Chapter sebelumnya :
.
Beralih kembali ke Naruto, ia saat ini kembali ke kamar Kuroka. Setelah kejadian tadi dia tidak jadi berlatih dengan teamnya karena menjenguk Kuroka. Dirinya juga pergi ke ruang medis lain untuk melakukan pengobatan, dan tentu saja berita dirinya bertarung tersebar dengan cepat bahkan membuat ibunya mencarinya dan langsung memukul kepalanya.
Mengingat itu Naruto meringis sambil menyentuh kepalanya, setelah sampai di depan kamar Kuroka, dirinya melihat Kuroka terduduk di kasurnya bersama Akeno di sampingnya.
"Ah, Naru-kun, Okaeri," sapa Kuroka sambil tersenyum. "Um, tadaima, Akeno-chan, Kuroka-chan," balas Naruto sambil ikut tersenyum.
"Jadi... Bagaimana?"
"Sudah selesai... Aku belum bisa memberikan jawaban pasti kepada Arthuria Senpai... sama seperti kalian," jawab Naruto membuat Akeno serta Kuroka bernafas lega dalam hati.
"Kau tidak kembali ke kamarmu, Naru-kun?" tanya Kuroka, Naruto yang mendengar itu mendengus pelan. "Lalu meninggalkanmu sendirian yang bisa saja membuat nyawamu terancam bahaya karena di incar keluarga Pen Dragon atau Hyuuga? Hell no!" jawab Naruto tegas.
Kuroka yang mendengar itu tersenyum, Akeno yang mendengar itu terdiam dengan wajah sedikit menunduk, "Kalau begitu aku akan kembali ke kamarku lebih dulu," ucap Akeno berniat pergi, namun Kuroka menahannya dan menggelengkan kepalanya.
"Jangan pergi, tetaplah bersama kami, Akeno-chan," pinta Kuroka membuat Akeno tersenyum masam.
"Tapi..."
"Jangan khawatir... Mari kita bersama-sama," jawab Kuroka sambil tersenyum, Akeno yang mendengar itu terdiam lalu ia tersenyum senang dan memeluk Kuroka dengan lembut.
Naruto yang melihat itu ikut tersenyum, "Ne, Naru-kun... Bisakah kau menutup pintu kamarku dan menguncinya?" Naruto yang mendengar itu menurut, ia lalu bangun menutup pintu kamar Kuroka lalu menguncinya.
"Naru-kun, kemarilah," pinta Kuroka sambil menggeser posisi tubuhnya, untung saja kasurnya cukup besar, "ayo tidur di sini Naru-kun!"
Naruto serta Akeno yang mendengar itu terdiam.
"Eh?"
Tanpa basa-basi Kuroka menarik Naruto untuk berbaring di kasurnya, dan Kuroka langsung memeluk salah satu tangan Naruto, "Fufu, begini lebih baik," gumam Kuroka menyamankan posisinya sambil mengelus-elus pipinya di bahu Naruto.
Sementara Naruto pipinya sudah merona, untuk Akeno dia menatap Kuroka dengan ekspresi terkejut di sertai alisnya yang berkedut kesal.
"K-Kuroka-chan... Ka-Kau saat ini terluka bagaimana jika lukamu kambuh," tanya Naruto berusaha kabur dengan menggeser tubuhnya perlahan. "Tidak perlu khawatir, aku baik-baik saja, Anggap saja ini sebagai hukuman karena kau membuatku terluka," jawab Kuroka sambil tersenyum manis, Naruto yang mendengar itu tidak bisa membantah perkataannya karena ada benarnya.
"Kurokaaaa..."
"Sshhh... Kau juga ikutlah bersama kami, Akeno-chan," ucap Kuroka sambil menempelkan bibirnya lalu tersenyum kepada Akeno.
Akeno yang mendengar itu terdiam sesaat lalu langsung mengambil posisi di sisi Naruto lagi satu tak lupa menaikkan selimut untuk menutupi tubuh mereka.
"A-Apa ini tidak apa?" tanya Naruto sambil tergagap. "Ya... Tidak apa, tidur bersama, Naru-kun," ucap Kuroka sambil merapatkan tubuhnya membuat wajah Naruto semakin memerah.
"Kuroka-chan... Kenapa kau membiarkanku tidur di sini? Bukankah aku akan mengganggumu?" tanya Akeno penasaran. "Aku tidak masalah, rasanya kurang saja jika tidak ada kau bersama kami, Teke-onna," jawab Kuroka sambil tersenyum jahil.
Akeno yang mendengar itu mendelik tajam, "Harusnya aku tidak khawatir terhadapmu, Kuso-Onna." Kuroka yang mendengar itu tertawa pelan, "Nyahahaha!"
"He-Hey, bukankah kita akan tidur... Ayo, besok kita akan sibuk."
"Sebelum tidur, kami ingin memberikanmu sesuatu, Naru-kun," ucap Kuroka lalu mencium pipi Naruto bersama Kuroka.
"Oyasumi, Naru-kun/Naruto-kun!"
Naruto yang di cium oleh mereka berdua terdiam dengan wajah memerah, ini sudah tiga kali dirinya di cium.
"Kami-sama... Biarkan aku istirahat dengan tenang."
.
Chapter Sekarang :
.
Rabu, 05 Agustus 2056
Kuroka Room
07.00 AM
.
Pagi hari pun tiba, Naruto secara perlahan bangun dari tidurnya, begitu ia membuka matanya ia melihat Kuroka serta Akeno yang melihatnya sambil tersenyum manis.
"Ohayo, Naru-kun/Naruto-kun," sapa Mereka berdua, Naruto yang melihat mereka mengerjapkan matanya sesaat lalu mengubah posisinya menjadi terduduk di kasur.
"Ohayo, Akeno-chan, Kuroka-chan," balas Naruto sambil menatap mereka berdua bergantian, "tidak biasanya kalian bangun lebih dulu."
"Hihi, kami hanya ingin melihat wajah imut mu saat tidur," jawab Kuroka sambil tertawa kecil. "Bagaimana keadaan lukamu? Apakah lukamu terbuka? Apakah kau merasakan sakit?" tanya Naruto beruntun pada Kuroka.
"Um, aku baik-baik saja, lukaku masih aman," jawab Kuroka sambil memperlihatkan bagiannya yang terluka tidak mengeluarkan darah kembali. "Jika kau masih merasa sakit, sebaiknya kau tidak memaksakan dirimu dan kau sebaiknya menonton saja nanti," ucap Naruto masih khawatir dengan keadaan Kuroka.
"Mou, kau terlalu berlebihan, Naru-kun. Aku baik-baik saja," ucap Kuroka sambil mengembungkan pipinya. "Sebaiknya kau menurut, Neko-onna. Kau itu sedang masa penyembuhan, dengan begitu aku bisa berduaan dengan Naruto-kun," balas Akeno lalu memeluk lengan Naruto sambil bergelayut manja.
Naruto yang merasakan tangannya terapit oleh dada besar Akeno merona, Kuroka yang melihat itu mendelik tajam kepada Akeno. "Mana mungkin aku membiarkan itu, Teke-onna!" balas Kuroka lalu memeluk lengan Naruto lagi satu, "aku akan ikut! Tidak akan aku biarkan kau mendahuluiku!"
Naruto yang di peluk mereka terdiam dengan pipi merona, namun ekspresinya kembali normal ketika melihat Akeno serta Kuroka saling mendelik tajam.
Ia tersenyum karena Kuroka baik-baik saja, jika Kuroka meninggal karena penusukan waktu itu, mungkin ia tidak akan bisa melihat hal ini.
Naruto lalu mengecup kening Kuroka serta Akeno bergantian membuat mereka tersentak dan menatap Naruto dengan pipi merona. "Tolong... Jangan lakukan hal gegabah lagi... Aku tidak ingin kehilangan kalian," ucap Naruto penuh harap.
Kuroka serta Akeno yang mendengar itu terdiam, lalu mereka pun menyandarkan kepala mereka di dada Naruto tepat di bawah dagu Naruto, "Akan kami usahakan, Naru-kun/Naruto-kun."
Setelah cukup lama terdiam bersama Naruto kembali mengecup kening mereka berdua, "Ayo bangun, kita harus bersiap-siap, yang lain pasti sudah menunggu," ucap Naruto.
"Tapi sebelum itu...," gantung Akeno lalu bersama Kuroka mengecup pipi Naruto, "morning kiss dulu," lanjut Akeno lalu tersenyum.
Naruto yang kembali di cium mereka berdua terdiam dengan wajah memerah, Kuroka serta Akeno yang melihat ekspresi Naruto tersenyum sambil tertawa kecil.
"Ghh... Mou... Ayo bangun."
.
.
Naruto keluar dari ruang Kuroka dan membiarkannya serta Akeno membersihkan diri mereka, begitu menutup pintu Naruto melihat Hinata yang berjalan ke suatu tempat, melihatnya Naruto langsung mendekatinya.
"Hinata-chan!" panggil Naruto membuat Hinata menghentikan langkahnya, "Ada perlu apa, Namikaze-san?" Naruto yang mendengar cara Hinata memanggilnya terdiam entah kenapa hatinya tertusuk sesuatu yang tak kasap mata.
"Kenapa... Kau memanggilku begitu?"
"Tidak ada... jika tidak ada perlu, aku akan pergi," balas Hinata lalu berniat melanjutkan langkahnya, namun secara refleks Naruto menangkap tangannya, "lepaskan aku!" ucap Hinata memaksa Naruto melepas tangannya.
Naruto yang mendengar itu melepaskan tangan Hinata tanpa melawan, "Apa... Kau membenciku karena melanggar janjiku?" tanya Naruto membuat Hinata terdiam. "Kau sudah menepati janjimu... Jadi kau tidak perlu ada di dekatku lagi, Naruto-kun... Arigato," jawab Hinata lalu meninggalkan Naruto yang terdiam di tempat.
Mendengar kalimat Hinata rasanya membuat hatinya tertusuk sesuatu tak kasap mata, Naruto lalu menyandarkan dirinya di dinding sambil menyentuh dadanya, ini... Adalah kesekian kalinya dia melanggar janji yang dia buat.
.
Helicap landing
.
Beralih ke sebuah menara tower yang ada di salah satu pegunungan, mereka mendapat sinyal ada sekitar 4 helicopter dari negara USA, China, Korea dan Inggris datang ke tempat mereka.
["Kontak terhadap menara, di sini US-P462 membawa tamu penting ke dalam markas izin untuk mendarat."]
["Disini, KR-276 membawa tamu penting untuk ke markas, meminta izin untuk mendarat!"]
