Answer for AhegaoDoublePeace : tidak keduanya kawan, karena aku tidak akan memasukkan Rezevim maupun real Lucifer dalam waktu dekat serta terimakasih sarannya, itu sangat membantu diriku.
Answer for ren.stone94 : maaf kawan namun aku baru baru ini membuat fic, itu berarti aku bukanlah author-senpai yang dirimu maksud. Terimakasih untuk dukungan dan do'anya kawan, sehat selalu untuk dirimu serta keluargamu.
Maaf bila banyak kekurangan di chapter sebelumnya dan maaf juga bila chapter ini pun masihlah banyak kekurangan, serta terimakasih untuk para reader yang sudah selalu menyemangati diriku.
Alright, that's it from me, enjoy.
The One
6
Hatiku gelisah dan marah, gelisah karena Raiser dan marah karena orang yang sekarang berada di depanku yang dengan tenangnya tetap menghisap rokok ditangannya walau aku sudah mengeluarkan sihirku untuk menekan dirinya.
"Fiuhh... aku tidak sedikitpun menyentuh adikmu itu, namun aku memiliki sedikit informasi akan hal itu."
Perlahan ku tarik kembali aura sihir yang memadati udara, berusaha untuk tenang dan mendengarkan apa yang akan di ucapkan oleh sialan ini.
"Lanjutkan."
"Mau sebatang?"
"Tidak, terimakasih. Aku tidak ingin paru-paru ku rusak oleh apa yang namanya rokok, dan juga standarmu murah kurasa."
Bisa ku lihat rokok yang dia genggam adalah kelas termurah dari semua produk rokok yang ada di jepang.
"Oh ayolah... minyak sedang mahal sekarang."
"Apa hubungannya?"
"Ekonomi... hal itu berdampak pada penjualan senjata sihir yang meroket naik untuk para hunter, membuat mau tak mau banyak dari mereka memilih jalan pintas agar dapat menapaki dungeon lebih tinggi untuk mendapatkan senjata yang mereka mau."
Orang itu membuang rokoknya ke sungai, lalu menatap langit malam dengan sorot akan kehampaan.
"Hal itu berefek pada bisnismu bukan begitu?"
"Benar. Lupakan itu, dalam waktu dekat aku melihat adikmu di bawa oleh mereka para TD menuju suatu gang, dan saat aku mendekati mereka secara diam-diam... mereka menghilang tanpa meninggalkan jejak sedikitpun."
Dia lalu menatapku dalam, seakan di dalamnya tersirat rasa kekhawatiran yang dia berikan kearah diriku... dan itu sangat menjijikan.
"Apa langkah yang akan kau ambil Naruto? sebagai orang yang tidak memiliki adik maupun kakak aku tidak akan mengerti apa yang kau rasakan."
"Cih, terkadang kau sangatlah menjijikan Vali."
"Kau bebas berpendapat."
Keheningan terjadi di antara kami, dengan dia yang kembali menghisap rokok dan aku yang menatap kosong lurus kedepan.
"Ah, aku ada kencan dengan Kuroka... aku duluan."
Dia berjalan kearah dimana sebelumnya dia muncul, dengan sesekali menghisap rokok yang sudah habis setengahnya.
"Setidaknya cepatlah nikahi dia Vali, aku yakin dia akan langsung menerimamu karena kau telah mendapatkan dirinya."
"Berkacalah sebelum kau menasehati orang lain."
"Sialan."
Tiba-tiba Vali berhenti, "Berhati-hatilah dengan TD Naruto. Entah sekuat dan sehebat apa dirimu... pada akhirnya kau akan termakan oleh kekuatan mereka."
Aku hanya tersenyum mendengar apa yang dia ucapkan, tanpa menjawab... aku melangkah kearah berlawanan dan menghilang menggunakan sihir teleportasi, meninggalkan sebuah kesunyian dan cahaya bulan yang menghiasai indahnya malam.
Setelah sampai di rumah aku di ceramahi habis habisan oleh orang tuaku dan Ravel, membuat diriku hanya bisa bersujud dan memohon ampun kepada mereka dengan perempatan yang tercipta di atas mereka bertiga. Setelah selesai di ceramahi, aku masuk ke kamar dan di sambut oleh jitakan Narberal. Setelah selesai di marahi olehnya, sesuai janji kami melakukan ehem untuk melepas rindu dan cinta di antara kami. (Apa? kalian mengharapkan aku menulis hal seperti itu? maaf aku masih polos ahahahaha.)
