The One

2


Terbang melintasi udara, melewati setiap negara yang indah jauh disana. Menikmati pemandangan yang memanjakan mata, dari dalam pesawat milik maskapai penerbangan All Nippon Airways... atau bisa di singkat ANA. Sebuah pesawat yang telah didirikan tahun 1952, yang melayani 49 destinasi domestik dan memiliki 35 rute internasional.

Pesawat yang aku tumpangi ini adalah milik keluarga Kurama, pesawat yang di desain khusus untuk Gremory Family namun tak lepas dari naungan ANA sendiri... karena keluarga gremory hanya membeli pesawatnya, tidak dengan maskapainya.

Jika kalian bertanya seberapa kayanya keluarga Kurama... Gremory Corp. adalah penyumbang saham terbesar di jepang, maka tidak heran setiap satu dari perusahaan di jepang akan membagi setengah keuntungan itu untuk gremory corp. atas kerja sama mereka. Mereka jugalah pemilik guild terbesar yang di miliki jepang, Crimson Guild.

Itulah kenapa Kurama bisa memiliki sebuah pesawat yang bisa di bilang miliknya ini, pesawat yang sedang mengantarkan kami menuju tanah kelahiran.

"Naruto... apakah kau sudah melihat bar statusmu?."

Madara bertanya kepadaku yang ku respon dengan gelengan kepala, ah benar... Madara... Madara Himejima... dia adalah anak tertua dari pasangan Barakiel dan Shuri Himejima. Keluarga yang bekerja sebagai penjaga kuil yang sekaligus adalah tempat Madara di lahirkan, dia adalah satu-satunya orang dari kami bertiga yang hidup dengan sederhana tanpa kemewahan yang membutakan mata.

Lantas kenapa dia bisa bersama kami berdua dari kecil benar?, karena ayahnya... Barakiel... dia sudah bersahabat dengan ayahnya Kurama dan aku... bisa di bilang... persahabatan ayah kami menurun kepada anaknya... kami bertiga.

"Hm... kenapa aku tidak bisa melihat bar status milikmu Madara?."

"hmm?... mungkin itu membutuhkan sebuah sihir khusus yang dapat melihat bar status milik orang lain, atau... sudah program sistem bar status itu sendiri yang tidak memperbolehkan kita bisa melihat bar status milik orang lain."

"Kenapa demikian?."

"Karena kemungkinan kau bisa menyingkirkan atau membocorkan informasi dari mereka yang memiliki sebuah sihir yang bisa kau manfaatkan kepada mereka yang tidak bertanggungjawab, bisa di artikan juga... sebuah keuntungan dari kesempitan."

Bisa kurasakan mereka berdua menatapku, walau tak sedikitpun aku melepaskan pandangan dari indahnya alam di luar sana.

Bar Status... bisa juga di bilang data pribadi yang di miliki setiap orang, umumnya mereka akan tau kelebihan dan kekurangan mereka di bidang sihir apa... karena pastinya mereka akan selalu mengandalkan bar status yang memperlihatkan perkembangan mereka. Jika ada sebuah sihir yang dapat memperlihatkan bar status milik orang lain, tentunya hal itu akan menjadi sebuah keuntungan bagi orang tersebut.

DING DONG

Kurama-sama, Madara-sama, Naruto-sama... Narita Airport telah terlihat dan kami akan melakukan landing, harap segera pakai sabuk pengaman untuk meminimalisir benturan dan menghindari hal yang tidak di inginkan, terima kasih.

DING DONG

"Hoo... ternyata sudah sampai ya, cepat juga."

"Tentu... itulah kenapa pesawat ini di desain khusus oleh keluargaku, karena untuk ukuran pesawat Boeing... pesawat ini adalah yang tercepat pertama di dunia."

"Cih, sombong sekali... itulah kenapa aku tidak terlalu suka akan harta, yang dimana hal itu bisa membuat hati seseorang angkuh akan segalanya."

"Ahahaha... santailah Madara, kenapa kau selalu menganggap suatu hal itu dengan serius?."

"Hahh... sifat itu sudah melekat saat aku masih hidup di kehidupan sebelumnya."

