Chapter sebelumnya :
.
.
Setelah sampai di ruang perawatan, Naruto mendudukkan dirinya di sisi kasur ruang perawatan dengan Kuroka, Akeno, Arthuria, Hinata serta Kushina yang mengobati luka di tubuhnya, serta wajahnya.
Akeno mengobati tangan kiri Naruto, Kuroka mengobati tangan kanan Naruto, Arthuria mengobati bagian dada Naruto, Hinata mengobati bagian punggung Naruto, dan Kushina yang mengobati wajah Naruto.
"Ittette...," rintih Naruto ketika Kushina menempelkan sebuah kapas berisi alkohol di pipinya, "Ah!" lanjut Naruto merintih karena merasakan sakit di punggungnya.
"Go-Gomen, Naruto-kun!" ucap Hinata meminta maaf. "A-Ah... Bu-Bukan apa-aparhh!" ucapan Naruto seketika terganggu ketika ia merasakan sakit yang bersamaan di kedua tangannya.
"Pe-Pelan-pelan, Akeno-chan... Kuroka-chan."
Sasuke, serta Shikamaru yang duduk tak jauh dari posisi Naruto melihat Naruto tengah di obati oleh empat perempuan terdiam dengan sebelah alis mereka yang berkedut.
"Sialan kan Naruto! Kenapa kau selalu dapat yang enak-enak?!" batin mereka kompak. "Jadi... Kenapa kau bisa seperti ini, Naruto-kun?" tanya Kushina dengan wajah menuntut jawaban dari Naruto.
Naruto yang mendengar itu terdiam sesaat dengan mata birunya yang melihat ke bawah. Shikamaru yang ingin menjawab pertanyaan itu terhenti karena Naruto menahannya, "Biar aku saja, Shikamaru," ucap Naruto membuat Shikamaru terdiam lalu menganggukkan kepalanya pelan.
Naruto kembali terdiam beberapa saat lalu menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan, setelah itu ia pun menatap ibunya dengan ekspresi serius.
"Kaa-chan... Aku... Serta yang lainnya... Akan ikut melakukan penyerangan bersama Pasukan JSDF."
.
.
Chapter saat ini :
.
Kushina yang mendengar perkataan Naruto terdiam, semua yang melihat Naruto mengatakan itu juga ikut terdiam membuat ruangan itu menjadi sangat sunyi.
Beberapa detik berikutnya, Kushina menahan tawanya lalu tersenyum kepada Naruto, "Apa yang kau bicarakan nak? Kau pasti sedang bercanda bukan?" ucap Kushina, semua yang mendengar itu hanya diam. Naruto menggelengkan kepalanya pelan, "aku tidak sedang bercanda, Kaa-chan," jawab Naruto lalu menatap ibunya dengan serius.
"Aku benar-benar serius."
Kushina yang awalnya tersenyum kepada putranya seketika senyumannya memudar, "Kenapa...," gumam Kushina pelan, lalu dengan keras Kushina meninju pipi Naruto hingga membuatnya semua yang di sana terkejut terkecuali Naruto yang sudah menduga Ibunya akan memukulnya.
"Kushina-baasan!" Akeno serta Kuroka yang melihat Naruto di pukul Kushina ingin menenangkan mereka, namun Naruto menahan mereka agar tidak melakukannya. Lalu Kushina mencengkeram kerah baju Naruto dan menatap marah putranya, "Apa yang kau pikirkan, Dasar Anak Bodoh?! Kenapa kau sampai ikut ke Medan Pertempuran?! Apa kau sudah gila?!" bentak Kushina sambil mengguncang tubuh Naruto.
"Di luar itu sangat berbahaya?! Ayahmu serta yang lainnya sudah membuat rencana untuk melawan mereka?! Jadi untuk apa kau ikut ke Medan Pertempuran?!"
Naruto yang mendengar itu tidak membalas ucapan Kushina, "Ayahmu... Pasti Ayahmu yang memintamu ikut, Apa aku benar?!" tanya Kushina dengan ekspresi kesal. Tak lama setelah itu, pintu ruangan Naruto terbuka dan memperlihatkan sosok Minato memasuki kamar tersebut.
"Naruto..."
"Kau!" bentak Kushina melepaskan cengkeramannya pada baju Naruto lalu mendekati suaminya. Minato yang melihat Kushina tampak kesal bisa menduga bahwa Naruto telah memberitahu semuanya kepada Kushina.
"Ku-Kushina, dengarkan aku..."
Setelah di dekan Minato, Kushina langsung menampar pipi Minato cukup keras membuat semua yang ada di sana terkejut, terkecuali Naruto. Minato yang di tampar oleh Kushina meringis kesakitan, lalu Kushina mulai mencengkeram baju Minato dan menatapnya dengan kecewa.
"Apa yang kau pikirkan Minato! Kenapa kau memasukkan putramu ke dalam medan pertempuran! Apa kau ingin membunuh anakmu!" teriak Kushina sambil mengguncang tubuh Minato. "Ku-Kushina, bu-bukan seperti itu... Dengarkan aku dulu...," ucap Minato mencoba menenangkan Kushina.
"Apa yang harus aku dengar darimu?! Aku benci kau! Aku benci kau!" ucap Kushina sambil meneteskan air mata. Naruto yang melihat itu pun terdiam lalu mendekati Kushina dan menahan kedua tangan ibunya yang mencengkeram kerah Ayahnya.
"Ini bukan salah Tou-chan, Kaa-chan," ucap Naruto dengan lembut sambil mencoba melepaskan tangan Kushina dari kerah Minato, "ini murni keinginanku sendiri, aku sendiri yang ingin ikut ke Medan Pertempuran, dan aku sudah mendapatkan izin langsung dari Tenno-sama," lanjut Naruto, Kushina yang mendengar itu terisak.
Melihat ibunya menangis, Naruto lalu memeluk Kushina dengan erat mencoba menenangkan ibunya, "Maafkan aku telah membuatmu menangis lagi, Kaa-chan. Tapi, kau tidak perlu khawatir, aku berjanji... Aku akan kembali dengan selamat." Kushina yang mendengar itu menyentuh lengan Naruto yang memeluknya dengan erat sambil terus menangis.
Semua yang melihat itu terdiam sambil menundukkan kepala mereka, bayangan orang tua mereka yang sedih dan tidak terima mereka pergi ikut bertempur seperti keluarga Naruto terlintas di kepala mereka, dan itu membuat seperti ada yang sesuatu yang menusuk dada mereka.
Minato yang melihat itu menundukkan kepalanya, dirinya masih merasa bersalah karena tidak bisa menghentikan putranya untuk ikut berperang hingga membuat Kushina menangis.
"Jangan menyalahkan dirimu, Tou-chan." Minato yang mendengar itu melihat ke arah Naruto yang menatapnya dengan tenang. "Kau tidaklah bersalah, kau sudah melakukan tugasmu sebagai seorang ayah dengan mencoba menghentikanku... tapi seperti yang aku katakan ini murni keinginanku sendiri," ujar Naruto.
Minato yang mendengar itu terdiam lalu menundukkan sedikit kepalanya, "Jika begitu... Bisakah kau berjanji, kembali dengan selamat?" Naruto yang mendengar itu tersenyum.
"Um, aku berjanji."
Semua yang melihat Naruto telah berhasil membujuk orang tuanya terdiam, Naruto dengan kuat serta berani menahan rasa sakit yang ia terima karena telah membuat orang tuanya menangis dan membuat mereka luluh menyetujui keinginannya.
Mereka pun berpikir, apakah mereka bisa melakukan apa yang seperti Naruto lakukan.
.
.
Ruang Medic
.
.
Deg!
Yamato yang terbaring seketika membuka matanya lebar-lebar bangkit dari posisinya, namun karena saking cepatnya ia langsung menggerang kesakitan karena merasakan sakit pada kepalanya.
"Akhirnya kau sadar, Yamato." Yamato yang mendengar itu menoleh ke sumber suara dan melihat Kakashi yang duduk di sampingnya dengan beberapa luka lebam yang saat ini tengah di obati oleh Rin.
"K-Kakashi-senpai?!" kejut Yamato lalu ia mengalihkan pandangannya ke segala arah bahwa mereka ada di ruang medis dan ia semakin terkejut ketika melihat kondisi Guy, Sairaorg, Obito, Itachi, Shisui, Asuna sama persis dengan Kakashi, sementara Kurenai, Rin serta Yugao hanya menerima luka kecil.
