Thousand of Tears
Chapter 35 Agatsuma Zenitsu
Tiga bersaudara itu menatap bingung anak laki-laki yang sedang memohon agar gadis yang di hadapannya itu mau menikah dengannya dengan alasan dia tak tahu kapan akan mati.
Tanjiro merasa pernah melihat orang itu sebelumnya. Wajah dan ucapannya itu tak asing baginya.
Tiba-tiba seekor burung pipit datang menghampiri Tanjiro sambil berkicau. Entah bagaimana sepertinya Tanjiro mengerti apa yang ingin diucapkan oleh burung pipit itu. Shirazumi menatap Tanjiro dengan tatapan tak mengerti. Burung gagak bisa bicara sudah cukup mengejutkan. Kini Tanjiro malah bisa berkomunikasi dengan burung pipit yang hanya mengeluarkan suara kicau burungnya.
Tanjiro menghampiri laki-laki yang memiliki rambut berwarna mencolok itu dan menariknya menjauh dari gadis itu.
"APA YANG KAU LAKUKAN DI TENGAH JALAN?! APA KAU TAK LIHAT DIA MERASA TERGANGGU OLEHMU?! KAU JUGA MENGGANGGU BURUNG PIPIT INI!"
Ucap Tanjiro dengan suara kencang seakan sedang kesal. Shirazumi membantu gadis yang agak ketakutan karena tiba-tiba saja diajak (dipaksa) menikah itu menjauh dari si pelamar yang masih saja menangis.
Laki-laki itu mengenali seragam pemburu oni yang dikenakan oleh Tanjiro. Kalau dilihat baik-baik, laki-laki itu juga menggunakan seragam yang sama di balik haori yang memiliki warna senada dengan rambut miliknya.
Tanjiro bersikeras mengaku kalau dia tak mengaku mengenal laki-laki itu. Dia bahkan mengatakannya dua kali. tanjiro sepertinya benar-benar kesal. Jarang sekali ada yang bisa membuat Tanjiro kesal, apalagi marah.
Selagi anak laki-laki itu berusaha membuat Tanjiro ingat kalau mereka pernah bertemu, Tanjiro meyakinkan gadis yang tadi dipaksa menikah itu kalau keadaan sudah aman. Dia sudah bisa pergi dari tempat itu. Gadis itu pun berterima kasih pada Tanjiro dan Shirazumi.
"Hey! Dia harus menikahiku karena dia menyukaiku!" Laki-laki itu berkata mencoba menghentikan gadis itu dari menjauhinya.
Nampaknya amarah sudah memuncak pada gadis itu. Dia menampar pipi si rambut kuning itu dengan sangat keras. Bukan hanya sekali. Dia menamparnya berkali-kali hingga pipi laki-laki itu terlihat mulai membengkak.
Dengan segera, Tanjiro memisahkan mereka berdua dengan menarik sang gadis dan menahannya agar tak mengamuk lebih jauh.
Gadis itu mengungkapkan kalau dia baru saja bertemu dengan laki-laki itu. Dia khawatir karena melihatnya sedang terduduk di pinggir jalan. Karena itu dia menghampirinya dan bicara padanya.
Tapi itu malah disalah artikan oleh laki-laki itu sebagai pernyataan suka. Hingga akhirnya terjadilah keributan ini. Bahkan si gadis mengaku kalau dia sudah punya tunangan.
Laki-laki itu menyalahkan Tanjiro dan Shirazumi karena merasa kalau mereka berdua telah menggagalkan pernikahannya. Dia membentak-bentak sambil terus menangis.
Shirazumi memijat pelipisnya karena tak percaya telah bertemu dengan orang semenyedihkan itu.
Berbeda dengan Shirazumi. Tanjiro yang tak bisa menutupi raut wajahnya itu jelas-jelas memperlihatkan ekspresi yang jujur.
Laki-laki itu masih saja terus menyalahkan dua bersaudara di hadapannya. Kali ini semakin menjadi-jadi. Karena tahu Shirazumi adalah perempuan, Kali ini dia menyuruh Shirazumi membuka topinya dan menggantikan gadis tadi untuk menikahinya.
Tidak hanya itu. Dia juga meminta Tanjiro bertanggung kawab untuk melindunginya sampai dia menikah nanti. Sepertinya dia berniat pensiun dari pekerjaannya memburu oni setelah menikah.
Kali ini kedua bersaudara itu memasang raut wajah yang sama. Menatap laki-laki dihadapan mereka itu sebagai makhluk yang sangat menyedihkan.
Merasa cukup canggung karena tidak mengenal nama satu sama lain, Tanjiro memperkenalkan dirinya. Setelah itu, Shirazumi juga memperkenalkan dirinya dan menegaskan kalau dirinya tak mau menikah dengan laki-laki super cengeng yang ada di depannya itu.
