedikit selimutnya dan melihat tubuhnya yang memakai pakaian tidur yang tipis hingga dalamannya terlihat, pipinya sedikit merona karena tidak menyangka ia akan melakukan itu bahkan sampai menggoda Naruto, dan pada akhirnya berakhir dengan tidur bersamanya.
Ia sedikit kecewa karena padahal dia berharap dengan begitu dia akan mendapatkan Naruto, tapi rasa lelah membuatnya ingin tidur saja. Lalu kembali melihat ke arah Naruto yang masih tertidur, lalu perlahan naik ke atas tubuh Naruto dan mengelus pipinya dengan lembut agar tidak membangunkannya.
Namun saat akan bergerak ke atas tubuhnya, ia melihat seorang perempuan berambut hitam di ikat yang juga tidur lelap di samping Naruto bahkan sambil memeluk lengan Naruto dan menyandarkan kepalanya pada bahunya.
Melihat itu alis perempuan yang akan naik ke atas tubuh Naruto berkedut, ia pun menggeser tubuh perempuan tersebut hingga melepaskan pelukannya pada lengan Naruto lalu kembali menaiki tubuh Naruto.
Baginya ini adalah kesempatan emas untuk mendapatkan Naruto serta menyatakan perasaannya, ia sudah mencintai Naruto sejak dulu, dia berusaha membuat Naruto sadar akan perasaannya tapi dia sama sekali tidak menyadarinya karena ia tidak pernah mengenal arti kata cinta, dan juga karena perempuan yang tadi ikut tidur di sampingnya yang selalu menghalangi dirinya dan dia juga tahu bahwa ia memiliki perasaan terhadap Naruto.
Tapi ia tidak akan membiarkannya mendahuluinya mau itu teman terdekatnya sekali pun, karena baginya Naruto hanya lah untuknya. "Naruto-kun...," gumam perempuan tersebut sambut mengelus pipinya dengan lembut serta mendekatkan wajahnya ke arah Naruto.
Perempuan berambut hitam lain yang awalnya lelap sedikit terganggu karena posisinya yang tidak nyaman, ia membuka matanya hingga memperlihatkan mata emas miliknya, ia lalu mengerjap pelan dan melihat ke sisi lain dan betapa terkejutnya dia ketika melihat temannya akan mencium Naruto.
"Berhenti!" ujarnya langsung melompat seperti kucing lalu mendorong temannya tersebut hingga jatuh dari atas kasur begitu juga dirinya, perempuan bermata emas langsung menindih perempuan yang akan mencium Naruto dan menahan ke dua tangannya sambil saling menggenggam satu sama lain.
Mata emasnya seketika melebar karena melihat pakaian perempuan di bawahnya, alisnya sedikit berkedut ketika melihat itu, "Kau! Kenapa pakaianmu seperti itu hah?!" ujarnya.
"Kau juga sama!" perempuan berambut emas yang mendengar itu melihat tubuhnya sendiri dan ia terkejut karena dirinya juga memakai pakaian yang tak jauh beda, "ba-bagaimana bi..." Perempuan tersebut seketika terdiam ketika mengingat bahwa ia melihat perempuan di bawahnya ini memakan cokelat di kulkas Naruto membuatnya juga ingin merasakannya, dan seketika pikirannya terasa bercampur aduk.
"Kau selalu saja mengganggu, menyingkir dariku!" ujar perempuan bermata ungu mendorong perempuan di atasnya hingga mereka sama-sama berdiri. "Tak akan aku biarkan kau merebut First Kiss Naru-kun, Akeno-chan!" ujar perempuan tersebut sambil menggenggam tangan perempuan yang berniat mencium Naruto bernama Akeno.
"Karena akulah yang akan mendapat First Kiss Naru-kun!"
"Ck! Justru tidak akan aku biarkan kau mendapatkan Naruto-kun lebih dulu, Kuroka-chan!" balas Akeno sambil mendorong Kuroka yang menindihnya, "karena aku lah yang akan mendapatkan Naruto-kun, karena aku mencintainya!"
"Begitu juga denganku!" balas Kuroka, "tidak akan aku biarkan kau mendahuluiku!"
"Nghhhhh!" geram mereka berdua sambil saling mendorong satu sama lain. "Apa yang baru saja kalian katakan?" Akeno dan Kuroka seketika terkejut dan mereka melihat Naruto yang terduduk dengan ekspresi terkejut.
Akeno yang melihat itu melepaskan Kuroka lalu kembali ke atas kasur dan menindih Naruto. "A-Akeno-chan?!" kejut Naruto dan wajah Naruto semakin memerah ketika menyadari bahwa dia masih menggunakan baju tidur tipisnya dan itu membuatnya memejamkan matanya.
"Seperti yang kau dengar Naruto-kun! Aku mencintaimu! Jadilah kekasihku!" ujar Akeno membuat Naruto benar-benar terkejut dengan ungkapan perasaannya. Kuroka yang tak mau kalah ikut naik ke kasur dan menggeser Akeno, "Minggir! Naru-kun! Aku juga mencintaimu sejak dulu! Jadilah kekasihku!" ujar Kuroka yang semakin membuat ia terkejut.
"Tidak akan aku biarkan! Akulah yang akan menjadi kekasih Naruto-kun!"
"Aku yang akan menjadi kekasih Naru-kun!"
Mereka sama-sama melempar tatapan tajam satu sama lain. "H-Hey, kalian tenanglah," pinta Naruto sambil masih memejamkan matanya. "Diam! Naruto-kun/Naru-kun?! Siapa yang akan kau pilih?!" ujar mereka kompak membuat Naruto meneguk ludahnya.