["Lapor kepada pihak menara, Kami CN-096 meminta izin untuk mendarat, ada tamu penting yang kami bawa."]
["EN-211 kepada menara, kami membawa tamu penting ke dalam markas, Izin untuk mendarat!"]
"Tampaknya banyak sekali tamu penting yang datang," ucap salah satu pengawas yang mendengar kontak mereka, salah satu pengawas lain pun melakukan kontak balasan dengan mereka, ["Kontak terhadap US-P462, KR-276, CN-096, EN-211, kalian di izinkan mendarat."]
Bum!
Tak lama setelah itu, tempat yang awalnya rerumputan luas terbuka lebar menjadi tempat lapangan besi luas dengan 4 tempat landasan Helicopter.
Tak berselang lama, para Helicopter pun sama-sama mendarat di landasan Helicopter, setelah itu landasan itu pun turun ke bawah di ikuti area tersebut tertutup kembali layaknya rerumputan luas.
Setelah mencapai ke dalaman yang di tentukan, dari masing-masing Helikopter pun keluar empat orang dengan membawa sebuah tas, "Huft, akhirnya bisa pulang kembali ke rumah," gumam seorang perempuan rambut biru pendek yang keluar dari helikopter China.
"Uwaahh... Besar sekali," gumam seorang perempuan rambut merah di ikat pony tail yang keluar dari helikopter Amerika sambil melihat sekitarnya dengan antusias. "Maa, ayo jaga sopan santunmu," peringat seorang perempuan rambut kuning panjang yang ada di samping belakang perempuan rambut merah.
"Tidak aku sangka Jepang bisa membuat markas seperti ini," gumam seorang pria rambut hitam yang keluar dari helikopter Inggris sambil merapikan pakaiannya.
"..." seorang perempuan rambut putih panjang yang keluar dari helikopter China hanya diam sambil memandang sekitarnya.
Tak berselang lama, Shikaku, Minato serta Kakashi datang ke tempat mereka berempat. Empat orang itu pun meletakkan tas mereka lalu memberi hormat, Shikaku, Minato dan Kakashi pun membalas hormat mereka.
"Selamat datang di markas kami dan menyempatkan waktu untuk melihat kemampuan team baru kami, Yoko Littner-san, Lavinia Reni-san, Alisa Ilinichina Amiella-san, Cao Cao-san, dan Touka Kirishima-san," ucap Minato menyapa mereka lalu menurunkan hormatnya di ikuti yang lain.
"Bukan masalah, General... Lagi pula team ini terlalu muda untuk ikut seperti ini, saya juga terheran-heran kenapa Tenno-sama mengizinkan mereka ikut," ucap Cao Cao sambil mengelus dagunya, lalu matanya melihat ke arah Kakashi yang masih terdapat beberapa luka akibat pertarungannya dengan Naruto.
"Ada apa dengannya?" tanya Cao Cao penasaran membuat semua melihat ke arah Kakashi. "Nanti akan saya jelaskan, untuk sekarang mari ikuti kami, kalian pasti lelah... Untuk sekarang beristirahatlah sebentar lalu kalian bisa mengecek mereka," ucap Minato menuntun mereka ke tempat istirahat.
.
Traning Land
09.00 AM
.
Beralih ke tempat latihan, tampak seluruh team Naruto kecuali Hinata telah berkumpul di sana dan menyiapkan senjata mereka. Para tentara Sekitar juga sudah memulai latihan mereka sambil sesekali melihat kegiatan Team Naruto.
"Ohayo!l," semua seketika menoleh ke sumber suara dan mereka melihat Naruto berjalan mendekati mereka bersama Akeno dan Kuroka di belakangnya.
"Ohayo!" balas yang lainnya bersamaan. Akeno serta Kuroka lalu berhenti di depan Arthuria yang juga melihat mereka, "Ohayo, Akeno-chan, Kuroka-chan," sapa Arthuria tersenyum formal.
"Ohayo, Senpai," balas mereka kompak sambil tersenyum formal. "Bagaimana keadaan lukamu? Apakah sudah sehat? Seharusnya kau istirahat saja," ucap Arthuria.
"Oya~Oya~, aku baik-baik saja kok, tidak perlu mengkhawatirkanku, aku baik-baik saja kok."
"Begitukah? Syukurlah kalau begitu."
"..."
"..."
"..."
"Tidak akan aku biarkan kalian mendahului ku!" batin mereka bertiga kompak, Naruto yang membelakangi mereka merinding. "Ada apa? Masuk angin?" tanya Sasuke ketika melihat Naruto merinding.
"Tidak... Aku hanya merasakan sesuatu yang tidak enak," jawab Naruto, Shikamaru yang mendengar itu mendekati Naruto lalu menepuk bahunya dengan ekspresi serius. "Semoga kau selamat, Naruto," ucap Shikamaru, Naruto yang melihat dan mendengar itu berkedut alisnya.
"Bisakah kau tidak mengatakan itu? Seolah-olah kau berkata bahwa aku akan dalam bahaya."
"Memang."
Duak!
"Ittai!"
.
.
Disclaimer :
Naruto Masashi Kisimoto
High School DxD Ichiei Ishibumi
Summary : Dunia Modern, dimana Dunia sudah maju dengan teknologi canggih yang membantu peradaban manusia, namun karena saking canggihnya, para ilmuwan nekat membuat sesuatu yang berbahaya, namun saat melakukan tes terjadi kesalahan besar. Sesuatu yang berbahaya itu menyebar dengan cepat membuat panik orang-orang dan mereka harus melarikan diri untuk bertahan hidup, akankah peradaban manusia musnah sepenuhnya?
This Is The End the World?
Pair :
Naruto x ...
Sasuke x Sakura
Issei ( Dead )
Shikamaru x ...
Genre : Alternative Universe, Adventure, Fantasy, Friendship, Family, Horror, Tragedy, Mystery, Humor, Sci-Fi, Future.
Rate : M
Warning : Typo, OC, OOC, AU, Multichap, Alur berantakan dan Lain-lain, Smart!Naru, Smart!Shikamaru, Smart!Sasuke.
" Naruto " berbicara
" Naruto " batin
["Naruto."] bicara melalui walkie talkie
["Naruto."] balasan dari Walkie talkie.
.
Skillet – Back from the Dead
.
B-ba-b-b-b-ba-ba-back
B-ba-b-b-b-ba-ba-back
( Gambar memperlihatkan gambar beberapa huruf )
(Drum Sfx)
B-ba-b-b-b-ba-ba-back
B-ba-b-b-b-ba-ba-back
(Lalu muncul tulisan judul cerita This is The End the World?)
Cold and black inside this coffin
(Layar berubah di ganti dengan sosok Naruto yang tengah bersandar di luar mobilnya sambil melihat ke langit malam)
Cause you all try to keep me down
(Lalu Layar kembali di ganti dengan Shikamaru serta Issei yang tengah berkerja membuat sebuah alat dengan Sasuke yang mempersiapkan sebuah senjata tembak di samping mereka bersama Choiji.)
How it feels to be forgotten
(Layar berubah ke arah Shizuka serta Sakura dan Ino yang tengah mencoba membuat sebuah ramuan)
But you'll never forget me now
(Lalu layar berubah ke arah Akeno, Rias, Arthuria, Koneko, Kuroka, Sona, Tsubaki, Xenovia, Irina serta Hinata yang juga mempersiapkan senjata mereka masing-masing, lalu Arthuria menoleh ke arah lain)
Enemies clawing at my eyes, I
(Layar kembali berubah menjadi para Zombie dari berbagai jenis menyerang para Manusia)
Scratch and bleed, just to stay alive, yeah
(Gambar kembali berubah beberapa manusia yang mencoba melawan walau akhirnya mereka tetap mati)
The zombies come out at night
(Lalu layar kembali berubah dengan ribuan Zombie yang berjalan di seluruh kota)
They'll never catch me
They'll never catch me
(Layar kembali berganti dengan Naruto serta teman-temannya yang memasuki kendaraan mereka)
B-ba-b-b-b-ba-ba-back
B-ba-b-b-b-ba-ba-back
(Gambar pun berubah dengan gambar kendaraan mereka yang berjalan di kota mati)
Drum Sfx
(Gambar memperlihatkan Naruto yang memasukkan gigi Mobilnya)
Light it up, light it up, now I'm burning
(Layar kembali di ganti dengan Naruto yang memacu kendaraannya bersama Irina di sampingnya menembak para Zombie dari jendela di ikuti sebuah Truk yang di kendarai Rossweisse bersama Sasuke di sampingnya)
Feel the rush, feel the rush of adrenaline
(Gambar kembali di ganti dengan bagian belakang Truk di mana terdapat Shikamaru serta yang lainnya tengah menembak para Zombie yang mengikuti mereka)
We are young, we are strong, we will rise
(Layar kembali di ganti dengan Chouji yang mengaktifkan senjata berondong di belakang dan mulai menembak para Zombie dengan membabi buta.)
Cause I'm back, back, back from the dead tonight
(Lalu layar kembali di ganti dengan ledakan beruntun yang terjadi di belakang truk bersama dengan zombie besar mengejar mereka, lalu gambar berubah dengan Arthuria yang menembak Zombie tersebut dengan Sniper miliknya)
To the floor, to the floor, hit the red line.
(Layar kembali berubah menjadi Sasuke serta Kuroka, Koneko, Sona, Hinata, Ino dan Rias yang saling membelakangi menembak para Zombie yang mengepung mereka )
Flying high, flying high at the speed of light
(Layar kembali di ganti dengan Rossweisse mengendarai sebuah kendaraan berukuran sedang bersama Xenovia, Shikamaru, Akeno, Irina, Tsubaki dan Chouji yang duduk di belakang kendaraan sambil menembak para Zombie dengan senjata mereka.)
Full of love, full of light, full of fight
(Layar kembali di ganti dengan mobil Naruto yang menghindari berbagai ledakan di belakangnya)
Cause I'm back, back, back from the dead tonight
(Layar kembali dengan yang berbelok tajam dan memperlihatkan Naruto yang mengeluarkan pistolnya dan menembakkan sebuah peluru.)
.
.
Chapter 18 : Day 9 Survivor Part 1
.
.
"Ghh, bisakah kau tidak memukulku?" tanya Shikamaru mengelus kepalanya yang kena jitak dari Naruto. "Gomen... Entah kenapa hari ini aku benar-benar tidak ingin di ganggu," jawab Naruto dengan ekspresi datarnya lalu ia melihat sekitarnya dan tidak menemukan Hinata di antara mereka.
