Note Again : perubahan lagi. Thanks lah yang ngasih info :v perdana menteri ubah jadi Kaisar. Saya kekurangan Informasi karena nih cerita tanpa ada kerangka jadi mohon maaf.

.

Jum'at, 31 Juli 2056

Kediaman Naruto

06.00 AM

.

Di pagi hari ke empat di sebuah kota mati yang di penuhi oleh ribuan Zombie, terdapat sebuah rumah yang di kelilingi oleh Barrier dan terdapat beberapa orang yang selamat dari bencana yang melanda kota mereka, Yap rumah itu adalah milik keluarga Namikaze.

Seperti biasa para lelaki di antaranya Chouji, Shikamaru, Sasuke dan Issei tertidur di sofa, sementara para perempuan tidur di kamar berbeda karena terdapat empat kamar di sana, jadi tidak mungkin mereka langsung tidur di satu kamar kecuali salah satu kamar yang hanya terdapat satu laki-laki yang tertidur bersama dua perempuan di setiap sisinya dengan sebuah selimut menutupi tubuh mereka.

Tanpa di bangunkan alarm, laki-laki yang di apit oleh dua perempuan itu membuka matanya memperlihatkan mata biru yang indah, ia mengerjapkan matanya sesaat untuk mengambil kesadarannya hingga dirinya merasakan hembusan nafas serta dengkuran halus di kedua sisinya.

Ia pun melihat setiap sisinya dan pipinya sedikit memerah ketika melihat dua perempuan yang dia kenal tertidur bersamanya bahkan ia tak bisa menggerakkan tangannya yang menandakan mereka memeluk lengannya sambil tertidur.

"A-Akeno-chan... Kuroka-chan... Ke-Kenapa mereka di sini?" batinnya hingga sebuah ingatan terlintas di kepalanya di mana saat mereka semua akan tidur, dua perempuan bernama Akeno dan Kuroka ini menariknya ke kamar dan tidur bersamanya dengan alasan mereka akan menahannya sekaligus menjaganya agar tidak melakukan sesuatu saat mereka semua tertidur, "ahh... jadi begitu... Aku ingat sekarang, mereka tidur bersamaku sekaligus menjaga dan mengawasiku agar tidak bekerja di masa istirahatku ya," batinnya sambil tersenyum tipis melihat dua perempuan yang tertidur di setiap sisinya.

"Kalian memang selalu perhatian terhadap diriku ya, Akeno-chan... Kuroka-chan," lanjutnya lalu menggoyangkan lengannya dengan pelan membuat mereka melenguh pelan dari tidur mereka, "Akeno-chan, Kuroka-chan, ayo bangun... Kita harus siap-siap," ucap laki-laki tersebut membuat mereka membuka mata mereka perlahan hingga mereka bisa melihat wajah seorang pemuda yang membuat mereka jatuh cinta terhadap laki-laki itu.

"Ohayo, Akeno-chan... Kuroka-chan," sapa laki-laki itu dengan lembut, ke dua perempuan di setiap sisinya terdiam beberapa menit hingga mereka akhirnya tersenyum bersama. "Ohayo, Naruto-kun/Naru-kun," ucap mereka kompak semakin merapatkan diri mereka kepada lelaki bernama Naruto itu.

"Hey, jangan tidur lagi... Ayo bangun, kita harus siap-siap berangkat," ucap Naruto ketika mereka ingin kembali tidur padahal ia sudah membangunkannya tadi, mereka pun melenguh pelan dengan pipi sedikit di kembungkan karena tidur mereka di ganggu. "Hmmnnn, bagaimana keadaanmu, Naru-kun?" tanya Kuroka sambil mengelus dada Naruto dengan lembut.

"Ya... aku sudah merasa baikkan dan merasa pulih kembali," jawab Naruto dengan pipi merona karena ia bukan merasakan satu elusan di dadanya melainkan dua, "arigato, kalian berdua... Aku senang karena kalian memperhatikan diriku."

"Hmm, sudah jelas bukan... Karena aku mencintaimu," ucap Akeno dan Kuroka kompak lalu memberikan ciuman pada pipi Naruto dalam waktu cukup lama membuat wajahnya memerah sempurna. "A-Ahh... A-Arigato, j-jika sudah A-Ayo kalian berdua bangun dan bersihkan tubuh kalian," ucap Naruto ingin bangun namun mereka kembali menahannya.

"Masih belum... Kita belum melakukan Morning Kiss, Naruto-kun," ucap Akeno perlahan menaiki tubuhnya begitu juga Kuroka yang juga menaiki tubuh Naruto, sementara yang menjadi korban saat ini wajahnya semakin memerah. "M-Morning Kiss?! B-Bukannya tadi kalian sudah melakukannya?!" balas Naruto mencoba memberikan alasan.

"Tapi aku maunya Morning Kiss dari bibir ke bibir, Naruto-kun," jawab Akeno dengan seksual membuat Naruto meneguk ludahnya. "Hey! Teke-onna! Akulah yang akan melakukan morning kiss terlebih dahulu dengan Naru-kun jadi menyingkirlah!" ujar Kuroka mendorong Akeno menjauh dari atas tubuh Naruto.

"Justru kau yang menyingkir Neko-onna! Akulah yang pertama akan melakukannya!" balas Akeno juga berusaha mendorong Kuroka menjauh dari atas tubuh Naruto, mereka pun sama-sama melempar tatapan tajam dan mulai saling mendorong satu sama lain.

Naruto yang melihat mereka kembali berkelahi karenanya pun menghela nafasnya lalu menarik pipi mereka untuk berhenti, "Kalian... berhentilah berkelahi," ucap Naruto lalu melepaskan tarikannya pada pipi mereka.

"Mou! Sakit Naru-kun!" ucap Kuroka sambil mengembungkan pipinya cemberut. "Hmmnn! Naruto-kun jahat!" timpal Akeno juga ikut mengembungkan pipinya.

"Gomen... Gomen...," ucap Naruto sambil tersenyum lalu menghembuskan nafasnya, "hah... Sejujurnya aku selalu memikirkan ini... Apa kalian yakin mencintai orang sepertiku yang telah ter nodai banyak darah? Aku juga seorang pembunuh, apakah kalian yakin mencintai orang sepertiku?" tanya Naruto dengan wajah serius, Akeno dan Kuroka yang mendengar itu juga menatap serius Naruto.

"Tentu saja aku mencintaimu Naru-kun! Aku tidak peduli jika kau seorang pembunuh karena aku tahu kau membunuh orang-orang yang bersalah!" jawab Kuroka tegas. "Benar sekali! Tak peduli kau telah ter nodai banyak darah dan seorang pembunuh aku juga tetap mencintaimu! Tentara juga banyak membunuh orang dan mereka juga mendapat cinta seorang perempuan, lalu kenapa kau merasa tidak pantas? Kau juga pantas mendapatkan cinta Naruto-kun... Jika tidak ada yang mau bersamamu, aku akan selalu siap bersamamu kapan pun," timpal Akeno sambil menggenggam tangan Naruto dengan lembut.

Naruto yang mendengar itu termenung seketika, apa yang di katakan oleh Akeno ada benarnya juga, para tentara itu juga sudah banyak membunuh orang dalam perang dan mereka pasti juga mendapatkan pasangan dan orang yang mencintai mereka.

Kuroka yang mendengar itu tidak mau kalah juga ikut menggenggam tangan Naruto, "Aku juga akan selalu bersedia di sampingmu Naru-kun jika tidak ada yang bersamamu!" ucap Kuroka membuat Akeno menatap tajam dirinya.

"Kenapa kau ikut-ikutan Neko-onna! Akulah yang akan selalu di samping Naruto-kun!"

"Justru akulah yang akan selalu di sampingnya!"

Mereka pun sama-sama melempar tatapan tajam kembali membuat Naruto yang melihat itu tersenyum tipis, "Maa, kalian berdua berhentilah bertengkar," ucap Naruto kembali menarik pipi mereka hingga mengaduh kesakitan, "Aku sangat berterima kasih kepada kalian berdua yang tetap mau mencintaiku walau aku seorang pembunuh."

"Tapi untuk saat ini aku belum bisa menjawab perasaan kalian seperti yang aku bilang sebelumnya," lanjut Naruto sambil tersenyum, "dan aku harap kalian menerima apa pun keputusanku nanti jika suatu saat aku memilih salah satu dari kalian dan kalian tidak bermusuhan serta tetap berteman seperti biasanya. jika aku melihat kalian selalu bertengkar karenaku, aku sangat merasa bersalah loh karena pertemanan kalian hancur karenaku. Oleh karena itu aku harap kalian tetap bisa berteman... Apakah kalian bisa?"

Akeno dan Kuroka yang mendengar itu saling berpandangan satu sama lain, mereka sebenarnya sama-sama tidak terima jika salah satu dari mereka mendapatkan Naruto, tapi mereka juga tidak bisa membuat Naruto merasa bersalah karena bisa saja ia melakukan sesuatu yang nekat karena rasa bersalahnya dan mereka tidak mau itu terjadi.

Dari pada melihat nyawa orang tercinta mereka melayang karena perkelahian mereka nanti jika salah satu dari mereka mendapatkan Naruto, mereka pun mengangguk dengan rasa enggan, "Um... Akan kami usahakan, Naruto-kun/Naru-kun," jawab mereka kompak membuat Naruto tersenyum mendengarnya.

"Baguslah kalau begitu...," balas Naruto sambil mendudukkan dirinya di kasur, "jaa kalau begitu... kalian bersiaplah karena hari ini kita akan pergi dari sini."

.

Kyoto, Mount Sajikigatake

.

Sementara itu di markas utama, terlihat saat ini banyak pasukan JSDF yang berkumpul dan mempersiapkan diri mereka untuk menjalankan misi besar mereka, para angkatan Udara juga langsung mengerahkan berbagai pesawat tempur mulai dari pesawat jet hingga helikopter ke landasan pesawat Ark yang siap untuk melakukan penjemputan di titik yang sudah di jadwalkan.

["Terus! Terus! Yak berhenti!"] ujar salah satu pasukan mengerahkan satu pesawat jet ke landasan pesawat Ark.

["Setiap pasukan cek pesawat yang akan di gunakan! Jangan sampai ada yang ketinggalan!"] ucap kapten yang ada di pesawat Ark

["Roger!"] balas seluruh pasukan udara langsung bergerak mengecek setiap pesawat yang ada.

["Hey! Kalian jangan bermalas-malasan! Ayo cepat bekerja! Jika salah satu kapal tidak berfungsi nyawa pahlawan kita akan melayang!"]

Selain pasukan udara, pasukan darat juga mempersiapkan senjata berat berupa tank serta kendaraan-kendaraan yang di gunakan untuk mengangkut pasukan tentara masuk ke dalam pesawat Ark, para Dokter di sertai mobil ambulance juga langsung terbagi menjadi beberapa bagian dan masuk ke dalam pesawat Ark.

Tak lama setelah itu pasukan pun langsung bersiap dan berdiri tegak karena melihat Kaisar perdana di depan mereka dengan Minato di sampingnya. Salah satu pasukan pun langsung memberi tanda hormat membuat seluruh pasukan memberikan hormat kepada Minato dan Hiruzen.

Hiruzen dan Minato pun membalas hormat mereka sesaat dan membuat mereka menurunkan hormat mereka, Hiruzen pun maju selangkah sambil mengambil nafas sedalam mungkin lalu menghembuskannya dengan pelan.

"Kalian semua yang ada di sini?! Aku sangat berterima kasih kepada kalian semua yang bersedia mengajukan diri kalian untuk misi penting hari ini?!" ujar Hiruzen dengan tegas, "Aku akan menjelaskannya sekali lagi kepada kalian! Di luar sana terdapat sekumpulan anak muda yang terjebak di sebuah kota yang di penuhi Zombie! Dan mereka berusaha keluar dari sana dengan semampu mereka! Tapi mereka membutuhkan bantuan karena banyak Zombie yang akan menghalangi mereka!"

"Kalian semua yang ada di sini?! Aku ingin kalian mengerahkan seluruh kemampuan dan tenaga kalian untuk mereka?! Kalian rela mengorbankan nyawa kalian untuk mereka bukan?! Jika begitu lakukan untuk mereka?! Tapi aku juga berharap kalian semua yang ada di sini kembali dengan selamat?!" ujar Hiruzen, "kalian semua! Berjuanglah dan selesaikan misi ini dengan sempurna?! Jangan biarkan Anak muda yang kalian anggap pahlawan itu mati sia-sia?!"

"HUWOOOOOOOOO!" teriak seluruh pasukan penuh semangat. "Minato... Berikan komando kepada mereka," ucap Hiruzen sambil mundur satu langkah membiarkan Minato memberi komando pada setiap pasukan. Minato yang mendengar itu pun mengangguk lalu melihat seluruh pasukan yang ada di depannya, "Semua pasukan! Aku sangat berterima kasih kepada kalian semua yang siap menyelamatkan putraku dan teman-temannya!" ujar Minato yang kembali berterima kasih kepada seluruh pasukan.

"Semua pasukan! Pergilah! Misi hari ini telah di mulai! Semoga kalian semua kembali dengan selamat dengan misi berjalan sukses?!"

"SIAP!" seluru pasukan pun langsung bubar dan masuk ke masing-masing pesawat Ark berjumlah sepuluh yang sudah siap di markas utama. ["Di sini Ark one! Semua mesin baik-baik saja! Pasukan sudah masuk! Senjata aman! Pesawat sudah siap berangkat! Ark lainnya berikan laporan!"] ujar kapten pesawat Ark one sambil menghidupkan mesin pesawatnya.

