Note : sebelum mulai saya berterima kasih yang mengingatkan jabatan pemimpin Negara Jepang adalah kekaisaran, saya sedikit bingung saja harus menggunakan apa jadi saya menggunakan jabatan President. Tapi sekarang saya ganti menjadi Perdana Menteri.

.

.

Kyoto, Mount Sajikigatake side

11.00 AM

.

Di markas utama tepatnya di sebuah kamar khusus, terdapat Minato yang saat ini masih menenangkan Kushina yang masih menangis serta khawatir dengan keadaan putranya, apa lagi dia berjuang melawan sesuatu yang berbahaya yang bisa saja merengut nyawanya kapan pun itu.

Minato memeluk Kushina erat sambil terus mengelus punggung istrinya dengan lembut, "Tenanglah Kushina-chan... berhentilah menangis, itu akan menyakiti matamu nanti... Kau dengar bukan jika Naruto akan marah jika kau sakit," ucap Minato dengan lembut.

"Bagaimana aku bisa berhenti menangis ketika membayangkan putraku melewati sesuatu yang berbahaya dan bisa merengut nyawanya kapan saja... Aku tidak mau semakin menjauh dengan putraku."

"Apa kau sudah tahu bahwa putra kita adalah salah satu dari Ghost Thief?" tanya Minato membuat Kushina tersentak dan menatap suaminya tidak percaya. "E-Eh... Apa yang kau katakan?" tanya Kushina sambil meremas baju Minato. Dia tidak tahu hal itu karena dia muncul di menjelang akhir rapat. Waktu itu dia tengah di tenangkan oleh temannya yaitu Uchiha Mikoto, istri dari Uchiha Fugaku di kamar ini, setelah itu temannya mendapat panggilan bahwa akan ada rapat penting dan itu mengenai ada orang yang selamat di Tokyo.

Tentu saja Kushina langsung pergi keluar mencari tempat rapat tersebut hingga akhirnya ketemu, awalnya dia di cegah namun setelah menjelaskan kepada petugas tersebut akhirnya dia di beri jalan masuk dan saat itulah dia melihat Naruto di layar lebar di sertai jawaban bahwa dia tidak ingin di jemput.

Dia tidak tahu bahwa putranya adalah salah satu dari Ghost Thief, "Ka-Kau pasti bercanda kan Minato? T-Tidak mungkin itu putra kita...," gagap Kushina tidak bisa menerima kenyataan bahwa putranya adalah salah satu pencuri yang menjadi trending topic, dengan kata lain selama ini putranya menghadapi sesuatu yang berbahaya.

"Tapi itulah kenyataannya." Kushina yang mendengar itu lemas seketika, dirinya tidak menyangka putranya menyembunyikan rahasia sebesar ini padanya. "Ke-Kenapa... Kenapa putra kita menyembunyikan rahasia sebesar ini," ucap Kushina lemah.

"Tentu saja karena dia tidak ingin membuat kita khawatir... Selain itu dia melakukan sesuatu yang baik hingga sekarang, dan masyarakat menganggapnya sebagai pahlawan," ucap Minato, ia tahu kenapa Naruto tidak memberitahukan rahasia ini pada mereka karena ia tak ingin mereka khawatir, pantas saja putranya meminta izin padanya serta Kushina apakah bisa memiliki peralatan bermain latihan perang, jadi itu alasannya, "sekarang kau tenanglah dan teruslah berdoa agar putra kita selamat," lanjut Minato sambil mengecup kening istrinya.

"Aku, Shikaku dan Inoichi berjanji akan melakukan yang terbaik untuk menjemput putra kita dan teman-temannya, selain itu di luar sana banyak tentara yang siap dan rela mengorbankan nyawa mereka untuk melindungi Naruto dan yang lain saat di Hachioji nanti, karena mereka menganggap Naruto adalah pahlawan dan orang terpenting saat ini," lanjut Minato sambil mengingat bagaimana semua pasukan JSDF siap dan rela mengorbankan diri mereka untuk anaknya.

Kushina yang mendengar itu hanya mengangguk lemah sambil menggenggam tangan suaminya, "Berjanjilah Minato-kun."

"Um, aku berjanji."

.

"Bagaimana ini, Fugaku-sama?" tanya salah satu kepolisian bertanya kepada Kepala kepolisian yaitu Uchiha Fugaku yang saat ini berkumpul bersama beberapa polisi dari Tokyo, beberapa polisi tempat lain yang selamat dan lain-lainnya, Fugaku yang di tanyai oleh pemuda di sampingnya tampak berpikir apa tindakan mereka selanjutnya.

"Aku berpikir sebaiknya kita menangkap mereka setelah semua bencana ini terjadi karena kasus-kasus mereka, apakah ada yang setuju denganku?" tanya salah satu kepala polisi kota lain dan mendapat anggukan setuju beberapa polisi.

Ghost Thief adalah kelompok yang di cap sebagai penjahat karena menyerang pemimpin negara dan mengambil uang yang mereka kumpulkan dari masyarakat untuk Negara, itulah yang terlihat di mata mereka, tapi di mata masyarakat Ghost Thief adalah pahlawan bagaikan cerita dongeng anak-anak bernama Robin Hood.

Mereka menganggap perbuatan Ghost Thief adalah kejahatan dengan kata lain mereka harus di tangkap dan melalui proses hukum, apa lagi mereka akan sampai di sini besok jadi mereka tinggal menunggu bencana ini selesai lalu menangkap mereka.

"Jangan berbicara sembarangan, mereka adalah pahlawan! Mereka pantas mendapat kebebasan dari tindakan mereka karena berbuat baik! Bahkan Perdana Menteri sudah tahu kenapa mereka melakukan itu!" balas salah satu kepala polisi kota lain yang mendukung Naruto.

"Tapi mereka tetaplah melakukan kejahatan! Banyak pemerintah yang ingin mereka tertangkap bahkan mereka juga sudah banyak melakukan pembunuhan! Jadi mereka harus di tangkap?!"

"Itu karena kau buta?! Para pemerintah itulah yang jahat karena mengambil uang masyarakat untuk kepentingan mereka sendiri?! Bahkan mereka menyewa orang-orang jahat untuk menjaga uang mereka dan membunuh siapa pun yang mengganggu mereka?!"

"Kau bahkan tidak punya bukti untuk itu?!"

