Naruto yang sejak tadi berlutut pun perlahan mulai berdiri, "Aku... Tidak pernah berniat mengajak teman-temanku untuk mati," ucap Naruto dengan nada datar, "mereka sendirilah yang memilih untuk ikut bersamaku tanpa aku minta sekalipun... dan aku sangat menghargai pilihan mereka."

"Semua orang punya hak untuk memilih, dan tak ada yang boleh mengatur atau memaksa pilihan orang walau mereka itu keluarga, teman atau siapa pun," lanjut Naruto sambil mengusap kasar sudut bibirnya yang terdapat sedikit darah lalu menatap tajam Neji dan Arthur.

"Jika kalian menolak pilihan Adik atau kakak kalian, itu artinya kalian punya mental yang lemah, benar bukan?" tanya Naruto sambil menyeringai, Neji serta Arthur yang mendengar itu mengepalkan tangan mereka, "kalian pasti sudah pernah kehilangan orang tercinta kalian bukan? Rasa takut serta penyesalan tidak bisa berbuat apa-apa selalu hinggap di hati kalian," lanjut Naruto.

"Itulah yang membuat mental kalian sangat lemah! Berbeda dengan kalian, mereka telah kehilangan orang tercinta mereka namun mereka masih bisa bangkit dan melawan, tapi kalian? Kalian hanyalah seorang pengecut yang tidak bisa berbuat apa-apa," ucap Naruto sambil menunjuk Neji dengan seringai mengejek.

Neji yang tidak terima dengan perkataan Naruto benar-benar semakin marah, begitu juga dengan Arthur, semua teman-teman Naruto yang mendengar pertama kalinya Naruto berkata Sakras terdiam, melihat mereka berdua terpancing Naruto pun melirik teman-temannya, "Kalian semua menjauhlah, biar aku hadapi mereka berdua," ucap Naruto membuat Semua teman-teman Naruto terkejut.

"Oi! Naruto, kau yakin?" tanya Sasuke sambil melirik Naruto. "Ya, aku serius. Aku ingin memperbaiki mental mereka yang lemah itu," lanjut Naruto sambil mengepalkan tangannya dengan kuat.

"Selain itu, aku tidak terima dengan pukulan tiba-tiba tadi," lanjut Naruto sambil menyeringai dengan tatapan tajam, semua yang melihat itu sweatdrop sesaat.

"Naruto-kun..."

"Jangan khawatir, aku tidak akan sampai membunuh mereka," potong Naruto sambil tersenyum kepada Hinata, namun seketika dia mendapat Bogeman dari Sakura di kepala.

"Jangan berkata seperti kau memang berniat membunuh mereka, Baka!" bentak Sakura, Naruto yang mendengar itu tertawa pelan sambil mengelus kepalanya yang di pukul oleh Sakura.

"Saa...," gumam Naruto sambil melangkah maju lalu mengadu tinjunya, "ayo maju."

.

.

Chapter saat ini :

.

Neji serta Arthur yang mendengar itu langsung berlari ke arah Naruto, sementara Naruto yang melihat mereka lari ke arahnya menyeringai lalu ikut melesat ke arah mereka.

"Naruto! Ingat jangan sampai berlebihan?!" peringat Shikamaru, Naruto yang mendengar itu hanya diam namun ia tahu maksud ucapan tersebut.

Arthur yang melihat Naruto telah di dekatnya langsung melompat dan melayangkan sebuah tendangan lurus. Melihat itu dengan tenang Naruto menghindari serangan tersebut lalu menyelipkan tangannya di antara kaki Arthur dan langsung meninju perutnya dengan keras hingga membuat Arthur terbatuk.

Setelah memukul Arthur, Naruto memundurkan tubuhnya menghindari pukulan Neji yang muncul dari samping dan terus melakukan menghindar pada serangan Neji yang berupa serangan karate.

Dengan lihai Naruto terus menghindari serangan Neji yang di layangkan secara beruntun, Neji yang melihat Naruto hanya menghindar terus menggeram kesal. "AYO LAWAN AKU! APA KAU HANYA BISA MENGHINDAR?!" teriak Neji penuh amarah.

"Ho? Kau mau aku menyerang? Baiklah," ucap Naruto menghentikan gerakan menghindarinya lalu menangkap tinju Neji dengan tangan kirinya. "Kau yang meminta jadi...," jeda Naruto lalu melepaskan tangan Neji dan langsung memberikan serangan cepat pada perut Neji hingga membuatnya melotot terkejut dengan gerakan cepat Naruto.

Buagh! Duak! Buagh! Duak!

Tanpa memberi kesempatan, setelah memberi serangan pada perut Neji, Naruto langsung memberikan upercut pada dagu Neji, lalu meninju dada, bahu serta Neji berkali-kali hingga ia memberikan serangan terakhir dengan menendang kaki kiri Neji hingga membuat kuda-kudanya terbuka, lalu Naruto menarik kaki kanan Neji dengan kakinya hingga membuatnya kehilangan keseimbangan.

Setelah itu Naruto langsung menggenggam kepala Neji lalu mendorongnya dengan keras ke lantai besi hingga berbenturan cukup keras.

"JANGAN ACUHKAN AKU?!" Naruto yang mendengar teriakan Arthur dari samping dengan cepat Menyilangkan tangannya karena ia melihat Arthur melayangkan sebuah tendangan kembali ke arahnya.

Duak!

Tendangan Arthur berhasil di tahan namun hal itu membuat Naruto mundur beberapa langkah. Mengambil kesempatan tersebut, Arthur berlari ke arah Naruto dan melakukan serangan kembali dengan melayangkan tinjunya berharap bisa mematahkan pertahanan Naruto.

"Bodoh!" gumam Sasuke ketika melihat tindakan Arthur. Naruto yang masih Menyilangkan tangannya langsung membuka pertahanannya dan kembali menangkap tinju Arthur dengan tangan kirinya lalu mengayunkannya ke samping membuat pertahanan Arthur terbuka lebar.

Setelah mengayunkan tangannya, Naruto langsung meninju dada Kanan Arthur dengan tangan kirinya menggunakan jari telunjuk serta jari tengahnya ia tekuk paling depan hingga membuat Arthur melebarkan matanya karena merasakan sakit yang luar biasa di dada kanannya.

"Ini untuk yang tadi," ucap Naruto menyeringai, sebelum Arthur melangkah mundur karena rasa sakit di dadanya, Naruto langsung menangkap baju Arthur lalu menariknya dan memberikan pukulan kembali pada dada Arthur dengan telapak tangan terbuka.

"Masih belum!" ucap Naruto dan terus melakukan serangan yang sama berkali-kali pada Arthur dengan gerakan cepat hingga membuat Arthur terbatuk mengeluarkan sedikit darah.

"Gh! Kuso! Serangannya cepat sekali!" batin Arthur berusaha membuat pertahanan namun setiap serangan Naruto berhasil menembus pertahanannya.

Duak!

Setelah puluhan serangan, terjadi jarak yang sedikit jauh di antara mereka membuat Arthur langsung menggunakan kesempatan tersebut dengan melayangkan serangan kepada Naruto karena dirinya menebak Naruto akan melangkah maju ke arahnya jadi dia menggunakan kesempatan itu.

Namun alangkah terkejutnya ketika Naruto tiba-tiba memiringkan tubuhnya ke kiri dan dari belakang Naruto terdapat sebuah tendangan yang di layangkan oleh Neji.

Alhasil serangannya serta serangan Neji saling berbenturan membuat mereka berdua sama-sama kesakitan, Naruto yang melihat itu menyeringai senang lalu melakukan tendangan ke belakang hingga mengenai dada Neji lalu menangkap tangan Arthur yang awalnya di layangkan ke arahnya, selanjutnya ia menarik tangan Arthur ke arahnya dan langsung melakukan tinju cepat pada dada kiri Arthur hingga membuatnya kembali terbatuk mengeluarkan darah.

Arthur pun mundur beberapa langkah sambil berlutut menyentuh dada kirinya yang kesakitan, sementara Neji ia menggerang sambil menyentuh dadanya yang terkena serangan Naruto.