Ini terlalu tiba-tiba baginya, ia tidak menyangka bahwa dua teman masa kecilnya memiliki perasaan terhadapnya, ia mengira bahwa mereka telah memiliki orang yang mereka sukai, tapi ternyata orang itu adalah dirinya, mereka berdua mencintainya dan mereka ingin dirinya memilihi satu di antara mereka.
Memilih salah satu di antara adalah pilihan sulit karena akan menyakiti hati salah satu di antara mereka, apa lagi jika ia tidak memilih mereka. Dia belum mengetahui apakah ia memiliki perasaan terhadap mereka atau salah satu dari mereka karena ia tidak berpikir sejauh itu dan ia hanya berpikir ingin mereka selamat bersamanya.
"G-Gomen... Akeno-chan... Kuroka-chan," ucap Naruto meminta maaf membuat mereka berdua tersentak, "untuk saat ini aku belum bisa membalas perasaan kalian... Aku tidak tahu apakah aku mencintai kalian atau salah satu di antara kalian... Jadi... Aku ingin menyadari dulu perasaanku... Ini terlalu tiba-tiba... Jika sudah, barulah aku akan menjawab pernyataan kalian."
Akeno dan Kuroka yang mendengar itu sama-sama terdiam, memang benar ini terlalu tiba-tiba dan akan menjadi pilihan sulit untuk Naruto. Apa lagi dia belum memiliki perasaan terhadap mereka karena ia menganggap mereka hanya lah teman dekatnya sejak kecil, jadi itu merupakan hal wajar karena tidak terduga.
Jadi yang bisa mereka lakukan adalah menunggu hingga perasaan Naruto siap, dan selagi menunggu mereka akan mendekatkan diri mereka, menumbuhkan perasaan suka dan cinta ke dalam hati Naruto. Itulah rencana mereka.
"Naruto-kun, kami akan menunggu jawabanmu," jawab Akeno membuat Naruto bernafas lega, "dan selagi menunggu jawabanmu, akan aku pastikan kau mencintaiku," lanjut Kuroka sambil mencium pipi Naruto membuat wajah Naruto memerah.
"Ahh! Hentikan! Akulah yang akan membuat Naru-kun! Mencintaiku!" ujar Kuroka sambil memeluk kepala Naruto dan membuatnya tenggelam di belahan dadanya. "Kau pikir aku akan membiarkannya, Kuso-neko! Tidak akan aku biarkan!" balas Akeno ikut memeluk kepala membuatnya terapit oleh dua aset besar.
"Aku juga tidak akan membiarkanmu, Sadako!" mereka kembali saling melempar tatapan tajam, sementara Naruto mencoba melepaskan diri dari dua aset besar yang membuatnya susah bernafas.
"Kami-sama... Kenapa nasibku seperti ini."
"Kalau begitu! Ayo kita bertanding! Siapa pun yang bisa memberikan pelayanan kepada Naruto sambil membersihkan tubuhnya dialah yang menang!"
"Aku terima tantanganmu!"
"Jangan membuat tantangan yang tidak-tidak! Baka!"
.
Setelah kejadian Absurd tersebut, Naruto mengeluarkan mereka dari kamarnya dan untungnya tidak ada yang terbangun karena keributan di kamarnya. Akeno dan Kuroka yang di keluarkan dari kamar mengembungkan pipi mereka lalu kembali ke kamar mereka seharusnya sebelum ada yang melihat mereka dengan pakaian seperti itu karena mereka dalam keadaan mabuk.
Naruto yang ada di kamar menghembuskan nafasnya pelan lalu berjalan ke arah kamar mandinya untuk membersihkan diri lebih awal untuk menyiapkan alat latihan yang telah ia buat bersama teman-temannya kemarin malam.
Setelah selesai Naruto keluar dari kamarnya dan ia melihat Sona, Tsubaki dan Hinata yang tengah memasak di dapur, "Ohayo, Sona-san, Tsubaki-san, Hinata-chan," sapa Naruto sambil ke arah dapur dan membuka kulkasnya.
"Ohayo, Naruto-san/Naruto-kun!" sapa mereka lalu fokus memasak kembali. "Jadi kali ini tugas kalian memasak?" tanya Naruto sambil melihat isi kulkasnya hingga ia menemukan semangkuk berisi permen cokelat dengan nama, Whisky Chocolate.
Melihat itu Naruto langsung meletakkannya di tempat aman serta memberi label 'jangan di malam'. "Ya, kali ini giliran kami, kami tidak bisa membiarkan mereka saja yang membuat makanan, jadi kami sepakat untuk bergilir," jawab Sona membuat Naruto tersenyum tipis.
"Jika begitu aku tidak sabar ingin merasakan makanan kalian," ucap Naruto terdengar biasa namun pipi mereka seketika merona hanya dengan mendengar kata itu. Tak lama setelah itu ia melihat Sasuke turun dengan Sakura yang ada di gendongannya, setelah sampai lantai dua ia pun menurunkan Sakura lalu berciuman sesaat.
Naruto yang melihat itu menghembuskan nafasnya, "Teme! Bersihkan tubuhmu! Jika sudah bangunkan Chouji!" ujar Naruto sambil melirik Chouji yang tertidur lelap sambil bersandar dengan dinding di lantai dua.
"Hn."