Baling-baling pesawat Ark pun berputar dengan cepat di ikuti pesawat Ark lainnya hingga membuat ruangan tersebut di penuhi hembusan angin. ["Ark Two! Ok!"]

["Ark Three, siap!"]

["Ark Four, siap berangkat!"]

["Ark Five, berangkat!"]

["Ark Six, aman!"]

["Ark Seven, baik-baik saja!"]

["Ark Eight, aman!"]

["Ark Nine, Siap!"]

["Ark Ten, Ok!"]

["Seluruh Ark baik-baik saja! Seluruh pesawat Ark, Berangkat!"] ujar Pesawat Ark one berangkat lebih dahulu keluar melalui lubang yang sudah di sediakan di ikuti oleh pesawat lainnya.

"Aku berharap kalian berhasil, Minna," gumam Minato ketika melihat semua pesawat Ark sudah pergi, ia pun melangkahkan kakinya dengan cepat ke tempat monitoring di mana Shikaku dan Inoichi yang bertugas di sana.

["Di sini Inoichi kepada seluruh pesawat Ark dan pasukan, apa kalian dengar?"] ujar Inoichi dan langsung mendapat jawaban serentak.

["Ha'k! Kami dengar!"]

["Kita langsung saja sesuai rencana, pesawat Ark One bersiaplah di Hachioji! Sementara pesawat lainnya juga bersiaplah di kota-kota yang sudah di koordinat kan! Seluruh pasukan darat cepat evakuasi warga dan pasukan udara lindungi pasukan darat dengan membunuh para Zombie di udara! Sambil menunggu kedatangan mereka, kirimkan Predator untuk mengawasi sekitar agar bisa mendapat tanda di mana mereka berada!"]

["Roger!"]

"Baiklah! Kalian semua yang ada di sini! Kalian juga bersiaplah! Hari ini adalah hari penting untuk menyelamatkan anak-anak muda yang terjebak di Tokyo serta warga-warga terakhir di beberapa kota! Jangan anggap ini main-main!"

"Siap!"

"Shikamaru... Bertahanlah nak!" batin Shikaku sambil menatap layar di mana seluruh pesawat Ark mulai berbaris sejajar. "Ino... Semoga kau selamat nak," batin Inoichi juga berharap anaknya baik-baik saja.

Beralih di salah satu kamar, terdapat Kushina yang tengah memperhatikan foto putra yang sempat ia bawa saat ingin pergi bekerja, hari ini putranya akan melalui perjalanan yang berbahaya agar sampai di sini, ia memeluk foto tersebut dengan erat sambil menitikkan air matanya, "Semoga... Kau baik-baik saja, Naruto-kun," gumam Kushina berharap putranya baik-baik saja.

.

Kediaman Naruto

.

Sementara itu di kediaman Naruto, saat ini ia tengah duduk sofa sambil mempersiapkan seluruh senjata yang akan dia gunakan di mulai dari mempersiapkan Dual Revolver Hitam, Dual Vector dan Sniper Locus nya, saat semua equipment Snipernya sudah di pasang kembali, ia menempelkan Snipernya di kening sambil memejamkan matanya hingga beberapa detik, ia kembali membuka matanya memperlihatkan mata birunya yang berkilat tajam, "Tunggu aku, Kaa-chan, Tou-chan." Setelah mengatakan itu, Naruto pun menggenggam Rapid Fire Snipernya lalu menariknya.

Cklek!

.

.

Disclaimer :

Naruto Masashi Kisimoto

High School DxD Ichiei Ishibumi

Summary : Dunia Modern, dimana Dunia sudah maju dengan teknologi canggih yang membantu peradaban manusia, namun karena saking canggihnya, para ilmuwan nekat membuat sesuatu yang berbahaya, namun saat melakukan tes terjadi kesalahan besar. Sesuatu yang berbahaya itu menyebar dengan cepat membuat panik orang-orang dan mereka harus melarikan diri untuk bertahan hidup, akankah peradaban manusia musnah sepenuhnya?

This Is The End the World?

Pair :

Naruto x ...

Sasuke x Sakura

Issei x Rias

Shikamaru x ...

Genre : Alternative Universe, Adventure, Fantasy, Horror, Tragedy, Mystery, Humor, Sci-Fi, Ecchi, Future.

Rate : M

Warning : Typo, OC, OOC, AU, Multichap, Alur berantakan dan Lain-lain, Smart!Naru.

" Naruto " berbicara

" Naruto " batin

["Naruto."] bicara melalui walkie talkie

["Naruto."] balasan dari Walkie talkie.

.

Chapter 12 : Day 4 Survivor Part 1

.

Setelah selesai menyiapkan seluruh senjatanya, Naruto memasukkan ke dalam mobilnya lalu kembali masuk ke dalam rumah sambil melihat teman-temannya yang juga mempersiapkan senjata mereka setelah selesai sarapan.

Kenapa mereka harus sarapan terlebih dahulu? Tentu saja karena perjalanan kali ini adalah 52 Km dan mereka juga akan melawan banyak Zombie, jadi mereka membutuhkan banyak tenaga karena mereka hanya bisa berhenti sekali atau mungkin dua kali untuk mengisi bahan bakar kendaraan mereka lalu melanjutkan perjalanan mereka.

"Bagaimana keadaannya, Shikamaru?" tanya Naruto sambil mendekati Shikamaru yang menyiapkan Senjata Assault Riffle bernama Kuda sambil melihat peta hologram di depannya. "Mereka sudah mengirim pesawat Ark ke beberapa titik untuk melakukan penjemputan terakhir termasuk Hachioji," jawab Shikamaru memperlihatkan sepuluh sepuluh pesawat Ark mulai bergerak ke Prefecture Tokyo lalu membagi jarak mereka.

"Sudah di mulai ya, lalu... keadaan Zombie hari ini?" tanya Naruto kembali. "Jika dari sini, Jarak mereka sudah mencapai 26 Km jadi kita aman saat di pemberhentian pertama nanti," jawab Shikamaru lalu memperlebar mapnya kembali.

"Tapi tentunya di sana sangat banyak sekali Zombie yang mulai bergerak ke arah tujuan kita," lanjut Shikamaru sedikit mengeluarkan keringat ketika melihat Zombie-Zombie yang sangat banyak. "Jika begitu ayo cepat... Kita tidak bisa membuat mereka menunggu, selain itu jangan khawatir... kita sudah menyiapkan rencana bukan, berharap saja ini berjalan lancar," ucap Naruto sambil menepuk pundak Shikamaru.

Shikamaru yang mendengar itu tersenyum kecil dan mengangguk pelan, "Ya... aku harap ini berhasil," jawab Shikamaru lalu kembali fokus pada senjatanya, setelah selesai ia meletakkannya lalu menyetel alat-alat ledak yang mereka ambil dari toko Ilegal. "Issei, Sasuke, Chouji kalian sudah siap?" tanya Naruto sambil melirik Sasuke yang tampak santai, Chouji yang masih memakan keripik kentang dan Issei yang menyiapkan Bom-bom yang akan mereka gunakan nanti.

"Aku sudah siap dan tinggal berangkat saja," jawab Sasuke sambil menepuk senjata yang ada di pangkuannya. "Aku sudah siap, tapi aku masih lapar," jawab Chouji sambil terus makan keripik kentang.

"Sebentar lagi, Naruto... Kau tahu ini cukup rumit kan," balas Issei yang fokus mengatur bom di tangannya agar tidak meledak nanti. "Ya... Jika sudah cepat bawa ke truk, dan Chouji, saat di pemberhentian kita nanti siapkan senjata Gorgon agar bisa menyapu bersih banyak Zombie nanti, jumlah mereka akan lebih banyak nanti," ujar Naruto dan di balas anggukkan oleh Chouji.

Akeno dan Kuroka yang sudah selesai menyiapkan senjata mereka sama-sama terdiam sambil memikirkan pembicaraan mereka tadi, jika salah satu dari mereka mendapatkan Naruto mereka harus menerima keputusan itu dan tetap berteman.

Hal itu tentu susah untuk mereka berdua karena mereka sama-sama ingin memiliki Naruto, mengingat itu mereka justru akan semakin bersaing untuk mendapatkan Naruto karena mereka sama-sama tidak mau mengalah.

"Sebaiknya kau bersiap menerima keputusan Naru-kun memilihku nanti, Teke-onna!" ujar Kuroka melewati Akeno membuat alis Akeno berkedut. "Justru kau lah yang harusnya siap menerima keputusan Naruto-kun ketika memilihku!" balas Akeno membuat Kuroka melirik tajam dirinya.

"Hah? Apa kau bilang?" balas Kuroka lalu sama-sama melempar tatapan tajam lalu mengalihkan pandangan mereka. "Mereka itu kenapa?" tanya Ino ketika melihat Akeno dan Kuroka tampak seperti berkelahi.

"Hm? Seperti biasa... Mereka sama-sama berkelahi memperebutkan Naruto-kun," jawab Rias sambil tersenyum tipis melihat Akeno dan Kuroka yang selalu berkelahi memperebutkan Naruto, ia sudah tahu sejak kelas satu bahwa mereka sama-sama memiliki perasaan terhadap Naruto maka dari itu mereka selalu bersaing untuk mendapatkan hatinya, namun terkadang mereka juga bisa sama-sama kompak dan peduli satu sama lain walau mereka bersaing. "Heh? Mereka sama-sama memiliki perasaan terhadap dia?" tanya Ino dan di jawab anggukkan oleh Rias.

Hinata dan Arthuria yang di samping mereka mendengar itu menghentikan kegiatan mereka, entah kenapa saat mendengar itu mereka merasakan sakit pada dada.

"Bukankah, itu akan mengacaukan pertemanan mereka?" tanya Ino kembali dan di jawab gelengan oleh Rias. "Aku rasa tidak... Mereka itu sudah berteman sejak kecil, mereka juga hanya sering berkelahi jika memperebutkan Naruto-kun, tapi mereka juga bisa peduli satu sama lain walau mereka sering berkelahi," jawab Rias sambil melihat Kuroka dan Akeno yang kembali bersaing di samping Naruto hingga akhirnya Naruto menarik pipi mereka untuk berhenti berkelahi.

"Entah kenapa... Terasa sakit sekali ketika mendengar itu...," batin Hinata sambil menundukkan kepalanya serta meremas baju di dadanya, "apakah aku memiliki perasaan terhadap Naruto-kun... Tapi... Aku sudah..." seketika Hinata terdiam ketika ingat ia sudah tidak memiliki kekasih lagi.

"Benar juga... Kiba-kun sudah tidak ada lagi... Apakah... sekarang saatnya aku membuka lembaran baru... dengan Naruto-kun," batin Hinata sambil melirik Naruto yang menceramahi Akeno dan Kuroka lalu melepaskan pipi mereka. Saat melihat senyuman Naruto ia merasakan pipinya memanas, saat di dekatnya ia merasakan jantungnya berdetak kencang, apa lagi ia sangat senang saat di dekatnya karena ia merasakan perasaan nyaman bersamanya, dan ia selalu ingin merasakannya.

"Tapi... aku rasa itu mustahil... Ia pasti memilih Akeno-chan atau mungkin, Kuroka-chan... jadi mustahil aku bisa berpacaran dengan Naru-kun," batin Hinata sambil menundukkan kepalanya.

Sementara Arthuria, tak jauh beda dengan Hinata, dia juga merasakan rasa sakit di dadanya ketika mendengar itu, ia meremas baju di dadanya dengan pelan. "Kenapa... terasa sakit sekali di sini...," batin Arthuria sambil menundukkan kepalanya, "apakah... Aku cemburu...," lanjut Arthuria dengan pipi merona.

"Ti-Tidak mungkin... A-Aku baru saja mengenalnya beberapa hari," batin Arthuria sambil menggelengkan kepalanya, "ta-tapi... Kami baru saja mengenal beberapa hari..." seketika ia teringat dengan kejadian di atap di mana ia mencium pipi Naruto.

Mengingat itu membuat wajahnya memerah, dia ingin sekali melupakan kejadian itu, tapi setiap dia ingin melupakannya, semakin tak rela ia kehilangan ingatan itu, yang membuktikan bahwa dia memiliki perasaan terhadap Naruto.

"Kenapa... Kenapa aku tidak bisa melupakannya," batin Arthuria sambil menundukkan wajahnya, "apakah aku benar-benar mencintai Naruto-kun," lanjut Arthuria sambil melirik Naruto yang berjalan keluar rumah

"Tapi... dia pasti akan memilih Akeno-san atau mungkin Kuroka-san... jadi tidak mungkin...," batin Arthuria sedikit merasa kecewa.

"Pasti sangat repot ya jika memiliki banyak orang yang mencintaimu."

"Tentu saja, apa lagi jika kau punya teman yang sama-sama mencintai orang yang kau cintai hingga akhirnya ia harus memilih salah satu dari kalian, dan lagi ia harus memikirkan perasaan dari yang dia tolak," jawab Rias, "dan tampaknya dia belum memilih salah satu di antara mereka... Aku rasa itu wajar karena dia belum pernah berhubungan dengan perempuan sedikit pun."

Arthuria dan Hinata yang mendengar itu langsung mendapat secercah cahaya, masih ada harapan untuk berpacaran dengan Naruto, entah apa yang merasuki pikiran mereka tapi mereka juga akan bersaing untuk mendapatkan Naruto.