Setelah melakukan serangan pada mereka berdua, Naruto lalu memasang posisi santai sambil melirik ke arah mereka berdua. Para tentara yang berkumpul melihat pertarungan mereka hanya bisa diam, mereka sudah tidak kaget lagi ketika Naruto bisa melawan mereka berdua mengingat bagaimana Naruto menghajar 11 pasukan Elite seorang diri.

Tapi tetap saja... Kemarin dia bertarung melawan Pasukan Elite dan sudah menerima beberapa serangan yang harusnya membuat anak muda sepertinya pasti kelelahan dan tidak begitu bisa menggerakkan tubuhnya secara brutal.

Namun Naruto masih kuat dan mampu bertarung. Dalam hati mereka berkata bahwa Naruto, seperti seekor monster.

Dua orang pria rambut cokelat panjang yang ada di kerumunan para tentara ikut melihat perkelahian mereka dan salah satu pria rambut cokelat tampak menggeram marah sementara lagi satu pria hanya diam dengan wajah tenang.

"Apa hanya ini kemampuan kalian berdua? Sangat di sayangkan sekali... Padahal kalian menyandang dua nama keluarga yang terkenal dan masing-masing keluarga memiliki bakat masing-masing," ucap Naruto memprovokasi mereka berdua, "namun hanya untuk melawan satu orang saja kalian sudah seperti ini?"

"Pantas saja kalian memiliki mental yang lemah dan mudah sekali kehilangan orang yang kalian sayangi," lanjut Naruto sambil menyeringai di sertai ekspresi layaknya seseorang kejam.

"Apakah dia harus melakukan itu hanya untuk memperbaiki mental mereka?" tanya Xenovia tidak habis pikir dengan tindakan Naruto yang sepertinya bukanlah tindakan yang benar. "Harusnya dia tidak berlebihan seperti itu... Tapi... Mungkin saja Naruto memiliki cara yang berbeda," timpal Sona sambil tetap menatap lekat punggung Naruto yang berdiri di antara Neji serta Arthur.

"Cough!" Arthur kembali terbatuk hingga mengeluarkan beberapa darah, lalu ia berusaha bangkit dan menatap marah Naruto, begitu juga Neji. "Kau... KAU AKAN MENYESAL MENGATAKAN ITU?!" teriak Arthur penuh murka.

Melihat kemurkaan Arthur, Naruto melirik ke arah Neji yang memasang kuda-kuda bertarung, "Ho... Sepertinya kalian sudah mulai serius?" gumam Naruto lalu tersenyum dan tertawa pelan hingga akhirnya ia tertawa dengan kerasnya.

"heh...heheheheHAHAHAHAHAHA!" tawa tersebut menggema di seluruh markas bahkan membuat semua yang mendengarnya sedikit merinding, beberapa detik setelah tertawa Naruto pun terdiam lalu memasang ekspresi datarnya.

"Maa... tidak perlu makan banyak waktu."

"KALIAN BERDUA KEMARILAH?!"

.

.

Disclaimer :

Naruto Masashi Kisimoto

High School DxD Ichiei Ishibumi

Summary : Dunia Modern, dimana Dunia sudah maju dengan teknologi canggih yang membantu peradaban manusia, namun karena saking canggihnya, para ilmuwan nekat membuat sesuatu yang berbahaya, namun saat melakukan tes terjadi kesalahan besar. Sesuatu yang berbahaya itu menyebar dengan cepat membuat panik orang-orang dan mereka harus melarikan diri untuk bertahan hidup, akankah peradaban manusia musnah sepenuhnya?

This Is The End the World?

Pair :

Naruto x ...

Sasuke x Sakura

Issei ( Dead )

Shikamaru x ...

Genre : Alternative Universe, Adventure, Fantasy, Friendship, Family, Horror, Tragedy, Mystery, Humor, Sci-Fi, Future.

Rate : M

Warning : Typo, OC, OOC, AU, Multichap, Alur berantakan dan Lain-lain, Smart!Naru, Smart!Shikamaru, Smart!Sasuke.

" Naruto " berbicara

" Naruto " batin

["Naruto."] bicara melalui walkie talkie

["Naruto."] balasan dari Walkie talkie.

.

Skillet – Back from the Dead

.

B-ba-b-b-b-ba-ba-back
B-ba-b-b-b-ba-ba-back

( Gambar memperlihatkan gambar beberapa huruf )

(Drum Sfx)

B-ba-b-b-b-ba-ba-back
B-ba-b-b-b-ba-ba-back

(Lalu muncul tulisan judul cerita This is The End the World?)

Cold and black inside this coffin

(Layar berubah di ganti dengan sosok Naruto yang tengah bersandar di luar mobilnya sambil melihat ke langit malam)

Cause you all try to keep me down

(Lalu Layar kembali di ganti dengan Shikamaru serta Issei yang tengah berkerja membuat sebuah alat dengan Sasuke yang mempersiapkan sebuah senjata tembak di samping mereka bersama Choiji.)

How it feels to be forgotten

(Layar berubah ke arah Shizuka serta Sakura dan Ino yang tengah mencoba membuat sebuah ramuan)
But you'll never forget me now

(Lalu layar berubah ke arah Akeno, Rias, Arthuria, Koneko, Kuroka, Sona, Tsubaki, Xenovia, Irina serta Hinata yang juga mempersiapkan senjata mereka masing-masing, lalu Arthuria menoleh ke arah lain)

Enemies clawing at my eyes, I

(Layar kembali berubah menjadi para Zombie dari berbagai jenis menyerang para Manusia)
Scratch and bleed, just to stay alive, yeah

(Gambar kembali berubah beberapa manusia yang mencoba melawan walau akhirnya mereka tetap mati)
The zombies come out at night

(Lalu layar kembali berubah dengan ribuan Zombie yang berjalan di seluruh kota)
They'll never catch me
They'll never catch me

(Layar kembali berganti dengan Naruto serta teman-temannya yang memasuki kendaraan mereka)
B-ba-b-b-b-ba-ba-back
B-ba-b-b-b-ba-ba-back

(Gambar pun berubah dengan gambar kendaraan mereka yang berjalan di kota mati)

Drum Sfx

(Gambar memperlihatkan Naruto yang memasukkan gigi Mobilnya)

Light it up, light it up, now I'm burning

(Layar kembali di ganti dengan Naruto yang memacu kendaraannya bersama Irina di sampingnya menembak para Zombie dari jendela di ikuti sebuah Truk yang di kendarai Rossweisse bersama Sasuke di sampingnya)
Feel the rush, feel the rush of adrenaline

(Gambar kembali di ganti dengan bagian belakang Truk di mana terdapat Shikamaru serta yang lainnya tengah menembak para Zombie yang mengikuti mereka)
We are young, we are strong, we will rise

(Layar kembali di ganti dengan Chouji yang mengaktifkan senjata berondong di belakang dan mulai menembak para Zombie dengan membabi buta.)

Cause I'm back, back, back from the dead tonight

(Lalu layar kembali di ganti dengan ledakan beruntun yang terjadi di belakang truk bersama dengan zombie besar mengejar mereka, lalu gambar berubah dengan Arthuria yang menembak Zombie tersebut dengan Sniper miliknya)

To the floor, to the floor, hit the red line.

(Layar kembali berubah menjadi Sasuke serta Kuroka, Koneko, Sona, Hinata, Ino dan Rias yang saling membelakangi menembak para Zombie yang mengepung mereka )

Flying high, flying high at the speed of light

(Layar kembali di ganti dengan Rossweisse mengendarai sebuah kendaraan berukuran sedang bersama Xenovia, Shikamaru, Akeno, Irina, Tsubaki dan Chouji yang duduk di belakang kendaraan sambil menembak para Zombie dengan senjata mereka.)

Full of love, full of light, full of fight

(Layar kembali di ganti dengan mobil Naruto yang menghindari berbagai ledakan di belakangnya)

Cause I'm back, back, back from the dead tonight

(Layar kembali dengan yang berbelok tajam dan memperlihatkan Naruto yang mengeluarkan pistolnya dan menembakkan sebuah peluru.)

.

.

Chapter 17 : Day 8 Survivor Part 2

.

.

Swush!

Arthur serta Neji pun berlari ke arah Naruto bersama-sama, melihat mereka akan melakukan serangan bersama Naruto langsung memasang kuda-kudanya lalu melirik ke arah Neji yang lebih dulu melakukan serangan pukulan.

