Thousand of Tears
Chapter 40 Tsuzumi
Tanjiro menghadapi oni yang memiliki beberapa Tsuzumi di tubuhnya. Sudah jelas bahwa tsuzumi yang dipegang Kyoichi adalah tsuzumi yang berasal dari tubuh oni itu.
Tanjiro terus mengamati irama pukulan tsuzumi yang dilakukan oleh oni itu. Rupanya setiap tsuzumi memiliki efek yang berbeda saat dipukul.
Tsuzumi yang ada di bahu kirinya menggerakkan benda berputar ke kanan. Tsuzumi di bahu kiri meggerakkan benda memutar ke kiri. Tsuzumi kaki kanan menggerakkan benda ke depan. Tsuzumi di kaki kiri menggerakkan benda ke belakang. Tsuzumi di perutnya mengeluarkan serangan cakaran. Tsuzumi yang terlepas dari tubuhnya dan kini ada di tangan Kiyoshi merubah ruangan.
tanjiro berusaha mengimbangi serangan-serangan dentuman itu. Tapi karena irama dentuman itu, dia berputar teralu cepat. Walaupun masih bisa menghindari serangan cakaran, dia tak bisa menyerang balik.
Luka-luka yang dialaminya saat melawan oni di kediaman Tamayo belumlah pulih. Walaupun Tamayo sudah mengobatinya, tentu saja luka-luka itu tak akan segera sembuh. Apalagi tulang rusuknya ada yang retak dan patah.
Selama ini dia menahannya agar tak membuat kakaknya khawatir. Tapi serangan bertubi-tubi dari dentuman tsuzumi itu memperparah rasa sakitnya.
Karena rasa-sakit yang semakin terasa, Tanjiro mulai berpikir negatif. Untuk berusaha menghilangkan pikiran buruk itu, Tanjiro berusaha mengingat-ingat ajaran Sakonji.
Saat mengingat-ingat ajaran gurunya itu, Tanjiro juga mengingat ocehan dan tangisan Zenitsu. Tak hanya Zenitsu, bayangan kakaknya yang menangis kalau dirinya kalah disini juga muncul. Dengan mengumpulkan tekadnya, dia berteriak menyemangati dirinya sendiri dan memasang kuda-kudanya kembali.
Tapi hanya dengan menaikkan semangat saja tak cukup untuk mengimbangi oni itu. Tanjiro harus menggunakan otaknya. tapi itupun tak ada cukup waktu.
Oni itu semakin cepat memukul tsuzumi yang ada di tubuhnya. Serangan cakaran itu pun muncul dari tempat yang semakin bervariasi. Salah satu cakaran itu behasil mengenai dagu Tanjiro.
Tiba-tiba, beberapa lembar kertas jatuh dari sebuah lemari. Lemari itu memiliki bekas cakaran, tapi tak satupun kertas itu yang rusak. Seakan oni itu sengaja tak merusak kertas-kertas itu.
Tanpa berpikir panjang, tanjiro mendarat tanpa menginjak kertas itu. Setelah berpikir sejenak, akhirnya dia mengerti dan berhasil membaca pola serangan itu.
Dengan menggunakan pernafasan air teknik ke-9 yang cocok untuk digunakan di ruangan yang berputar itu, Tanjiro menyerang dan berusaha memenggal kepala oni itu.
Saat garis interval itu akhirnya muncul, tanjiro berkata pada oni itu sebelum memenggalnya.
"Teknik darah oni milikmu, sungguh kuat".
Saat oni itu mendengar kalimat itu, dia berhenti sejenak. Karena itulah, Tanjiro dapat memenggal kepalanya tanpa hambatan.
Tapi, saat Tanjiro mendarat setelah memenggal kepala oni itu, Tanjiro merasakan rasa sakit yang amat sangat karena tak sengaja bernafas terlalu dalam.
Menggunakan mantra yang biasa dia lakukan pada dirinya sendiri seperti sebuah jimat, dia mengulang ucapan itu beberapa kali.
"Aku anak laki-laki tertua. Aku anak laki-laki tertua".
Saat Tanjiro sedang berusaha menenangkan dirinya, Kepala oni yang telah terpenggal itu bertanya padanya.