"Kalian semua diam?!" teriak Fugaku membuat mereka terdiam, "kalian tidak punya hak semena-mena menentukan hal itu, jika Tuan Perdana Menteri ingin menyelamatkan mereka maka kita akan menyelamatkan mereka sebagai warga biasa, ingat mereka juga mendapat dukungan dari masyarakat serta JSDF, jika kalian memancing amarah mereka justru kalian lah yang habis!"

Semua kepala polisi yang berkumpul mendengar itu terdiam hingga salah satu kepala polisi berbicara, "Itu karena ada salah satu dari keluargamu bukan! Maka dari itu kau tidak mau menangkap mereka?! Sebagai kepala polisi kau gagal karena melindunginya?! Kau juga gagal sebagai keluarga?!".

Fugaku yang mendengar itu menarik kerah kepala polisi tersebut dan menatapnya tajam, "Jaga ucapanmu sialan! Kau pikir aku tahu bahwa putraku adalah Ghost Thief?! Aku sama sekali tidak tahu kau tahu?! Lalu jangan membawa urusan keluarga dalam hal ini, kau tidak berhak ikut campur?!" ucap Fugaku.

"Kalian semua hentikan." Semua seketika menoleh ke sumber suara dan melihat Perdana menteri yaitu Hiruzen mendatangi mereka dengan beberapa pengawal, para polisi termasuk kepala polisi pun berdiri tegak dan memberi hormat kepada Hiruzen.

Fugaku langsung berlutut lalu membungkukkan badan mereka kepada Hiruzen, "Tuan Perdana Menteri, saya sebagai Ayah dari Uchiha Sasuke ingin meminta maaf kepada Anda atas perbuatan Putra saya yang sudah membuat kekacauan di Kota serta membuat kejahatan dengan mencuri uang-uang pemerintah, Saya memohon kepada Anda untuk memaafkan segala perbuatan Putra saya dan tolong jangan penjarakan dia."

Semua yang melihat itu yang juga ada di pihak Naruto pun juga melakukan apa yang di lakukan oleh Fugaku, "KAMI JUGA MOHON, TOLONG JANGAN PENJARAKAN MEREKA, TUAN PERDANA MENTERI!"

Beberapa polisi yang tidak mendukung Ghost Thief melihat itu pun jengah lalu ingin mengatakan sesuatu kepada Hiruzen agar mereka juga mendapat dukungan.

"Tuan Perdana Menteri, kami..."

"Tidak perlu di lanjutkan, aku sudah dengar," potong Hiruzen lalu menghembuskan nafasnya, "angkat badan kalian, jangan membungkuk seperti itu," lanjut Hiruzen membuat Fugaku dan yang lainnya mengangkat badan mereka tapi masih dalam posisi berlutut.

"Seperti yang kalian lihat sebelumnya, banyak pasukan JSDF yang akan melindungi bahkan rela mengorbankan nyawa mereka untuk anak-anak itu, jika kalian menahan mereka para JSDF tidak akan tinggal diam, bahkan jika Masyarakat yang menganggap mereka salah pahlawan tidak akan tinggal diam karena banyak sekali yang mendukung mereka, dan itu akan menimbulkan kekacauan besar."

"Lali sebagai Perdana Menteri, aku mencabut segala kejahatan apa yang di lakukan oleh Ghost Thief karena mereka melakukan sesuatu yang benar seperti ucapan salah satu Kepala Polisi ini," lanjut Hiruzen sambil menunjuk salah satu kepala polisi yang tadi mendukung Naruto.

"Dan kalian tidak boleh menangkapnya setelah bencana ini selesai." Kepala Polisi dan beberapa anak buahnya yang mendengar itu menundukkan kepala mereka dengan perasaan kesal dan kecewa, "kalian tidak perlu khawatir, dengan begini mereka tidak akan di penjarakan, jadi putra Anda akan baik-baik saja, Fugaku-san."

Fugaku dan beberapa polisi di belakang mereka yang mendengar itu kembali membungkukkan badannya kepada Hiruzen, "ARIGATO GONZAIMASU, PERDANA MENTERI!"

"Sama-sama... Lalu berikutnya apa yang akan kalian lakukan? Apakah ada di antara kalian yang ingin mengajukan diri membantu menyelamatkan mereka?"

Para polisi yang mendengar itu bertatapan satu sama lain, mereka ragu dengan kemampuan mereka yang ada di bawa para pasukan JSDF jadi mereka ragu untuk mengajukan diri, "Kami akan tetap membantu pasukan JSDF yang bertahan di benteng saja Tuan Perdana Menteri, sudah banyak pasukan JSDF yang mengajukan diri untuk ikut menyelamatkan putra saya serta teman-temannya dan saya yakin salah satu putra saya yang juga bergabung di JSDF pasti akan ikut... Maka dari itu di saat semua maju pertahanan di sini akan membutuhkan banyak tenaga," jawab Fugaku tegas.

"Jadi kami mengajukan diri untuk membantu para JSDF yang menjaga benteng di kota ini serta melindungi masyarakat dari zombie-zombie ini karena kami juga merupakan pelindung masyarakat."

Semua polisi yang mendengar jawaban tegas Fugaku menatapnya sesaat dengan tatapan terkejut, namun apa yang di katakannya memanglah benar, mereka tidak perlu mengajukan diri karena tidak di paksakan walau pun tidak bisa membantu menyelamatkan mereka, mereka masih bisa mengajukan diri untuk melindungi keluarga tercinta mereka.

"Ya itu benar!"

"Kami akan membantu pasukan menjaga kota ini tuan Perdana Menteri!"

"Percayakan saja pada kami?!"

Hiruzen yang mendengar jawaban Fugaku tersenyum lalu menepuk pundaknya, "Jawaban yang bagus, kau pantas menjadi kepala polisi, Fugaku-san," ucap Hiruzen memuji Fugaku, sementara yang di puji hanya membungkukkan badannya sesaat, "jika begitu pergilah, dan jalankan tugas kalian!"

"Baik!"

.

.

Disclaimer :

Naruto Masashi Kisimoto

High School DxD Ichiei Ishibumi

Summary : Dunia Modern, dimana Dunia sudah maju dengan teknologi canggih yang membantu peradaban manusia, namun karena saking canggihnya, para ilmuwan nekat membuat sesuatu yang berbahaya, namun saat melakukan tes terjadi kesalahan besar. Sesuatu yang berbahaya itu menyebar dengan cepat membuat panik orang-orang dan mereka harus melarikan diri untuk bertahan hidup, akankah peradaban manusia musnah sepenuhnya?

