Answer for AhegaoDoublePeace : Makasih sebelumnya kawan, untuk wujud Azazel dia sama seperti di DxD, untuk wujud abstrak nya... kamu bisa bayangkan sendiri karena aku tidak membayangkan yang keren keren... hanya abstrak saja ehehe.
untuk reader yang meminta wold lebih panjang akan aku usahakan, karena aku masih banyak kekurangan soal menulis.
Ok that's it, untuk chapter 5 ini jika banyak kekurangan mohon di koreksi semuanya, sekian... terima kasih.
The One
5
Aku menatap dalam diam Azazel yang terbang melayang dengan wujud yang sulit diidentifikasi, seakan tak ada niat untuk bertarung dia terus seperti itu beberapa lama. Aku menghela nafas, mencapkan pedang lalu duduk di lantai yang berwarna dasar putih itu.
"Berapa lama kita akan terus berdiam diri seperti ini Azazel?"
"Tergantung kau akan menyerangku atau tidak."
"Oh ayolah, hilangkan sifat egoismu itu yang selalu ingin di serang lebih dulu. Sesekali kaulah yang harus memulai bung."
"Seperti ini?"
BUAKKKHHH
Aku terpukul saat tidak menyadari kehadiran Azazel yang sudah di belakangku dengan bogeman mentahnya, Dengan menstabilkan keseimbanganku, aku berputar lalu mendarat walau harus terseret karena kuatnya pukulan Azazel.
"Gahhh... itu sungguh sakit kau tau."
"Mungkin bagi manusia biasa itu sudah akan mematahkan punggungnya, namun hal seperti itu tentu tidak akan terlalu berpengaruh padamu."
"Kau mengerti diriku ternyata."
BUAKKKHHH
Hantaman keras aku lesatkan saat sudah berada tepat di depan Azazel yang aku duga dia terkejut karena reaksi pelan yang dia tunjukkan, sebelum dia menyeimbangkan tubuhnya, aku melesat dan berdiri di belakangnya.
BUAKKKHHH
Dengan kuat, aku tendang dia keatas. Aku melompat tinggi, melewati Azazel dan menunggunya di atas.
"Sun's Gravity"
BUAKKKHHH
WUSSHHH
BRAKKKK
Azazel melesat kebawah menghantam lantai yang walau tidak terlihat rusak namun bisa aku asumsikan itu sangatlah berat. Perlahan aku turun kebawah menapaki lantai putih dengan mulus, ku perhatikan Azazel yang masih terbaring terlentang disana.
"Kau tidak akan mati hanya karena gravitasi itu bukan, Aza?"
Perlahan sosok abstrak nya menghilang digantikan oleh wujudnya saat menjadi manusia, terlihat olehku wajah yang retak serta darah yang mengalir di mulutnya.
"Ahkkk uhuk uhuk ahahaha uhukk... tentu aku tidak mati namun, sungguh tadi itu adalah sebuah tendangan yang mengerikan."
Azazel berdiri dengan setiap luka yang menghilang, dia lalu menatapku penuh dengan senyuman.
"Ahahaha, aku tidak menyangka kau semakin jauh lebih kuat saat terakhir kita bertemu sepuluh tahun lalu Naruto. Apa yang telah kau lewati dalam perjalanan mu itu huh?"
"Hanya melakukan yang seharusnya di lakukan oleh hunter, tidak ada yang lain."
Jujur saja, walau aku sudah menguasai penuh tubuh ini, mengetahui masa lalunya, kekuatannya, namun tetap saja bagiku... aku masihlah belum sepenuhnya paham bagaimana tubuh ini. Jika boleh jujur, di setiap kepingan ingatan yang tubuh ini miliki, terdapat beberapa yang tidak bisa aku lewati. Seakan dia masihlah belum sepenuhnya percaya pada diriku.
"Seharusnya ya... lupakan hal itu, aku ingin berbicara, Naruto."
Aku angkat satu alisku, kemudian Azazel menjentikkan jarinya dengan munculnya dua kursi di sampingnya. Dia melangkah dan duduk disana, mengerti akan maksudnya aku mendekat lalu duduk di kursi satunya.
"Jadi... apa yang akan kau lakukan setelah mengetahui bahwa aku adalah satu dari tiga pemimpin dungeon?"