Haripun berganti, dan tibalah hari dimana orang yang aku takutkan datang menemui diriku... di sini... di rumah ini. Aku hanya bisa diam dan menunduk saat di depan diriku Raiser sedang duduk dengan angkuhnya serta sorot mata yang tajam lurus kearah diriku. Suasana yang bisa kurasakan sangatlah tegang, ayah dan ibu duduk di samping kiri dan kananku serta Ravel yang bersembunyi di balik Sebastian yang berdiri di belakang kursi yang aku duduki. Saat ini kami sedang berada di ruang tengah, ruangan yang dimana aku bertemu untuk pertama kalinya dengan orang tuaku dan Ravel saat aku pulang dari perjalanan sepuluh tahun lalu.
"Aku akan langsung keintinya, Naruto Phoenix... hadapi aku sebagaimana kau menghadapi musuh-musuh mu."
"Tapi nak-."
"Diamlah ibu, aku hanya ada urusan dengan bajingan ini."
"RAISER... APA MAKSUDMU MENYEBUT KAKAKMU DENGAN UCAPAN KOTOR ITU?"
"Itu memang benar ayah, dia hanyalah bajingan yang tidak bisa menepati janjinya kepada aku... tidak, tapi kepada kita."
"Tapi bukankah kau harusnya senang saat kakakmu ini sudah pulang nak? pulang dengan selamat sebagaimana keinginan dirimu?"
Ibu berusaha untuk membujuk Raiser dengan kelembutan hatinya, namun diriku hanya merasakan sesak di hati karena tidak bisa apa-apa seakan mengandalkan kasih sayang darinya.
"Senang? haruskah aku senang saat dia tidak mengirim satupun kabar kepada ayah dan ibu?"
Bagai tersambar petir Zeus, aku hanya bisa menahan rasa sakit ini begitu Raiser mengucapkan suatu hal fakta yang tak pernah aku lakukan.
"Haruskah aku senang saat dia tidak pulang seperti apa yang telah dia janjikan kepada ayah dan ibu hingga membuat ibu menangis?"
Ayah terlihat menahan amarahnya, seakan dirinya sungguhlah kesal atas sikap yang di tunjukkan kepada ibu.
"Dan haruskah aku senang saat bajingan ini harus membuat ibu berbohong untuk membuat Ravel berhenti menangis menunggu kepulangannya? HARUSKAH AKU SENANG ATAS KEHADIRAN BAJINGAN INI?"
"RAISER."
"DIAMLAH AYAH."
WUSHHH
Sihir emas memadati atmosfer ruangan, tekanan sihir yang dahsyat membuat orang yang berada dalam dominasinya tak bisa bergerak sedikitpun. Ayah dan ibu berkeringat dingin saat merasakan tekanan luar biasa dari Raiser, Sebastian berusaha menjaga kesadarannya agar tidak ambruk saat harus menjaga Ravel.
"Onii-chan... se-sak."
WUSHHHH
Sihirku meledak, melahap mentah mentah dominasi yang Raiser berikan sebelumnya. Raiser tercengang dengan keringat membasahi setiap tubuhnya, merasakan terror yang aku fokuskan hanya untuk dirinya.
"Cukup."
Kembali, aku menekan lebih dalam Raiser agar menarik sihirnya kembali kedalam tubuhnya.
"Tarik sihirmu, tidak perlu melibatkan adik kita untuk merasakan sebuah kematian di usia mudanya."
Seakan setuju apa yang aku katakan walau dengan gelagat yang menunjukkan rasa takut, Raiser dengan cepat menarik sihirnya menghentikan domationnya.Hembusan nafas panjang ku lakukan, kembali tenang dengan sihir yang telah kembali normal.
Menengok menatap Sebastian lalu menggangguk kearahnya, seakan mengerti dia membungkuk lalu memapah Ravel menuju kamarnya yang sekarang sedang mengatur nafasnya.
