Thousand of Tears

Chapter 11 Tes Kelayakan


Sakonji berpikir bahwa percuma saja Giyuu mengirimkan Tanjiro padanya. Anak itu terlalu lembut. Dia tak bisa menjadi pemburu oni.

Sakonji terus menatap Tanjiro yang memegang batu dan terus dalam keadaan bimbang. Hingga tiba-tiba kepala oni itu mulai sadar.

Tanjiro yang tak menyadari kalau oni itu kini sudah mendapatkan kembali kesadarannya, melihat ke arah timur. Ternyata matahari sudah terbit.

Cahaya matahari menyinari tubuh oni itu. Tidak sampai tiga detik, tubuh (kepala) oni itu terbakar. Suara teriakan kesakitan menggema darinya. Dalam beberapa detik, Oni itu hanya tinggal abu. Tersisa kapak milik Tanjiro yang masih tertancap pada batang pohon.

Walaupun reaksinya lebih lambat dibanding Shirazumi dan Nezuko, Cahaya matahari benar-benar mematikan bagi para oni. Tanjiro bersyukur saat itu dia dan saudari-saudarinya bergerak cepat untuk menghindari cahaya matahari.

Akhirnya Tanjiro memikirkan sebuah kemungkinan, bahwa pria tua yang dia temui adalah orang yang dicarinya.

Saat Tanjiro membalikkan badannya setelah terpana dengan kekuatan matahari, dia tak melihat Sakonji. Setelah melihat ke arah yang lain, barulah dia menemukannya.

Sakonji sedang berlutut di depan tumpukan tanah yang merupakan makam dari orang-orang yang terbunuh di dalam kuil. Sambil mengatupkan kedua tangannya yang terkotori oleh tanah, Sakonji mendoakan korban-korban itu.

Untuk memastikan sekali lagi, Sakonji menanyakan pada Tanjiro. Apakah benar, Giyuu yang mengirimkan mereka padanya.

Setelah Tanjiro memperkenalkan dirinya dan terkonfirmasi benar bahwa mereka adalah orang yang diceritakan oleh Giyuu dalam suratnya, Sakonji menanyakan hal yang cukup sensitif pada Tanjiro.

"Tanjiro. Apa yang kau lakukan jika adik dan kakakmu itu memakan manusia?"

Mendengar pertanyaan itu, Tanjiro diam sejenak. Dia tak dapat memikirkan apapun untuk menjawab pertanyaan pria tua yang ada dihadapannya.

Sakonji yang tidak puas karena Tanjiro memakan waktu yang lama untuk menjawab pertanyaannya, dengan cukup keras menampar pipi tanjiro yang masih terdiam. Tanjiro yang tak menyangka akan ditampar tak bisa mengelak sedikitpun. Pipinya merah karena bekas tamparan.

"Terlalu ragu. Kau terlalu ragu untuk menentukan suatu hal yang kecil. Kau bahkan tak bisa membunuh oni itu sebelum matahari terbit. Kenapa kau tak bisa langsung menjawab pertanyaanku tadi? Itu karena kau terlalu lembut!"

"Jika kakak ataupun adikmu memakan manusia, ada dua hal yang harus kau lakukan. Bunuh mereka, lalu belah perutmu sendiri dan mati. Itulah yang harus kau lakukan jika ingin menjadi pemburu oni sambil membawa kedua saudarimu!"

Sakonji menceramahi Tanjiro yang masih memegang pipinya yang memerah.

Shirazumi mendengar suara Tanjiro dan Sakonji dari dalam kuil, tapi dia tak berani keluar. Cahaya matahari bersinar dengan terangnya di luar kuil, dan Shirazumi sama sekali tak ingin keluar dari tempatnya berteduh.

Ceramah Sakonji masih belum selesai. Dia melanjutkannya.

"Tapi kau memiliki tugas untuk mencegah hal itu terjadi. Jangan sampai kakak maupun adikmu itu menyerang manusia. Itu tak boleh terjadi. Apa kau mengerti apa yang kumaksud?"

Setelah ceramah singkat itu selesai, seperti ada yang berubah dalam diri Tanjiro.

Dengan lantang dia menjawab pada Sakonji bahwa dirinya mengerti akan apa yang diucapkan oleh Sakonji.

Mendengar jawaban lantang dari Tanjiro, Sakonji memutuskan untuk membiarkan Tanjiro mencobanya. Jika Tanjiro bisa memenuhi ekspektasinya, dia bersedia mengangkat Tanjiro menjadi muridnya.

Ujian pertama yang diberikan Sakonji adalah untuk mengikutinya hingga sampai ke rumahnya.

.

.

.

Sakonji berlari tanpa memperlihatkan tanda-tanda kelelahan. Di belakangnya ada Tanjiro yang berlari mengikutinya sambil menggendong Nezuko dalam keranjang bambunya bersama Shirazumi yang mengenakan topi lebar berkain miliknya.

Sesekali asap putih tipis terlihat dari sela-sela kain topi yang digunakan Shirazumi. Tak seperti Nezuko yang benar-benar terlindungi dari sinar matahari, sesekali tubuh Shirazumi terkena sinar matahari.