Aku terdiam memikirkan segala hal, menutup mataku menikmati kesunyian yang aku rindukan. Perlahan aku mengingat saat diriku bertemu dengan Nagato-nii, sebelum dirinya menaruh kepercayaan kepadaku dan mati mengorbankan hidupnya untuk warga Konoha. Aku buka mataku lalu menatap Azazel yang setia menunggu jawaban dariku.
"Aku tidak ada niatan untuk memberitahukan kepada siapapun soal dirimu, karena aku sadar... apa resiko yang akan diterima oleh dunia jika identitas aslimu terkuak."
Berdiri, lalu melangkah kearah dimana pedang pemberian Azazel tertancap, mencabutnya lalu melempar kearahnya yang di tangkap singkap oleh Azazel. Dia menatapku penuh tanya namun aku balas dengan senyuman.
"Terimakasih atas pemberianmu namun, kedepannya aku ingin menggunakan seluruh kemampuanku tanpa bantuan dari siapapun."
"Baiklah, lalu... apa langkah yang akan kau lakukan selanjutnya?"
Aku duduk kembali lalu menatapnya, "Soal itu aku tak bisa memberitahu nya kepadamu, mengingat dirimu akan menjadi musuh ku di masa depan. Namun untuk sekarang aku akan pulang terlebih dahulu merenggangkan otot-otot ku, lelah rasanya menghabiskan waktu dengan penuh pertarungan."
"Hoo... kau sungguh benar benar bertarung melawan nya?"
Azazel menatapku dengan raut meragukan akan apa yang aku ucapkan, aku hanya membalasnya dengan senyuman tipis. Ku jentikkan jariku dengan kembalinya suasana seperti semula, suasana kantor seorang manager yang berantakan oleh kertas yang berserakan. Ku berjalan kearah pintu dan melihat sekilas Azazel yang terkejut bukan main atas apa yang aku lakukan.
"Tu-tunggu, bagaimana kau bisa melakukan hal itu? Absolute Room tidak bisa dengan mudah di hilangkan jika pemiliknya ingin menghilangkannya atau terbunuh di dalamnya."
Menggapai kenop pintu lalu membukannya, berhenti melangkah lalu ku tatap Azazel dari sudut pandangku dengan timbangan yang menyala tajam seakan meneror siapa saja yang melihatnya.
"Sedikit yang kau tau... semakin baik."
Aku berdiam diri di atas sebuah jembatan penghubung daratan yang terpisah oleh sungai, menopang diriku dengan kedua tangan yang di lipat di atas pembatas, menatap sinar rembulan yang terpantul oleh air yang mengalir tenang. Dinginnya angin malam tak membuat diriku untuk bergeming dari posisiku menatap indahnya malam, ah benar... ngomong-ngomong soal dingin... bagaimana kabarnya Kurama dan Madara ya?... karena kesal dengan mereka, aku kirim saja ke antartika saat kami berpindah tempat dengan sihir teleportasi yang aku buat... ahahaha rasakan itu.
Aku menatap jam tangan emas di tangan kiriku, jarum pendek menunjukkan pukul sembilan malam. Ku pikir aku sudah terlalu lama disini, tapi ini menenangkan kalian tau. Tiba-tiba aku teringat apa yang di katakan Kurama pada Madara, bar status... benar, saat di dungeon aku belum sempat melihatnya.
"Bar status."
Status
Level : ???
Name : Naruto Phoenix
Title. : Five Rulers, Phoenix Prince
Job. : -
Skills. : Phoenix Fire, Soul summoning, other.
Equipment. : Lord Rings, other.
Blessing
God of Judgment
Abyss of Judgment
blessing details
Locked
(Jika ada kekurangan dari bar status pada umumnya, tolong sarannya minna. Apa yang harus aku tambah serta apa yang harus aku rubah, terimakasih.)
Aku menatap bar status ku datar, ternyata sesuai dengan apa yang aku pikirkan... sihirku tidak jauh dari apa yang dimiliki keluargaku... api phoenix. Namun yang membuatku bingung adalah level, soul summon, dan detil berkah yang terkunci, darimana aku mendapatkan soul summon, kenapa levelku dipertanyakan serta bagaimana caraku untuk bisa melihat detil berkah.