"Gomen... Akeno-san... Kuroka-san... Tampaknya aku akan ikut persaingan kalian... karena aku juga mencintai Naruto-kun," batin Arthuria dengan mata hijau berkilat lalu menarik rapid fire Sniper Paladin HB50 nya. "Akeno-chan... Kuroka-chan... Maafkan aku... Tapi aku juga mencintai Naruto-kun... Jadi aku akan ikut bersaing dengan kalian," batin Hinata menyiapkan HK416 miliknya.

Ino yang mendengar ucapan Rias menggumam pelan sebagai tanda setuju, itu memang merepotkan, jika kau memiliki dua teman perempuan di mana mereka berteman dan ternyata mereka sama-sama mencintaimu, kau harus memilih salah satu dari mereka.

Dan saat kau memilih salah satu dari mereka, kau juga pasti akan memikirkan perasaan yang kau tolak, dan jika kau tidak memilih mereka berdua kau juga harus memikirkan perasaan mereka berdua yang sudah mencintaimu sejak dulu tapi kau tolak. Cinta itu memang sangat rumit, dan menyakitkan.

"Minna, jika kalian sudah selesai bisakah kalian berkumpul? Ada yang ingin aku katakan pada kalian," ucap Naruto yang kembali memasuki rumah setelah keluar tadi. Semua yang mendengar itu pun berkumpul dan menatap Naruto penasaran dengan apa yang ingin dia katakan, "Kau ingin mengatakan apa, Naruto-san?" tanya Sona membuka pertanyaan.

"..." Naruto yang mendengar itu melihat sekitar sesaat lalu menarik nafas secara perlahan dan menghembuskannya, "aku tidak pandai berkata-kata... jadi aku harap kalian tidak tertawa mendengarnya," ucap Naruto lalu menatap teman-temannya.

"Kita semua sudah melalui masa-masa yang panjang untuk bertahan di sini... memang tiga hari itu bisa tidak bisa di bilang lama tapi itu terasa lama bagiku... atau mungkin kalian semua," lanjut Naruto, "mulai hari ini masa-masa itu akan selesai karena kita semua akan menempuh perjalanan yang panjang dan sulit untuk bisa keluar dari kota neraka ini menuju sebuah tempat yang aman dari bahaya, dan di tempat tersebut terdapat keluarga kita yang menunggu kedatangan kita." Naruto memejamkan matanya, ia bisa membayangkan di mana ayah dan ibunya menunggu kedatangannya.

"Tapi agar kita sampai di sana, kita tentu akan melewati berbagai macam rintangan di depan sana, dan aku berharap selama perjalanan nanti kalian semua memperlihatkan hasil latihan kalian untuk melindungi diri kalian agar tidak ada yang terluka atau pun mati serta kita semua sampai tujuan dengan selamat agar bisa bertemu dengan keluarga kita," lanjut Naruto sambil membuka matanya kembali, "satu hal lagi... kita tidak tahu apa yang akan terjadi di perjalanan kita nanti... jika terjadi sesuatu yang tidak di inginkan seperti yang aku sebutkan sebelumnya menimpa kalian..." Naruto melihat ke arah teman-temannya yang menatap serius dirinya

"Aku sebagai ketua yang memimpin kalian untuk mengikuti rencana ini... akan menebusnya dengan nyawaku," lanjut Naruto membuat suasana menjadi hening, "tapi... aku tidak akan membiarkan hal yang buruk menimpa kalian terjadi, karena aku berjanji akan menjaga serta membawa kalian dengan selamat hingga ke pelukan keluarga kalian!"

"Karena itu, mari kita berjuang bersama untuk keluar dari sini! menuju tempat aman di mana semua masyarakat termasuk keluarga kita berada!" ujar Naruto penuh semangat. Semua yang mendengar itu tersenyum lalu menganggukkan kepalanya, "Osh!"

"Kau bilang tidak pandai berkata-kata Dobe? Kata-katamu tadi itu justru sangat bagus loh," ucap Sasuke sambil memukul pelan bahu Naruto. "Urusai Teme... Bagiku itu masihlah amatiran," balas Naruto sambil mengalihkan pandangannya dengan pipi merona tipis.

"Tidak... Itu justru sangat bagus Naruto," ujar Shikamaru menyetujui ucapan Sasuke. "Hey, Naruto... jika terjadi sesuatu kepada kami... kau tidak perlu menebusnya dengan nyawamu," ujar Issei sambil memukul pelan dada Naruto lalu tersenyum kepadanya.

"Karena kita semua, pasti akan sampai dengan selamat." Naruto yang mendengar itu melihat Issei sesaat lalu teman-temannya yang juga tersenyum dengan ekspresi serius.

"Dia benar Naruto-kun... kau telah memberi kami secercah harapan untuk hidup, kau juga telah mengajarkan kami cara untuk bertahan dan melawan bencana ini, jika kau tidak mengajarkan kami... kami pasti akan menjadi beban untuk pergi dari sini, tapi berkatmu kami tidak akan menjadi seperti itu dan juga berkatmu, kita bisa saling melindungi satu sama lain dari bencana ini...," ucap Rias sambil berdiri di samping Issei, "dan pasti... Kita semua akan sampai dengan selamat bersama," lanjut Rias sambil menggenggam tangan Issei.

"Itu benar, Jangan khawatir Naruto-san... kita pasti bisa sampai di sana bersama," ujar Irina tersenyum penuh semangat. "Um, yang terpenting adalah saling menjaga satu sama lain," timpal Xenovia sambil tersenyum.

"Kau tidak boleh mati Naru-kun/Naruto-kun!" teriak Kuroka dan Akeno mendekati Naruto lalu menarik ke dua pipinya dengan keras. "Ittettette! K-Kalian... Apa yang kalian lakukan?" tanya Naruto menahan rasa sakit di pipinya karena tarikan Akeno dan Kuroka.

"Kau harus tetap hidup Naruto-kun! Tidak akan aku biarkan kau meninggalkan kami!" ujar Akeno membentak Naruto. "Benar sekali! Jika kau meninggalkan kami, kami tidak akan memaafkanmu!" timpal Kuroka.

"Selain itu, apa kau ingin membuat Kushina-baasan menangis lagi? Kau tidak mau kan!" lanjut Kuroka membuat Naruto tersentak. "Kau juga berhutang jawaban pada kami! Jika terjadi sesuatu pada kami, itu bukanlah salahmu! Jadi, kau tidak boleh meninggalkan kami!" ucap Akeno lalu melepaskan tarikannya pada pipi Naruto begitu juga yang mendengar itu terdiam sambil menyentuh pipinya yang memerah karena tarikan mereka, beberapa detik setelah itu ia tersentak ketika Koneko menerjangnya dan memeluknya dengan erat, "Koneko-chan...," gumam Naruto sambil menyentuh kepala putih Koneko dengan lembut.

"Jangan lakukan itu, Naruto-nii... Jika terjadi sesuatu pada kami, itu bukanlah salah Naruto-nii! Jadi Naruto-nii tidak perlu mengorbankan nyawa Naruto-nii!" Naruto yang mendengar itu terdiam sambil mengelus rambut putih Koneko dengan lembut.

"Koneko-chan..."

"Itu benar Naruto-kun... Jika terjadi sesuatu pada kami itu bukanlah salahmu, tapi takdir dari Kami-sama... jadi jangan korbankan dirimu, kami semua membutuhkanmu," ujar Arthuria sambil tersenyum.

"Um, Na-Naruto-kun juga sudah berjanji pada Kiba-kun bukan... ji-jika Naruto-kun akan menjagaku... ka-karena itu Naruto-kun harus menepatinya... jika Naruto-kun melakukan itu... Naruto-kun sama saja melanggar janji dengan Kiba-kun," timpal Hinata sambil memainkan jarinya, "ma-maka dari itu... jangan lakukan itu, Naruto-kun."

Naruto yang mendengar itu seketika teringat kejadian saat di sekolah di mana ia berjanji dengan kekasih Hinata yaitu Kiba Inuzuka yang dia bunuh karena sudah menjadi zombie, di mana ia berjanji padanya kalau ia akan menjaga Hinata baik-baik.

"Aku setuju dengan ucapan Arthuria-senpai... kau tidak perlu sampai melakukan itu Naruto-san," ucap Sona sambil membenarkan letak kaca matanya, "kita sudah melakukan banyak persiapan untuk pergi dari sini, kita semua pasti bisa sampai di sana dengan selamat."

"Selain itu, kita sudah meminta bantuan dengan markas utama bukan? Kita pasti mendapat bantuan nanti, jangan khawatir," timpal Tsubaki sambil tersenyum tipis. "Um, Ayahku pasti akan meminta bantuan untuk menyelamatkan kita, jadi kau tidak perlu khawatir, Naruto-san!" ucap Ino menyemangati Naruto.

Ia sudah banyak membantunya dan juga membuatnya bisa melihat wajah ayahnya, itu sudah membuatnya senang sekaligus semangat untuk bertahan hidup, jadi setidaknya dia ingin membalas budi perbuatan Naruto.

"Selain itu, kita sudah punya vaksin dan beberapa obat-obatan bukan? Kita pasti bisa keluar dengan selamat," ucap Sakura sambil memeluk lengan Sasuke.

"Benar sekali, Naruto-kun! Kau tidak perlu khawatir!" ujar Shizuka sambil memeluk Naruto dengan erat juga dan mengelus rambut dengan lembut. "Kau bisa percayakan mereka padaku, Naruto-kun. Aku pasti akan membawa mereka dengan selamat," ucap Rossweisse sambil memberikan tanda jempol padanya.

"Minna-san...," gumam Naruto ketika mendengar semua perkataan teman-temannya, lalu memejamkan matanya sesaat lalu tersenyum kepada mereka, "ya... semoga kita semua bisa sampai di sana dengan selamat," lanjut Naruto sambil melepaskan Koneko dengan lembut lalu menggenggam tangannya.

"Sebelum berangkat, mari kita memanjatkan doa bersama agar kita benar-benar sampai dengan selamat," ucap Naruto sambil menggenggam tangan Akeno dan terus hingga akhirnya semua berpegangan tangan, "berdoa... di mulai," ucap Naruto lalu memejamkan matanya di ikuti yang lain dan sama-sama memohon agar mereka sampai dalam keadaan selamat.

Setelah selesai, mereka pun sama-sama membuka mata mereka dan tersenyum, lalu Naruto pun maju sambil mengarahkan tangannya ke depan di ikuti semuanya yang langsung menumpukkan tangan mereka di atas tangan Naruto.

"Ikuzo Minna! Mari kita berjuang keluar dari sini! menuju tempat aman di mana keluarga kita berada! semoga Kami-sama selalu melindungi kita! dan jika para zombie menghalangi kita, habisi mereka!" ujar Naruto lalu mengayunkan tangannya ke bawah bersama yang lainnya.

"Siap! Danchou!" teriak mereka kompak. "Sekarang aku akan menjelaskan post kalian masing-masing, seperti yang di katakan Rossweisse, dia lah yang akan mengendarai truk dengan Sasuke yang akan menemaninya di depan, untuk mobilku tentu saja aku yang akan mengendarainya dengan Irina-san yang akan menemaniku, sementara yang lainnya akan ada di gandengan truk untuk membunuh para Zombie yang mengejar kita," ucap Naruto memberikan informasi post mereka masing-masing.

Akeno, Kuroka, yang mendengar itu mengembungkan pipi mereka karena berpikir akan memilih salah satu dari mereka, sementara Hinata dan Arthuria yang mendengar itu sedikit kecewa karena ia juga berpikir bahwa Naruto akan memilih salah satu dari mereka.

"Kau tidak keberatan kan, Irina-san? Jika kau tidak mau, aku tidak apa sendirian di mobilku," tanya Naruto sambil melirik Irina. "Aku tidak keberatan, lagi pula aku juga ingin merasakan bagaimana naik mobil dari Ghost Thief yang terkenal," jawab Irina, ia merasa tidak keberatan jika harus bersama Naruto selama perjalanan.

"Hm, baiklah... jika begitu, tunggu apa lagi ayo segera ke posisi kalian," ucap Naruto dan langsung di balas anggukkan mereka, Shikamaru juga langsung mematikan chipnya lalu menempelkan sebuah chip kecil ke layar dinding di mana mengatur pengaktifan barrier lalu mematikan barrier rumah Naruto agar mereka bisa keluar, saat semua sudah keluar, Naruto menatap rumahnya akan sepi kembali.

saat melihat rumahnya terasa sunyi, Ia merasakan bahwa dirinya akan merindukan kebersamaan seperti ini kembali nanti. Naruto yang membayangkan itu menggelengkan kepalanya pelan lalu tersenyum tipis, "Selamat tinggal... terima kasih sudah melindungi kami tiga hari ini," ucap Naruto lalu melangkahkan kakinya keluar rumah dan menutup pintunya serta menguncinya tentunya.

Ia pun langsung melangkah ke arah mobilnya lalu menyalakan engine mesinnya hingga terdengarlah suara mesin mobil Naruto yang ganas, setelah itu ia pun memasukkan gigi mobilnya lalu menjalankannya dengan pelan keluar dari rumahnya di ikuti truk yang di kendarai Rossweisse di belakangnya.

Setelah keluar, Issei turun sesaat dari truk lalu menutup pintu gerbang rumah Naruto dan kembali ke dalam truk. ["Ok, Naruto... Kita sudah bisa berangkat."] ucap Shikamaru yang juga langsung menyalakan Laptopnya, Chouji juga langsung menyiapkan senjata Light Manchine Gun bernama Gorgon tapi ia belum memasangkan kaki senjata tersebut melainkan menidurkannya di tanah agar nanti tidak menghalangi tembakan mereka.

