Thousand of Tears

Chapter 16 Batu yang Terbelah


Hari berikutnya kembali ke tempat batu besar itu berada. Seperti yang dikatakan Shirazumi, Sabito dan Makomo memang ingin melatih Tanjiro. Di depan batu besar itu, Sabito dan Makomo sudah hadir duluan.

Sama seperti kemarin, Sabito membawa pedang kayu yang sudah digunakannya untuk menghajar Tanjiro hingga pingsan.

Sekali lagi Tanjiro mencoba melawan Sabito, namun hasilnya sama seperti kemarin. Tanjiro kalah telak hingga pingsan.

Saat tersadar, Sabito tak terlihat dimanapun, yang ada hanya Makomo.

Setelah itu Makomo memberitahu beberapa hal pada Tanjiro. Gerakannya yang salah, kuda-kuda yang salah, posisi tubuh yang tak tepat dan pernafasan. Makomo memberitahu bagaimana membetulkan semua kesalahan itu.

Sakonji memang sudah mengajarkan sepuluh pernafasan air dan juga kuda-kudanya pada Tanjiro, tapi anak itu belum melakukannya dengan benar. Tak mungkin Sakonji akan mengirimkan muridnya yang tak bisa melakukan tekhnik pernafasan dengan benar untu mengikuti seleksi akhir.

Karena itulah Sakonji menyuruh Tanjiro untuk membelah batu itu, yang hanya bisa dilakukan dengan menggunakan tekhnik pernafasan dengan benar. Selain itu, Sakonji juga tidak benar-benar ingin mengirimkan Tanjiro ke tempat seleksi akhir itu.

.

.

.

Berhari-hari, berminggu-minggu, hingga berbulan-bulan Tanjiro belum pernah sekalipun menang melawan Sabito. Sesekali Shirazumi datang melihat perkembangan Tanjiro, tapi dia tetap tak bisa melihat lawan tanding adiknya. Dia hanya sesekali bisa mendengar suara Makomo yang lembut. Meyakinkan dirinya kalau adiknya akan baik-baik saja. Dia sudah semakin kuat.

Makomo terus memberikan saran dan masukan pada Tanjiro. Sabito juga terus meladeni Tanjiro. Itu terus berlangsung selama enam bulan. Selama itu juga Shirazumi dan Tanjiro merahasiakan mengenai Sabito dan Makomo pada Sakonji. Yang diketahui Sakonji, Tanjiro masih terus berlatih untuk bisa membelah dua batu besar itu.

Hingga suatu hari, Sabito mengatakan kalau Tanjiro sudah cukup kuat. Dia berjanji akan membawa katana asli untuk esok harinya. Latihan hari itu berakhir lebih cepat dari biasanya.

.

.

.

Tak hanya Tanjiro yang berlatih. Shirazumi juga melakukan latihannya sendiri. Dia tak ingin hanya bergantung pada adiknya. Tubuhnya yang tak bisa bertahan di bawah matahari saja baginya sudah mereupakan beban untuk Tanjiro. Setidaknya, Shirazumi ingin agar bisa melindungi diri.

Dengan katana yang dipinjamnya dari Sakonji, Shirazumi berlatih di tempat yang berbeda dengan Tanjiro. Sakonji meminjamkan katana itu pada Shirazumi karena mendengar alasannya yang kuat.

Awalnya Sakonji berniat memberikan katana biasa pada Shirazumi, tai dia salah memberikan malah Nichirin yang diberikannya. Nichirin itu bukan milik Sakonji melainkan milik mendiang rekannya yang gugur saat melawan oni puluhan tahun lalu.

Dalam keadaan sekarat, temannya itu menitipkan Nichirin itu pada Sakonji. Sakonji menerimanya dan masih terus menyimpan nichirin milik rekannya itu.

Setelah kematian pemiliknya, Nichirin akan kembali ke warna aslinya. Saat dulu masih digunakan, Nichirin itu berwarna hijau muda, kini terlihat seperti katana biasa.

Tapi saat Shirazumi memegang gagang katana itu, warnanya berubah menjadi putih.