"Oi, Naruto kenapa wajahmu tampak murung?" tanya Chouji, namun Naruto menggelengkan kepalanya. "Tidak... Aku tidak apa," jawab Naruto dengan nada lemah.
Naruto lalu melihat sekelilingnya kembali dan ia tidak melihat Hinata sedikit pun, "ya... Akan lebih baik jika dia tidak ikut," gumam
Naruto sambil menyentuh dadanya kembali sesaat dan setelah itu ia menatap teman-temannya dengan ekspresi seserius mungkin.
"Kalian semua bersiaplah, seperti yang kalian ketahui, kita akan melakukan latihan dan kemarin kita mendapat kabar bahwa akan ada satu pemimpin Pasukan dari Inggris, China, Korea dan Amerika akan melihat kemampuan kita," ucap Naruto menjelaskan, "mereka berpikir kita terlalu muda untuk ikut hal seperti ini, tapi kita telah melawan mereka dan bertahan selama tiga hari di mana terdapat banyak zombie, maka dari itu kita buktikan kepada mereka akan kemampuan kita."
Semua teman-teman Naruto yang mendengar itu menganggukkan kepala mereka.
.
.
Neji Room Side
.
.
Beralih ke salah satu ruang medis, terdapat Neji yang terbaring dengan infus, mata kirinya yang di perban, tangan kanan dari pergelangan sampai bahu yang di gips cukup besar begitu juga kakinya, dan perban yang melilit di dadanya.
Di samping kasur Neji, terdapat Hinata yang menatap khawatir Neji yang terbaring tak lama setelah itu, Hiashi datang dan menepuk pundak Hinata membuatnya melihat ke arahnya.
"Tou-san," gumam Hinata. "Kenapa kau masih di sini? Bukankah kau harusnya bergabung dengan teman-temanmu?" tanya Hiashi sambil duduk di sebelah Hinata.
Hinata yang mendengar itu menundukkan kepalanya sambil mengalihkan pandangannya, "Tidak... Aku tidak jadi ikut," jawab Hinata membuat Hiashi melirik ke arahnya.
"Apakah ini karena Naruto menghajar Neji sampai seperti sekarang?" Hinata yang mendengar itu semakin menundukkan kepalanya, "kau tahu, ayah setuju dengan apa yang dikatakan olehnya," lanjut Hiashi.
"Tidak selamanya kita harus terpuruk kehilangan seseorang yang kita cintai dan sayangi, kita harus bangkit dan melihat ke depan, jika kau bisa melindungi mereka maka lakukanlah bersama-sama, jika tidak sebaiknya diam dan menunggu bencana ini reda."
Hinata yang mendengar itu hanya diam, "Tou-san sudah bilang padamu untuk tidak ikut bersama mereka karena Tou-san khawatir dan tidak ingin anak seusiamu memegang senjata, namun Tou-san melihat kau tetap bersama mereka bahkan berniat ikut secara diam-diam, namun sekarang kau tidak ingin... apa yang sebenarnya terjadi? Apa alasan terkuatmu tetap ikut? Namun sekarang kau tidak ingin ikut?" tanya Hiashi serius.
Hinata yang mendengar itu lalu berdiri dari duduknya tanpa melihat ke arah ayahnya, "Aku mau pergi mencari udara segar dulu," ucap Hinata lalu meninggalkan Hiashi seorang diri.
"Hah..."
Setelah keluar dari kamar Neji, Hinata pun berjalan tanpa arah sambil menundukkan kepalanya, tanpa Hinata sadari ada beberapa orang yang mengawasinya dari kejauhan.
.
.
Traning Land Side.
.
.
Kembali beralih ke tempat latihan, tampak teman-teman Naruto telah melakukan latihan ringan dengan menembak-nembak papan sasaran yang telah di sediakan, sementara Naruto Ia melihat teman-temannya melakukan latihan sambil memutar senjata berupa sabit yang dia dapat dari Azazel.
Para tentara yang melihat mereka hanya diam dan sedikit terkagum dengan kemampuan team Naruto yang mampu menggunakan senjata, beberapa tentara juga terfokus kepada Arthuria yang menggunakan Sniper bukan karena kehebatannya, melainkan karena buah dadanya yang berguncang karena setiap menembakkan sniper.
"Pemandangan yang indah!"
Naruto merasa tidak enak menoleh teamnya dan itu membuat para tentara yang sempat melihat 'keindahan' bergidik ngeri, tidak mau mati mereka menghilangkan hawa mereka dengan melihat ke arah papan sasaran.
merasa tidak apa-apa ia menoleh ke arah lain dan ia melihat Ayahnya datang bersama Shikaku, Kakashi serta lima orang yang tidak dia kenal.
"Kalian, bersiap," ucap Naruto membuat teamnya menoleh ke arahnya lalu memasang posisi bersiap, sementara Naruto ia langsung melipat sabitnya lalu meletakkannya di sebuah meja yang ada di sampingnya.
"Ohayo, Naruto," sapa Minato. "Ohayo, Tou-chan," balas Naruto sambil tersenyum tipis.
"Mungkin kau sudah mendapat kabar kemarin bahwa akan ada yang melihat kemampuanmu serta teammu, mereka lah yang akan menilai kemampuan kalian," ucap Minato menunjuk Yoko, Lavinia, Cao Cao, Alisa dan Touka secara bergantian.
Naruto yang mendengar itu pun memberi hormat kepada mereka di ikuti teamnya, Yoko, Alisa, Lavinia, Cao Cao serta Touka membalas hormat mereka.
"Kami sudah melihat data-data kalian, jadi tidak perlu memperkenalkan diri," ucap Touka sambil melihat Naruto serta yang lainnya satu persatu, "jika boleh jujur, kami cukup terkejut kalian menawarkan diri ikut pertempuran dan Tenno-sama menyetujuinya karena, kau... Namikaze Naruto berhasil mengalahkan 11 pasukan elite JSDF sendirian," lanjut Touka sambil melihat Naruto yang hanya berdiri diam dengan ekspresi tenangnya.
"Jujur itu cukup mengejutkan, anak seusiamu bisa mengalahkan mereka seorang diri, bahkan bisa di bilang terdengar konyol dan mustahil," timpal Yoko sambil berkacak pinggang.
"Untuk membuktikan kelayakan kalian, maka kami datang kemari untuk melihat kemampuan kalian... Karena kalian pasti sadar, jika kalian membuat kesalahan, nyawa kalian akan melayang dan merusak formasi pertempuran," ucap Alisa sambil menatap mereka tajam.
Semua yang mendengar itu terdiam dengan tubuh sedikit menegang, namun Naruto, Shikamaru serta Sasuke hanya diam dengan tenang.
"Maa... Kami sudah mengetahui itu," jawab Naruto sambil memejamkan matanya, "kami sudah mengalaminya."
"Hoo...," gumam Touka sambil melihat Naruto yang tampak tenang sekali di hadapan mereka, padahal dia hanyalah seorang rakyat biasa sementara dirinya adalah tentara, biasanya orang-orang biasa akan tegang di hadapan mereka namun Naruto tampak biasa saja.
"Jika kau sudah tahu, itu artinya kalian pasti sempat mengalami kerusakan Formasi dan kehilangan seseorang bukan?" tanya Cao Cao membuat semua sedikit menegang kecuali Naruto yang menundukkan kepalanya, "jika sudah tahu kenapa kalian tetap ikut? Apa kalian sudah percaya hal itu tidak terjadi lagi?"
"Cao-Cao, bicaralah yang sopan kepada mereka, jangan memberatkan hati mereka," ucap Lavinia kepada Cao-Cao. "Kau terlalu lembut, Lavinia-chan... Apa yang di lakukan Cao Cao tidaklah salah... Mereka memang sedikit harus di beri tekanan untuk mempersiapkan mental mereka," balas Yoko menyetujui perkataan Cao Cao.
Minato yang melihat situasi semakin memanas menatap khawatir putranya akan menghajar Cao Cao dan menyebabkan perkelahian kembali.
"Memangnya salah jika kami ikut?" tanya Naruto masih menundukkan kepalanya, perlahan ia mengangkat kepalanya dan menatap Cao Cao dengan tatapan dinginnya, "jika kami merasa yakin maka akan kami lakukan, jika tidak kami tidak akan melakukannya."
"Hoo? Kalian hanya bertahan selama 3 hari dari bencana seperti ini, kalian belum pernah merasakan pertempuran seperti perang lainnya jadi jangan merasa bangga," balas Cao Cao dengan sakras.
"Memangnya salah? Setidaknya kami bisa bangga dengan pencapaian itu dari pada kami harus mati di luar sana, apa lagi kami mendapat informasi penting dari pada kalian," ucap Naruto dengan ekspresi menantang, Cao Cao yang melihat itu ingin menghajar Naruto begitu juga sebaliknya namun ia langsung di tahan oleh Touka yang menatap datar dirinya dan Naruto di tahan oleh Shikamaru serta Sasuke.
"Hentikan... Sudah cukup, Komandan Cao Cao. Tolong jaga sikapmu pada mereka, kau juga harus ingat merekalah yang membagi informasi penting untuk menyelesaikan bencana ini, jadi tolong apresiasi perbuatan mereka," ucap Touka membuat Cao Cao mendecih.
"Oi Baka! Apa kau tidak bisa tenangkan dirimu untuk 5 menit saja?! Kau sudah bertarung dua kali dan ingin bertarung lagi?! Apa kau ini maniak bertarung?!" tanya Sasuke sambil mengunci pergerakan Naruto.
Naruto yang mendengar itu hanya diam lalu melepaskan paksa kuncian Sasuke, "Aku tidak ingin mendengar itu darimu, Ayam," balas Naruto sambil merapikan pakaiannya. "Hah?! Katakan itu sekali lagi aku pukul kau?" balas Sasuke dengan perempatan di dahinya.
Minato yang melihat itu menghembuskan nafasnya, sementara Shikaku memijit keningnya, untung saja putranya menghentikan Naruto sebelum terjadi perkelahian.
Shikamaru yang melihat itu menghembuskan nafasnya lalu sedikit membungkukkan badannya sesaat, "Maafkan atas perbuatan temanku ini, dia saat ini dalam keadaan yang tidak ingin di ganggu karena suatu masalah, jadi mohon maaf jika dia berbuat lancang kepada kalian."
"Tidak apa... Ini juga salahnya Komandan Cao Cao yang terlalu berlebihan," balas Touka tidak mempermasalahkan perbuatan Naruto. "Bolehkah aku bertanya? Touka-san namamu seperti orang Jepang, tapi kenapa kau menjadi tentara di negara yang berbeda?" tanya Sona penasaran.