["Baik,"] jawab singkat Naruto lalu melihat ke arah Irina yang ada di sampingnya, "sebaiknya kau berpegangan, Irina-san... karena ini akan sedikit cepat," ucap Naruto dan di balas senyuman tipis oleh Irina.

"Jangan khawatir, aku siap menerimanya, Naruto-san," jawab Irina sambil menyiapkan senjata Versper nya di pangkuannya. Naruto yang mendengar itu menghembuskan nafasnya pelan lalu langsung menekan pedal gasnya membuat mobilnya kembali berjalan di ikuti truk yang di kendarai Rossweisse di belakangnya.

"Kaa-chan... Tou-chan... aku akan datang."

Shikamaru yang sudah mengaktifkan Laptopnya langsung menekan-nekan tombol Laptopnya dan tak lama setelah itu, Barrier rumah Naruto kembali aktif.

.

Pesawat Ark Side

.

Beralih ke seluruh pesawat Ark saat ini mereka masih terbang dengan kecepatan sedang, para pasukan yang ada di dalam juga menyiapkan senjata mereka dan di Ark One terdapat Gabriel, Jeanne, Kakashi, Rin, Obito, Itachi dan Shisui yang berkumpul.

"Akhirnya tiba juga ya," gumam Shisui sambil menyiapkan senjata AN-97 di tangannya, "aku penasaran apakah mereka sudah dalam perjalanan." Sementara Itachi yang ada di samping Shisui menyiapkan senjata Scar-L Recon

"Itu mungkin saja, jika mereka sudah sampai lebih cepat maka kita bisa menyelesaikan misi ini dengan cepat juga karena batas terakhir adalah jam tiga sore...," jawab Kakashi, "jika mereka masih jauh, maka kita harus bisa menahan para Zombie hingga jam tiga sore hingga mereka sampai."

"Untunglah Azazel-san sudah menyiapkan kita semua masing-masing peluru yang cocok untuk mengalahkan mereka serta mendapatkan informasi dari mereka, dengan begini kita pasti aman-aman saja," gumam Obito yang menyiapkan senjata UMP 45 di tangannya.

Gabriel yang membawa senjata Type 25 dan Jeanne yang membawa senjata M27 juga bersiap, mereka tak sabar untuk menyelamatkan orang yang mencuri perhatian serta hati mereka.

["Luncurkan Predator untuk memantau sekeliling di titik penjemputan, sekaligus kelilingi area titik penjemputan sekitar 30 Km untuk memantau anak-anak yang akan kita jemput."]

["Copy That!"] Sepuluh pesawat Predator tanpa awak pun lepas landas dan berpencar sambil melihat keadaan di titik penjemputan dan untuk mencari keberadaan Naruto dan yang lainnya.

.

Kyoto, Mount Sajikigatake

Markas utama

.

"Predator telah di luncurkan ke setiap titik koordinat!"

"Menampilkan setiap gambaran Predator."

"Menyambungkannya dengan titik koordinat Map!"

Minato, Shikaku dan Inoichi hanya diam sambil melihat layar-layar yang memperlihatkan gambaran dari pesawat predator.

["Titik Zombie di temukan! Aku ulangi titik Zombie di temukan!"]

Tak lama setelah itu terlihatlah gambaran para zombie yang sudah mulai menyerang warga-warga yang kabur dari kota lain hingga ke Hachioji dengan beberapa tentara yang belum mendapatkan perlengkapan baru tengah menahan pada Zombie.

"Banyak sekali," gumam Minato ketika melihat banyaknya zombie yang sudah bergerak ke kota Hachioji.

"Inoichi! Perintahkan setiap pesawat Ark untuk mengirim Raptor di setiap titik jemput untuk menyapu bersih para zombie dengan radius tiga kilometer," ujar Shikaku tanpa menjawab Inochi langsung memberikan kode morse penyerangan kepada setiap pesawat Ark dan tak lama setelah itu di layar peta terlihat beberapa titik merah di berbagai tempat dengan jarak lingkup tiga kilometer dari kota Hachioji begitu juga beberapa kota lainnya yang akan menjadi titik jemput pesawat Ark lainnya.

"Koordinat sudah di kirimkan!"

.

Kembali ke pesawat Ark One

.

.

["Di sini Kapten kepada pasukan udara! Bersiap lepas landas! Aku ulangi bersiap untuk lepas landas!"] semua pasukan yang mendengar itu langsung bersiap terutama pasukan udara, mereka langsung bergerak ke landasan pesawat yang ada di lantai atas.

Beberapa pilot pasukan udara langsung memasuki pesawat jenis Raptor lalu berbaris di landasan pacu pesawat, tak hanya di pesawat Ark One tapi juga di pesawat Ark lainnya.

["Pesawat tempur F-22 Raptor One hingga F-22 Raptor Five, bersiap untuk menyapu bersih para Zombie!"]

["Berikan koordinat untuk memulai menyapu para Zombie agar menjauh dari warga!"]

["Semua bersiap! Koordinat 19700237!"]

["Koordinat di temukan!"]

["Lepas landas!"]

Twush! Twush! Twush!

Seluruh pesawat pun langsung lepas landas secara bergantian membuat terlihat lima puluh pesawat Raptor melintas di langit.

["Ok! Minna! Ayo kita selesaikan dan membuat jarak untuk mereka agar tidak bisa mendekati masyarakat!"]

["Di mengerti! Over!"]

["Kami sampai di koordinat!"] Seluruh pesawat Raptor yang sampai di koordiat langsung membagi jarak lalu sama-sama berputar balik di sekitar koordinat yang di tentukan.

["Sepertinya sangat banyak sekali ya."]

["Tak perlu basa basi! Ayo kita bersihkan!"]

["Yosha!"]

["Semua Raptor hujani mereka dengan Laucher!"]

["Copy that!"]

["Roger!"]

Para raptor pun sama-sama berputar balik kembali di titik koordinat dengan kata lain mereka hanya akan berputar-putar di sana.

["Target Lock!"]

["Fox 2! Fire!"]

Twush! Blaar! Blaaar! Blaaar!

Para pesawat Raptor pun menembakkan launcher ke arah Zombie yang berkumpul di jalanan yang menyerang beberapa warga yang menyelamatkan diri hingga akhirnya terjadi ledakan beruntun di kota.

["Seluruh pasukan! bersiap untuk terjun! bersiap untuk terjun!"] seluruh pasukan yang berkumpul di pesawat Ark langsung berkumpul di dekat pintu besar yang ada di setiap sisi pesawat Ark hingga akhirnya dua puluh detik berikutnya, pintu itu pun terbuka seukuran manusia untuk keluar masuk.

["Jump! Jump! Jump!"]

Seluruh pasukan JSDF pun langsung melompat secara bergantian di atas kota Hachioji dengan parasut di punggung mereka, setelah di ketinggian tertentu mereka langsung membuka parasut mereka hingga akhirnya mereka mendarat di beberapa gedung di serta di jalanan.

Mereka yang mendarat di jalanan langsung bergerak cepat membunuh para Zombie yang menyerang warga dengan kelemahan yang sudah di beritahukan oleh kelompok Naruto.

["Pasukan udara gelombang dua! Bersiap untuk lepas landas!"]

Di landasan pesawat Ark pun terdapat enam pesawat jet tempur yang berbeda tengah bersiap di landasan pacu pesawat Ark, pesawat tersebut adalah pesawat tempur A-10 Warthog.

["Di sini A-10 Warthog one sudah bersiap di landasan, memohon izin untuk lepas landas."]

["Di Izinkan!"]

Pesawat-pesawat A-10 Warthog yang telah di siapkan pun langsung lepas landas membantu pasukan F-22 Raptor yang menyapu bersih para Zombie.

["Setiap pasukan berikan laporan apakah sudah berkumpul!"] ucap salah satu pasukan yang berkumpul dengan beberapa pasukan lainnya sambil bergerak melewati beberapa celah bangunan dengan posisi waspada.

["Di sini Alpha semua sudah berkumpul! Over!"] ucap Kakashi sambil melihat team nya yang terdapat Obito, Rin, Itachi, Shisui, Jeanne, Gabriel serta beberapa pasukan lainnya.

["Wolf lengkap, over!"] ucap pasukan lain sambil melindungi beberapa warga dari serangan Zombie.

["Eagle telah siap di tempat over!"] balas pasukan tentara yang terbagi menjadi beberapa bagian dan memantau di atas gedung dengan senjata Sniper.

["Tiger menunggu dua pasukan lagi! Over!"] ucap pasukan lain yang tengah berkumpul di salah satu bangunan sambil memasang pelindung serta menyiapkan senjata mereka lalu bergerak maju.

["Rhino! Lengkap! Over!"] jawab salah satu pasukan yang tak jauh dari kelompok Kakashi.

["Delta! Juga sudah lengkap! Over!"] balas pasukan lainnya yang bergerak di celah-celah bangunan.

["Ok! Di sini pasukan Alpha! Kakashi akan memimpin kendali! Pasukan Wolf amankan para warga di daerah Utara! Tiger amankan para warga di daerah Selatan! Sementara Delta, bantu kami membunuh para Zombie yang mencoba menyerang warga! Sementara Rhino, lindungi masyarakat hingga mereka sampai masuk pesawat Ark! Sementara Eagle, lindungi kami! Mengerti?"]

["Di mengerti! Over!"]

Seluruh pasukan pun langsung bergerak ke posisi mereka dan langsung membunuh para Zombie yang berusaha menyerang warga.

"Shisui! Itachi! Obito! Pimpin 20 pasukan bersama kalian! Lindungi arah jam 11! Gabriel dan Jeanne juga pimpin 20 pasukan bersama kalian! Lindungi arah Jam 1!" ujar Kakashi sambil terus maju membunuh para zombie di ikuti Rin, Gabriel dan Jeanne di sampingnya.

"Baik!" balas mereka kompak lalu membagi formasi sesuai perintah Kakashi.

Dor! Dor! Dor!

Suara tembakan pun memenuhi kota Hachioji di sertai ledakan secara beruntun. Pesawat Raptor secara berulang-ulang berputar balik sambil menembakkan hujan peluru ke arah pasukan dan di susul ledakan yang di lakukan oleh pesawat A-10, bahkan hingga merobohkan bangunan dan menimpa beberapa Zombie di bawahnya.

["Hell yeah!"] ujar Salah satu pilot A-10 senang.

["Kepada pasukan alat berat! Harap bersiap! Aku ulangi harap bersiap! Sekarang adalah giliran kalian!"] ujar kapten pesawat Ark membuat pasukan-pasukan yang akan mengendarai alat berat bersedia di tempat mereka, ["membuka pintu kargo dalam hitungan 3... 2... 1... Buka!"]

Tshh!

Pintu kargo pesawat Ark yang ada di bawah alat-alat berat pun terbuka dan membuat mereka jatuh ke bawah, tak lama setelah itu parasut alat berat itu pun terbuka membuat alat-alat berat itu melayang di udara, pesawat Ark pun kembali berputar balik ketika sudah menjatuhkan alat-alat berat dan sekarang mereka akan fokus mengangkut masyarakat yang telah di kumpulkan.

["Beritahu kepada pasukan darat yang menjaga masyarakat untuk memberi ruang pendaratan dan bersiap untuk naik, pasukan udara gelombang tiga juga bersiaplah!"]

["Baik!"]

Jeanne dan Gabriel yang menembak para zombie yang menyerang warga dengan dua puluh pasukan di samping mereka tersentak ketika melihat beberapa Zombie kadal mendekati mereka.

["Kepada seluruh pasukan! Bersiap! Licker datang! Licker datang!"]ujar Gabriel lalu dengan cepat mengganti peluru nya. ["Ok! Semua bersiap! Utamakan Licker!"] balas Kakashi juga langsung mengganti peluru senjatanya.

["Copy that!"]

Dor! Dor!

Gabriel, Jeanne dan dua puluh pasukan langsung menembak pasukan para Licker dan peluru mereka menembus kepala Licker dan terjadi ledakan beruntun hingga membuat beberapa bangunan hancur karena ledakan tersebut.

["Para Licker telah di atasi!"]

["Tetap waspada! Mereka bisa saja muncul lagi!"]

.

Markas utama

.

Sementara itu di markas utama, saat ini Shikaku, Ibiki dan Minato yang melihat pasukan sudah terbagi sesuai yang mereka rencanakan saat ini melihat peta di meja depan mereka untuk membuat rencana kembali.

"Berkat penemuan Azazel menggunakan peluru dengan besi terkuat bernama Vibranium, kita akhirnya bisa mengatasi masalah Tanker, Cyclops dan Licker," gumam Shikaku sambil mengelus dagunya, "kita hanya tinggal menunggu kedatangan mereka saja."

"Tapi jumlah mereka semakin banyak, peluru mereka juga terbatas, kita juga hanya mengirim sedikit pesawat saja untuk membersihkan radius tiga kilometer, mereka membutuhkan bantuan," ucap Minato sambil melihat banyaknya zombie semakin bertambah, lalu ia mencoret peta di meja dan memberikan gambaran kepada Shikaku.

"Kemarin mereka melakukan kontak di rumah kami dan perjalanan mereka menuju Hachioji adalah 52 Km, jika mereka berhenti sesaat untuk mengisi bahan bakar dalam beberapa jam tersebut radius 3 Km ini pasti sudah di penuhi kembali banyak Zombie... Kita harus kirimkan mereka bantuan besar-besaran, Shikaku."

"Ya... kau benar Minato," gumam Shikaku lalu memikirkan sebuah rencana baru lagi, "berapa lama lagi hingga seluruh masyarakat yang di selamatkan di kota sebelumnya turun?"