This Is The End the World?

Pair :

Naruto x ...

Sasuke x Sakura

Issei x Rias

Shikamaru x ...

Genre : Alternative Universe, Adventure, Fantasy, Horror, Tragedy, Mystery, Humor, Sci-Fi, Ecchi, Future.

Rate : M

Warning : Typo, OC, OOC, AU, Multichap, Alur berantakan dan Lain-lain, Smart!Naru.

" Naruto " berbicara

" Naruto " batin

["Naruto."] bicara melalui walkie talkie

["Naruto."] balasan dari Walkie talkie.

.

Chapter 11 : Day 3 Survivor Part 2

.

"Ibiki, bisakah kau memanggilkan orang-orang ini?" tanya Shikaku sambil menyerahkan daftar nama pada Ibiki. "Siapa saja?" tanya Ibiki sambil membaca daftar nama yang ada.

"Hm, ini..."

"Ya... beberapa dari mereka adalah teman saat kita masih muda," balas Shikaku, "serta beberapa ayah dari orang-orang yang selamat, putraku memberikan daftar nama teman-temannya di mulai dari Namikaze Naruto, Uchiha Sasuke, Akimichi Chouji, Hyoudo Issei, Toujou Kuroka, Toujou Koneko, Himejima Akeno, Rias Gremory, Hyuuga Hinata, Quarta Xenovia, Shidou Irina, Sona Sitri, Tsubaki Shinra, Arthuria pen Dragon, Yamanaka Ino, Rossweisse dan Shizuka Marikawa," jawab Shikaku.

"Jika bisa kau panggilkan saja ayah dari Rias Gremory, Himejima Akeno, Hyuuga Hinata, serta Chouza untuk kemari membicarakan tentang anak-anak mereka, sementara yang lainnya kau beritahu saja mereka secara langsung."

"Hm... Baiklah," jawab Ibiki lalu pergi bersama beberapa pasukannya, Shikaku pun kembali menyusun rencana karena banyak sekali yang mengajukan diri untuk bergabung menjemput anaknya besok.

Beberapa menit berlalu orang-orang yang ingin dia temui datang dengan wajah khawatir, "Oh, kalian datang juga," gumam Shikaku sambil mendekati mereka. "Shikaku, kau sudah ada di sini?" tanya pria berambut merah dengan sebelah alis terangkat.

"Tentu saja, karena aku sekarang bertugas sebagai otak dan penyusun rencana untuk penyerangan pasukan JSDF nanti," jawab Shikaku sambil menggaruk belakang kepalanya, "bukan cuma aku, tapi Minato dan Inoichi juga."

"Hoo... Kembali ke JSDF ya? Bagaimana rasanya?" tanya pria berambut hitam dan mendapat dengusan pelan. "Tidak ada hal menarik," jawab Shikaku lalu mengambil nafas dalam-dalam, baru saja akan berbicara kembali, ia tertahan karena salah satu pria memegang bahunya dan mengguncangnya dengan sedikit keras.

"Shikaku, aku datang ke sini begitu mendengar salah satu tentara menyuruhku datang kemari karena kabar tentang anakku, bagaimana hasilnya? Apakah putriku ada di sini? Putriku baik-baik saja bukan? Dia masih hidup bukan?" tanya Pria berambut cokelat panjang sambil terus mengguncang Shikaku. "Tenanglah dulu Hiashi, aku tahu kau khawatir dengan putrimu karena tidak mendapat kabar selama tiga hari ini, jadi biarkan aku menjelaskannya lebih dulu...," ucap Shikaku sambil melepaskan tangan Hiashi.

"Kami baru saja mendapat kabar dari sebuah kelompok bernama Ghost Thief yang masih selamat di Tokyo, dan Ghost Thief ini merupakan kumpulan anak muda dari Putra Minato, Putra Fugaku, Putraku dan Putra dari keluarga Hyoudo," jelas Shikaku membuat mereka terkejut mendengar itu, "dan di antara mereka terdapat anak-anak kalian serta beberapa teman lainnya yang selamat, termasuk Putrimu Hiashi... Dia saat ini bersama Putra Minato, begitu juga dengan Putra Zeoticus dan Baraqiel," lanjut Shikaku sambil menatap pria berambut merah serta pria berambut hitam bergantian.

"P-Putriku bersama putra Minato saat ini?" tanya Hiashi dan di balas anggukkan oleh Minato. "Sungguh tidak di percaya jika Putra Minato ternyata adalah penjahat yang di anggap pahlawan oleh masyarakat, dan putriku bersamanya sekarang... Apakah keadaannya baik-baik saja?" tanya Baraqiel sambil melihat Shikaku dan di jawab anggukkan olehnya.

"Hahh... Syukurlah," gumam Baraqiel menghembuskan nafas lega, dia bersyukur putrinya dalam keadaan baik-baik saja, apa lagi dengan putra Minato, dia jadi bisa lebih tenang, akan lain lagi jika putrinya bersama orang lain yang tidak dia kenal.

"Huft... Syukurlah putraku bersama putramu, Shikaku... Aku bisa tenang sekarang," gumam Chouza ikut bernafas lega. "Heh... Putra Minato adalah Ghost Thief? Omoshiroi," gumam Zeoticus sambil mengelus dagunya.

"Jika begitu tunggu apa lagi?! Kenapa mereka tidak di jemput?" tanya Hiashi dan Shikaku tampak terdiam sesaat karena pasti akan banyak yang memprotes masalah ini, tapi ia setuju dengan rencana Naruto apa lagi pesawat Ark itu besar dan masyarakat lain lebih membutuhkan, jika mereka menggunakan helikopter tidak akan ada yang aman karena memang benar bisa saja memancing para Zombie kembali ke tempat mereka, "kenapa Shikaku?! Cepat kirim beberapa tentara dan pesawat untuk menjemput mereka?!"

"Mereka tidak mau di jemput, Hiashi!" jawab Shikaku membuat Zeoticus, Hiashi, Baraqiel dan Chouza terkejut. "Apa?! Kenapa?!" tanya Hiashi kembali mengguncang tubuh Shikaku.

"Karena itu sangatlah berbahaya, mereka bilang terdapat ribuan Zombie di sana, jika kita mengirim pesawat untuk menjemput mereka, para Zombie di sekitar mereka pasir akan datang dan itu akan sangat merepotkan," jawab Shikaku, "selain itu mereka memiliki insting menyerang, jika Helikopter yang di serang saat penjemputan maka selesai sudah, pesawat Ark tidak bisa di kirim begitu saja demi menyelamatkan beberapa orang karena beberapa Masyarakat masih ada yang harus di selamatkan di Prefecture Tokyo."

