Thousand of Tears
Chapter 13 Pelatihan Tanjiro & Perubahan Shirazumi
Pemburu Oni. Mereka berjumlah ratusan.
Walaupun organisasi ini tak diakui secara resmi oleh pemerintah, mereka masih ada dan terus memburu para oni.
Siapa yang membentuk pasukan ini... Tidak ada yang mengetahuinya.
Oni. Makhluk pemakan manusia yang menjadi sasaran para pemburu oni.
Mereka memiliki wujud humanoid tetapi dengan kekuatan yang melebihi manusia. Saat mereka terluka, dalam waktu yang sangat singkat luka mereka akan sembuh.
Walaupun bagian tubuh mereka terpisah atau terpotong, mereka bisa menempelkannya kembali atau menumbuhkan lagi yang baru.
Ada juga oni yang memiliki kemampuan merubah tubuhnya.
Tanpa menggunakan peralatan khusus, walaupun dipenggal mereka tak akan mati.
Pemburu oni melawan mereka dengan sekuat tenaga
Karena pemburu oni masihlah manusia biasa, luka mereka tak akan sembuh dalam waktu singkat. Anggota tubuh yang hilang tak dapat tumbuh kembali.
Mereka mengetahui itu namun terus berperang melawan para oni demi manusia.
.
.
.
Memandang Tanjiro yang kini roboh karena kelelahan, Sakonji mengakui kemampuan Tanjiro karena Tanjiro berhasil sampai di rumahnya tepat sebelum matahari terbit.
Karena kondisi Tanjiro yang kini tak mungkin untuk langsung melakukan latihan, Sakonji memberikan waktu baginya untuk mengistirahatkan tubuhnya dan juga menyembuhkan luka-lukanya.
Tanjiro masih tetap dalam posisinya yang bersandar pada shoji. Dia masih tak sadarkan diri, dan Sakonji dengan perlahan membantunya dengan membawanya dan menidurkannya di atas lantai kayu tepat di sebelah futon dimana Shirazumi dan Nezuko tertidur,
Dengan menggunakan kain basah, Sakonji membersihkan luka yang ada di kepala Tanjiro dan membalutnya dengan perban.
Luka-lukanya tidaklah dalam. Kebanyakan dari luka-luka itu adalah luka goresan dan luka lemparan benda tumpul seperti batu.
Setelah selesai mengobati luka-luka Tanjiro, Sakonji sekali lagi menatap tiga bersaudara yang sedang berada di alam mimpi.
Ketiga bersaudara itu mengingatkannya pada mendiang murid-muridnya.
.
.
.
Akhirnya peatihan untuk Tanjiro akan segera dimulai. Sakonji sekali lagi memperkenalkan dirinya pada Tanjiro bahwa dirinya dalah seorang pelatih. Pelatih yang melatih para calon pemburu oni.
Sakonji menjelaskan pada Tanjiro bahwa ada banyak pelatih. Masing-masing dari mereka melatih di tempat yang berbeda dan dengan tekhnik yang berbeda. Untuk bisa menjadi pemburu oni yang sah, Tanjiro harus lulus dalam ujian seleksi akhir yang akan dilaksanakan di gunung Fujikasane.
Pelatihan yang akan mereka lakukan merupakan sebuah tes, apakah Tanjiro akan mencapai kondisi dimana dirinya mampu mengiikuti ujian seleksi akhir itu atau tidak.
.
.
.
Sejak hari kedua mereka tinggal di rumah Urokodaki, Nezuko tertidur lagi dan tak kunjung bangun. Mungkin karena staminanya habis dan tidak memakan manusia, Nezuko tak bisa bangun dari tidurnya.
Tanjiro dan Shirazumi khawatir dengan adiknya, tapi Tanjiro harus mengikuti latihan dari Sakonji.
Berbeda dengan Nezuko yang terus tidur, Shirazumi kini hanya perlu waktu tidur yang lebih singkat. Karena itu, Selama siang hari dia menemani Nezuko di dalam rumah, sedangkan malam harinya dia suka melihat latihan malam Tanjiro.
Pagi dan malam Tanjiro berlatih di bawah panduan Sakonji.
Menghindari jebakan, berlari naik turun gunung, melepaskan diri dari jebakan, terjun bebas ke air terjun, bertapa di bawah aliran air terjun, mengayunkan katana, bela diri tangan kosong, Latihan pernafasan, dan masih banyak lagi.
Saat berlatih melawan Sakonji, tak pernah sekalipun tanjiro menang. Jangankan menang, mendekatinya saja sudah sangat susah.
Beberapa kali Shirazumi melihat latihan Tanjiro di siang hari sambil menggunakan topi kain miliknya. Wajahnya semakin pucat saat melihat Tanjiro ditendang oleh Urokodaki dari atas tebing ke arah sungai dengan air terjun dibawahnya. Teriakan Tanjiro terdengar menggema.
Dengan reflek, Shirazumi berlari ke arah tebing dimana Tanjiro dijatuhkan, mengabaikan asap-asap putih yang terlihat dari sela-sela kain topinya.
Tinggal tiga langkah lagi Shirazumi menuju tebing, Sakonji menghentikannya.
"Dia tak akan apa-apa, sebaiknya kau kembali ke dalam rumah" Ucap Sakonji sambil menahan Shirazumi dengan memegang lengannya.