"A-Apa yang terjadi selama aku tidak sadarkan diri?"
"Kita kalah," jawab Asuma membuat Yamato terkejut karena Naruto seorang diri bisa mengalahkan teman-temannya dan memberi mereka luka lebam yang cukup parah baginya. "Bagaimana bisa? Apakah dia di bantu teman-temannya atau...," tanya Yamato sambil menggantung kalimatnya.
"Dia mengalahkan kita seorang diri," jawab Yugao membuat Yamato benar-benar terdiam seribu bahasa, walau dia akui Naruto memang kuat bahkan bisa membuatnya tidak sadarkan diri cukup lama.
"Dia itu benar-benar kuat sekali... Walau sudah menerima serangan yang cukup kuat dia masih bisa berdiri," gumam Obito lalu mengejang ketika merasakan sakit pada pipinya karena terkena Alkohol yang di berikan Jeanne.
"Argghhh!"
"Berhentilah merengek, Obito-senpai," ucap Jeanne menatap kesal senpainya. "Rasanya sakit tahu!" balas Obito sedikit kesal karena secara tiba-tiba di beri alkohol.
"Jadi... Sekarang bagaimana?" tanya Yamato meminta keputusan dari Kakashi. "Kita tidak bisa berbuat apa-apa, mereka sudah mendapat persetujuan dari Tenno-sama, jadi mau tidak mau kita harus bekerja sama dengan mereka," jawab Kakashi membuat Yamato terdiam lalu membungkukkan badannya.
"Gomenasai, Kakashi-senpai, seandainya saja aku tidak sadarkan diri, aku pasti bisa membantu," ucap Yamato meminta maaf, dirinya menyalahkan dirinya sendiri karena kenyataannya karena jika saja dia tidak sadarkan diri, Pasti mereka bisa menghentikan Naruto.
"Jangan menyalahkan dirimu, Yamato-senpai," ucap Shisui sambil menekan matanya dengan sebuah kantung es. "Itu benar! Tetaplah semangat Yamato!" ucap Guy dengan nada semangat namun itu Cuma sesaat karena Gabriel memukul punggung Guy yang masih sensitif karena terdapat luka hingga membuatnya mengejang.
"Berhentilah bersikap sok kuat, Guy-senpai," omel Gabriel. "Go-Gomen... T-tapi kau tidak perlu memukul punggungku kan," balas Guy dengan nada memohon, semua yang melihat itu tertawa pelan.
.
Disclaimer :
Naruto Masashi Kisimoto
High School DxD Ichiei Ishibumi
Summary : Dunia Modern, dimana Dunia sudah maju dengan teknologi canggih yang membantu peradaban manusia, namun karena saking canggihnya, para ilmuwan nekat membuat sesuatu yang berbahaya, namun saat melakukan tes terjadi kesalahan besar. Sesuatu yang berbahaya itu menyebar dengan cepat membuat panik orang-orang dan mereka harus melarikan diri untuk bertahan hidup, akankah peradaban manusia musnah sepenuhnya?
This Is The End the World?
Pair :
Naruto x ...
Sasuke x Sakura
Issei ( Dead )
Shikamaru x ...
Genre : Alternative Universe, Adventure, Fantasy, Friendship, Family, Horror, Tragedy, Mystery, Humor, Sci-Fi, Future.
Rate : M
Warning : Typo, OC, OOC, AU, Multichap, Alur berantakan dan Lain-lain, Smart!Naru, Smart!Shikamaru, Smart!Sasuke.
" Naruto " berbicara
" Naruto " batin
["Naruto."] bicara melalui walkie talkie
["Naruto."] balasan dari Walkie talkie.
.
Skillet – Back from the Dead
.
B-ba-b-b-b-ba-ba-back
B-ba-b-b-b-ba-ba-back
( Gambar memperlihatkan gambar beberapa huruf )
(Drum Sfx)
B-ba-b-b-b-ba-ba-back
B-ba-b-b-b-ba-ba-back
(Lalu muncul tulisan judul cerita This is The End the World?)
Cold and black inside this coffin
(Layar berubah di ganti dengan sosok Naruto yang tengah bersandar di luar mobilnya sambil melihat ke langit malam)
Cause you all try to keep me down
(Lalu Layar kembali di ganti dengan Shikamaru serta Issei yang tengah berkerja membuat sebuah alat dengan Sasuke yang mempersiapkan sebuah senjata tembak di samping mereka bersama Choiji.)
How it feels to be forgotten
(Layar berubah ke arah Shizuka serta Sakura dan Ino yang tengah mencoba membuat sebuah ramuan)
But you'll never forget me now
(Lalu layar berubah ke arah Akeno, Rias, Arthuria, Koneko, Kuroka, Sona, Tsubaki, Xenovia, Irina serta Hinata yang juga mempersiapkan senjata mereka masing-masing, lalu Arthuria menoleh ke arah lain)
Enemies clawing at my eyes, I
(Layar kembali berubah menjadi para Zombie dari berbagai jenis menyerang para Manusia)
Scratch and bleed, just to stay alive, yeah
(Gambar kembali berubah beberapa manusia yang mencoba melawan walau akhirnya mereka tetap mati)
The zombies come out at night
(Lalu layar kembali berubah dengan ribuan Zombie yang berjalan di seluruh kota)
They'll never catch me
They'll never catch me
(Layar kembali berganti dengan Naruto serta teman-temannya yang memasuki kendaraan mereka)
B-ba-b-b-b-ba-ba-back
B-ba-b-b-b-ba-ba-back
(Gambar pun berubah dengan gambar kendaraan mereka yang berjalan di kota mati)
Drum Sfx
(Gambar memperlihatkan Naruto yang memasukkan gigi Mobilnya)
Light it up, light it up, now I'm burning
(Layar kembali di ganti dengan Naruto yang memacu kendaraannya bersama Irina di sampingnya menembak para Zombie dari jendela di ikuti sebuah Truk yang di kendarai Rossweisse bersama Sasuke di sampingnya)
Feel the rush, feel the rush of adrenaline
(Gambar kembali di ganti dengan bagian belakang Truk di mana terdapat Shikamaru serta yang lainnya tengah menembak para Zombie yang mengikuti mereka)
We are young, we are strong, we will rise
(Layar kembali di ganti dengan Chouji yang mengaktifkan senjata berondong di belakang dan mulai menembak para Zombie dengan membabi buta.)
Cause I'm back, back, back from the dead tonight
(Lalu layar kembali di ganti dengan ledakan beruntun yang terjadi di belakang truk bersama dengan zombie besar mengejar mereka, lalu gambar berubah dengan Arthuria yang menembak Zombie tersebut dengan Sniper miliknya)
To the floor, to the floor, hit the red line.
(Layar kembali berubah menjadi Sasuke serta Kuroka, Koneko, Sona, Hinata, Ino dan Rias yang saling membelakangi menembak para Zombie yang mengepung mereka )
Flying high, flying high at the speed of light
(Layar kembali di ganti dengan Rossweisse mengendarai sebuah kendaraan berukuran sedang bersama Xenovia, Shikamaru, Akeno, Irina, Tsubaki dan Chouji yang duduk di belakang kendaraan sambil menembak para Zombie dengan senjata mereka.)
Full of love, full of light, full of fight
(Layar kembali di ganti dengan mobil Naruto yang menghindari berbagai ledakan di belakangnya)
Cause I'm back, back, back from the dead tonight
(Layar kembali dengan yang berbelok tajam dan memperlihatkan Naruto yang mengeluarkan pistolnya dan menembakkan sebuah peluru.)
.
.
Chapter 16 : Day 8 Survivor Part 1
.
.
Upstairs
20.00 PM
.
.
Setelah kejadian barusan dengan Kushina yang telah tenang dan di bawa ke kamarnya oleh Minato, semua teman-teman Naruto pun mohon undur diri dan kembali ke kamar mereka.
Melihat teman-temannya telah meninggalkannya Naruto pun memutuskan untuk beristirahat memulihkan staminanya yang terkuras karena melawan 11 elite pasukan JSDF pilihan ayahnya.
Beberapa jam berlalu dirinya pun terbangun dari istirahatnya dan waktu telah menunjukkan akan malam hari, tanpa banyak pikir ia pun membersihkan tubuhnya lalu pergi ke kantin untuk makan malam.
