The One.
1
Gelap, tanpa cahaya yang menerangi, sekelilingku hanyalah kegelapan tanpa ujung... tak bisa membedakan apakah aku sudah membuka mataku ataukah masih menutupnya. Tak lama, sinar terang terlihat dari depanku... sinar kecil yang perlahan membesar menyilaukan mata. Ku pejamkan mataku menghindari silaunya cahaya putih itu, perlahan ku buka mataku dan tampaklah ruangan yang putih bersih tanpa warna yang lain.
"Bagaimana perasaanmu bocah?."
Aku berbalik, melihat siapa yang berbicara demikian... dan sedikit terkejut bahwa yang tadi berbicara adalah sosok Shinigami, dewa kematian. Bingung melanda pikiranku, kenapa aku bisa melihatnya, bukankah aku tidak memanggilnya unt-... tunggu!, jangan bilang.
"Benar, kau telah mati bocah... kau mati di saat detik-detik terakhir pelepasan mugen tsukuyomi. Saat dimana semua penderitaan berakhir, kau kehabisan darah dan cakra yang membuat sel darah yang ada di tubuhmu berhenti."
Wow... dia bisa membaca pikiranku, tunggu... kenapa bisa aku mati?, bukankah aku masih memiliki sedikit cakra kurama dan pendarahan yang telah dihentikan oleh sakura-chan?.
"Anoo... Shinigami-sama, jika boleh tau... kenapa aku bisa kehabisan darah dan cakra?."
"Fisik... pertarungan melawan Kaguya dilanjutkan dengan pertarungan melawan sahabatmu tanpa jeda, yang membuat fisikmu tak henti memakan sedikit demi sedikit cakra yang terus terpompa. Dan pecahnya sel darah di pusat cakra, yang dimana itu menghentikan detak jantung yang perlahan melemah."
Gear otakku berputar, mencerna setiap kata yang di ucapkan oleh Shinigami-sama. Sedikit liar penjelasannya namun aku paham garis besarnya.
"Lalu, jika aku mati... apakah ini adalah dunia kematian?... dan bagaimana nasib teman temanku Shinigami-sama?."
Shinigami-sama menoleh kesamping, di ikuti olehku dan terlihat disana sebuah layar memperlihatkan bagaimana berakhirnya perang dunia shinobi ke empat diikuti kebahagiaan serta kesedihan.
Bisa aku lihat, senyum tangis terbentuk di wajah mereka... namun tangisan pilu bisa ku lihat dari wajah Sakura-chan, Sasuke teme, serta Kakashi-sensei... karena mereka yang pertama tau dan melihat diriku yang terbaring di sana tanpa hembusan nafas.
Sakit ku rasakan melihat mereka menangisiku namun itulah kehidupan, saat sebuah kebersamaan pasti akan menemui perpisahan.
"Apa kau masih ingin kembali bersama mereka bocah?."
Aku gelengkan kepalaku, "jika takdir yang telah ditentukan oleh sang pencipta adalah akhir seperti ini, maka biarkanlah seperti ini. Semua kehendaknya adalah mutlak, dan aku tidak ingin mengambil resiko yang dimana itu bisa merusak dunia dan alam kematian."
"Apakah ini sifat aslimu yang selalu kau tutupi saat masih hidup hm?."
Aku alihkan pandanganku, menatap kedua mata yang menyeramkan itu tanpa takut sedikitpun. Benar... aku tak ingin menunjukkan diriku yang seperti ini pada mereka, tingkah bodohku hanyalah untuk menarik perhatian mereka hingga akhirnya aku berharga dimata mereka. Dan aku tidak menyesalinya sedikitpun.
"Dirimu tau bagaimana aku~."
Shinigami-sama menghela nafasnya, dia menunjukkan tiga jarinya kepadaku... seakan seperti aku mempunyai tiga pilihan yang bisa ku pikirkan.
"Kau memiliki tiga pilihan bocah, pertama... kau benar-benar memilih akhir seperti ini dan bertemu dengan keluargamu, kedua... kembali hidup ke dunia yang dimana kau sudah pasti akan menolaknya, ketiga... kau akan kembali hidup, namun dengan dunia yang keseluruhannya berbeda dengan apa yang kau ketahui."
"Tunggu, jika Shinigami-sama selalu memberikan pilihan seperti ini kepada setiap orang yang telah mati, bukankah Madara pasti sudah memilih pilihan yang kedua?."
Benar, jika Madara memilih pilihan kedua... dia pasti sudah hidup lagi. Tidak... bukan hanya dia, tapi yang lainpun sudah kembali hidup ke dunia benar?.