"Hm, bisa di bilang aku memang kelahiran di Jepang, tapi beberapa tahun lalu aku serta keluargaku pindah ke China, dan aku mendaftarkan diriku sebagai tentara China," jawab Touka dengan ekspresi datarnya.
Sona yang mendengar itu menggumam pelan sebagai respons, "Baiklah, kalau begitu bagaimana jika kita mulai?" tanya Kakashi, semua yang mendengar itu menganggukkan kepalanya, "baiklah kalau begitu, di mulai dari Naruto-san, tunjukkan kemampuanmu," ucap Kakashi.
Naruto yang mendengar itu berjalan menuju meja senjatanya dan mengambil dual revolvernya, serta beberapa mag senjatanya untuk mengisi ulang pelurunya, berikutnya ia mengambil sabit lipatnya dan menyimpannya di belakang pinggangnya, dan terakhir Naruto mengambil pisau kecilnya dan menggigit gagangnya dengan mata pisau ke arah kanan.
"Untuk apa dia menggunakan pisau seperti itu?" gumam Yoko penasaran, Naruto pun memasang kuda-kuda bersiap. Kakashi yang melihat itu menyiapkan stopwatchnya, "Baiklah di sini kau akan di hadapkan 50 papan sasaran yang sudah di modifikasi untuk bergerak dan menyerangmu, hancurkan satu target maka target lain akan muncul, hancurkan semua dan tempuh waktu terbaikmu."
"Roger," gumam Naruto dengan pisau di mulutnya. "Kalau begitu, Mulai!" ucap Kakashi memencet tombol stopwatchnya.
Setelah itu dari bawah muncul beberapa papan sasaran yang bergerak ke arah Naruto cukup cepat, begitu keluar Naruto langsung menembakkan dual revolvernya dan berhasil mengenai beberapa sasaran tepat di kepala.
Papan sasaran yang terkena tembak pun turun ke bawah dan di ganti dengan papan baru yang muncul dari arah yang berbeda. Mata Naruto langsung melirik sekitarnya secepat mungkin untuk mengetahui lokasi papan sasaran.
Setelah mengetahuinya, ia pun menembak beberapa sasaran yang ada di sisinya, ketika dua senjatanya kehabisan peluru, serta kecepatan papan sasaran bergerak ke arahnya lebih cepat, Naruto pun memutuskan menyimpan satu pistolnya lalu mengambil pisau yang ada di mulutnya dan langsung bergerak maju ke arah para papan sasaran di depannya.
Semua yang melihat Naruto bergerak maju terkejut dengan apa yang di lakukan Naruto. Setelah di dekat salah satu sasaran, dengan lincah Naruto memutar pisau di tangan kirinya lalu menebas pisaunya ke arah papan sasaran di depannya hingga kepala sasaran di depannya terputus dari badan sasaran.
Setelah memutuskan papan kepala sasaran di depannya, Naruto kembali berlari melewati papan tersebut ke arah papan lainnya, lalu melakukan serangan brutal dengan melayangkan tinju sambil memegang pistolnya, melakukan tendangan pada kepala sasaran serta menusuk dan menebas leher papan sasaran di dekatnya hingga putus.
"Jadi begitu... Di saat ia mendapatkan situasi dimana ia tidak bisa mengisi ulang peluru senjatanya dia menggunakan kekuatan fisiknya untuk melawan mereka dengan mencari titik lemah para Zombie," gumam Touka sambil menyentuh dagunya menganalisis kemampuan Naruto.
"Heh, bukankah itu artinya dia akan tetap terkena racun dari p
Merasa telah menghancurkan banyak papan sasaran, Naruto kembali melihat sekitarnya di mana saat ini papan sasaran memiliki jarak yang cukup jauh darinya, menggunakan kesempatan tersebut dengan cepat Naruto mengisi ulang peluru pistol di tangan kanannya.
Setelah terisi kembali, Naruto melempar pisau di tangan kirinya ke salah satu sasaran di arah kiri yang jaraknya perlahan mulai mendekat kearahnya lebih dulu hingga tepat mengenai leher papan sasaran, lalu dengan cepat Naruto menembak beberapa papan sasaran di depannya hingga tepat mengenai kepala.
Begitu seluruh papan sasaran di depannya telah habis, Naruto bergerak kiri lalu mendorong pisau yang menancap di papan sasaran sebelumnya hingga memutuskan leher papan sasaran.
Tak berselang lama, tiba-tiba muncul beberapa papan sasaran yang memiliki bentuk berupa Mutant Zombie di antara papan sasaran normal. Melihat itu Naruto kembali melempar pisaunya ke arah papan sasaran berukuran besar ke arah kepala, namun secara tiba-tiba kepala papan sasaran itu tertutup sebuah besi yang membuat Naruto sedikit tersentak.
Mata Naruto semakin melebar ketika tiba-tiba papan sasaran berbentuk kadal bergerak cepat ke arahnya, dengan refleknya Naruto melompati papan sasaran itu hingga membuatnya melewatinya.
"Ternyata tidak hanya papan sasaran normal, mereka juga menyiapkan papan sasaran yang memiliki kemampuan sama persis dengan para Zombie Mutant," batin Naruto begitu mendarat dari lompatannya.
Naruto dengan cepat memasukkan pistol di tangan kanannya ke saku dan tangan kirinya menarik sabit lipat di pinggang belakangnya, setelah di tarik Naruto langsung memanjangkan gagang sabitnya lalu memutarnya sesaat hingga membuat mata Sabit yang terlipat terbuka.
Papan sasaran berbentuk kadal dalam jumlah banyak kembali muncul dan bergerak cepat ke arah Naruto di ikuti papan sasaran lainnya, Naruto yang melihat itu terdiam namun matanya berkilat tajam, tanpa memakan banyak waktu, dia langsung maju dan menebas seluruh papan sasaran di hadapannya secara brutal.
Karena Sabit memiliki jarak yang cukup jauh, membuat serangannya berhasil mengenai para Zombie dengan area yang cukup luas. Melihat papan sasaran terakhir berupa papan sasaran besar yang di mana kepalanya bisa tertutup oleh besi, Naruto menggenggam erat sabitnya lalu mengayunkannya dengan sekuat secara horizontal ke bagian badan papan sasaran hingga membuat papan sasaran terbelah menjadi dua.
Begitu fungsi besi di kepala papan Mutant Zombie besar tidak bekerja, Naruto memutar sabitnya ke arah sebaliknya lalu mengayunkan kembali hingga membuat kepala papan sasaran tersebut hancur.
Melihat tidak ada papan sasaran yang kembali muncul, Naruto pun menghembuskan nafasnya sambil memutar sabit di tangannya lalu meletakkannya di bahu.
"Bagaimana?" tanya Naruto sambil melirik Kakashi untuk mengetahui seberapa lama waktu yang dia habiskan. "Cukup mengesankan kau menghabiskan 50 papan sasaran dalam waktu 3 menit," jawab Kakashi, mendengar itu Naruto terdiam sesaat lalu menatap datar papan sasaran yang berserakan di depannya.
"Souka...," gumam Naruto dengan nada tenang. "Bagaimana menurut kalian?" tanya Shikaku kepada pemimpin pasukan lainnya.
"Tidak terlalu buruk," jawab Touka sambil melihat ke arah Kakashi lalu melihat ke arah Naruto yang membelakanginya. "50 Zombie dalam waktu 3 menit, itu pun di antaranya terdapat Mutant Zombie, aku rasa dia cukup pantas," ucap Laviana Sambil mengelus dagunya.
"..." Angelina terdiam sesaat lalu melipat tangannya di dada sambil menghembuskan nafas, "awalnya aku ingin menolak, tapi karena keterbatasan peluru dari senjatanya dia menggunakan akalnya untuk tetap bertahan tanpa terkena gigit atau tersentuh sama sekali, jadi aku setuju."
Yoko yang mendapat giliran hanya mengangkat kedua tangannya menandakan dia tidak bisa berkata-kata, ia lalu melihat ke arah Cao Cao, "Bagaimana menurutmu, Cao Cao?" tanya Yoko, sementara Cao Cao yang mendengar itu mendecih. "Jika pun aku tidak menyetujuinya aku akan kalah suara," balas Cao Cao.
Teman-teman Naruto yang melihat Naruto lulus tersenyum senang, Shikamaru yang melihat Naruto masih berdiri mematung mendekati Naruto dan ia melihat sahabatnya itu terdiam dengan wajah sedikit murung.
"Naruto?" panggil Shikamaru sambil menepuk bahu sahabatnya, Naruto yang di tepuk bahunya tersadar dari lamunannya dan melihat ke arah Shikamaru yang menatap penasaran sekaligus khawatir terhadapnya.
"Kenapa kau melamun? Ada apa? Apa ada yang mengganggumu?" tanya Shikamaru beruntun, Naruto yang mendengar itu terdiam lalu ia melipat sabit Harverest Antares di tangannya menjadi ukuran kecil.
"Tidak... Tidak ada apa," jawab Naruto sambil mencoba tersenyum. "Jangan berbohong, pasti ada yang mengganggu pikiranmu bukan? Katakan saja padaku," balas Shikamaru, Naruto yang mendengar itu terdiam lalu pergi ke tempat posisi teman-temannya berada di ikuti Shikamaru di sampingnya.
"Baiklah, berikutnya Uchiha Sasuke, silahkan maju," panggil Kakashi ketika semua papan sasaran yang hancur telah di bersihkan. Sasuke yang di panggil pun pergi mengambil senjatanya dan bersiap, Naruto serta Shikamaru yang telah di tempat aman dan sedikit berjauhan dari yang lainnya mulai saling berbicara.
"Tadi... Aku ketemu Hinata-chan saat aku keluar dari kamar Kuroka-chan, dia masih marah padaku karena memukul kakaknya hingga babak belur serta aku melanggar janjiku padanya," jawab Naruto sambil sedikit menundukkan kepalanya, "dia juga bilang padaku tidak ingin bertemu denganku...," lanjut Naruto sambil menutup wajahnya dengan sebelah tangannya.
"Aku bingung harus berbuat apa agar Hinata-chan mau memaafkanku," gumam Naruto kembali, Shikamaru yang mendengar itu terdiam sesaat. "Jadi karena itu kau melamun," gumam Shikamaru lalu menghela nafasnya.
"Maa... Siapa pun pasti akan marah ketika salah satu keluarganya di hajar hingga dalam keadaan kritis, dan sudah sepantasnya orang itu di benci." Perkataan tersebut langsung menusuk Naruto dan membuatnya pundung, Shikamaru yang melihat itu kembali menghela nafasnya.
"Apa kau sudah meminta maaf padanya?"