"Lalu mereka harus bagaimana?! Tidak mungkin mereka selamanya diam di sana bukan?!" tanya Hiashi kembali. "Tentu saja tidak, mereka sudah menyiapkan sebuah rencana agar bisa pergi dari tempat itu," jawab Shikaku membuat Chouza, Baraqiel, Zeoticus dan Hiashi kembali terkejut.

"Jelaskan lebih detail Shikaku," pinta Zeoticus dan di jawab anggukkan pelan olehnya. "Mereka memiliki rencana pergi ke penjemputan terakhir pesawat Ark di Hachioji besok, alasan kenapa mereka tidak pergi sekarang di mana ada pesawat Ark yang melakukan penjemputan Setagaya karena mereka pasti membutuhkan waktu untuk persiapan diri, dan mereka tentunya sudah menyiapkan kendaraan untuk pergi ke sana besok," jawab Shikaku menjelaskan rencana anak-anak mereka.

"Bagaimana mereka bisa selamat?! Mereka tidak memiliki senjata atau pun alat perlindungan lainnya kau tahu?! Yang ada mereka justru akan mati?!" balas Hiashi tidak bisa membayangkan putrinya pergi tanpa perlindungan sedikit pun. "Apa yang kau katakan? Mereka sudah memiliki senjata tembak untuk melindungi diri mereka, jika begitu mereka tidak akan selamat sampai sekarang," jawab Shikaku membuat Hiashi tersentak dan bayangan putrinya membawa senjata tembak terlintas di kepalanya.

"Ti-Tidak mungkin... Putriku itu tidak bisa menggunakan senjata."

"Dan putra Minato pasti mengajarinya," jawab Shikaku membuat Hiashi bungkam sesaat lalu menggeram pelan. "Dasar anak Minato... Jika terjadi pada Putriku awas saja," geram Hiashi

"Kau terlalu khawatir, Hiashi," ucap Zeoticus membuatnya melirik ke arahnya, "aku juga membayangkan putriku pasti membawa senjata untuk bertahan diri tapi aku tetap tenang karena hanya itulah satu-satunya jalan untuk bertahan dari sana, jika mereka hanya diam justru merekalah yang mati," ucap Zeoticus membuat Hiashi terdiam sambil memikirkan ucapan Zeoticus.

"Kalian semua jangan khawatir, anak-anak kalian pasti akan selamat sampai kemari, karena di sana banyak pasukan JSDF yang mengajukan diri untuk membantu menyelamatkan mereka besok."

.

Minato Side

.

Sementara itu di sisi Minato, saat ini dia tengah mengatur beberapa Pasukan JSDF dengan divisi yang berbeda-beda, siapa yang akan menjadi pasukan penjaga, siapa yang akan menjadi penyerang melalui Helikopter, pesawat, Tank dan lain-lainnya, selagi mengatur pasukan Kakashi datang mendekatinya bersama beberapa pasukan datang mendekatinya sambil memberi hormat kepada Minato.

"Selamat Pagi! Kolonel Minato!" ucap Kakashi mewakili membuat Minato menoleh ke arahnya. "Ah, Kakashi-san ada apa?" tanya Minato dan secara tak sengaja ia melihat dua orang yang dia kenal di belakang Kakashi.

"Itachi... Shisui?!" gumam Minato lalu mendekati mereka dan memeluk mereka dengan erat sesaat, "syukurlah kalian baik-baik saja," gumam Minato tersenyum senang.

"Kami juga senang Anda baik-baik saja," jawab Itachi membuat Minato terkekeh pelan.

"Kalian tidak perlu begitu formal denganku, lagi pula aku sudah bukan bagian dari tentara lagi," balas Minato lalu melihat beberapa tentara lainnya dan tak sengaja ia melihat lambang Special Force di dada mereka termasuk Shisui, Itachi dan Kakashi, "waw, tidak aku sangka bahwa kalian masuk dalam Special Force di dalam usia muda, Itachi, Shisui."

"Ah, ini bukanlah apa-apa di bandingmu, Minato-jii-san."

"Lalu... Yang lainnya... yang berambut cokelat bernama Rin Nohara, pemuda di sampingnya Uchiha Obito, di sampingnya kalau tak salah Gabriel dan perempuan berambut kuning panjang di samping Rin Nohara adalah Jeanne d'Arc... Apa aku benar?" beberapa tentara di belakang Kakashi yang di sebutkan namanya pun berdiri tegak dan menjawab dengan tegas.

"Siap! Anda benar pak?!"

"Jadi... Ada apa kalian datang kemari?" tanya Minato to the point. "Minato-jii-san... kami ingin mengajukan diri menjadi pasukan khusus yang akan menyelamatkan Naruto dan yang lainnya," jawab Shisui membuat Minato tersentak karena pasukan khusus seperti Special Force mengajukan diri untuk menyelamatkan putranya.

"Kalian..."

"Mereka adalah anak-anak muda bukan? Tentu saja kami tidak bisa membiarkan mereka mati terlalu awal," ucap Obito sambil memberikan jempol kepada Minato dan mendapat sikuan dari Rin. "Jaga tata kramamu, Obito, walau dia meminta kita untuk tidak formal kau harus ingat statusnya," omel Rin.

"A-Ah... Maafkan saya, Kolonel!" ucap Obito meminta maaf. "Hahaha, tidak apa... Aku suka dengan semangatmu itu," jawab Minato tidak mempermasalahkan hal sepele tadi.

"Apa yang di katakan Obito memang benar, Kolonel. Mereka terlalu muda untuk mati, dan mereka adalah pahlawan yang akan membantu menyelesaikan masalah ini, jadi nyawa mereka pantas di selamatkan dan di lindungi apa pun caranya," ucap Kakashi dengan tegas.

"Selain itu, Putra Anda adalah Pahlawan masyarakat, jika masyarakat melihat pahlawan mereka mati, mereka pasti akan sedih," balas Jeanne. "Saya setuju, dengan itu Kolonel," timpal Gabriel mengangguk setuju.

"Kalian semua...," gumam Minato lalu membungkukkan badannya membuat mereka terkejut, "terima kasih... terima kasih kalian rela bergabung demi menyelamatkan nyawa putra saya."

