Thousand of Tears

Chapter 59 Kediaman Kupu-Kupu


Setelah melepaskan ruangan yang terbakar oleh api yang dikeluarkan Shirazumi, kini dimensi tak terbatas yang dibuat Nakime sudah pulih seperti semula. Tak ada lagi bekas api yang sempat membakar seisi ruangan itu. Tangan Muzan yang sempat meleleh pun kini kembali utuh tanpa bekas luka.

Muzan sangat tertarik dengan kekuatan yang dimiliki Shirazumi. Dia tak akan begitu saja mengabaikan oni ciptaannya yang memiliki keunikan seperti Nezuko dan Shirazumi. Muzan berniat mengadakan pertemuan dengan Juunikizuki. Mula-mula dia beriat membereskan masalah akan lemahnya para Kagen yang terus saja gugur satu persatu sebelum mengadakan pertemuan dengan Jougen.

.

.

.

Setelah melewati masa penyembuhan yang cukup lama, kini saatnya bagi tanjiro, dan Inosuke untuk melakukan latihan pemulihan. Shinobu sendirilah yang mengajak ereka melakukan latihan itu. Terus berada di atas tempat tidur dalam waktu yang cukup lama tentunya membuat tubuh mereka kaku. Jika pergi melaksanakan tugas dengan tubuh yang seperti itu, hampir dapat dipastikan kalau itu akan mengakibatkan banyak hambatan.

Untuk Zenitsu, karena tubuhnya belum sepulih dua rekannya itu, dia akan mendapatkan waktu istirahat yang lebih lama. Tentunya nanti dia akan menyusul Tanjiro dan Inosuke melakukan latihan pemulihan itu.

Shirazumi sudah pulih berhari-hari yang lalu, Semua lukanya sudah hilang tak berbekas. Begitu pula Nezuko yang masih terus saja tidur dan jarang sekali bangun. Shinobu yang melakukan penelitian dengan darah Shirazumi tak membuahkan hasil yang bagus. semuanya masih misteri baginya.

.

.

.

Dua minggu telah berlalu dalam pelatihan pemulihan yang diikuti oleh Tanjiro dan Inosuke, dan selama itu setiap hari kedua remaja itu selalu kembali ke ruangan mereka dengan tubuh yang bagaikan kehilangan sebagian besar jiwanya.

Setiap kali selesai, Tanjiro hanya sanggup berbaring di atas tempat tidurnya dan mengucapkan kata 'Maaf' sambil menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut. Inosuke juga melakukan hal yang sama dan mengatakan kata-kata yang sangat memilukan. Suasana di sekitar kedua orang itu sangatlah suram. Saking suramnya bahkan seperti terlihat berwarna hitam putih.

Zenitsu sangan penasaran dengan apa yang terjadi dengan kedua rekannya itu. Apalagi esok harinya Zenitsu akan mengikuti latihan itu bersama dengan mereka. Dia selalu berpikir kalau latihan itu sangatlah berat dan mengerikan melihat Tanjiro dan Inosuke yang selalu pulang dengan membawa aura putus asa. Bahkan Inosuke yang selalu bersemangat dan tak kenal menyerah itu selalu membawa aura suram yang melebihi saat mereka kembali dari Gunung Natagumo.

Shirazumi yang setiap malam menjenguk tiga sekawan itu juga tak pernah mendapatkan jawaban apapun dari adiknya selain dengan tatapan menyedihkan yang seakan tak ingin kakaknya itu tahu apa yang mereka berdua alami.

Tetapi, dengan bertanya pada Aoi, Shirazumi paham. Walaupun begitu, Shirazumi berniat bungkan dan tak mengatakan apapun. Apalagi kalau Zenitsu sampai tahu tentang apa yang sebenarnya terjadi saat pelatihan pemulihan itu. Anak berambut kuning itu pasti akan heboh.

.

.

.

Sesuai dugaan. Saat Zenitsu mengikuti latihan pemulihan itu untuk pertama kalinya, terdengar kegaduhan yang berasal dari halaman belakang. Sumber kegaduhan itu adalah Zenitsu yang sedang memarahi Tanjiro dan Inosuke.

Entah darimana tenaga dan semangat itu muncul hingga suaranya terdengar sampai kamar yang gelap dimana Shirazumi dan Nezuko berada. Kebetulan siang itu Shirazumi sedang tidak tidur.

Suara Zenitsu yang biasanya dipenuhi rasa takut kini berubah menjadi penuh amarah yang sebenarnya agak salah sasaran. Inosuke dan Tanjiro dimarahi habis-habisan hanya karena Zenitsu mengetahui kalau pelatihan pemulihan itu didampingi oleh para gadis termasuk Aoi.

"Sudah kuduga... Pengecut centil itu pasti akan bereaksi heboh..." Ucap Shirazumi bicara sendiri dengan helaan nafas untuk mengakhiri kalimat pendeknya.