Setelah menangis semakin kencang dan seakan meratapi nasib, laki-laki itu akhirnya memperkenalkan diri sebagai Agatsuma Zenitsu.
Setelah mendengar namanya, Shirazumi merasa kalau laki-laki bernama Agatsuma Zenitsu itu dikutuk oleh namanya sendiri (Agatsuma = Istriku).
Ternyata rengekan Zenitsu belum selesai. Dia menarik-narik haori Tanjiro dan memohon untuk dilindungi.
"Apa kau tak mlu meminta bantuan pada orang yang baru saja kau temui?!" Tanya Tanjiro sambil menjauhkan Zenitsu dari tubuhnya agar anak itu tak menarik haorinya hingga sobek.
Zenitsu akhirnya menvceritakan kisah singkat dirinya. Dia pernah ditipu oleh seorang perempuan hingga memiliki hutang yang banyak. Orang yang membayarkan hutang-hutangnya itu adalah orang yang merawatnya dan melatihnta sebagai pemburu oni.
Sambil melakukan posisi aneh, Zenitsu masih terus menceritakan kisahnya secara singkat. Dimulai dari latihan keras yang harus dilaluinya setiap hari, merasa hampir mati saat seleksi terkahir, beruntung bisa lolos seleksi akhir, dan kini harus menjalani gaya hidup pemburu oni.
Dia berteriak histeris karena tak mau menerima keadaan dan juga gaya hidup yang harus dilaluinya sekarang.
Shirazumi yang sudah muak dengan ocehan dan tangisan Zenitsu kini berjongkok di depan burung gagak milik Tanjiro dan burung pipit milik Zenitsu yang seakan sedang berbincang. Dia berpikir lebih baik ikut berbincang dengan kedua burung itu dibandingkan harus sakit telinga mendengar anak cengeng itu.
Tanjiro berusaha menenangkan Zenitsu yang histeris dengan menepuk-nepuk punggungnya. Setelah beberapa lama, akhirnya dia berhenti histeris.
.
.
.
Kini mereka bertiga berjalan bersama. Rupanya tempat tujuan Zenitsu untuk bertugas sama dengan Tanjiro.
Walaupn Zenitsu sudah berhenti menangis, dirinya masih terisak-isak. Karena itu Tanjiro menawarkan bekal onigiri miliknya pada Zenitsu yang dengan senang hati diterimanya. Setelah menerima onigiri itu, Zenitsu berterima kasih pada Tanjiro.
"Aku mengerti dengan kesulitan yang telah kau lewati, tapi kumohon jangan mengganggu burung pipit milikmu itu". Ucap Tanjiro sambil berjalan.
Zenitsu merasa bingung. Bagaimana bisa Tanjiro tahu kalau burung pipitny amerasa terganggu?
"Zenitsu selalu saja begitu. Dia malas bekerja. Selalu mengejar perempuan yang dilihatnya. Kalau tidur dengkurannya keras. Selalu saja membuat masalah disana-sini. Itu yang dikatakannya". Tanjiro berkata lalu menunjuk pada burung pipit milik Zenitsu. Menandakan kalau semua ucapannya tadi adalah perkataan dari burung pipit itu.
"Eeeh!... Kau bisa mengerti ucapan burung!?" Zenitsu berkata dengan suara keras dan nada tak percaya. Tapi Tanjiro mengangguk mengiyakan kalau itu adalah kebenaran.
Kali ini Zenitsu menghadap Shirazumi dan memegang kedua tangannya yang tertutup kain sambil berkata.
"Bohong! Dia bohongkan?! Hanya bercanda kan?! Dia pasti..."
Zenitsu tak bisa melanjutkan perkataannya karena Tanjiro memukul kepalanya. Genggaman Zenitsu pada tangan Shirazumi pun terlepas. Dia jatuh menyamping sambil memegangi kepalanya.
Belum sempat Zenitsu bangkit, burung gagak milik Tanjiro berkata.
"Kaaw! Tanjiro! Zenitsu! Berlarilah! Kalian akan sampai di lokasi selanjutnya!"
Zenitsu yang terkejut mendengar gagak itu bicara, kini seperti menjatuhkan dirinya sendiri karena Shock. Tanjiro dan Shirazumi tak bisa menyalahkannya untuk yang satu ini.
.
.
.
Setelah terus berjalan, akhirnya mereka sampai di tempat yang ditunjukkan oleh burung gagak.
Sebuah rumah yang kelihatannya sudah ditinggalkan tapi masih dalam kondisi yang masih bisa dibilang bagus.
Sayangilah hewan peliharaanmu.
walaupun itu hanya seekor burung pipit kecil.
TBC
Ada kritik & saran?
Aku tunggu ^_^