Ia pun lalu berjalan ke arah Shikamaru dan Issei yang tertidur di sofa, "Hey! Ayo bangun! Ini sudah pagi!" ujar Naruto menepuk mereka hingga terbangun dari tidurnya. "Huuuuuaaam... Mendokusei, kau mengganggu tidurku saja, Naruto," ujar Shikamaru sambil meregangkan badannya.
"Ini masih terlalu pagi kan untuk berangkat? Kita masih memiliki waktu," ujar Issei berusaha tidur kembali namun di batalkan Naruto dengan cara memukul kepalanya. "Jangan tidur lagi, sebaiknya kau bersiap karena aku akan mengajarkan mereka dengan singkat lalu kita berdua akan pergi mencari tempat penjualan cairan Nitrogen," ucap Naruto lalu melihat ke arah alat Shikamaru.
"Apakah alatmu sudah selesai Shikamaru?"
"Aku sudah memperbaikinya, tapi kita harus mencobanya kembali, ada kemungkinan aku tidak bisa masuk karena kemarin belum sampai ke sistem jaringan komputernya jadi aku harus mengetahui dulu jaringan di dalamnya seperti apa."
"Souka... Lalu bisakah kau mencarikan tempatnya Shikamaru? Jika bisa aku ingin meminta bantuanmu untuk mencarikan toko senjata juga," ujar Naruto membuat Shikamaru melihat ke arahnya dengan tatapan kebingungan.
"Lagi? Apakah seribu peluru tidak cukup?" tanya Shikamaru. "500 peluru biasa dan 500 peluru ledak. Para Zombie saat ini bergerak keluar Tokyo dengan kata lain saat kita pergi dari sini kita akan bertemu Zombie yang lebih banyak lagi, jadi dengan peluru seperti itu tidak akan cukup," jawab Naruto sambil melihat ke arah kumpulan senjata yang ada di sudut ruangan.
"Kita juga tidak bisa menggunakan peluru ledak secara sembarangan, karena kita juga akan terkena imbasnya, mereka hanya bisa di gunakan saat tertentu saja."
"Seperti biasa kau selalu perhitungan bahkan lebih cepat dariku Naruto," gumam Shikamaru lalu mengaktifkan chipnya hingga memperlihatkan layar hologramnya lalu mencari apa yang di minta Naruto, "setelah itu apa lagi? Kau tahu yang kau ajarkan pada mereka adalah cara membunuh Zombie biasa, bagaimana jika mareka melawan Mutant?"
"Aku tahu, tapi aku sudah menyiapkan beberapa alat yang akan di pasang dengan menyerupai kemampuan mutant, selain itu akan lebih baik mereka mempelajari cara para zombie itu secara langsung di depan mata saat kita pergi dari sini, kalian akan berada di dalam kotak belakang truk sambil membunuh beberapa Zombie yang berusaha mengejar kita, karena mereka dalam keadaan kelaparan mereka pasti akan berlari mengejar kita," balas Naruto, " saat itu juga pasti ada zombie Mutant yang ikut, terutama mereka harus mempelajari berhadapan dengan Tangker, Charger, Cyclops dan Licker, begitu mereka akan paham dan lebih berwaspada, karena jika menambahkan alat di latihan, yang ada gerakannya akan berbeda dan akan membahayakan mereka karena berbeda dengan yang mereka pelajari."
"Hah... Ternyata kau benar-benar sudah mempersiapkan semuanya, ya," gumam Shikamaru sambil mengusap rambutnya. "Hehehe, karena sering bertugas saat di Ghost Thief, jadi kebiasaan," balas Naruto sambil tertawa pelan.
"Mohon bantuannya, Shikamaru."
"Ya-Ya."
Setelah mengatakan itu ia lalu menuju ke arah garasinya, dan terlihat sebuah alat penggerak sasaran yang di pasang enam rel yang akan di gerakkan menggunakan tenaga enam mesin motor listrik ukuran sedang, saat motor listrik di nyalakan akan menggerakkan sebuah roda katrol yang di hubungkan dengan Belt.
Saat belt di gerakkan papan sasaran pun juga akan bergerak, Naruto pun membawa keluar alat tersebut dan meletakkannya di halaman, setelah itu Naruto pun mencoba kembali alatnya tersebut dengan menyalakannya.
Saat di nyalakan, roda katrol pun berputar dan menggerakkan papan sasaran yang berbeda jarak. Melihat itu Naruto pun tersenyum lalu mematikan alatnya dan mengembalikan posisi sasaran ke semula.
Setelah itu Naruto pun mengeluarkan alat yang sama dan meletakkannya di sisi halaman yang lain dan melakukan tes kembali, setelah menghidupkannya Naruto pun mengeluarkan satu pistol Revolver hitamnya lalu mengisinya dengan peluru karet, berikutnya ia mencoba menembak sasaran di depannya yang berusaha mendekatinya satu-persatu, setiap papan sasaran memiliki titik yang berbeda, yaitu ada yang di otak ada yang di leher, setelah setiap tembakannya mengenai sasaran, papan yang tertembak pun jatuh dan di ganti dengan papan sasaran baru.
Melihat itu Naruto pun tersenyum, setelah itu ia mematikan alatnya lalu mengatur ulang papan sasarannya, lalu masuk ke dalam rumah kembali untuk mengambil semua senjata tembak yang di diamkan untuk mengetesnya apakah semua senjatanya berfungsi baik atau tidak.
Namun saat akan membawa keluar, perhatiannya teralih ke arah senjata besar yang bersandar di sudut rumahnya, ia pun membawa alat tersebut ke arah Shikamaru dan ingin bertanya mekanisme senjata tersebut.