"Dia saja tidak ingin melihatku, bahkan dia menjauh dariku, bagaimana aku mau minta maaf? Walau kemarin aku sudah meminta maaf tapi dia masih membenciku."
"Kalau begitu kenapa tidak kau bicarakan secara baik-baik bersama ayahnya?" saran Shikamaru, "ah, itu mustahil, ayah Hinata orangnya sangat tegas dan keras," lanjut Shikamaru sambil memijit keningnya.
"Andai saja, Kuroka-san tidak terkena pisau Adik Arthuria dan kau tidak mengamuk, ini tidak akan terjadi," gumam Shikamaru melirik ke arah Kuroka yang menatap fokus Sasuke yang menunjukkan peformanya.
Naruto yang mendengar itu terdiam, Shikamaru yang melihat Naruto masih murung menggaruk belakang kepalanya, dirinya bingung berbuat apa agar hubungan Naruto serta Hinata kembali normal.
"Aku akan mencoba mencari Hinata, mungkin dia sekarang di kamar kakaknya bersama ayahnya dan pamannya," gumam Naruto. "Apa kau sudah mendapat ide agar Hinata memaafkanmu?" tanya Shikamaru dan di balas gelengan oleh Naruto.
"Belum, tapi aku akan mencobanya hingga dia memaafkanku... Walau harus menerima pukulan dari ayah dan pamannya... Aku akan terus mencobanya," jawab Naruto lalu pergi meninggalkan Shikamaru.
"Ya... Semoga kau berhasil," gumam Shikamaru mendukung Naruto.
.
.
Hinata Side
.
Beralih ke arah Hinata, saat ini ia ada di kamar mandi sambil membasuh wajahnya, setelah membasuh wajahnya ia menatap dirinya di cermin. Bayangan saat dirinya mengatakan untuk Naruto menjauhinya serta memaksanya melepaskan tangannya kembali terbayang.
Mengingat itu Hinata merasakan sakit di dadanya, namun ia menggelengkan kepalanya pelan lalu keluar dari kamar mandi dan berniat kembali menuju kamar Neji, namun langkahnya terhenti karena sesuatu.
"Ah benar juga... Aku harus mengambil sesuatu di kamarku dulu," gumam Hinata lalu pergi ke arah lain menuju kamarnya, dari kejauhan terdapat beberapa orang yang mengawasinya dari jauh, mereka yang melihat itu menyeringai.
"Hehe... Ayo kita bergerak."
.
.
Naruto Side
.
.
Kembali ke sisi Naruto, saat ini ia telah di depan kamar Neji. Ia memandang kamar tersebut sesaat lalu memberanikan dirinya untuk masuk.
"Permisi!" begitu dirinya masuk ia bisa melihat Hiashi serta Hizashi yang duduk di tepi kasur Neji bersama seorang perempuan rambut cokelat, wajahnya sangat mirip dengan Hinata.
"Kau!" geram Hizashi bangun dari duduknya dan langsung mendekati Naruto, tanpa banyak bicara dia langsung memukul Naruto tepat di wajahnya.
Naruto yang tahu itu, tidak menghindar sama sekali melainkan ia menerima pukulan Hizashi secara iklas, tidak puas hanya sekali pukulan Hizashi terus memukul Naruto tepat di badan serta wajahnya.
"Kau! Berani-beraninya kau kemari! Setelah apa yang kau perbuat pada putraku?!" ujar Hizashi melampiaskan kekesalannya tak peduli banyak yang melihat mereka, sementara Naruto dia hanya diam dan terus menerima pukulan Hizashi.
Saat Hizashi akan kembali memukul wajah Naruto, pukulannya di hentikan oleh Hiashi. "Hentikan, Hizashi," pinta Hiashi. "Lepaskan aku! Hiashi! Biarkan aku memberinya pelajaran! Biarkan aku membuatnya berakhir seperti apa yang dia lakukan terhadap Neji!" teriak Hizashi.
"Cough!" Naruto terbatuk mengeluarkan sedikit darah lalu mengusap sudut bibirnya yang terdapat darah dan melirik ke arah Hiashi, "tidak apa, Hiashi-san... Aku siap menerimanya... Lagi pula ini salahku membuat Neji-san sekarat."
"Sudah cukup, itu bukan semuanya kesalahanmu...," ucap Hiashi sambil mendorong Hizashi menjauh dari Naruto, "Hanabi, panggilkan dokter serta persiapkan obat-obatan untuknya," ucap Hiashi kepada perempuan rambut cokelat yang masih di dalam kamar Neji
"H-Ha'ik!" balasnya tergagap lalu cepat-cepat menyiapkan obat-obatan untuk menutupi Luka lebam Naruto. Hiashi lalu membantu Naruto dan mengajaknya masuk kamar Neji, "Ayo... Kau pasti ingin membicarakan sesuatu kan?" tanya Hiashi.
.
.
Setelah duduk membelakangi Nejinyang terbaring, Naruto langsung di obati oleh Hanabi. Keadaan sangat hening dan canggung di kamar tersebut apa lagi Hizashi terus menatap tajam dirinya.
Naruto yang di obati oleh Hanabi melirik ke arah Hanabi yang fokus mengobatinya, ekspresi seriusnya benar-benar mirip sekali dengan Hinata. "Jadi... Kau Hanabi? Adik Hinata-chan?" tanya Naruto, Hanabi yang mendengar itu menganggukkan kepalanya.
"Kau sangat mirip dengannya," lanjut Naruto sambil tersenyum tipis, Hanabi yang mendengar itu hanya tersenyum lalu fokus mengobati Naruto kembali.
"Lalu? Ada apa kau kemari, Naruto?" tanya Hiashi. Naruto yang mendengar itu menatap Hiashi serta Hizashi lalu ia membungkukkan badannya kepada mereka, "Tolong maafkan saya atas apa yang telah saya perbuat," ucap Naruto membuat Hizashi menatap tidak senang Naruto.
"Hah?! Kau pikir dengan hanya meminta maaf bisa mengembalikan keadaan putraku?! Apa kau sudah kehilangan otak?! Kau membuat putraku lumpuh?! Dan kau datang kemari meminta maaf setelah apa yang kau perbuat?!"
"Aku tahu aku salah! Tapi waktu itu aku termakan emosi karena temanku terluka," balas Naruto, "aku tahu memang bukan Neji-san yang membuatnya terluka... Namun saat aku melihat teman terdekatku terluka... Rasanya sangat menyakitkan dan aku benar-benar marah..."
"Selain itu aku masih tidak bisa melupakan kematian sahabatku... Saat membayangkan Kuroka-chan akan berakhir seperti sahabatku nanti, aku tidak bisa memaafkannya, maka dari itu aku lepas kendali dan membuat Neji-san seperti sekarang, aku benar-benar minta maaf," lanjut Naruto panjang lebar.
"Selain itu, sejak awal aku tidak mengijinkan Hinata-chan untuk ikut denganku, aku sudah berusaha membuatnya tidak ikut tapi dia tetap , aku berpikir jika Hinata membicarakan ini dengan Hiashi-san, dia tidak akan mendapat Izin namun kemarin dia berada di sana dan membuatku terkejut karena Hiashi-san memberikannya Izin. Aku benar-benar tidak ada niatan mengajak Hinata-chan ikut, aku sudah mengatakannya namun Neji-san tidak percaya... Jika perlu aku akan membawakan saksi mata," lanjut Naruto panjang lebar.
"Itu tidak perlu," balas Hiashi, "aku sudah tahu itu, karena memang aku tidak mengijinkan nya ikut, tapi dia melawan perkataan ku dengan bergabung dengan teman-temanmu secara diam-diam."
"Aku tahu apa yang kau lakukan bukan 100 persen kesalahmu, jadi kau tidak perlu meminta maaf... Ini juga kesalahan Neji yang tidak mau mendengarkan terlebih dahulu," lanjut Hiashi, "tapi tidak bisa di pungkiri dia khawatir karena ia kehilangan kekasihnya saat menyelamatkan diri, maka dari itu dia tidak mau kehilangan orang terkasihnya kembali."
Naruto yang mendengar itu terdiam sesaat, "Aku sudah menduga hal itu... Maka dari itu aku berniat membangkitkan semangatnya agar tidak selalu terpuruk dari masa lalu... Walau aku berkata demikian aku juga masih terpuruk karena kematian sahabatku... Tapi ada teman-temanku yang lain selalu bersamaku dan membuatku semangat kembali," ucap Naruto lalu menggaruk belakang kepalanya sesaat sambil tersenyum canggung lalu tersenyum normal kembali.
"Berisik! Aku tidak mau mendengar apa-apa darimu! Yang pasti aku tidak akan memaafkan perbuatanmu!" balas Hizashi berteriak marah. "Diam Hizashi!" bentak Hiashi menatap tajam Hizashi
"Ini juga kesalahan putramu karena tidak mau mendengar info lebih detail dan membuatnya mengambil langkah yang salah, selain itu putramu telah berbuat berlebihan terhadap orang yang menyelamatkan putriku! Maka dari itu aku ingin kau memaafkannya! Jika kau tidak mau memaafkannya, aku juga tidak akan segan-segan terhadapmu agar kau memaafkannya!"
Naruto yang melihat Hiashi serta Hizashi berkelahi menatap tidak enak kepada mereka, karena dirinya mereka sampai berkelahi. "Anda tidak perlu sampai segitunya karenaku, Hiashi-san," pinta Naruto, "jika dia tidak memaafkanku maka aku akan menerimanya, jadi anda tidak perlu berkelahi dengan Hizashi-san."
"Tidak, dia ini memang harus sesekali di sadarkan untuk tidak mementingkan egonya dalam situasi seperti ini," balas Hiashi tegas membuat Naruto tidak bisa melawan.
Hizashi yang mendengar itu menggeram marah, dirinya masih tidak bisa memaafkan berbuatlah Naruto terhadap putranya.
"Kau! Beraninya kau berbicara seperti itu terhadap kakakmu sendiri?!"
"Ya! Aku berani agar kau mengubah sifatmu itu?!"
"Kalian berisik sekali..."
Semua yang mendengar itu menoleh dan mereka melihat Neji yang perlahan mulai membuka matanya, "Neji!" panggil Hizashi sambil memeluk putranya dengan lembut. "Neji-nii!" panggil Hanabi sambil meneteskan air matanya.
Hiashi yang melihat Neji tersadar menghela nafas lega begitu juga Naruto, lalu Hiashi menepuk bahu Naruto membuatnya melihat ke arahnya.
