Thousand of Tears

Chapter 53 Api yang Tak Membakar


Pandangan Shirazumi makin lama makin buram. Tanpa sadar dirinya kin beranjak dari posisinya yang awalnya duduk meringkuk menjadi berdiri terhuyung-huyung. Dia berusaha menggapai sesuatu, tapi dia tak ingat apa yang ingin digapainya. Dia hanya tahu kalau dirinya sangat menginginkan hal itu.

Satu langkah diikuti langkah yang lainnya. Totalnya lima langkah. Tinggal dua langkah lagi, Shirazumi akan sampai pada apa yang sangat diinginkannya itu.

Tapi tiba-tiba, sebuah suara menghentikannya untuk melangkah lebih jauh lagi.

"Berhenti Shirazumi. Kau tak boleh melakukannya".

Shirazumi tak tahu dari mana suara itu berasal. Tapi suara itu membuatnya merasakan sebuah kerinduan. Suara laki-laki dewasa yang lembut dan ramah. Shirazumi merasa suara itu sangat tidak asing.

Dengan Langkahnya yang berhenti, Shirazumi menoleh ke kanan dan ke kiri, mencoba mencari sumber suara itu. Walaupun matanya belum menunjukkan kalau dirinya telah tersadar, tapi hati nuraninya mengatakan kalau dia harus mendengarkan suara itu.

"Shirazumi aku tahu kau bisa. Lupakanlah bau darah itu. Lakukanlah apa yang seharusnya kau lakukan".

Suara itu kembali terdengar. Kali ini, Shirazumi bisa melihat sosok pemilik suara itu sedang berdiri tepat di hadapannya.

Seorang pria dengan tubuh yang kurus dan kulit yang pucat. Di dahinya terdapat bekas luka. Raut wajahnya terlihat sangat lembut. Warna kulitnya yang pucat tak bisa menutupi aura kelembutan yang dipancarkan oleh pria itu.

Tiba-tiba Shirazumi meneteskan air mata.

"Ayah..."

Shirazumi bergumam hampir tak bersuara. Sosok pemilik suara lembut itu adalah ayahnya sendiri, Kamado Tanjuro yang sudah meninggal beberapa tahun lalu.

Entah bagaimana itu bisa terjadi, tapi Shirazumi tak mungkin salah mengenali ayahnya sendiri.

Tanjururo mengangkat tangan kanannya dan mengelus pipi Shirazumi. Terasa kehangatan yang sangat dirindukan olehnya dari tangan kurus tersebut. Sungguh, Shirazumi tak ingin elusan tangan itu terlepas dari pipinya.

Tetapi, begitu Shirazumi mengedipkan matanya, Sosok yang sangat dirindukannya itu menghilang dari hadapannya. Suaranya pun sudah tak terdengar lagi.

Shirazumi mengingat kembali kata-kata ayahnya itu. Entah kenapa, dia merasa harus melakukan sesuatu.

Hasrat haus darahnya sudah berkurang drastis. Dengan terus mempertahankan akal sehatnya, Shirazumi merasa harus mendekati jasad gadis di depannya itu.

Bukan untuk dimakan. Tapi dia merasa harus melakukan sesuatu.

Dengan pandangannya yang masih agak berkabut, Shirazumi mendekati jasad gadis itu dan menyentuh bahunya.

Tiba-tiba, dari tangannya yang menyentuh jasad itu, muncul api berwarna putih. Dengan cepat, api putih itu menutupi seluruh tubuh jasad gadis itu. Setelah itu, tak lama kemudian api itu berubah warna menjadi api biru, kemudian api itu lenyap.

Setelah api itu lenyap, jasad gadis itu tidak terlihat terbakar sama sekali. Malah, semua luka di tubuh gadis itu kini menghilang seakan tak pernah terluka. Semua darahnya pun menghilang. Yang tak berubah hanyalah pakaian gadis itu yang sudah rusak dimana-mana dan... Gadis itu tetap tak bernafas. Tetap menjadi jasad tak bernyawa.

Beberapa detik setelah api itu lenyap, Shirazumi roboh dan kembali tak sadarkan diri di samping jasad gadis yang seharusnya menjadi 'makanannya'.

.

.

.

Muzan terus menyaksikan apa yang sedang dilakukan Shirazumi. Dia merasa bingung dengan sikap Shirazumi yang seakan sedang mencari sesuatu. Juga saat gadis itu tiba-tiba menangis.

Tapi semua itu tak ada apa-apanya ketimbang rasa kagetnya saat melihat dari tangan Shirazumi muncul api putih yang membakar seluruh jasad yang diberikan olehnya sebagai 'makanan'. Juga saat api itu berubah warna menjadi biru.

Keanehan yang dilihatnya tak hanya sampai disana. Jasad gadis itu tak terbakar sama sekali dan malah menghilangkan semua luka yang ada. Walaupun nyawa gadis itu tak dapat kembali.

Muzan tersenyum kemudian tertawa. Di sela-sela tawanya, Muzan berbicara sendiri.

"Rupanya... masih ada yang dapat membuatku terkejut".

Setelah itu, Muzan berniat untuk kembali mengunjungi 'tahanannya' itu. Kini, dia semakin tertarik pada gadis oni yang tak sempurna itu.

.

.

.