"Hey, Shikamaru, bagaimana kerja alat ini? Dan apa namanya?" tanya Naruto sambil menunjuk senjata di tangannya, Shikamaru yang sibuk mencari apa yang di minta Naruto tadi memperlihatkan data senjata tersebut kepada Naruto serta videonya.
"BARRAGER TEMPEST, alat ini di pasang sebuah energi yang sangat kuat seperti senjata Plasma, tapi lebih kuat lagi. Saat di tembakan alat ini akan mengumpulkan energi sesuai berapa lama kau menekan tombolnya, jika sudah di lepaskan bola energi itu pun akan di tembakkan dan saat mengenai objek bola energi itu pun akan meledak di sertai energi listrik bertekanan tinggi, bisa di bilang seperti RPG tapi lebih ganas lagi karena saat meledak berisi sengatan listrik yang kuat sesuai jarak lingkup ledakannya," jawab Shikamaru memperlihatkan gambaran kerja BARRAGER TEMPEST di senjata tersebut mengumpulkan energi dalam satu titik pusat lalu saat tombol di lepaskan bola energi itu pun di tembakan hingga mengenai objek atau orang banyak dan meledak dengan sangat dahsyat, disertai percikan listrik atau petir yang besar.
"Memangnya energi senjata ini ada di mana?" tanya Naruto melihat setiap sisi senjatanya, Shikamaru pun menunjukkan tabung di bawah senjata lalu membukanya memperlihatkan enam tabung berisi berwarna biru sementara di penutupnya terdapat Enam baterai besar dari sisi ke sisi.
"Tabung biru itu adalah cairan yang hampir mirip isinya dengan senjata plasma yang biasa, tapi kandungan cairan tersebut lebih kuat lagi serta tak terbatas, sementara Baterai yang ada di tutupnya itu adalah penghasil energi listriknya," jelas Shikamaru kembali.
Naruto yang mendengar itu cukup terkagum dengan alat yang mereka curi, ternyata alat-alat yang mereka curi benar-benar canggih, "Jadi ini senjata kombinasi ya," gumam Naruto hingga ia terdiam sesaat karena ucapannya sendiri, "senjata kombinasi...," batin Naruto tersentak.
"Hey, Shikamaru, aku memiliki ide untuk membuat senjata ini mengerikan," ucap Naruto membuat Shikamaru dan Issei menaikkan sebelah alis mereka. "Ide apa?" tanya Shikamaru membuat Naruto tersenyum.
"Aku memiliki ide untuk mengombinasikan senjata ini dengan cairan Nitrogen, bagaimana menurut kalian?"
"H-Huh? Ide gila macam apa lagi yang ingin kau buat Naruto?" tanya Issei tak habis pikir dengan otak temannya, "kau ingin merusak sistem senjata itu?"
"Tentu saja tidak Baka! Aku hanya berpikiran untuk mencoba menggabungkannya dengan cairan Nitrogen untuk mengubah daya ledak senjata ini menjadi daya ledak pembeku area," balas Naruto membuat Shikamaru dan Issei saling berpandangan satu sama lain, lalu memandang Naruto penasaran.
"Jelaskan lebih detail lagi, Naruto."
"Kita tahu cairan Nitrogen itu cepat membekukan apa pun yang mengenainya, dengan mengambungkan Nitrogen ke dalamnya energinya pasti akan tercampur dengan beberapa cairan Nitrogen dan menyatu, lalu saat di tembakan dan mengenai objek serangan itu akan meledak bagaikan bom tapi yang membedakannya adalah ledakan itu membekukan apa pun, dan dengan tambahan energi listrik pada ledakan itu, mereka akan hancur menjadi berkeping-keping dengan cepat, itulah ide yang aku pikirkan, bagaimana menurut kalian?" tanya Naruto meminta pendapat temannya.
Issei yang mendengar itu mencoba memikirkan setiap perkataan Naruto serta membayangkan idenya tersebut, memang masuk dan cukup bagus jika saat terdesak, tapi apa bisa mencampur cairan Nitrogen ke senjata itu, apa akan berfungsi.
"Memangnya akan berhasil? Aku ragu jika itu akan berhasil?" jawab Issei dengan wajah keraguan. "Jika kita tidak mencobanya mana kita tahu, bagaimana menurutmu Shikamaru?" balas Naruto dengan ekspresi tanpa keraguan.
Shikamaru yang kembali di tanya hanya diam sambil memikirkan ide Naruto, baginya ide itu cukup bagus mengingat jika mereka melawan Tanker, Licker, dan Cyclops yang memiliki ketahanan tubuh yang kuat. Tapi seperti kata Issei, apakah akan berhasil atau tidak, ia pun melirik ke arah Naruto yang serius tanpa keraguan sedikit pun.
Melihat itu dia kembali teringat dengan saat tugas mereka saat menjadi Ghost Thief, biasanya dialah yang memberikan ide kepada teman-temannya, namun ada saatnya rencananya tidak berjalan lancar semuanya, karena tidak bisa memikirkan ide lain, Naruto lah yang memberikan ide dan semua idenya cukup meragukan dan berisiko, namun saat melihat wajah Naruto yang benar-benar serius tanpa keraguan mereka pun setuju lalu menjalankan rencana Naruto dan berhasil.
Melihat wajah Naruto sama seperti waktu itu, ia pun menghembuskan nafasnya lalu mengangguk pelan, "Tidak ada salahnya mencoba, ayo kita coba idemu itu," ucap Shikamaru membuat Naruto tersenyum.