"K-Kolonel, angkat badan Anda... Anda tidak perlu sampai seperti itu," ucap Kakashi membantu Minato menegakkan badannya kembali bersama Rin dan Obito.

"Anda tidak perlu sampai seperti itu Kolonel, kami dengan tulus melakukannya," ucap Gabriel, "dan juga sebenarnya..."

"Benar sekali, Kolonel jadi tidak perlu sampai seperti itu, kami pasti akan menjaga putra Anda dengan selamat," timpal Jeanne, "selain itu..."

"Kami jatuh cinta pada putramu," batin mereka kompak bayangan saat Naruto tersenyum di layar lebar waktu itu masih terlintas di kepala mereka membuat pipi mereka memanas, "Ah... Namikaze Naruto-kun... Tunggulah aku!"

"Terima kasih kalian semua," ucap Minato sambil tersenyum senang, "jika begitu kalian bersiaplah dengan yang lain."

"Siap!"

.

.

Other Side

.

Beralih ke sebuah tempat, terdapat seorang pria dengan rambut hitam panjang berdiri tenang sambil melihat keluar kaca tepatnya seekor makhluk besar yang memakan banyak daging manusia, pria itu menyeringai karena setiap dia memakan banyak daging, tubuhnya semakin membesar.

"Makanlah yang banyak anakku, dan dengan begitu kita akan menghancurkan negara ini," ucap Pria tersebut, ia mengalihkan pandangannya ketika mendengar suara langkah kaki mendekatinya. "Bagaimana keadaannya, Orochimaru-sama?" tanya seseorang dari balik bayang hingga terlihat seorang pemuda berkaca mata dengan rambut silver berdiri tak jauh darinya.

"Tentu saja dia semakin lama semakin membesar, selain itu apa kau memiliki kabar terbaru, Kabuto?" jawab pria berambut panjang bernama Orochimaru lalu bertanya kepada orang bernama Kabuto di belakangnya. "Ha'i, untuk saat ini beberapa daerah telah runtuh khususnya di Chiba, dan besok akan di susul di Nagano dan beberapa tempat lagi, serta Prefecture Tokyo akan runtuh sepenuhnya besok," jawab Kabuto membuat Orochimaru bergumam pelan.

"Lalu, apa kau tahu di mana tempat-tempat pesawat Ark itu pergi?" tanya Orochimaru kembali. "Mereka pergi ke Kyoto, Orochimaru-sama," jawab Kabuto membuat Orochimaru menyeringai.

"Kyoto ya, beberapa hari lagi kita akan melakukan penyerangan dengan mengirimkan tempat itu beberapa Zombie, dengan begitu Virusnya akan semakin menyebar, Khuhuhu."

.

.

Kediaman Naruto

.

Sementara itu di sisi rumah Naruto, saat ini Shikamaru dan yang lain kecuali Naruto yang masih tak sadarkan diri tengah berkumpul di ruang tamu tanpa berbicara sedikit pun, mereka masih tidak bisa percaya bahwa Naruto bekerja keras dari semalam hingga subuh untuk memperbarui truk mereka hingga akhirnya dia pingsan karena kelelahan.

Shikamaru, Issei, Chouji dan Sasuke awalnya sudah tidur bersama Naruto, mereka ingat dengan jelas hal itu, tetapi tidak di sangka Naruto justru tidak tidur dan memilih melanjutkan pekerjaannya.

Selama tiga hari Naruto lah yang paling banyak bekerja untuk mereka semua di mulai dari Pagi hingga malam, ia membuatkan mereka papan sasaran, melatih menembak, memperbaiki mobil, motor listrik dan lain-lainnya. Di saat semua beristirahat memulihkan tubuh mereka, dia justru bekerja sendirian tanpa mengenal lelah sedikit pun untuk mereka, ia menutupi rasa lelahnya dengan senyumannya agar orang di sekitarnya tidak khawatir dengan keadaannya.

Orang yang sangat keras kepala melakukan apa pun dan tidak memperdulikan dirinya sendiri walau sudah mencapai batasnya, serta orang yang lebih peduli teman-teman sekitarnya di bandingkan dirinya sendiri, ia benar-benar bagaikan seseorang berjiwa pahlawan yang tak peduli berapa pun anak panah yang mengenainya serta serangan yang pedang mengenainya untuk melindungi tuan putri dia akan terus menerimanya hingga akhirnya dia mati dengan tuan putrinya pergi dengan selamat.

"Dia meminum sekitar sebelas botol minuman berenergi, dalam semalam, itu sudah melebihi dosis untuk anak seusianya dan akan membahayakan untuk tubuhnya," gumam Shizuka menjelaskan dampak buruk meminum minuman energi yang sangat banyak dalam waktu semalam, "Naruto-kun itu... kenapa dia sampai seperti ini."

"Hah... Sungguh tidak bisa di percaya... ternyata memang benar Naruto yang menyelesaikan tugas kemarin semalam sendirian...," gumam Shikamaru yang menundukkan kepalanya dengan kedua tangan di keningnya, ia tidak menyangka temannya itu bekerja keras untuknya dan yang lain, ia juga melakukan sesuatu untuk Naruto tetapi tidak seberapa dengan yang dilakukan Naruto.

Buagh!

"Dia itu... Kenapa... Kenapa dia itu...," gumam Sasuke setelah meninju dinding rumah Naruto dengan keras. "Kenapa... Kenapa dia selalu saja melakukan sesuatu yang nekat seorang diri," gumam Issei mengacak rambutnya kesal dengan perbuatan temannya.

Sona dan yang lainnya juga bisa merasakan apa yang mereka rasakan, mereka juga begitu tidak percaya serta kesal dengan perbuatan Naruto yang selalu memaksakan dirinya tanpa memperdulikan kekhawatiran mereka.

Mata ungu Sona bergulir ke arah Shikamaru, ia ingin tahu apakah pemuda bernama Namikaze Naruto ini selalu seperti ini di saat mereka bekerja menjadi Ghost Thief. "Shikamaru-san... Apakah dia selalu memaksakan dirinya saat kalian menjadi Ghost Thief?" ucap Sona mengutarakan pertanyaannya.

Shikamaru tampak terdiam sesaat sebelum akhirnya menganggukkan kepalanya, "Ya... saat pekerjaan kami tidak sesuai rencana, dia selalu saja memaksakan dirinya melakukan sesuatu yang berbahaya bahkan hampir meregang nyawanya...," jawab Shikamaru dengan masih kepala tertunduk, "padahal kami telah memperingatkannya bahkan membentaknya, tapi dia selalu saja bersikap normal dan memberikan senyumannya itu."