Tak! Tak! Tak!

Dengan lincah Naruto menangkis setiap serangan karate milik Neji yang melakukan serangan pukulan beruntun bersama pukulan dan tendangan milik Arthur dari dua arah.

Bahkan selama bertahan dari serangan mereka Naruto sempat beberapa kali memberikan serangan balik kepada mereka berdua.

Di salah satu tempat paling atas, terdapat Inoichi serta Istrinya yang juga melihat pertarungan di bawah, sang Istri yang di ajak kemari oleh Inoichi tidak mengerti lalu ia berniat bertanya kenapa ia di ajak kemari.

Namun sebelum bertanya Inoichi telah menjawab pertanyaannya, "Aku mengajakmu kemari karena ingin kau mempercayakan putri kita padanya," ucap Inoichi, "kau lihatlah pertarungannya, dia bahkan masih bisa unggul walaupun lawannya cuma dua orang."

"Huh, ini manusia bukannya Zombie, aku tidak mungkin mempercayakan putri kita padanya," balas sang Istri dengan nada ketus.

Di sisi lain, tampak Sairaorg serta Sirzech berdiri di antara kerumunan tentara, Sirzech yang melihat Naruto bertarung melawan dua orang sendirian bahkan ia bisa mendominasi pertarungan terdiam.

Dirinya masih tidak percaya bahwa orang seperti Naruto bisa mengalahkan 11 pasukan elite seorang diri, "Jii-san, apa yang kau katakan kemarin itu apa benar? Bahwa dia bisa mengalahkan 11 pasukan elite seorang diri?".

"Ya... jangan terlalu meremehkannya, Sirzech," jawab Sairaorg lalu melirik ke arah Sirzech, "aku tahu kau berniat mencelakai Naruto karena membuat Rias ikut pertempuran, jika kau ingin selamat jangan pernah macam-macam dengannya."

Kembali ke pertarungan Naruto yang melihat Neji melayangkan sebuah tendangan melompat salto mundur beberapa kali lalu memasang kuda-kuda bertahan dan langsung menangkis serangan beruntun yang di layangkan Neji.

"Kheh! Tak akan aku biarkan seluruh seranganmu mengenai tubuhku," ucap Naruto, Neji yang melihat kesempatan terus memangkas jaraknya dengan Naruto hingga akhirnya dia mengunci pergerakan Naruto serta kakinya.

"KENA KAU!" teriak Arthur menggunakan kesempatan tersebut dengan meninju pipi Naruto dari samping. Semua yang melihat Naruto akhirnya terkena serangan tersentak.

Sret! Duak!

Melihat Naruto terkena serangan Arthur, Neji langsung melepaskan kunciannya lalu menendang Naruto hingga mundur beberapa langkah. Tak memberi kesempatan pada Naruto, Arthur langsung memberikan pukulan beruntun pada Naruto yang memasang posisi bertahan sambil melangkah mundur.

Duak! Buagh!

Melihat pertahanan kaki Naruto tidak terlindungi, Arthur langsung menendang paha Naruto membuatnya sedikit kurang keseimbangan dan secara langsung Neji datang dari belakang Arthur dan melakukan tendangan kembali pada Naruto hingga membuatnya terjatuh dan terguling beberapa kali.

"Naruto-kun?!" teriak Kuroka serta Akeno menatap khawatir Naruto. "Kuso! Lukanya masih belum pulih?! Tapi dia memaksakan dirinya?!" geram Shikamaru.

"Dasar si bodoh itu?!" umpat Sasuke mengepalkan tangannya berniat menolong Naruto

"HYAAAAHH!" teriak Arthur serta Neji melayangkan tendangan pada wajah Naruto yang berlutut dari sisi kiri dan kanan.

Brak!

Neji serta Arthur yang melihat tendangan mereka berhasil di tangkap Naruto dengan merentangkan kedua tangannya, "Boleh juga," ucap Naruto tersenyum lalu menarik kaki mereka berdua ke belakang membuat tubuh Arthur serta Neji tertarik ke arahnya

Lalu Naruto langsung memberi tinju pada perut Neji serta Arthur hingga terbatuk. Berikutnya Naruto langsung memundurkan tubuhnya ke belakang lalu melayangkan dua tendangan ke masing-masing tubuh mereka hingga terdorong ke belakang.

Saat memberikan tendangan, Naruto menjadikan perut mereka sebagai tumpuan untuk melakukan putaran terbalik hingga ia bisa berdiri tegak kembali.

Naruto lalu mengelus pipinya yang terkena tinju Arthur, ini sudah kedua kalinya dia terkena serangan yang sama, dan itu cukup membuat sedikit kesal, dirinya sebenarnya ingin sekali mengeluarkan seluruh tenaganya, namun dirinya tidak berani karena Arthuria serta Hinata menonton pertarungan mereka.

Swush!

Dengan sekuat tenaga, Naruto berlari ke arah Neji serta Arthur. Neji yang melihat Naruto datang ke arah mereka langsung melayangkan sebuah tendangan, Namun Naruto langsung melompat tinggi sambil memegang kaki Neji yang digunakan menendang yang sebagai pijakan lalu melakukan dua tendangan dengan kaki merentang ke masing-masing wajah Neji serta Arthur.

"Kh!" geram Neji yang mundur beberapa langkah lalu melayangkan sebuah pukulan ke arah Naruto yang telah mendarat sempurna dari lompatannya. Naruto yang melihat itu ikut melayangkan tinjunya di sertai ekspresi senang, beberapa detik setelahnya tinju mereka pun beradu dengan kuat dan dalam beradu tinju Neji meringis kesakitan sambil mundur beberapa langkah kembali, jemarinya tampak memerah karena kerasnya tinju Naruto.

Swush!

Naruto yang merasakan Arthur menyerangnya dari belakang memiringkan tubuhnya, lalu ia menangkap tangan Arthur dan langsung bergerak ke belakangnya sambil menarik tangan kanan Arthur yang di gunakan untuk memukulnya dari belakang.

Arthur pun mencoba menendang Naruto ke belakang namun dia langsung menangkap kakinya dan memaksa tubuhnya berputar balik ke arahnya.

Menggunakan kesempatan itu, Arthur mencoba meninju Naruto dengan tangan kirinya, namun Naruto langsung menangkisnya lalu meninju dadanya hingga mundur tiga langkah lalu Naruto kembali memberikan sebuah serangan tendangan hingga membuatnya semakin terpental dan menabrak Neji.

"Fuuhh." Naruto menghembuskan nafasnya sambil memasang kuda-kuda siaga, Neji yang di tindih oleh Arthur mendorongnya agar bisa berdiri.

"Ghh... SUDAH CUKUP?!" teriak Arthur berdiri kembali lalu mengeluarkan sebuah pisau lipat dari kantong celananya dan menatap kesal ke arah Naruto, "AKAN AKU BUNUH KAU?!"

Semua yang melihat itu terkejut sementara Naruto hanya diam dengan tenang, "HENTIKAN ARTHUR?! APA KAU SUDAH GILA?!" teriak Arthuria memperingati adiknya.

"KAU DIAM SAJA NEE-SAMA?! AKU TIDAK PEDULI DIA ADALAH CINTA PERTAMAMU?! AKU AKAN MEMBUNUHNYA?!" teriakan Arthur semakin membuat semua yang ada di sana terkejut.

Teman-teman Naruto yang mendengar itu menoleh ke arah Arthuria yang memerah wajahnya, Naruto yang mendengar teriakan Arthur melebarkan matanya lalu melirik ke arah Arthuria sesaat.

"Apa maksudmu?" tanya Naruto berusaha mencerna dan berharap perkataan Arthur hanyalah gurauan. "Ya... Nee-sama mengatakan bahwa kau adalah cinta pertamanya?! Tapi aku tidak peduli dengan itu?! Akan aku bunuh kau sebelum kau membuat Nee-sama meregang nyawa melawan para Zombi!" teriak Arthur langsung berlari ke arah Naruto.

Naruto yang melihat itu memasang kuda-kuda bertarungnya, dengan beringas Arthur melayangkan serangan ke arah Naruto.