"Naruto, apa kau kemari juga mencari Hinata-chan?" Naruto yang mendengar itu menganggukkan kepalanya, "sayang sekali dia belum kembali sejak tadi... Mungkin saja dia ada di kamarnya... Kau carilah dia dan bicarakan baik-baik serta beritahu dia bahwa Neji telah sadar."
Naruto yang mendengar itu terdiam sesaat lalu menganggukkan kepalanya, "Baiklah... Sampai nanti, Hiashi-san!" ucap Naruto lalu berlari keluar menuju kamar Hinata.
.
.
Hinata Side
.
.
Kembali ke sisi Hinata, saat ini dia telah keluar kamarnya dengan membawa sapu tangan, saat akan pergi ke tempat Neji ia berhenti ketika melihat tiga orang mencegahnya.
Hinata yang tidak mengenal mereka kebingungan, "A-Ano... Siapa kalian?" tanya Hinata, salah satu pria tertawa pelan namun menyeramkan di telinga Hinata. "Khahaha, ne Ojou-chan, apakah kau punya waktu?" tanya pria tersebut sambil tersenyum mesum.
Hinata yang melihat itu ketakutan dan mengambil langkah mundur, namun ia harus terkejut ketika punggungnya menabrak sesuatu dan setelah itu ia semakin panik ketika ia di bekap oleh pria bertubuh kekar.
"Hahaha! Kita mendapatkannya! Ayo kita pergi ke tempat aman!"
.
.
Tap! Tap! Tap!
Kembali ke sisi Naruto, saat ini dia berlari cepat menuju kamar Hinata dan saat mendekati kamar Hinata ia melihat sebuah sapu tangan tergeletak di depan kamar Hinata dalam keadaan kotor seperti sudah di injak oleh beberapa orang.
"Ini sapu tangan Hinata-chan," batin Naruto mengambil sapu tangan itu, lalu tanpa banyak bicara Naruto langsung membuka pintu Hinata dengan keras dan ia tidak melihat Hinata sama sekali.
"Mungkinkah..." batin Naruto lalu menutup pintu Hinata dengan keras.
.
.
Traning land Side.
.
.
Beralih kembali ke tempat latihan, kali ini yang mengambil giliran adalah Arthuria dengan menggunakan Sniper miliknya. Yoko yang melihat Arthuria mendapat giliran dan menggunakan senjata sniper menatap tertarik karena ia juga merupakan specialist Sniper
Shikamaru yang tidak melihat Naruto kembali-kembali, berpikir apakah temannya itu baik-baik saja. Baru saja memikirkannya ia menerima sebuah panggilan dan ia pun melihat ponselnya dan tertera nama Naruto.
Tanpa pikir panjang dia menerima panggilan Naruto, "Naruto? Ada apa kau meneleponku?" tanya Shikamaru penasaran. ["SHIKAMARU! AKU BUTUH BANTUANMU!"] Shikamaru yang mendengar teriakan Naruto menjauhkan ponselnya sesaat dan menatap kesal ponselnya.
"Bisakah kau tidak berteriak?"
["Berisik! Cepat hidupkan alatmu, Scan markas ini lalu lacak keberadaan Hinata?!"] teriak Naruto membuat Shikamaru kebingungan. "Kenapa dengan Hinata?" tanya Shikamaru penasaran serta was-was.
.
.
"Saat aku... Mencari Hinata di kamarnya... Dia tidak ada... Aku hanya menemukan saput tangannya tergeletak di depan kamar!" balas Naruto sambil terus berlari dan mengecek setiap tempat dan lorong.
["Apa kau sudah mengecek kembali ke ruang Neji?"]
"Dia tidak ada di sana! Aku baru saja pergi dari kamarnya jika dia kembali ke kamar Neji aku sudah pasti melihatnya!"
Mata biru Naruto terus bergulir cepat melihat sekitar, ia terus menggeram kesal karena takut terjadi apa-apa terhadap Hinata. "SUDAH CUKUP! CEPAT HIDUPKAN ALATMU ITU! CEPATLAH?!" teriak Naruto penuh amarah.
["Ok! Ok! Tunggu sebentar! Jangan biarkan ponselmu mati!"] balas Shikamaru dengan nada panik lalu cepat-cepat menghidupkan chipnya lalu mengambil alih menjadi [Second System] seluruh markas.
Sasuke yang melihat Shikamaru menghidupkan alatnya kebingungan dan menatap penasaran apa yang di lakukan Shikamaru.
"Apa yang kau lakukan?"
"Naruto memanggilku dan menyuruhku mencari keberadaan Hinata, dia bilang Hinata di culik oleh seseorang," balas Shikamaru membuat Sasuke terkejut. "Apa?! Kenapa dia berpikir seperti itu?!" tanya Sasuke sambil melihat layar hologram Shikamaru.
Semua teman-teman Naruto yang mendengar seruan Sasuke menoleh ke arah mereka dan langsung mendekati mereka dengan wajah penasaran kecuali Pemimpin Pasukan dari negara lain yang menilai kemampuan Arthuria.
"Ada apa Shikamaru?" tanya Shikaku kepada anaknya. "Naruto mengatakan Hinata di culik oleh seseorang, dan dia memintaku mencari keberadaannya," jawab Shikamaru membuat Minato, Kakashi, Shikaku terkejut.
"Dia bilang, dia menemukan sapu tangan Hinata tergeletak di depan kamar Hinata, dengan hanya petunjuk itu saja dia berpikir demikian," jawab Shikamaru secepat mungkin mengecek seluruh kamera cctv di setiap markas.
["Karena aku ingat ada satu orang yang berniat macam-macam terhadap Hinata-chan!"] balas Naruto melalui telpon, ["dia adalah salah satu petinggi yang aku hajar babak belur, A."]
["Saat rapat dia memandang Hinata dengan lekat, aku yakin dia pasti menyuruh anak buahnya untuk melakukan ini!"]
"Kakashi! Minta semua pasukan untuk mencari setiap sudut markas keberadaan Hyuuga Hinata!" pinta Shikaku. ["Itu tidak perlu! Aku akan mencarinya sendiri!"] balas Naruto membuat semua terkejut.
"Tapi Naruto! Jika kita mengirim banyak pasukan untuk mencari kita dengan cepat menemukannya!"
["Aku bilang tidak perlu! Jika pun mengirim banyak pasukan untuk mencari, aku tidak mempercayai mereka karena bisa saja salah satu dari mereka komplotan!"]
"Ok! Aku sudah mengecek setiap kamera di seluruh Markas Naruto dan yang kau katakan memang benar," ucap Shikamaru ketika melihat rekaman di lorong kamar Hinata ia melihat enam orang menangkap Hinata dan membawanya pergi.
Dengan cepat Shikamaru mengidentifikasi siapa saja mereka hingga terpampang seorang pria kulit hitam dengan kaca mata serta memiliki rambut putih.
"salah satu pelakunya adalah Bee...dia adalah... Adik dari petinggi A," gumam Shikamaru tidak percaya dengan dugaan Naruto yang memang benar.
Blam!
Dengan keras Naruto meninju dinding besi di sampingnya hingga masuk ke dalam telpon membuat yang lainnya bisa mendengar suara benturan tinju Naruto.
["Aku bersumpah akan membunuhnya jika terjadi sesuatu terhadap Hinata, pasti!"] geram Naruto dengan nada penuh kekesalan serta amarah, semua yang mendengar itu merinding kembali walau hanya mendengar suara saja mereka bisa membayangkan ekspresi Naruto yang benar-benar marah, ["SHIKAMARU! CEPAT?!"]
Shikamaru yang mendengar itu tersentak dan mengotak-atik hologramnya secepat mungkin, layar hologram Shikamaru pun menunjukkan gambar setiap sudut markas serta gambar setiap rekaman yang di lewati Bee dan komplotannya dan enam Titik yang bergerak di setiap lorong menuju lantai bawah
Enam titik itu merupakan tanda subjek yaitu Bee dan Komplotannya yang membawa Hinata, mereka terus bergerak turun ke bawah melewati, setiap lorong yang tidak terdapat banyak orang, setelah sampai di area persediaan senjata serta Amunisi, mereka terus masuk hingga melewati dua pengawas yang tampak seperti tidak peduli padahal mereka melihat jelas mereka membawa Hinata yang terus memberontak.
Seketika enam titik merah menghilang dari layar, "Naruto! Mereka pergi ke tempat area gudang senjata! Area itu ada 4 lantai di bawah tempatmu sekarang! Di sana ada dua pengawas, mereka tadi melihat Hinata di bawah oleh Bee dan komplotannya, namun mereka membiarkan mereka lewat! Mereka berdua pasti berkomplotan oleh mereka! Saat mereka sudah masuk area itu, aku tidak bisa melacak mereka kembali karena tidak ada kamera CCTV di sana!".
Naruto yang mendengar itu mematikan Telponnya dan langsung berlari secepat mungkin, tak memperdulikan dirinya menabrak beberapa orang yang dia lewati, prioritas utamanya saat ini adalah menyelamatkan Hinata.
Melihat tangga turun, Naruto langsung melompati tangga tersebut secara terus menerus hingga turun empat lantai lalu berlari menuju gudang senjata.
Saat sampai di area gudang senjata, ia melihat dua penjaga yang berdiri di depan pintu, Naruto yang melihat mereka menatap marah mereka, Naruto memperlambat larinya ketika melihat mereka bergerak berusaha menghentikannya.
Naruto pun berhenti di depan mereka dengan ekspresi datar, "Wow! Mau apa kau kemari? Orang sipil di larang kemari!" ucap penjaga tersebut. "Aku... datang kemari membawakan kematian untukmu," balas Naruto lalu dengan cepat Naruto mengeluarkan pisau yang dia bawa lalu menusuk sisi kepala Penjaga di depannya dan menariknya ke belakang hingga membuat seperempat kepala penjaga tersebut robek dan mengeluarkan banyak darah.
Salah satu penjaga mengarahkan pistolnya ke arah Naruto, namun dengan cepat Naruto menggunakan penjaga yang dia robek kepalanya sebagai tameng lalu berlari mendekatinya dan begitu dekat, Naruto melempar orang yang dia jadikan tameng ke arah salah satu penjaga yang menembaknya hingga membuat mereka berbenturan lalu tanpa ampun Naruto menusuk dagu penjaga yang tersisa hingga tembus ke bagian hidung.
Naruto menatap penjaga di depannya dengan tatapan membunuh, dengan sisa tenaganya penjaga tersebut berusaha menembak Naruto, namun naas Naruto langsung mengayunkan pisaunya merobek tenggorokannya membuatnya langsung mati seketika.