Percakapan mereka berakhir dengan kami yang telah tiba di bandara, melangkah keluar dari pesawat... menyusuri kemewahan namun sederhana yang dimiliki bandara ini. Banyaknya orang yang berlalu lalang... speaker pengumuman yang tak henti memberikan jadwal penerbangan... padatnya ruang tunggu hingga tertangkapnya dua orang dengan kasus pengedaran senjata sihir ilegal.

Senjata sihir... alat yang dipergunakan oleh mereka yang memiliki kekuatan, banyak sekali jenis dari senjata tersebut. Panah... pedang... tongkat sihir... ketiga senjata itu adalah yang paling populer di gunakan selain senjata yang lainnya. Ada pula buku sihir yang biasanya digunakan bagi mereka yang tak memiliki gaya bertarung... dengan kata lain support.

Lama berjalan dengan percakapan yang di lakukan oleh Madara dan Kurama, kami tiba di luar bandara dengan satu unit mobil Limosin serta dua orang yang berdiri menunggu kedatangan kami... Kurama lebih tepatnya.

"Selamat datang kembali, Kurama-sama."

Dua orang itu membungkuk lalu membuka pintu mempersilahkan Kurama untuk masuk kedalam, satu orangnya lagi berlari masuk menuju bagian kemudi.

"Kalian berdua mau menumpang?."

Aku gelengkan kepala dengan senyum halus serta lambaian tangan pelan kearahnya.

"Baiklah kalau begitu... Madara, jaga dia untukku."

Madara mengangguk, disertai mobil Kurama yang perlahan melaju... pulang menuju kediamannya... Gremory House. Aku berjalan menuju taxi yang tersedia, Madara yang mengikutiku dari belakang dengan sesekali mengecek jam tangan yang tersemat manis di tangan kirinya.

"Jadi... bagaimana pendapatmu tentang kehidupan yang di berikan oleh Shinigami sialan itu?."

Ucapan Madara tak luput dari pendengaranku, walau aku terus menatap setiap gedung tinggi yang dilewati oleh taxi yang kami naiki. Terhanyut kembali kepada sebuah masa lalu, saat diriku dua tahun berlatih bersama Ero Sennin... masa yang indah menghilangkan gundah... saat dimana semua itu berakhir dengan kematiannya di tangan muridnya sendiri... Nagato-nii.

"Aku tak bisa memberikan hal yang bagus walaupun bisa ku lihat setiap yang dimiliki manusia di sini lebih maju dari kehidupan kita, karena... aku yakin... semaju dan sebagus apapun manusia... pastinya memiliki sebuah kegelapan tanpa dasar. Sebagaimana kau di waktu itu... Madara."

"Kau benar... semakin manusia mengenal arti dari sebuah kepercayaan, sedalam apa nanti saat mereka melihat jurang kekecewaan."

Aku tepuk pelan pundak sang sopir, yang perlahan memberhentikan mobilnya... menepi. Aku keluar dari mobil lalu melambaikan tangan pelan kearah Madara yang menganggukkan kepalanya. Aku memperhatikan mobil yang perlahan menghilang dari pandanganku. Menghela nafas pelan, diriku berbalik menatap sebuah mansion besar... terbangun di tengah-tengah hutan... tanpa ada bangunan yang lain.

Melangkah pelan dengan hembusan angin meniup dedauan yang menari mengikuti alur kehidupan, setiap hembusan angin... menarinya sebuah pohon dengan daun yang bergesekan... menjadikan sebuah suara yang indah diikuti kicauan burung di atas sana.

Memasuki halaman mansion dengan gerbang yang telah terbuka, aku perhatikan sekeliling... terlihat sebuah taman besar dan indah di sana... tersaji dengan rapih... tanpa cacat sama sekali. Dapat aku lihat para pelayan sedang mempercantik taman yang luasnya tak dapat ku kira, tanpa lelah maupun sedih... penuh senyuman dan candaan... kehangatan serta kenyamanan.

Aku tersenyum tipis saat merasakan sebuah kehangatan ini, sebuah kehangatan tanpa gesekan kebencian. Aku tau kedamaian pasti ada... walau itu hanya sementara... namun suatu saat pasti akan terwujud seterusnya.

"Naruto-sama, Selamat datang kembali."