Sementara Naruto terus bertahan dari serangan Arthur, namun konsentrasinya buyar ketika mengingat bahwa Arthur berkata Arthuria mencintai dirinya.

Srash!

Karena tidak konsentrasi, Naruto terkena goresan pisau di bagian pipinya, "Naruto-kun?!" teriak Kuroka serta Akeno bersamaan.

"Gh! Kuso?!" umpat Naruto dalam hati lalu mendorong Arthur hingga terjadi jarak di antara mereka. Namun dirinya seketika terkejut ketika Neji telah di belakangnya.

"KENA KAU?!" teriak Neji lalu melayangkan tinju bertubi-tubi pada punggung Naruto. "HYAAAAAH!" teriak Arthur melayangkan tendangan pada dagu Naruto lalu menebaskan pisaunya berusaha mengenai dada Naruto.

Dengan sekuat tenaga Naruto menghindari serangan Arthur namun tetap saja dirinya harus terkena goresan pada dada kanannya.

Duak!

Dengan keras Neji melayangkan sebuah tendangan pada pipi kanan Naruto hingga membuatnya terpental dan terguling beberapa kali.

"Cough!" Naruto berusaha berdiri sambil terbatuk mengeluarkan sedikit darah.

Arthur serta Neji yang melihat Naruto terbaring tengkurap dan berusaha berdiri mengatur nafas mereka yang memburu karena melancarkan serangan bertubi-tubi pada Naruto.

"HeheHAHAHA! INI KESEMPATAN BAGUS?" teriak Arthur melesat ke arah Naruto yang telah berdiri kembali sambil menyentuh dada kanannya yang terkena goresan pisau Arthur.

"Gawat! Jika begini!" panik Shikamaru, Sasuke yang melihat itu berniat menyelamatkan Naruto, namun semua semakin terkejut ketika secara tiba-tiba Kuroka telah berdiri di depan Naruto sambil merentangkan tangannya.

"HENTIKAN!"

Jrash!

Naruto yang mendengar teriakan Kuroka di depannya melebarkan matanya ia pun dengan cepat menoleh ke arah depannya dan matanya semakin membulat ketika melihat Kuroka melindunginya dari serangan Arthur hingga membuat perut sisi kanannya terkena pisau.

"Ugh!"

"KUROKA-CHAN?!" teriak Akeno menatap tidak percaya Kuroka. Naruto yang melihat itu langsung melesat ke arah Arthur dan meninju wajahnya dari belakang Kuroka hingga membuatnya terdorong cukup jauh.

Kuroka yang akan terjatuh langsung di tangkap oleh Naruto, dengan cepat Naruto menutup luka Kuroka dengan tangannya.

"Apa yang kau lakukan, Baka?!" tanya Naruto, Kuroka yang mendengar itu terbatuk sesaat lalu tersenyum pada Naruto yang menatap khawatir dirinya. "Sudah jelas bukan? Aku melindungi mu," jawab Kuroka sambil mengelus pipi Naruto.

"OI! MEDIS! CEPAT KEMARI?!" teriak Sasuke setelah sampai di dekat mereka dan melihat keadaan Kuroka. Arthur yang melihat itu tertawa pelan sambil menyeringai senang, Neji yang melihat itu hanya diam menatap datar Naruto.

"Bagaimana rasanya akan kehilangan orang terdekatmu lagi? Rasanya sangat menyakitkan bukan? Inilah yang kami rasakan."

"Jadi sebaiknya kau...

"Tutup mulutmu," potong Naruto, Sasuke yang ada di dekat Naruto mendengar itu menegang di sertai bulu kuduknya yang berdiri, Naruto lalu menggendong Kuroka yang terluka dan menyerahkannya pada Sasuke.

"HAHAHAHA?! Apa? Apa kau membenci kami?!" tanya Arthur, Naruto yang mendengar itu terdiam, namun semua yang di sana seketika menegang di sertai bulu kuduk mereka yang berdiri ketika Naruto menolehkan sedikit kepalanya ke arah Arthur dengan tatapan membunuh yang kuat.

"Diam," ucap Naruto dengan suara beratnya, Arthur yang mendengar itu serta melihat tatapan membunuh Naruto meneguk ludahnya lalu memasang kuda-kuda bertarungnya.

"Bawa dia ke tempat medis secepatnya Sasuke," ucap Naruto mengelus pipi Kuroka sesaat lalu membalikkan badannya, Sasuke yang berniat menghentikan Naruto terhenti ketika Naruto meliriknya dengan tatapan amarahnya.

"Jangan menghentikan ku dan cepat bawa dia ke team Medis, sekarang!" ucap Naruto, tanpa banyak bicara Sasuke langsung berlari ke arah Team Medis, Kuroka yang ada di gendongan Sasuke melihat ke arah Naruto yang membelakanginya.

"Naru-kun."

"Diam Kuroka?! Bertahanlah! Kau akan hidup?!" bentak Sasuke, Akeno yang melihat Kuroka di bawa ke team Medis berlari mengikuti mereka, Shikamaru yang melihat itu semakin berkeringat dingin lalu melirik ke arah Arthuria yang gemetar.

"Senpai... Aku sebagai perwakilan, aku meminta maaf jika adikmu mengalami cedera fatal," ucap Shikamaru, "karena sekarang tidak akan ada yang bisa menangkan Naruto hingga emosinya terpuaskan."

"Kalian berdua...," gantung Naruto yang menundukkan kepalanya lalu mengangkat kepalanya memperlihatkan tatapan membunuh yang kuat, "Akan aku buat kalian menyesal?!"

Arthur yang melihat itu sedikit gemetar namun dengan percaya diri dia langsung berlari ke arah Naruto, setelah di dekatnya Arthur melakukan tendangan berputar namun dengan santai Naruto menangkap kaki Arthur lalu menariknya dengan keras sambil memberikan tendangan balik pada dada Arthur.

Duak!

Dengan tinju yang sangat kuat Naruto langsung meninju lutut Arthur yang dia tangkap dari samping hingga patah, "ARRRGHH!" teriak Arthur merasakan sakit pada kakinya.

Swush! Buagh!

Lalu Naruto melepaskan kaki Arthur dan melakukan putaran cepat dengan menekel kaki Arthur lagi satu lalu memberikan tusukan kuat dengan jarinya pada perut Arthur dan memberikan pukulan kuat pada wajah Arthur hingga membuat suara di bagian leher Arthur serta membuat tubuh Arthur berputar di udara.

"HUUOOOOORAAAAAA!" teriak Naruto penuh amarah lalu memukul dada Arthur sebelum jatuh ke tanah hingga membuatnya terpental beberapa meter.

"ARRRGHHHH! LEHERKU?! KAKIKU?!" teriak Arthur menggerang kesakitan sambil memegang lehernya serta kakinya yang di patahkan oleh Naruto.

Swush! Duak!

Tanpa melihat Naruto memiringkan tubuhnya ke kiri karena Neji melayangkan sebuah pukulan dari belakang, dengan gerakan cepat Naruto menangkap tangan Neji lalu memberikan serangan siku pada dada Neji.

Krak! Krak!

Dengan brutal Naruto langsung mematahkan pergelangan tangan kanan Neji serta Sikunya secara bergantian membuat Neji menggerang kesakitan.

Krak!

Tanpa ampun Naruto menarik tangan Neji hingga membuat Neji ke depannya dan setelah itu Naruto langsung meninju dada Neji hingga membuatnya mundur beberapa langkah.

Hinata yang melihat Naruto menghajar Neji tanpa ampun menatap khawatir Neji sambil berlinang air mata, "Kumohon hentikan," pinta Hinata dengan suara lemah.

"Percuma, saat Naruto sudah emosi, dia tidak akan segan-segan," ucap Shikamaru, "jika saja Kuroka-san tidak melakukan hal tadi, ini tidak akan terjadi."

Duak! Buagh! Buagh! Buagh!

Dengan keras Naruto menginjak salah satu kaki Neji lalu melakukan tinju beruntun pada wajah Neji, tak hanya wajah Neji ia menghajar dagu, bahu serta perut Neji hingga membuat Neji tidak bisa membuat pertahanan.

Sret! Duak!