Setelah ku yakin Ravel sudah berada di kamarnya, aku kembali menatap Raiser yang sekarang sedang bergetar dengan gigi yang saling menggertak.
"Dimana tempatnya?"
Ibuku terkejut atas apa yang aku ucapkan, "Tapi Naruto-"
Aku berikan senyum tulus kearah ibu dengan telunjuk yang ku dekatkan kearah bibirku, mengisyaratkan agar ibu tetap diam dan tenang.
"Jika kekerasan yang ingin kau lakukan tanpa mendengar apa yang akan ku jelaskan maka baiklah, aku terima tantanganmu."
"Baguslah, itu mempercepat waktuku agar bisa menghabisi dirimu."
"Dia kakakmu Raiser, kenapa kau bersikeras-."
"Ayah, tenanglah, oke?"
Ayah menatapku cemas, memejamkan matanya lalu menghembuskan nafas panjang setelahnya. Dia mengajak ibu yang sekarang menahan tangis karena harus membiarkan kedua putranya bertarung hidup dan mati menuju kamar mereka.
Sendu diriku melihat mereka pergi di sisiku seakan aku kembali kehilangan sosok yang berarti bagi hidupku.
"Tidakkah kau melihat betapa khawatirnya mereka terhadap kita Raiser?"
"Itu karena dirimu brengsek. Aku tunggu kau di area pelatihan hunter, jika kau tidak datang... sesuatu yang buruk akan terjadi."
Perginya Raiser pertanda hilangnya ketegangan yang tergantikan oleh kesunyian, Sorot mataku kosong menatap lantai rumah yang sedikit retak akibat tekanan sihirku.
'Lagi-lagi, aku gagal berbicara dengannya dan berakhir dengan pertarungan antar saudara.'
Ucapku pelan dengan hembusan nafas serta kedua tanganku yang menjambak rambut frustasi.
"Menjadi terang akan gelapmu, dan menjadi hangat akan dinginmu... bukankah kalimat itu dulu kau ucapkan untukku Naru~, dan sekarang aku mengucapkannya untukmu."
Sebuah ucapan dan dekapan mengejutkanku, namun dengan sekejap aku tersenyum lalu menggenggam kedua lengannya yang sekarang sedang melingkar di leherku.
"Kau memang pandai merayu, terimakasih."
Narberal menyandarkan dagunya di bahuku, "Kau sudah berusaha Naru, jangan terlalu kau salahkan dirimu atas semua yang telah terjadi. Apapun pilihannya, aku yakin kau bisa mengatasi semuanya."
"Aku masihlah manusia Nabe-chan."
"Maka dari itu, lampaui batas manusia dan jadilah dia seperti yang kau mimpikan."
"Dasar kau ini."
Aku terdiam sesaat, menikmati setiap kehangatan yang di berikan oleh Narberal. Aku menatap bingkai foto yang besar di balik pilar, terlihat disana aku, ayah, ibu, Raiser, Ravel serta para pelayan rumah ini... termasuk Sebastian dan juga Narberal.
"Nee Nabe-chan."
"Hmm~?"
"Setelah semua ini berakhir, maukah kau menikah denganku?"
Narberal mencium pipiku singkat lalu kembali kepada posisi sebelumnya.
"Aku menantikannya Naru, aku menantikan saat kita menikah dan memiliki anak yang tampan dan cantik."
Aku tersenyum dengan mata terpejam, "Terimakasih."
"Apapun untuk dirimu, sayang."
Area pelatihan hunter, adalah tempat dimana di lakukannya latih tanding entah itu sesama teman ataupun guild. Tak jarang juga tempat ini selalu di jadikan untuk menguji coba senjata sihir apa kualitas yang cocok dan berapa harga untuk di perjual belikan.
Area dengan besar tak jauh sama seperti lapangan sepakbola serta di kelilingi sebuah sihir untuk meredam kerusakan agar tidak bertampak untuk dunia luar. Oh satu lagi, area ini tertutup dengan kata lain indoor. (Bayangkan saja ruangan latihan chuunin namun modern)
Dan disinilah aku, berdiri berhadapan dengan Raiser yang sekarang mengeluarkan tombak emasnya. Area sudah di sewa secara pribadi oleh keluarga phoenix karena ayah tidak ingin perselisihan antar saudara ini menyebar ke khalayak umum.