"Sekitar 30 menit lagi," ucap salah satu prajurit, Shikaku yang mendengar itu mengangguk pelan. "Masih ada waktu yang cukup, beritahu setiap pesawat Ark yang sudah menurunkan masyarakat bersiap untuk pergi membantu pesawat Ark lainnya setelah mengisi ulang persenjataan mereka."

"Baik!"

.

Naruto Side.

.

Sementara itu di sisi Naruto dia saat ini sudah berkendara sejauh enam kilometer dengan Irina di sampingnya serta Truk di belakangnya yang di kendarai Rossweisse dengan di temani Sasuke di sampingnya serta Shikamaru dan yang lainnya ada di gandengan truk.

Saat ini mereka sudah ada di jalan Koshu-kaido ave yang sangat panjang hingga akhirnya mereka akan sampai di Shin okutama-kaido ave, jarak sekitar 19 Km lagi kemungkinan mereka akan melakukan pemberhentian di sana untuk mengisi bahan bakar mereka.

Naruto mengendarai kendaraannya dengan tenang sambil menabrak beberapa mobil yang menghalangi menggunakan bagian pembersih salju di depannya hingga akhirnya mobil-mobil itu menyingkir dari jalurnya.

Sesekali juga melindas zombie yang tergeletak di jalanan, mereka juga bisa melihat beberapa bangunan yang roboh serta beberapa bangunan yang masih kokoh namun telah hancur sebagian, mereka tidak menyangka selama mereka berlindung ternyata terjadi kekacauan yang luar biasa di luar.

"Kacau sekali," gumam Ino ketika melihat dari jendela gandengan truk. "Selama pesawat Ark mengangkut masyarakat, pasti pasukan JSDF melindungi masyarakat hingga masuk semua masuk dengan menggunakan senjata berat dan pasukan udara, jadi wajarnya saja kejadiannya separah ini," gumam Shikamaru mengingat gambaran pesawat-pesawat Ark yang tengah mengangkut masyarakat di lindungi oleh pasukan udara serta alat-alat berat, jadi wajar saja terjadi kehancuran yang sangat parah.

"Kuso... Shikamaru... menurutmu bagaimana bisa bencana ini terjadi?" tanya Issei membuat Shikamaru menghela nafasnya. "Jika aku tahu, aku pasti sudah menjawabnya baka," balas Shikamaru.

"Setiap bencana pasti ada titik utamanya, bukan? Pasti bencana ini juga punya."

"Sebenarnya apa yang ingin kau katakan?" tanya Sona melirik Issei, semua yang di sana juga mendengarkan apa yang mereka bicarakan sambil sesekali mereka melihat keluar.

"Maksudku adalah seperti di sekolah kita... Bencana di mulai dari dua orang berjubah putih datang ke sekolah kita saat mereka menjadi zombie... Lalu bagaimana bisa mereka menjadi Zombie? Pasti ada penyebabnya... mungkin saja mereka tergigit zombie lain yang aku maksud adalah yang paling pertama menjadi Zombie hingga akhirnya menyebar," jawab Issei membuat semua tersentak.

"Itu masuk akal... Aku tidak memikirkan itu, memang zombie yang menyerang sekolah itu adalah mereka yang telah terinfeksi, jika mereka hanya menyerang sekolah kita, seharusnya virus ini tidak menyebar dengan cepat," gumam Shikamaru dengan keringat dingin mengalir di wajahnya, "selain itu... jubah putih itu ada pada zombie di sekolah kita bukanlah jubah dokter... Melainkan jubah ilmuwan... bencana ini juga tidak mungkin terjadi karena bencana alam... Jika iya seharusnya sudah ada berita kejadian alam, tapi sama sekali tidak ada..."

"Dengan kata lain, bencana ini di tercipta karena kecelakaan di tempat ilmuwan atau kemungkinan besarnya lagi bencana ini di ciptakan seseorang." Semua kembali terkejut mendengar itu, Tsubaki yang sejak tadi diam pun angkat bicara. "T-Tunggu... ada seseorang yang membuat bencana sebesar ini? Tapi untuk apa? dan orang macam apa yang membuat bencana sebesar ini?"

"Kita tidak tahu itu, maka dari itu aku bilang kemungkinan besar lainnya, tapi jika ini di ciptakan seseorang... jelas dia bukanlah ilmuwan baik."

"Um... Apa yang di katakan Issei-san mungkin ada benarnya... Pasti ada titik di mana bencana ini muncul dan di sana pasti terdapat zombie pertama yang menyebabkan bencana ini," gumam Sona juga berpikiran serupa karena pasti bencana ini ada titik utamanya.

"Apa hal ini kita beritahu Naruto?" tanya Chouji dan di jawab gelengan Shikamaru. "Tidak sekarang, kita harus ke markas utama untuk memberitahu mereka informasi ini, setelah itu kita harus mempersiapkan rencana untuk menyelesaikan bencana ini... Jika kita memberitahu Naruto, dia pasti akan langsung pergi ke sana tanpa persiapan matang, apa lagi senjata kita belum mampu untuk melawan Licker, Tanker dan Cyclpos," jawab Shikamaru lalu menekan-nekan tombol laptopnya dengan cepat.

"Aku akan mencoba mencari titik utama bencana ini, siapa tahu kita mendapat petunjuk."

Beralih ke Naruto, saat ini dia hanya fokus mengemudi tanpa berbicara sedikit pun dengan Irina. Karena merasa canggung Naruto akhirnya membuka pembicaraan, "Etto... Jadi... Irina-san...," panggil Naruto membuatnya menoleh ke arahnya, "etto... bolehkah aku tahu nama lengkapmu? Jujur selama tiga hari ini aku tidak begitu tahu nama lengkapmu dan langsung memanggil namamu seenaknya saat di sekolah," tanya Naruto sambil sesekali melirik Irina.

"Ah, benar juga, kau belum tahu nama lengkapku... Jaa mari kita mulai dari awal lagi, namaku Shidou Irina," ucap Irina sambil mengulurkan tangannya. "Namikaze Naruto," balas Naruto singkat lalu membalas uluran tangan Irina, bersalaman sesaat.

"Jadi... Irina-san... Maaf jika aku bertanya seperti ini... etto... jadi... di mana kau tinggal? dan apa pekerjaan orang tuamu?" tanya Naruto, saat di sekolah dia tidak begitu mengenal Irina karena dia berbeda kelas dengannya, saat kabur dia juga langsung memanggil namanya langsung bukan nama keluarganya dan memberinya banyak perintah, terkesan layaknya seseorang yang memberi perintah seenaknya dengan orang yang tidak dia kenal, jadi dia ingin memulai dari awal dengan saling mengenal satu sama lain.

"Kenapa kau meminta maaf, tidak masalah kok Naruto-san," jawab Irina sambil tersenyum, "aku tinggal di sekitar Kitamachi, kalau untuk keluargaku ayahku bekerja sebagai keuangan di salah satu perusahaan dan ibuku tidak dia hanya sebagai ibu rumah tangga," lanjut Irina sambil melihat ke arah kota.

"Kalau keluarga Naruto-san sendiri? Aku memang mendengar mereka dari temanmu bahwa mereka bekerja di Amerika... Tapi sebagai apa?" tanya Irina. "Hm, ayahku bekerja sebagai kepala pemimpin perusahaan, sementara ibuku memimpin perusahaan desain pakaian," jawab Naruto.

"Mereka berniat kembali ke sana hari ini, tapi karena bencana ini keberangkatan mereka tertunda."

"Apa kau selalu di tinggal sendiri di rumah itu?" tanya Irina sambil melirik Naruto dan di jawab anggukkan olehnya. "Ya... Selalu, tapi aku tidak masalah karena aku juga berusaha hidup mandiri... Aku tidak mungkin selalu bergantung kepada keluargaku bukan, selain itu ada Sasuke, Shikamaru dan Issei yang selalu berkunjung," jawab Naruto sambil tersenyum tipis.

Irina yang mendengar itu terdiam sesaat, ia bisa membayangkan Naruto yang selalu seorang diri di rumah tersebut, mungkin teman-temannya pasti menemaninya, tapi terkadang dia pasti juga pernah seorang diri.

"Pasti sulit ya, tinggal sendirian di rumah itu," gumam Irina sambil menundukkan kepalanya. "Maa, begitulah... tapi aku sudah terbiasa sekarang," jawab Naruto sambil melirik Irina sesaat.

"Aku mungkin tidak seberuntung kalian yang bisa selalu berkumpul bersama keluarga, tapi aku tetap menjalaninya dengan biasa."

"Kau bohong," balas Irina, Naruto yang mendengar itu terdiam, "selama kau sendirian di sana kau pasti merindukan keluargamu bukan? Aku bisa merasakannya dari perkataanmu... Apa lagi, saat kau berbicara dengan ibumu... kau benar-benar mencurahkan seluruh perasaanmu... bukan hanya saat bencana ini... tapi di waktu sebelumnya juga."

Naruto yang mendengar itu terdiam sesaat lalu menghembuskan nafasnya, "Ya... itu memang benar sih," jawab Naruto, "aku sangat merindukan kebersamaan di rumah itu, bersama keluargaku, bersama Sasuke, Shikamaru dan Issei, dan juga kalian... bahkan setelah kejadian ini selesai... aku sangat berharap bahwa saat aku pulang... tidak ada yang tempat sunyi lagi."

Irina yang mendengar itu tak menjawab sesaat lalu tanpa sadar ia menyentuh tangan Naruto yang memegang setir dan tersenyum kepadanya, "Kau pasti akan mendapatkannya suatu saat nanti, Naruto-san," ucap Irina, Naruto yang di pegang tangannya oleh Irina merona tipis.

"E-Etto... Irina-san... tanganmu..." Irina yang mendengar itu seketika tersadar dengan pipi merona, ia pun menjauhkan tangannya dari tangan Naruto sambil sedikit menundukkan kepalanya. "Go-Gomen, Naruto-san, A-Aku tak sengaja," ucap Irina meminta maaf.

"A-Ah, tidak masalah Irina-san, A-Aku tidak mempermasalahkannya," jawab Naruto sambil fokus berkendara dengan rona di pipinya. "A-Apa yang aku lakukan... A-Aku tiba-tiba saja memegang tangannya tadi...," batin Irina sambil mengelus tangannya.

"Mengenai tadi...," gantung Naruto membuat Irina melihat ke arahnya, Naruto juga mengalihkan pandangannya ke arah Irina sambil tersenyum lima jari, "arigato, Irina-san," lanjut Naruto membuat Irina sedikit melebarkan matanya dengan pipi merona.

"Kau perempuan yang sangat baik dan pengertian, suatu saat kau pasti menjadi wanita yang luar biasa." Irina yang mendengar itu semakin memerah pipinya hingga keseluruhan wajahnya, entah kenapa saat dia mendengar pujian itu pipinya terasa panas dengan jantung berdetak kencang.

"A-A-Arigato atas pujiannya, Naruto-san," balas Irina sambil mengalihkan pandangannya, "Ke-Kenapa... Kenapa saat melihat senyumannya itu dan mendengar perkataan tadi membuat jantungku berdetak kencang... da-dan kenapa kata-kata itu selalu terngiang-ngiang di kepalaku," lanjutnya dalam batin sambil menyentuh dadanya kirinya merasakan jantung.

"A-Apa aku mulai memiliki perasaan terhadap Naruto-san," batin Irina sambil melirik Naruto yang fokus mengendarai mobilnya kembali, jantungnya semakin berdetak kencang ketika melihat wajah Naruto yang sedang serius melihat jalanan, ia pun kembali mengalihkan pandangannya, "a-a-apa ini yang di namakan jatuh cinta pada pandangan pertama."

Kembali ke arah Shikamaru, dia saat mencoba mencari titik utama dari bencana ini, dan begitu dia menemukannya, mata Shikamaru melebar apa yang di perlihatkan layar laptopnya.

Dia meneguk ludahnya dengan berat di sertai keringat dingin, "A-A-Apa-apaan ini," batin Shikamaru dengan tubuh bergetar. Issei yang melihat Shikamaru tampak terkejut dan ketakutan memasang wajah khawatir dan langsung menepuk pundak temannya itu, "Shikamaru, kau kenapa? Kau tampak ketakutan?" tanya Issei membuat Shikamaru tersentak.

"A-Ah... Ya, a-aku tidak apa...," jawab Shikamaru sambil menyimpan lokasi titik utama lokasi bencana ini lalu mengalihkannya ke jalur perjalanan mereka. "Kau tampak ketakutan? Ada apa?" tanya Sakura sambil mendekati Shikamaru dengan ekspresi khawatir.

"..." Shikamaru tampak terdiam sesaat lalu mengusap wajahnya dengan kasar, "Hah... aku sudah menemukan titik lokasi utama bencana ini...," ucap Shikamaru.

"Tapi... Di tempat tersebut terdapat sesuatu yang mengerikan yang tak bisa aku jelaskan kepada kalian di sini karena akan mengganggu kalian nanti, jadi aku akan menjelaskan nanti saat kita sampai di sana," lanjut Shikamaru sambil berusaha menenangkan dirinya.

"Jika seperti itu kau juga harus menenangkan dirimu, Shikamaru. Jika kau terlalu memikirkannya itu juga akan membahagiakanmu," nasehat Shizuka dan di balas anggukkan oleh Shikamaru.

"Akan aku usahakan."

