Thousand of Tears

Chapter 12 Hindari jebakan! Kembali ke kaki gunung


Matahari yang bersinar redup bersinar menerangi sore hari yang melelahkan. Nezuko dan Shirazumi tertidur seperti sudah lama tak merasakan futon yang empuk.

Baru beberapa menit Tanjiro dan yang lainnya sampai ke rumah Sakonji, kini Tanjiro disuruh untuk mengikuti lagi Sakonji hingga ke atas gunung.

Wajah tanjiro yang penuh keringat dan kelelahan kini semakin memucat. Padahal baru saja dia berlari sekuat tenaga, kini masih harus mendaki gunung yang lebih tinggi. Kalau saja Shirazumi melihat wajahnya, dia pasti akan tertawa. Tanjiro memang ahlinya membuat ekspresi wajah yang aneh-aneh.

.

.

.

Tanjiro mengikuti Sakonji menaiki gunung. Kini pria itu tidak berlari. mereka berjalan untuk menaiki gunung.

Semakin tinggi mereka mendaki, langit semakin gelap. bahkan kabut putih pun menghiasi pemandangan sekitar.

Saat mereka sudah berada di bagian gunung yang cukup tinggi, Sakonji berhenti berjalan. Dia melihat ke arah Tanjiro yang hampir kehabisan nafas.

Wajah yang pucat, mata yang merah dan nafas yang memburu. Itulah keadaan Tanjiro saat ini. Dia pun merasa kalau otot-ototnya seperti ditarik. Singkatnya, Tanjiro yang sekarang sangatlah merasa lelah.

Berbeda dengan Sakonji yang terlihat hampir tidak merasa lelah sama sekali.

"Mulai dari sini kau harus menuju kaki gunung dan kembali ke rumahku. Batas waktunya sampai sebelum fajar." Sakonji berkata singkat pada Tanjiro sebelum akhirnya tubuhnya tak terlihat ditelan kabut.

Sakonji meninggalkan Tanjiro sendirian di gunung yang penuh kabut. Dia kembali menuju rumahnya untuk menunggu Tanjiro. Gerakannya yang sangat lembut membuat Tanjiro sama sekali tak sadar, kapan dan lewat mana Sakonji pergi.

Tanjiro merasa kalau ujian yang diberikan Sakonji terlalu mudah. Dia berpikir kalau Sakonji mengira dirinya akan tersesat di gunung yang berkabut inin. Dengan penciumannya, dia bisa mengikuti bau Sakonji sehingga tak perlu takut tersesat, itulah yang dipikirkannya.

Tapi kenyataannya tak semudah itu.

Baru berjalan beberapa langkah, Tanjiro merasa kalau kakinya menyentuh sesuatu. Ternyata itu sebuah tali tambang. Tali itu mengaktifkan jebakan berupa lemparan batu-batu yang langsung mengenai tubuhnya.

Saat itu Tanjiro menyadarinya. Menuruni gunung ini tak semudah yang dia bayangkan. Jalan pulang menuju kaki gunung dipenuhi jebakan yang dibuat oleh sakonji.

Kebanyakan jebakan itu sudah berusia agak lama. Ada yang masih kuat, ada juga yang sudah mulai rapuh. Sakoni tidak membuat jebakan-jebakan itu khusus untuk Tanjiro. Karena Sakonji adalah seorang pelatih, jebakan-jebakan itu juga digunakan olehnya untuk menguji murid dan calon muridnya yang lain.

.

.

.

Tanjiro berlari sambil berusaha menghindari jebakan-jebakan itu. Tak semua bisa dia hindari. Tubuhnya penuh luka. Udara di gunung yang sangat tipis pun mempengaruhi gerak refleks Tanjiro. Dirinya memang tinggal di gunung, tapi udara di gunung Sagiri lebih tipis dibandingan dengan di gunung tempatnya tinggal.

Tanjiro berusaha mengatur nafasnya, berusaha agar tidak hilang kesadaran karena kekurangan oksigen. Kepalanya pusing, dia merasa bisa roboh kapan saja.

Tapi dengan tekad yang dia miliki, dia terus maju. Dengan mengandalkan penciumannya, Tanjiro mencaru bau dari jebakan-jebakan itu. Jebakan yang dibuat oleh manusia memiliki bau yang berbeda, dan Tanjiro berusaha menghindarinya. Hanay dengan menyadari itu saja, tubuhnya bergerak lebih tangkas dibandingkan sebelumnya.

Satu jebakan bisa dihindari, tapi jebakan berikutnya melukai tubuhnya. Itu terus terjadi hingga tubuhnya penuh luka dan kotoran. Darah mengalir dari beberapa bagian tubuhnya.

Sambil terus memikirkan dua anggota keluarganya yang terakhir, Tanjiro menguatkan tekadnya dan terus maju, hingga akhirnya dia samapi di kaki gunung dan terlihatlah rumah Urokodaki.