Bisa ku lihat yang menjadi saksi hanyalah ayah, ibu, dan beberapa pelayan yang memiliki kekuatan sihir untuk menjaga hal yang tidak di inginkan, termasuk Sebastian yang menjadi pelayan dengan sihir lebih tinggi daripada pelayan lainnya. Narberal ku beri perintah untuk menjaga Ravel di rumah di temani beberapa pelayan lainnya, karena aku takut sesuatu yang buruk di maksud oleh Raiser akan menimpa rumah dan adikku.
"Kemana kau melihat? lawanmu tepat di depanmu bajingan."
Ku palingkan wajahku menatap Raiser yang sekarang menghunuskan tombaknya kearahku, raut amarah di balut kebencian terlihat jelas disana.
"Raiser, setidaknya dengarkan alasanku."
"Sudah ku bilang, aku tidak perlu mendengar omong kosong dari pembohong seperti mu."
WUSHHH
TRANKKK
Raiser melesat menghantamkan tombaknya, beradu dengan gudodamaku yang berubah menjadi shakujo sebagai tameng. Gesekan dua senjata menciptakan percikan bagai letusan kembang api, namun sihir hitam perlahan memakan tombak Raiser yang dengan cepat aku ayunkan tongkatku vertikal. Hal itu membuat Raiser terdorong kebelakang karena tekanan kuat dari ayunanku, Raiser menyeimbangkan tubuhnya di udara, membentangkan kedua tangannya lalu merapal mantra.
"Phoenix fire : multi meteor."
Puluhan meteor melesat menghujani diriku yang sekarang sedang menancapkan shakujo, aku merapal mantra dengan tangan kiri ku arahkan kedepan.
"Phoenix fire : big wall."
Api emas keluar dari bawah membuat sebuah dinding besar membentang menutupi area hujanan meteor yang di buat Raiser.
DUARR DUARR DUARR
Hantaman demi hantaman terus menghujani dinding apiku, namun aku terkejut saat dinding api terbelah dan memperlihatkan Raiser yang sudah di depan diriku dengan tombak bersiap dia hantamkan.
BUAKHHH
WUSHH
BRAKKK
Aku melesat menghantam tembok area saat terkena pukulan telak, berusaha berdiri namun saat aku mendongak Raiser sudah berada di depanku dengan ayunan tombak horizontal menghantam diriku.
DUARRR
"Kheh, ternyata kau masih sempat menahannya bajingan."
Ucap Raiser kesal saat diriku berhasil menahan laju tombaknya dengan tangan dibaluti api, tidak ingin terlalu lama terpojok, aku membuka mulutku yang hal itu membuat Raiser terkejut.
'Phoenix fire : dragon roar.'
GROOO (sfx hembusan/kobaran api)
BRAKKK
Raiser tergusur hembusan api yang keluar dari mulutku hingga menghantam dinding, menghasilkan retakan cukup besar serta jalur api karena ulah dari sihirku. Suasa yang sunyi menambah ketegangan seluruh area, aku berdiri diam menatap siaga apa yang akan Raiser lakukan selanjutnya, karena aku yakin dia tidak mungkin terbakar hangus oleh sihir seperti itu.
"Ahkk... dragon roar huh, sebuah sihir tingkat tinggi milik keluarga phoenix. Dengan pengucapan sihir dalam hati, pantas ayah mengakui dirimu."
Bisa ku lihat Raiser yang berantakan berjalan perlahan keluar dari puing-puing dinding, baju yang hangus terbakar serta celana yang compang camping. Hatiku merasa perih dan bersalah karena harus melukai adik yang aku sayangi ini, namun jika aku mengalah dan mati di tangannya... ketidakmengertian nya akan dia bawa sampai mati.
"Biar aku tunjukkan, jika akupun pantas di akui ayah dan mendapatkan kedudukan yang setara."
Setelah apa yang Raiser ucapkan membuat diriku terkejut, dia membentangkan kedua tangannya lalu menariknya di depan dada dengan kepalan tangan yang beradu. Dengan cepat aku melakukan hal yang sama, karena apa yang akan Raiser lakukan adalah kartu as milik keluarga phoenix.
