Thousand of Tears
Chapter 3 Penyerangan Keluarga Kamado
Seperti perkataan Shirazumi. Tanjiro memang menginap di rumah Saburo.
Saat Tanjiro melewati rumah Saburo, dia ditahan oleh Saburo. Dengan alasan hari sudah malam dan Oni yang bisa muncul saat malam, Saburo menyuruh Tanjiro untuk menginap di rumahnya.
Saburo tinggal sendirian sejak keluarganya semua meninggal. Dia bekerja sebagai pengrajin payung.
Awalnya Tanjiro tak percaya saat Saburo sedikit menjelaskan tentang oni. Tapi saat Tanjiro sudah mulai mengantuk dan akan tertidur, dia ingat sesuatu. Dulu... mendiang Neneknya juga pernah menceritakan hal yang sama tentang Oni.
Suara shoji yang bergerak karena angin membuat Shirazumi terbangun. Sambil mengusap matanya karena terbangun tengah malam dia menguap lebar.
Dengan matanya yang masih lelah dan mengantuk, Shirazumi melihat ke arah shoji. Awalnya dia pikir kalau matanya masih menipunya. Terlihat siluet seorang pria yang berdiri tepat di luar di depan Shoji.
Shirazumi yang mengira kalau itu adalah Tanjjiro, bangkit dari futon dan berjalan perlahan melewati futon-futon yang ditiduri oleh ibu dan adik-adiknya dan menuju shoji.
Tapi saat Shoji dibuka, yang dia lihat bukanlah adiknya. Seorang pria tinggi berambut hitam dan bermata merah menyala menatap Shirazumi.
"Maaf, Anda siapa?" Tanya Shirazumi pada pria itu.
Tanpa mengubah ekspresi wajahnya, pria itu menyerang Shirazumi secara tiba-tiba. Untunglah Shirazumi bisa mengelak sehingga hanya lengan kanan dan bahunya yang terkena serangan pria itu.
Saat Shirazumi sedang berlutut dan menekan lukanya, Pria itu masuk lebih dalam ke rumah, dan mulai membantai ibu dan adik-adiknya.
Pertama Takeo dan Shigeru. karena suara teriakan yang sangat kencang, Ibunya, Hanako, Nezuko dan Rokuta terbangun.
Berikutnya Sang ibu yang melindungi Hanako di belakang tubuhnya. Mereka berdua tak selamat.
Sekuat tenaga Shirazumi berteriak menyuruh Nezuko untuk menggendong Rokuta dan pergi dari sini.
Sambil terus memegangi lukanya, Shirazumi menghadang pria itu. Shirazumi menabrakkan tubuhnya pada pria itu dan menahannya, berharap yang dilakukannya itu dapat memberikan waktu bagi Nezuko dan Rokuta untuk menyelamatkan diri.
Tapi itu tak berhasil. Dengan sebelah tangan pria itu mengangkat Shirazumi dan melemparnya ke luar, menyebabkan Shirazumi terbentur beberapa Shoji yang dilewatinya hingga menabrak Nezuko dan Rokuta yang baru beberapa langkah di luar rumah.
Shirazume yang segera bangkit langsung berdiri di depan Nezuko yang sedang memeluk Rokuta.
"Apa salah kami? Kenapa kau menyerang kami?" Tanya Shirazumi pada pria itu sambil menangis.
Dibalik punggung pria itu, Shirazumi bisa melihat rumahnya. Shoji yang rusak. Futon yang berantakan. Juga tubuh ibu dan adik-adiknya yang tak bergerak. Sedangkan di belakang Shirazumi, Nezuko sedang memeluk Rokuta. Seluruh tubuh Nezuko gemetaran sedangkan Rokuta ingin menangis kencang tapi tak bisa. Saking gemetarnya, Nezuko tak punya kekuatan untuk berdiri dan berlari.
"Aku suka tatapanmu. Bagaimana kalau aku membuatmu jadi oni, setelah itu, kulepaskan dua bocah itu". Ucap pria itu pada Shirazumi. Dari pada menawarkan, nada bicaranya lebih seperti memerintah.
Mendengar ucapan itu, detak jantung Shirazumi meningkat. 'Oni? Makhluk mirip manusia yang suka memakan manusia yang pernah diceritakan nenek?' Ucap Shirazumi dalam hati.