Naruto lalu menjambak rambut Neji dan menariknya ke bawah bersamaan ia membenturkan wajah Neji dengan lututnya hingga hidungnya patah, tak puas hanya sekali Naruto melakukannya beberapa kali hingga tubuh Neji terasa lemas.

Setelah puas Naruto mengangkat wajah Neji dan menatapnya penuh amarah, ia pun langsung memberikan serangan sebuah pukulan pada mata kiri Neji hingga membuatnya terbaring ke tanah dan berikutnya Naruto langsung mematahkan pergelangan kaki Kiri Neji.

Pria rambut cokelat yang melihat itu menggeram marah ketika melihat Neji di hajar habis-habisan oleh Naruto, ia berniat maju namun pria rambut cokelat yang wajahnya hampir serupa dengannya menghentikannya.

"Lepaskan Aku Hiashi?! Biarkan aku menghajarnya!" ucap pria tersebut kepada Pria bernama Hiashi yang merupakan ayah Hinata. "Apa kau sudah gila, Hizashi?" tanya Hiashi kepada Hizashi yang merupakan ayah dari Neji.

"Saat ini dia dalam keadaan murka, dan kau lihat sendiri putramu di buat sampai seperti itu."

"Maka dari itulah aku akan membalasnya!"

"Kau masih belum sadar juga?! Jika kau maju yang ada kau juga akan mengalami hal yang sama! Asal kau tahu dia itu bisa mengalahkan petinggi A beserta 11 pasukan Elite sendirian!" bentak Hiashi membuat Hizashi tersentak.

"Waktu itu dia dalam keadaan marah dan berhasil membuat petinggi A dalam kondisi kritis, dan saat melawan pasukan Elite dia tidak dalam mode marahnya, jika dia dalam keadaan marah mereka pasti akan mengalami hal yang sama," lanjut Hiashi.

"Jika kau maju, justru kau akan dalam keadaan kritis seperti Neji, jadi sebaiknya kau diam," ucap Hiashi lalu melihat kearah pertarungan kembali.

Mata biru Naruto berkilat tajam ke arah Arthur yang merangkak pergi, dengan penuh amarah Naruto mendekati Arthur, para tentara yang melihat itu berniat menghentikan Naruto namun suara amarahnya membuat semua ciut.

"JANGAN ADA YANG MENGHENTIKANKU?!"

Para tentara yang berniat menghentikan pun menjadi terdiam di tempat, tentu saja karena mereka masih sayang nyawa serta tubuh mereka.

Setelah didekat Arthur, Naruto langsung menangkap kedua tangan Arthur dan menariknya dengan kuat ke belakang, "ARRRGHHH! HENTIKAN?! KUMOHON AMPUNI AKU?!" teriak Arthur memohon pada Naruto.

Namun Naruto hanya diam sambil memperkuat remasanmya pada pergelangan tangan Arthur, dengan sekali gerakan kuat Naruto langsung menendang punggung Arthur bersamaan dengan itu kedua lengan Arthur di patahkan oleh Naruto dari bahu hingga pergelangannya.

"ARRRRRRRRRGHHHHHH!"

DUAK!

Tanpa ampun Naruto menginjak kepala Arthur hingga membuat teriakannya teredam, "Masih belum," geram Naruto lalu memaksa tubuh Arthur berbalik dan mendudukinya, ia menatap wajah Arthur dengan penuh emosi berikutnya Naruto langsung meninju wajah Arthur bertubi-tubi hingga darah berceceran di mana-mana.

Naruto terus meninju Arthur tak peduli wajahnya telah babak belur serta mengeluarkan banyak darah, bayangan Kuroka yang terluka terus terbayang di kepalanya dan itu membuat Naruto semakin mempercepat tinjunya dan semakin brutal, saat akan melakukan serangan penghabisan yang memungkinkan Arthur kehilangan nyawa, Akeno muncul dengan memeluk Naruto dari belakang.

"Sudah hentikan Naruto-kun?!" teriak Akeno mempererat pelukannya, semua yang melihat Akeno tiba-tiba datang dan memeluk Naruto tersentak. "Sudah cukup, Kuroka-chan baik-baik saja! Hentikan ini! Tenangkan dirimu Naruto-kun!"

Naruto yang mendengar itu terdiam, nama Kuroka terlintas di kepalanya, ekspresi serius Naruto seketika berubah menjadi khawatir, "Ku-Kuroka...," gumam Naruto.

"Dia baik-baik saja, saat ini dia ada di ruang medis, sudah hentikan ini, Ayo kita jenguk Kuroka-chan!" ucap Akeno sambil terisak, Naruto yang mendengar itu nafasnya seketika memburu, bayangan kematian layaknya Issei terlintas.

"Akeno-chan! Apa benar Kuroka-chan baik-baik saja?!" tanya Naruto membalikkan badannya lalu mengguncang pelan tubuh Akeno dengan tatapan berharap. Akeno yang mendengar itu menganggukkan kepalanya, "Um, dia baik-baik saja, ayo kita ke sana, sudah cukup kau memberinya pelajaran," jawab Akeno, Naruto yang mendengar itu meneteskan air matanya.

"Tuntun aku ke sana, Akeno!" pinta Naruto sambil berdiri, Akeno pun mengangguk dan langsung menarik Naruto pergi dari sana meninggalkan semuanya berserta Arthur dan Neji yang terbaring bersimbah darah serta dalam keadaan babak belur.

Inoichi serta Istrinya yang menonton dari atas terdiam dengan wajah pucat terutama Istrinya. Dirinya seketika menarik kata-katanya ketika merendahkan Naruto.

Melihat apa yang dia lakukan, itu membuatnya ketakutan, jika dia melakukan hal kasar pada putrinya, mungkin saja Naruto tidak akan segan-segan melakukan hal yang sama.

"Kau mengerti sekarang bukan, Tsuma," ucap Inoichi sambil memejamkan matanya dan mengambil nafas untuk menenangkan dirinya.

Dirinya juga sangat ketakutan ketika melihat betapa emosinya Naruto tadi, bahkan itu lebih mengerikan dari pada saat Naruto menghajar A.

"Kau tidak perlu khawatir, putri kita pasti baik-baik saja."

Sang Istri yang mendengar itu mengangguk kaku, Sirzech yang melihat betapa mengerikannya Naruto menghajar Arthur serta Neji hingga bersimbah darah gemetar di sertai wajah pucat, dia bersyukur Pamannya mengajaknya kemari, jika dia macam-macam dengan Naruto, dirinya yakin ia akan seperti mereka.

"Sirzech," panggil Sairaorg sambil menepuk pundak Sirzech, "sebaiknya kau jangan macam-macam dengannya."

Hinata yang melihat Neji babak belur serta terbaring di tanah mendekatinya sambil berlinang air mata. Sementara Arthuria yang telah di samping Arthur, ia merendahkan tubuhnya dan menatap diam ke arah Arthur yang tampak babak belur beserta bersimbah darah di sertai nafasnya yang memburu.

"Inilah akibat perbuatanmu yang berlebihan Arthur, kau beruntung karena di biarkan hidup," ucap Arthuria, "Jika sampai Naruto-kun membenciku... Akan aku pastikan," lanjut Arthuria merendahkan tubuhnya dan berbisik di telinga Arthur.

"Akulah yang akan membunuhmu," bisik Arthuria lalu tak berselang lama, Tim medis pun datang dan membawa Arthur ke ruang gawat darurat. Melihat Arthur di bawa oleh team Medis, Arthuria hanya diam di tempat namun ia bisa merasakan Shikamaru ada di belakangnya.

"Senpai... Mengenai Arthur..."

"Tidak apa... Aku baik-baik saja," jawab Arthuria lalu berdiri dari berlututnya, "aku tidak begitu khawatir mengenainya... Lagi pula itu adalah hal setimpal untuknya karena melakukan perbuatan yang berlebihan," lanjut Arthuria lalu membalikkan badannya melihat ke arah Shikamaru yang menatapnya diam.

Ia bisa melihat Arthuria memasang wajah santai tanpa ada rasa khawatir terhadap Arthur, "Bukankah... Dia adikmu... Kenapa kau..."

"Dia memang adikku, aku memang sedikit khawatir dengan keadaannya... Tapi... Anggap saja ini sebagai karmanya karena berlebihan," jawab Arthuria membuat Shikamaru kembali terdiam.