"Tidak... setiap mereka yang telah mati, aku tidak memberikan pilihan kepada mereka. Saat mereka mati, mereka tidak akan ada di sini, di tempat antara hidup dan kematian... namun mereka akan langsung menuju tempat yang seharusnya berada."
"Lalu... kenapa kau memberiku sebuah pilihan seperti itu?."
"Kau telah banyak merubah pikiran setiap orang, termotivasi akan semangat dan pantang menyerahmu... merubah yang jahat menjadi baik... merubah yang baik menjadi lebih baik, tidak salahnya aku memberikan sebuah pilihan kepadamu... lagi pula, aku tidak akan melakukan hal ini tanpa izin dari-NYA."
Seberpengaruh itukah aku dimata nya?, hm... terserahlah, mari pikirkan... jika aku memilih pilihan ketiga, mungkin akan banyak hal baru yang aku terima... namun, dunia seperti apa?.
"Aku memilih pilihan terakhir, jika karena apa... aku tidak tau namun, kembali memilih rintangan hidup untuk perkembangan itu menyenangkan."
Yeah... sedikit tantangan itu menyenangkan bukan?, ayah... ibu... bukan anakmu ini merindukan kalian namun, anakmu ini ingin sedikit lagi sebuah tantangan.
"Ahahaha... jawaban yang tak terduga, menyenangkan ya... pantas teman temanmu menjuluki si ninja penuh kejutan ahahha... sekarang aku mengakuinya."
Shinigami-sama berdiri dari duduk melayangnya, menyatukan kedua tangannya dan itu membuat sebuah lingkaran berada di bawahku, berputar pelan.
"Sebelum kau aku kirim menuju dunia yang berbeda, kau akan ku berikan sedikit ingatan tentang bagaimana dunia itu dan asal usul bagaimana kau terlahir disana. Ada pertanyaan?."
"Pertanyaan tidak, namun bolehkah aku meminta permintaan?."
Shinigami-sama mengangguk, lalu aku berfikir apa yang telah ku pikirkan sebelumnya. Apakah resiko jika meminta hal tersebut akan membuatku memakan batunya?... ataukah tidak?... namun, aku yakin dengan senyum yang mengembang. Aku tatap Shinigami-sama dengan yakin, karena aku tau dia telah mengerti apa yang kuinginkan.
Mengangguk tanda setuju, Shinigami-sama lalu menjulurkan kedua tangannya kedepan... perlahan cahaya keluar dari lingkaran di bawahku, memakan diriku seakan membawa tubuh ini menuju suatu hal yang tidak aku ketahui.
"Ingatlah ini bocah, setelah kau berada di sana, kau sudah tidak terikat lagi dengan dunia Shinobi dan aku... namun kau masih terikat dan tetap akan menjadi makhluk yang diciptakan-NYA. Jaga keyakinanmu dan pilihlah jalan yang ingin kau lalui. Detik ini, kita akan berpisah... semoga kau mendapatkan kebahagiaanmu sendiri... Naruto Uzumaki."
Setelah ucapan terakhir Shinigami-sama, aku kembali kepada kegelapan... indra perasa dan pendengaranku tak merasakan ataupun mendengar apa-apa. Aku seakan berada di kehampaan tanpa dasar.
Perlahan, aku bisa kembali merasakan sensasi dinginnya air dan derunya angin. Ku buka mataku, dan hal pertama yang kulihat adalah indahnya langit malam yang dihiasi bintang menaburi langit. Sebuah Milky Way terlihat sangat jelas bagiku, menambah nilai plus untuk hal yang pertama kali ku lihat saat ku terlahir kembali ke sini.
Benar... Bumi... adalah tempat dimana aku terlahir kembali untuk hidup setelah semua kehidupan ninjaku berakhir dengan kedamaian... atau mengenaskan ya?... hm.
"Akhirnya kau membuka matamu bocah tengik."
Aku menengok ke sebelah kanan saat sebuah suara memasuki pendengaran, terlihat disana seoarang pria duduk dengan kedua tangan di tumpangkan ke kedua kakinya yang di tekuk sedikit. Dirinya menatap lurus kearah dimana milky way berada, seakan mengagumi indahnya dunia.
"Ahahaha... sepertinya kau tidak suka saat kau kembali hidup walau terlihat dari sorotmu bahwa kau menikmati setiap nafas yang kau hembus hm."
Kembali ku menengok kearah yang berlawanan, seorang pria yang duduk bersila tanpa menyentuh tanah ber air... yups, dia duduk melayang dengan tangan di lipat di depan dadanya.
