Thousand of Tears
Chapter 10 Urokodaki Sakonji
.
Seorang pria tua yang memakai topeng tengu berwarna merah sedang mengangkat sebuah ember berisi penuh dengan air sungai. Pria itu berjalan menuju rumahnya dengan membawa ember itu.
Gerakannya terhenti saat pria itu mendengar suara kepakan sayap burung, lebih tepatnya burung gagak.
Di salah satu kaki burung gagak itu terikat sesuatu. Itu adalah kertas yang berisikan surat.
Burung gagak itu bukanlah milik sang pria tua, melainkan milik salah satu orang yang pernah menjadi muridnya. Dulunya pria tua itu juga memiliki burung gagaknya sendiri, tapi kini burung gagak itu sudah tiada.
Pria itu menyimpan ember kayu yang sejak tadi dipegangnya dan mengangkat lengan kirinya. Dengan tenang burung gagak itu bertengger di lengannya.
Dengan perlahan, dilepaskannya kertas surat yang terikat di kaki burung gagak itu. Setelah itu, burung gagak itu kembali terbang, kembali pada majikannya.
Pria tua itu membuka lipatan kertas surat itu dan membaca isinya.
.
.
.
"Sebelumnya, maafkan ketidak sopanan saya, Urokodaki Sakonji-dono.
Saya mengirimkan seorang pemuda yang ingin menjadi pendekar pemburu oni untuk menemui anda.
Pemuda itu memiliki semangat dan berani melawan saya tanpa membawa senjata.
Keluarganya telah dibantai oleh oni.
Kakak Perempuan dan adik perempuannya yang selamat telah diubah menjadi oni.
Adik perempuannya memiliki ketahanan mental yang tinggi hingga mampu menahan dirinya untuk tidak menyerang manusia.
Kakak perempuannya tidak menjadi oni seutuhnya, dia sepertinya memiliki kekebalan tertentu atas darah oni. Dia masih memiliki emosi manusia seutuhnya. Bahkan dia juga tidak memiliki ketertarikan dengan daging manusia.
Dengan itu saya telah memutuskan bahwa mereka tidak akan menyerang manusia.
Saya dapat merasakan sesuatu yang berbeda dari mereka bertiga.
Pemuda itu memiliki penciuman kuat sama seperti anda.
Mungkin saja, pemuda itu dapat menemukan cara untuk menerobos dan menjadi penerus anda.
Saya mohon, agar anda bersedia melatihnya.
Saya menyadari kalau permintaan saya ini terkesan egois.
Saya harap anda dapat memaafkan keegoisan saya atas permintaan saya ini.
Saya berharap anda dapat terus menjaga diri anda dalam setiap hal yang anda lakukan.
Dengan hormat,
Tomioka Giyuu."
.
.
.
Setelah selesai membaca surat itu, pria itu melipat kertas itu dan dimasukkannya ke dalam saku. Embar kayu yang tadi dia letakkan, kini kembali diangkatnya dan memasukkannya ke dalam penampungan air miliknya.
Setelah itu dia mengambil kain putih yang digunakannya untuk menutup rambutnya yang sdah memutih dan juga lehernya.
Setelah menutup shoji rumahnya, pria itu bergegas berjalan menuju arah menuruni gunung untuk menjemput dan melihat pemuda yang dikatakan muridnya itu dalam surat.
Dalam hatinya, dia tak ingin lagi mengangkat murid.
Dia tak ingin ada lagi anak didiknya yang kehilangan nyawa karena menempuh jalan yang sama dengannya.
Walaupun sudah pensiun, pria tua bernama Urokodaki Sakonji ini dulunya adalah seorang hashira. Peringkat tertinggi dalam pasukan pemburu oni.
.
.
.
Dengan usianya yang sudah tak lagi muda, Urokodaki Sakonji berjalan dengan gesit. Semua latihan dan pertarungan yang sudah dilewatinya tak bisa dilupakan begitu saja oleh tubuh tuanya.
Setelah matahari tenggelam, Sakonji menemukannya. Seorang pemuda bersama dengan seorang gadis yang lebih tua dan seorang gadis yang lebih muda dari si pemuda.
