Thousand of Tears

Chapter 51 Katana yang Patah


Tanjiro mencoba untuk menutup luka Inosuke dengan menggunakan sehelai kain, tapi Inosuke terus menolak dan mengatakan kalau lukanya itu hanya luka kecil. Dia memang paling tak suka dikasihani dan terus menganggap kalau dirinya paling kuat jadi tak perlu diobati.

Tiba-tiba Tanjiro seperti mendengar suara petir menyambar. Padahal langit sama sekali ta mendung dan tak ada tanda-tanda petir pernah menyambar. Lagipula Tanjiro sendiri tak mencium bau petir. Walaupun begitu, dia merasa ada sesuatu yang mengganjal pikirannya. Inosuke sama sekali tak peduli dengan itu.

Tanjiro berkata kalau dirinya akan pergi ke arah yang lain, Inosuke kembali tak peduli.

Tapi begitu Tanjiro menyarankan padanya agar turun gunung, Inosuke malah semakin emosi dan mengatakan kalau dirinya tak terluka. Padahal sudah jelas tubuhnya dipenuhi luka yang mengeluarkan darah. Kalau tak diobati, lukanya bisa bertambah parah.

Tiba-tiba dari sisi lain sungai tempat mereka berdua berdiri, terlihat oni berwujud seorang gadis. Mereka bertiga terlihat sama-sama terkejut. Karena sedang memikirkan hal lain, Tanjiro tak sempat menyadari keberadaan oni itu.

Inosuke langsung bersemangat untuk memenggal kepala oni perempuan itu. Sambil berlari masuk kembali ke dalam hutan, oni perempuan itu memanggil 'Ayahnya'. Saat itu juga, Dari arah atas muncul Oni berwujud laki-laki dewasa bertubuh besar di hadapan Tanjiro dan Inosuke.

Selain terkejut karena kehadiran oni itu secara tiba-tiba tepat di hadapan mereka, Oni itu juga memiliki wujud yang aneh. Kepalanya memiliki wujud kepala laba-laba dengan rambut berwarna putih yang agak panjang.

Dengan kepalan tangannya, oni berkepala laba-laba itu meninju sungai yang ada dibawahnya sambil mengusir Inosuke dan Tanjiro agar menjauh dari keluarganya. Saking kuatnya kepalan tangan itu, tanah dan batu yang berada di bawah sungai samapi retak dan hancur. Air sungai pun sampai tersingkirkan.

Tanjiro dan Inosuke melawan oni itu dengan menggunakan Nichirin mereka. Tapi sayangnya tubuh oni itu terlalu keras untuk bisa dipotong.

Tanjiro memikirkan cara lain dan memotong sebuah pohon hingga pohon yang tumbang itu menindih tubuh oni itu. Dia berniat mengunci pergerakan lawannya dengan memanfaatkan pohon yang dirobohkannya itu.

Begitu Oni itu tertindih batang pohon, Tanjiro berniat memenggalnya saat itu juga. Namun ternyata oni itu cukup kuat untuk mengangkat batang pohon yang menindihnya dan malah menggunakan batang pohon itu sebagai senjata dan memukul mundur Tanjiro hingga terbang.

Sambil melayang di udara, Tanjiro berpesan pada Inosuke agar bisa bertahan dan jangan mati. Setelah mengucapkan pesannya, Tanjiro terhempas entah kemana.

.

.

.

Sebelum jatuh mengenai tanah, Tanjiro menggunakan pernafasan air bentuk kedua, Mizu Guruma untuk meminimalisir dampak terjatuhnya. Alhasil Tanjiro mendarat dengan selamat.

Tapi belum lama Tanjiro berjalan, dia mendengar suara teriakan seorang perempuan. Begitu mendekati sumber suara itu, Tanjiro mendapati oni berwujud anak laki-laki yang pernah dilihatnya sebelumnya. Di depan oni itu, terlihat oni perempuan yang tadi tak sempat dikejarnya. oni perempuan itu sedang duduk sambil menunduk memegang wajahnya. Suara teriakan kesakitan yang tadi didengarnya pastilah milik oni perempuan itu.