Naruto langsung menarik pisaunya dan membuat penjaga tersebut terjatuh dan mengeluarkan banyak darah. Naruto yang terlumuri darah hanya diam. Semua yang ada di traning land melihat itu dari layar Shikamaru menatap diam sekaligus ngeri dengan perbuatan Naruto yang tanpa segan-segan membunuh mereka.
"Hey! Ada apa ini kalian berkumpul di sini? Dan apa itu?" tanya Touka ketika melihat team Naruto berkumpul mengacuhkan mereka dan baru pertama kalinya melihat alat Shikamaru.
"A-Ah! Bukan apa-apa!"
Setelah itu Naruto langsung masuk dan mencari keberadaan Hinata dengan membuka setiap pintu di gudang senjata. "Hinata dimana kau!" teriak Naruto dalam batinnya dengan ekspresi khawatir dan panik.
"Kuso! Kuso! Kuso!" umpat Naruto ketika selalu mendapatkan ruangan kosong yang hanya penuh dengan senjata serta Amunisi tanpa adanya keberadaan mereka.
Beralih ke sisi Hinata, saat ini ia tengah di gantung dengan kedua tangan terikat rantai di atasnya, mulutnya juga di bekap sebuah kain agar dirinya tidak bisa berteriak, serta kakinya yang juga di ikat sebuah rantai agar tidak bisa menendang mereka.
Hinata terus memberontak berusaha melepaskan kedua tangannya yang terikat rantai sambil menangis sedu karena ia merasakan sakit karena tubuhnya di gantung paksa.
"Hahaha, tenanglah Ojou-chan... Kami tidak akan menyakitimu, kami hanya ingin menikmati tubuhmu itu," ucap pria berkulit hitam dengan rambut putih serta menggunakan kacamata hitam, dialah Bee.
Hinata yang mendengar itu menatap takut Bee serta teman-temannya dan semakin memberontak. "Ne, Boss... Apakah ini tidak apa? Bagaimana jika ada yang menemukan kita?" tanya salah satu komplotan Bee.
"Khahaha! Tidak perlu khawatir, lagi pula ini tempat rahasia, dan kita punya dua penjaga yang mengawas di depan, jadi tidak akan terjadi apa-apa," balas Bee dengan nada santai, lalu ia mendekati Hinata secara perlahan. Hinata yang melihat itu semakin memberontak dan menatapnya ketakutan.
"Shhh shhhh! Tenanglah Ojou-chan, aku akan melakukannya dengan lembut, jika kau memberontak terus aku akan bermain kasar loh," ancam Bee, Hinata yang mendengar itu berhenti memberontak sambil terisak.
"Bagus...," ucap Bee sambil membuka penutup mulut Hinata.
.
.
Sementara Naruto, ia terus berlari di setiap lorong dengan wajah memerah karena penuh amarah, dia sudah membuka setiap ruangan tapi tidak menemukan Hinata sama sekali.
"Kuso! Kuso! Kuso!" teriak Naruto dalam batin sambil melihat sekeliling persimpangan lorong, bayangan terjadi sesuatu yang buruk terhadap Hinata menghantuinya bahkan bayangan Kiba, kekasih Hinata yang telah dia bunuh karena menjadi Zombie terlintas di kepalanya.
Dia sudah bersumpah akan menjaga Hinata dengan taruhan nyawanya, namun ia tidak bisa menepatinya dan membuat hatinya semakin gaduh.
"KUSO! HINATAAAAA! DI MANA KAUUU?!" teriak Naruto dengan sangat keras hingga menyebar ke seluruh lorong gudang senjata.
Hinata, Bee serta Komplotannya yang mendengar teriakan itu terkejut, "Ada orang di sekitar sini?!" panik salah satu komplotan Bee, dengan penampilan kulit hitam dan memiliki rambut putih jambrik.
"Yang benar saja! Bakayaro! Konoyaro!"
Hinata yang mendengar suara Naruto meneteskan air matanya, dan karena mulutnya tidak di tutup, ia pun menggunakan kesempatan itu untuk berteriak.
"NARUTO-KUN! TOLOOOONG!" Bee yang mendengar Hinata berteriak langsung menutup paksa mulutnya, sementara Naruto yang bisa mendengar teriakan Hinata langsung menoleh ke sumber suara dengan mata birunya yang berkilat tajam.
"Kuso! Sudah aku bilang untuk tenang bukan?!" teriak Bee sambil memperkuat bekapannya, "Kheh! Sebelum dia menemukan kita! Akan aku buat kau menderita!" ujar Bee tersenyum mesum dan menarik paksa baju Hinata hingga robek membuat dalamannya terlihat.
"Khahaha! Kau punya tubuh yang indah! Ojou-chan! Sekarang ayo kita..."
Blaaaaar!
Sebelum tangan Bee menyentuh Hinata, pintu ruangan yang mereka tempati terbuka paksa karena sebuah ledakan, Bee serta Komplotannya yang mendengar ledakan itu menyilangkan tangan mereka sambil menahan hempasan angin dari ledakan di pintu.
Setelah asap dari ledakan menghilang terlihat Naruto yang berdiri di luar ruangan sambil mengatur nafasnya dengan sebuah pistol di tangannya kirinya.
Naruto yang melihat Bee serta Komplotannya terdiam sambil mengatur nafasnya hingga mata birunya beralih ke arah Hinata yang di gantung dengan keadaan hampir telanjang dan di bekap oleh Bee.
Urat-urat di wajah Naruto mulai keluar menandakan dia benar-benar emosi, ia menggerakkan giginya dengan kuat, genggaman tangannya semakin kuat bahkan hampir menghancurkan Grip pistolnya.
"Ga-Gawat Boss! D-Dia datang?!" panik Komplotan 2 Bee ketika melihat sosok Naruto berdiri di ambang pintu. "Apa yang kalian lakukan Bakayaro! Konoyaro! Dia Cuma sendiri! Cepat habisi dia!" perintah Bee.
Sebelum Komplotan Bee bergerak, Naruto langsung berlari ke dalam sambil menutup pintu ruangan itu agar mereka tidak lari. Para komplotan Bee pun mengeluarkan senjata mereka dan bersiap menembak Naruto, "HOOAAAAAAAAAAAAAAAARRRRR!" namun Naruto langsung berteriak dengan lantangnya di sertai ekspresi murkanya membuat komplotan Bee terdiam sesaat karena teriakan Naruto membuat tubuh mereka bergetar ketakutan.
Dengan beringas Naruto langsung menghajar wajah salah satu komplotan Bee hingga membuatnya terjungkal kebelakang, salah satu komplotan lain yang di dekat orang yang di pukul Naruto dengan panik berniat menembak Naruto, namun Naruto langsung menangkap tangan orang tersebut lalu memelintirnya hingga membuatnya kesakitan.
Tanpa ampun Naruto langsung mematahkan tangan orang tersebut dengan meninju siku orang itu lalu menembak wajah orang itu dengan pistolnya.
Tiga komplotan yang tersisa mencoba menembak Naruto, namun Naruto langsung menjadikan orang yang dia tembak sebagai tameng. Dari balik tubuh orang yang dia jadikan tameng Naruto menembak kaki komplotan Bee serta tangan Bee yang membekap mulut Hinata.
Melihat mereka kesakitan Naruto langsung membuang mayat orang yang dia jadikan tameng lalu menghajar tiga Komplotan Bee tepat di wajah mereka hingga membuat mereka terjatuh dan memegangi wajah mereka yang kesakitan tak lupa Naruto juga mematahkan salah satu tangan mereka, serta menendang kaki mereka yang terkena tembak agar rasa sakit yang mereka terima berlipat dan membuat mereka tidak bisa bangun sementara.
Sementara Bee yang terkena tembak melepaskan bekapannya dari Hinata membuat Bee menatap nyalang Naruto yang berlari ke arahnya, namun salah satu anggota Bee yang pertama kali menerima tinju Naruto langsung menahan kakinya membuat Naruto tidak bisa mendekati Bee.
Menggunakan kesempatan itu, Bee langsung meninju pipi kiri Naruto dengan keras, namun itu tidak membuat Naruto tumbang sama sekali.
"Apa?!" kejut Bee, Naruto yang menerima pukulan Bee terdiam sesaat lalu mata biru Naruto menatap nyalang ke arah Bee.
Bee yang melihat itu langsung kembali melayangkan sebuah pukulan ke arah Naruto, namun dengan mudah ia menghindari pukulan Bee lalu melayangkan sebuah pukulan tepat pada Dagu Bee hingga membuatnya mundur beberapa langkah.
Setelah memberikan pukulan pada Dagu Bee, Naruto mengangkat kaki kirinya yang tidak di tahan oleh komplotan Bee lalu menginjak wajah komplotan Bee yang menahan kakinya hingga tak sadarkan diri.
Bee yang telah berhenti dari mundurnya sambil menyentuh dagunya yang kesakitan terkejut ketika Naruto sudah di depannya lalu melayangkan sebuah pukulan yang sangat kuat hingga membuatnya terpental dan menabrak beberapa benda di belakang Hinata.
Hinata yang melihat Naruto mengalahkan mereka dan datang menyelamatkannya meneteskan air matanya, padahal dia sudah mengatakan sesuatu yang menyakiti perasaan Naruto, tetapi ia datang menyelamatkannya setelah apa yang dia lakukan.
Dor! Dor!
Naruto lalu menembak rantai yang mengikat kaki dan tangan Hinata membuatnya jatuh ke bawah, namun Naruto langsung menangkapnya sebelum jatuh ke tanah dengan posisi bridal Style.
"Hinata-chan, kau tidak apa?" tanya Naruto menatap khawatir Hinata, Hinata yang berada di gendongan Naruto langsung memeluk Naruto dan menangis di bahu Naruto.
"Naruto-kun! Naruto-kun!" gumam Hinata sambil menangis, Naruto yang merasakan tubuh Hinata bergetar ketakutan serta mendengar tangisan Hinata semakin memeluk erat Hinata, mata biru Naruto kembali berkilat tajam.
Ia pun berdiri dan berjalan keluar dari ruangan itu lalu menurunkan Hinata dengan lembut, namun Hinata tidak mau melepaskan pelukannya darinya, "Jangan khawatir, Hinata... tenanglah, kau aman sekarang... bisakah kau lepaskan pelukanmu sesaat?" pinta Naruto sambil mengelus punggung Hinata dengan lembut.
Hinata yang mendengar itu menurut, ia pun pelukannya sesaat, lalu Naruto pun melepaskan kemejanya dan menutup tubuh Hinata.