Setelah itu mereka pun sama-sama sarapan pagi, mereka pun berkumpul di halaman kembali dengan Shizuka dan Rossweisse yang kali ini menonton karena mereka belum bisa bekerja karena belum memiliki cairan Nitrogen.
Naruto pun bergerak ke depan alat penggerak sasaran lalu menghadap ke arah teman-temannya, ia kali ini akan menjelaskan latihan yang berbeda dari sebelumnya, "Baiklah, kali ini kalian akan berlatih menembak sasaran yang bergerak ke arah kalian, anggap saja papan sasaran yang bergerak ini adalah Zombie yang mendekati kalian, dan kalian harus menembak sasaran ini sebelum sangat dekat dengan kalian," ucap Naruto sambil berdiri di menghadap enam rel dengan papan sasaran yang berbeda jarak.
"Posisi menembak sama seperti yang aku ajarkan kemarin, kali ini aku sudah mengganti lokasi vital papan sasaran, yang ada di kepala adalah zombie biasa, sementara yang di leher adalah zombie Mutant, zombie Mutant yang bisa kalian tembak di leher antara lain, Spritter, Tenta Z, Charger dan Wennoz, untuk zombie bomber kalian bisa menembak tubuhnya karena dia akan langsung mati, sementara zombie lainnya akan aku siapkan papan sasaran khusus sesuai kemampuan yang mereka miliki," ujar Naruto, "setelah kalian menembak semua itu, papan akan berganti dengan yang baru dan kalian harus berusaha menembak semua sasaran hingga habis."
"Usahakan gunakan satu peluru, dua peluru, tiga peluru, empat peluru atau lima peluru, jangan gunakan semua peluru pada satu zombie karena hanya dengan satu hingga lima tembakan sudah membunuh mereka jika kalian tepat mengenai kepalanya serta bagian serangga yang ada di leher dan mulut mereka, jika kurang barulah kalian boleh melebihi tembakan kalian, point yang paling penting adalah jangan sampai mereka sangat dekat dengan kalian, jika salah satu sasaran berhasil mendekati kalian, kalian berarti gagal dan ulang lagi," lanjut Naruto sambil melihat teman-temannya satu persatu.
"Ingat... usahakan, Zombie yang terdekat serta Zombie yang paling cepat bergerak ke arah kalian lebih dahulu di bunuh, apa kalian paham?"
"Ha'i!" balas semuanya mengangguk.
"Dia benar-benar serius sekali ya," gumam Rossweisse ketika melihat Naruto benar-benar serius dalam menjelaskan hingga detail. "Kau benar, ia benar-benar menjiwai jiwa seorang pemimpin," timpal Shizuka kagum terhadap Naruto.
"Baiklah, mari kita mulai dari yang membawa pistol lebih dulu, A-Akeno-chan, kau duluan," ucap Naruto menyuruh Akeno terlebih dahulu, saat melihat Akeno bayangan kejadian tadi pagi terlintas di kepalanya. Akeno yang di suruh pertama pun mendekati Naruto dan saat di dekatnya ia mengedipkan sebelah matanya membuat pipi Naruto merona tipis lalu mengalihkan pandangannya dari dirinya.
Akeno lalu berdiri di posisi yang di tentukan, lalu ia mengeluarkan pistolnya sambil memasang posisi menembak dengan ekspresi seriusnya.
Naruto yang melihat itu lalu mundur ke arah kontak untuk menghidupkan mesin motor listrik yang akan menggerakkan papan sasaran, "Baiklah, apa kau siap Akeno-chan?" tanya Naruto sambil bersiap menghidupkan kontaknya.
"Aku siap, Naruto-kun!" jawab Akeno sambil melirik enam papan sasaran di depannya. "Kalau begitu, bersiap...," jeda Naruto lalu menekan tombol On pada kontak di tangannya
"Mulai!"
Enam papan sasaran di depan Akeno pun mulai bergerak ke arahnya, Akeno pun menembak sasaran terdekat yang ke arahnya dengan tenang hingga tepat sasaran hingga akhirnya papan sasaran yang pertama jatuh dan di ganti dengan sasaran baru.
Akeno pun kembali menembak sasaran yang lain yang sudah hampir dekat dengannya hingga jatuh dan di ganti yang baru, merasa pelurunya habis secepat mungkin Akeno menggantinya lalu menembak sasaran yang terdekat dengannya, Naruto yang melihat itu tersenyum.
Setelah semua sasaran habis, Naruto pun mematikan alatnya, "Baiklah sudah cukup, kerja bagus, Akeno-chan," ucap Naruto, Akeno yang masih mengatur nafasnya sambil mengganti mag senjatanya karena sasaran yang terakhir sangat pas dengan peluru di pistolnya habis tersenyum ke arah Naruto sesaat lalu kembali ke tempatnya.
Sasuke yang sejak tadi diam pun mengganti papan sasarannya dengan yang baru, berterima kasihlah karena mereka karena saat tugas kemarin mereka membawa ribuan papan sasaran yang sudah ada di dalam truk yang menandakan bahwa mall tersebut memesan ribuan papan sasaran namun belum sempat di keluarkan dari dalam kotak pengiriman barang truk, dengan begitu mereka tidak perlu takut jika kekurangan papan sasaran.
"Baiklah berikutnya Xenovia-san, bersiaplah, lakukan hal yang sama seperti di lakukan Akeno-chan. Sasuke, sekarang kau ambil alih," ucap Naruto dan di balas anggukkan olehnya.