Baik Shirazumi dan Sakonji terkejut melihatnya. Seharusnya Nichirin dibuat dengan bijih besi yang dipilih sendiri dan dibuat menjadi katana. Tapi Nichirin yang ada di tangan Shirazumi ini dulunya milik orang lain. Ini belum pernah terjadi.

Setelah itu, Shirazumi ikut melatih pernafasannya dengan Skonji. Tapi dia lebih parah dari Tanjiro. Shirazumi tak bisa menggunakan tekhnik pernafasan. Tapi karena di tangan Shirazumi Nichirin itu berubah warna, Sakonji memberikan katana itu padanya. Menurut perkataannya, Nichirin lah yang memilih tuannya, bukan dipilih. Nichirin milik mendiang rekannya itu pasti memiliki alasan untuk memilih Shirazumi menjadi pengguna barunya.

Karena terus berlatih, Shirazumi kini bisa menggunakan katana walaupun hanya sebatas untuk melindungi diri. Setidaknya menurut Shirazumi, itu sudah cukup.

.

.

.

Hari yang ditunggu telah tiba. Malam itu Tanjiro dan Sabito saling berhadapan. Masing-masing memegang sebuah katana.

Saat Shirazumi memberikan tanda, keduanya langsung bergerak bersamaan. Masing-masing dari mereka saling mengayunkan katana, berusa meraih lawannya.

Kali ini ada yang berbeda dengan pertandingan Tanjiro dan Sabito. Pertama kalinya katana Tanjiro mengayun lebih cepat dibandingkan Sabito. Ayunan pedangnya itu mengenai topeng rubah yang dipakai Sabito, membuatnya terbelah dua.

Topeng rubah yang terbelah dua itu tidak jatuh. Karena sebuah tali erah mengikat di bagian belakangnya, topeng rubah itu menggantung di leher Sabito.

Untuk pertama kalinya Shirazumi dan Tanjiro melihat wakah dibalik topeng rubah itu. Di sebelah pipinya, dari ujung bibir hingga pipi terdapat bekas luka yang sama seperti yang terukir pada topeng yang dipakainya.

Sabito tersenyum. Sebuah senyuman yang penuh rasa sedih tapi juga bahagia. Wajah paling damai yang pernah dilihat Tanjiro.

Tiba-tiba, kabut putih tebal muncul menutupi Sabito dan Makomo. Menyembunyikan sosok mereka dari pandangan Tanjiro.

Apa yang dilihat Shirazumi berbeda dengan apa yang dilihat Tanjiro. Pada akhirnya, Shirazumi melihat Tanjiro membelah batu besar itu seperti memotong kayu. Sangat rapih potongannya. Shirazumi yang terkejut dan senang karena adiknya berhasil membelah batu itu, tak bisa berkata apapun.

Diantara kabut putih itu, Shirazumi melihat siluet dua orang anak. Shirazumi berasumsi kalau siluet itu adalah Sabito dan Makomo. Mereka tak mengatakan apapun. Seperti hanya menunjukkan diri mereka pada Shirazumi untuk pertama dan terakhir kalinya.

.

.

.

Tidak sampai satu menit, kabut putih itu menghilang. Shirazumi menghampiri adiknya masih terpaku pada batu yang baru saja dibelahnya.

"Tanjiro. Bagaimana caranya kau bisa membelah batu itu?" Tanya Shirazumi penasaran.

Tanjiro berdiri sambil memandang ke bawah. Tanpa memandang kakaknya, Tanjiro menjawab " Tiba-tiba aku mencium sebuah garis, seperti benang. Saat bertarung, aku mendeteksi bau itu, kemudian aku bisa melihat garis itu. Garisnya menghubungkan katanaku dan sasaranku, dengan jeda pergerakan lawan, garisnya mengencang. Dengan dipandu garis itu, aku memotongnya" Jawab Tanjiro.

Shirazumi tak mengerti maksud penjelasan adiknya. Beberapa tanda tanya muncul diatas kepalanya.

.

.

.

Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki dari belakang mereka. Langkah kaki itu milik Sakonji.

Dengan ekspresi yang tak bisa dibaca karena topengnya, Sakonji berkata.

"Ternyata, kau bisa membelah batu itu..."


Kerja keras yang sungguh-sungguh,

Selalu membuahkan hasil.


TBC

Ada kritik & saran?

Aku tunggu ^_^