Hello everyone, maaf aku telat update, karena ini aku baru sembuh dari sakitku. Jadi kenapa kamis kemarin aku tidak up karena itulah alasannya, sakit drop. so forgive me all.
Dan maaf juga bila chapter kali ini banyak hal abstrak maupun tidak terlalu masuk untuk di baca, karena aku berusaha maximal namun ya gini hasil dari otak yang di pres setelah bangun dari sakit tehehehe.
answer for Rizqa12 : yups, aku buat naruto di perban matanya.
Terima kasih untuk kalian yang sudah menyemangatiku untuk membuat fic ini, makasih banyak...
so enjoy..
The One
3
The One... adalah tahta atau puncak tertinggi bagi mereka yang telah menembus batas kemanusiaan, atau bisa dibilang Awakening tahap akhir. Banyak dari mereka yang sudah menembus awakening, namun tak sedikit pula dari mereka yang gagal menembus batas kemanusiaan dan berakhir menjadi The Keep Awakened.
Sempat aku bertanya kepada ayah mengenai the one, namun dia memilih bungkam tak mengatakan sama sekali soal itu. Lalu dimana the one berada?, hal itu aku tidak mengetahuinya karena kurangnya informasi dari tubuh ini.
"Kita sudah sampai Naruto-sama."
Aku tersadar saat Sebastian menyebut namaku, bisa ku lihat gunung fuji yang menjulang tinggi dan kokoh dengan sedekat ini. Perhatianku tertuju pada dua orang yang sedang menunggu dengan duduk di hamparan batu, sembari ku deskripsikan mereka beradu argumen.
"Terimakasih Sebas-san, beritahu ibu, ayah, dan Ravel-chan aku akan baik-baik saja."
Anggukkan Sebas menjadi alasan bagiku untuk keluar dari mobil dan melangkah mendekati dua orang itu, diikuti dengan mobil yang melaju menjauh dari lokasi. Semakin aku mendekat semakin pula terdengar apa yang mereka argumenkan.
"Andai jika bukan karena kau orang dari keluarga gremory mu itu, aku sudah pasti mencincangmu jadi makanan ikan piranha di sungai amazon sana."
"Hoo... sungguh?, jika kau bisa kenapa tidak kau lakukan sekarang? ayo sini maju."
"Cih... suatu saat itu akan terjadi, lihat saja."
"HAAA... bacotan uchiha!."
"DIAM KAU RUBAH SIALAN."
Aku hanya tersenyum melihat keakraban mereka setelah satu hari tidak bertemu, melihat hal itu aku jadi merindukan Sasuke yang selalu berdebat soal hal sepele. Aku gelengkan kepalaku, membuang segala memori yang tidak akan pernah terukir kembali.
Perlahan aku ucapkan mantra sihir, yang dimana hal itu membuat sebuah dinding di antara mereka. Kedua orang itu meloncat dan menengok dengan kuda-kuda yang terpasang sempurna, namun segera mereka turunkan karena aku sang pelaku pembuat dinding tersebut.
"Setidaknya berbicaralah Naruto, jangan kau pasang suatu hal seperti ini."
Ucap Madara dengan meninju pelan dinding itu berulah kali, dirinya menatap setiap yang terukir di dinding tersebut. Sebuah pohon dengan bulan di atasnya, dan di bulan tersebut terukir setiap koma berjumlah sembilan.
"Hoo... mugen tsukuyomi, sebuah kenangan buruk dari uchiha ini kah Naruto?."
Sebuah kata yang keluar dari Kurama membuat Madara menundukkan kepalanya, seakan menyesali perbuatannya di masa lalu.
"Maaf."
Aku berjalan melewati mereka berdua, mendaki menuju puncak gunung fuji yang bersalju dengan pelan... tanpa sedikitpun menoleh kearah mereka.
"Bukanlah sebuah kenangan buruk maupun baik, namun ukiran itu aku buat agar mengingatkan kita bahwa kita tanpa tragedi tersebut tidak akan bisa merasakan apa yang namanya kebersamaan."
Aku berbalik menatap Madara yang sekarang sedang menatap diriku datar, ku tersenyum hangat lalu ku ulurkan tanganku kepadanya.
"Seperti sekarang ini."
Madara menutup matanya dengan senyum tipis, tepukan di bahu membuatnya menoleh dan melihat Kurama yang tersenyum lebar dengan gigi putihnya.
"Baiklah... arigatou."
Suhu dingin menusuk setiap tubuhku, membuat indra perasaku hampir mati. Setiap langkah yang aku tapaki, setiap suhu yang semakin menurun menerpa raga ini.
"Fire ball."