Selama perjalanan, Naruto bisa merasakan dirinya menjadi pusat perhatian para pasukan yang ada di sana, tapi dirinya hanya acuh dengan hal itu. Sesampainya di kantin, ia tidak menemukan teman-temannya satu pun, jadi ia pun memutuskan mengambil makan lebih dahulu sambil menunggu mereka.
Namun setelah dirinya selesai makan, ia tidak melihat teman-temannya datang dan itu membuat Naruto bisa menebak mungkin mereka sedang mencoba membujuk orang tua mereka.
Jadi ia pun memutuskan mencari udara segar dengan pergi ke lantai Atas markas yang telah di sambung keluar dari gunung hingga ia bisa melihat beberapa helikopter yang terbang ke berbagai arah sambil menyorotkan sebuah cahaya ke kota mati yang cukup jauh
Naruto yang melihat kota mati itu terdiam sambil menerima hembusan angin yang menerpanya. "Mencari udara segar?" Naruto yang mendengar sebuah suara yang sangat ia kenal pun menoleh dan ia melihat Sasuke yang datang bersama Shikamaru.
"Ya, begitulah," balas Naruto lalu melihat ke arah kota mati yang ia lihat sebelumnya. Shikamaru serta Sasuke pun duduk di samping Naruto sambil melihat apa yang temannya lihat, terjadi keheningan beberapa menit di antara mereka hingga akhirnya Naruto membuka suara, "jadi... Bagaimana?" lanjut Naruto tanpa melirik mereka.
"Apanya?"
"Bagaimana reaksi keluarga kalian ketika mendengar bahwa kalian akan ikut berperang?" tanya Naruto membuat mereka terdiam lalu memunculkan aura hitam di atas mereka.
"Ya... Saat aku mengatakannya terhadap ibuku, dia juga sedih, kesal serta memarahiku seperti ibumu, tapi untungnya Itachi-nii menenangkan ibuku dan mengatakan bahwa dia akan menjagaku," jawab Sasuke dengan wajah masam.
"Kau sungguh enak di lindungi oleh kakakmu, kalau aku? Aku di tampar serta di pukul ibuku setelah mengatakan itu, ayahku mencoba menenangkan ibuku, tapi hasilnya dia ikut jadi korban, dan setelah cukup panjang lebar menjelaskan serta membujuk ibuku, akhirnya dia menyetujuinya," jawab Shikamaru sambil mengelus pipinya yang masih terasa sakit karena tamparan ibunya.
"Hahaha, sudah aku duga akan terjadi seperti itu," balas Naruto sambil tertawa ringan, "tapi aku senang jika kalian di beri persetujuan untuk ikut melakukan penyerangan, dengan ada kalian, aku merasa bisa leluasa," lanjut Naruto, tanpa ada mereka, dirinya merasa seperti memiliki tempat bergerak yang terbatas.
Apa lagi ke depannya dirinya akan melakukan penyerangan, tanpa ada mata dari Shikamaru serta Support dari Sasuke, dirinya mungkin akan mati di luar sana.
"Huft... Sekarang, tinggal yang lainnya saja... Apa mereka mendapatkan persetujuan... Tapi jujur aku lebih berharap mereka tidak mendapatkan persetujuan," ucap Naruto setelah menghembuskan nafas pelan.
"Kejamnya." Naruto yang mendengar suara itu menoleh dan ia melihat Kuroka serta Akeno berada di ujung pintu menuju turun ke bawah serta naik ke tempat mereka berada.
"Hn, sebaiknya kami kembali sekarang Naruto," ucap Sasuke lalu berdiri di ikuti Shikamaru. "E-Eh? Kenapa?" kejut Naruto sambil menatap Shikamaru serta Sasuke bergantian.
"Jika kami di sini, kami justru akan menjadi obat nyamuk, selain itu kau sepertinya membutuhkan waktu dengan mereka," jawab Shikamaru lalu melangkah pergi bersama Sasuke meninggalkan Naruto, bersama Akeno serta Kuroka.
"E-Eh?! C-Chotto Matte!" panggil Naruto mencoba menghentikan mereka namun mereka lebih dulu turun dan pintu tempat tersebut, "ugh, yabee...," batin Naruto ketika melihat tatapan tajam dari mereka.
Akeno serta Kuroka pun mendekati Naruto hingga mereka cukup dekat dengannya. "Tadi kau mengatakan apa, Naru-kun?" tanya Kuroka dengan ekspresi marah. "A-Ah... Aku tidak mengatakan apa-apa," balas Naruto sambil tersenyum canggung.
Nyit!
"Itte!" ringis Naruto ketika menerima jeweran dari Akeno. "Kau tadi bilang, kau lebih senang jika kami tidak mendapat persetujuan kan?" ucap Akeno lalu melepaskan jewerannya.
Naruto yang mendengar itu terdiam sesaat sambil mengelus kupingnya yang sakit karena jeweran Akeno, "Habisnya...," gumam Naruto sambil menundukkan kepalanya, bayangan kematian Issei kembali terlintas di kepalanya, dan ia membayangkan bagaimana jika teman-temannya mengalami hal yang seperti Issei.
"Bukankah kami sudah bilang, jika kau tidak ingin kehilangan kami, maka kami juga tidak ingin kehilangan dirimu, tapi jika kita bersama dan saling melindungi satu sama lain, pasti itu tidak akan terjadi lagi," ucap Kuroka sambil menyentuh tangan kiri Naruto, sementara Akeno menyentuh tangan kanan Naruto.
Naruto yang mendengar itu terdiam kembali beberapa saat, "Aku harap juga begitu...," gumam Naruto, "tapi... Bagaimana dengan..."
"Oh, orang tuaku? Aku sudah mendapatkan Izin," balas Akeno membuat Naruto langsung terkejut.
"Eh?!"
"Yah, awalnya ayahku menentang keputusanku, sementara ibuku mendukungku, tapi setelah aku mengancam ayahku, dia mengizinkanku," jelas Akeno membayangkan kejadian di mana ayahnya memarahinya ketika menjelaskan bahwa dirinya akan ikut misi penyerangan, sementara ibunya awalnya juga menentang keputusannya, namun ada suatu hal yang membuatnya akhirnya mengizinkannya.
Karena ayahnya selalu menentangnya, ia pun langsung mengancam ayahnya dengan pedang yang dia bawa dari sekolah dan itu membuat nyali ayahnya ciut.
"Fufufu." Naruto yang bisa melihat Akeno tertawa dengan senyuman sadis merinding di Sergai sweatdrop. Ia cukup mengenal ayah Akeno, dia orang yang cukup keras dan tegas, dirinya tidak bisa membayangkan ayah Akeno yang tegas menjadi ketakutan ketika di ancam anaknya, ya walau ancamannya dengan sebuah pedang wajar membuat siapa pun ketakutan, tapi tetap saja ia tidak bisa membayangkannya.
"Lalu... Bagaimana denganmu?" tanya Naruto sambil melihat Kuroka. "Kau pasti tidak mendapatkan izin kan, Neko-onna," balas Akeno membuat Kuroka mendelik ke arah Akeno.
"Enak saja, tentu saja aku juga sudah mendapatkan Izin, bahkan Koneko juga ikut," balas Kuroka membuat Naruto semakin bertambah terkejut. "E-Eh?! Koneko-chan juga?!" tanya Naruto dan di balas anggukan oleh Kuroka.
"Etto ne, aku menjelaskan kepada orang tuaku bahwa kami akan ikut di hari penyerangan, mereka awalnya juga menentang kami, tapi kami bersih keras dan memaksa mereka bahwa kami akan tetap ikut, lalu ibu kami bertanya alasan kami ingin ikut, lalu aku menjelaskan kepadanya dan mendapatkan persetujuan," jawab Kuroka membuat Alis Naruto berkedut beberapa kali.
"Bukankah mereka terlalu mudah memberi Izin?!" teriak Naruto dalam batin. "Hehehe, dengan begini tidak perlu ada yang di khawatirkan," ucap Kuroka sambil memeluk lengan Naruto hingga terapit oleh dada besar dan merapatkan dirinya di sampingnya.
Naruto yang merasakan tangannya di apit oleh dada besar Kuroka merona, Akeno yang melihat itu pun mendelik tidak mau kalah, "Oi! Neko-onna! Menjauh dari Naruto-kun!" balas Akeno sambil menarik Naruto hingga lengannya terapit oleh dada besarnya serta sedikit menjauh dari Kuroka.
