Answer for AhegaoDoublePeace : sepuluh tahun dia berpetualang dan sepuluh tahun juga terakhir dia mengecek bar status miliknya sebelum akhirnya Naruto (Shinobi) mengambil alih tubuhnya. Itulah kenapa Naruto (shinobi) belum mengecek lagi bar status milik tubuh yang dia singgahi.

Untuk Madara dan Kurama tidak aku buat Nerf, namun... lihat saja nanti fufufu.

Hanya skill fisik dan pengalaman bertarung yang mereka bawa yang murni dari diri mereka, karena yaaa... anggap saja sang Shinigami-sama itu pelit tehee. OK that's it, semoga jawabanku bisa memuaskan.

The One

4


"TRIHEXAAAAAAAAAAAA."

Mataku terbuka sempurna, tak ada lagi perban menutup maupun poni yang menghalangi. Ledakan api emas membara menyebar membakar setiap ruangan besar dungeon ini, menjadikannya sebuah sangkar api emas dengan cahaya dominan di mataku. Bola mata emas ku perlahan berubah menjadi lambang timbangan berwarna kuning emas, dengan tangan tengkorak dibalut api perlahan keluar di belakang sang trihexa... menggenggamnya erat.

GROAARRRR

"GOD OF JUDGMENT."

BATSSS

Dengan sekejap, sebuah lambang timbangan emas besar tercipta di atasku. Perlahan timbangan bergerak memberat kearah kiri, yang dimana hal itu membuat getaran besar terjadi di ruangan dungeon yang telah menjadi sangkar api ini.

DING

Sebuah suara menggema saat setelah getaran terjadi, dengan munculnya tangan berwarna emas menghimpit sang trihexa yang sedang dalam genggaman tangan tengkorak api. Terkekang dan tak bisa bergerak, trihexa hanya mampu terdiam bisu melihat setiap usaha yang aku lakukan untuk memusnahkan dirinya. Dengan sekali hempasan sayapnya, semua sihir judgment ku hilang begitu saja... tanpa sisa.

Aku hanya menggertakan gigi karena kesal semua hilang begitu saja, sudah kuduga hal semacam ini tidak mudah untuk dilakukan. Perlahan... timbangan di mata kiriku berubah warna menjadi hitam kemerahan, dengan di setiap rantai yang menjalar memenuhi bola mata. (Biar ku jelaskan, timbangan di mata kirinya adalah pupil, dan rantai yang menjalar itu di bagian bola mata yang putihnya. Semoga kalian paham.)

"ABYSS OF JUDGMENT."

DING

Timbangan di atasku berubah menjadi hitam kemerahan, yang bergerak memberat di bagian kanan. Sangkar apiku perlahan berubah menjadi merah pekat, membentuk aliran lava yang menaik membuat lubang hitam di atasnya. Tangan hitam keluar dari dalamnya dengan cepat menghantam trihexa yang tak sempat menghindar.

BRAKKKK GROARRR

Aku melihat hal itu dengan datar, karena aku tau hal seperti itu tidak akan terlalu berefek padanya. Maka dengan cepat aku melesat menghunuskan gudodama yang telah berubah menjadi shakujo kearahnya.

BRAKKKK SRAKKKK GROAARRRR

Satu sayap terpisah dari dirinya, hal itu membuat trihexa meraung keras menahan sakit akibatnya. Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan, aku tarik shakujo ku dan bersiap menghantamkannya kearah lehernya. Namun karena hilangnya fokus, ekor dari trihexa berhasil menghantamku dan menghempaskan tubuhku melesat jauh menghantam dinding dungeon.

WUSHHHH BRAKKK

"Uhukk uhukk."

Terbatuk dan menggeram menahan sakit, aku berusaha untuk bangkit dengan shakujo menjadi tumpuan tubuhku untuk berdiri. Bisa ku lihat trihexa perlahan berdiri tegap dengan cairan hitam keluar dari bagian sayap yang tersayat, membuka mulutnya lebar yang dimana cahaya ungu berkumpul di tengahnya.

"God of Judgment : Remission."

DING

Timbangan di atasku berbunyi, timbangan di mata kananku memberat ke arah kiri. Dari dalam tanah keluar pedang besar berwarna emas menusuk tepat di bagian perut trihexa, yang membuat dia meraung mengagalkan sihir yang tidak aku ketahui itu.