Suhu tubuh yang dingin perlahan menghangat, saat setelah ku lihat Kurama membuat bola api yang terbang di sisi kami. Aku tersenyum kearahnya serta anggukkan sebagai terimakasih, dengan langkah yang perlahan semakin mendekati puncak gunung yang di daki.
"Huaaaa... lelahnyaaaa, tinggi juga ternyata. Hoo lihat aku bisa melihat Tokyo Tower dari sini."
Kurama berucap ria sembari dirinya memperhatikan sekeliling yang apa bisa di lihatnya, namun diriku terfokus pada apa yang di tengah-tengah kawah. Sebuah magma panas dengan ganasnya meliuk di setiap gelombang, muncratan lava di setiap detiknya menambah kesan horror bagi siapa yang melihat.
"Berapa lama magma itu terpendam di dalam sana?."
Madara bertanya, dengan sorot seakan menerka nerka apakah gunung ini akan meletus kembali atau tidak.
"1707 hingga 1708 adalah terakhir kali gunung ini meletus, ada kemungkinan kembali meletus namun... siapa yang tau."
Perlahan langit yang awalnya cerah menjadi gelap, awan berputar berpusat di posisi kami berada. Gemuruh petir terdengar kencang, bersama dengan sebuah tongkat meluncur menghantam tanah di sisiku.
BRAKKKK
Terlihat di sampingku, sebuah tongkat berwarna hitam pekat dengan ujung atas berbentuk lingkaran serta tersemat enam cincin menancap dengan kokohnya. Hal itu membuat Madara terkejut dan Kurama yang hanya memasang muka datar.
"Itu...Shakujo?."
Aku gelengkan kepalaku dengan memegang tongkat itu, "Gudodama lebih tepatnya, namun ini hanyalah replika yang di buat oleh Shinigami-sama tetapi dengan kekuatan yang sama. Jika gudodama adalah bola cakra, berbeda dengan gudodama ku yang terisi dengan sihir."
Gudodama, adalah dua dari hal yang aku pinta dari Shinigami-sama. Kenapa aku meminta senjata ini?,hm... alasannya simpel... karena fleksibel. yeahh... fleksibel, sebuah senjata yang cocok di gunakan di medan pertempuran jauh maupun dekat... serta pertahanan yang terbilang absolute. Apa?, alasan lain?, tidak ada... hanya itu.
"Hmm... kita lupakan soal senjatamu itu, siapa yang akan menjadi kelinci percobaan ke bawah sana?."
Madara bertanya dengan sorot yang kembali menatap magma yang sedang menari di bawah sana. Benar... gunung fuji, sebuah gunung yang telah menjadi dungeon di dunia ini dengan nama The Hell. Sebuah nama yang di berikan oleh dunia karena kesulitannya yang terbilang mustahil untuk di taklukkan... tingkat tujuh. Sebuah dungeon yang telah berhasil memakan banyak korban jiwa yang berusaha untuk menaklukkan nya, setiap para manusia yang memiliki kekuatan sihir sampai dengan mereka para the keep awakened pun tak pernah kembali dengan tubuh mereka. Pulang dengan nama yang terkenang.
"Dari yang aku tau, kita harus melompat terjun dengan kecepatan tinggi agar bisa sampai di dungeon tersebut. Hal itu agar kita bisa menembus lautan magma yang ada disana, karena apa yang kita lihat saat ini bukanlah sebuah fatamorgana melainkan hal yang nyata."
Kurama menjelaskan dengan tangan yang dilipat di depan dadanya, sorot mata yang menatap jauh ke arah dimana magma berada. Dirinya lalu menatap kami dengan wajah yang tersenyum menunjukkan deretan gigi tajamnya. Dengan sedikit dorongan, dia meloncat menjatuhkan diri terjun kearah dimana magma berada.
"AKU DULUAN WUHUUU... LIGHT!!."
Setelah sebuah rapalan dia teriakkan, dirinya berubah menjadi cahaya merah pekat yang dengan cepat menembus masuk ke dalam magma. Hal itu membuat Madara memegang pelipisnya, dengan pijitan pelan tak lupa helaan nafas keluar dari mulutnya.
"Entah kenapa... aku seakan melihat Hashirama versi litenya, dan melihatmu bagaikan Izuna... adikku."
Setelah menyampaikan pendapatnya, Madara melompat pelan lalu meluncur dengan badan yang tegap serta tangan yang di lipat di depan dadanya.
"Light of Lightning."
Perlahan tubuhnya melesat cepat bagai petir menembus magma, yang dimana hal itu membuat muncratan lava terbentuk tinggi seakan menerima benturan yang besar.