Selagi menunggu mengganti papan sasaran baru, Naruto pun berpindah ke sisi alat yang ke dua, "Arthuria-senpai, kemarilah, tempat ini adalah bagian untukmu," ucap Naruto membuat Arthuria sedikit tersentak lalu mengikuti Naruto sambil membawa Paladin HB50 nya.
"Kali ini kau mendapat tempat khusus lagi seperti kemarin karena senjatamu," ucap Naruto lalu meminjam senjata Arthuria dan melepaskan Scope Snipernya, "pertama-tama kau akan berlatih menembak papan sasaran tanpa menggunakan Scope tetapi menggunakan besi bidik bernama Iron Sight ini," lanjut Naruto sambil menunjuk alat bidik besi di sniper tersebut lalu memberikannya kepada Arthuria.
"Kenapa aku harus menggunakan ini?" tanya Arthuria sambil menerima senjatanya kembali. "Kenapa aku memberimu latihan ini adalah jika ada kemungkinan kau melawan zombie dalam jarak dekat, jika kau menggunakan Scope kau tidak akan bisa melihat sekitar melalui ekor matamu dan itu akan berbahaya jika kau melawan zombie dalam jarak dekat menggunakan Scope," jawab Naruto membuat Arthuria paham.
"Apa kau siap?" tanya Naruto, Arthuria pun mencoba membidik enam papan sasaran yang ada di depannya dengan Iron Sight yang terpasang di senjatanya lalu mencoba gerakan jika ia menembak sasaran serta menarik Rapid fire di samping senjatanya, merasa siap ia pun melihat ke arah Naruto.
"Aku siap, Naruto."
"Baiklah, kalau begitu bersiap...," gantung Naruto sambil mundur ke arah kontak motor listrik yang tak jauh dari sana, "mulai!" lanjut Naruto menyalakan motor listriknya membuat enam papan sasaran bergerak.
Dor! Cklek!
Arthuria pun menembak sasaran paling dekat lalu menarik Rapid fire di samping senjatanya tanpa melepaskan bidikannya, sampai pelurunya habis dengan cepat ia mengganti mag senjatanya lalu kembali menembak papan sasaran yang paling dekat dengannya.
Dor!
Setelah beberapa menit, semua sasaran pun berhasil di selesaikan oleh Arthuria, ia mengatur nafasnya yang memburu karena sambil terus menahan hentakan senjata di tangannya, Naruto yang melihat itu pun tersenyum.
"Kerja bagus, Arthuria-senpai," ucap Naruto membuat Arthuria tersenyum tipis lalu mengganti mag senjatanya kembali, "baiklah kau boleh beristirahat sesaat karena sebentar lagi kau akan mencoba menembak sasaran dari jauh namun kali ini papan sasaranmu akan bergerak dari kiri ke kanan," lanjut Naruto lalu melihat ke arah Chouji, "Oi! Chouji! Bantu aku membawa ini ke sana!" teriak Naruto membuat Chouji melihat ke arahnya.
"oh, baik! Irina-san, bawakan senjataku sebentar," ucap Chouji menitip senjatanya lalu berlari ke arah Naruto dan membantunya membawakan alat penggerak papan sasaran ke samping papan sasaran yang saat ini di gunakan oleh Sakura.
"Sasuke, ganti isi ulang papan sasarannya, setelah itu Hinata-chan, kau berikutnya," ucap Naruto berjalan ke garasi untuk mengambil penggerak papan sasaran lain di mana alat tersebut hanya terdapat satu rel namun papan sasarannya mengarah ke samping.
Mereka pun membawa alat tersebut kembali ke tempat Arthuria. "Arigato, Chouji," ucap Naruto lalu ia berjalan ke samping Arthuria sambil memasangkan scopenya kembali, "baiklah, kau lihat ini," ucap Naruto menyalakan kontak di tangannya hingga membuat papan sasaran tersebut bergerak dari kiri ke kanan.
"Seperti yang Senpai lihat, papan itu bergerak ke dari sisi kiri ke kanan, latihan ini sangatlah sulit terutama pengguna Sniper karena ia harus menentukan timing yang tepat, kecepatan peluru, dan kecepatan angin," jelas Naruto lalu menghadap ke arah papan sasaran, sekarang coba kau tembak papan sasaran itu dan usahakan mengenai vitalnya," lanjut Naruto sambil mengajak Arthuria mundur sedikit.
Arthuria yang mendengar itu pun menurut dan membidik sasaran tersebut, dan ia mencoba mengikuti gerakan papan sasaran tersebut namun saat ia mencoba menembak, serangannya meleset dari titik vital.
"Seperti yang kau lihat, ini adalah yang tersulit, sekarang coba kau membidik lebih dahulu dari gerakan papan sasaran, maksudku jika dia bergerak ke kanan, kau bidiklah sedikit ke kanan sedikit, di situ kau akan melatih timing dan jarak tembakmu, jika menurutmu pas cobalah tembak," ucap Naruto memberikan penjelasan kembali.
"Baik!" balas Arthuria lalu mencoba mengikuti cara Naruto, ia yang melihat papan sasaran bergerak ke arah kiri pun membidik sedikit ke kiri ia yang merasa sudah pas pun menekan pelatuk senjatanya hingga memuntahkan pelurunya.
Jrash!
Peluru senjata itu pun mengenai tipis dari titik vital yang ada di sasaran. Arthuria yang melihat itu sedikit tersentak sementara Naruto tersenyum melihat itu, "kerja bagus, teruslah berlatih aku akan pergi untuk mencari cairan Nitrogen bersama Issei sekarang," ucap Naruto dan di balas anggukkan oleh Arthuria.