GROAARRRR BRUKK

Aku hempaskan tubuhku ke tanah, duduk dengan nafas terengah-engah saat melihat trihexa ambruk tanpa bergerak. Timbangan di atasku perlahan menghilang diikuti sangkar api yang membuat suasana kembali seperti semula. Sial... tubuh ini ternyata masihlah jauh dari kata kuat setelah semua hal yang aku lakukan.

Aku tatap lama trihexa dengan kedua mataku yang berbeda, kanan dengan timbangan emas dan kiri timbangan hitam kemerahan. Aku tersenyum tipis saat setelah lama tidak ada pergerakan dari trihexa.

"Akhirnya sele-."

"Riset."

BATSS

Tiba-tiba tubuh trihexa kembali seperti semula, tak ada luka tusuk di perutnya bahkan sayapnya kembali menempel di tubuhnya. Seakan semua pertarungan tadi hanyalah mimpi bagiku yang sekarang membulatkan mata tak percaya dengan apa yang aku lihat.

"A...apa?... ba...bagaimana bisa?."

Aku tergagap, terkejut dengan semua ini. Apa maksudnya ini?... kenapa dia pulih kembali?... apakah semua yang aku lakukan. hanyalah ilusi?... aku tidak mengerti... ada apa ini?.

Perlahan tubuh trihexa mencair, mengompres dan membentuk tubuh seorang wanita dewasa dengan rambut ungu hingga pinggang serta tanduk putih melingkar di bagian kepalanya. Baju miko sebahu dengan syal hijau menggantung di bahu kirinya, bola mata ungu dengan eye shadow menambah kesan cantik untuk apa yang aku lihat sekarang ini (Featherine Augustus Aurora / FAA, dari anime Umineko. Ingat... aku hanya mengambil wujudnya saja oke).

"Tidak kusangka... orang sepertimu mampu mendapatkan berkah dua judgment, sihir para dewa dan iblis."

Tidak fokus dengan apa yang dia ucapkan, diriku berusaha untuk berdiri dan mengaktifkan kembali sihir judgment ku. Namun saat akan mengucapkan sihir judgment, trihexa sudah ada di depanku... mencekik lalu melemparku kearah dimana sebelumnya dia berada.

WUSSHHH BRAKKKK

"Ahkk..."

Bagai tulang yang patah, aku tak bisa kembali berdiri saat merasakan tubuhku tak bisa di gerakkan. Terbaring terlentang dengan kepala yang aku usahakan untuk melihat trihexa mendekat kearahku dengan mata timbangan yang berputar pelan.

"Uhukk.. ahkk... si... siapa kau ini?."

Tubuhku perlahan melayang, terkekang seakan sesuatu menahanku agar tetap tersalip melayang seperti ini. Aku dongakkan kepalaku yang dimana trihexa sudah berada tepat didepan diriku.

"Aku?... seperti yang kau tau, aku adalah trihexa... suatu entitas yang memporak-porandakan bumi saat awal semua ini dimulai... bukan begitu?."

Aku hanya bisa menggertakan gigiku saat dia memperjelas apa yang selama ini menjadi legenda bagi kami... manusia, di depanku... entitas yang seharunya di musnahkan sekarang menatapku hina dan aku tidak bisa apa-apa... betapa lemahnya.

"Apa maumu trihexa?, jika kau uhuk... ingin membunuhku... kau bisa melakukannya."

"Ara~ aku tidak akan melakukan hal itu... untuk sekarang, namun-."

Tangannya menggenggam daguku, mendekatkan wajahnya lalu berbisik di telingaku dengan menjilat pipiku di sertai saliva yang terbentuk.

"Aku menginginkan dirimu... manusia."

"Apa maksudmu?."

Ucapku mengulur waktu hingga tenaga dan sihirku kembali pulih dan bisa memutar balikkan keadaan yang menjijikkan ini.

"Dirimu... satu satunya manusia di muka bumi yang memiliki berkah judgment... sihir yang dapat menghancurkan semesta beserta isinya dan menciptakan ulang semuanya. Sebuah kekuatan yang tak pernah sekalipun DIA turunkan kepada setiap makhluk yang dia ciptakan, namun sekarang DIA menurunkannya kepadamu... fufufu... sungguh menarik bukan begitu?."

Aku terdiam, tatapanku kosong menatap lurus mata indah berwarna ungu itu. Melihat setiap unsur kebohongan yang dia ucapkan namun semua itu sia sia, seakan apa yang dia ucapkan adalah benar adanya.

"Jadilah milikku manusia, menyatulah denganku dan kita lahirkan sebuah peradaban yang dimana tuhannya adalah dirimu."