Tanjiro menghabiskan hampir satu malam untuk menuruni gunung yang penuh jebakan itu. Saat shoji rumah Sakonji dibukanya, karena kehabisan tenaga tubuhnya langsung kehilangan kekuatan. Dirinya langsung roboh tepat di pintu masuk.

Sakonji yang sedang duduk melihat Shirazumi dan Nezuko tertidur kini menatap Tanjiro dengan perasaan yang campur aduk. Satu sisi dia senang karena Tanjiro memenuhi ekspektasi sementaranya. Di sisi lain kini bertambah satu orang lagi yang megikuti jejaknya sebagai pemburu oni. Satu lagi anak tak berdosa yang mungkin akan berumur pendek.

.

.

.

Selama Tanjiro berusaha menuruni gunung, Shirazumi dan Nezuko sempat terbangun. Nezuko yang menyadari ketidakhadiran Tanjiro melihat ke segala arah, berusaha mencari kakak laki-lakinya. Tapi yang dilihatnya hanyalah Sakonji dan Shirazumi yang sudah bangun lebih dulu sedang berbicara.

Melihat kakak perempuannya, Nezuko keluar dari futon dan mendekati Shirazumi. Dia bertingkah seperti anak kecil dan tiduran menggunakan paha Shirazumi sebagai bantalnya.

Shirazumi mengelus kepala adiknya sambil menatapnya dengan tatapan penuh kasih sayang.

Sakonji sudah menceritakan mengenai resiko pekerjaan pemburu oni dan juga tentang oni yang tak sempurna padanya.

.

.

.

Shirazumi menjelaskan mengenai dirinya dan juga bertanya mengenai pemburu oni dan juga oni yang tak sempurna pada Sakonji.

"Pemburu oni, sesua dengan namanya itu adalah organisasi non pemerintah yang memburu dan membinasakan oni. Aku tak akan berbohong padamu, pekerjaan ini memiliki resiko kematian yang cukup tinggi. jika tak berkembang, oni bisa dengan mudah membunuhmu bahkan memakanmu. Bagi oni, manusia hanya berarti dua hal. Hama, atau makanan."

"Oni tak sempurna seperti dirimu mungkin berpikiran berbeda. Jumlah manusia yang memiliki kekebalan atas darah oni itu sangat sedikit, dan tingkat kekebalannya pun berbeda-beda. Pada dasarnya, meminum darah oni dapat membuat manusia menjadi oni, tapi ada juga yang walaupun memakan dan meminum darah oni, orang itu hanya akan menjadi oni dalam jangka waktu hitungan jam sebelum akhirnya darah oninya luruh dan kembali jadi manusia."

"Ada juga yang hanya merubah tampilan fisiknya saja, tapi tak mendapatkan kekuatan yang lebih seperti oni umumnya."

"Dan, ada juga yang perubahannya menjadi oni sangat lambat dan memakan waktu sangat lama. Apabila terluka, Tubuh mereka tidak bisa langsung menyembuhkan diri seperti pada oni yang sempurna. Mendengar penjelasanmu, kupikir, kau berada di kategori yang ini"

"Tubuhmu yang terasa pegal adalah efek samping dari penyembuhan cepat dimana tubuhmu belum bisa mengimbangi kecepatan penyembuhan itu. Walaupun memang memakan waktu yang lebih singkat, tapi penyembuhan diri milikmu itu terhitung sangat lambat bagi para oni".

Shirazumi mendengarkan dengan seksama penjelasan dari Sakonji. Walaupun lambat, tapi sedikit demi sedikit diriny ajuga akan berubah menjadi oni. Shirazumi takut kalau suatu saat dirinya akan mulai tertarik dengan darah dan daging manusia. Sekarang saja dia agak tertarik dengan darah manusia seperti pada saat di kuil tempat pertamakalinya mereka bertemu Sakonji.

Syarat yang disebutkan oleh Sakonji pada Tanjiro, dia mendengarnya. Kalau dirinya ataupun Nezuko sampai memakan manusia, Tanjiro harus membunuhnya dan Nezuko, lalu membelah perutnya sendiri.

Selama sesaat tidak ada yan mengeluarkan sepatah katapun.

Selagi Shirazumi merenungkan nasibnya, Nezuko mendekatinya dan tiduran menggunakan pangkuannya sebagai bantal. Shirazumi menghentikan lamunannya dan mengelus rambut Nezuko.

'Setidaknya, kami harus menahan diri selama mungkin. Sampai kami menemukan cara untuk kembali jadi manusia...' Ucapan dalam hati Shirazumi menjadi tekadnya yang kuat untuk mempertahankan kesadarnnya sebagai manusia.


Jika kau berusaha,

Jalan yang lebih baik akan bercabang di hadapanmu.

Kau tinggal memilih,

Jalan mana yang menurutmu paling cerah.


TBC

Ada kritik & saran?

Aku tunggu ^_^