Setelah itu Naruto melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam rumahnya, "Issei! Bersiaplah! Kita akan berangkat!" ujar Naruto pada Issei yang duduk di samping Rias.
Issei yang mendengar itu pun mengangguk lalu mengecup pipi Rias sesaat, "Aku pergi dulu, Hime," ucap Issei dan di balas anggukkan pelan oleh Rias.
"Berhati-hatilah, Issei-kun," balas Rias, Issei pun mengangguk lalu menyusul Naruto untuk mempersiapkan senjata AUG nya.
"Bagaimana, Shikamaru? Apa kau sudah menemukan tempatnya?" tanya Naruto yang sudah masuk ke dalam, dan ia dapat melihat wajah Shikamaru yang sulit di jelaskan, "ada apa dengan wajahmu?"
"Aku berhasil menemukan tempat di mana menjual Cairan Nitrogen, tapi untuk tempat mencari peluru...," gantung Shikamaru membuat Naruto dan Issei kebingungan. "Memangnya ada apa?" tanya Naruto kembali.
"Mungkin kalian akan menemukan bahaya jika pergi ke sana karena lihatlah," ujar Shikamaru menunjukkan peta hologramnya di mana terdapat sebuah tempat dengan banyak titik merah yang bergerak, "di tempat itu ada kehidupan, itu bisa saja Zombie atau mungkin para penjahat ilegal karena toko ini merupakan toko senjata ilegal," lanjut Shikamaru.
"Aku sudah mencari tempat yang paling aman dan hanya ini saja yang aku temukan karena yang lainnya telah hancur karena bombardir dari pesawat dan tank."
Naruto yang mendengar itu terdiam dengan wajah seriusnya, Issei yang mendengar itu meneguk ludahnya dan berharap bahwa Naruto membatalkan mengajaknya, "Na-Naruto... Se-Sebaiknya..."
"Di mana itu?" tanya Naruto sambil berjalan ke tempat senjata-senjata di letakkan sambil mengambil dual vector berwarna hitam lalu mengisinya dengan peluru asli, Ia juga langsung membawa cadangan peluru ledak serta sebuah senjata sabit lipatnya.
"Ka-Kau pasti bercanda kan Naruto?!" tanya Issei tidak habis pikir dengan pikiran Naruto, "aku tidak mau mati muda!"
"Berisik! Jika kau tidak berani maju melawan mereka sebaiknya kau diam di belakangku!" balas Naruto sedikit kesal dengan tingkah Issei. "Apa kau benar-benar serius Naruto?" tanya Shikamaru meminta kepastian kembali, ia sebenarnya setuju dengan Issei bahkan mereka tidak tahu Zombie apa yang ada di dalam sana serta penjahat dengan senjata apa.
"Ya, beritahu aku!" jawab Naruto dengan ekspresi yang benar-benar serius. Melihat itu ia kembali teringat saat Naruto maju seorang diri melawan banyak penjahat, waktu itu mereka benar-benar takut jika Naruto terluka, tapi rasa khawatir mereka sirna karena Naruto baik-baik saja.
Mengingat itu Shikamaru menghembuskan nafasnya kembali, "setelah aku beritahu bisakah kau berjanji padaku kembali dengan selamat?" Naruto yang mendengar itu terdiam sesaat lalu mengarahkan kepalan tangannya ke arah Shikamaru.
"Ya, Aku berjanji," ucap Naruto lalu tersenyum kepada Shikamaru. Ia yang melihat itu terdiam sesaat lalu membalas kepalan tinju Naruto sesaat. "Baiklah dengarkan aku," ucap Shikamaru memperluas gambar petanya.
"Untuk jalur menuju menara BTS aku tidak perlu menjelaskannya padamu, aku akan menjelaskan jalur setelah dari menara BTS saja."
"Tapi sebelum itu bagaimana dengan para Zombie yang lainnya?" tanya Naruto serius. "Jarak mereka sekarang semakin menjauh, radius mereka sudah sampai 11 Km," jawab Shikamaru.
"Baiklah saat kalian sudah selesai di menara BTS, untuk menuju tempat penjualan Cairan Nitrogen kalian lurus saja melewati Okubo-dori, setelah melewati 10 persimpangan, belok kanan di dekat Bar Maquo, setelah memasuki jalur Ushigomenchou dori, lurus terus hingga melewati satu persimpangan, lalu belok kanan di persimpangan kedua memasuki gang kecil, setelah itu kalian lurus terus hingga beberapa meter melewati restaurant Le Mange Tout, lalu berbelok ke kiri," jeda Shikamaru.
"setelah itu kalian lurus hingga menemukan persimpangan jalan raya, lalu ambil jalur kiri, 30 meter setelahnya kalian akan menemukan sebuah toko yang menjual Cairan Nitrogen, jika kalian sudah selesai kalian tinggal lurus saja hingga bertemu persimpangan kembali lalu belok kiri hingga kalian kembali ke Ushigomenchou dori, lurus terus hingga kalian menemukan persimpangan dengan sebuah sungai, lalu belok ke kanan melewati Sotobori-dori, hingga memasuki jalan Yasukuni-dori, hingga sampai bertemu persimpangan, belok kiri menuju Tsunokamizaka-dori, lurus beberapa meter hingga bertemu persimpangan kembali lalu belok ke kiri memasuki gang kecil di Yotsuyasakamachi, di sanalah tempat penjualan senjata ilegal berada," jelas Shikamaru panjang lebar.