Perlahan wajahnya mendekat, menyatukan bibir Cherry nya denganku. Namun sebelum trihexa melakukan hal itu, tubuhnya terhempas kencang kebelakang tapi tidak melukainya karena trihexa berhasil menyeimbangkan tubuhnya berdiri di tanah.

"JANGAN BERCANDA."

"Remission of sins."

DING

Lingkaran sihir berwarna emas muncul mengelilingi trihexa, perlahan tubuhnya di tekan tunduk oleh cahaya yang keluar dari sihir tersebut. Trihexa menggeram menahan sakit akibat cahaya pemurnian yang aku lakukan kepadanya, sekilas pandangan kami bertemu dan terlihat sorot amarah yang dia tunjukkan pada diriku.

"K-kheh...destruction."

BLARRRR

Ledakan tercipta dari tubuh trihexa yang mengeluarkan aura ungu gelapnya, menghancurkan setiap lingkaran sihir yang sebelumnya menekan dirinya. Trihexa merubah kembali tangan kirinya menjadi pedang hitam, lalu melesat cepat kearahku menghunuskan tangan pedangnya itu.

Timbangan di mata kiriku berputar cepat, memutuskan setiap rantai yang menjerat keseimbangannya. Aura hitam kemerahan membara di tubuhku, menutupi seluruh diriku yang tak bisa di lihat oleh trihexa yang sedang melaju cepat kearahku.

TRANKKKK

Trihexa membulatkan matanya, terkejut bukan main saat melihat apa yang menahan serangannya. Sebuah benda yang sangat dia kagumi sebelum semua ini di mulai, sebuah benda yang sangat dia sanjung saat bersama sosok yang dia hormati.

"Ke-kenapa benda itu ada padamu?"

Terlihat di balik benda ini, tubuhnya bergetar menahan rindu dan sedih. Air mata terkumpul di pelupuknya, yang perlahan jatuh membasahi pipi cantiknya.

"JAWAB AKU MANUSIA, KE-."

Trihexa tiba-tiba terdiam tak melanjutkan ucapannya, menarik nafas menenangkan diri, dia lalu mengusap air matanya dan memandangku tajam.

"Siapa namamu manusia?"

"Naruto... Naruto Phoenix."

"Naruto Phoenix huh, akan ku ingat hal itu."

Sebuah kabut hitam muncul di belakang trihexa, dia lalu membalikkan tubuhnya perlahan melangkah masuk kedalam kabut itu.Namun dia berhenti, lalu menengok menatapku penuh kilatan dari ujung matanya.

"Aku Ourora... Ourora II Trihexa, ingat ucapanku Naruto Phoenix... Jangan kau terlalu melebihi batasanmu. Mereka selalu mengawasi setiap makhluk yang ada."

Kalimat terakhir trihexa atau Ourora adalah penutup dari pertempuran kami saat setelah dia masuk kedalam kabut hitam itu dan menghilang bagai di telan bumi.

Benda yang melindungiku sebelumnya menghilang, timbangan berbeda warna di kedua mataku meredup namun tetap setia berputar pelan. Perlahan tatapanku mendatar, menatap kosong lurus kedepan tanpa sedikitpun bergerak dari posisi.

Madara perlahan duduk dari posisi terlentangnya, menggerakkan lehernya ke kanan dan kiri hingga berbunyi patahan tulang lalu berdiri. Kurama menyusul mengangkat tubuhnya dari terlentang, Kedua tangannya yang hampir putus menyatu kembali, menyisakan luka bagai jaitan di kulitnya. Dirinya lalu merenggangkan otot-otot yang kaku dengan menguap lebar.

"Hoaammm... sakit juga ternyata jika luka tidak di obati dengan waktu yang lama hm."

"Hm, kepalaku sampai pusing akibat tak memberhentikan pendarahan. Ngomong-ngomong, sejak kapan kau mempunyai sihir penyembuh, Kurama?"

"Maksudmu?"

"Umumnya bagi mereka healer atau support dengan basis sihir cahaya, penyembuh hanya mampu mengobati luka goresan. Untuk luka fatal mereka hanya mampu menghentikan pendarahannya saja dan selanjutnya akan di tangani oleh ilmu medis, serta bagi mereka yang kehilangan anggota badannya pasti tidak akan bisa melakukan hal seperti apa yang di lakukan oleh mu barusan."

"Hoo... aku hanya sedikit memodifikasi, membuat sihir cahaya mengalir di setiap tubuhku. Cahayaku berwarna merah kehitaman dan itu sangat cocok dengan warna darah jadi sangat efektif untuk mengelabui musuh setingkat Ourora."