Di tangan oni anak laki-laki itu terdapat helaian benang yang berlumuran darah. oni itu menyadari keberadaan Tanjiro dan merasa tak suka kalau apa yang sedang dilakukannya itu dilihat oleh Tanjiro.

Tanjiro marah melihat oni yang menyakiti sekutunya sendiri. Tapi oni yang dimarahinya itu malah berkata dengan tenang kalau itu adalah urusannya dengan kakak perempuannya itu. Itu adalah urusan keluarganya.

Tapi Tanjiro bersikeras kalau mereka bukanlah keluarga. Bau ketakutan dan kebencian terpancar dari oni perempuan yang terluka itu. Padahal seharusnya keluarga memiliki bau kepercayaan. Tanjiro menyimpulkan kalau mereka hanyalah keluarga palsu.

Tiba-tiba seorang pemburu oni muncul disaat yang tak tepat. Kemarahan Rui yang muncul karena mendengar ucapan Tanjiro membuatnya memotong-motong tubuh pemburu yang datang itu menjadi potongan-potongan kecil.

Tekanan udara berubah karena aura kemarahan Rui membuat Tanjiro dan oni perempuan itu bergidik ngeri.

Rui mulai kembali tenang dan menawarkan 2 hal pada Tanjiro. Jika Tanjiro mau menarik kembali kata-katanya tadi, dia akan membunuh Tanjiro dengan satu serangan. Tapi kalau tidak, dia akan memotong-motong Tanjiro hidup-hidup sebelum dipenggal.

Tentu saja Tanjiro tak akan menarik kembali kata-katanya. Dia bahkan menuntut agar Shirazumi dikembalikan padanya.

Rui mengaku kalau Shirazumi tak ada padanya. Muzan sudah memiliki kakak perempuan Tanjiro itu. Dan sebentar lagi SHirazumi akan kembali pada Rui dan menjadi kakak perempuan barunya.

Mendengar itu, Tanjiro pun kini emosi. Tanpa rasa takut sedikitpun, Tanjiro menerjang menyerang. Dengan mengandalkan penciumannya, dia bisa tahu letak benang-benang yang dipasang oleh Rui.

Tetapi, begitu Tanjiro berniat memotong salah satu benang itu dengan menggunakan katana yang digenggamnya, Katana hitam itu langsung patah.

Benang-benang yang dikendalikan oleh Rui, sangat berbeda dengan benang-benang yang digunakan oni laba-laba yang lain.

.

.

.

Shirazumi kini telentang di atas tatami sambi berusaha mengatur nafasnya. Rasa sakit masih terasa di sekujur tubuhnya, tapi rasa sakitnya sudah tidak semengerikan tadi.

"Hmm... Tak ada perubahan yang berarti. Diriku memuji tubuhmu yang mempunyai kekebalan yang unik atas darahku. Perubahanmu pun sangat lambat. Kuberi waktu istirahat hingga bisa bicara lagi. Setelah itu, kau harus menjawab pertanyaanku." Ucap Muzan sambil berjalan ke arah salah satu tembok yang ada.

Muzan menjentikkan jarinya dan tiba-tiba muncul sebuah fusuma di hadapannya yang awalnya hanyalah tembok polos. Futsuma itu terbuka dan Muzan berjalan memasuki futsuma itu.

Setelah Muzan melewatinya, fusuma itu kembali tertutup dan menghilang.

Kini di dalam ruangan tanpa pintu dan jendela itu hanya ada Shirazumi seorang. Diantara seluruh tubuhnya, baru jari-jarinya lah yang bisa dia gerakkan. Walaupun berusaha menggerakkan tangan dan kakinya, itu tak berhasil.

Kalaupun bisa, bagaimana caranya melarikan diri dari ruangan yang tak memiliki pintu maupun jendela seperti ini?

Lagipula, daripada mencemaskan dirinya sendiri, dia lebih mencemaskan adik-adiknya. Dalam hati, Shirazumi berharap Tanjiro dan yang lainnya baik-baik saja.


Kepercayaan antar rekan,

Adalah suatu hal yang patut dipertahankan.


TBC

Ada kritik & saran?

Aku tunggu ^_^