Aku hanya menatap kepergian mereka dalam diam, terhanyut dalam setiap angin yang menerpa. Menutup mataku menikmati setiap hembusan sejuk menembus tubuh, merasakan setiap dinginnya angin yang menusuk... hingga tulang rusuk.
"Adik... ya."
Gudodama perlahan memecahkan diri menjadi sembilan bola, lalu kembali menyatu membentuk oval dengan aku di dalamnnya. Mengangkat diriku ke tengah-tengah lubang gunung fuji, lalu meluncur dengan cepat hingga membuat suara benturan yang keras bahkan membuat magma mencuat keluar permukaan dan mengering setelahnya.
Tubuh berdiri tegap, suasana hening bagai kuburan. Gudodama perlahan menyusut menjadi sembilan bola hitam yang berputar pelan di belakang punggungku, membuat suasana hening tadi dapat terlihat jelas bagi diriku walau mataku tertutup rapat oleh perban putih yang terhalang poni rambut kuningku yang panjang hingga hidung. Tinggi dungeon lima kali dari tinggiku terhampar luas dengan lorong panjang seakan tanpa ujung, pencahayaan yang hanya mengandalkan cahaya dari kristal yang menempel di setiap dinding dungeon, serta aliran air mengalir dengan tenang tanpa gangguan. Sebuah suasana yang sangat tenang bagi siapa saja yang suka menyendiri.
Tak jauh dariku, terlihat Madara dan Kurama sedang menatap tumpukkan tengkorak manusia yang di susun bagai piramida. Bisa disimpulkan, mereka adalah para hunter yang mati disini... terlihat dari apa yang mereka pakai sebelum mereka mati. Aku menghampiri kedua orang itu lalu berjongkok menyentuh sebuah perisai dengan lambang phoenix, kuusap perlahan lalu membawa perisai itu dan menancapkan nya tak jauh dari tengkorak yang bersandar di dinding dungeon.
"Semoga kau tenang di alam sana saudara ku."
"Phoenix, gremory, sitri, lucifer, bahkan himejima pun ada... apakah salah satu dari mereka ada keluargamu Madara?, bukankah keluargamu tidak membuat sebuah guild?."
"Dari apa yang di ceritakan ayahku... dulu kakek pernah berusaha menaklukkan dungeon ini bersama guild yang lain. Namun... dua minggu berlalu dan mereka tidak pernah kembali, dan bisa jadi di antara mereka ini ada tengkorak dari kakekku."
"Begitu ya... turut berduka cita untuk kakekmu Madara, sepertinya dia adalah pria yang hebat."
"Hm... dia adalah orang satu-satunya dari keluarga himejima yang mendapatkan keajaiban berupa kekuatan petir, maka dari itu tak heran mengapa hanya ibu, aku serta adikku Akeno yang memiliki kekuatan dari banyaknya keluarga himejima."
"Hoo... itu berarti-."
"Benar, ibu dan kakek di kucilkan dari keluarga himejima... lalu mereka pergi menuju Tokyo dan disana mereka bertemu dengan ayahku Barakiel. Saat itulah kehidupan ibu dan kakek berubah semenjak bertemu dengan ayahku dan memilih bekerja di kuil. Berbeda dengan ibu... kakek ku memilih untuk menaklukkan setiap dungeon dengan bantuan guild yang setia bersamanya, hingga berakhirnya kisah mereka di sini... the hell."
Mendengar setiap kata yang terucap dari Madara, dengan tangan terkepal kuat menahan amarah yang tak lepas dari pandangan ku. Perlahan aku mengingat bagaimana masa laluku yang dari kecil selalu di kucilkan warga desa, di hina, di caci, bahkan di sebut aib konoha. Semua usaha yang kau lalui sewaktu dulu, suatu saat akan membuahkan hasil yang pantas kau dapatkan hm... tapi bagaimana nasib membawamu.
"Tenanglah bung, kami disini bersamamu untuk membalas kematian kakekmu itu. Juga... sepertinya kita tak perlu repot-repot mencari siapa penanggungjawab dungeon ini khekhe."
Berakhirnya kalimat Kurama diikuti kekehan tawa serta datangnya seekor monster dengan rupa seperti naga tanpa sayap, berukuran dua kali lipat dari kami dengan sisik mengkilap berwarna hijau gelap. Air liur mengalir di setiap celah gigi tajam dari mereka yang merayap pelan diikuti suara geraman siap menerkam.
Grrrrrr
"Tiga... empat... empat Lizardman ya, apakah hanya mereka yang bisa membuat dungeon ini bernama the hell?."
