Thousand of Tears

Chapter 49 Melawan Rasa Takut


Rui membawa Shirazumi ke arah bagian gunung yang berbeda dengan tempat dimana Tanjiro dan yang lainnya berada. Muzan mengarahkan Rui agar menemuinya di tempat itu.

Begitu Rui tiba, Muzan belum hadir sehingga Rui harus menunggu. Tapi Rui tau, majikannya itu akan segera datang karena dia bisa merasakan keberadaan Muzan yang tak jauh dari tempat dirinya berada sekarang.

Benar saja. Tak lama kemudian, seorang pria muncul dari balik bayangan. Rui yang menyadari kehadiran Muzan segera membalikkan tubuhnya dan menatap ke arah pria yang menjadi majikannya itu.

"Saya membawakan manusia ini sesuai permintaan Anda". Ucap Rui sambil menurunkan Shirazumi dan menyerahkannya pada Muzan.

"Kerja bagus Rui. Setelah urusanku selesai, kupastikan gadis ini akan menjadi milikmu.". Ucap Muzan sambil tersenyum dingin. Setelah Muzan memegang Shirazumi dan memastikan kalau gadis itu tak terjatuh, Rui melepaskan semua benang yang mengikat Shirazumi. "Sekarang, lanjutkan lah tugasmu. Musnahkan semua pemburu itu!"

Tanpa mengatakan apapun lagi, Muzan menggendong Shirazumi dan pergi dari Gunung Natagumo. Rui kembali ke arah para pemburu oni berada. Sebetulnya Rui sudah menyerahkan tugas membasmi pemburu oni itu pada 'keluarganya'. Tapi Rui tetap harus memantau keadaan. Lagipula, dia sudah menyadari kalau 'ibunya' telah dikalahkan.

Walaupun ekspresi wajah Rui selalu tenang dan datar, tapi dalam hatinya dia merasa kesal. Dirinya tak ingin membuat Muzan kecewa. Apalagi Muzan sudah memberinya izin khusus untuk membentuk 'keluarga'. Dia tak ingin mengecewakan majikannya itu yang sudah memberinya tubuh yang kuat dan sehat.

.

.

.

Tanjiro terkejut dengan ucapan terakhir dari oni yang telah menjadi debu di hadapannya itu. 'Disini ada anggota 12 Kizuki'. Itulah yang dikatakan oni wanita itu sebelum menjadi debu sepenuhnya.

Tanjiro mengingat permintaan Tamayo untuk mengumpulkan darah oni terutama anggota 12 Kizuki. Oni yang menempati 12 Kizuki memiliki darah yang paling dekat dengan Kibutsuji Muzan. Dengan darah itu, obat untuk mengembalikan oni menjadi manusia dapat lebih cepat disempurnakan.

Sambil melihat kesana kemari, Tanjiro mencari kakaknya yang seharusnya ada di sana. Tapi dia tak dapat menemukannya. Yang ada hanyalah sisa dari bau kakaknya dan juga... bau dari makhluk yang telah merenggut nyawa keluarganya.

Tanjiro berusaha fokus untuk menemukan sumber dari bau itu. Saat Tanjiro berhasil menemukannya, dia segera berlari menuju sumber bau itu.

Saat berlari, dia hampir bertabrakan dengan Inosuke. Terlihat luka-luka yang ada di tubuh laki-laki bertopeng babi itu tak bisa dikatakan ringan. Fokus Tanjiro menjadi terbagi dua antara bau Muzan dan bau darah dari luka-luka Inosuke.

Tiba-tiba bau dari Muzan dan kakaknya semakin menipis dan hilang. Tanjiro sudah tak bisa melacak mereka berdua. Inosuke yang masih berlagak sok keren nan kuat tak mengerti dengan raut wajah sedih bercampur kesal yang terlihat dari wajah Tanjiro.

"Oi! Gonpachiro! Ada pa denganmu?" Ucap Inosuke yang sama sekali tak mempedulikan luka-luka di tubuhnya yang masih mengeluarkan darah.

Kali ini Tanjiro tak membenarkan namanya sang masih saja salah disebutkan oleh Inosuke. Dirinya sedang menrenungkan kegagalannya karena membiarkan rekannya terbunuh, Inosuke yang terluka parah, dan juga kehilangan kesempatan menyelamatkan kakaknya. Tak lupa juga dengan kehadiran Muzan yang terlambat disadarinya.

Bau Muzan dan Shirazumi berasal dari tempat yang sama. Tanjiro sangat khawatir akan hal itu.