"Bocah. Apakah aku... kuat? Kemampuan darah oni ku... apakah kuat?"
Ucap oni itu dengan suara lirih.
Tanjiro diam sesaat lalu menjawab pertanyaan itu.
"Kau kuat. Hanya saja... Kau membunuh manusia yang lemah dan itu tak termaafkan."
Dengan wajah yang seperti merasa lega dengan jawaban Tanjiro. Oni itu mulai hancur menjadi debu.
Sebelum tubuh oni itu hancur semuanya, Tanjiro mengeluarkan sebuah pisau kecil yang diberikan oleh Tamayo untuk mengumpulkan darah oni. Pisau itu dilemparnya pada tubuh oni itu yang belum hancur. Dengan segeram pisau yang memiliki rongga di bagian tengah dan gagangnya itu mengambil darah oni itu.
Setelah terisi, Tanjiro mengambil pisau itu dan mengagumi benda buatan Yushiro itu.
Tiba-tiba terdengar suara kucing. Kucing itu adalah kucing milik Tamayo yang akan mengantarkan darah itu pada Tamayo. Tanjiro memasukkan pisau berisi darah itu ke dalam tas keil yang dibawa oleh kucing itu. Setelah itu, kucing itu menghilang kembali.
tanjiro tak menyadari, oni yang baru dikalahkannya itu menangis. Dalam hati, oni itu berterima kasih pada Tanjiro karena tak mengejek karya buatannya. tak menganggap karya miliknya itu hanyalah sampah. Dengan perasaan yang tenang oni itu akhirnya hancur menjadi debu seutuhnya.
.
.
.
Sambil berjalan, Zenitsu terus memegang tangan Shoichi dengan sangat erat. Sebetulnya tadi dia juga berusaha meraih tangan Shirazumi, tapi saat Zenitsu berhasil menggenggam tanagn gadis itu, Pegangannya langsung sangat erat sehingga Shirazumi menghempaskannya.
Karena itulah, Shirazumi berjalan di depan sambil menggerutu kesal dan Zenitsu bersama Shoichi berjalan dibelakangnya sambil berpegangan tangan. Shoichi juga bingung harus berkata apa pada laki-laki yang lebih tua darinya tapi lebih penakut nan cengeng.
Tiba-tiba semua ruangan berputar dengan cepat. Mereka bertiga berusaha berpegangan pada sesuatu agar tidak terhempas. Tapi akhirnya mereka terhempas keluar. Parahnya, itu adalah lantai 2.
Saat mereka bertiga terhempas keluar, Shirazumi yang sedang tidak menggunakan topi kainnya itu langsung merasa kesakitan karena tubuhnya terkena sinar matahari.
Tapi saat melihat Shoichi terjun bebas, tanpa pikir panjang dan melupakan rasa sakit dari tubuhnya yang mengeluarkan asap, dia meraih Shoichi dan memeluknya agar tak terluka. Zenitsu kembali ke mode 'pingsan' dan dengan cepat mengambil topi kain Shirazumi yang ikut melayang dan menutupi Shirazumi yang sedang memeluk Shoichi dengan sebisanya dengan topi itu.
Hanya saja, mode 'pingsan' Zenitsu tiba-tiba hilang dan dia hanya 'tidur' biasa. Karena itu dia jatuh tanpa tahanan apapun. Untungnya sudah tak terlalu jauh dari tanah.
Dengan hati-hati, Shirazumi mendarat di tanah. Nezuko yang berada di dalam kotaknya juga aman. Begitu Shirazumi mendarat di tanah, dia melepaskan Shoichi dan segera memasang topi kain miliknya itu. Semua luka bakarnya sudah mulai menghilang.
Shoichi segera menghampiri Zenitsu yang sedang tak sadarkan diri. DIa terus memanggil manggil namanya berusaha membangunkan Zenitsu.
Shirazumi juga segera menghampiri Zenitsu, tapi tiba-tiba dia memiliki firasat tak enak.
Jangan pernah menghina karya orang lain.
Seburuk apapun karya buatan seseorang,
Jika dia membuatnya dengan sepenuh hati,
Maka itu adalah karya yang indah.
TBC
Ada kritik & saran?
Aku tunggu ^_^