["Shikamaru, bagaimana situasinya? Apakah di pemberhentian kita nanti aman atau tidak?"] Shikamaru yang mendengar itu pun mencoba mencari titik pemberhentian mereka sekitar 19 Km lagi dan ia melihat ada banyak Zombie di sana yang bergerak ke arah barat, jika mereka sampai sana, para zombie juga sudah menjauh jadi mereka akan aman nanti.

["Di tempat pemberhentian sebenarnya ada banyak Zombie, tapi mereka bergerak ke arah barat... jadi saat kita sampai di sana mereka sudah tidak ada jadi kita aman,"] jawab Shikamaru, Naruto yang mendengar itu bernafas lega. ["Syukurlah kalau begitu, arigato Shikamaru... kau sangat membantu "] ucap Naruto, namun Shikamaru hanya diam karena dia masih memikirkan apa yang dia lihat sebelumnya.

"Apa... itu sebenarnya."

.

Hachioji

.

Kembali ke Hachioji, saat ini para pasukan tengah menahan para Zombie dengan peluru ciptaan Azazel yang akhirnya membuat mereka bisa membunuh tiga zombie yang paling susah di bunuh. Pasukan Wolf dengan cepat menyisir daerah timur sambil melindungi masyarakat di belakang mereka, tak lama setelah itu beberapa senjata berat langsung datang dengan pasukan bantuan yang langsung membantu mereka.

Tak hanya mereka seluruh pasukan juga langsung mendapat tenaga bantuan, para pasukan Rhino yang ada di belakang mengerahkan seluruh masyarakat ke arah pesawat Ark sambil mendukung pasukan Alpha dan Delta, sementara pasukan Eagle melindungi mereka dari atas-atas bangunan dengan beberapa pasukan pelindung jika ada Zombie yang ada di dalam bangunan.

"Kapten, kami menemukan beberapa masyarakat yang masih ada di atas bangunan, mereka saat ini berusaha bertahan dengan beberapa pasukan yang sudah kekurangan amunisi," ucap salah satu pasukan yang mengendalikan pesawat predator drone ketika menemukan beberapa masyarakat yang bertahan di atas bangunan.

"Jika begitu kita kirimkan bantuan kepada mereka," ucap sang kapten lalu menekan satu tombol di dekat mic pesawatnya, ["Pasukan udara pesawat helikopter V-22 Osprey segera bersiap! Aku ulangi, segera bersiap! Ada beberapa orang yang terjebak di atas bangunan yang harus di selamatkan! aku ulangi, ada beberapa orang yang terjebak di atas bangun yang harus di selamatkan!"] ucap Kapten pesawat dan kali ini beberapa pesawat helikopter V-22 Osprey yang akan berangkat, para pilot pun langsung menyalakan mesin pesawat mereka.

["Di sini, V-22 Osprey one kepada kapten meminta izin lepas landas, aku ulangi meminta izin lepas landas?!"]

["Di Izinkan"]

Para pesawat Helikopter V-22 Osprey pun langsung lepas landas dengan terbang sedikit mungkin lalu bergerak ke titik koordinat yang di berikan oleh pasukan yang ada di pesawat Ark.

Blaaar! Blaaar!

Ledakan beruntun semakin bertambah ketika para tank membantu pasukan udara membunuh para zombie dengan menembakkan meriam mereka, tak ayal mereka juga menggunakan beberapa bangunan untuk membunuh para zombie dan menghalangi mereka.

"Jumlah mereka terlalu banyak," gumam Gabriel sambil mengisi ulang senjatanya, "apa mereka masih belum datang."

"Perjalanan mereka cukup jauh, mereka juga pasti mengisi bahan bakar kendaraan mereka... Kita hanya bisa bersabar," jawab Jeanne yang juga mengisi ulang peluru senjata mereka, "kita juga tidak bisa terlalu sering menggunakan peluru Azazel-san yang terbatas untuk Tanker, Licker dan Cyclops di gunakan kepada zombie-zombie biasa."

["Kepada seluruh pasukan, aku mendapat kabar dari markas utama bahwa bantuan akan segera datang, jadi tetaplah bertahan hingga bantuan datang."]

Gabriel dan Jeanne yang mendengar itu dari walkie talkie di dada mereka mengangguk lalu kembali melanjutkan tugas mereka membunuh ratusan... Tidak membunuh ribuan Zombie yang datang ke arah mereka.

Kekacauan yang benar-benar sangat parah.

.

.

Skip time

.

Naruto and Another side

.

Setelah satu setengah jam perjalanan mencapai 22 Km, Naruto dan yang lain memutuskan untuk berhenti sejenak sambil mempersiapkan diri mereka untuk masuk gerbang neraka, dan juga Naruto mengecek keadaan mobilnya dengan mendinginkan suhu mesin serta mengganti oli mobilnya, ia juga meminta Issei untuk membantunya mengisi bahan bakar mobilnya.

Karena berat kendaraannya bertambah, mesin mobilnya semakin keras bekerja, apa lagi sesekali dia menerima benturan karena ada mobil yang menghalangi jalan mereka, semakin keras mesinnya bekerja maka semakin banyak bensin yang di gunakan, jika semakin banyak mesin yang masuk ke mesin akan menyebabkan Blow Engine.

Beberapa dari mereka tampak gugup dan ada juga yang tenang karena sebentar lagi mereka akan memasuki tempat yang di penuhi oleh Zombie, sementara Naruto dia tampak tenang di samping mobilnya sambil menunggu semua oli mobilnya terkuras lalu menggantinya dengan oli baru.

Ia pun juga mengambil bekas oli yang telah dia tempatkan karena jika dia membiarkannya berceceran di jalanan akan membahayakan truk mereka nanti, "Apakah mobilmu selalu begini, Naruto-san?" tanya Irina dan di jawab gelengan olehnya.

"Well... Sebenarnya tidak... Tapi karena berat mobil ini bertambah dari di tambahkannya pembersih salju di depan ini, serta beberapa bagian yang di pertebal membuat mesin mobilku bekerja semakin keras dan jika terlalu di paksakan mesinnya akan meledak, sebenarnya mobil ini masih kuat hingga dua atau tiga kilometer lagi, tapi lebih baik mendinginkannya sekarang karena setelah masuk ke sana kita akan melawan banyak Zombie dan mesin mobilku juga harus bekerja lebih keras lagi," jawab Naruto sambil melihat ke arah barat di mana tujuan mereka berada.

Issei yang duduk di dekat pintu belakang gandengan truk sambil mengatur rasa takutnya seketika tersentak ketika telinganya mendengar sesuatu, Rias yang ada di samping Issei menatap Issei kebingungan.

"Ada apa, Issei-kun?"

"Aku seperti mendengar suara orang minta tolong," jawab Issei membuat semua langsung keluar untuk memastikan apakah yang di ucapkan Issei memang benar atau tidak, "Shikamaru-san, bisakah kau mengecek daerah sekitar kita? Issei-san bilang dia mendengar suara seseorang," pinta Tsubaki, namun Shikamaru tampak diam melamun sambil memandang layar laptopnya yang mati.

Tsubaki yang tidak mendapat respons mendekatinya, Tsubaki tahu dia pasti masih memikirkan apa yang ada di titik utama bencana ini, ia menghela nafasnya sesaat lalu menepuk pundak Shikamaru, "Shikamaru-san." Shikamaru yang melamun akhirnya tersadar dari lamunannya dan menatap bingung sekitarnya.

"A-Ah, ya ada apa? A-Apa kita sudah sampai di pemberhentian?" tanya Shikamaru membuat Tsubaki menghembuskan nafasnya kembali. "Kita sudah sekitar 5 menit berhenti, kau sejak tadi melamun... kau pasti memikirkan hal tadi bukan?" balas Tsubaki dan di jawab anggukkan pelan oleh Shikamaru.

"Um, itu selalu saja mengganggu pikiranku, aku harap kita cepat sampai agar aku bisa melepaskan apa yang menggangguku ini," jawab Shikamaru sambil mengusap wajahnya. "Jika begitu bersabarlah sebentar lagi, untuk sekarang kami membutuhkan bantuanmu untuk melacak sekitar karena Issei-san bilang dia mendengar suara orang minta tolong," balas Tsubaki membuat Shikamaru tersentak dan langsung menyalakan Laptopnya yang ada di mode sleep, ia pun langsung mengatur programnya kembali dan ia melihat satu subjek tengah terjebak di balik reruntuhan tak jauh dari mereka.

"Ketemu, dia ada di balik reruntuhan di dekatmu Issei!" ujar Shikamaru dapat di dengar olehnya. "Baiklah!" balas Issei lalu berlari ke arah reruntuhan yang tak jauh darinya di ikuti Chouji di belakangnya, Naruto yang menunggu mesin mobilnya dingin melihat Issei dan Chouji menyingkirkan reruntuhan menatap bingung mereka dan mencoba mendekati mereka.

Sasuke yang ada di truk mendengar suara berbatuan di pindahkan menoleh dan ia melihat dua temannya tengah melakukan sesuatu, jadinya dia pun turun dari truk dan ikut mendekati mereka.

"Apa yang kalian lakukan?" tanya Naruto dengan sebelah alis terangkat. "Ada seseorang terjebak di sini, kita harus menolongnya," jawab Issei membuat Naruto dan Sasuke tersentak dan langsung membantu mereka.

Membutuhkan waktu cukup lama hingga akhirnya mereka menemukan seorang pemuda rambut hitam seusia mereka tengah terjebak di beberapa berbatuan kecil, beruntung bagian bangunan yang besar tidak menimpanya karena jika menimpanya maka dia sudah pasti mati.

"Ayo! Keluar dari sini!" ujar Issei menariknya keluar dari berbatuan dengan bantuan Chouji. Setelah keluar ia terbatuk serta mengatur nafasnya yang memburu, "Cough! Cough! S-Syukurlah... Aku selamat."

"Tidak aku sangka masih ada yang selamat," gumam Issei sambil mengusap keringatnya, sementara Naruto hanya diam menatap datar pemuda di depannya, entah kenapa hatinya selalu berteriak untuk menjauhkan teman-temannya darinya.

"Siapa namamu?" tanya Sasuke menatap datar Pemuda di depannya. "Cough... n-namaku Diodora..., Aku terjebak di sini karena serangan monster berukuran besar tadi," jawab pemuda bernama Diodora sambil mengangkat wajahnya, dan matanya seketika melebar ketika melihat banyak yang selamat, apa lagi ada senjata dan kendaraan.

"Diodora hm," gumam Naruto singkat. "Bagaimana Naruto? Apa kita akan membawanya ikut bersama kita?" tanya Chouji mendapat tatapan datar dari Naruto.

"A-Ada apa?"

"Aku tidak pernah mempercayai siapa pun selain kalian...jadi aku rasa sebaiknya kita tinggalkan dia di sini," jawab Naruto membuat mereka tersentak termasuk Diodora. "Oh ayolah Naruto, dia pasti bukan orang jahat, dia bisa membantu kita pergi dari sini, kau bilang nyawa itu berharga bukan?" balas Issei membujuk Naruto.

"Apa yang membuatmu berpikiran begitu, Dobe?" tanya Sasuke menatap bingung temannya. "Aku hanya tidak bisa mempercayai orang yang tidak aku ketahui... itu akan membawa dampak buruk untuk kita nanti, selain itu kita sudah memiliki perlengkapan yang di perlukan... Bisa saja dia berniat mengambilnya untuk dirinya sendiri," jawab Naruto membuat Diodora menggeram pelan, ia tidak suka pemikiran Naruto.

Apa yang di katakan Naruto memang benar, dia berniat mengambil semua milik mereka agar bisa pergi dari sini, ia tak peduli dengan mereka yang ia pedulikan adalah nyawanya sendiri.

"Maaf, tapi kau tidak bisa ikut dengan kami, kau harus berjuang sendiri saat ini, ayo teman-teman... Kita berangkat," ucap Naruto berbalik meninggalkan Diodora.

Diodora yang mendengar itu semakin kesal dan marah, ia sedikit tersentak ketika tangannya yang tak sengaja memegang besi hitam panjang, melihat teman-temannya lengah membuat Diodora menyeringai, dengan secepat mungkin dia berlari ke arah Naruto untuk membunuhnya, "HAAAAAAA!"

Issei yang mendengar teriakan Diodora langsung tersentak dan ia melihatnya ingin menyerang Naruto, tak membiarkan itu terjadi dia langsung menjadikan tubuhnya sebagai tameng untuk melindungi Naruto.

Jrash!

"ARRRRGHHHH!" semua yang mendengar teriakan Issei tersentak di sertai ekspresi terkejut, Naruto yang juga mendengar teriakan Issei segera berbalik dengan mata melebar di sertai ekspresi terkejut.

Issei menerima tusukan dari besi hitam itu di bagian bawah dada kanannya cukup dalam hingga membuatnya mengeluarkan darah, Rias yang melihat itu menitikkan air matanya, sementara Naruto pikiran dia sudah kosong dan yang ada hanyalah kemarahan dan kebencian yang kuat di kepalanya, mata birunya langsung berkilat tajam dan tanpa basa basi dia langsung berlari ke arah Diodora.

Diodora yang melihat serangannya terkena orang yang bukan menjadi sasarannya menggeram marah dan berniat menarik besi hitam tersebut, namun sebelum itu terjadi Naruto sudah mencekik lehernya membuatnya melepaskan besi yang masih menancap di Issei lalu membenturkannya ke salah satu bangunan dengan keras.

"ISSEII!" teriak Rias berlari ke arah Issei di ikuti yang lain, Shizuka dengan cepat berusaha mengobatinya dengan obat-obatan yang ada. Semua menatap khawatir Issei yang terluka dalam, Shizuka tidak berani mencabut besi yang menancap di Issei karena itu akan membuatnya semakin mengeluarkan banyak darah, jadi yang bisa ia lakukan adalah menutup luka Issei.

