Thousand of Tears

Chapter 9 Bertemu Oni


Shirazumi dan Tanjiro yang menggendong Nezuko terus berjalan hingga akhirnya matahari terbenam. Karena cahaya matahari telah digantikan oleh cahaya bulan, Nezuko bisa keluar dari keranjangnya, dan Shirazumi tak perlu lagi menggunakan topi lebarnya itu.

Kain pembungkus keranjang dan topi lebar milik Shrazumi, dimasukkan ke dalam keranjang yang sekarang kosong. Tanjiro masih terus menggendong keranjang bambu itu.

.

Setelah berjalan agak lama, mereka menemukan sebuah kuil kecil. Cahaya terlihat dari sela-sela kertas shoji yang sobek. 'Kalau ada cahaya, berarti ada orang di dalamnya' itulah yang dipikirkan Tanjiro.

Tanjiro berniat untuk mendatangi kuil itu, tapi tiba-tiba gerakannya terhenti. "Ada bau darah!" Ucap Shirazumi dan Tanjiro bersamaan.

Shirazumi sebetulnya tak memiliki penciuman kuat seperti Tanjiro, tapi sejak mendapatkan darah oni, penciumannya jadi sedikit lebih kuat. Tapi dia tak bisa mencium bau dengan akurat seperti Tanjiro. Baru kali ini saja Shirazumi menyadarinya. Dia sedikit tertarik dengan bau darah manusia.

Tanjiro bergegas menuju kuil itu. Dia berasumsi kalau ada orang yang cedera di dalam kuil itu. Jalan di gunung ini sangat berbahaya. Mungkin saja ada yang cedera saat sedang menuruni gunung dan beristirahat di kuil yang sedang memegang tangan Nezuko mengikuti di belakangnya.

Dengan niat memberikan pertolongan, Tanjiro membuka shoji yang sudah reyot tersebut.

Tapi bukannya menemukan orang yang terluka. Apa yang dilihat Tanjiro membuatnya teringat akan ibu dan adik-adiknya.

Bau darah yang menyengat tercium saat Tanjiro membuka shoji itu. Jasad tiga orang manusia yang berlumuran darah, dan seorang yang terlihat seperti oni sedang mengunyah tangan salah satu dari jasad itu.

"Apa... Hei! Ini wilayah berburuku. Jangan seenaknya masuk kesini!" Oni itu menatap Tanjiro dan yang dua saudaranya dengan mulutnya yang berlumuran darah.

Nezuko yang melihat pemandangan itu mulai mengeluarkan air liur dari mulutnya yang tertutupi potongan bambu. Sedangkan Shirazumi, dia memang tertarik dengan bau darahnya. tapi pemandangan brutal yang dilihatnya itu malah membuatnya mual. Dia hanya tertarik, tapi tak terpikirkan sedikitpun untuk makan manusia seperti oni yang dilihatnya ini.

"Hmm... Ada yang aneh... Apa kalian bertiga, manusia?" Ucap oni itu sambil menjilati tangannya yang berlumuran darah.

Tiba-tiba oni itu bergerak dengan sangat cepat dan menerjang Tanjiro. Shirazumi dan Nezuko tak sempat melakukan apapun.

Shirazumi yang segera sadar akan serangan itu, beranjak dari tempatnya dan berniat menolong Tanjiro, sedangkan Nezuko masih terpaku pada jasad-jasad itu.

Dengan cepat, Tanjiro meraih kapak yang dibawanya dan melukai leher oni yang menyerangnya. Oni itu mundur menjauhi Tanjiro beberapa langkah. Melihat itu, Shirazumi menghentikan langkahnya.

Tapi luka tebasan itu tak mampu mengalahkan oni. Dalam hitungan detik, luka itu sudah berhenti mengeluarkan darah. Beberapa detik kemudian, luka itu hilang tak berbekas. Yang tertinggal hanyalah darah yang sempat keluar dari luka tebasan tersebut.

Itu sama dengan penyembuhan cepat milik Shirazumi dan Nezuko. Hanya saja jauh lebih cepat dan tanpa efek samping sama sekali.

.

Nafas Nezuko semakin memburu. Air liur yang keluar dari mulutnya pun semakin banyak. Shirazumi yang menyadari itu, berbalik dan kembali pada Nezuko.

Shirazumi menyemangati adiknya untuk tidak tergoda dan memakan manusia.

Shirazumi tak tahu harus melakukan apa. Apakah menahan Nezuko agar tidak memakan jasad-jasad itu, ataukan menolong Tanjiro yang masih melawan Oni yang kini berusaha mematahkan lehernya.

Tapi tiba-tiba Nezuko berbalik dan berlari ke arah Tanjiro. Dengan cepat, dia menendang kepala oni itu hingga putus.

"EEEEEH...!"

Tanjiro dan Shirazumi berteriak terkejut. Jangankan mereka, Oni itu sendiri juga terkejut. Hanya dengan tendangan seorang gadis berumur 12 tahun, kepala oni bisa putus dengan rapih seperti itu.

Tanjiro yang terkejut dan ngeri melihat tubuh oni tanpa kepala, langsung menyingkirkan tubuh oni yang kini tak berherak dari atas tubuhnya. Tanjiro dan Shirazumi menatap tak percaya pada adik mereka. Nezuko membunuh! walaupun yang dibunuhya ini memang oni...

.

.

.

Tubuh oni tanpa kepala itu mulai bergerak lagi, dan lagi-lagi Nezuko menendangnya sampai menabrak pohon. Sekali lagi Tanjiro dan Nezuko terkejut. Tubuh tanpa kepala masih bisa bergerak!