"Wahai engkau yang di kutuk oleh surga-"
Kami berucap bersamaan dengan perlahan api keluar menyelimuti tubuhku dan Raiser.
"-Aku memanggilmu untuk menghancurkan musuh-musuhmu-"
Api yang menyelimuti tubuhku dan Raiser kian membara, dengan api emas yang perlahan berubah menjadi merah kehitaman.
"-Pinjamkanlah aku kekuatanmu. Binasakan mereka dengan api milikmu. Tunjukkan keagunganmu. Dan lahap mereka dalam api abadimu-"
Retakan api tercipta di seluruh anggota tubuh, dengan rambut emas yang tergantikan oleh api merah serta pakaian yang hangus terbakar menyisakan celananya saja.
"-God of Fire, Vulcan."
BLARRRRR
Ledakan besar tercipta yang berpusat pada diriku dan Raiser, barrier sihir yang di buat oleh ayah sebelum pertarung retak karena shock wave yang kami timbulkan. kedua mata kami terbuka memperlihatkan bola mata hitam dengan pupil orange menyala, menatap satu sama lain... membagi tatapan benci dan sesal.
"Raiser, dengarkan aku sekali saja."
"Bacot."
WUSHHH BRAKKK BLARRRR
Raiser melesat cepat menghantamkan tinju yang di tahan oleh pergelangan tanganku, menimbulkan hancurnya area yang ku pijak serta ledakan besar akibat benturan.
BLARR BLARR BLARRR BUAKKKHHH
Tinju api kami lakukan silih berganti, menimbulkan efek percikan api yang menyebar keseluruh area. Berakhirnya tinju adalah saat Raiser terkena tinju telak di perut yang membuat dia terpental kebelakang. Aku melesat kebelakang Raiser yang masih melayang, melakukan uppercut membuat Raiser terbang keatas menghantam langit-langit area. Sebelum Raiser bereaksi aku sudah berada di sisinya lalu menendang tubuhnya melesat kebawah menghantam keras lantai area.
BRAKKK BLARRRR
"Ahkk choeg, sialan ka-."
Belum selesai Raiser berkata, aku sudah berada di depannya dengan pergelangan berada tepat di perutnya.
'Lariat.' Bisikku pelan di telinga Raiser.
WUSHHH BRAKK BLARRR
"RAISERR HIKS, NARUTO... KUMOHON HENTIKAN HIKS."
Aku bergetar, menengok ke podium penonton dan melihat disana ibu menangis tersedu-sedu di pelukan ayah. Kembali kurasa perih di hati melihat sosok yang melahirkanku menangis seperti ini, aku tersenyum sendu melihatnya lalu ku tatap ayah yang mengaggukkan kepalanya.
"Selesaikan dengan caramu, nak."
Aku mengangguk saat ayah berucap demikian, lalu ku palingkan wajahku menatap dimana Raiser terhempas. Disana, sosok Raiser menempel di tengah tengah retakan yang tercipta. Tubuh yang kembali seperti semula dengan berbagai luka lebam di sekujur tubuhnya. Aku berjalan kearahnya yang berusaha untuk lepas dari kekangan tembok yang dalam.
Langkahku berhenti di depan Raiser dengan perlahan api vulcan di tubuhku menghilang. Aku menatap dalam Raiser yang sekarang merintih kesakitan.
"Uhukk, puas khekk... selesaikan bajingan ahkk."
Aku tidak menjawab apa ucapan yang Raiser lontarkan, diriku hanya tetap memandanginya dalam dalam, seakan merasakan sesuatu yang buruk akan terjadi.
"uhuk uhuk kenapa... kenapa tidak bekerja ahkk... padahal kau sudah melakukannya pada tubuh ini namun apa... THE DARK SIALAN."
DUARRRR
aku terhempas kebelakang saat ledakan sihir yang dahsyat terjadi di tubuh Raiser, terseret hingga diriku sedikit lagi menghantam tembok. Aku terkejut saat melihat Raiser yang berubah di bagian mata dan tubuh, mata dengan keseluruhan nya hitam serta tubuh yang di penuhi simbol bagai tato abstrak.
CRANGG
Barrier yang di buat ayah pecah bagai kaca karena tak kuat menahan tekanan sihir dari Raiser yang menguap terus menerus.
