Thousand of Tears
Chapter 22 Kepulangan Tanjiro
Pada malam hari ke-enam setelah Tanjiro pergi untuk mengikuti Seleksi akhir, Nezuko terbangun dari tidurnya. Shirazumi yang sangat senang melihat adiknya bangun, tanpa basa-basi langsung memeluk Nezuko.
Nezuko yang terlihat masih mengantuk tak memberikan respon apapun, hanya membiarkan Shirazumi memeluknya dengan erat.
Sakonji menghampiri mereka berdua untuk mengecek keadaan Nezuko. Dari luar, Nezuko tak ada bedanya dengan anak yang baru bangun setelah tertidur semalaman.
Dua hari yang lalu, untuk berjaga-jaga Sakonji memberikan sugesti pada Nezuko saat Nezuko masih tertidur, agar Nezuko menganggap manusia sebagai keluarganya, dan oni yang membunuh manusia sebagai musuh.
Walaupun Shirazumi juga masih oni, Tapi dia tak pernah membunuh manusia. Tak ada bau darah manusia padanya. Karena itu, Nezuko tak menyerang Shirazumi. Lagi pula, Nezuko tahu betul wajah kakaknya itu. Hanya oni yang jahat saja yang akan dianggap musuh oleh Nezuko.
Awalnya Shirazumi menolak untuk memberikan sugesti itu pada Nezuko, apalagi belum dirundingkan dengan Tanjiro. tapi setelah Sakonji menjelaskan alasannya, akhirnya Shirazumi setuju. Dengan syarat, Sakonji akan bertanggung jawab sepenuhnya atas apapun efek yang akan dihasilkan oleh sugesti itu.
.
.
.
Sejak terbangun, Nezuko jadi mempunyai kebiasaan yang buruk. Dari pada menggunakan tangan, Nezuko lebih suka membuka shoji dengan cara menendangnya keras-keras hingga lepas. dalam waktu tiga hari, Sakonji harus memperbaikinya sebanyak 12 kali.
Shirazumi berusaha menasihati adiknya itu untuk menghentikan kebiasaan buruknya. Tapi menasihati Nezuko yang sekarang layaknya bicara pada anak yang belum bisa bicara. Semua nasihat Shirazumi padanya tak ada yang dipatuhinya.
.
.
.
Tanjiro berusaha kembali ke rumah Sakonji secepat mungkin. Tapi luka-luka yang ada pada sekujur tubuhnya tak mengizinkannya untuk bergerak dengan cepat. Berkali-kali tanjiro harus beristirahat . Karena tubuhnya yang lemah, Butuh waktu lebih lama dari sebelumnya bagi Tanjiro untuk mencapai gunung Sagiri. walaupun luka-lukanya sudah diobati, itu tak memberikan perbedaan yang mencolok.
Masih beberapa kilometer lagi untuk Tanjiro mencapai Gunung Sagiri. Tanjiro sudah tak bisa berjalan dengan tubuh yang tegak. Kedua tangannya memegang sebuah potongan kayu yang panjang yang digunakannya sebagai sebuah tongkat untuk membantunya terus berdiri dan berjalan.
Dalam hati, Tanjiro terus menyalahkan dirinya yang terlalu naif. Tujuan awal Tanjiro mengikuti seleksi akhir pemburu oni itu adalah untuk bertemu oni dan menanyakan padanya cara mengembalikan oni menjadi manusia. Tapi tak satupun yang memberikan jawaban. Tanjiro membunuh semua oni yang ditemuinya.
Tanjiro berkali-kali menggumamkan kata 'maaf' untuk Nezuko dan Shirazumi karena tujuan utamanya itu tak berhasil. Membuat kedua saudarinya itu harus menunggu lebih lama untuk bisa kembali seperti semula.
.
.
.
Setelah terus berjalan, akhirnya rumah Sakonji terlihat. Saat itu sudah tengah malam.
Tinggal sepuluh meter lagi Tanjiro sampai, tiba-tiba terdengar suara keras dari shoji yang terhempas dari tempatnya. Sebuah kaki milik sang pelaku perusak itu terlihat keluar.
Tanjiro masih terkejut dengan Shoji yang terhempas itu hingga melihat Nezuko berjalan keluar rumah Sakonji. Kaki yang menendang shoji hingga terhempas itu adalah milik Nezuko. Tanjiro tak sanggup berkata apa-apa setelah melihat adiknya kembali tersadar untuk pertama kalinya setelah 2 tahun. Selama beberapa detik dia terpana.