Kurama melesat ke arah dua lizardman yang sekarang sedang menghunuskan tombak mereka, meloncat dan berputar di udara... dia menghantamkan tinjunya ke arah tanah. Hal itu mengakibatkan tanah retak dan tercipta shockwave, menghempaskan dua lizardman membentur dinding dungeon.
BRAKKKK BRAKKKK GROARRR
Kurama tak menyadari dua lizardman sudah siap menghantamkan kampak besar mereka kearahnya, namun dengan cepat Madara menendang satu lizardman dari samping. Mengakibatkan tubuh lizardman terdorong mendorong tubuh lizardman yang satunya menghantam dinding dungeon hingga berlubang.
Dua lizardman terhempas dan dua lainnya terkubur oleh runtuhnya dinding dungeon akibat Madara, aku hanya menyaksikan mereka dalam diam hingga tidak mendapatkan kesempatan untuk unjuk gigi.
"Udah?, gini aja?."
"Jangan gegabah bodoh, dungeon tingkat tujuh tidak mungkin hanya seperti ini. Lihat lah kedepan!."
Kurama menatap kedepan, dan terlihat sekawanan goblin dan orc berdatangan dengan buas. Aku bersiap menyerang mereka dengan uluran tanganku memerintahkan gudodama untuk menghabisi para goblin dan orc itu, namun Madara mengangkat setengah tangannya dengan lirikan mata tajam.
"Biarkan aku dan Kurama yang mengurus mereka, karena aku yakin... simpan kekuatanmu... karena pasti akan sangat berguna nanti."
"Mau berlomba denganku Uchiha?."
"Sudah ku bilang aku Himejima sekarang."
"AHAHAHAHA."
BATSSSS
Dengan cepat, tanpa terlihat... para goblin dan orc sudah tertebas menjadi dua bagian di setiap lorong yang panjang. Aku melihat itu hanya menghela nafas panjang, mengulurkan tanganku kesamping... membuat gudodama menjadi sebuah tongkat seperti saat awal pertama kali dia muncul.
Aku berjalan tenang, menikmati keindahan dungeon dengan bercak merah berbau amis di setiap dindingnya. Sejauh apa lorong dungeon ini dan sudah sampai mana mereka?. Aku berhenti, menatap lama satu goblin yang hanya tersisa kepala.
"Apakah aku bisa membangkitkan makhluk yang sudah mati ya?, hm... tidak ada salahnya menc-... tunggu, selama ini aku belum pernah melihat bar status ku."
Saat aku mencoba untuk melihat bar status, sebuah suara keras terdengar dari ujung dungeon.
GROAARRRR
Dengan cepat aku menengok, lalu berlari dengan api orange di setiap hempasan angin yang tercipta. Berlari, menghiraukan setiap lorong yang ku lalui sudah bagai neraka yang di lahap api... tak memperdulikan perban yang perlahan terbakar karena panasnya api yang perlahan membara di setiap tubuhku. Perasaan tak enak membanjiri hati, keringat menguap setiap menyentuh kulit. Fokusku hanya memeriksa kondisi Madara dan Kurama karena aku takut jika dungeon ini-.
SREEETTT
GROAARRRR
Aku terdiam, dengan lutut menompang tubuh yang lemas, menatap Madara dan Kurama yang sekarang terbaring di tengah-tengah dungeon yang begitu besar dan luas. Luka bakar dan darah mengalir di setiap tubuh mereka, pakaian yang compang camping tak layak lagi di pakai.
"Uhukk... Na... Naruto, pergilah!."
Ucapan Kurama sebelum akhirnya pingsan karena kehabisan darah akibat sebuah pertarungan yang bisa di gambarkan mati matian.
Di sana, sebuah monster dungeon yang tidak di harapkan di temui oleh Naruto, sebuah eksistensi yang sulit diidentifikasi. Makhluk dungeon yang pertama kali memporak porandakan Bumi di awal semua ini di mulai, sosok hitam gelap keunguan dengan bentangan sayap yang lebar memperlihatkan kekuasaannya. Kepala yang terangkat angkuh bagai dia yang terkuat, dan raungan menggelegar bagai dia yang tak terkalahkan.
GROAARRRR
"TRIHEXAAAAAAAAAAAA."
Mataku terbuka sempurna, tak ada lagi perban menutup maupun poni yang menghalangi. Ledakan api emas membara menyebar membakar setiap ruangan besar dungeon ini, menjadikannya sebuah sangkar api emas dengan cahaya dominan di mataku. Bola mata emas ku perlahan berubah menjadi lambang timbangan berwarna kuning emas, dengan tangan tengkorak dibalut api perlahan keluar di belakang sang trihexa... menggenggamnya erat.
GROAARRRR
"GOD of JUDGMENT."
BATSSS
