Thousand of Tears

Chapter 20 Kembali ke Tempat yang Dijanjikan


Wujud Tanjiro bersatu dengan bayangan Sakonji, Membuat Oni itu mengingat saat-saat dirinya dikalahkan oleh Sakonji. Dengan gerakan yang sama yang dulu mengalahkan sang oni, kejadian puluhan tahun yang lalu seperti diulang kembali. Bedanya, Yang menebasnya kali ini bukan Sakonji melainkan Tanjiro. Dan juga, tak seperti dulu, kali ini kepalanya benar-benar terpisah dari tubuhnya.

Dengan perlahan, tubuh oni itu hancur menjadi abu. Kepalanya yang masih utuh menatap tubuhnya sendiri yang hampir hancur semuanya. Di depan tubuh oni itu, Tanjiro menyarungkan pedangnya sambil memunggungi kepala oni itu.

Oni itu tak bisa melihat wajah Tanjiro. Tapi dia berasumsi kalau yang dia lihat pastinya adalah wajahnya yangs edang menghina dirinya. Menganggap oni yang kalah seperti seperti dirimya ini hanyalah makhluk yang hina.

Tapi ternyata itu salah. Ekspresi wajah Tanjiro sangat berbeda dengan apa yang dipikirkan oni itu.

Saat Tanjiro menatap kepala oni itu, tak ada tatapan menghina sama sekali. Yang ada justru tatapan kasihan. Tanjiro kasihan pada Oni itu.

Tanpa sadar, Oni itu mengatakan satu kata. "Onii-chan". Entah apa yang membuatnya mengatakan itu.

Nampaknya saat masih menjadi manusia, oni dihadapan Tanjiro ini punya seorang kakak laki-laki. Karena mencium bau kesedihan yang sangat menyengat dari oni itu, Tanjiro mendekat pada sisa-sisa tangan oni itu yang belum hancur dan memegangnya. Berdoa dan berharap agar jika oni yang dikalahkannya itu dilahirkan kembali, tidak menjadi oni lagi. Agar menghabiskan seluruh hidupnya sebagai manusia.

Walaupun kepala dan tubuhnya terpisah, oni itu masih bisa merasakan tangan Tanjiro tang memegang tangannya itu. 'Hangat'. Itu yang dipikirkan oni itu. Sebelum seluruh tubuh dan kepalanya menjadi debu, oni itu menangis. Dia mengingat kembali kehidupannya saat masih menjadi manusia. Mengingat tangan kakaknya yang selalu menggandeng tangannya.

.

.

.

Wajah Tanjiro semakin terlihat sedih. Dia memang berhasil mengalahkan oni itu, tapi belasan kakak seperguruannya tak seberuntung dirinya. Termasuk Sabito dan Makomo. Seperti mempersembahkan kemenangan itu untuk mereka, Tanjiro berdoa. Berdoa agar arwah mereka bisa beristirahat dengan tenang. Agar arwah mereka bisa kembali ke tempat yang mereka janjikan untuk pulang, Tempat guru mereka berada, Gunung Sagiri.

Tanjiro juga berkata dalam hati. Kalau dirinya mati di tempat ini, arwahnya pun akan pulang ke tempat Sakonji dan kedua saudarinya berada.

.

.

.

Di Gunung Sagiri, Shirazumi terduduk. Setelah mendengar dari Makomo kalau Tanjiro selamat melawan Oni yang bermutasi itu, Shirazumi merasa lega.

Udara di sekeliling Shirazumi menjadi lebih dingin. Kabut putih yang memang sudah biasa muncul di Gunung Sagiri membuat jarak pandang berkurang.

Tapi di dalam kabut itu, Shirazumi bisa melihat banyak anak-anak. Kali ini bukan hanya siluet. Semuanya terlihat walaupun kurang jelas karena kabut yang tidak terlalu tebal. Ada belasan anak-anak disana. Semuanya menggunakan topeng seperti yang dikenakan Tanjiro. Karena itu, Shirazumi berpikir kalau mereka semua adalah murid Sakonji.

Laki-laki yang sedang duduk di atas batu itu melompat turun. Selain anak laki-laki itu dan seorang anak perempuan berkimono bunga, anak-anak yang lain pergi tanpa mengatakan apapun dan menghilang ditelan kabut.

Kedua anak itu mendekati Shirazumi.

"Apa kalian, Sabito dan Makomo?" Tanya Shirazumi ragu pada kedua anak itu.

Dengan suara yang lembut, Makomo menjawab membenarkan pertanyaan Shirazumi.

"Sampaikan salam dan rasa terima kasih kami pada Tanjiro dan Urokodaki-san" Ucap Sabito pada Shirazumi sebelum akhirnya menghilang seperti anak-anak yang lain.

"Teruslah berusaha" Ucap Makomo sambil tersenyum yang kemudian ikut menghilang bersama Sabito.

.

.

.

Di dalam rumahnya, Sakonji duduk di depan perapian. Berharap agar kali ini dia bisa melihat muridnya pulang dengan selamat.

Ketakutan terbesar dari Sakonji adalah, saat seekor gagak datang dan mengabari kalau muridnya gugur dalam seleksi.

Sudah belasan kali dia merasakan rasa sakit itu. Dan dia tak ingin merasakannya lagi.

Tiba-tiba, angin hangat yang entah dari mana datangnya berhembus menyentuh Sakonji. Seharusnya sumber hangat di ruangan itu hanyalah perapian yang ada didepannya. Tapi angin itu berasal dari tempat lain.

Bersamaan dengan angin itu, Sakonji mencium bau yang seharusnya tak dapat ditemukan lagi. Bau murid-muridnya yang dulu pernah tinggal bersamanya.

Selain itu, dua kata yang dari dulu sangat ingin didengarnya mengalun bersama angin. Suara beberapa anak laki-laki dan perempuan yang berkata bersamaan dengan suara pelan nan lembut.

"Kami pulang, Urokodaki-san"

Sakonji terkejut. Dia berharap kalau yang didengarnya itu bukanlah hanya angin belaka.

Air mata mengalir di balik topeng yang dikenakannya itu. Bau dan suara yang tidak asing membuatnya mengingat masa lalu.


Dendam,

Keputusasaan,

Rasa Khawatir, dan

Janji.

Itu yang membuat mereka masih ada di dunia ini.


TBC

Ada kritik & saran?

Aku tunggu ^_^