Ya semua bisa membayangkan hal itu karena memang itulah yang biasanya Naruto lakukan dan sering mereka lihat, menutupi semuanya dengan senyuman miliknya. "Saat kecil dia juga seperti itu... Dia selalu memaksakan tubuhnya sendiri hingga terluka di mulai dari memaksakan dirinya memanjat tembok, pohon dan lain-lainnya, tapi dia selalu saja tersenyum seolah dia tidak apa agar membuat kita tidak khawatir dengannya," jawab Akeno mengingat kejadian saat kecil di mana Naruto memaksakan dirinya menyelamatkan seekor kucing di atas pohon yang tinggi, tentu akhirnya dia terjatuh dari pohon tersebut dan mendapat luka.

Ia dan Kuroka memarahi Naruto karena membuat mereka khawatir dan menangis, tapi Naruto berkata baik-baik saja dan tersenyum, ia yang mengingat itu tak bisa berhenti tersenyum, entah kenapa dia selalu seperti itu sampai sekarang, mungkin itulah yang menjadi darah dagingnya sampai sekarang.

"Setelah dia sadar aku ingin sekali menghajarnya karena selalu memaksakan dirinya," gumam Sasuke tidak tahan untuk menghajar Naruto, dia selalu ingin melakukannya tapi tentu saja Naruto lebih unggul darinya membuatnya menahan hasrat memukulnya, tapi dalam keadaan saat ini dia ingin sekali menghajarnya.

"Bolehkah aku titip sebuah pukulan untuknya, Sasuke."

"Kita semua kesal dengannya dan ingin memberinya pelajaran karena perbuatannya dan membuat kita khawatir, tapi kita tidak bisa melakukannya," jawab Akeno membuat semua melihat ke arahnya.

"Kenapa?" tanya Issei.

"Apakah kalian tidak punya rasa terima kasih padanya?" balas Arthuria membuat mereka terdiam, "dia memberikan kita tempat tinggal, dia memberikan kita makanan, dia memberikan kita pakaian, dia memberi kita fasilitas, dia sudah menyelamatkan nyawa kita, dia hampir mempertaruhkan nyawanya untuk kita, dia melakukan segala yang terbaik untuk keselamatan kita, dia bahkan mengajarkan kami latihan menembak menggunakan senjata asli padahal kami tidak pernah memegangnya sedikit pun, dia juga sudah bekerja keras selama tiga hari untuk kita, apakah kita tidak membalas kebaikannya serta perbuatannya itu?"

Semua yang mendengar itu terdiam seketika, apa yang di katakan Arthuria memang benar, Naruto sudah memberikan banyak hal pada mereka dan melakukan yang terbaik untuk mereka hingga akhirnya dia berbaring di kasurnya, mereka harusnya membalasnya dengan perbuatan baik.

"Arthuria-senpai benar... Kita harusnya membalas perbuatan dan kebaikan Naruto-kun yang ia lakukan dan berikan untuk kita," ucap Hinata setuju, "Naruto-kun telah bersumpah melindungiku dan menjagaku, karena dia aku yang dulunya takut mulai melawan rasa takutku, dia juga melatihku menggunakan senjata, walau aku masih kaku melakukannya... Tapi Naruto-kun percaya bahwa aku bisa melakukannya, maka dari itu aku ingin membalasnya dengan mencapai kepercayaannya itu."

"Itu benar... Naruto-san pasti punya alasan kenapa dia tidak ingin kita membantunya dan ingin mengerjakannya sendirian... saat dia sadar sebaiknya kita menanyakan hal itu padanya nanti," ucap Tsubaki sambil melirik ke atas di mana kamar Naruto berada, ia juga sebenarnya kesal dan ingin memarahinya, tapi setelah di pikir kembali dia pasti memiliki sebuah alasan tidak memberitahu mereka.

Shikamaru, Sasuke dan Issei yang mendengar itu terdiam, semuanya benar, mereka seharusnya juga bekerja keras seperti Naruto dan membalas semua yang telah dia lakukan untuk mereka.

"Hah... Kalian ada benarnya," ucap Shikamaru sambil berdiri dari duduknya dan menatap semua yang ada di ruang tamu dengan wajah serius, "kita harusnya berterima kasih kepada Naruto yang sudah melakukan apa pun untuk kita, dan kita harus membalas semua hasil kerja kerasnya agar tidak terbuang sia-sia."

"Oleh karena itu, mulai hari ini kita semua harus membalas semua hasil kerja kerasnya untuk kita, karena hari ini adalah hari terakhir kita di sini, maka dari itu ayo semuanya kita juga berjuang keras sepertinya agar kita tidak membuat kerja kerasnya terbuang begitu saja!"

"Baik!/Tentu saja!/Osh!" balas semuanya juga penuh semangat, mereka akan membalas semua kerja keras Naruto hari ini, dan untuk Hari ini adalah hari libur untuk Naruto dan merekalah yang akan bekerja untuk Naruto.

.

.

Skip Time

20.00 PM

.

"Uhhmmmnn...," lenguh Naruto akhirnya terbangun dari istirahatnya sambil membuka matanya, hal pertama yang ia lihat adalah sebuah langit kamar yang sangat gelap, ia mengerjapkan matanya sesaat sambil mengubah posisi berbaringnya menjadi terduduk sambil memegang sebelah kepalanya yang terasa sakit saat dia bergerak.

"Ugh... aku ada di mana?" gumamnya sambil melihat sekitarnya sambil mengumpulkan kesadarannya dan setelah melihat beberapa kali akhirnya dia dapat kesadarannya secara full, "souka... Aku ada di kamarku," gumamnya kembali.

Ia kembali mengingat kejadian di mana ia kehilangan kesadarannya begitu mau melanjutkan pekerjaannya, ternyata tubuhnya sudah tidak kuat lagi dan membutuhkan istirahat yang cukup. Mata birunya bergulir ke arah jam dan betapa terkejutnya dia tertidur cukup lama hingga jam delapan malam, Naruto yang melihat itu menundukkan kepalanya lalu menghembuskan nafasnya.

"Hah... Aku ini benar-benar payah," gumam Naruto sambil memijit keningnya, tak lama ia mendengar suara pintu kamarnya terbuka membuatnya melihat siapa yang datang dan ia bisa melihat Akeno, Kuroka dan Koneko yang berdiri di depan kamarnya dengan wajah terkejut, "a-ah... ternyata kalian."