"Hmm... ternyata kau penuh dengan misteri Naruto Phoenix, apa yang telah selama ini kau sembunyikan. Kekuatanmu, serpihan ingatanmu dan apa sebenarnya dirimu."
Aku menghela nafas panjang, terbesit dipikiranku bagaimana cara agar bisa bertemu dengan pemilik tubuh ini. Aku tatap dua buah cincin yang tersemat di jari kiriku, aku sudah menduganya cincin ini bukanlah sembarang cincin namun aku tidak menyangka bahwa kedua cincin ini adalah cincin lord.
"Lord rings detail."
Lord Rings
Incitement Ring (jari tengah) : sebuah cincin yang dapat mempengaruhi yang di targetkan pengguna, saat target terjerat dalam hasutannya, semua hidup dan matinya hanya untuk tuannya.
Cursed Sinner (jari telunjuk) : Siapa saja yang memiliki karma/dosa di bawah dosa pengguna, mereka akan terkurung atau menjadi budak selama tugas mereka selesai.
Aku menyeringai saat melihat penjelasan singkat dari bar status mengenai kedua cincin yang aku gunakan, keduanya memiliki keunggulan namun aku yakin resikonya besar. Kenapa? saat kau ingin menggunakan incitement namun musuh yang kau hadapi tidak mudah di pengaruhi, maka setidaknya kau harus memiliki rencana kedua jika tidak ingin mati. Cursed hanya berguna bagi orang yang memiliki dosa di bawahku, lalu jika musuh yang aku lawan setingkat Ourora atau Azazel? sudah pasti cincin ini hanyalah cincin ampas.
Aku tatap sekali lagi bar status, terfokus pada kata other... ku perintahkan sistem lalu dengan cepat banyak bar status yang muncul di setiap sisiku. Aku terkejut akan hal itu, menatap setiap apa yang tertera disana. Aku hanya tertawa pelan melihat setiap yang ada dalam bar status ku.
"Fufufu, menarik... kau sungguh menarik Naruto Phoenix."
Aku hilangkan semua bar status ku, lalu menatap air di bawahku yang mengalir tenang. Menatap lurus kearah mataku yang terpampang dua timbangan dengan warna yang berbeda, berputar pelan seirama.
Ah benar, saat aku pulang kerumah setelah sepuluh tahun tidak kembali, kedua orang tuaku serta Ravel menanyakan kenapa kedua mataku di balut oleh perban. Aku menjawab pertanyaan mereka bahwa aku mengalami kebutaan saat terlalu berlebihan menggunakan kekuatan, namun dengan cepat aku berkata semua itu baik baik saja dan akan segera normal kembali. Walau jawabanku sedikit mencurigakan namun untungnya mereka percaya.
Lalu bagaimana dengan Narberal? apakah dia mengetahui nya? dia tau... namun lewat ucapan dari Ravel yang selalu bermain dengannya, untungnya dia tidak bertanya lebih lanjut mengenai mataku.
"Hahhh... sampai kapan kebohongan ini akan bertahan, Nabe-chan... aku merindukanmu."
"Jika kau merindukanku kenapa kau tidak segera pulang Naruto-sama?"
Aku terkejut lalu berbalik cepat melihat siapa yang barusan berucap, terlihat tak jauh dariku Narberal berdiri dengan wajah datarnya menatapku tajam. Aku terdiam sesaat lalu tersenyum gembira, tanpa rasa malu aku menarik dia kedalam pelukanku dengan kecupan di dahinya.
"Na-naru~ se-sesak."
"Oh maaf ehehe."
Aku longgarkan sedikit pelukanku, menatap mukanya yang memerah di dekapanku. Ku mainkan setiap helai rambut indahnya, membelai pipi mulus tanpa cacat. Aku tersenyum dengan terus memandanginya tanpa bosan, membuat sang empunya muka menatapku dengan wajah cemberut yang itu membuat dia semakin lucu untukku.
"Entah kenapa aku semakin hari semakin mencintaimu Nabe-chan."
"Jangan kau paksakan jika tidak bisa menggombal seorang wanita Naru, kau tidak cocok dengan itu."
"Uhkk, lebih baik aku tertusuk trisula poseidon daripada harus sakit akibat ucapanmu."
"Gezzz, sejak kapan kau selebay ini huh?"
"Hmm... entah."