Suara serentak para pelayan ku dengar penuh kegembiraan, menengok kearah dimana taman berada... ku lihat mereka membungkuk memberi hormat kepadaku. Aku tersenyum lalu mengangkat sedikit tanganku agar mereka berhenti melakukan hal itu, dengan langkahku yang tak henti... menuju pintu masuk rumah ku ini... Phoenix.

Menatap lama pintu masuk rumahku bagaikan istana, terukir indah disana burung phoenix berwarna orange keemasan dengan sayap yang terbentang memperlihatkan kegagahannya bagai suatu entitas yang agung. Entah apa filosofi leluruhku sampai bisa membuat sebuah marga dengan nama burung phoenix ini.

Mengangguk kepada dua pelayan yang menjaga pintu, dengan cepat mereka segera membuka pintu yang perlahan memperlihatkan interior dalam ruangan yang begitu mewah. Setiap pahatan yang dibaluti emas dan lampu besar yang menggantung di tengah ruangan bak istana kerajaan, pilar yang berjajar indah dihiasi lampu tulip berwarna kuning menempel di setiap lingkarnya... dua tangga penghubung lantai pertama dan kedua yang melingkari sebuah patung burung phoenix di tengahnya... serta sofa mewah berwarna putih yang di setiap kayunya terukir trible abstrak terletak di tengah-tengah ruangan.

Tiba-tiba angin bertiup kencang, menghempaskan setiap helai rambut kuningku... memperlihatkan perban menutupi kedua mataku yang perlahan melembab. Air mata perlahan mengalir, mengikuti bentuk wajahku yang pada akhirnya jatuh kelantai membuat setiap titik di sana.

Di balik perban ini... aku melihat tiga orang yang berjajar menyambutku, dua orang wanita dengan tinggi yang berbeda dan satu orang pria. Berdiri tepat membelakangi patung phoenix, dengan senyum hangat yang terukir di setiap wajah mereka.

Mereka berjalan perlahan mendekat, berbeda dengan satu orang wanita yang berlari riang sembari membuka kedua lengannya lebar... dia meloncat kecil kearahku... menabrakku lembut... disertai tawa dan air mata.

"Selamat datang ke rumah... Onii-chan~."

Suara khas gadis kecil terucap di bibir mungilnya, tak lepas dengan dirinya yang memelukku penuh rindu... karena jarak dan waktu.

"A... aku pulang... Ravel-chan."

Aku membalas pelukan adikku dengan hangat, memberikan setiap kehangatan dan kasih sayang kepadanya... di setiap usapan... di setiap kecupan di pucuk rambutnya... dan di setiap air mata yang membasahi relung hati.

"Selamat datang sayang."

"Selamat datang Naruto."

Aku alihkan pandanganku dari Ravel saat suara kedua orang tua ku terdengar, Memberikan senyum tulus kearah mereka berdua... lalu aku menunduk memberi hormat kepada mereka.

"Aku pulang, ayah... ibu."

Ibuku lalu memelukku erat, melepas kerinduan yang tak terbendung terlihat dari air mata yang terus mengalir tanpa henti. Aku membalas pelukannya dengan satu tangan yang bebas, karena tanganku yang satunya tetap mengelus pelan Ravel yang masih memelukku erat.

Lama kami dengan posisi ini hingga ibuku melepas pelukannya lalu memegang pipiku dengan kedua tangannya.

"Setelah sepuluh tahun kau pergi meninggalkan rumah, akhirnya kau pulang kepada kami anakku... banyak yang telah terjadi semenjak kepergianmu mengelilingi dunia... salah satunya Raiser."

Ibu ku berucap dengan tangannya yang terus mengusap pipiku lembut, merasakan setiap kehangatan yang di berikan kepadaku.

"Apa yang terjadi dengan Raiser ibu?."

"Saat mengetahui bahwa kau belum pulang dengan waktu lima tahun, dirinya mulai membenci dirimu. Dia menjadi arogan dengan melampiaskan amarahnya kepada mereka yang tidak memiliki kekuatan dengan merendahkan mereka... melukai setiap orang dengan sihir yang rendah... serta bermain wanita yang dimana itu menyakiti setiap hati wanita yang dia tiduri. Hingga sekarang... dia terus melakukan hal itu walau banyak guild yang sudah mencekamnya."