"Naruto-nii!/Naru-kun!/Naruto-kun!" seru mereka sama-sama berlari ke arah Naruto dan memeluknya dengan erat. "W-Woahh, kalian tenanglah," ucap Naruto berusaha menenangkan mereka bertiga.

Tak lama setelah itu Shikamaru dan yang lainnya pun menyusul masuk dengan ekspresi lega karena melihat Naruto akhirnya sadar juga, "Hahh... syukurlah kau sadar juga, Naruto," gumam Shikamaru dengan perasaan lega karena melihat temannya itu sadar juga

"Shikamaru... Teme... Issei... Minna," gumam Naruto ketika melihat semuanya ada di kamarnya. "Akhirnya kau sadar juga Dobe, bagaimana rasanya?" tanya Sasuke menatap datar Naruto tapi di wajah datar tersebut dia tersenyum tipis dan perasaan lega karena sahabatnya itu sudah sadar.

"Uhm... Aku baik-baik saja," jawab Naruto.

"Syukurlah... Naruto-nii akhirnya sadar juga!" lirih Koneko sambil semakin mempererat pelukannya. "Kami pikir... Kau tidak akan sadar dalam waktu lama," lirih Kuroka juga semakin mempererat pelukannya.

Naruto yang mendengar itu merasa bersalah karena membuat mereka khawatir kembali ia benar-benar lelaki yang tak bisa menepati janjinya pada mereka, "Sepertinya... Aku membuat kalian khawatir ya...," ucap Naruto membuat Akeno dan Kuroka melepaskan pelukan mereka dan menatap tajam Naruto.

"Tentu saja Baka! Kau membuat kami khawatir setengah mati! Kenapa kau selalu memaksakan dirimu! Kenapa kau berbohong lagi pada kami! Kau bekerja dari kemarin malam sampai pagi kan! Kenapa kau berbohong pada kami! Padahal kau sudah berjanji untuk tidak membuat kami khawatir!" bentak Akeno sambil memukul Naruto sekuat tenaga mungkin.

"Itu benar! Dasar Naru-kun baka! Aku benci kamu! Dasar pembohong! Dasar Naru-kun jahat!" bentak Kuroka sambil ikut memukul Naruto untuk melampiaskan kekesalannya. "Benar, Naruto-nii-no baka!" ikut Koneko memukul dada bidang, sementara Naruto hanya menerima pukulan mereka tanpa melawan sedikit pun.

Semua yang melihat itu hanya diam saja sambil mendengarkan jawaban Naruto melalui Akeno, dan Kuroka sebagai perantara.

"Ja-Jadi kalian sudah tahu ya bahwa aku bekerja dari kemarin malam sampai pagi?" tanya Naruto sambil menahan rasa sakit pukulan mereka. "Tentu saja baka! Shikamaru menemukan plastik berisi minuman berenergi! Itu pasti punyamu bukan! Dasar bodoh!" bentak Akeno sambil terus memukul Naruto.

"Maa... maa... Maafkan aku," ucap Naruto akhirnya menahan tangan mereka dan menatap mereka dengan lembut, "maafkan aku karena tidak bisa mengatakan yang sejujurnya pada kalian."

"Kenapa kau tidak bisa mengatakannya pada kami? Jika kau memang ingin menyelesaikannya waktu itu kami bisa saja membantumu untuk menyelesaikannya, jadi kau tidak perlu memaksakan dirimu!"

"Hey, kalian itu perempuan tahu, aku juga tidak bisa melihat kalian mengambil pekerjaan berat, kalian juga membutuhkan tenaga untuk latihan kalian bukan? maka dari itu aku tidak ingin merepotkan kalian, selain itu Shikamaru sudah bekerja keras sepertiku dalam membuat alatnya jadi aku tidak mau merepotkan ya lagi, Sasuke juga sudah berjuang melatih kalian, Chouji juga bekerja keras membantu Shizuka-sensei membantu membuat vaksin, sementara Issei tidak bisa melakukan banyak hal karena ia tidak memiliki keahlian lebih, jadi lebih baik aku mengerjakannya sendiri... Lagi pula aku Ketua bukan? Jadi sudah sewajarnya aku lebih banyak bekerja," ucap Naruto sambil tersenyum seperti biasa.

"Hey! Naruto! Apa maksudmu aku ini tidak bisa apa-apa hah?! Aku juga bisa melakukan sesuatu yang berguna tahu?!" balas Issei merasa tak terima jika di bilang ia tidak bisa melakukan apa-apa. "Hm, benarkah? Kemarin saja kau harus di beritahu beberapa kali hingga kau paham," balas Naruto membuat Issei melenguh pelan.

"jika kalian membenciku dan ingin menjauhiku aku tidak masalah, jika aku bisa melakukan apa pun untuk menjaga keselamatan kalian itu sudah cukup untukku." Mereka bertiga yang mendengar itu menitikkan air mata mereka begitu mendengar jawaban Naruto, ternyata Naruto benar-benar lebih memperdulikan diri mereka dari pada dirinya sendiri.

"Naru-kun no Baka... Mana mungkin kami bisa sepenuhnya membencimu... Kami juga tidak mungkin bisa menjauhimu!" ucap Kuroka sambil memeluk Naruto kembali begitu juga Akeno dan Koneko. "Kami tidak akan menjauhi atau membencimu, Naruto-san... Kami justru berterima kasih padamu karena telah berjuang keras demi kami," ucap Sona sambil tersenyum tipis.

"Itu benar... Kami sangat berterima kasih atas semua yang telah kau berikan pada kami Naruto-san, kami tidak akan membencimu dan menjauhimu setelah semua yang telah kau lakukan," timpal Irina sambil tersenyum.

"Na-Naruto-kun sudah berjanji menjagaku dan menyelamatku... J-Jadi tidak mungkin aku membenci Naruto-kun," ucap Hinata dengan nada tergagap. "Itu benar kami tidak akan membencimu?" ujar Shizuka sambil memeluk Naruto erat bersama Akeno, Kuroka dan Koneko.

"Tapi, Naruto... kami sangat memohon padamu untuk jangan memaksakan dirimu lagi, bisakah kau lakukan itu?" pinta Shikamaru dan mendapat tawa kecil dari Naruto. "Aku rasa itu mustahil, Shikamaru," jawab Naruto membuat Shikamaru menghembuskan nafasnya.