"Diam kau rubah kecil!."
"Ahahaha... santailah sedikit dan... sekarang aku manusia seperti dirimu bukankah begitu?, Uciha?."
Orang itu mendecih tak suka saat fakta bahwa hal itu benar adanya. Kedua orang itu adalah Madara Uchiha dan Kurama, dua sosok dan salah satu hal yang aku pinta dari Shinigami-sama untuk menemaniku di dunia baru ini.
Jika kalian bingung kenapa mereka berdua yang aku minta kepada shinigami-sama, alasannya... Madara adalah orang yang sudah mati dan sebelum saat kematiannya, dia tidak akan kembali lagi menuju jalan yang salah... bertobat lebih tepatnya, dan aku ingin membuktikan kebenaran kata-kata yang dia ucapkan. Kurama... dia sebenarnya bukanlah Kurama yang selalu berada di sisiku, namun dia adalah Kurama yang saat itu berada di perut ayahku, Minato Namikaze.
"Hahhh... yang aku tak paham, kenapa kau memintaku untuk ikut dalam perjalananmu ini bocah?. Bisa kau jelaskan!?."
Aku memandang jauh langit malam, menikmati gemuruh angin yang aku rindukan saat aku dilanda kesendirian. Menutup kedua mataku... mengingat setiap memori yang perlahan ku kubur dalam-dalam di benak hatiku... menjadikannya sebuah rindu yang akan aku kenang selalu.
"Membuktikan sebuah kebenaran yang kau ucapkan, dan membantuku untuk dunia ini menuju kedamaian."
Aku rubah posisiku, duduk setelah itu berdiri... merenggangkan otot-otot yang kaku lalu melangkah pelan kedepan.
"Salar De Uyuni, tempat dimana pertama kali kita di sadarkan di dunia ini... Bumi. Dunia yang sekarang menjadi tempat lahir kita, yang akan kita lindungi dari para monster yang ingin menguasai dunia ini."
Apa yang di tanamkan oleh Shinigami-sama kepada aku, adalah dunia yang aku singgahi sekarang sedang dalam kekacauan... dimana sebuah Dungeon tercipta tersebar di seluruh dunia, membuat krisis ekonomi dan banyaknya manusia yang meninggal karena monster yang bermunculan dari dalam dungeon tersebut. Lalu muncul sebuah keajaiban yang dimana membuat sebagian manusia memiliki sebuah kekuatan yang di sebut Sihir, dengan di atur oleh sebuah papan bar Status masing-masing dari mereka. Kabarpun mulai menyebar yang akhirnya pemerintah sepakat bahwa mereka yang memiliki kekuatan paling tinggi dapat membuat Guild, dimana setiap guild terdapat pemimpin dan anggota dibaliknya.
Perlahan aku mengingat asal usul bagaimana aku terlahir di dunia ini, tiga orang sahabat berbakat yang tidak ingin terikat oleh guild manapun... memutuskan untuk menjelajah di setiap negara... dengan berbekal kekuatan yang mereka miliki... mereka menghancurkan setiap dungeon yang mereka temui, hingga akhirnya ketiga sahabat itu berakhir di sini... salar de uyuni, sebagaimana akhir dari kisah kesadaran mereka yang di ambil oleh kami bertiga.
"Maafkan aku karena telah merebut tubuhmu kawan, namun aku tidak akan mengecewakanmu yang sekarang sedang tertidur di alam bawah sadar mu... tidak, maksudku kita."
Aku berbalik menghadap kedua orang yang sekarang sudah berdiri menatap diriku, keduanya membungkuk seakan memberi hormat kepadaku.
"Sekarang kau yang mengatur bocah, sebagaimana tubuh ini menjadikan tubuh yang kau rebut sebagai pemimpin."
"Memimpin bagai saat kau memimpin kami saat di masa lalu... ah tidak, dikehidupan sebelumnya."
Aku tersenyum mendengar hal itu, ku tatap kembali Milky Way yang indah menghiasi malam. Aku tutup kedua mataku menggunakan perban, melihat hanya dengan indra kekuatan yang dimiliki mata ini.
"Madara Himejima, Kurama Gremory... ikuti aku sebagaimana kalian mengikuti seorang raja yang akan kembali merebut tahtanya."
"HA'I."
"Aku... Naruto Uzu-... tidak... aku, Naruto Phoenix, akan kembali menuju tanah kelahiranku... jepang, yang akan merebut gelar sebagai The One."