"Garis besarnya aku paham apa yang kau maksud, namun apakah sakit saat tanganmu akan terputus?"

"Tentulah bodoh, rasa sakit tidak bisa aku akali. Seperti sakitnya hati oleh cinta yang tak di restui."

"Gahh... darimana kau belajar kata-kata menjijikan itu?"

"Rias Gremory, adikku tercinta tentunya hahahaha."

"Hahhh... sampai kapan kau akan mendengarkan ocehan tak berguna rubah bodoh ini, Naruto?"

Perlahan aku melangkah keluar dari sisi gelap dungeon, tersenyum kecil saat tau bahwa mereka berdua tidak bisa aku kelabui oleh hal semacam itu. Menatap diriku yang satunya, perlahan dia berubah menjadi gumpalan gudodama lalu menyatu dengan shakujo.

"Aku tidak menyangka kau selicik ini Naruto, Hingga bisa membodohi makhluk setingkat Ourora. Kenapa otak pintarmu tidak kau gunakan di dunia shinobi huh?"

Aku menatap gudodama yang melayang pelan kearahku, membagi menjadi sembilan bola lalu berputar pelan di belakangku.

"Sedikit alasan bagiku untuk bertingkah bodoh, tidak mengharapkan apapun untuk kehidupan yang sudah ditakdirkan."

Aku menatap mereka dengan menyipitkan mataku, membuat kedua orang itu tersenyum kaku.

"Lagi pula, kenapa kalian tidak membantuku?"

"Oh ayolah, sedikit hiburan tidak apa-apa bukan? setidaknya dengan pertarungan dirimu, kita bisa sedikit mendapatkan informasi tentang kekuatanmu itu."

"Madara benar Naruto, dan juga aku bosan jika harus setiap harinya mendengarkan ocehan Sirzech dan Rias di rumah."

"Lalu? apa hubunganku dengan adik adik mu itu?"

Kurama tersenyum ria, "tidak ada ahahaha."

Mengangkat kedua bahuku, berjalan kearah tengah dungeon diikuti oleh Madara dan Kurama, lalu tercipta lingkaran sihir di bawah kami dengan pola yang rumit saat aku selesai merapal mantra.

"Sebuah perhatian untuk kehidupan yang hampa, dan ocehan untuk jiwa yang tersiksa. Bagiku, dunia shinobi adalah sebuah hal yang pantas aku dapatkan hingga akhirnya aku terbebas dari semua itu. Kenangan tetaplah kenangan dan masa depan adalah kehidupan."

"Apaan sih nih bocah?"

Aku hanya tertawa pelan saat Madara berucap demikian. Dengan cepat, lingkaran sihir menelan kami, menyisakan sebuah kesunyian di dalam dungeon yang meninggalkan sisa pertarungan antara Ourora dan kloningan diriku yang tercipta dari gudodama.

World Dungeon Union atau bisa di singkat WDU, adalah serikat yang di bentuk oleh pemerintah dunia untuk mendeskripsikan setiap dungeon yang ada. Mereka bekerja sebagai penilai apakah dungeon tersebut berada di tingkat satu atau pantas berada di tingkat sembilan, menganalisis apa saja yang berada di dalam dungeon serta monster seperti apa yang menempatinya.

WDU juga menjadi serikat yang menilai para hunter dengan sebuah batu kristal sebagai perantara untuk melihat di level manakah mereka mampu menginjakkan kaki di dungeon, karena faktor inilah tak ayal banyak dari mereka yang bertalenta tinggi namun karena kapasitas entah dari fisik maupun sihir yang rendah membuat mereka mau tak mau tetap harus mengikuti prosedur yang tertera.

Lalu bagaimana cara mereka berkembang jika faktor kekangan yang di buat oleh WDU menghambat mereka? jawabannya adalah The Dark atau TD, sebuah perusahaan atau pasar gelap yang menyediakan jasa suntik bagi mereka yang ingin berkembang atau bahkan ketingkat Awakening. Bagaimana serta alat apa yang mereka gunakan itu masih menjadi misteri bagi WDU dan guild besar lainnya, bahkan dimana dan siapa yang menciptakan TD masih di pertanyakan hingga sekarang.