"Justru kau yang harusnya menjauh Teke-onna!" seru Kuroka sambil menarik Naruto kembali. "H-Hey-hey, kalian berdua tenanglah, d-dan bisakah kalian melepaskan tanganku?" ucap Naruto mencoba menenangkan mereka berdua dan pintanya untuk melepaskan kedua tangannya.
"Naruto-kun!/Naru-kun! Diam saja!" bentak mereka berdua membuat Naruto sweatdrop karena dia yang kena marah. "E-Eh? Ke-Kenapa aku?" tanya Naruto kebingungan.
"Karena saat ini kami sedang berlomba untuk membuatmu memilih salah satu di antara kami, dan aku tak akan membiarkan Teke-onna ini mendahuluiku!" balas Kuroka menatap tajam Akeno. "Fuh! Coba saja Neko-onna! Tidak akan aku biarkan kau mendahuluiku!" ucap Akeno tidak mau kalah.
"Kalian masih membahas itu?!" ujar Naruto tidak percaya mereka masih membahas hal itu. "Tentu saja! Karena kami mencintaimu!" balas Mereka kompak lalu kembali saling mendelik tajam.
Naruto yang mendengar itu terdiam sambil memandang mereka saling mendelik satu sama lain, sesuatu yang sering sekali dirinya lihat semenjak berteman dengan mereka, dirinya sangat berharap bisa melihat kejadian ini terus setelah masalah yang mereka hadapi selesai.
"Aku sangat berharap... Kita akan tetap bersama sampai bencana ini berakhir," gumam Naruto, Akeno serta Kuroka yang mendengar itu berhenti saling bertatapan tajam lalu mereka menyandarkan kepala mereka ke bahu Naruto.
"Um, Kami juga berharap begitu," jawab Kuroka dan di balas anggukkan pelan oleh Akeno, mereka pun sama-sama terdiam sambi memandang ke arah kota mati seberang sana.
.
Ino Room
.
Beralih ke ruangan lain tepatnya di ruangan Ino saat ini terdapat Ino yang tengah duduk di sisi kasur sambil menghadap kepada ayah dan ibunya dengan pipinya yang terdapat bekas tamparan.
Sang ibu yang mendengar pernyataan bahwa putrinya akan ikut melakukan penyerangan bersama yang lainnya tidak percaya dan langsung menamparnya, apa yang ada di pikiran putrinya ini.
Sementara Inoichi yang melihat putrinya mendapat tamparan dari Ibunya hanya bisa diam, dirinya juga tidak menyangka sekaligus tidak mengerti kenapa putrinya ingin ikut.
"Sayang... Tolong beritahu ayah sekali lagi... Apa, alasanmu untuk ikut di hari penyerangan? Kau tahu itu sangat berbahaya?" tanya Inoichi menatap serius putrinya. "Aku tahu... Tapi... Seperti yang aku bilang, aku tidak bisa diam saja di sini sementara teman-temanku maju melawan para Zombie," jawab Ino.
"Selain itu aku juga sudah bilang, aku ingin membalas Budi atas apa yang di lakukan Naruto untukku, karena dia lah aku bisa sampai sini, aku bisa melawan rasa takutku, serta melindungi diriku sendiri."
"Maka dari itu, Izinkan aku untuk ikut Tou-chan! Kaa-chan!" pinta Ino dengan wajah serius, Inoichi yang melihat ekspresi serius putrinya terdiam, sang ibu yang melihat itu menggeram kesal dan menatap marah putrinya.
"Apa kau sudah gila?! Ini bukanlah permainan! Ibu tidak akan mengizinkan...," bentak sang ibu sambil bersiap menampar Ino kembali, namun di tahan oleh Inoichi. "Tenanglah dulu, Tsuma," pinta Inoichi lalu menatap serius putrinya.
"Baiklah... Tou-chan akan mengizinkanmu ikut," jawab Inoichi membuat Ino serta sang Ibu terkejut mendengar itu. "Anata... Apa yang kau pikirkan?!" bentak sang istri
"Tapi dengan syarat, kau harus membuktikan padaku kemampuanmu, besok aku akan menyiapkan test untukmu apakah kau mampu atau tidak ikut ke Medan Pertempuran," lanjut Inoichi sambil melepaskan tangan istrinya, "bagaimana?"
Ino yang mendengar itu terdiam, lalu ia pun mengangguk menandakan dia menyetujui syarat itu, "Baiklah! Akan aku lakukan!" balas Ino, Inoichi yang mendengar itu pun menganggukkan kepalanya lalu mengajak istrinya keluar dari sana.
"Kalau begitu, kami pergi dulu Ino, kau beristirahatlah untuk besok," ucap Inoichi lalu menutup pintu kamar ino. "Anata?! Apa yang kau pikirkan?! Kenapa kau memberi izin putri kita untuk ikut berperang?!" tanya Sang Istri sambil mengikuti tarikan suaminya lalu setelah jauh dari kamar Ino ia melepaskan paksa tangannya.
"Apa kau ingin putri kita mati?!"
"Tentu saja aku tidak mau hal itu terjadi, tapi... Dengar... Ini pertama kalinya aku melihat putri kita memiliki tatapan yang sangat serius, biasanya dia terlihat seperti orang yang ragu dan takut dalam menentukan apa yang dia pilih, tapi sekarang dia dengan berani menentukan pilihannya tanpa ragu," jawab Inoichi menjelaskan kenapa ia mengizinkan putrinya.
"Maka dari itu aku ingin melihat apakah dia benar-benar bersungguh-sungguh dengan pilihannya atau tidak. Jika dia memang bersungguh-sungguh, maka putri kita itu sudah berkembang menjadi orang yang dewasa," ucap Inoichi sambil menyentuh kedua tangan istrinya untuk meyakinkannya, "mungkin perbandingan saat tes dan saat berperang berbeda jauh, tapi dia tidaklah sendirian, dan aku berjanji akan meminta pasukan lain untuk melindunginya."
Sang Istri yang mendengar itu terdiam, Inoichi yang melihat istrinya terdiam menunggu keputusan sang istri. Menghembuskan nafas berat, sang istri lalu menatap sang suaminya, "Baiklah... Jika sampai terjadi sesuatu terhadap Ino, awas saja kau," ancam sang Istri.
"Ya, aku janji Tsuma, aku janji akan menjaga Ino baik-baik," ucap Inoichi dan berniat mencium kening istrinya tapi sang istri menahannya. "Sebagai hukumannya, kau tidur di luar," ucap sang Istri membuat Inoichi terkejut.
"E-Ehhhh?!"
.
.
Rias Room
.
Beralih ke ruangan lain yaitu kamar Rias, saat ini ia tengah berdiri dengan ekspresi serius. Sementara di hadapannya terdapat orang tuanya yang menatap terkejut dirinya.
"Kau bilang apa?! Apa kau sudah gila?!" bentak seorang pria yang tak lain adalah Zeoticus, ayah Rias sambil bersiap menampar anaknya, namun di tahan oleh sang Istri, Venelana. "A-Anata, tenangkan dirimu!" ucap Venelana dengan tatapan memohon.
"Oi! Oi! Rias! Apa yang kau pikirkan? Kenapa kau nekat ingin ikut melakukan penyerangan? Penyerangan itu akan di lakukan oleh pasukan yang ada di sini, sementara kau itu adalah warga sipil, kau juga sudah berada di tempat yang aman, kenapa kau ingin ikut melakukan penyerangan?" tanya seorang pria rambut merah sambil memegang bahu Rias.
"Apa yang di katakan oleh Sirzech itu benar, Rias. Kenapa kau nekat ingin ikut melakukan penyerangan?" tanya Venelana menimpali ucapan pria bernama Sirzech serta juga ingin tahu alasannya, "Apa kau ingin membalaskan dendam karena Issei Mati? Apa kau ingin mati dan menyusul Issei ke alam sana?" tanya Sirzech kembali.
"Aku tidak ada niat bunuh diri," jawab Rias sambil melepaskan tangan Sirzech dari bahunya, "aku hanya tidak bisa membiarkan teman-temanku dengan berani maju melawan para Zombie sementara aku diam saja di sini, sudah cukup aku kehilangan Issei-kun, aku juga tidak ingin kehilangan mereka."
"Lagi pula, aku sudah bertahan selama 3 hari bersama teman-temanku di antara para Zombie dan bisa menggunakan senjata untuk membunuh mereka."
"Tapi..."
"Apa kau benar-benar serius ingin ikut di hari penyerangan, Rias?" semua yang mendengar suara lain menoleh dan mereka melihat seorang pria dengan beberapa perban serta bekas lebam di wajah memasuki kamar tersebut.