"Lalu... Mengenai apa yang dikatakan Arthur... Apa itu benar?" Arthuria yang mendengar itu terdiam sesaat lalu tersenyum kepada Shikamaru. "Ha'i... Itu benar... Apakah salah aku mencintai Naruto-kun?"

Shikamaru yang mendengar itu merinding disko, "A-Ah... I-Itu tidak ada yang salah... Hanya saja... Kau pasti mengerti kenapa aku bertanya begini bukan?" ucap Shikamaru sambil menggaruk lehernya yang tidak gatal.

"Ah... Aku tahu... Tapi... Naruto-kun belum menerima perasaan mereka bukan," ucap Arthuria sambil berjalan melewati Shikamaru, "jadi aku tidak akan kalah dari mereka." Setelah mengatakan itu, Arthuria pergi meninggalkan Shikamaru yang terdiam, setelah merasa cukup jauh, Shikamaru sedikit memucat dengan tubuh merinding.

"Naruto... Aku doakan kau baik-baik saja."

.

.

NaruAkeno side

.

.

Beralih ke sisi Naruto serta Akeno, mereka saat ini berlari di lorong markas menuju ruang medis, setelah cukup lama mereka pun sampai di ruang Kuroka di rawat, dan mereka melihat Kuroka terduduk di kasur dengan perutnya di lilit perban dan di samping Kuroka terdapat Sasuke yang duduk di sampingnya.

"Kuroka-chan! Kau baik-baik saja?!" tanya Naruto menatap khawatir Kuroka sambil mendekatinya. "Um aku baik-baik sa..." perkataan Kuroka terhenti ketika Naruto langsung memeluknya, ia juga bisa merasakan tubuh Naruto bergetar serta merasakan bahunya terkena air.

"Kau... Benar-benar membuatku khawatir... Baka," ucap Naruto sambil terisak. Kuroka yang mendengar itu terdiam sesaat lalu membalas pelukan Naruto, "Gomenasai, Naru-kun," ucap Kuroka, Sasuke yang duduk di pinggir kasur Kuroka pun berdiri dan pergi meninggalkan mereka tanpa sepatah kata.

Akeno yang berdiri di samping Naruto tersenyum sambil mengelus punggung Naruto, tentu saja Naruto sangat khawatir karena traumanya saat kehilangan Issei kembali kambuh.

Setelah cukup lama memeluk Kuroka, Naruto pun melepaskan pelukannya lalu duduk di pinggir kasur Kuroka sambil memegang tangannya, "Bagaimana keadaan luka perutmu?" tanya Naruto sambil melihat luka Kuroka.

"Kata dokter lukaku tidak terlalu dalam, jadi masih bisa di atasi dengan cepat," jawab Kuroka sambil tersenyum, Naruto yang mendengar itu menggenggam erat tangan Kuroka lalu menciumnya dengan pelan. "Syukurlah... kalau begitu," ucap Naruto dengan tubuh masih gemetar.

Kuroka yang bisa merasakan itu melirik ke arah Akeno yang tersenyum masam, Kuroka lalu berpikir cara untuk menenangkan Naruto hingga ia tersentak sesaat lalu mengatakan sesuatu pada Naruto.

"Naruto-kun, bisakah kau mendekat," ucap Kuroka, Naruto yang mendengar itu hanya diam, namun ia menuruti perkataan Kuroka dengan menggeser kursinya hingga ia duduk di samping Kuroka.

"Akeno-chan, bisakah kau duduk di samping Naru-kun?" pinta Kuroka, Akeno yang mendengar itu terdiam, namun ia langsung tersadar dengan maksud Kuroka.

Ia pun memindahkan kursinya dan duduk di samping Naruto, lalu Kuroka pun memeluk kepala Naruto bersama Akeno, "Jangan khawatir... Semua akan~ baik-baik saja...," ucap Akeno serta Kuroka bersama-sama menyanyikan sebuah lagu dengan suara merdu mereka.

"Jangan risau... Wahai pangeranku... Kami~... Akan baik-baik saja," Naruto yang mendengar suara mereka menjadi tenang, gemetar yang ada di tubuhnya menghilang begitu saja. "Kau sudah baikkan, Naruto-kun?" tanya Akeno sambil mengelus rambut kuning Naruto.

Naruto yang mendengar itu mengangguk pelan, "Aku sudah baikkan, Arigato... Akeno-chan, Kuroka-chan," ucap Naruto berterima kasih pada mereka berdua.

"Sama-sama," jawab Akeno serta Kuroka bersamaan, lalu terjadi keheningan di antara mereka selama beberapa saat hingga Akeno pun bertanya, "Ne Naruto-kun... Bagaimana perasaanmu terhadap Arthuria-senpai?"

Naruto yang mendengar itu terdiam, dirinya sendiri juga tidak tahu perasaannya terhadap Arthuria karena dia menganggapnya senpai, jadi dia tidak tahu harus menanggapi perasaannya bagaimana.

"Aku... Tidak tahu," jawab Naruto sedikit menundukkan kepala, "aku tidak tahu harus menanggapinya bagaimana... Karena aku menganggapnya sebagai seorang Senpai... Saat aku mendengar bahwa dia menanggapku sebagai cinta pertama... Pikiranku langsung buyar."

"Jadi pikiranmu lebih buyar karena pernyataannya di banding kami ya?" Naruto yang mendengar itu menatap panik Kuroka serta Akeno yang tampak suram. "H-Hey! Bukan seperti itu! Tentu saja pernyataan kalian juga membuat pikiranku buyar!" jawab Naruto.

Akeno serta Kuroka yang melihat wajah panik Naruto tertawa pelan, karena tampaknya Naruto sudah kembali seperti semula. Tak lama setelah itu terdengar suara ketukan dan terlihat Shikamaru dan yang lain terkecuali Arthuria serta Hinata yang tidak ada di antara mereka datang.

"Nee-chan!" teriak Koneko berlari ke arah Kuroka lalu naik ke atas dan memeluknya dengan erat. "Koneko-chan, pelan-pelan," ucap Kuroka menenangkan adiknya.

"Bagaimana bisa Koneko bersama kalian?" tanya Naruto, Shikamaru lalu menunjuk Sasuke yang berkeringat dingin. "Etto... Aku tidak sengaja," jawab Sasuke sambil menggaruk belakang kepalanya.

"Saat kami mau kemari, kami bertemu dengan Koneko-chan lalu menanyakan di mana Kuroka-chan, lalu si bebek ini datang memanggil kami dengan berkata 'Hey, apa yang kalian lakukan, ayo cepat ikuti aku ke tempat Kuroka.' Begitulah," jawab Sona sambil mengelus rambut Koneko.

"Ya maaf, aku saja tidak tahu dia ada di antara kalian!" balas Sasuke dengan perempatan di dahinya karena di panggil bebek.

"Kuroka-chan! Bagaimana keadaanmu? Apa masih terasa sakit?" tanya Irina menatap khawatir Kuroka. "Um, aku baik-baik saja," jawab Kuroka sambil tersenyum.

Naruto yang tidak melihat Arthuria serta Hinata di antara mereka pun melihat ke arah Shikamaru, "Di mana Hinata-chan dan dia?" tanya Naruto.

"Setelah kau menghajar mereka berdua babak belur masih bertanya?"

Mendengar itu Naruto menggumam pelan lalu bangun dari kursinya, "Aku akan pergi mencari mereka, ada yang ingin aku bicarakan."

Sebelum melangkah pergi, Shikamaru menepuk bahu Naruto dengan ekspresi serius, "Berhati-hatilah Naruto," ucap Shikamaru dengan suara di kecilkan, sementara Naruto Sweatdrop ketika melihat ekspresi serius Shikamaru.

.

.

Hinata Side

.

Beralih ke arah Hinata, saat ini dia duduk dengan kepala menunduk di sertai wajah risau, Hiashi yang duduk di samping Hinata memasang wajah tenang, sementara Hizashi tampak gelisah di depan ruang operasi.

"Hinata-chan!" Hinata yang mendengar suara Naruto tersentak, Hiashi serta Hizashi menoleh ke arah Naruto terutama Hizashi yang melihat Naruto dengan tatapan amarah.

