Thousand of Tears

Chapter 27 Kibutsuji Muzan


Padahal tugas pertama Tanjiro baru saja selesai, tapi tiba-tiba kasugaikarasu miliknya datang dan memberitahu tugasnya yang berikutnya.

Cahaya matahari belum terlalu terang karena masih pagi. Nezuko sudah aman karena berada di dalam kotak yang dibawa Tanjiro, Shirazumi juga sudah menggunakan topi kain miliknya untuk menghindari cahaya matahari.

Berita tugas baru yang dibawakan kasugaikarasu itu sungguh terlalu cepat. Karena baru saja menjadi anggota pemburu oni, Tanjiro tak tahu frekuensi datangnya perintah tugas. Tapi tetap saja ini terlalu cepat.

Kasugaikarasu itu marah dan mematuk Tanjiro berkali-kali karena Tanjiro mengeluh akan tugas barunya. Shirazumi tak tahu harus berekspresi apa melihat adiknya dipatuki burung gagak miliknya sendiri.

Tugas berikutnya ada di Asakusa. Ada rumor bahwa ada oni yang bersembunyi di sana. Dari kota tempat Tanjiro melakukan tugas pertamanya, Asakusa berjarak kurang lebih 2 hari berjalan kaki.

.

.

.

Setelah dua hari, akhirnya mereka sampai di Asakusa. Saat itu malam hari dan Nezuko berada di luar kotaknya. Terlihat kalau Nezuko masih sangat mengantuk. Karena itu, Tanjiro menggandeng tangannya sambil berjalan. Sedangkan Shirazumi memegang topi kain yang kini tak dikenakannya dan berjalan di samping Tanjiro.

Suasana di Asakusa sungguh sangat berbeda dengan yang biasa dilihat Kamado bersaudara.

Padahal masih malam hari, tapi dimana-mana terlihat terang. Bangunannya pun tinggi-tinggi.

Banyak sekali kios yang melayani orang yang banyak pula.

Semua itu membuat Tanjiro dan Shirazumi pusing karena tak terbiasa dengan teknologi.

Mereka menghindar berusaha mencari tempat yang lebih sepi dan tenang. Hingga akhirnya mereka menemukan kedai udon di sebuah jalan yang jauh dari keramaian tadi.

Tanjiro memesan semangkuk udon. Selagi menunggu pesanan Tanjiro selesai, pemilik kedai itu menyapkan tiga gelas teh. Walaupun diberikan tiga gelas, hanya Tanjiro yang meminum teh itu.

Saat sedang meneguk teh hangat itu, tiba-tiba Tanjiro berdiri. Gelas yang dipegangnya itu terlepas dari tangannya. Untungnya SHirazumi berhasil menangkap gelas yang dilepaskannya itu sebelum sempat menyentuh tanah.

Tanjiro langsung berdiri. Nafasnya terlihat memburu. wajahnya sedikit memucat.

Shirazumi yang melihat kelakuan aneh adiknya itu menanyakan pada Tanjiro apa yang terjadi. Tapi sebelum Shirazumi sempat mendengar jawabannya, Tanjiro segera berlari pergi meningkalkan Shirazumi dan Nezuko yang sedang tidur sambil duduk.

Shirazumi ingin mengejar Tanjiro. Tapi dia tak mungkin meninggalkan Nezuko sendirian. Dengan cepat, Shirazumi menghampiri pemilik kedai itu dan berpesan untuk menitipkan Nezuko padanya sebentar. Dia berjanji akan segera kembali.

Pemilik kedai udon yang terlihat ramah itu menyanggupinya. Lagipula udon pesanan Tanjiro juga belum selesai dibuat.

Setelah itu, Shirazumi segera berlari dan mengejar Tanjiro.

.

.

.

Tanjiro berlari sambil menghindari kerumunan orang-orang. Di belakangnay, Shirazumi mengikutinya. Tanjiro mencari sumber bau yang tidak asing. Bau dari orang yang telah membunuh keluarganya. Tanjiro tak mengira akan menemukannya secepat ini. Kibutsuji Muzan berada tak jauh dari tempatnya berada.

Setelah melewati kerumuan orang-orang, Tanjiro memegang pundak seorang pria. Pria itulah sumber dari bau yang diikuti Tanjiro. Melihat adiknya berhenti berlari, Shirazumi juga berhenti berlari dan menatap ke arah pemilik bahu yang dipegang Tanjiro.