Bukan ibu yang menjelaskan namun ayah, yang sekarang sedang duduk di sofa menikmati secangkir kopi hangat yang telah di siapkan oleh kepala pelayan kami... Sebastian.

"Kenapa ayah tidak bertindak saat mengetahui Raiser seperti itu?."

"Aku sudah mencoba, menceramahi hingga memberinya pelajaran. Namun... kerasnya hati yang dimilikinya tak bisa aku pecahkan, walau itu dengan kelembutan dan tangisan ibumu."

Aku mencerna setiap yang ayah katakan, menyesali janji yang telah ku ingkar kepada Raiser dan Ravel saat sebelum diriku pergi dari rumah. Menatap Ravel yang sekarang menatapku tersenyum tulus... memeluk dirinya sekali lagi dengan maksud meminta maaf karena tak bisa menepati janji yang telah terbuat.

"Aku tidak marah onii-chan...Ravel tetap menyayangi Onii-chan sebagaimana Ravel sepuluh tahun lalu."

Ravel mengelus pundakku... memberikan sebuah ketenangan kepadaku agar berhenti menyalahkan diri sendiri. Dirinya mencium pipiku dengan senyum yang mengembang... lalu berlari menuju pangkuan sang ibu yang sekarang sedang duduk di samping ayah.

Aku menatap mereka kembali, melihat sosok ayah yang gagah sedang menumpangkan kakinya ke kaki yang satunya... menikmati secangkir kopi yang dia goyang pelan... sang ibu tersenyum dengan mata terpejam... dengan tangan yang memainkan rambut adikku Ravel yang sedang bersenandung. Sebuah keharmonisan keluarga yang aku idamkan saat aku masih di dunia sana... Shinobi. Aku tersenyum... dengan janji yang terukir di hati... akan selalu menjaga keluarga ku ini... sampai mati.

Bulan menghiasi malam... Kunang-kunang terbang menerangi alam... Kupu-kupu terbang di terangnya cahaya rembulan... bebas di angkasa... tanpa memikul sebuah beban.

Aku terpesona akan bulan yang indah bersinar, dengan tangan yang menopang pada balkon kamarku... segelas teh hangat yang mengepul di sampingku. Aku hirup udara dan ku hembuskan perlahan, menenangkan diriku karena sebuah kesalahan yang telah aku perbuat kepada Raiser dan Ravel. Aku bersyukur Ravel paham akan situasi yang aku lalui sepuluh tahun lalu, namun aku tak tau reaksi apa yang akan diberikan oleh Raiser setelah mendengar penjelasanku... apakah dia akan menerimanya ataukah tidak. Aku memegang kepalaku karena sakit saat memikirkan terburuk dari yang terburuk jika nanti aku bertemu dengan Raiser.

"Anda masih terjaga Naruto-sama?, aku bawakan susu dan biskuit atas perintah nyonya."

Ketukan pintu dan suara lembut terdengar, tak lama pintu terbuka dan langkah pelan menghampiriku... dia meletakkan susu dan biskuit di atas meja yang ada di balkon kamarku, lalu berdiri di belakangku... diam... tak bergeming... berdiri dengan menatap setiap bintang yang bersinar menaburi langit.

"Seperti yang kau lihat, menikmati setiap angin malam yang menerpa... suatu hal yang tak pernah bosan aku lakukan sebelum tidur... Narberal-chan."

Narberal... Narberal Gamma... seorang pelayan wanita dengan rambut biru kehitaman di kucir kuda, memperlihatkan bentuk wajah putihnya yang cantik dengan raut wajah yang menjadi ikonik bagi diriku... muka datar. Pelayan pribadiku dan sekaligus tunanganku.