Pria itu berjalan mendekati Shirazumi. Tanpa sempat melakukan apapun, Shirazumi merasakan sakit dari cakaran panjang yang kini menghiasi bahu kiri hingga dadanya. Gadis itu bahkan tak sadar kapan pria itu mencakarnya.
"Onee-chan!" Teriak Nezuko dan Rokuta melihat kakak mereka meringis kesakitan.
Pria itu menatap tajam Shirazumi. Seperti sedang menunggu sesuatu.
.
.
.
Tidak ada...
Tidak ada yang terjadi...
.
.
.
"Hoo... Jarang sekali. Kau ternyata tipe yang kebal dengan darah oni. Tapi ini yang membuatku kesal". Ucap pria itu. Lalu tiba-tiba Rokuta dan Nezuko mengeluarkan darah di mana-mana. Sama seperti Shirazumi, mereka berdua tak sadar kapan diserang.
Tubuh Rokuta kecil. Tubuhnya tak bisa bertahan dengan luka parah di kepala dan sobekan di perutnya. Anak itu tewas di pelukan Nezuko.
Sedangkan Nezuko yang juga terluka parah, tetap menyembunyikan tubuh Rokuta di balik kimononya sambil telungkup. Nafasnya terengah-engah.
"Nezuko! Rokuta!" Teriak Shirazumi melihat dua adiknya yang bersimbah darah. Walaupun tubuhnya sendiri juga tak bisa dibilang baik-baik saja. Luka yang dia terima dari serangan pertama dan kedua dari pria itu, ternyata cukup dalam. Salju di bawah kakinya kini berwarna merah. Bukan hanya darahnya. Darah dari ibu dan adik-adiknya mengubah warna salju yang putih bersih menjadi merah seperti bunga lycoris.
Pria itu kini mendekati Nezuko. Dia membuat luka di pergelangan tangannya dengan kukunya yang tajam, lalu meneteskan darahnya itu pada luka Nezuko yang terbuka. Jumlah darah yang dia teteskan cukup banyak.
Tidak lama setelah itu, luka pria itu menutup sendiri. Sama seperti saat Shirazumi. Pria itu pun menatap Nezuko sambil menunggu.
Shirazumi mengumpulkan kekuatannya untuk bengkit lalu berusaha menyergap Pria itu. Tapi baru dua langkah dia berjalan. Pria itu memukulnya dengan sangat keras hingga Shirazumi terpental dan menabrak pohon.
Yang terakhir dilihat Shirazumi sebelum kehilangan kesadaran adalah Nezuko yang tak sadarkan diri dan Pria itu yang melihat Nezuko dengan tatapan kecewa.
Matahari telah terbit. Tapi dikarenakan cuaca di gunung sedang sangat mendung, jadinya terasa bagaikan masih subuh.
Shirazumi mengedipkan matanya. Seluruh tubuhnya terasa pegal dan sakit seperti habis menebang ratusan pohon.
Yang pertama dilihatnya adalah salju berwarna merah, dan juga Nezuko dan Rokuta yang masih dalam posisi sama seperti tadi malam.
Dengan perlahan Shirazumi bangkit dan berdiri. Sambil menangis dia berjalan ke arah Nezuko dan Rokuta. Perasaannya kini campur aduk. Shirazumi bahkan tak menyadari kalau luka-lukanya sudah berhenti mengeluarkan darah. Bukan hanya itu. Semua lukanya hilang tak berbekas. Tapi tubuhnya masih tetap merasakan rasa pegal yang luar biasa.
Shirazumi berjongkok dan menyentuh wajah Nezuko. 'Masih hangat' ucapnya dalam hati. Tapi saat menyentuh Rokuta, Air mata Shirazumi semakin banyak mengalir. Tubuh adik bungsunya sudah sangat dingin.
Baru saja Shirazumi akan memeriksa Ibunya dan adik-adiknya yang lain, Tiba-tiba terdengar suara langkah yang disertai suara nafas yang terengah-engah. Shirazumi melihat ke arah suara itu. Beberapa detik kesunyian, kemudian suara teriakan yang terdengar ngilu meggema. Teriakan yang melambangkan rasa takut, kaget, marah, khawatir.
Pemandangan mengerikan bak neraka yang ada dihadapannya ini,akan selalu menempel di ingatan Tanjiro yang baru saja pulang ke rumahnya.
Bau darah yang menyengat...
Warna merah bunga Lycoris...
Pertanda kebahagiaan yang berakhir.
TBC
Ada kritik & saran?
Aku tunggu ^_^