"Kau!" geram Hizashi berniat menyerang Naruto, namun bayangan tatapan membunuh Naruto terlintas di kepalanya membuatnya membatalkan niatannya.

Dengan ekspresi tenang, Naruto berjalan melewati Hizashi dan berdiri di samping Hinata dan Hiashi, "Ada apa kau kemari... Naruto-kun?" tanya Hinata dengan suara lirih.

Naruto yang mendengar itu terdiam, dirinya cukup menyesal melanggar janjinya terhadap Hinata, namun amarahnya menguasai dirinya yang membuatnya tidak bisa berpikir jernih.

"Maaf karena aku melanggar janjiku," ucap Naruto meminta maaf, "aku termakan amarahku ketika melihat Kuroka-chan terluka," ucap Naruto lalu melirik ke arah Hinata.

"Mungkin apa yang di katakan olehnya memang benar, semua pasti memiliki rasa khawatir kehilangan orang yang merupakan keluarga kita atau orang terkasih kita," lanjut Naruto, "tapi... Tidak selamanya kita harus khawatir... Kita harus bisa melawan balik rasa khawatir itu bersama-sama... Bukankah kalian yang mengajariku begitu."

Hinata yang mendengar itu terdiam, "Sekali lagi aku minta maaf karena membuat Neji seperti itu," ucap Naruto lalu pergi mencari Arthuria. Hiashi yang melihat kepergian Naruto terdiam, apa yang dikatakan Naruto ada benarnya.

"Huft."

.

.

Naruto terus berjalan cepat sambil melihat sekitar mencari keberadaan Arthuria, saat sampai di ruang operasi lagi satu dia melihat keluarga Arthuria dari kejauhan namun dia tidak melihat Arthuria jadi dia memutuskan berkeliling.

"Kau mencari ku, Naruto-kun?" Naruto yang mendengar suara Arthuria terkejut setengah mati ketika melihat Arthuria bersandar di salah satu lorong ruang medis yang sepi.

"Senpai."

"Apa kau ingin membicarakan soal yang di katakan oleh Arthur?" Naruto yang mendengar itu terdiam, ia melihat Arthuria yang memasang wajah tanpa ekspresinya, bahkan ia tidak menatapnya sama sekali.

"Sebelum itu, izinkan aku meminta maaf..."

"Tidak perlu...," potong Arthuria membuat Naruto tersentak, "aku tidak peduli dia sekarat... Aku justru berterima kasih karena kau memberinya pelajaran karena kelewatan batas." Naruto yang mendengar itu sweatdrop.

"Bisakah kita tidak membahasnya dan pindah ke topik lain?" Naruto yang mendengar itu terdiam sesaat.

"Senpai... Apa yang dikatakan oleh adikmu itu benar?" Arthuria yang mendengar itu mengangguk pelan. "Ya... Aku mencintaimu sejak saat kita berdua di atap," jawab Arthuria membuat Naruto teringat moment dimana dia bersama Arthuria di atap saat malam pertama di rumahnya.

"Saat itu ya...," gumam Naruto, "Apa yang membuat Senpai mencintaiku?" Arthuria yang mendengar itu tertawa pelan.

"Apakah aku harus menjabarkan bagaimana aku bisa mencintaimu?" tanya Arthuria, "jika iya, Aku mencintaimu karena kau memiliki wajah yang lucu saat tidur, kau juga kuat, pemberani, kau juga sudah menyelamatkan nyawaku berkali-kali," lanjut Arthuria membuat pipi Naruto merona ketika mendengar ia bilang wajahnya lucu saat tidur.

"E-Ehem, bukankah sudah aku bilang bahwa melindungi mu adalah kewajiban agar kita bisa selamat bersama-sama."

"Memang, tapi aku menganggap itu dalam artian yang berbeda," jawab Arthuria membuat Naruto terdiam, "lalu... Apa kau akan langsung memberiku jawaban?" tanya Arthuria. Naruto yang mendengar itu terdiam, dirinya sebenarnya ingin menolak Arthuria namun dirinya terpikirkan oleh Arthur yang sudah dia hajar sampai babak belur dan dalam keadaan kritis

Jika dirinya menolaknya, ia takut jika Arthuria akan mengambil tindakan gegabah dengan menghajar adiknya yang sekarat. Dirinya bersyukur karena Akeno dengan tepat waktu menghentikannya sebelum membunuh Arthur.

Jadi dia berpikir cukup lama untuk melihat konsekuensinya, setelah cukup lama berpikir Naruto menarik nafasnya dalam-dalam lalu menghembuskannya, "Untuk saat ini aku bisa memberikanmu jawaban Senpai... Ini terlalu mendadak untukku," jawab Naruto, "tapi... Aku akan mencoba membuka hatiku dan menemukan apakah aku mencintaimu atau tidak."

Ya, dirinya akan mencoba mencari tahu apakah dia menyukai Arthuria atau tidak, jika dia langsung menolaknya dia tidak enak menyakiti perasaan Arthuria serta membuat Arthur terbunuh karena pasti Arthuria kesal rahasianya terbongkar.

Arthuria yang mendengar itu terdiam sesaat lalu tersenyum senang, "Souka... Arigato, Naruto-kun," ucap Arthuria, kali ini ekspresinya yang kosong berubah menjadi tersenyum, "dengan begini aku tidak perlu membunuhnya."

"O-Oi!" wajah Naruto seketika memucat karena perkiraannya tepat sasaran.

"Jangan khawatir, Naruto-kun... Sekarang aku sudah lega jadi aku tidak akan melakukannya," jawab Arthuria sambil mendekati Naruto lalu menunjuk dada Naruto, "aku berjanji akan membuatmu jatuh cinta padaku, Naruto-kun... dan akan aku buat kau hanya milikku seorang," lanjut Arthuria lalu mencium pipi Naruto dengan cepat membuat Naruto tersentak dengan ekspresi tidak percaya.

"Sampai jumpa, Na-ru-to-kun!" ucap Arthuria meninggalkan Naruto yang mematung, setelah cukup lama mematung, Naruto menyandarkan tubuhnya sambil mengelus pipinya yang di cium oleh Arthuria.

"Hah... Apa yang harus aku lakukan Kami-sama..."

.

.

Skip Time

.

Ruang para petinggi

23.00 PM

.

.

Beralih ke ruang para petinggi, terlihat para petinggi telah berkumpul termasuk A yang duduk di kursi roda dengan tubuh berbalut perban serta tangan kanannya di Gips.

"Tadi terjadi pertarungan kembali di ruang latihan, antara Naruto beserta Putra Hizashi Hyuuga, Neji dan Putra dari keluarga Pen Dragon, Arthur," ucap Shikaku melihat data laporan hari ini sambil memijit pelipisnya, "pertarungan itu mengakibatkan seorang perempuan yang merupakan teman dekat Naruto terluka karena melindunginya, dan kondisi Arthur serta Neji dalam keadaan kritis karena amukan Naruto."

"Mungkin kau harus sedikit menjinakkan anakmu, Minato," ucap Shikaku dengan wajah pucat. "Maafkan aku dan juga putraku," jawab Minato dengan wajah pucat juga.

"Aku rasa, Naruto tidak bisa di salahkan dalam hal ini karena Naruto bertarung dengan tangan kosong sementara Arthur membawa sebuah pisau dengan niatan membunuh," balas Inoichi membela Naruto. "Jika memang seperti itu, maka aku setuju dengan Inoichi," timpal Yasaka mendukung Inoichi.

"Wah, sayang sekali padahal aku ingin sekali melihat pertarungan itu," gumam Azazel dengan wajah kecewa. "Sudah cukup, Azazel... Bagaimana mengenai laporanmu?" tanya Hiruzen dengan ekspresi serius.

"Ya, aku sudah menyiapkan semuanya sesuai yang di rencanakan, dan jujur saja cara ini lebih cepat dari pada sebelumnya yang menggunakan bahan peledak, tetapi aku tetap memproduksi amunisi ledak untuk jaga-jaga," jawab Azazel sambil membaca data di tangannya.