Mungkin kalian bertanya kenapa Narberal yang notabenenya seorang pelayan menjadi tunanganku... benar?... aku bertemu dengannya saat diriku masih sepuluh tahun, yang saat itu Raiser dan Ravel baru menginjak umur tujuh tahun. Saat aku dan ayah sedang menuju crimson guild, aku melihat seorang gadis kecil duduk di tepi jalan dengan baju yang compang camping dan tubuh yang penuh memar serta darah yang kering membekas di sekujur tubuhnya. Melihat hal itu aku meminta agar sopir memberhentikan laju mobil... aku berlari menghampirinya, saat aku akan menyentuhnya... dia menjauh dengan tubuh yang bergetar... seakan trauma akan sesuatu. Mengandalkan senyuman dan ketulusan, akhirnya aku bisa mendapatkan kepercayaan darinya.

Singkat cerita, setelah merawat luka... membersihkan dan mengganti pakaiannya...( ingat... itu bukan aku... tapi di lakukan oleh pelayan wanita di rumahku oke?, aku bukan orang mesum kalian tau. )... aku mengajaknya mengobrol. Hal yang pertama aku dengar darinya adalah terima kasih, dan setelah banyak usaha agar dia menceritakan kenapa dirinya bisa terluka seperti itu... akhirnya dia membuka mulutnya. Keluarganya terlilit sebuah hutang yang bukan milik mereka... atau bisa di bilang... orang lain yang memiliki hutang tersebut namun memakai nama mereka, karena berdebat untuk menolak membayar hutang tersebut... kedua orang tuanya di bunuh dengan senjata sihir. Dengan sisa kesadaran, kedua orang tuanya menyuruh dirinya... Narberal... untuk segera pergi dan lari dari para rentenir itu.

Namun nasib berkata lain, saat dirinya berlari... dia berlari ke arah sebuah gang kecil dan buntu, terjebak tanpa bisa apa-apa. Dirinya hanya bisa pasrah saat para rentenir itu memukulnya... tanpa henti... tanpa belas kasih... dan tanpa ampun. Lama para rentenir itu memukuli dirinya, akhirnya mereka pergi membiarkan dirinya yang terbaring tak berdaya... menatap kosong kearah langit biru yang perlahan memudar dengan kegelapan yang merengut harapan.

Setelah mendengarkan apa yang di ceritakannya, aku dengan cepat memeluk dirinya erat... memberikan setiap kehangatan untuk menghilangkan rasa takutnya.

"Mulai sekarang, kau akan menjadi bagian dari keluargaku. Maka dari itu, jangan pernah takut lagi oleh sebuah kegelapan... karena saat kau berada di sana... aku akan menjadi cahaya akan gelapmu... menjadi sandaran akan sedihmu... menjadi teman akan sepimu... dan menjadi hangat akan dinginmu."

Bisa ku rasakan tubuhnya bergetar, lalu membalas pelukanku dengan air mata yang membasahi pundakku. Perlahan dia melepas pelukannya, lalu berlutut bagai kesatria yang tunduk pada rajanya.

"Aku... Narberal Gamma, dengan ini bersumpah setia hingga mati untuk menjadi seorang pelayan pribadimu... Tuanku."

"Naruto... Naruto Phoenix, itulah namaku. Salam kenal... Narberal-chan."

Detik itulah aku memiliki seorang pelayan pribadiku sendiri, bertatap muka... saling melempar senyum di setiap tawa yang tercipta.

Hm... kurang lebih seperti itu latar belakang Narberal yang aku ingat, lalu kenapa bisa sampai bertunangan?. Hm... anggap saja setiap hari yang aku lewati bersamanya menumbuhkan benih cinta di hatiku, yang perlahan semakin tumbuh hingga sekarang.

"Lebih baik anda segera tidur Naruto-sama, terlalu lama di luar tidak baik untuk tubuh dan kesehatan. Dan... aku percaya Raiser-sama akan paham dan mengerti saat nanti anda menjelaskan semuanya."

Bisa kurasakan sebuah kehangatan menyambar diriku, dengan dua tangan yang melingkar di bagian pinggang. Aku menengok, yang dimana terlihat Narberal sedang memelukku erat dari belakang...memberikan sebuah kehangatan yang aku rindukan.

"Aku merindukanmu, Naru."

Aku tersenyum tulus saat mendengar panggilan manja darinya, menatap bulan yang bersinar terang... ku genggam kedua tangan mungil itu dengan lembut.

"Aku juga... maaf karena tidak bisa menepati ja-."

