Thousand of Tears
Chapter 8 Menghindari Cahaya Matahari
Shirazumi, Tanjiro dan Nezuko terus berjalan menuruni gunung. Cuaca yang masih mendung membuat Shirazumi dan Nezuko aman dari sinar matahari.
Tapi itu tak berlangsung lama.
Akhirnya matahari mulai kembali bersinar, menyingkirkan awan-awan gelap yang sejak tadi menghalangi.
Tubuh Nezuko dan Shirazumi mulai mengeluarkan asap karena terkena sinar matahari.
Dengan cepat Tanjiro mengeluarkan kain yang tadi dibawanya, lalu menutupi tubuh Shirazumi dan Nezuko.
Sambil memegang tangan kedua saudaranya, Tanjiro bergegas mencari tempat teduh yang tak terkena sinar matahari secara langsung. Tidak lama, akhirnya terlihat sebuah gua kecil. Sepertinya gua itu buatan manusia.
Tanjiro menyuruh Shirazumi dan Nezuko untuk masuk ke bagian terdalam dari gua itu. disana teduh, Sinar matahari tidak sampai ke bagian dalam. Kemudian Tanjiro juga ikut masuk ke dalam gua itu.
Mereka bertiga duduk bersama, Shirazumi dan Tanjro merundingkan tentang bagaimana selanjutnya. Shirazumi dan Nezuko tak bisa berjalan di siang hari, sedangkan Tanjiro ingin cepat-cepat menuju Gunung Sagiri.
Shirazumi berpikir, hingga akhirnya dia mendapatkan sebuah ide.
"Tanjiro, kau masih ingat saat Nezuko berubah jadi seukuran orang dewasa? Mungkin Nezuko bisa melakukan yang sebaliknya". Shirazumi menjelaskan apa yang terpikirkan olehnya.
"Benar juga! Nezuko, apa kau bisa menjadi kecil? Jadilah kecil Nezuko" Tanjiro menjawab kemudian sambil mengelus-elus kepala Nezuko, Tanjiro meminta nezuko untuk berubah menjadi kecil.
Benar saja, Nezuko menjadi mengecil. Kimono yang digunakannya kini terlihat melonggar karena tubuhnya yang mengecil.
"Nah, kalau kecil begini, Nezuko bisa dibawa menggunakan keranjang bambu atau semacamnya, lalu tutupi dengan kain" Ucap Shirazumi melihat adik perempuannya yang kini terlihat seperti anak berumur 4 atau 5 tahun.
"Bagaimana dengan Nee-chan? Apakah Nee-chan juga bisa mengecil?" Tanya Tanjiro pada kakaknya.
Shirazumi diam sejenak meresapi kata-kata Tanjiro. Dia menutup mata lalu memikirkan tentang anak kecil. Berubah jadi anak kecil...
Tapi tak ada yang berubah. Shirazumi tetap berukuran remaja berumur 15 tahun.
"Sepertinya... aku tak bisa... hehe..." Ucap Shirazumi sambil tertawa kecil.
"Hmm..." Shirazumi dan Tanjiro ber 'hmm' ria sambil menyilangkan tangan. Nezuko yang melihat kedua kakaknya ikut-ikutan menyilangkan tangannya.
.
.
.
"Aku tahu!" Ucap Tanjiro memecahkan keheningan.
"Untuk Nezuko, tentunya aku akan mencari keranjang bambu. Sedangkan untuk Nee-chan, akan kucarikan topi jeramiyang lebar. Nee-chan bisa menjahitkan kain pada topi itu. Denagn begitu, Neechan juga bisa berjalan di siang hari. Tanjiro menjelaskan.
"Itu patut dicoba. Kerja bagus Tanjiro!" Puji Shirazumi sambil mengacungkan jempolnya pada Tanjiro. Lagi-lagi, Nezuko mengikuti gerakan Shirazumi.
"Neechan dan Nezuko tunggulah di sini. Aku akan mencarikannya dulu". Tanjiro berkata sebelum akhirnya pergi keluar mencara barang barang yang dibutuhkan.
.
Di dalam gua, kini hanya tinggal Shirazumi dan Nezuko berdua. Matahari semakin tinggi. Karena gua itu tak terlalu dalam, cahaya matahari sedikit demi sedikt memasuki gua.
Shirazumi dan Nezuko terus mundur hingga mendekati ujung gua.
Nezuko yang sudah kembali ke ukuran tubuh aslinya tiba-tiba mulai menggali tanah. Setelah tercipta sebuah lubang yang tak terlalu dalam, Nezuko memasuki lubang itu. Sambil terduduk di dalam lubang itu, Nezuko hanya terlihat bagian kepalanya saja.
'Jadi mirip tikus tanah...' batin Shirazumi.
Nezuko mengerutkan wajahnya sambil melihat ke arah mulut gua, lalu masuk semakin dalam ke dalam lubang yang dibuatnya. Kini dari arah luar gua, Nezuko tak terlihat sama sekali.
Walaupun sama-sama tak suka cahaya matahari, tapi Shirazumi masih lebih baik.
Saat mereka berdua terkena cahaya matahari, tubuh Shirazumi hanya sedikit mengeluarkan asap. Walaupun rasanya sakit, tapi hanya seperti terlalu lama berjemur di bawah terik matahari di puncak musim panas. Itulah yang dirasakan Shirazumi.