"Sudah aku duga memang mustahil ya." Naruto yang mendengar itu hanya tersenyum. "Maafkan aku ya... Maaf karena membuat kalian khawatir," ucap Naruto sambil mengelus punggung Akeno dan Kuroka dengan lembut.

Kruuukk~

Suasana di ruangan itu pun hening sesaat hingga akhirnya semua tertawa kecil karena mereka tahu suara tersebut dari siapa, sementara Naruto hanya memerah wajahnya karena perutnya berbunyi cukup keras, wajar saja dia tertidur cukup lama karena kelelahan.

"Etto... Apakah ada sisa makan malam? Aku sangat lapar sekali."

"Sebenarnya tidak ada makan malam tersisa, tapi aku akan membuatkan makanan untukmu sekarang," ujar Rossweisse berjalan keluar kamar Naruto menuju dapur untuk membuatkannya makanan.

"Selagi menunggu makan malammu jadi, bagaimana jika kau membersihkan dirimu dulu? Sekaligus akan kami jelaskan situasi selama kau beristirahat." Naruto pun mengangguk sebagai jawaban.

.

Setelah selesai membersihkan dirinya, Naruto pun berkumpul bersama yang lainnya di ruang tamu dengan Akeno dan Kuroka yang menyuapinya makan, sebenarnya dia ingin sekali makan sendiri tapi mereka bilang agar dirinya untuk tidak banyak bergerak karena ia harus mengistirahatkan tubuhnya.

Shizuka juga menyuruhnya untuk tidak banyak bergerak dan mengistirahatkan tubuhnya saat ini, jadi ia tidak bisa menolaknya dan membiarkan mereka menyuapinya.

"Jadi... Apa saya yang terjadi saat aku istirahat?" tanya Naruto lalu menerima suapan nasi dari Akeno dan lauknya dari Kuroka. "Selama kau pingsan, kami sudah menyiapkan keperluan kita untuk pergi besok dia dalam truk, mulai dari bensin, makanan, beberapa pakaian, senjata, peluru, cairan Nitrogen, dan beberapa obatan kita sudah memasukkannya ke dalam truk," jawab Shikamaru.

"Selain itu selama kau pingsan, kami menyelesaikan latihan tembak kami hari ini hingga papan sasaran Licker."

"Benarkah?" tanya Naruto sambil melihat semua teman-temannya, dan mereka mengangguk sebagai jawaban. "Itu benar Naruto-kun, kami sudah menyelesaikannya," jawab Arthuria membuat Naruto tersenyum tipis.

"Aku harap kalian tidak berbohong dan membuktikannya besok," ucap Naruto dengan tatapan penuh harapan, "jadi apakah ada yang lainnya?" tanya Naruto kembali.

"Ya, aku sudah menentukan jarak pesawat Ark terakhir besok yang ada di Hachioji berjarak sekitar 52 Kilometer dari sini, dengan kata lain kita hanya bisa berhenti sekitar dua kali saja," jawab Shikamaru lalu mengaktifkan Chipnya, hingga memperlihatkan layar hologram dengan gambaran map.

"Saat ini pesawat Ark tengah melakukan penjemputan di kota Kunitachi dan Yotsuya, dan akan melakukan Evakuasi di kota Hino dalam beberapa jam lagi, jumlah mereka semakin banyak saja dalam beberapa jam, jadi kemungkinan sampai di Kota Hachioji sangat kecil karena ribuan Zombie sudah menunggu dan juga bergerak ke sana secara perlahan," lanjut Shikamaru memperlihatkan gambaran pesawat Ark yang tengah melakukan penjemputan dengan beberapa pesawat yang membombardir kota untuk mencegah para Zombie mendekat.

"Jadi begitu...," gumam Naruto sambil mengelus dagunya, "apakah hanya itu?" tanya Naruto dan di balas anggukkan oleh Shikamaru.

"Hah... Aku minta maaf karena merepotkan kalian, jika saja aku tidak pingsan aku pasti akan..."

"Jangan menyalahkan dirimu, Naruto-san... Kau memang harus banyak beristirahat," potong Tsubaki membuat semua melihat ke arahnya, "jika hanya kau yang bekerja, kami akan terlihat seperti beban untukmu bukan."

Naruto yang mendengar itu termenung sesaat, "Apa yang dia katakan benar Naruto, aku juga sangat ingin berguna tahu, dan besok aku akan tunjukkan padamu bahwa aku berguna," ujar Chouji penuh semangat.

"Hah... Kalian ini ya," gumam Naruto sambil tersenyum. "Lalu... Bagaimana Danchou? Apakah kau memiliki rencana agar kita sampai di Hachioji besok?" tanya Shikamaru membuat Naruto melihat ke arahnya sesaat lalu melihat ke arah teman-temannya yang menunggu perintahnya.

Naruto pun melihat ke arah map kembali sambil mengelus dagunya, setelah cukup lama sebuah senyuman pun muncul di bibir Naruto, "Ya, aku punya rencana... Dengarkan aku."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

TBC

Note : Yo! Kembali update!

Bagaimana? Aku harap kalian puas walau sedikit? Minta tambah Word? Kalian bayar saya berapa sih? Udah kagak bayar main minta, kalian pembaca di anggap raja? Saya Tuhannya cerita saya mau apa kalian?

Hah... sudahlah, seperti yang kalian lihat di sini lebih banyak percakapan orang tua tentang meminta anak mereka di selamatkan dan tentunya Shikaku menjelaskan situasinya kenapa mereka tidak mau di jemput.

Lalu pasukan Special Force yang terdiri Kakashi, Rin, Obito, Gabriel dan Jeanne d'Arc muncul di hadapan Minato untuk menyelamatkan putranya, dan ternyata Gabriel dan Jeanne memiliki perasaan terhadap Naruto. Bagaimana ya jadinya jika Duo Blonde bertemu Duo Black Hair? BWAHAHAHA.

Lalu selama Naruto pingsan, semua sudah mempersiapkan apa yang mereka butuh kan, dan saat dia sadar Naruto sudah menjelaskan kenapa dia tidak mau yang lainnya membantunya.

Dan saat ini rencana apa yang di miliki Naruto? Lalu apakah Orochimaru akan berhasil mengirim satu Zombienya ke Kyoto? Tunggu saja kelanjutannya, sampai bertemu Chapter depan, Jaa na.

4kagiSetsu Out