"Sairaorg!/Sairaorg-kun!/Sairaorg jii-san!" kejut Zeoticus, Venelana serta Sirzech ketika melihat pria yang tak lain adalah Sairaorg datang dalam keadaan kacau. "Apa yang terjadi? Kenapa kau tampak kacau seperti ini?" tanya Venelana menatap khawatir keponakannya itu.
"Haha, tadi aku di perintahkan untuk melawan anaknya Komandan Minato untuk mencegahnya serta teman-temannya termasuk Rias agar tidak ikut ke dalam misi penyerangan dengan cara bertarung, tapi siapa sangka anak Komandan Minato berhasil mengalahkan ku serta teman-temanku seorang diri," jawab Sairaorg menjelaskan bagaimana bisa dia mandapatkan luka seperti saat ini.
Semua yang mendengar itu kecuali Rias terkejut, mereka memang sudah melihat secara langsung sosok anak Minato saat penjemputan, dan mereka sangat tidak percaya anak yang sedikit pendek serta memiliki ukuran tubuh yang tak seberapa dengan Sairaorg berhasil membuatnya babak belur.
"Mustahil?! Kau tidak bercandakan?!" tanya Sirzech dan di balas gelengan oleh Sairaorg. "Aku tidak bercanda, karena dia berhasil mengalahkan diriku serta teman-temanku, ia serta teman-temannya termasuk Rias mendapatkan persetujuan langsung dari Tenno-sama bisa mengikuti hari penyerangan," jawab Sairaorg sambil menatap Rias yang melihatnya diam.
Mereka kecuali Rias yang mendengar itu semakin terkejut, Rias serta teman-temannya akan ikut melawan para Zombie dan mendapatkan persetujuan langsung dari Tenno-sama?!
"Bagaimana bisa?!" tanya Zeoticus. "Seperti yang aku bilang, aku serta teman-temanku di suruh melawan temannya Rias yaitu Uzumaki Naruto, sebagai Syarat untuk mendapatkan izin dari Tenno-sama, jika kalah mereka tidak akan ikut, tapi Jika Naruto menang maka mereka akan ikut, dan aku serta teman-temanku kalah melawannya," jawab Sairaorg sambil mendekat ke arah Rias.
"Rias... Aku akan bertanya sekali lagi, apa kau serius ingin ikut di hari penyerangan?" tanya Sairaorg dengan ekspresi serius, Rias yang mendengar itu menganggukkan kepalanya. "Ya, aku serius," jawab Rias dengan ekspresi serius juga.
Sairaorg yang mendengar serta melihat ekspresi serius Rias terdiam sesaat, "Apa kau yakin? Apa kau tidak takut melawan mereka? Ini bukanlah permainan Rias, kita akan berperang melawan para Zombie, dan pasti akan ada yang mati, dan kemungkinan saja teman-temanmu atau dirimu akan menjadi korban... Apa kau sudah siap untuk mati serta melihat kematian di depan matamu kembali?" tanya Sairaorg kembali.
Rias yang mendengar itu terdiam beberapa saat lalu ia memejamkan matanya, bayangan kematian orang-orang yang telah di gigit Zombie serta kematian Issei terlintas di kepalanya.
Ia mengepalkan tangannya dengan kuat sambil menahan emosinya, dirinya masih cukup terpuruk atas kematian Issei. Namun dirinya akan semakin terpuruk jika melihat teman-temannya yang berjuang melawan Zombie mati sementara dirinya berdiam diri di sini, dirinya tidak ingin itu terjadi.
"Ya... Aku yakin," jawab Rias membuka matanya dan memperlihatkan ekspresi yang kukuh akan jawabannya. Sairaorg yang melihat itu terdiam beberapa saat lalu menghembuskan nafasnya, "Mattaku...," gumam Sairaorg lalu menyentuh kepala Rias dengan lembut.
"Kalau begitu, bersiaplah besok... Perlihatkan kemampuan menembakmu padaku, jika kau memiliki kekurangan, aku akan membantumu," ucap Sairaorg membuat semua yang di sana terkejut.
"Itu artinya...," gumam Rias dan di balas anggukkan oleh Sairaorg, melihat itu Rias pun langsung memeluknya cukup erat. "Arigato, Sairaorgjii-san," ucap Rias berterima kasih karena mendapat persetujuan dari Sairaorg.
"Tunggu! Sairaorg! Kenapa kau..."
"Tidak perlu khawatir, Zeojii-san, Venebaa-san," balas Sairaorg sambil membalikkan badannya ke arah mereka, "aku akan menjaga Rias agar tetap aman bersama yang lainnya, dan melatihnya."
"Tapi..."
"Tou-san," panggil Rias membuat Zeoticus menatap Rias yang menatapnya dengan serius, "aku mohon... Izinkan aku ikut."
Zeoticus yang melihat itu terdiam, jika dia memaksa putrinya untuk tidak ikut pasti dia tetap bersih keras untuk ikut, menarik nafasnya dalam-dalam ia pun bertanya sekali lagi pada Rias.
"Kau yakin?"
Rias yang mendengar itu menganggukkan kepalanya, melihat itu Zeoticus menghembuskan nafasnya, "Jika aku tetap memaksamu untuk tidak ikut, kau pasti akan tetap ikut bukan?" gumam Zeoticus, "baiklah... Berjanjilah kau akan kembali dengan selamat... Jika terjadi sesuatu padamu, aku akan membuat anak Minato merasakan akibatnya."
"Kau tidak perlu melibatkannya Tou-san, ini murni keputusan dariku," balas Rias lalu menerima pelukan erat dari sang ibunya, Sirzech yang melihat ayahnya telah memberikan persetujuan terdiam sambil mengepalkan tangannya, dirinya ingin sekali meninju pemuda bernama Naruto itu.
Namun mengingat Sairaorg berkata mampu mengalahkan pasukan 11 pasukan JSDF Elite sendirian membuat nyali Sirzech menciut.
"Cih... Kuso!"
.
.
Arthuria Room
.
.
Beralih ke ruangan lain, terdapat sosok Arthuria yang menghadap kepada orang tuanya dengan ekspresi serius, seorang pemuda rambut kuning dengan kaca mata melekat di wajahnya menatap terkejut Arthuria begitu juga dengan perempuan rambut kuning sepunggung di samping sang pemuda.
"Aku menolak!" ucap seorang pria rambut kuning dengan tegas yang tak lain adalah ayah Arthuria, "Aku tidak akan mengizinkanmu untuk ikut, Arthuria!" lanjutnya.
"Begitu juga dengan Kaa-san...," timpal seorang wanita rambut kuning panjang yang merupakan ibu Arthuria, ia berdiri dari kursinya dan berjalan mendekati Arthuria, "Kaa-san tidak akan mengizinkanmu untuk ikut melakukan penyerangan, tetaplah disini bersama kami," lanjut sang ibu sambil menyentuh bahu Arthuria
"Aku sudah menduga bahwa Tou-sama dan Kaa-sama akan menolak keputusanku, tapi aku tidak peduli," balas Arthuria dengan ekspresi tidak peduli sambil melepaskan tangan ibunya yang memegang bahunya, "tapi aku akan tetap pergi."
"Oi! Oi! Nee-sama! Apa kau bercanda?!" tanya sang pemuda memastikan bahwa kakaknya ini tidak bercanda. Arthuria yang mendengar itu menggelengkan kepalanya dengan pelan, "Tidak... Aku serius dengan pilihanku, Arthur," jawab Arthuria tanpa menghilangkan ekspresi seriusnya.
"Tapi kenapa?" tanya Perempuan rambut kuning sebahu dengan ekspresi sedih. "Karena aku ingin membalas perbuatan Naruto-kun, Le Fay-chan... Karena dia aku bisa selamat dari bencana ini, jika bukan karena dia... Aku mungkin sudah menjadi bagian dari mereka," jawab Arthuria sambil mengingat dimana ia tidak percaya dengan apa yang di katakan Naruto bahwa ada bencana Zombie, tapi ia langsung saja menariknya dan menyelamatkannya.
Bukan Cuma itu, ia juga menyelamatkannya karena waktu itu sempat terpaku ketika melihat zombie anak-anak, "Bukan Cuma sekali, dia sudah menyelamatkanku sebanyak dua kali... Jadi, aku ingin membalas perbuatannya itu dengan membantunya melawan para Zombie," lanjut Arthuria.