Aku menatap gedung WDU yang tinggi menjulang, dengan halaman yang membentang luas serta tiang bendera yang berjejer di sisi kanan dan kiri. Terlihat olehku banyak dari mereka yang berlalu lalang di halaman WDU, entah dengan muka bahagia maupun kemuraman di wajah mereka. Aku berada di sini karena memiliki sedikit urusan dengan pemimpin WDU, berjalan masuk dengan sambutan bagi mereka yang mengetahui diriku. Menaiki lift menuju pantai teratas, lalu menatap datar pintu yang bertuliskan "Manager" di depanku. Mengetuk pelan, setelah mendapatkan persetujuan pemilik ruangan, aku membuka kenop pintu dan terlihatlah seorang pria berambut hitam berponi pirang duduk sedang berkutik dengan tumpukkan kertas yang hampir menutupi wajahnya.

"Ahhh kau memang penyelamat hidupku Naruto, waktu yang tepat untuk beristirahat hahaha."

Aku duduk di sebuah sofa yang tersedia, menumpangkan kakiku dengan tangan yang menyilang di depan dada. Pria itu duduk di sofa yang berlawanan denganku, dia menatapku datar dengan alis yang terangkat seakan memberikan sebuah pertanyaan.

"Apa yang membuat salah satu dari Five Rulers datang menghadap diriku hm?"

Aku terdiam sesaat, menatap lurus mata pria itu yang tak gentar dengan hal itu. Dia hanya memberikan seringai di wajahnya, seakan apa yang ku tunjukkan tidaklah sebanding dengan apa yang pernah dia lalui dulu.

"Tidak ada, hanya sebuah hal yang tidak penting."

Tak lama timbangan di mata kiriku berputar cepat, lalu aura hitam kemerahan keluar di tangan kananku yang aku bentangkan. Muncul sebuah pedang besar berwarna hitam dengan ukiran yang bersinar merah di setiap bilahnya, serta sayap hitam sebagai penyambung bilah pedang dengan genggamannya.

Pria itu menatap datar benda tersebut, tatapannya penuh akan tanya saat diriku mengeluarkan pedang yang notabenenya pemberian dari pria itu.

"Pedang ini adalah pemberian dari dirimu yang kusimpan dengan baik, tidak pernah aku keluarkan untuk bertarung sebelum pada akhirnya pedang ini aku gunakan saat melawan musuh yang kuat."

"Hoo bagus bagus, lalu bagaimana? apakah kau berhasil membelahnya menjadi dua atau apa?"

Wajah yang dia tunjukkan penuh akan ketertarikan, aku hanya tersenyum halus menanggapi hal tersebut. Dengan cepat aku hunuskan pedang itu kearahnya yang membuat dia memundurkan sedikit kepalanya.

"Tidak aku gunakan untuk menebas maupun mencincang, namun pedang ini aku gunakan untuk bertahan. Dan musuh yang aku lawan adalah sosok yang menjadi awal dari penyebab semua ini di mulai."

Keringat mulai meluncur di keningnya, tatapannya perlahan mendatar tanpa ekspresi menatap diriku kosong. Tidak luntur senyuman di wajahku, aku lanjutkan ucapanku.

"Dia adalah eksistensi itu sendiri, anomali yang tidak bisa diidentifikasi. Namun saat aku keluarkan pedang ini, dia menunjukkan hasrat akan kerinduan. Seakan dia pernah bertemu atau lebih tepatnya selalu bersama orang pemilik pedang ini."

"Jadi?"

"Aku hanya menebak, dan tebakanku mengenai sasaran. Bukankah begitu?"

Aku berdiri, mengangkat pedang itu keatas. Dengan cepat aku tancapkan pedang itu dengan kedua tanganku. Kedua timbangan di mataku aktif, berputar pelan menatap pria itu yang sekarang mengeluarkan aura hitam pekatnya.

"Aku hanya ingin bertanya padamu, dengan semua kata yang telah aku ucapkan. Bukankah aneh jika sosok itu seakan merindukan dirimu, Aza?"

BATSSS

Tiba-tiba ruangan milik pria itu berganti menjadi warna putih tanpa ujung, menyisakan diriku dan dirinya yang berdiri jauh disana.

"Sudah ketahuan ya hm."

Perlahan, tubuh pria itu berubah menjadi sosok yang abstrak. Sulit ku deskripsikan namun yang jelas sayap hitam berjumlah enam bertengger manis di punggungnya.

"Ternyata benar, dirimu adalah salah satu dari perwujudan makhluk yang bebal. Malaikat jatuh yang di kutuk dari surga, satu dari tiga makhluk pemimpin dunia bawah dungeon. Evil Angel... Azazel."