"Jika di sana juga sudah selesai, kalian tinggal lurus hingga kembali ke jalur Yasukuni-dori, lalu belok ke kiri, ketika bertemu persimpangan kembali lalu belok ke arah kanan dan kalian akan menemukan persimpangan Gaien Higashi, lalu kalian berbelok lah ke kanan dan jika kalian lurus terus kalian akan kembali ke jalur Okubo-dori."
"Lumayan jauh juga ya, baiklah Arigato Shikamaru," ucap Naruto berterima kasih lalu bersiap keluar, "ayo Issei!"
"Tunggu, Naruto," cegat Shikamaru membuatnya menghentikan langkahnya, "Bagaimana caramu membawa cairan-cairan Nitrogen itu serta peluru-pelurunya? Apa kau akan membawa mobil baru lagi?"
"Hmmm entahlah... Jika kami menemukan kereta barang untuk membawa cairan-cairan itu kami tidak akan membawa mobil baru, jika tidak ada kami terpaksa mencari mobil lain untuk membawakannya," jawab Naruto lalu kembali melanjutkan jalannya.
"Hah... Mendokusei,"gumam Shikamaru sambil memijit keningnya. "Baiklah semua lanjutkan latihan kalian, kami akan berangkat mencari cairan Nitrogen sekarang," ucap Naruto bersiap masuk ke dalam mobilnya.
Namun tentu saja Kuroka dan Akeno menahannya kembali, "Hey! Kenapa kau ikut-ikutan Sadako!" ujar Kuroka menatap tajam Akeno. "Justru kau yang ikut-ikutan tahu, Neko-onna!" balas Akeno menatap tajam Kuroka.
"Grrrrrr."
"H-Hey, kalian berdua tenanglah," ucap Naruto berusaha menenangkan mereka, "a-aku tahu kalian akan mengatakan padaku untuk kembali dengan selamat, kalian tidak perlu khawatir, aku pasti akan kembali dengan selamat, ok," lanjut Naruto melepaskan tangan mereka dengan lembut.
Lalu ia menarik pipi mereka dengan pelan hingga membuat mengaduh pelan, "Dan sebaiknya kalian tidak saling bermusuhan," ucap Naruto sambil tersenyum ia pun melepaskan tarikannya membuat mereka saling melirik satu sama lain lalu mengalihkan pandangan mereka menandakan mereka masih bersaing.
Naruto yang melihat itu hanya tersenyum, "Aku pasti akan kembali, jangan khawatir ya," ucap Naruto mengelus rambut mereka sesaat lalu masuk ke dalam mobilnya, dan menyalakan mobilnya, Ino dan Tsubaki pun membukakan gerbang rumah Naruto agar mereka bisa keluar.
"Jaa, kami berangkat," ucap Naruto lalu memasukkan gigi mobilnya dan menginjak pedal gasnya, Shikamaru pun langsung mematikan barrier rumah Naruto sesaat hingga mobil Naruto keluar lalu menghidupkannya kembali.
["Ok Shikamaru, apa kau siap?"] tanya Naruto sambil memberikan alat di sakunya pada Issei dan menyuruhnya untuk memasukkannya ke pistol yang ada di laci mobilnya."
["Tentu saja."]
Setelah mengatakan itu Naruto pun menambah kecepatan mobilnya hingga tak butuh waktu lama mereka telah sampai kembali di menara BTS, Naruto dan Issei pun bergerak cepat ke dalam menara BTS lalu menembakkan alatnya ke mesin kontrol menara BTS hingga menempel kembali.
["Ok Shikamaru, bagaimana?"]
["Aku sedang menjalankannya,"] jawab Shikamaru dan tak butuh waktu lama ia mendapatkan perangkat jaringan setiap komputer yang ada, melihat itu Shikamaru tersenyum namun beberapa menitnya lagi sinyalnya menghilang.
["Gagal lagi, Shikamaru."]
["Ya aku tahu, tapi kita mendapat perangkat komputernya, dengan begini besok aku bisa melakukan Hacking pada semua komputer pusat itu untuk mencari tempat aman di mana semua berkumpul,"] jawab Shikamaru sambil mengotak-atik hologramnya hingga terlihatlah semua bagian-bagian perangkat komputer yang ada di menara pusat BTS.
["Aku serahkan padamu, Shikamaru,"] ucap Naruto sambil berjalan ke mobilnya bersama Issei, lalu menyalakannya.
"Ok... ayo kita ke pemberhentian berikutnya."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC
Note : Yo! Kembali lagi!
Bagaimana menurut kalian? Hoho aku harap kalian menyukainya. Seperti yang kalian lihat, tempat aman dimana masyarakat berada ada di Kyoto tepatnya di sebuah pegunungan, dan kalian juga bisa melihat bagaimana sistem keamanan yang ada di Kyoto, sebuah dinding besar dari ujung ke ujung.
Hanya dari Kyoto hingga kota berikutnya saja yang masih aman, sementara dari Tokyo ke Chiba dan yang lainnya saja yang telah terinfeksi.
This is Future Sett.
Di sini juga saya menyiapkan senjata pamungkas dengan menggunakan BARRAGERS TEMPEST, kalian bisa melihatnya di google, dan saya juga memberikan metode terbaru untuk mereka latihan, lalu apa yang akan mereka lawan di tempat senjata ilegal? Apa rencana presiden memanggil 4 orang penting yang selamat? Di tunggu saja.
Ok itu saja, sampai jumpa Chapter depan, btw saya akan terus melanjutkan fic ini hingga beberapa chapter, tentunya dengan sedikit mencicil Magical Battle. Saya 4kagiSetsu, undur diri, Jaa na!
4kagiSetsu Out