"Itu terlalu berlebihan Nee-sama! Kau mempertaruhkan nyawamu untuk orang sepertinya..."
"Dia juga mempertaruhkan nyawanya untukku!" potong Arthuria. "Jika seperti maka biarkan saja! Yang penting adalah kau itu selamat?!" balas Arthur membuat Arthuria langsung mendelik ke arah Arthur dengan tatapan kesal.
"Tarik ucapanmu, Arthur... Atau aku buat kau menyesal," ancam Arthuria membuat Arthur menegang dan sedikit mengeluarkan keringat dingin, "Aku tidak akan diam saja pada orang yang mengatakan untuk Naruto-kun mati, jadi jangan pernah macam-macam Arthur."
Arthur yang mendengar itu mengepalkan tangannya, ia menatap kakaknya dengan ekspresi kesal. "Apakah dia lebih penting dari kami?! Keluargamu sendiri?! Apa kau tidak senang bisa berkumpul bersama lagi dengan Tou-sama, Kaa-sama, Aku dan Le Fay-chan?!" balas Arthur sedikit berteriak.
Mendengar perkataan Arthur membuat Arthuria terdiam sesaat lalu memejamkan matanya sambil menghembuskan nafasnya, "Aku senang bisa berkumpul bersama kalian lagi, aku juga senang melihat kalian selamat dari bencana ini, semua itu berkat Naruto-kun," jawab Arthuria lalu membuka matanya perlahan.
"Tapi... aku tidak bisa diam saja melihat Naruto-kun pergi melawan bencana ini, ia telah banyak berkorban untukku, ia juga telah menyemangatiku untuk percaya bahwa kalian masih hidup, dan ia juga yang telah mengajariku untuk melawan bencana ini, maka dari itu...," lanjut Arthuria sambil menyentuh dadanya, "aku ingin membalas perbuatannya dengan membantunya melawan bencana ini."
Sang ayah yang mendengar itu menyipitkan matanya kepada Arthuria, "Memangnya... Seberapa penting dia bagimu?" tanya sang ayah membuat Arthuria tersenyum. "Naruto-kun sangatlah berarti untukku, dia adalah pahlawanku, dia adalah pelindungku... Dan dia... Adalah cinta pertamaku," jawab Arthuria dengan serius.
"Maka dari itu, aku ingin berada di sampingnya, membantunya agar bisa menyelesaikan bencana ini bersama."
"Jikalau Naruto mati di hadapanmu... Apa kau bisa menerima itu?" tanya Sang Ayah membuat Arthuria semakin tersenyum. "Itu tidak akan terjadi... Karena Naruto-kun itu sangatlah kuat," balas Arthuria membuat sang ayah terdiam.
Ia pun memejamkan matanya beberapa saat sambil mengambil nafas dalam-dalam lalu menghembuskan nafasnya, "Jadi... Kau akan tetap bulat dengan keputusanmu?" tanya sang ayah dan di balas anggukan oleh Arthuria.
"Sejujurnya aku masih tetap dengan keputusanku dengan tidak mengizinkanmu ikut...," lanjut sang ayah, "tapi... Setelah mendengar semua itu, maka aku akan mengizinkanmu untuk ikut."
Semua kecuali Arthuria yang mendengar keputusan Suami serta ayah mereka terkejut karena mengizinkan Arthuria untuk ikut berperang. tidak terima dengan keputusan itu, Arthur mencoba melayangkan protesnya, "Tapi, Tou-sama!"
"Diam, Arthur!" bentak Sang Ayah membuat Arthur tidak berani berbicara. "Anata... Kenapa kau...," gumam Sang Ibu Arthuria tidak percaya bahwa suaminya mengubah keputusannya.
"Tidak ada gunanya kita menahannya, Tsuma. Apa pun yang kita lakukan untuk menghentikannya, dia pasti akan bersih keras untuk pergi, jika terjadi sesuatu padanya dia pasti akan membenci kita semua," balas sang ayah sambil berdiri dari kursinya, "maka dari itu kau lakukanlah sesuka hatimu, Arthuria... Jangan menyesal dengan keputusanmu," lanjut sang ayah lalu meninggalkan ruangan itu.
Sang istri yang mendengar itu terdiam, lalu Arthuria mendekati ibunya dan memeluknya dengan erat, "Gomen... Kaa-sama...," gumam Arthuria meminta maaf, dirinya tahu pasti ibunya saat ini sedih karena keputusan ayahnya serta sedih dan takut kehilangan dirinya, "jangan khawatir... Aku akan baik-baik Saja, aku janji."
Sang ibu yang mendengar itu tidak membalas perkataan Arthuria, melainkan ia hanya membalas pelukan Arthuria. Le Fay yang melihat itu mendekati mereka dan ikut memeluk Arthuria, sementara Arthur masih di tempatnya sambil menundukkan kepalanya dengan ekspresi kesal.
.
.
Sona Room
.
.
Beralih kembali ke ruangan yang berbeda yaitu kamar Sona, ia saat ini tengah berdiri menghadap anggota keluarganya dan menjelaskan bahwa ia akan ikut serta dalam hari penyerangan sembilan hari mendatang.
"Apaaaa?!" teriak seorang perempuan setinggi Sona dengann rambut hitam twintails dengan ekspresi terkejut. "Apa kau tahu apa yang kau ucapkan dan apa yang kau pilih Sona?!" tanya seorang pria yang tak lain adalah ayah Sona sambil memandang anaknya dengan ekspresi tidak percaya
"Ya, tentu saja aku tahu, Tou-sama," balas Sona dengan ekspresi serius. "Tidak! Aku tidak akan mengizinkanmu untuk ikut melakukan penyerangan itu!" balas seorang wanita rambut hitam panjang sampai sepunggung dengan tegas.
"Itu benar! Tetaplah di sini bersama kami Sona-tan!" timpal Perempuan rambut Hitam twintails sambil memeluk erat Sona. "Gomen, Serafall-nee... Tapi aku tidak bisa," jawab Sona sambil melepaskan pelukan perempuan yang tak lain adalah kakaknya dengan lembut.
"Kenapa?! Kenapa kau tidak bisa tinggal di sini bersama kami?! Kau di sini aman dari bahaya di luar sana?! Apa kau ingin membuat kami khawatir lagi seperti saat dirimu terjebak di Tokyo?! Apa kau ingin mati dan membuat kami sedih?!" tanya Serafall dengan nada tegas serta khawatir di saat bersamaan.
Sona yang mendengar itu terdiam sesaat, "Memang benar... Jika aku diam di sini aku akan aman dari bahaya di luar sana, tapi selama aku terjebak di Tokyo aku sudah berlatih serta melawan mereka untuk tetap hidup," jawab Sona sambil mengingat hari-hari dirinya bersama teman-temannya bertahan dari ribuan Zombie.
"Aku juga tidak berniat bunuh diri di luar sana, aku beserta teman-temanku akan membantu menyelesaikan bencana ini," ucap Sona dengan serius, "selain itu, aku sudah mendapat izin dari Tenno-sama untuk ikut melakukan penyerangan bersama Pasukan JSDF."
Ayah serta Ibu Sona dan Serafall yang mendengar itu melebarkan mata mereka mendengar bahwa Sona mendapat Izin ikut melakukan penyerangan bersama Pasukan JSDF.
"Bagaimana bisa?!" tanya Serafall tidak percaya. "Karena kita kekurangan pasukan, maka mau tidak mau Tenno-sama menambah pasukannya, dan karena aku serta teman-temanku merupakan orang-orang yang berhasil bertahan di Tokyo maka kami juga di tunjuk untuk ikut membantu," jawab Sona memberitahu dengan alasan yang di buat-buat.
Ia tidak bisa mengatakan bahwa dirinyalah yang ikut secara sukarelawan dan membuat Naruto mendapatkan izin dari Kaisar. Jika dia mengungkit nama Naruto, bisa saja dia menjadi korban akan kemarahan keluarganya, dan ia tak ingin itu terjadi karena dasarnya ini memanglah pilihannya dan Naruto tidak terlibat dengan pilihannya.
Serafall yang mendengar itu menggelengkan kepalanya, "Tidak bisa di terima! Aku akan meminta Tenno-sama untuk..."
"Hentikan, Nee-chan!" ucap Sona menahan Serafall, "keputusan Tenno-sama sudah bulat, kau tidak bisa mengganggunya!"