Sebelum Shirazumi bereaksi dengan ucapan Sakonji, terdengar suara keras dari arah sungai di bawah tebing.
"WUAAH... KUKIRA AKU AKAN HANYUT DAN MATI!". Tanjiro berkata setelah berhasil mencapai tepi sungai.
Shirazumi merasa lega saat mendengar suara adiknya itu. Tapi kekesalannya karena melihat adiknya sendiri ditendang jatuh dari atas tebing, membuatnya marah. Shirazumi berbalik dan menatap erat-erat Sakonji yang raut wajahnya tertutupi topeng tengu miliknya.
Sakonji dapat mencium aroma kemarahan dari Shirazumi. Jika wajahnya tak tertutupi kain putih, Sakonji pasti bisa melihat wajah Shirazumi yang sudah hampir setara dengan topeng hannya.
'Kalau kau membunuh adikku, aku akan mencincangmu'. Itulah kalimat batin yang diucapkan Shirazumi. Tanpa perlu mengatakannya, bau dan aura kemarahan dari Shirazumi sudah tersampaikan pada Sakonji.
Di bawah tebing di tepi sungai, Tanjiro merinding. Bukan karena kedinginan, tapi karena dia sudah kenal dengan bau kemarahan milik kakak perempuannya.
Sejak saat itu, Shirazumi lebih sering melihat latihan Tanjiro, baik siang maupun malam. Untuk memastikan Sakonji tidak sampai 'membunuh' Tanjiro.
.
.
.
Tak terasa, selama pelatihan Tanjiro, enam bulan sudah terlewati. Selama itu pula tak sekalipun Nezuko membuka matanya.
Sakonji memanggilkan dokter untuk memeriksa Nezuko, tapi tak ada yang salah pada keadaan Nezuko. Dia hanya 'tertidur'.
Tertidur selama enam bulan itu sudah sesuatu yang aneh. Shirazumi dan Tanjiro takut, kalau suatu hari, Nezuko kehilangan nyawanya saat dalam keadaan tertidur.
.
.
.
Latihan yang dilakukan oleh Tanjiro semakin lama semakin berat. Itupun mempengaruhi aura kemarahan Shirazumi pada Sakonji. Semakin mematikan latihan Tanjiro, semakin kuat bau amarah yang dipancarkan Shirazumi.
Tapi Shirazumi tahu. Shirazumi yakin, kalau adiknya bisa bertahan dalam latihan yang keras itu.
Semakin kuat Tanjiro, semakin Shirazumi merasa dirinya tak berguna.
Walaupun Sakonji juga memberikan sedikit latihan pada Shirazumi, yang dapat dibanggakan dari dirinya yang seorang oni hanyalah staminanya saja.
Pukulannya tidak lebih kuat dari pukulan seorang gadis manusia. Ayunan pedangnya juga sangat lemah. Shirazumi menggunakan pedang kayu, karena nichirin berbahaya baginya.
.
.
.
Selama satu tahun Shirazumi dan adik-adiknya tinggal di rumah Urokodaki, Shirazumi tak menunjukkan gejala penambahan perubahan wujud dan sikapnya dari manusia ke oni.
Hingga suatu hari saat mereka sedang makan malam, terjadi sesuatu.
Menu makan malam saat itu adalah sup jamur dan herbal. Baru satu suap Shirazumi memakan sup itu, perutnya terasa sangat mual. Dia menjatuhkan mangkuknya dan segera berlari keluar, memuntahkan sup yang sudah terlanjur ditelannya.
Tanjiro dan Sakonji yang terkejut, meletakkan mangkuk mereka dan mengejar Shirazumi.
Terlihat Shirazumi yang berdiri sambil memegangi pohon sedang mengeluarkan isi perutnya.
Tanjiro bergegas mendekati kakaknya dan menepuk-nepuk punggung Shirazumi, berusaha menenangkannya.
Setelah Shirazumi baikan, Sakonji menanyakan sesuatu pada Shirazumi.
"Shirazumi, apa yang kau rasakan saat memakan sup tadi?" Sakonji bertanya dengan nada datar.
"Entahlah, rasanya... hambar tapi... entah bagaimana mengatakannya... Hambar dan terasa aneh saat menyentuh lidah". Jawab Shirazumi berusaha mengatur nafasnya.
"Bagaimana dengan makan siang yang tadi?" Sakonji kembali bertanya.
Makan siang mereka adalah sate kelinci yang dipanggang di atas perapian.
"Kalau yang itu, rasanya enak seperti biasa." Jawab Shirazumi.
Sakonji melipat tangannya di bawah dada dan mengatakan sesuatu yang membuat Shirazumi serasa disambar petir.
"Dengarkan aku Shirazumi. Tubuhmu sudah mulai berubah lagi. Kau tak akan bisa lagi makan makanan manusia selain daging. Ini tandanya tubuhmu mulai hanya bisa mencerna darah dan daging. Mulai sekarang, jangan jauh-jauh dariku untuk menghindari hal yang tak diinginkan.
Rasanya Shirazumi ingin menangis. Tubuhnya sudah mulai menginginkan darah dan daging. Kali ini dia selangkah lebih jauh dari makhluk hidup yang disebut manusia.
Perubahan dapat menghasilkan dua hal.
Hasil yang baik,
dan Hasil yang buruk.
Apabila hasinya tak berubah,
Itu bukanlah perubahan.
TBC
Ada kritik & saran?
Aku tunggu ^_^