Kedua gadis itu memancarkan aroma oni, karena itu Urokodaki langsung mengetahui kalau mereka adalah orang-orang yang dikirimkan oleh Giyuu.
Mereka bertiga tengah diserang oleh oni. Sakonji menyembunyikan dirinya di antara pepohonan dan menghilangkan hawa keberadaannya.
Sakonji ingin melihat, apa yang mereka akan mereka lakukan untuk bertahan dan menyerang oni itu. Karena itu, Sakonji tidak membantu mereka sama sekali. Dia terus menyembunyikan dirinya.
Dengan perlahan, dia menyelinap ke dalam kuil yang penuh dengan noda darah itu dan memindahkan jasad-jasad itu keluar kuil. Dia berniat menguburkan mereka.
.
.
.
Akhirnya Sakonji menampakkan dirinya saat melihat pemuda itu sedang bimbang, memikirkan bagaimana cara membunuh oni yang kini tubuhnya dinggal kepala dan lengan.
Dengan perlahan Sakonji mendekati tiga bersaudara itu.
"Kau tak bisa membunuhnya dengan cara seperti itu" dia berkata.
Karena tiba-tiba mendengar suara orang lainnya yang mereka pikir awalnya tak ada disana, Tanjiro dan Shirazumi terkejut dan berbalik menatap Sakonji, sedangkan Nezuko masih terus menatap entah kemana.
Tanjiro dan Shirazumi menyadari bahwa pria yang menghampiri mereka ini adalah orang yang sedang mereka cari.
Tanjiro menanyakan pada Sakonji, bagaimana cara membunuh oni. Tapi Sakonji tak menjawabnya. Dia hanya memberikan saran, pertanyaan Tanjiro itu hanya bisa dijawab oleh Tanjiro sendiri.
Sambil berpikir singkat, Shirazumi berkata "Tubuhnya terpotong pun masih bisa bergerak. Bagaimana kalau..." Shirazumi menghentikan kata-katanya sambil melirik batu besar yang ada di dekat mereka.
Tanjiro mengikuti arah pandangan Shirazumi dan akhirnya memiliki pemikiran yang sama dengan kakak perempuannya.
Tanjiro berjalan menuju batu itu dan mengangkatnya. Dia berniat menghantamkan batu itu pada oni yang terperangkap di pohon itu hingga kepalanya hancur.
Tapi Tanjiro tak memiliki keberanian untuk melakukan itu. Dia tak tega. Tanjiro tahu, kalau dia membenturkan batu itu berkali-kali pada kepala oni itu, belum tentu oni itu akan langsung mati. Oni itu akan menderita dulu.
Saking baik hatinya Tanjiro, bahkan pada oni yang hampir membunuhnya itu pun dia masih punya rasa simpati.
Sementara Shirazumi dan Nezuko mulai gelisah. Matahari sebentar lagi akan terbit. Mereka tak ingin cahaya matahari pagi mengenai tubuh mereka.
Saat Tanjiro masih terus berpikir, Shirazumi mengambil keranjang bambu berisi kain dan topi miliknya, lalu menggandeng Nezuko dan menuntunnya masuk ke dalam kuil yang kini sudah tidak penuh dengan jasad manusia, walaupun bau darah masih menyengat. Dan itu membuat Shirazumi pusing.
Shirazumi meletakkan keranjang bambu Nezuko di bagian terdalam kuil dan menyuruh Nezuko masuk ke dalamnya. Setelah Nezuko mengecilkan tubuhnya dan memasuki keranjang itu, Shirazumi menutupinya dengan kain yang tadi digunakan membungkus keranjang itu.
Sedangkan Shirazumi duduk di samping keranjang nezuko sambil mengenakan topi kainnya. Dia duduk meringkuk, berusaha membuat tubuhnya terlihat sekecil mungkin, menghindari cahaya matahari pagi yang sebentar lagi akan terlihat.
Perasaan ragu.
Perasaan yang membuat seseorang sulit berkembang.
Sulit untuk mengambil keputusan
Tapi bukan berarti,
Perasaan ragu itu harus dihapuskan
TBC
Ada kritik & saran?
Aku tunggu ^_^