Narberal memukul dadaku pelan lalu membalas pelukanku, entah berapa lama kami di posisi ini hingga suara telepon berbunyi di saku celanaku.
"Hallo?"
"CEPATLAH PULANG ONII-CHAN, TIDAKKAH KAU RINDU AKAN ADIKMU?"
"Ahahaha... baiklah baiklah aku segera pulang Ravel."
"Humu, baguslah... berhentilah bermesraan dengan Nabe nee-chan dan lanjutkan nanti di rumah. Oh ada yang harus aku katakan padamu nii-chan."
"Soal apa?"
"Raiser nii akan datang kerumah untuk bertemu denganmu."
DEG
Perlahan aku melepaskan pelukanku dari Narberal, Tenaga ku seakan lemas saat mendengar Ravel berucap demikian. Apakah aku siap bertatap muka dengannya? apa dia akan menerima penjelasan yang aku berikan? sial... kenapa aku pusing tiba-tiba uhk.
Ku pegang kepalaku, menahan sakit yang perlahan menyambar keseluruh bagiannya. Narberal berusaha menahan tubuhku agar tidak terjatuh, dia lalu menyandarkanku pada tiang pembatas jembatan. Menatapku penuh cemas, aku hanya memberikan senyum tipis saat tau dia mengkhawatirkan diriku.
"Terimakasih Nabe-chan, aku tidak apa-apa."
"Kau yakin Naru?"
Anggukkan kepalaku sebagai jawaban atas kondisiku, menatap langit yang perlahan menggelap karena sinar bulan yang tertutupi awan... seakan titik terang pasti akan kembali pada gelapnya kehidupan.
"Aku tau kau sulit untuk berbicara dengannya, namun kau harus percaya bahwa dia tetaplah Raiser yang selalu menyayangi kakaknya."
"Tak biasanya kau banyak bicara nee~ Narberal-chan."
"Ahh mo~ kau menyebalkan huft."
Aku hanya bisa tertawa melihat tingkah lembutnya yang keluar begitu saja, dengan paras cantik serta rambut yang tertiup angin menambah kecantikan bak seorang bidadari.
"Aku akan selalu menjaga keutuhan keluargaku, para pelayanku, Sebastian, dan juga dirimu Nabe."
Senyum terukir di wajahnya walau dia menatap bintang yang samar bersinar menghiasi malam. Narberal mendekat kearahku, kecupan singkat dia berikan di bibir untuk melepas kerinduan yang aku rasakan.
"Sebuah hadiah dariku, untuk sekarang. Setelah di rumah kita akan melanjutkannya."
"Baiklah, ayo pu-"
DEG
"Ada apa Naru?"
"Nabe, sampaikan pada Ayah, ibu, dan Ravel aku akan sedikit lebih terlambat. Aku akan buatkan sihir teleportasi untukmu agar pulang lebih dulu."
"Baiklah Naruto-sama."
Sihir emas tercipta di bawah Narberal, perlahan tubuhnya termakan oleh sihir itu mengirimkannya menuju rumah. Namun sebelum itu dia mengucapkan sepatah kata yang membuatku tersenyum.
"Berhati-hatilah."
Aku terdiam menatap hilangnya Narberal dari hadapanku, dari sudut pandangku terlihat sosok yang berjalan mendekat dari kegelapan.
"Tak bisakah aku beristirahat walau sebentar."
"Aku tidak akan lama, hanya ingin berbicara denganmu."
"Sudah aku katakan aku tidak akan membantu soal bisnis ilegalmu itu."
"Ahh tidak tidak, untuk sekarang aku tidak akan membicarakan soal itu."
"Lalu?"
Terlihat saat sosok itu keluar seutuhnya dari kegelapan, dengan berpakaian rapih serba hitam dengan rambut putih yang sedikit berantakan. Berhenti tepat di sampingku dengan sebatang rokok yang tersemat di antara jari tengah dan telunjuknya, menatapku penuh ketertarikan.
"Ini soal adikmu, Raiser."
Ledakan sihir kekuar dari tubuhku, kedua timbangan di mataku menyala terang menatap nyalang sosok di sampingku ini. Tekanan dominasi ku berikan terhadapnya walau tak sedikitpun dia terkena dominasi.
"Apa yang kau lakukan pada Raiser... Lucifer?"