"AYAH, BAWA IBU PERGI DARI SINI."
"Ta-tapi Raiser-."
"Jangan khawatir ibu, serahkan Raiser kepadaku."
Ku berikan senyum tulus kearahnya, memberikan sebuah kepastian dan kepercayaan. Dengan sigap ayah membawa ibu menggunakan sihir teleportasi meninggalkan area pelatihan hunter yang hanya menyisakan aku, Raiser, dan para pelayan.
"KALIAN CEPAT KELUAR AREA DAN BUAT BARRIER UNTUK MENUTUPI GEDUNG AREA."
"HA'I NARUTO-SAMA."
Aku lihat mereka semua pergi serentak menggunakan sihir dash, menyisakan aku dan Raiser yang saling berhadapan.
"Aku tidak tau apa yang TD sudah tanamkan kepadamu, namun aku tidak akan membiarkan dirimu termakan oleh kekuatan yang hina itu, Raiser."
Timbangan di mata kananku menyala, dengan sihir yang perlahan menguap menyamai sihir Raiser.
"Judgment : absolute barrier."
DING
Suara menggema dengan munculnya timbangan besar berwarna emas di atas tubuhku. Tiba-tiba area tertutupi oleh barrier berwarna emas keputihan yang di sertai gambar trible melengkapi barrier membuatnya tampak indah untuk di pandang.
"Judg-."
Belum sempat aku melafal mantra, aku terkejut saat Raiser tiba-tiba berada di depanku tanpa sempat aku mengedipkan mata. Raiser mengangkat tombaknya bersiap menghantamku namun dengan cepat aku mengalirkan sihir api di pergelangan tangan kiriku untuk menahan lajunya.
TRANKK JRASHHH
Aku kembali terkejut saat tombak Raiser berhasil menembus pertahanan sihir apiku dan memotong tangan kiriku terpisah dari tubuh. Dengan cepat aku aliri sihir ke kakiku lalu menendang Raiser untuk menjauhkan dirinya.
"Kheh, tak kusangka dia berhasil menembusnya. Sihir apa yang kau tanamkan pada tubuh adikku TD sialan."
Berucap dengan tangan kanan yang membakar luka di tangan kiri untuk memberhentikan pendarahan, diriku menatap tajam Raiser yang sekarang berjalan pelan kearah diriku.
"kheh, maaf Raiser... mungkin ini akan terasa sakit."
"Remission of sins."
Lingkaran sihir mengelilingi Raiser, perlahan mengeluarkan sinar yang menekan Raiser untuk tidak bisa bergerak. Dengan cepat aku berlari kearahnya, menyentuh dadanya sebelum dia berhasil keluar dari kekangan.
"Maaf."
Perlahan aura hitam kemerahan keluar dari tubuhku, yang mengalir melalui tangan kananku lalu melahap perlahan seluruh tubuh Raiser. Timbangan di mata kiriku bersinar, dengan berubahnya timbangan besar di atas diriku.
"Abyss of Judgment : seal."
DING
Seluruh kekuatan yang sebelumnya menguap dari tubuh Raiser, perlahan terserap kembali kedalam dirinya. Bola matanya yang kembali sempurna dan simbol yang sebelumnya menutupi tubuh Raiser hilang di gantikan oleh simbol timbangan berwarna hitam dengan mata reptil merah di tengahnya.
Aku hilangkan lingkaran sihir yang mengekang kebebasan Raiser, menghilangnya juga barrier yang menutupi pertarungan kami sebelumnya. Aura di tubuhku perlahan menghilang dengan kedua timbangan di mataku pelan-pelan kian meredup.
Tubuh Raiser ambruk namun sebelum menyentuh lantai dengan sigap aku menangkapnya.
Kesunyian melanda, kehampaan ku rasa. Air mata mengalir tanpa sadar, menangisi perbuatanku terhadap Raiser. Penyesalan kembali aku rasakan karena harus melukai adikku sendiri atas kesalahanku yang tidak bisa menepati janji, sebuah janji yang terikat di antara kami bertiga dan akulah menyebab putusnya ikrar tersebut.
"Andai... andai saja aku bisa pulang lima tahun lebih cepat hiks... mungkin semua ini tidak akan terjadi."