Dari apa yang dia temukan selama ini, Hubungan antar oni itu tak bisa dia mengerti. Oni wanita yang baru saja dikalahkannya itu memancarkan bau yang penuh akan rasa takut dan penderitaan sampai-sampai keinginan untuk mati terlintas di pikirannya. Selain lebih memilih untuk mati, Oni itu juga membocorkan mengenai keberadaan 12 Kizuki di gunung Natagumo itu.

Selama ini Tanjiro berpikir kalau Oni itu tak saling peduli pada sesama oni. Tapi di tempat ini dia melihat Oni yang tinggal berkelompok seperti keluarga.

Tanjiro menahan rasa kecewa dalam dirinya karena telah membiarkan kakaknya dibawa pergi. Sungguh, kalau bisa dia ingin segera pergi dan menyelamatkan Shirazumi. Tapi Inosuke yang ada didepannya sekarang ini sedang terluka parah. Dia tak mungkin meninggalkannya sendirian.

.

.

.

Zenitsu berteria histeris melihat laba-laba yang sangat besar dan berkepala manusia yang mucul dari dalam rumah kayu yang menggantung itu.

Sambil berteriak, Zenitsu mengambil ancang-ancang untuk segera berlari dan pergi dari tempat yang mengerikan itu. Tapi gerakannya terhenti oleh ucapan oni laba-laba itu. Oni itu menyuruh Zenitsu untuk melihat tangannya.

Saat Zenitsu melihat kedua tangannya, terlihat sebelah tangannya yang tadi tergigit laba-laba mulai berubah warna dan membengkak. Gigitan laba-laba itu memberikan racun yang dapat membuatnya menjadi laba-laba berkepala manusia seperti yang dilihatnya tadi.

Menurut ucapan Oni itu, Zenitsu hanya memiliki waktu sekitatr setengah jam untuk berubah menjadi laba-laba berkepala manusia.

Oni itu mengeluarkan sebuah jam dan memberitahu Zenitsu tahap-tahap yang akan dialaminya dalam perubahannya menjadi laba-laba dalam waktu setengah jam. Tentu saja Zenitsu menjadi panik. Apalagi saat melihat beberapa laba-laba berkepala manusia yang ada di dekat kakinya, dia menjadi histeris dan berlari.

Berusaha menghindari beberapa laba-laba berkepala manusia yang sejak tadi melihatnya dari bawah tanah, Zenitsu memanjat pohon dengan kecepatan yang hebat. Sambil berjongkok di salah satu dahan pohon yang lebar dan kuat, Zenitsu memeluk batang pohon itu sambil merengek dan menangis.

Zenitsu memang sangat penakut. Banyak sekali yang sangat ditakuti olehnya. Tapi di antara semua yang dibenci dan ditakuti olehnya, Zenitsu paling membeci dirinya sendiri yang pengecut dan penakut.

Entah kenapa, keadaannya yang sekarang membuat Zenitsu mengingat masa lalu saat masih berlatih dengan gurunya. Saat rambutnya masih berwarna hitam. Dan juga rasa bersyukurnya yang amat sangat karena masih bisa hidup setelah tersambar petir yang membuat warna rambutnya berubah.

Setiap kali dirinya ingin melakukan hal yang benar, rasa takut selalu menghantui dirinya. Dia selalu lari, dan lari. Semua nasihat gurunya selalu diingatnya. Tapi sikap pengecutnya sulit untuk dihilangkan. Karena itu dia membenci dirinya sendiri, lebih dari apapun.

Meratapi nasibnya yang sebentar lagi akan berubah menjadi makhluk yang mengerikan, Zenitsu mulai meracau tak jelas.

Beberapa dari laba-laba berkepala manusia itu mulai memanjat ke atas pohon tempat Zenitsu berada. Itu membuat Zenitsu kembali histeris dan tak sengaja menarik rambutnya sendiri.

Seharusnya hanya dengan tarikan seperti itu rambutnya tak akan tercabut dengan mudah. Tapi di genggaman tangan Zenitsu kini terdapat segenggam rambut. Dalam keadaan shock, Zenitsu melihat rambut di tangannya lalu melihat laba-laba berkepala manusia yang semuanya hampir botak total.

Bagaikan menguapkan semua semangat hidup yang tersisa, Zenitsu kehilangan kesadarannya. Tubuhnya menggantung di dahan pohon dan tak bergerak. Perlahan tubuhnya merosot dan mulai jatuh dengan posisi kepala di bawah.

Oni laba-laba yang sejak tadi memperhatikan Zenitsu berpikir kalau Zenitsu akan mati karena posisi jatuhnya yang kepala duluan. Tapi ternyata, Zenitsu tak akan mati semudah itu.


Tak ada yang berani untuk melawan segalanya,

Tak ada pula yang merasa takut akan segalanya.


TBC

Ada kritik & saran?

Aku tunggu ^_^