"Sstt... aku mengerti Naru, Aku mengerti. Semua yang kau lakukan itu pasti memiliki alasan yang kuat kan?, dan semua itu untuk kebaikan keluargamu... adikmu... dan kita."

Aku berbalik, menatap Narberal yang juga menatapku. Perlahan wajah kami mendekat, menyatukan dua bibir yang telah lama tak bertemu...tanpa nafsu... hanya sebuah ciuman yang tulus penuh cinta dan melepas kerinduan yang menerpa. Lamanya kami melakukan itu, hingga akhirnya terlepas saat Narberal menarik bibirnya untuk menghirup udara karena sesak.

Aku tersenyum saat melihat wajahnya yang bersemu merah, ku usap pelan pipi indahnya... lalu menariknya kedalam pelukanku.

"Aku mencintaimu, Narberal-chan... aku mencintaimu."

"Hmm~~... aku juga mencintaimu Naru."

Malam diterangi cerahnya cahaya bulan... alam yang bergemuruh merdu di terpa angin... dan ributnya suara serangga meramaikan suasana... menjadi saksi akan sebuah keromantisan... yang tersaji indah di sebuah mansion berkedok kerajaan.

Aku terbangun dari tidurku, melihat jam dinding yang menunjukkan pukul tujuh pagi. Menoleh kesamping dan tampak Narberal yang tertidur memeluk diriku, wajah cantik menunjukkan sebuah ketenangan yang tak pernah bosan ku pandang. Mengecup pelan keningnya, lalu aku beranjak menuju kamar mandi.

Aku berkaca di cermin yang tinggi melebihi tubuhku, memperlihatkan penampilanku dengan jas dan celana serba putih serta dasi merah yang menggantung di leherku... perban mata yang tertutupi oleh poni rambut kuningku... jam tangan berwarna emas serta dua cincin emas tersemat di jari telunjuk dan tengah tangan kiriku.

Berjalan menuruni tangga menuju ruang makan, di sana telah menunggu ayah, ibu, dan Ravel untuk sarapan pagi bersama. Aku bisa melihat dari raut sang ibu yang tersenyum penuh arti, dan sang ayah tersenyum tipis penuh kesombongan.

"Menikmati malam panjangmu nak?."

Bisa kurasakan tubuhku menegang saat ayah berucap demikian, membuat wajahku terasa panas dibuatnya.

"Ara~ sepertinya begitu anata, anak kita telah melewati hari-hari yang berat bukan?~... jadi tidak salahkan dia menikmati malam bersama kekasihnya~."

Ayah hanya mengangguk menyetujui apa yang di katakan oleh ibu, hal tersebut membuat wajahku semakin panas karena godaan dari kedua orang tuaku.

"Ayah... ibu... sudahlah."

"Ara~ fu fu fu."

Kami berdoa atas nikmat yang diberikan, lalu menyantap hidangan yang telah disiapkan. Tanpa obrolan maupun candaan, menikmati setiap suapan... dan merasakan cita rasa di setiap potongan.

Aku pamit saat setelah selesai santapan pagi di sertai perbincangan ringan, berjalan menuju pintu utama berniat bertemu dengan Madara dan Kurama di tempat yang sebelumnya telah di sepakati. Namun saat pintu terbuka, terlihat di sana seorang pria berdiri menghadang. Api emas menyala di ujung tombak perak yang dia pegang, dengan senyum menyeringai dia menghunuskan tombak tersebut kearahku.

"Akhirnya aku bisa melihat wajah menyedihkanmu itu... Aniki."

Aku menegang atas siapa yang ku lihat, seseorang yang untuk sekarang aku takuti untuk menemui... Raiser.

"Raiser, dengarkan ak-."

"DIAMLAH!!, tak sudi namaku di panggil oleh seorang yang tak bisa menepati ucapannya SEPERTI DIRIMU BRENGSEK."

Dengan cepat dia meloncat kearahku dengan tombak yang terhunus. Tak mau mengambil resiko jika menghindar maka rumahku yang akan jadi imbanya, aku alirkan sedikit sihirku ke pergelangan tanganku.

BLASTT

Dua api bertubrukan, menciptakan percikan api yang menyebar kesegala arah. Dengan sigap, aku meraih tombak Raiser menggunakan tangan yang bebas lalu ku lemparkan tombak itu bersama Raiser ke arah sebelumnya dia meloncat.