"Issei-kun! Bertahanlah! Tetap bersama kami!"

"Beraninya... Beraninya kau melukai temanku...," geram Naruto masih mencekik Diodora, ia semakin kuat mencekiknya membuat Diodora memberontak dengan memberikan tendangan ke dagu Naruto membuatnya melepas cekikannya.

Namun dengan cepat Naruto menangkap kaki yang menendang dagunya lalu mematahkannya dengan membenturkannya dengan keras ketanah. "AAAARRRRRRGHHHHHH!" teriak Diodora menggema di kota yang telah kosong tersebut. Ia bisa merasakan tulang tumit belakang kakinya benar-benar remuk bahkan dia tak bisa menggerakkan kakinya yang di pegang oleh Naruto.

"K-Kisama...," geram Diodora, tanpa ampun Naruto memukul tulang kering Diodora dengan keras hingga akhirnya tulangnya tersebut benar-benar patah. "GHHHHHHHAAAAAAAARRRGHHH!" teriakan Diodora semakin menjadi membuat semua melihat ke arah Naruto yang menyiksa Diodora.

"Naruto! Hentikan! Kau justru akan memanggil para Zombie kemari!" ujar Shikamaru menyuruh Naruto berhenti dengan memegang pundaknya, namun seketika tubuh Shikamaru membeku dengan keningnya mengeluarkan keringat dingin, tubuhnya juga bergetar di sertai ekspresi ketakutan.

Bukan karena Zombie, melainkan ekspresi Naruto yang benar-benar sangat dingin dan terlihat sangat marah, seolah-olah memperingatkannya untuk tidak mengganggunya.

"Jangan ada... yang menggangguku," ucap Naruto dengan nada marah, semua yang melihat kemarahan Naruto ikut bergetar ketakutan, ini pertama kalinya mereka melihat kemarahan Naruto yang membuat mereka merinding. Ia kembali menatap Diodora yang memegangi kakinya yang kesakitan, dia pun langsung saja mengambil dua tangan tersebut lalu membalikkannya.

Tanpa rasa manusiawi, Naruto langsung menendang kedua bahunya dengan keras hingga akhirnya tangan Diodora menjadi lemas karena sendi lengannya telah di lepas oleh Naruto, tak sampai di sana ia juga mematahkan tulang kering kedua tangan Diodora membuatnya semakin kesakitan.

"Tak ada ampun... tidak ada ampun untukmu," gumam Naruto, "kau akan merasakan rasa sakit yang tidak pernah kau alami sebelumnya."

Masih merasa belum cukup, Naruto menjauhi Diodora sesaat untuk mengambil oli mobilnya yang terbuang, Diodora berusaha kabur dengan bergerak menggunakan satu kakinya yang belum di patahkan oleh Naruto, namun ia langsung membalikkan badannya dan menginjak lehernya membuatnya mengerang kesakitan, saat itulah Naruto langsung memasukkan oli hitam tersebut ke mulut Diodora membuatnya tak bisa berteriak karena mulutnya kemasukan oli.

semua semakin terkejut dan terdiam dengan perbuatan Naruto yang benar-benar kelewatan untuk menyiksa orang yang melukai temannya. Apa yang di katakan Naruto memang benar, dia tidak bisa di percaya.

Dia tadi berniat menyerang Naruto, namun pada akhirnya Isseilah yang terkena serangannya, dengan kata lain dia memang bukanlah orang yang baik karena mementingkan dirinya sendiri dan jika dia berhasil melukai Naruto lalu mendapatkan senjatanya, berikutnya pasti mereka.

Jadi mereka tidak memiliki alasan untuk membiarkan Diodora hidup. Kulit Diodora memerah karena oli tersebut masih panas, matanya juga terkena oli tersebut membuatnya susah melihat, lidahnya menjadi sakit begitu juga tenggorokannya hingga ia tak bisa mengeluarkan suara, Mata biru Naruto menatap dingin Diodora yang memberontak dengan mata tertutup.

"Kau... Kau harus membayar perbuatanmu karena telah membunuh sahabatku," geram Naruto ia pun mengeluarkan satu Grenade dari saku celananya dan memasukkannya ke mulut Diodora, "akan aku buat kau pergi ke neraka."

Naruto pun menarik pin Grenade tersebut lalu pergi meninggalkan Diodora hingga beberapa detik setelahnya Grenade itu pun meledak bersama tubuh Diodora. Semua yang melihat itu menyilangkan tangan mereka menahan hempasan angin ledakan, sementara Naruto hanya menatap darat ke tempat Diodora.

Tatapan Naruto seketika kembali semula, pikirannya yang kosong juga telah kembali, yang ada di pikirannya saat ini adalah keadaan Issei. Setelah melampiaskan kemarahannya, Naruto mengalihkan pandangannya ke arah Issei yang di kerumuni teman-temannya.

Tanpa basa-basi dia langsung mendekati Issei, dengan ekspresi khawatir, "Issei!" teriak Naruto lalu berlutut di samping Issei yang di pangku Rias. "Cough! Na-Naruto... Kau tidak apa?" tanya Issei lemah membuat Naruto menggeram pelan.

Seharusnyaa aku yang bertanya, Baka! Kau tidak apa kan?!" tanya Naruto ketika melihat Issei menahan sakit di dadanya yang masih tertancap besi, dan lukanya hanya di tutup dengan kain serta perban namun tetap saja darahnya terus keluar, "Shizuka-sensei! Apa kau tidak bisa menyelamatkannya?!"

"Lukanya terlalu dalam, kita mencabut besi di dadanya ini sembarangan justru akan membuatnya mengeluarkan banyak darah, dia harus segera kita bawa ke Hachioji agar mendapat pertolongan," balas Shizuka membuat semua menatap lirih Issei.

Rias memeluk erat kepala kekasihnya itu sambil menitikkan air matanya, sementara Issei mengatur nafasnya sambil tersenyum tipis, "Cough... Sudahlah... mungkin inilah akhirku... aku memang sepertinya di takdirkan untuk tidak bisa menemani kalian sampai akhir."

"Jangan berbicara lagi Issei! Kau pasti akan aku selamatkan!" teriak Naruto. "J-Jika ini akhirku... Tolong jaga Rias-chan untukku... d-dan kau harus tetap hidup Naruto, dan kau harus membuat Rias menemukan kebahagiannya setelah aku tidak ada," ucap Issei sambil tersenyum.

"Diam..."

"Issei-kun...," lirih Rias.

"Jangan menangis Rias-chan... Kau harus tetap hidup hingga menemukan kebahagiaanmu, tetaplah tersenyum Rias-chan... Aku mencintaimu," ucap Issei sambil mengelus pipi Rias.

"Aku bilang untuk diam bukan!" ujar Naruto menarik Issei, "kau tidak akan aku biarkan mati! Kau harus hidup bersama kami! Kau juga tidak akan berpisah dengan Rias-chan! Jadi simpan tenagamu dan beristirahatlah!"

Setelah itu ia memopong Issei ke mobilnya, "Rias-chan kau tetaplah bersama yang lainnya! Hilangkan tangisanmu karena aku bersumpah akan menyelamatkan Issei! Shizuka-sensei ikutlah denganku untuk menahan pendarahannya!" lanjut Naruto.

"Ha-Ha'i!" balas Shizuka menganggukkan kepalanya lalu membantu Naruto memopong Issei ke dalam mobil. Rias yang ingin ikut langsung di tahan oleh Shikamaru, "lepaskan aku Shikamaru! Aku harus ikut mendampinginya!"

"Kau justru akan mengganggu Naruto nanti! Sudah ada Shizuka-sensei yang bersamanya! Kira harus pergi secepat mungkin untuk menyelamatkannya! Jangan memberontak Rias!" balas Shikamaru lalu menarik Rias masuk ke dalam mobil.

"Jangan mengatakan itu Issei! Aku pasti akan menyelamatkanmu!" balas Naruto langsung menyalakan mesin mobilnya lalu memasukkan gigi mobilnya dan menginjak pedal gasnya membuat mobilnya langsung melaju secepat mungkin di ikuti truk yang di kendarai Rossweisse di belakangnya.

"Ayo, ayo, ayo!" geram Naruto sambil terus menambah kecepatan mobilnya.

.

Hachioji

.

Kembali ke Hachioji mereka saat ini terus mundur sambil menjaga para masyarakat yang mulai memasuki pesawat Ark, tak lama setelah itu pasukan bantuan pun juga datang yaitu lima pesawat Ark yang terbang di udara dan menembak para Zombie dengan meriam mereka.

Para prajurit pesawat Predator yang mengawasi radius 30 km seketika mendapat gambaran dua kendaraan bergerak cepat ke arah Hachioji, mereka juga bisa melihat gambaran wajah Naruto dan Irina yang mengendarai mobil Dodge paling depan dan Sasuke serta Rossweisse yang mengendarai truk di belakang mereka.

"Kapten! aku menemukan tamu kita!" ujar salah satu prajurit yang mengendalikan pesawat predator membuat sang kapten langsung mengirimkan pesan tersebut ke markas.

.

Markas Utama.

.

"Shikaku! Mereka datang!" ujar Inoichi membuat Shikaku semakin bersemangat. "Beritahukan seluruh awak pasukan udara Pembom untuk melakukan bombardir kepada para Zombie yang berusaha menyerang para prajurit! Lalu perintahkan salah satu pesawat Ark di sana menggunakan seluruh senjata untuk membukakan jalur untuk mereka sampai di Ark One!

"Siap!"

.

Naruto side

.

Naruto yang melihat pesawat Predator melintas sudah menebak bahwa para JSDF tengah menunggu mereka, tanpa basa-basi ia semakin mempercepat kendaraannya, ["Naruto, tadi ada..."]

["Aku sudah tahu! Sebaiknya kalian bersiap karena kita akan masuk ke kerumunan Zombie!"] balas Naruto ketika melihat ratusan Zombie di depannya, "MINGGIR KALIAN?!" teriak Naruto.

Jrash! Jrash! Jrash!

Seluruh Zombie yang ada di depan mobilnya seketika terlindas menjadi dua dan hancur menjadi beberapa bagian karena duri penghancur di bagian pembersih salju mobil Naruto.

Mendapat celah Naruto menembakkan peluru ledak di depannya hingga jauh dan meledak hingga membuat para Zombie yang berkumpul terpental. "Kalian bersiaplah!" ujar Shikamaru menyiapkan senjatanya begitu juga yang lainnya kecuali Ino yang menenangkan Rias yang masih terpuruk.

Setelah itu benar saja banyak Zombie biasa yang tiba-tiba berlari ke arah mereka, "Tembak!" ujar Shikamaru memberi kode dan mereka pun langsung menembak-nembak Zombie yang mengejar truk mereka.

Arthuria yang membawa Sniper mencoba membidik para Zombie dengan tenang lalu menembak mereka dengan menggunakan peluru ledak hingga akhirnya mengenai beberapa Zombie sebelum akhirnya meledak dengan dahsyat.

Namun itu tak cukup membuat para Zombie yang mengejar mereka berhenti, para Zombie yang mencoba menyerang sisi truk harus terhenti karena tubuh mereka menjadi dua, sisi truk yang terdapat lempengan besi segitiga yang tajam membuat seluruh Zombie di sisi Truk terpotong menjadi dua.

Tak lama setelah itu Truk mereka mengalami sedikit guncangan karena di serang oleh Zombie Tanker, namun karena sudah di pertebalnya gandengan truk dan di seimbangkan maka mereka baik-baik saja, mereka juga harus menerima luka dari sisi truk yang membuat lari mereka melambat.

"Tembak yang Tanker! Abaikan zombie yang lainnya!" ujar Shikamaru dan di turuti oleh mereka yang menembak Tanker secara bersamaan dengan peluru ledak membuat mereka terdorong ke belakang beberapa kali.

"Tahan tembakan!" ujar Shikamaru lalu mengambil dua puluh Sticky Bom, ia lalu mengaktifkannya dan melemparnya ke sisi bangunan hingga menempel, para Zombie terus berusaha naik ke atas truk tapi karena lajunya yang terlalu cepat mereka tidak bisa naik dengan sempurna. Setelah lima menit berlalu ledakan beruntun pun terjadi ledakan pada bangunan yang di tempeli Sticky Bom hingga akhirnya runtuh dan menindih para Zombie secara tak beraturan namun cukup menghalangi serta membunuh para Zombie yang mendapat sinyal satu sama lain bahwa ada mangsa yang bisa di makan.

"Ternyata bom ini cukup berguna," gumam Shikamaru menyeringai senang dengan bom di tangannya.

Pyarsh!

Shikamaru langsung menunduk ketika melihat sebuah senjata panjang mengarah padanya dan memecahkan kaca di sampingnya, kali ini yang mengejar mereka adalah Cyclops, Shikamaru yang melihat itu mendecih kesal.

["Oi! Shikamaru kalian semua baik-baik saja kan?!"] tanya Naruto sambil terus melajukan mobilnya dan menembak para Zombie dengan peluru ledak bersama Irina, tapi batas mereka keluar dari jendela mobil adalah 10 detik, jika mereka selalu keluar mereka akan mendapat serangan yang lebih bahaya lagi nanti.

["Ya kami baik-baik saja! Sebaiknya kau fokus pada jalanmu Naruto!"] balas Shikamaru.