"Kau diamlah sebentar di sini, aku akan kembali," ucap Naruto lalu mulai berdiri, namun Hinata menahannya sambil menggelengkan kepalanya, melihat Hinata masih ketakutan Naruto pun tersenyum lalu mengelus rambut Hinata dengan lembut.
"Aku tidak akan lama, jangan khawatir," ucap Naruto lalu melepas tangan Hinata dengan lembut dan berjalan ke dalam ruangan kembali, "dan jika bisa... Sebaiknya kau menutup telingamu," lanjut Naruto lalu menutup pintu ruangan itu.
Setelah menutup pintu ruangan itu, Mata biru Naruto berkilat tajam ke arah Bee yang keluar dari tumpukan barang yang dia tabrak serta para Komplotan Bee, yang masih berbaring namun dengan tubuh setengah bangun dengan tatapan ketakutan kepadanya.
"Baiklah... Sekarang... Waktunya aku membawa kalian... Menuju alam baka, karena telah berani melakukan sesuatu yang buruk... terhadap Hinata-chan," ucap Naruto sambil menarik sabit lipat yang masih dia bawa, "kalian tidak akan aku beri ampun!" lalu Naruto berlari ke arah Bee serta Komplotannya.
Jraasssh! Jrash! Jraash!
Hinata yang dari luar ruangan mendengar suara tebasan serta teriakan kesakitan menutup telinganya serta matanya, teriakan itu memenuhi lorong gudang senjata.
.
.
Gerbang Nagoya
.
Beralih ke gerbang Nagoya, tampak terdapat banyak Zombie tengah berusaha menerobos dinding besar Nagoya untuk bergerak ke arah Osaka serta Kyoto.
Di salah salah satu bangunan terlihat dua orang tengah menatap ke arah dinding sambil menyeringai mengerikan, salah satu orang dari kedua orang itu pun menyuntikkan sesuatu ke orang di depannya.
Tak berselang lama, tubuh orang itu berubah menjadi hijau serta badannya mulai membesar. Pesawat helikopter yang mengawas kota Nagoya melihat ada satu Zombie yang berbeda menyipitkan matanya sebelum tersentak ketika sebuah mobil di lempar ke arahnya.
Blaar!
Mobil itu pun menghantam helicopter lalu meledak di udara, salah satu pengawas yang ada di dinding Kyoto melihat itu tersentak.
"Ghahahaha! Ayo kita mulai!"
.
.
Naruto Side
.
.
Kembali ke sisi Naruto dan Hinata, setelah beberapa menit tidak mendengar suara tebasan serta teriakan kesakitan, Hinata melepaskan tangannya yang menutup kupingnya, dan tak lama setelah itu pintu ruangan itu pun terbuka dan memperlihatkan Naruto yang berlumuran darah.
Hinata yang melihat Naruto berlumuran darah bergetar ketakutan, sementara Naruto yang tahu Hinata ketakutan karena penampilannya saat ini apa lagi dia kembali melakukan sesuatu yang mengerikan hanya diam dan berniat pergi.
Hinata yang melihat Naruto akan pergi meninggalkannya tersentak dan langsung menahan tangan Naruto, ia tidak boleh menyakiti perasaan Naruto kembali apa lagi dia telah menyelamatkan dirinya dari orang-orang yang berniat melakukan hal tabu kepadanya.
"Ja-Jangan pergi!"
Naruto yang mendengar itu terdiam sesaat, "Apa kau yakin... mau bersamaku yang merupakan pembunuh? Kau pasti sudah dengar apa yang terjadi di dalam... Apa kau masih mau denganku?"
Hinata yang mendengar itu menggelengkan kepalanya sesaat, "Naruto-kun bukanlah pembunuh... Maafkan aku yang ketakutan padamu... Padahal kau telah menyelamatkanku... Tolong jangan tinggalkan aku, Naruto-kun," pinta Hinata sambil meneteskan air matanya kembali.
Naruto yang mendengar itu kembali terdim sesaat, lalu ia pun berbalik lalu mengelus pipi Hinata dengan lembut menggunakan tangannya yang sedikit berlumuran darah.
"Mana mungkin aku meninggalkanmu," ucap Naruto lalu menggendong Hinata kembali ala bridal style lalu keluar dari tempat itu meninggalkan ruangan yang terdapat potongan tubuh dari Bee serta Komplotannya.
Selama perjalanan, Naruto serta Hinata hanya diam tanpa berbicara sedikit pun. Hinata yang menyandarkan kepalanya di bahu Naruto menatap lekat wajah Naruto yang terdapat darah.
"Bagaimana keadaanmu? Apa kau baik-baik saja? Apa mereka sudah melakukan sesuatu yang buruk terhadapmu?" tanya Naruto secara beruntun tanpa melihat Hinata. Mendengar itu Hinata terdiam sesaat lalu menjawab pertanyaan Naruto, "Aku tidak apa... Aku hanya merasa kesakitan pada tangan dan kakiku... Mereka belum melakukan apa-apa padaku... Mereka baru saja melucuti pakaianku dan akan memulainya...," jawab Hinata membuat Naruto terdiam, namun di dalam hati Naruto dia benar-benar murka.
Kembali terjadi keheningan di antara hingga Hinata membuka suaranya kembali, "Arigato karena telah menyelamatkanku, Naruto-kun... Padahal aku sudah mengatakan sesuatu yang buruk terhadapmu... Tapi kau tetap menyelamatkanku."
"Hey... Aku memang orang yang buruk jadi tidak perlu sungkan mengatakan itu kepadaku, aku masih memegang sumpah terhadap Kiba untukmu, jadi jika aku tidak menepatinya, Kiba akan menghantuiku nanti."
Hinata yang mendengar itu tertawa pelan, lalu kembali terjadi keheningan di antara mereka, Hinata menatap lekat wajah serius Naruto yang berlumuran darah, dengan lembut Hinata mengusap darah yang membeku di wajah Naruto bermaksud membersihkan darah yang menutupi wajah tampan Naruto.
"Hi-Hinata-chan?" Hinata yang di panggil tidak merespon, setelah membersihkan darah di wajah Naruto, ia semakin mengeratkan pelukannya hingga membuat kepalanya yang bersandar di bahu Naruto semakin dekat dengan leher Naruto.
Naruto yang merasa ada yang aneh dengan Hinata kebingungan sambil terus berjalan keluar dari gudang senjata. Sementara Hinata, ia tidak bisa memungkiri bahwa memiliki perasaan terhadap Naruto, walaupun dia meminta Naruto menjauhinya, namun ia tidak bisa memikirkan orang lain selain Naruto setelah kematian Kiba.
Karena saat ini ia bersama Naruto, dirinya ingin menggunakan kesempatan ini untuk menyatakan perasaannya kepada Naruto.
"Ne... Naruto-kun... Sebenarnya..."
TWUNG! TWUNG!
Sebelum Hinata selesai berbicara, terdengar suara serine memenuhi lorong membuat Naruto serta Hinata terkejut.
"Apa yang terjadi?!" gumam Naruto dengan Ekspresi penasaran.
["PERHATIAN! PERHATIAN! TERJADI KEADAAN DARURAT! KEPADA SELURUH PASUKAN UNTUK BERSIAP! DINDING NAGOYA TELAH RUNTUH! AKU ULANGI DINDING NAGOYA TELAH RUNTUH!"]
Naruto serta Hinata yang mendengar itu terkejut, ekspresi Naruto langsung berubah menjadi serius dan langsung menurunkan Hinata, "Hinata dengarkan aku!"
Sementara di sisi Team Naruto, mereka saat ini pergi ke lokasi Naruto namun saat akan mencapai lokasi tempat Naruto berada mereka hanya melihat Hinata yang berlari dengan pakaian Naruto menutupi tubuhnya.
"Hinata-chan!" panggil Kuroka serta Akeno lalu memeluk erat Hinata. "Hinata-san, dimana Naruto?" tanya Shikamaru tidak melihat keberadaan Naruto.
"Minna! Gawat! Naruto-kun... Naruto-kun...," panik Hinata sambil menangis sedu. "Ada apa dengan Naruto?!" tanya Sasuke dengan ekspresi khawatir.
"Dia... Dia pergi... Ke Dinding Nagoya sendirian!"
Beralih ke sisi Naruto, ia telah membawa kedua revolver miliknya serta sabit lipat di tangannya, saat semua pasukan lagi bersiap secara sembunyi-sembunyi Naruto mengambil satu senjata SCAR-L serta amunisinya, setelah semua siap Naruto pergi ke area jalur kendaraan dan saat melihat ada tentara yang membawa Motor sport, Naruto langsung menghentikannya dan mencuri motornya.
"HEI!" Teriak tentara itu kepada Naruto, namun Naruto terus menarik gas motornya keluar dari Kyoto menuju Nagoya
Sementara di depan dinding Nagoya, terlihat Zombie berukuran besar dengan tubuh warna hijau terus berjalan di ikuti banyak Zombie di bawahnya.
"Ini pasti ulahnya... Aku... Tidak akan memaafkannya?!" batin Naruto dengan ekspresi marah karena teringat kematian Issei dan orang yang membuat bencana ini adalah penyebabnya.
Dirinya yakin, orang itu saat ini juga yang menyebabkan dinding Nagoya hancur. Maka dari itu, dia... Akan membalaskan dendamnya atas kematian Issei
.
.
[Alarm Bahaya]
.
.
TBC
Note : YOOOOO MINNA-SAN! PIYE KABARE?!
BAHAHAHAHAHA! Sudah lama tidak berjumpa [My Friends], semoga kalian sehat-sehat saja ya, selama bulan Ramadan ini.
Ya, maaf jika saya lama update karena saya juga memiliki kesibukan sekaligus kadang mood dan gak mood nulis.
Seperti yang kalian sudah lihat di atas, ada lima orang perwakilan dari beberapa Negara, dan orang-orang yang gw ambil seperti di atas.
Lalu penangkapan Hinata? Ini memang sudah saya rencanakan karena memang di chapter sebelumnya A memiliki ketertarikan terhadap Hinata, namun ia di lindungi Naruto dan karena Naruto dia menerima luka serius yang membuatnya balas dendam dan menjadikan Hinata sebagai target untuk balas dendam terhadap Naruto.
Namun yah... Bee serta Komplotannya mati di tangan Naruto. Yap, saya buat mereka mati, ini sudah saya rencanakan juga jadi [Shut Up] dan jangan protes :v
Lalu runtuhnya dinding Nagoya dan terjadinya serangan tiba-tiba, ini akan menjadi lanjutan di chapter depan, kapankah itu? Wakaranaii
Saa itu saja dari saya, saya the God Harem, undur diri... Jaa naa!
FCI. God Harem