"Tapi... Ini untuk kebaikanmu! Aku tidak ingin kehilangan adik tercintaku!" balas Serafall setengah berteriak, Sona yang mendengar itu terdiam beberapa saat hingga ia lalu tersenyum dan memeluk kakaknya dengan erat. "Gomen, Nee-chan... Tapi kau tidak perlu khawatir, aku akan baik-baik saja... Aku berjanji kita akan berkumpul bersama setelah bencana ini berakhir," ucap Sona sambil mengelus punggung kakaknya dengan lembut.
Serafall yang mendengar itu tidak mendapat menahan tangisannya, ia pun membalas pelukan Sona dan menangis di bahu adik tercintanya. Hatinya sangat risau, takut serta sedih jika terjadi sesuatu yang buruk terhadap adiknya, namun ia tidak bisa berbuat banyak jika keputusan sudah ada di tangan Tenno-sama, ia hanya berharap bahwa Sona baik-baik saja.
.
.
Selasa, 04 Agustus 2056
Garage
08.00 AM
.
Hari pun berganti, pagi telah tiba, Naruto yang telah bangun dari tidurnya teringat dengan kendaraannya, setelah bertanya-tanya di mana tempat penyimpanan kendaraannya ia pun mendapatkan lokasinya dan pergi ke sana.
Setelah cukup lama mencari, akhirnya Naruto menemukan mobilnya di antara mobil-mobil Rover yang di periksa beberapa tentara. Naruto pun mencoba melihat isi mobilnya dan tidak ada perubahan sama sekali, Kuncinya juga masih menggantung di mobilnya, Ia pun langsung memasuki mobilnya dan langsung menyalakannya.
Begitu mobilnya ia nyalakan, suara menggelegar mesin Naruto pun terdengar memenuhi Garasi membuat para tentara yang di sana terkejut. Lalu Naruto pun langsung menginjak gas mobilnya hingga membuat suara mesin Naruto terdengar semakin keras dan cukup mengerikan.
Saat Naruto memanaskan kendaraannya, ia tak sengaja melihat Spion dalam mobilnya, dan ia teringat kembali dengan kejadian waktu itu. Mengingat itu, Naruto terdiam beberapa saat lalu menyandarkan dirinya di kursi sambil mengusap wajahnya, setelah menenangkan dirinya Naruto pun keluar dari kendaraannya dan membuka Kap depan mobilnya untuk melihat mesin mobilnya apakah baik-baik saja atau tidak.
Setelah di cek, ia harus melakukan beberapa perbaikan seperti mengganti oli mesinnya karena waktu itu ia memaksa mesinnya karena menyelamatkan Issei serta mengganti air radiatornya.
"Kau punya mobil yang sangat bagus, Naruto-san." Naruto yang mendengar itu menoleh dan ia melihat Azazel berdiri tak jauh di belakangnya, "Yo! Gaki!" sapa Azazel sambil tersenyum akrab.
"Ohayo Gonzaimasu, Azazel-san," sapa Naruto sambil menutup kap mobilnya lalu membalikkan badannya menghadap Azazel, "sedang apa anda di sini?".
"Hm sebetulnya tadi aku ingin menemuimu lalu kebetulan tadi aku melihatmu di jalan, jadi aku mengikutimu hingga kemari, sesampainya di sini aku melihat kau memanaskan monstermu itu, dan waw suaranya benar-benar mengerikan sekali" jawab Azazel sambil mengelus dagunya, "apakah kau memodifikasi mesin mobilmu?"
"Cuma beberapa saja, dan ya butuh waktu cukup lama hingga membuatnya menjadi mesin bertenaga 8000 kuda," jawab Naruto sambil mengelus belakang kepalanya, Azazel yang mendengar itu sedikit terkejut lalu menatap mobil Naruto sambil tersenyum.
"Pantas saja kau bisa membongkar brangkas senjataku," gumam Azazel, Naruto yang mendengar itu jadi teringat sesuatu, saat dirinya akan berbicara Azazel menghentikannya.
"Aku tahu apa yang ingin kau katakan," ucap Azazel sambil tersenyum kepada Naruto, "maka dari itulah aku ingin menemuimu."
Naruto yang paham ucapan Azazel tersenyum lalu membungkukkan badannya, "Arigato Gonzaimasu, Azazel-san," ucap Naruto berterima kasih, Azazel yang mendengar itu hanya menepuk pundak Naruto.
"Maa-Maa, bukan masalah, lagi pula kalian sudah menggunakannya dengan baik, sebagai hadiah aku memberikan mereka kepada kalian," balas Azazel lalu membuat Naruto menegakkan tubuhnya kembali, "ayo, selagi ke sana mari kita berbincang," ajak Azazel berjalan bersama Naruto sambil berbincang mengenai kisah Naruto serta bagaimana bisa ia begitu kuat hingga mengalahkan sebelas pasukan elite JSDF seorang diri.
.
.
Traning Area
.
Beralih ke area latihan, terlihat beberapa tentara yang melakukan latihan berkumpul sambil berbisik-bisik karena tak jauh dari mereka terdapat Sasuke, Shikamaru dan yang lainnya telah berkumpul bersama.
Melihat semua berkumpul Shikamaru bisa menyimpulkan semua mendapat persetujuan dari keluarga mereka, "Jadi kalian mendapat persetujuan?" tanya Shikamaru sekedar basa-basi sambil menunggu Naruto.
"Um," jawab Xenovia sambil menganggukkan kepalanya. "Tentu saja!" balas Irina sambil memberikan tanda dua jari, Sona juga membalasnya dengan menganggukkan kepalanya begitu juga Tsubaki.
"U-Um," balas Hinata dengan nada lemah sambil menundukkan kepalanya. "Naruto ada di mana sih," gumam Sasuke menggerutu menunggu kedatangan Naruto.
"Ah, itu dia!" seru Chouji sambil menunjuk lokasi Naruto berada, semua pun menoleh ke arah tunjuk Chouji dan mereka bisa melihat Naruto berjalan bersama Azazel dengan dua orang membawa sebuah kereta berisi senjata yang mereka gunakan dulu.
"Ohayo Minna," sapa Naruto ketika sudah sampai di hadapan teman-temannya. "Yo! Ohayo Minna-san!" ujar Azazel ikut menyapa mereka.
"Ohayo Gonzaimasu, Azazel-san," balas semua sambil membungkukkan badan mereka sesaat. "Jaa, kita berpisah di sini Naruto sampai jumpa lagi," ucap Azazel sambil menepuk pundak Naruto.
"Um," jawab Naruto, mendengar itu Azazel pun pergi di ikuti dua orang yang mendorong kereta senjata di belakangnya. "Kau dari mana saja?" tanya Sasuke sambil menyikut pelan dada Naruto
"Aku pergi mengecek kendaraanku di garasi," balas Naruto sambil mengelus dadanya yang terkena siku Sasuke. "Lalu bagaimana bisa Azazel bertemu denganmu?" tanya Sasuke membuat Naruto menghela nafasnya.
"Tentu saja karena ini," jawab Naruto sambil menunjuk kumpulan senjata mereka di belakang, "Azazel-san memberikannya kepada kita," jawab Naruto mendekati dua rak berisikan senjata mereka lalu memberikannya kepada pemegang senjata sebelumnya.
"Ha'i, ini senjata kalian Hinata-chan, Arthuria-senpai," ucap Naruto sambil menyerahkan dua senjata di tangannya kepada Arthuria dan Hinata. Arthuria pun menerima senjata dari tangan Naruto, sementara Hinata tampak terdiam sesaat lalu menerima senjatanya dari tangan Naruto.
"Arigato, Naru..." perkataan Arthuria seketika terhenti ketika ia melihat seseorang tiba-tiba datang dan memukul pipi Naruto dengan keras hingga membuatnya terdorong beberapa langkah.
"Naruto-kun!/Naru-kun!/Naruto!" kejut semuanya kecuali Hinata yang menatap terkejut siapa yang memukul Naruto. "Neji-nii-san!" kejut Hinata karena yang memukul Naruto adalah kakaknya.
"Teme! Berani-beraninya kau!" geram orang bernama Neji itu, Naruto yang menerima pukulan Neji hanya diam dengan wajah datarnya sambil mengelus pipinya yang terkena pukulannya.