"A-Argh!" lenguh Issei merasakan sakit kembali karena guncangan mobilnya. "P-Pendarahannya semakin parah," panik Shizuka.

"Bertahaklah Issei!"

["Di sini Kapten! Tamu kita sudah datang! Pasukan udara segera bersiap! Aku ulangi pasukan udara segera bersiap!"] ucap kapten pesawat Ark Eleven kepada seluruh personilnya, kali ini bukan pesawat jet yang di gunakan melainkan beberapa helikopter tempur Hunter, dan jumlah mereka sekitar 6 helikopter Hunter.

Mereka pun langsung terbang ke udara lalu pergi ke jalur yang akan di lewati Naruto nanti, kenapa tidak menggunakan pesawat Ark karena jarak tembak meriam mereka memiliki jangkauan tertentu. Para pesawat Hunter yang melihat banyak Zombie yang menghalangi jalur kendaraan Naruto langsung meluncurkan launcher mereka secara bertubi-tubi hingga jalur mereka terbuka lebar.

"Mereka di sana!" ujar Irina ketika melihat para Helikopter tengah menembak para zombie yang menghalangi jalan mereka di depan. "Bertahanlah Issei! Kita akan sampai!" ujar Naruto membuka kaca mobilnya, ia tak peduli lagi dengan dirinya dia langsung saja keluar dengan satu tangan memegang Vector yang sudah di set menggunakan peluru ledak lalu menembak ke jarak jauh di depan mereka hingga terjadi ledakan berkali-kali menyapu Zombie yang menutup jalan mereka.

Sasuke juga membantu membuka jalur mereka dengan menembak para zombie dengan peluru ledaknya, sesekali dia masuk mengisi ulang senjatanya kembali lalu membantu Naruto kembali.

"Issei-kun," lirih Rias sambil menangis di pelukan Ino. "Tenanglah Rias-san, dia pasti bisa selamat, percayalah!" ujar Ino mencoba memberi semangat kepada Rias.

"Jumlah mereka terlalu banyak," gumam Sona sambil mengisi ulang senjatanya. Koneko yang membawa busur panah membidik Zombie di depannya dan melepaskan tiga anak panah yang masing-masing tepat sasaran lalu meledak dengan dahsyatnya.

Arthuria juga membidik para Zombie yang sejajar lalu menembaknya hingga tembus lalu meledak dengan dahsyat membunuh para Zombie biasa, namun mereka semakin cepat berlari dan semakin banyak, Shikamaru yang melihat itu pun melirik ke arah Sakura.

"Sakura! Siapkan palumu! Chouji juga bersiap dengan senjata Gorgon itu!" ujar Shikamaru dan di balas anggukkan oleh mereka.

Sakura pun menggenggam palunya dengan erat, sementara Chouji berbaring dengan membidik para Zombie dengan senjata Gorgonnya. "Sakura! Hantam palumu sekeras mungkin! Itu akan membuat gelombang yang sangat kuat yang akan membuat mereka terdorong!" ujar Shikamaru dan di balas anggukkan olehnya

"bersiaplah...," gumam Sakura menggenggam erat palu di tangannya, "SHANARROOOOOOO!" teriak Sakura lalu mengayunkan palunya, membenturkannya dengan gandengan truk terakhir yang di lapisi besi, dan begitu senjata tersebut berbenturan keluar Zombie Licker yang melompat ke arah Sakura, sialnya mereka harus terdorong ke belakang karena tercipta gelombang angin yang besar bahkan sampai meruntuhkan banyak bangunan.

"Sakura mundur! Chouji! Sekarang!" teriak Shikamaru, Sakura dengan cepat mundur ke belakang hingga akhirnya Chouji menembak secara beruntun dengan peluru ledak hingga membuat ledakan bertubi-tubi di beberapa bangunan hingga akhirnya bangunan yang terkena peluru ledak tersebut roboh.

"Yosh!" gumam Xenovia senang karena tidak ada banyak Zombie yang mengejar mereka. "Jangan senang dulu! Gelombang berikutnya datang!" ujar Shikamaru dan tak lama setelah itu puluhan Zombie Cyclops datang ke arah mereka bersama ratusan Licker, Shikamaru yang melihat itu mendecih hingga akhirnya dia mengingat dengan senjata besar mereka.

Shikamaru pun langsung mengambil senjata BARRAGE TEMPEST mereka dan menyatukannya dengan Cairan Nitrogen, ia pun langsung membidik mereka dan mengumpulkan energi senjatanya.

Naruto yang melihat jalur terbuka langsung menembakkan panah bajanya ke truk mereka lalu menyiapkan NoS mobilnya. Jeanne yang melihat mereka langsung memberi kode pada seluruh pasukan, ["Mereka terlihat!"]

["Rhino! Apa semua masyarakat sudah masuk ke pesawat Ark?"]

["Ha'i!"]

["Jika begitu, perintahkan masyarakat untuk memberi ruangan untuk dua kendaraan besar! Tamu kita telah datang!"]

["Siap!"]

["Seluruh pasukan mundur!"]

["Dimengerti, over!"]

Seluruh pasukan di sertai tank langsung bergerak mundur sambil tetap menembak zombie-zombie yang mengarah kepada mereka, para Pasukan Eagle juga langsung bergerak dengan cepat naik ke puncak bangunan dan naik ke pesawat V-22 Osprey yang menjemput mereka.

"Akhirnya kau datang, Naruto-kun. Aku akan menyelamatkanmu," batin Gabriel dan Jeanne tersenyum lalu fokus kembali membunuh para zombie yang menutup jalur jalan Naruto kembali dengan peluru ledak mereka.

Naruto yang melihat jalannya masih terbuka berkat bantuan para JSDF menekan walkie talkienya ["Shikamaru! Perintahkan semuanya untuk bersiap!"] ujar Naruto melalui walkie talkie membuat Shikamaru yang mengumpulkan energi BARRAGE TEMPEST dan yang lain mendengar itu kebingungan.

Tsh!

Twush!

Naruto pun langsung menekan tombol turbonya ketika jalur mereka menuju pesawat Ark adalah jalanan lurus, tentu saja Truk yang di kendarai Rossweisse mengikuti kecepatan mobil Naruto, karena guncangan kecepatan tadi Shikamaru menembakkan bola energi yang telah di kumpulkan hingga menghantam para Zombie.

Begitu terkena mereka, terjadi ledakan putih besar hingga beberapa detik berikutnya tak ada yang tersisa di sana selain butiran putih yang mengeluarkan asap.

"Apa yang terjadi," gumam Shikamaru ketika truk mereka semakin cepat, ia langsung melihat laptopnya dan di sana terlihat Mobil Naruto menempelkan panah baja ke truk mereka dan menariknya dengan kecepatan tinggi menggunakan Nitro.

"Naruto," gumam Shikamaru.

"Ayo, cepat! cepat! cepat!" gumam Naruto menggenggam erat setirnya, mobilnya dengan cepat melewati banyak Zombie yang berusaha menutup jalannya sementara Shikamaru dan yang lain berusaha berpegangan agar tidak terlempar keluar karena kecepatan truk mereka.

"Semua bertahan!"

Nitro mobil Naruto pun habis dan ia langsung melepaskan tali baja yang ada pada truknya, saat akan sampai Naruto menarik rem tangan mobilnya bersama dengan menurunkan gigi mobilnya serta menginjak rem mobilnya begitu juga Rossweissei.

Mobil Naruto dan Truk Rossweisse pun melewati para tentara yang melindungi mereka hingga akhirnya masuk ke dalam pesawat Ark. Kakashi yang melihat mereka sudah masuk memerintahkan seluru pasukannya mundur, ["Seluruh pasukan mundur! Tujuan kita sudah selesai!"] ujar Kakashi kepada seluru pasukan.

["Siap!"]

Secepat mungkin seluruh tank masuk kembali ke dalam pesawat Ark di ikuti seluruh personil prajurit, namun jumlah Zombie semakin banyak yang membuat mereka harus menahan mereka hingga mesin pesawat Ark menyala.

"MEDIS! AKU BUTUH MEDIS!" teriak Naruto keluar dari mobil sambil membantu Issei yang sudah lemas keluar, Issei yang sudah lemas melihat dua perempuan rambut kuning tengah menahan para Zombie di luar kapal yang siap terbang.

Para dokter langsung datang secepat mungkin ke arah Naruto dan Issei, saat Issei akan di bawa ia menahan tangan Naruto dan menatap Naruto dengan ekspresi pucat, "Naruto... Ini permintaan padamu... Selamatkan mereka berdua... mereka membutuhkan bantuan," pinta Issei sambil menunjuk Gabriel dan Jeanne yang menahan para Zombie di luar kapal.

Baling-baling pesawat Ark baru saja menyala dan beputar dengan pelan, para JSDF yang di luar juga terus menahan para Zombie dengan bantuan Meriam pesawat Ark tapi jumlah mereka terlalu banyak hingga tak ayal salah satu tentara terkena gigitan

"Apa yang kau katakan?! Mereka itu pasukan terpilih mereka pasti bisa mengatasinya?! Aku akan menemanimu?!" balas Naruto namun Issei menggelengkan kepalanya pelan. "Aku mohon, Naruto... Kau bilang nyawa orang itu berharga bukan? Karena itu aku mohon... Selamatkan mereka... Mereka akan tertinggal dan nyawa mereka akan melayang nanti karena melindungi kita... nyawa mereka itu juga penting... jika detik terakhir mereka terkena gigitan, semua yang ada di sini dalam bahaya... Aku mohon Naruto," pinta Issei sambil tersenyum.

Naruto yang mendengar itu terdiam sambil menggeram pelan, Issei pun di ambil alih oleh Dokter yang langsung mengobati pendarahannya dengan cepat, baling-baling pesawat Ark pun semakin cepat berputar dan akhirnya membuat pesawat tersebut melayang.

"Jeanne! Gabriel! Cepat masuk!" teriak Kakashi membuat mereka tersentak karena tidak menyadari pesawat akan terbang, sebisa mungkin mereka langsung melompat untuk masuk ke dalam pintu, namun mereka harus bergelantungan karena tidak sempat.

Naruto yang melihat itu langsung mendekati mereka dan menangkap tangan mereka lalu menarik mereka naik ke pesawat Ark, dengan sekuat tenaga ia menarik dua pasukan JSDF itu hingga akhirnya mereka sampai masuk ke dalam.

Karena terlalu kuat Naruto pun terjatuh dan di tindih oleh Gabriel dan Jeanne. Mereka yang di selamatkan pujaan hati mereka merona, sementara Naruto hanya di sambil mengatur nafasnya yang memburu.

"Bisakah... Kalian menyingkir?" tanya Naruto sambil mengatur nafasnya. "A-Ah, tentu...," jawab mereka lalu berdiri dari atas tubuh Naruto dan membiarkannya berdiri.

"A-Arigato... Na..."

"Issei!" Naruto yang mendengar teriakan Rias tersentak dan menatap khawatir ke tempat Issei, ia pun langsung meninggalkan mereka dan menuju tempat Issei.

Saat Naruto sampai ia menatap terkejut Issei yang memejamkan matanya sambil di peluk Rias, alat pengukur detak jantung Issei juga sudah menjadi garis lurus, tubuh Naruto bergetar ketika melihat itu.

"Maafkan kami... kami tidak bisa menyelamatkannya... Dia sudah kehilangan banyak darah... Maafkan kami."

Bruk!

Naruto langsung terjatuh berlutut di samping mayat temannya, dia tidak percaya bahwa dia akan kehilangan temannya kembali, dan kali ini adalah sahabat terbaiknya, sahabat yang selalu dia ajak bercanda, sahabat yang selalu bekerja sama, sahabat hidup semati.

Lelehan liquid keluar dari mata Naruto, ia membungkuk dan menempelkan kepalanya di perut Issei yang terdapat banyak darah, Shikamaru dan yang lain yang melihat itu juga tak bisa membendung air mata mereka, mereka juga merasakan apa yang di rasakan Naruto.

Kakashi dan seluruh pasukan yang mendengar bahwa Issei telah tiada terkejut, salah satu pahlawan telah kehilangan nyawanya dalam perjalanan melewati neraka ini, mereka turut berduka atas kematiannya.

Naruto yang mengingat ekspresi Issei terakhir kali semakin menangis, dia kehilangan teman terbaiknya, teman yang tak akan pernah tergantikan.

"Kuso... Kuso... Kuso..."

"KUSOOOOOOOOOOOOOOOOOOOO!"

.

.

.

.

.

.

.

.

.

TBC

Note : AAARRGHHHH! AKHIRNYA SELESAI!

Shit, bagaimana menurut kalian? Absurd? Bodo amat, aku ngetik pakai insting aja ini, gak ada kerangka sama sekali jadinya Absurd XD

Ok acuhkan itu, di sini sudah terlihat bagaimana upaya para markas utama untuk menyelamatkan Naruto, bahkan sampai menggerakkan lima belas pesawat Ark. Mereka berhasil tanpa kegagalan sedikitpun untuk menyelamatkan Naruto, dan yang lain, tapi saat di tengah perjalanan mereka mendapat serangan tak terduga dari Diodora.

Menurut kalian bagaimana penyiksaannya? Kurang? Ya maaf aku bukan algojo masalahnya :v.

Ok, di sini mereka akhirnya sampai di pesawat Ark dan sangat di sayangkan Issei harus kehilangan nyawanya karena kehilangan banyak darah.

Apa yang akan terjadi berikutnya? Tunggu saja kelanjutannya., Saya gak bisa banyak bicara karena memang bukan tipe saya, jadi sampai jumpa... Jaa!

4kagiSetsu Out