"Baguslah kalau begitu, apakah ada laporan lain?" tanya Hiruzen. "Ya, setelah kami mengirim data pasukan khusus yang terdiri dari team putra Minato, para pihak negara yang akan membantu langsung mengirim salah satu pemimpin pasukan kemari untuk melihat kemampuan mereka," jawab Shikaku, Hiruzen yang mendengar itu terdiam beberapa saat.

"Lalu bagaimana menurutmu, Shikaku-san?" tanya Hiruzen. "Aku rasa ini adalah hal yang bagus sekaligus kita melihat kemampuan anggota team Naruto," jawab Shikaku, Hiruzen yang mendengar itu menggumam.

"Lalu Mengenai Obat Anti Virus?"

"Sejauh ini kita sudah memproduksi banyak cairan obat anti virus untuk persiapan perang nanti, namun Shizuka Marikawa saat ini berusaha membuat obat anti virus yang baru," ucap Shikaku, Hiruzen yang mendengar itu menaikkan sebelah alisnya.

"Kenapa?"

"Aku tidak tahu kenapa dia mencoba membuat Obat Anti Virus baru, bahkan uji cobanya belum ada laporan sama sekali," jawab Shikaku mengecek setiap data yang ada.

"Baiklah... Kita biarkan saja dia dulu, mungkin saja dia akan memberikan laporannya saat sudah selesai," balas Hiruzen, "berikutnya... Apa saja laporan yang ada."

.

.

.

Naruto Side

.

.

Beralih kembali ke Naruto, ia saat ini kembali ke kamar Kuroka. Setelah kejadian tadi dia tidak jadi berlatih dengan teamnya karena menjenguk Kuroka. Dirinya juga pergi ke ruang medis lain untuk melakukan pengobatan, dan tentu saja berita dirinya bertarung tersebar dengan cepat bahkan membuat ibunya mencarinya dan langsung memukul kepalanya.

Mengingat itu Naruto meringis sambil menyentuh kepalanya, setelah sampai di depan kamar Kuroka, dirinya melihat Kuroka terduduk di kasurnya bersama Akeno di sampingnya.

"Ah, Naru-kun, Okaeri," sapa Kuroka sambil tersenyum. "Um, tadaima, Akeno-chan, Kuroka-chan," balas Naruto sambil ikut tersenyum.

"Jadi... Bagaimana?"

"Sudah selesai... Aku belum bisa memberikan jawaban pasti kepada Arthuria Senpai... sama seperti kalian," jawab Naruto membuat Akeno serta Kuroka bernafas lega dalam hati.

"Kau tidak kembali ke kamarmu, Naru-kun?" tanya Kuroka, Naruto yang mendengar itu mendengus pelan. "Lalu meninggalkanmu sendirian yang bisa saja membuat nyawamu terancam bahaya karena di incar keluarga Pen Dragon atau Hyuuga? Hell no!" jawab Naruto tegas.

Kuroka yang mendengar itu tersenyum, Akeno yang mendengar itu terdiam dengan wajah sedikit menunduk, "Kalau begitu aku akan kembali ke kamarku lebih dulu," ucap Akeno berniat pergi, namun Kuroka menahannya dan menggelengkan kepalanya.

"Jangan pergi, tetaplah bersama kami, Akeno-chan," pinta Kuroka membuat Akeno tersenyum masam.

"Tapi..."

"Jangan khawatir... Mari kita bersama-sama," jawab Kuroka sambil tersenyum, Akeno yang mendengar itu terdiam lalu ia tersenyum senang dan memeluk Kuroka dengan lembut.

Naruto yang melihat itu ikut tersenyum, "Ne, Naru-kun... Bisakah kau menutup pintu kamarku dan menguncinya?" Naruto yang mendengar itu menurut, ia lalu bangun menutup pintu kamar Kuroka lalu menguncinya.

"Naru-kun, kemarilah," pinta Kuroka sambil menggeser posisi tubuhnya, untung saja kasurnya cukup besar, "ayo tidur di sini Naru-kun!"

Naruto serta Akeno yang mendengar itu terdiam.

"Eh?"

Tanpa basa-basi Kuroka menarik Naruto untuk berbaring di kasurnya, dan Kuroka langsung memeluk salah satu tangan Naruto, "Fufu, begini lebih baik," gumam Kuroka menyamankan posisinya sambil mengelus-elus pipinya di bahu Naruto.

Sementara Naruto pipinya sudah merona, untuk Akeno dia menatap Kuroka dengan ekspresi terkejut di sertai alisnya yang berkedut kesal.

"K-Kuroka-chan... Ka-Kau saat ini terluka bagaimana jika lukamu kambuh," tanya Naruto berusaha kabur dengan menggeser tubuhnya perlahan. "Tidak perlu khawatir, aku baik-baik saja, Anggap saja ini sebagai hukuman karena kau membuatku terluka," jawab Kuroka sambil tersenyum manis, Naruto yang mendengar itu tidak bisa membantah perkataannya karena ada benarnya.

"Kurokaaaa..."

"Sshhh... Kau juga ikutlah bersama kami, Akeno-chan," ucap Kuroka sambil menempelkan bibirnya lalu tersenyum kepada Akeno.

Akeno yang mendengar itu terdiam sesaat lalu langsung mengambil posisi di sisi Naruto lagi satu tak lupa menaikkan selimut untuk menutupi tubuh mereka.

"A-Apa ini tidak apa?" tanya Naruto sambil tergagap. "Ya... Tidak apa, tidur bersama, Naru-kun," ucap Kuroka sambil merapatkan tubuhnya membuat wajah Naruto semakin memerah.

"Kuroka-chan... Kenapa kau membiarkanku tidur di sini? Bukankah aku akan mengganggumu?" tanya Akeno penasaran. "Aku tidak masalah, rasanya kurang saja jika tidak ada kau bersama kami, Teke-onna," jawab Kuroka sambil tersenyum jahil.

Akeno yang mendengar itu mendelik tajam, "Harusnya aku tidak khawatir terhadapmu, Kuso-Onna." Kuroka yang mendengar itu tertawa pelan, "Nyahahaha!"

"He-Hey, bukankah kita akan tidur... Ayo, besok kita akan sibuk."

"Sebelum tidur, kami ingin memberikanmu sesuatu, Naru-kun," ucap Kuroka lalu mencium pipi Naruto bersama Kuroka.

"Oyasumi, Naru-kun/Naruto-kun!"

Naruto yang di cium oleh mereka berdua terdiam dengan wajah memerah, ini sudah tiga kali dirinya di cium.

"Kami-sama... Biarkan aku istirahat dengan tenang."

.

.

.

.

.

.

.

TBC

Note : YOSHA! MINNA-SAN! BAGAIMANA KABAR KALIAN?!

Fufufu aku harap kalian baik-baik saja, yap kembali lagi dengan saya Author Newbie yang menyandang nama God Harem, Bweeeh v:

Wkwkwk acuhkan hal itu, bagaimana menurut kalian cerita kali ini? Aku harap puas ya. Maaf nih karena pertarungannya gak seru-seru amat, serius gw agak kesusahan kalau urusan Material Arts no power, jadinya ya begitu.

Untuk di chapter kali Ini, Naruto menghabisi Neji serta Arthur hingga kondisi kritis karena membuat Kuroka terluka. Jujur ada teman saya yang menyarankan untuk membuat Naruto menjadi brutal dan saya terus kepikiran apa enaknya untuk membuat Naruto menjadi seperti itu lalu akhirnya...

Jadilah seperti ini.

Mungkin terlihat tidak begitu fatal namun kehilangan anggota tubuh hingga tidak bisa di gerakkan itu termasuk brutal sih :v

Lalu adegan semi-romance? Ya gw Cuma isi sedikit saja untuk mereka, kemungkinan chapter depan akan saya buat yang lain jadi jangan khawatir, saya usahakan untuk tidak begitu menoton.

Lalu, mengenai Obat Anti Virus Baru yang di buat oleh Marikawa Shizuka, apakah tujuannya menciptakan Obat baru tersebut? Fufufu. Di tunggu saja.

Maa~ sepertinya itu doang untuk kali ini, tapi aku harap kalian menikmatinya, but jangan khawatir, saya akan mengupdate Fic ini berturut-turut hingga enam Chapter jadi slow saja ya guys. Yak akhir kata, saya God Harem, undur diri. Jaa na!

FCI. God Harem Out