Berkali-kali Tanjiro mengkhawatirkan kakak perempuannya, tapi Shirazumi terus meyakinkan Tanjiro kalau dirinya tak apa-apa.

Sebaliknya, Shirazumi lebih khawatir pada adik laki-lakinya. Berbeda dengan Shirazumi yang selain tubuhnya yang terkena sedikit sinar matahari sehingga mengeluarkan asap, Shirazumi yang sekarang bukanlah manusia seutuhnya. Dia tak terlihat maupun merasa lelas sama sekali. Berbeda dengan Tanjiro yang sepertinya hampir kehabisan nafas.

Berlari sambil menggendong Nezuko... Itu cukup sulit. Apalagi berlari sambil mengikuti Sakonji yang staminanya tidak selaras dengan usianya. Itu lebih sulit lagi.

.

.

.

Di dalam keranjang bambu yang dibawa Tanjiro, tubuh Nezuko berguncang dengan kuat karena gerakan Tanjiro yang berlari. Tapi tak ada suara yang terdengar dari Nezuko.

Walaupun memang sejak menjadi oni, Nezuko tidak mengeluarkan sepatah katapun.

Tapi bukan itu penyebabnya.

Kini Nezuko sedang tertidur.

Jangan lupakan tubuh Nezuko yang tadinya penuh luka. Luka-luka itu memang sudah menghilang, tapi staminanya belum pulih. Apalagi karena Nezuko sebagai oni belum makan apapun. Karena itu Nezuko tertidur tanpa bisa merasakan guncangan hebat itu.

.

.

.

Sambil terus berlari, Tanjiro tiba-tiba teringat masa lalu.

Keluarga mereka miskin, tidak selalu bisa membeli barang yang baru.

Saat ada kimono yang sobek, mereka hanya bisa memperbaikinya.

Kimono yang kini digunakan mereka bertiga, sudah berkali-kali dijahit dan diperbaiki.

Tanjiro pernah menawarkan pada Nezuko untuk membelikannya kimonoo baru, tapi nezuko menolaknya dengan alasan kalau kimono itu adalah kimono kesukaannya. selain itu, kimono berumur beberapa tahun itu adalah hadiah ulang tahun dari ibu, ayah, Shirazumi dan juga Tanjiro. kimono nezuko yang sebelumnya tak bisa lagi digunakan karena tak sengaja terkena api saat menyalakan perapian.

Karena itu, jika masih bisa diperbaiki, Nezuko lebih memilih untuk memperbaikinya. lebih baik uangnya digunakan untuk memberi makan adik-adik mereka.

Kimono yang saat ini digunakan oleh Tanjiro dan Shirazumi juga merupakan kimono bekas milik ayah dan ibu mereka.

.

.

.

Setelah lama berlari mengikuri Sakonji, akhirnya mereka sampai di depan rumah kayu yang merupakan rumah Urokodaki Sakonji.

Tanjiro langsung jatuh berlutut saat mengetahui kalau mereka sudah sampai pada tempat tujuan.

Sambil berusaha mengatur nafasnya, Tanjiro bertanya. Apakah dirinya lulus ujian yang diberikan Sakonji.

Tapi ternyata itu belum apa-apa. Berlari sangat jauh yang mereka lakukan tadi ternyata bukanlah ujiannya.

Sambil membuka shoji, Sakonji menyuruh Ranjiro untuk membawa adik dan kakaknya ke dalam. Tanpa pikir panjang, Shirazumi langsung melesat memasuki rumah itu, sedangkan Nezuko dibawa oleh Tanjiro.

Shirazumi yang merasa kalau tempatnya duduk sekarang sudah aman dari sinar matahari, membuka topi kainnya.

Saat Tanjiro menurunkan keranjang bambu dari punggungnya, terlihat Nezuko yang sedang tertidur pulas. Apapun yang dilakukan Tanjiro dak membuatnya terbangun.

Sakonji mengeluarkan sebuah futon dan menyuruh Tanjiro untuk menidurkan Nezuko di atas futon itu.

Shirazumi yang merasa ikut mengantuk saat melihat Nezuko tertidur berbalutkan selimut hangat kini menguap. Dengan perlahan dia ikut masuk kedalam futon yang ditiduri oleh Nezuko.

Tak butuh waktu lama hingga akhirnya Shirazumi menyusul Nezuko menuju alam mimpi.

Tanjiro tersenyum melihat kedua saudarinya. Saat Nezuko masih kecil, kalau bermimpi buruk dia pasti akan masuk ke dalam futon Shirazumi atau futon ibunya dan tak akan pindah hingga pagi tiba.

"Mereka akan aman disini. Waktu dimana matahari bersinar memang waktunya tidur bagi para oni" Ucap Sakonji dari arah pintu.

"Sekarang ikutlah denganku menaiki gunung. Ujianmu yang pertama baru akan dimulai"


Jangan langsung percaya pada apa yang kau dengar.

Kau harus membuktikannya sendiri.

Kesan pertama yang kau lihat,

Bukan berarti itulah kebenarannya.


TBC

Ada kritik & saran?

Aku tunggu ^_^