Saat pria itu menengok ke arah Tanjiro dan Shirazumi, Tanjiro merasakan amarah yang kuat. Tidak salah lagi, pria itu adalah pelaku yang membunuh keluarganya.

Jika wajah Tanjiro dipenuhi amarah, lain lagi dengan Shirazumi. Wajahnya menjadi sangat pucat setelah melihat wajah yang sama dengan wajah pelaku pembunuhan keluarganya itu. Rasa takut, amarah, dan ingatan mengerikan malam itu membuat wajah Shirazumi menjadi sangat pucat. Shirazumi sampai tak bisa menggerakkan tubuhnya sama sekali.

Tanjiro berniat mengeluarkan Nichirin miliknya, tapi gerakannya terhenti saat melihat anak perempuan yang sedang digendong oleh Muzan.

Wajah Tanjiro semakin memucat saat menyadari kalau anak perempuan yang digendong Muzan itu adalah anak manusia. Tak hanya anak itu, tak lama kemudian seorang wanita datang menghampiri keduanya. Wanita itu juga manusia. Kibutsuji Muzan hidup disana dengan menyamar sebagai manusia. Tinggal bersama keluarga manusia.

Nampaknya, baik anak perempuan maupun wanita itu tak mengetahui jati diri Muzan yang sesungguhnya. Mereka bertiga bertingkah layaknya keluarga biasa.

Padahal Shirazumi yakin saat Muzan menatapnya, dia tahu siapa Shirazumi. Tapi saat wanita itu datang menanyakan apa yang terjadi pada Muzan, Muzan mengaku kalau dirinya tak mengenal Tanjiro maupun Shirazumi.

Saat perhatian anak perempuan dan wanita itu tertuju pada tanjiro dan Shirazumi, Muzan menggunakan kesempatan itu untuk menyerang seorang pria dengan kukunya dan memberikan darahnya pada pria itu.

Pria yang diberikan darah Muzan itu sempat kesakitan sebentar, tapi kemudian dia menggila. Darah muzan yang diberikan padanya itu mengubahnya menjadi oni secara instant.

Pria yang telah diubah menjadi oni itu langsung menyerang seorang wanita yang nampaknya adalah istrinya. Pria itu menggigit bahu istrinya itu hingga terjadi keributan

Dengan memanfaatkan keributan itu, Muzan beserta anak perempuan yang digendongnya dan juga wanita yang bereperan sebagai istrinya itu segera menjauh dari keributan.

Tanjiro mendorong pria yang menyerang istrinya itu dan melepaskan syal yang sejak tadi digunakannya untuk menutupi rambut dan lehernya. Dia menggunakan syal itu untuk membungkap mulut oni itu agar tidak menyerang lagi.

Pria itu baru saja menjadi oni. Dia belum membunuh siapapun dan Tanjiro ingin agar dia tetap seperti itu.

Shirazumi membantu sang istri dengan menekan lukanya menggunakan sehelai kain agar pendarahannya berhenti. Shirazumi melakukannya sambil menahan air liurnya. Dirinya memang tertarik dengan bau darah, tapi Shirazumi tak pernah memiliki sedikitpun pikiran untuk mencicipinya.

Sambil terus menahan pria yang mengamuk itu, Tanjiro melihat Muzan yang sudah semakin menjauh. Tanjiro mengeluarkan amarahnya dengan berkata keras. Dia berkata tak akan memaafkan Muzan apapun yang terjadi. Sampai kapanpun tanjiro berniat untuk terus mengejarnya.

Sebelum pergi, Muzan sekali lagi melihat dua bersaudara Kamado itu.

Muzan memang masih mengingat gadis yang menjadi oni tak sempurna itu. Tapi dirinya belum pernah melihat Tanjiro. Sampai saat pandangan Muzan menuju ada anting hanafuda yang digunakan Tanjiro. Tadi Muzan tak menyadari anting itu karena tertutup syal yang digunakan Tanjiro.

Ingatan buruk akan dirinya yang hampir terbunuh kembali diingatnya. Satu kali saat Kibutsuji Muzan hampir saja kehilangan nyawanya. Itu sudah ratusan tahun lalu, tapi masih saja menjadi ingatan pengalaman paling buruk dalam 1000 tahun hidupnya.

Tanjiro dan Shirazumi tak bisa melakukan apapun saat Muzan semakin menjauh hingga tak terlihat lagi.


Dunia itu luas.

Namun di waktu yang bersamaan,

Dunia juga sempit.


TBC

Ada kritik & saran?

Aku tunggu ^_^