Tanjiro masih terkejut karena katana miliknya patah. Hanya karena menyentuh sehelai benang, katana miliknya langsung patah. Dia langsung menyimpulkan kalau oni dihadapannya itu bukanlah oni biasa. Oni besar yang tadi dilawannya saja tubuhnya sudah sangat keras. Itu berarti benang-benang milik oni yang kini menjadi lawannya itu lebih keras lagi.

Tanjiro sudah sangat kewalahan menghindari benang-benang itu, padahal lawannya itu belum serius sama sekali.

Saat Tanjiro merasa kalau dirinya tak bisa menghindari serangan benang yang berikutnya, tiba-tiba Nezuko keluar dari kotaknya lalu berlari dan berdiri dihadapan kakaknya. Itu membuat benang-benang yang seharusnya mengenai tubuh Tanjiro kini malah melukai Nezuko.

Sambil terkejut, tanjiro langsung menggendong Nezuko yang terluka parah dan bersembunyi dibalik pohon.

Luka yang dialami Nezuko cukup parah. Pergelangan takannya tercabik dan hampir saja putus.

Penyembuhan Nezuko sangat lambat, karena itu luka-lukanya tak bisa langsung sembuh. Tanjiro memegangi pergelangan tangan nezuko yang tercabik parah, berharap agar lukanya segera menutup.

Wajah Nezuko terlihat menahan rasa sakit. Tapi tak ada suara yang keluar dari mulutnya yang tertutupi batang bambu.

Rui juga terkejut dengan apa yang baru saja dilihatnya. Sepasang saudara kandung. Seorang adik yang menjadi oni melindungi kakaknya yang seorang manusia.

Itulah ikatan yang sangat diinginkan oleh Rui. Apapun yang berhubungan dengan keluarga adalah topik sensitif baginya.

Begitu melihat apa yang dilakukan oleh Nezuko untuk Tanjiro, Rui sangat menginginkannya.

Dari atas pohon, oni perempuan yang merupakan kakak Rui mendekati rui dengan panik. Dia memohon pada Rui untuk tak mengabaikan dirinya sebagai kakaknya.

tetapi itu malah membuat Rui marah dan menyerang Kakaknya itu hingga tubuhnya terpotong-potong.

Rui marah pada kakaknya karena menganggap kakaknya itu tak bisa melakukan tugasnya dengan benar. Kakanya itu memohon untuk diberikan kesempatan dan Rui menerimanya. Rui menyuruh kakaknya itu untuk membunuh semua orang yang menlarikan diri dari gunung. Barulah Rui akan memaafkan kegagalan kakaknya.

Tubuh oni perempuan itu kemudian berdiri dan berlari sambil membawa kepalanya. Walaupun terpenggal, selama penyebab terpisahnya kepala dengan badannya itu bukanlah hasil dari tebasan Nichirin, oni masih akan tetap hidup. Bahkan walaupun tubuhnya dipotong-potong.

Kini, di tempat itu hanya ada Rui, Tanjiro dan Nezuko.

Nada bicara Rui kini berubah menjadi sedikit lebih lembut. Akan tetapi, gaya bicaranya sama sekali tak terdengar seperti seorang anak laki-laki. nada bicaranya lebih dewasa mengingat usia Rui yang sesungguhnya.

Rui memberikan penawaran pada Tanjiro. kalau Tanjiro mau menyerahkan Nezuko padanya, Rui akan membiarkan Tanjiro hidup.

Tentu saja Tanjiro tak menerima tawaran itu.

Dengan segenap hati tanjiro menolak Rui. Baginya, Nezuko sangatlah berharga. Adiknya itu bukanlah benda mati yang bisa dengan seenaknya diberikan.

Kemudian, Rui memberikan penawaran yang lain.

Rui menawarkan pada Tanjiro untuk menjadi oni. Dengan begitu dia bisa ikut bersama Nezuko menjadi keluarganya. Lagipula, Shirazumi juga akan menjadi kakaknya.

Mendengar ucapan Rui, Kemarahan Tanjiro semakin tinggi. Dia membela diri dengan mengatakan kalau keluarga yang diikat oleh rasa takut bukan lah keluarga. Dengan menggunakan metode itu, tak ada yang bisa didapatkan.

Setelah penawaran pertama dan kedua dari Rui ditolah oleh Tanjiro, Kini Rui bermaksud untuk membunuh Tanjiro kemudian merebut Nezuko. Sebetulnya dia juga tak menginginkan mantan pemburu oni untuk menjadi anggota keluarganya.

Tanjiro juga tak mau kalah. Dia mengancam akan memenggal kepala Rui terlebih dahulu sebelum Rui membunuhnya.

Namun, itu akan sangat sulit. Kesempatan tanjiro menang mendekati nol. Begitu Rui menyingkirkan rambut yang menutupi sebelah matanya, aura Rui berubah. Kini dapat terlihat jelas bahwa Rui lah salah satu anggota Juunikizuki yang berada di gunung Natagumo itu.


Terkadang,

Walaupun seseorang yang kita sayangi sudah tiada,

Kita masih bisa mendengar suaranya.

Apakah itu hanya ilusi?

Apakah itu bisikan setan?

Ataukah perasaan rindu?


TBC

Ada kritik & saran?

Aku tunggu ^_^