WUSHHH SRAKKKK

Raiser mendarat dengan kedua kakinya yang terseret kebelakang, menancapkan tombaknya ketanah lalu merapal sihir yang terasa familiar bagiku.

"Wahai engkau mahkluk yang di kutuk oleh Surga, aku memangg-."

"HENTIKAN RAISER NII-CHAN."

Rapalan Raiser terhenti saat sebuah suara terdengar menggelegar dari dalam rumah, aku menengok dan terlihat Ravel berlari diikuti ayah dan ibu serta Sebastian. Ravel berhenti di depanku dengan membentangkan kedua tangannya, menatap Raiser sayu dengan air mata yang perlahan turun melewati pipinya.

"KUMOHON... HENTIKAN PERTENGKARAN KALIAN."

Hatiku tak kuasa menahan pilu saat melihat Ravel... dengan berani menghentikan kami walau tubuhnya masih terbilang kecil untuk menahan panasnya api yang sebelumnya tercipta.

Perlahan Raiser menghilangkan api yang membara di tubuhnya, lalu mencabut tombak yang sebelumnya dia tancapkan di tanah... menyimpannya di belakang punggungnya.

"cih... jika bukan karena Ravel, aku pasti sudah menghabisimu Aniki."

Raiser berbalik menuju gerbang, berjalan perlahan keluar dari halaman rumah... meninggalkan kami yang menatap kepergiannya tanpa pamit. Cih... kenapa aku begitu lemah jika menyangkut soal keluarga dan adikku... kenapa.

Ravel memelukku, menyadarkan aku dari ratapan kesedihan. Dia menatapku penuh kecemasaan akan masalah yang menimpa diriku.

"Aku yakin onii-chan bisa mengatasi semua ini tanpa harus membuat perkelahian dengan Raiser nii-chan, berjanjilah kepadaku onii-chan... kumohon berjanjilah hiks."

Aku tersenyum masam melihat kekhawatiran yang di tunjukkan Ravel kepada kedua kakaknya, dengan lembut aku membalas pelukannya... mengelus pucuk kepalanya lembut.

"Aku tidak bisa berjanji untuk itu namun... onii-chan mu ini akan berusaha untuk tidak membuat perkelahian dengan Raiser... walau kesempatan itu sangatlah kecil."

Aku menoleh pada ayah dan ibu yang menganggukkan kepalanya, membalas anggukkan mereka... aku menatap Sebastian yang membungkuk lalu berjalan kebelakang.

Melepas pelukan Ravel lalu mengusap kepalanya pelan, aku pamit pergi dengan mobil yang telah terpakir di depan menunggu diriku. Memasuki mobil lalu melambaikan pelan tanganku, Sebastian lalu menancap gas membuat mobil yang kutumpangi perlahan menjauh dari mansion phoenix.

Dering telepon berbunyi, ku lihat dan ternyata Madara yang menelepon. Aku mengangkat telepon dengan memandangi hutan yang indah ku lewati.

"Bocah tengik sialan, dimana kau ini hah?... bosan aku menunggu dengan Kurama yang dari tadi mengge- woi sialan diamlah ka- hei itu makananku, jangan kau am- ahkk terserahlah. Jadi... sekarang kau dimana?."

"Aku sedang dalam perjalanan, tunggulah sebentar lagi. Maaf membuat kalian menunggu, ada sebuah kecelakaan kecil dan sekarang sudah membaik."

"Hmm... baiklah, kami sudah menunggu di pinggir danau. Menunggu perintah lebih lanjut darimu."

"Ubah rencana, Kalian bisa langsung menuju gunung Fuji... kita akan bertemu disana."

"Baiklah."

Aku tutup telepon dan memasukannya ke saku celana, lalu kembali memandangi hutan yang perlahan terkikis oleh perumahan dan gedung tinggi yang menghiasi perkotaan.

"Ubah jalur perjalanan Naruto-sama?."

"Benar Sebas-san, kita akan langsung menuju gunung fuji... dimana dungeon dengan level tingkat tujuh satu satunya yang dimiliki jepang... The Hell."