Dari belakang Nezuko, Shirazumi terlihat mengikuti Nezuko dengan wajah yang agak kesal. Lagi-lagi Nezuko merusak shoji itu lagi. Walaupun Sakonji tidak keberatan karena shoji itu masih bisa dipasang lagi, tapi Shirazumi sebagai kakak tetap merasa malu. Bagaimanapun mereka ini kan menumpang tinggal di rumah itu.
.
.
.
Akhirnya tanjiro berhasil mengeluarkan suaranya yang sejak tadi terasa tertahan di tenggorokannya.
"Nee-chan! Nezuko!"
Tanjiro memanggil adik dan kakaknya.
Nezuko dan Shirazumi yang mendengar nama mereka dipanggil segera melihat ke arah sang pemilik suara. Tanjiro berusaha berlari untuk menghampiri dua saudarinya, tapi tubuhnya yang lemah membuatnya tersandung dan terjatuh.
Nezuko yang pertama kali berlari menyambut Tanjiro. Shirazumi masih berdiri mematung. Air matanya mulai menetes dari kedua matanya. rasa bahagia dan haru bergabung jadi satu. Setelah berhari-hari menahan rasa sesak dari rindu yang dirasakannya, akhirnya dia bisa melihat adiknya pulang dalam keadaan hidup.
Dua hari setelah Tanjiro pergi untuk mengikuti seleksi akhir, Shirazumi bermimpi buruk tentang adiknya yang tak pernah pulang lagi. Shirazumi terus memendam mimpi itu dan tak mengatakannya pada Sakonji.
Kepulangan Tanjiro membuat mimpi buruk itu sirna dari pikiran Shirazumi. Dengan segera dia berlari menghampiri dua adiknya yang sedang berpelukan. Shirazumi ikut memeluk kedua adiknya dan terus mengucapkan kalimat syukur.
Dari samping rumah, terlihat Sakonji yang baru saja selesai memotong kayu bakar. Melihat muridnya yang satu ini pulang dengan selamat, membuat Sakonji bagaikan melihat sebuah mimpi. Tapi yang ada dihadapannya itu bukanlah mimpi. Kali ini, muridnya pulang dengan selamat.
Sakonji menjatuhkan kayu yang sedang dipegangnya dan menghampiri tiga bersaudara yang sedang melepas rindu. Pria tua itu ikut memeluk mereka. Ikut menangis dengan mereka.
.
.
.
Setelah selesai melepas rindu secara singkat, Sakonji menyuruh Tanjiro dan yang lainnya untuk masuk ke dalam.
Selagi Sakonji mengganti perban yang ada di kepala Tanjiro, tanjiro menceritakan tentang seleksi akhir yang dilaluinya itu. Juga mengenai dirinya yang telah mengalahkan oni yang sudah membunuh belasan murid Sakonji.
Sakonji berterima kasih pada Tanjiro karena sudah membalaskan dendam anak-anak didiknya. Dia juga mengaku kalau sudah mengetahui mengenai Tanjiro yang pernah dilatih oleh Sabito dan Makomo.
Mengingat Sabito dan Makomo yang melatihnya itu sebetulnya hanyalah arwah, Tanjiro bertanya pada kakaknya.
"Nee-chan. Kalau begitu Nee-chan sejak awal sudah tahu kalau Sabito dan Makomo itu hanyalah arwah?"
Shirazumi menjawab pertanyaan adiknya itu dengan anggukan sambil tersenyum.
Shirazumi duduk agak jauh dari Tanjiro, karena lukanya yang sedang tak ditutup perban mengeluarkan bau darah yang membuat Shirazumi agak pusing. Disebelahnya ada Nezuko yang sedang tiduran dengan cara yang tak sopan.
"Awalnya aku hanya bisa mendengar suara Makomo, tapi kemudian aku bisa melihat mereka berdua walaupn hanya siluet. Saat kau sedang mengikuti seleksi akhir, Aku bisa melihat banyak anak-anak selain Sabito dan Makomo. Sabito menitipkan salam dan rasa terima kasih padamu dan Urokodaki-san. Aku sudah menyampaikan yang Urokodaki-san, tinggal padamu". Shirazumi menjelaskan.
Mendengar ucapan Shirazumi, Tanjiro kembali meneteskan air mata. Shirazumi yang terkejut karena merasa kata-katanyalah yang membuat adiknya itu menangis berusaha meminta maaf.
Tapi Tanjiro tak meminta permintaan maaf dari Shirazumi. Bukan karena itu dia menangis. Karena semua kenyataan dan apa yang telah dilaluinya, entah kenapa Tanjiro ingin menangis.
Hari-hari yang dilalui bersama,
Akan terasa singkat.
Hari-hari yang dilalui sendirian,
Akan terasa sangat lama.
TBC
Ada kritik & saran?
Aku tunggu ^_^