Arthuria yang terkejut dengan tindakan kakak Hinata, semakin terkejut ketika melihat Arthur dari sisi lain memberikan pukulan pada pipi Naruto yang lainnya hingga membuatnya sedikit terjungkal, namun Naruto berusaha menjaga posisinya agar tidak terjatuh, tak sampai di sana Arthur kembali melayangkan sebuah tendangan pada dada Naruto hingga membuatnya mundur beberapa langkah lalu jatuh berlutut sambil menyentuh dadanya yang terasa sakit karena tidak siap membuat pertahanan.
"Arthur?!" teriak Arthuria
"Kau... Jangan pernah melibatkan Nee-sama ke rencana Gilamu itu?!" teriak Arthur berniat menyerang Naruto kembali begitu juga dengan Neji, namun dengan cepat Xenovia muncul di depan Naruto sambil menyiapkan pedang besarnya untuk di jadikan tameng.
Arthur yang terkejut dengan kemunculan Xenovia berhenti dan seketika ia harus menerima sebuah pukulan kuat dari Sakura hingga membuat sedikit sempoyongan.
Sementara Neji yang berniat menyerang Naruto, langsung di tahan oleh Sasuke dengan berusaha menyerangnya, namun setiap serangannya berhasil di tahan oleh Neji.
"Jangan menghalangiku sialan?!" teriak Neji dengan nada kesal sambil berniat memberikan serangan cepat kepada Sasuke. Namun serangan Neji langsung di patahkan dengan Akeno yang memukul tangan Neji dengan pedangnya yang masih di selimuti gagang, lalu Irina ikut memberikan serangan tambahan dengan memukul dada Neji dengan pedangnya yang juga terselimuti gagang hingga membuatnya mundur beberapa langkah.
"Naru-kun! Kau tidak apa?!" tanya Kuroka dengan nada panik sambil membantu Naruto yang berlutut bersama Irina dan Sona. Sementara Hinata, Tsubaki, Ino, dan Arthuria berdiri di hadapan Naruto berusaha melindunginya dari mereka.
Para tentara yang melihat itu berbisik-bisik, salah satu dari mereka tidak ada yang berniat menghentikan mereka.
"Arthur... Apa yang kau lakukan?!" tanya Arthuria dengan ekspresi kesal terhadap adiknya. "Apa yang aku lakukan? Aku memberi pelajaran kepada orang itu agar tidak melibatkan orang lain ke dalam rencana gilanya?!" balas Arthur dengan nada kesal sambil menunjuk Naruto yang masih berlutut sambil menyentuh dadanya.
"Bukankah aku sudah bilang, ini adalah pilihanku sendiri! Tidak ada hubungannya dengan Naruto-kun!" balas Arthuria mempertegas kembali ucapan kemarin. "Nii-san! Hentikan! Jangan sakiti Naruto-kun?!" pinta Hinata sambil merentangkan tangannya.
"Kalian menyingkirlah! Begitu juga kau Hinata! Menjauh darinya! Biar aku beri dia pelajaran!"ucap Neji dengan ekspresi marah. Sasuke yang mendengar itu memasang kuda-kuda bertarung, "aku tidak tahu apa masalahmu dengannya, tapi jika kau mau menghajarnya, hadapi aku!" balas Sasuke melindungi Naruto agar tidak di hajar oleh Neji.
"Dia harus di beri pelajaran, karena mengajak Hinata pergi ke arah kematian di luar sana! Apa dia sudah gila karena kematian temannya dia berniat mengajak yang lainnya yaitu kalian untuk ikut mati agar bisa menyusul temannya!"
"Dia tidak seperti itu!" balas Hinata dengan tegas. "Dia pasti akan melakukan itu! Pasti... Dia akan mengajak kalian ke arah kematian dan membuat keluarga kalian menangis!" balas Neji tak kalah sengit.
Naruto yang sejak tadi berlutut pun perlahan mulai berdiri, "Aku... Tidak pernah berniat mengajak teman-temanku untuk mati," ucap Naruto dengan nada datar, "mereka sendirilah yang memilih untuk ikut bersamaku tanpa aku minta sekalipun... dan aku sangat menghargai pilihan mereka."
"Semua orang punya hak untuk memilih, dan tak ada yang boleh mengatur atau memaksa pilihan orang walau mereka itu keluarga, teman atau siapa pun," lanjut Naruto sambil mengusap kasar sudut bibirnya yang terdapat sedikit darah lalu menatap tajam Neji dan Arthur.
"Jika kalian menolak pilihan Adik atau kakak kalian, itu artinya kalian punya mental yang lemah, benar bukan?" tanya Naruto sambil menyeringai, Neji serta Arthur yang mendengar itu mengepalkan tangan mereka, "kalian pasti sudah pernah kehilangan orang tercinta kalian bukan? Rasa takut serta penyesalan tidak bisa berbuat apa-apa selalu hinggap di hati kalian," lanjut Naruto.
"Itulah yang membuat mental kalian sangat lemah! Berbeda dengan kalian, mereka telah kehilangan orang tercinta mereka namun mereka masih bisa bangkit dan melawan, tapi kalian? Kalian hanyalah seorang pengecut yang tidak bisa berbuat apa-apa," ucap Naruto sambil menunjuk Neji dengan seringai mengejek.
Neji yang tidak terima dengan perkataan Naruto benar-benar semakin marah, begitu juga dengan Arthur, semua teman-teman Naruto yang mendengar pertama kalinya Naruto berkata Sakras terdiam, melihat mereka berdua terpancing Naruto pun melirik teman-temannya, "Kalian semua menjauhlah, biar aku hadapi mereka berdua," ucap Naruto membuat Semua teman-teman Naruto terkejut.
"Oi! Naruto, kau yakin?" tanya Sasuke sambil melirik Naruto. "Ya, aku serius. Aku ingin memperbaiki mental mereka yang lemah itu," lanjut Naruto sambil mengepalkan tangannya dengan kuat.
"Selain itu, aku tidak terima dengan pukulan tiba-tiba tadi," lanjut Naruto sambil menyeringai dengan tatapan tajam, semua yang melihat itu sweatdrop sesaat.
"Naruto-kun..."
"Jangan khawatir, aku tidak akan sampai membunuh mereka," potong Naruto sambil tersenyum kepada Hinata, namun seketika dia mendapat Bogeman dari Sakura di kepala.
"Jangan berkata seperti kau memang berniat membunuh mereka, Baka!" bentak Sakura, Naruto yang mendengar itu tertawa pelan sambil mengelus kepalanya yang di pukul oleh Sakura.
"Saa...," gumam Naruto sambil melangkah maju lalu mengadu tinjunya, "ayo maju."
.
.
.
.
TBC
.
Note : YOOO! KONBANWA MINNA-SAN!
Uwahahaha! Bagaimana kabar kalian? Semoga kalian sehat semua ya, keadaan saya? Tentu saja sehat selalu.
Soo... Bagaimana menurut kalian cerita kali ini? Apakah cukup membosankan? Maa, sumanai, saya memang sengaja menggantung cerita kali ini karena saya sudah mempersiapkan alurnya, kalian jangan risau, di kedepannya akan lebih seru, maka dari itu bersabarlah.
Saa mari kita bahas chapter kali ini, di chapter ini saya hanya membuat lebih banyak ke percakapan dari pada aksi, kenapa? Yap setelah saya memikirkannya awalnya saya ingin langsung ke Action tapi jika di pikirkan lagi saya akhirnya menggantinya dengan adegan meminta izin terhadap pihak keluarga.
Ya, karena pasti apa pun itu kita izin ke keluarga dulu, apa lagi ini adalah sesuatu yang cukup berbahaya, kalau tidak minta izin dan langsung main gas saja ikut, itu... Wah banget sih.
Saya hanya membuat sedikit adegan meminta persetujuan orang tua, untuk Irina, Xenovia, Sakura serta Hinata saya tidak membuatnya karena unsur kesengajaan. Tentu saja alasannya seperti sekarang di mana secara tiba-tiba Neji memukul Naruto.
Maa untuk saat ini itu saja sih pembahasan Chapter kali ini, btw saya minta maaf kepada kalian karena harus menunggu lama untuk update cerita saya. Akhir-akhir ini mood saya turun jadi entah kenapa mau nulis itu berat banget, jadi mohon maaf. Tapi saya tetap usahakan yang terbaik untuk tetap update, saya berterima kasih kepada kalian semua yang masih setia mendukung serta menunggu saya.
Jaa, sampai di sini saja, sampai bertemu di cerita berikutnya yaitu Naruto : The Magical Battle, Matta Ao!
FCI. 4kagiSetsu Out