Tapi Nezuko berbeda.
Saat Nezuko terkena cahaya matahari, Tubuhnya mengeluarkan asap lebih banyak dari Shirazumi. Bahkan beberapa bagian tubuhnya menghitam seperti terbakar. Tapi setelah Tanjiro menutupi Nezuko dengan kain, Asap yang keluar menjadi lebih sedikit, dan luka bakar hitam itu juga menghilang. Bukan, lebih tepatnya sembuh dengan sendirinya.
Dengan itu, Tanjiro dan Shirazumi mendapatkan kesimpulan kecil. Daya tahan atas matahari pada Nezuko dan Shirazumi berbeda.
.
Tanjiro pergi mencari keranjang, jerami, bambu, dan topi jerami yang lebar. Hingga akhirnya Tanjiro menemukan apa yang dia cari. Keranjang bambu dan topi jerami lebar yang sudah memiliki beberapa lubang, setumpuk jerami dan hutan bambu kecil.
Tanjiro menghampiri dua orang petani yang berada di sana untuk meminta izin agar boleh membawa ke-4 benda itu.
Kedua petani itu mengizinkan Tanjiro untuk membawa semua itu secara cuma-cuma, tapi Tanjiro ingin membayarnya.
Adu mulut singkat antara Tanjiro dan salah satu petani itu terjadi. Petani itu ingin memberikan barang-barang itu pada Tanjiro tanpa harus dibayar. Sedangkan Tanjiro tetap bersikeras untuk membayar barang-barang itu.
Akhirnya Tanjiro menang dengan memaksakan beberapa buah koin pada Petani itu dan mengambil barang-barang yang dibutuhkannya.
.
Tanjiro kembali ke gua di mana dia meninggalkan kakak dan adiknya itu. Tapi saat melihat ke dalam gua, dia tak menemukan Nezuko.
"Nee-chan! Dimana Nezuko?!" Tanya Tanjiro pada kakak perempuannya dengan wajah yang agak memucat.
Shirazumi mengarahkan jari telunjuknya pada lubang tempat Nezuko bersembunyi. Nezuko langsung memperlihatkan wajahnya dan itu membuat Tanjiro merasa lega.
"Ne...Nezuko adikku jadi mirip tikus tanah" Ucap Tanjiro melihat adiknya yang dari leher ke bawah tak terlihat karena berada di dalam lubang. "Itu juga yang aku pikirkan..." Ucap Shirazumi setuju dengan perkataan Tanjiro.
.
Di luar gua, Tanjiro mulai bekerja, memotong bambu dan membuat anyaman untuk menambal lubah yang ada pada keranjang bambu. Sedangkan Shirazumi di dalam gua menambal topi jerami yang dibawa Tanjiro dan menjahitkan kain putih yang dibawanya menggunakan jerami dan bambu.
Setelah Tanjiro menyelesaikan keranjangnya, dia memasukkan sisa jerami kedalamnya, setelah itu menyuruh Nezuko untuk kembali menjadi anak kecil.
Saat Nezuko masuk kedalam keranjang itu, ternyata sangat pas. Dia terlihat sangat lucu di dalam Keranjang bambu itu.
Tanjiro kini membungkus keranjang bambu yang berisi Nezuko agar cahaya matahari tidak masuk. Lalu Tanjiro keluar gua sambil menggendong keranjang berisi Nezuko untuk memastikan kalau Nezuko tak apa-apa saat keranjang yang sudah ditutupi kain itu terkena sinar matahari.
Hasilnya tak ada masalah. Berikutnya giliran Shirazumi
Sambil memakai topi yang sudah dijahitnya, Shirazumi keluar dari gua perlahan. Kain yang dijahit pada topinya itu panjangnya sampai pahh Shirazumi. Untuk kakinya, itu tak masalah karena Shirazumi memakai kain sebagai penutup kedua kakinya seperti kaus kaki. Panjangnya sampai lutut. Sedangkan kimononya sendiri panjangnya hampir sampai mata kaki.
Karena seluruh penampilannya yang tertutupi, Shirazumi juga aman.
Mereka bertiga melanjutkan perjalanan mereka sambil bertanya pada orang sekitar karena mereka tak tahu harus melewati jalan mana untuk menuju Gunung Sagiri.
Banyak yang menanyakan tentang Shirazumi karena penampilannya yang aneh. Apabila ada yang menyanyakan itu, Tanjiro dan Shirazumi hanya menjawab kalau Shirazumi memiliki kulit yang tak tahan dengan sinar matahari. Itu memang kenyataannya.
Karena Tanjiro tak bisa berbohong, mereka harus hati-hati memilih kata. Kalau Tanjiro berbohong, wajahnya akan memasang raut wajah yang sangat aneh.
.
Menurut seorang ibu rumah tangga yang mereka tanyai, untuk menuju Gunung Sagiri masih harus melewati satu gunung lagi.
Walaupun sudah diperingati, Kamado bersaudara itu tetap terus melanjutkan perjalanannya.
Cahaya matahari, cahaya yang menyinari di siang hari.
Tapi tak semua makhluk bisa hidup di bawah sinar matahari.
Bagi sebagian, matahari adalah pembawa kehidupan.
Bagi sebagian, matahari adalah pembawa kematian.
TBC
Ada kritik & saran?
Aku tunggu ^_^