Hal-hal yang diluar nalar mereka masih terus terjadi. Kali ini kepala yang terpisah dari tubuhnya itu bicara.

"TERNYATA BENAR! DUA WANITA ITU ADALAH ONI. SEJAK TADI AKU MERASA ADA YAN G SALAH DENGAN KALIAN! BAGAIMANA BISA MANUSIA BEPERGIAN BERSAMA ONI?!"

Wajah Tanjiro memucat mendengarnya. Badan dan kepalanya sudah terpisah, tapi masih bisa bergerak dan berbicara.

Tubuh oni itu kini bergerak dan dengan cepat menyerang Nezuko. Nezuko mencoba bertahan dan sedikit menyerang balik. Shirazumi membantu melepaskan cengkraman oni itu pada Nezuko, sedangkan Tanjiro mengambil kapaknya dan berniat menyerang oni itu.

Tapi dari sudul matanya, Tanjiro melihat kepala oni itu yang hendak menyerang Tanjiro. Dari tempat yang seharusnya telinga, muncul sepasang tangan. Dengan kedua tangannya, oni itu menyerang Tanjiro.

Tanjiro yang menyadari serangan itu mencoba menahanny adengan menggunakan kapaknya sebagai pertahanan. Oni itu malah menggigit bilah kapak itu.

Tanjiro yang mulai kesal menabrakkan dahinya dengan dahi oni itu.

Kepala Tanjiro itu sangat keras. Tidak ada yang punya kepala sekeras itu di keluarga Kamado. Uniknya, Kepala kerasnya itu sangat sesuai dengan sifatnya yang keras kepala...

Tak hanya sekali, Tanjiro memukulkan kepalanya dua kali. Setelah pukulan yang kedua, Oni itu seperti kehilangan kesadaran sementara hingga Tanjiro mempunyai kesempatan untuk melepaskan tangan oni itu dari dirinya.

Karena Oni itu memanjangkan rambutnya dan melilitkannya di sekitar pegangan kapak milik Tanjiro, dia tak bisa melepaskan diri saat Tanjiro menusukkan kapak itu ke batang pohon.

Shirazumi dan Nezuko yang masih melawan tubuh oni itu kewalahan. Kekuatan dan pengalaman mereka tak seimbang. Mereka berdua berhasil dipojokkan hingga ujung lereng yang terjal.

Setelah memastikan oni kepala bertangan itu tak bisa melepaskan diri, dengan segera, Tanjiro berlari mencari dua saudara perempuannya dengan mengikuti bau mereka.

Saat ketemu, tanpa pikir panjang Tanjiro berlari dan mendorong tubuh oni itu tanpa sadar kalau di depannya ada jurang. Tanjiro terhempas bersama oni itu menuju jurang.

Tapi untungnya Shirazumi dan Nezuko berhasil menangkap Tanjiro dengan memegang haorinya. Tanjiro selamat dari maut, sedangkan tubuh oni itu terus terjun bebas hingga ke ujung jurang.

Saat tubuh oni itu menyentuh tanah, terdengar suara mengerikan dari suara daging dan tulang yang hancur karena menabrak tanah dengan sangat kencang. Tubuh oni itu sudah hancur, sekarang tinggal tersisa kepalanya.

Kepala oni yang masih berbagi indra dengan tubuhnya itu merasakan tubuhnya sudah hancur. dia berteriak kesakitan lalu tak bergerak lagi.

.

Tanjiro, Nezuko dan Shirazumi kembali ke tempat dimana oni itu terperangkap antara kapak dan pohon.

"Tanjiro, oni ini bukan oni yang menyerang Ibu dan yang lainnya. Sepertinya ada banyak sekali oni..." Ucap Shirazumi sambil melihat oni kepala yang tak sadarkan diri itu.

"Ya. Baunya juga berbeda dengan bau yang tertinggal di rumah" Tanjiro menjawabnya.

Tanjiro mengeluarkan pisau yang dibawanya dan berniat membunuh oni itu. Walaupun oni itu tak bergerak, tapi Tanjiro tahu kalau dia belum mati.

Tangan Tanjiro gemetaran. Dia tak pernah membunuh manusia ataupun oni. Walau memakan manusia, oni itu memiliki wujud yang sama seperti manusia. Hanya saja oni yang dihadapannya ini sudah tidak benar-benar mirip manusia dengan kepala tanpa tubuh dan tangan yang muncul di kepalanya.

Shirazumi melihat adiknya yang sedang bimbang. Dia pun tak bisa membantunya. Sambil memegang tangan Nezuko yang sedang memandang kosong entah kemana, Shirazumi menyentuh pundak Tanjiro, berusaha menenangkannya.

.

.

.

Tiba-tiba terdengar suara pria dewasa dibelakang mereka. Tanjiro dan SHirazumi yang terkejut dengan kehadiran orang baru itu langsung membalikkan tubuhnya melihat sang pemilik suara.

"Kau tak bisa membunuhnya dengan cara seperti itu"

Ucap pria tua yang menggunakan topeng merah.

Mereka belum mengetahui, kalau pria tua yang menghampiri mereka adalah orang yang mereka cari.


Kematian adalah bagian dari kehidupan.

Setiap hari jumlah anak yang lahir tak terhitung,

Begitu juga dengan jumlah nyawa yang hilang.


TBC

Ada kritik & saran?

Aku tunggu ^_^