.

.

.

Sejak Zenitsu mengikuti pelatihan pemulihan itu, Inosuke menjadi ikut terbakar semangatnya. Mereka berdua menjadi lebih semangat dalam pelatihan itu, kecuali tanjiro.

Setiap malam Shirazumi menjenguk adiknya itu dan terus menyemangatinya. Zenitsu juga menyemangati Tanjiro dengan cara yang aneh. Inosuke terbakar semangatnya sendiri.

tanjiro selalu tersenyum menanggapi mereka dan berkata akan terus berusaha. tapi Shirazumi tahu kalau semangat yang dikobarkan oleh adik laki-lakinya itu beberapa kali lebih redup dari biasanya.

Zenitsu dan Inosuke berhasil memenangkan permainan-permainan yang dilakukan dalam pelatihan pemulihan itu, sedangkan Tanjiro masih selalu basah kuyup oleh siraman air obat pada permainan ketiga. Mungkin itu yang membuat semangatnya meredup. Kalah dari kedua rekannya itu.

Tapi rupanya kemenangan Inosuke dan Zenitsu juga tidak mutlak. Selalu setiap mereka melawan Kanao, mereka juga kalah. Hingga beberapa hari mereka selalu kalah dari Kanao hingga akhirnya kobaran semangat mereka berdua juga meredup hingga akhirnya Inosuke dan Zenitsu berhenti mengikuti pelatihan itu. Kini hanya Tanjiro yang tersisa.

Setelah sepuluh hari, tanjiro masih selalu kalah dari Kanao. Hingga suatu hari, Tanjiro mendapatkan saran dari Sumi, Naho dan Kiyo.

.

.

.

Saat malam hari, Tanjiro bermeditasi di atas atap. dengan ditemani Shirazumi. Selama tanjiro berusaha berkonsentrasi, Shirazumi memandangi langit berbintang dalam diam.

Tetapi, walaupun Tanjiro berusaha berkonsentrasi, entah kenapa bayangan-bayangan yang konyol nan seram malah terlintas dipikirannya. Shirazumi yang menyadari raut muka Tanjiro yang berubah agak pucat dan berkeringat itu mengajaknya bicara.

"Tanjiro. wajahmu agak pucat. lebih baik istirahat dulu". Ucapan Shirazumi mebuat Tanjiro membuka matanya.

"Ah... Nee-chan. Iya, mungkin sebaiknya aku istirahat sebentar". Ucap Tanjiro yang kemudian menghela nafas dan ikut memandangi langit seperti Shirazumi.

Tiba-tiba entah darimana Shinobu datang. Kedatangannya yang tanpa suara itu membuat Shirazumi dan Tanjiro terkejut.

"Kau berusaha keras sekali ya~" Ucap Shinobu pada Tanjiro dengan posisi yang agak terlalu dekat. Itu membuat pipi Tanjiro agak tersipu.

"Shinobu-san! Terlalu dekat! Terlalu dekat!" Ucap Shirazumi yang menyadari posisi Shinobu yang terlalu dekat dengan adik laki-lakinya itu.

"Ara.. Maaf" Ucap Shinobu sambil tersenyum dan menambah jarak antara dirinya dan Tanjiro.

"Kau masih terus berlatih padahal kedua temanmu itu sudah menyerah. Apa kau tak kesepian?" Ucap Shinobu pada tanjiro dengan menyinggung Inosuke dan Zenitsu yang keluyuran dan meninggalkan latihannya.

"Tidak. Nee-chan sering menemaniku dan kalau aku bisa melakukan pernafasan konsentrasi penuh ini aku juga bisa mengajari mereka" Jawab Tanjiro berusaha gara dirinya terlihat semangat.

Mereka bertiga akhirnya berbincang agak lama hingga Shinobu menceritakan sedikit tentang mendiang kakaknya sebelum akhirnya pergi.

.

.

.

Setelah Tanjiro mengakhiri meditasinya malam itu, Shirazumi berniat untuk tetap berada di atap itu hingga menjelang subuh. Tanjiro menyadari kalau kakaknya itu ingin ditinggalkan sendirian. Akhirnya Tanjiro kembali dan meninggalkan kakaknya yang masih memandang langit seakan memikirkan sesuatu.

Sekitar setengah jam setelah Tanjiro kembali ke kamarnya, Shinobu kembali muncul di atas atap dimana Shirazumi berada.

"Shinobu-san... Ada apa?" Shirazumi terkejut karena tak menyangka kalau Shinobu kembali lagi.


Teruslah berusaha walaupun itu memakan waktu.

Kuatkan keyakinanmu agar berhenti di tengah jalan tak sempat terpikir.

Apa yang menanti di akhir jalan itu.

Adalah hasil dari jerih payah yang kau ukir.


TBC

Ada kritik & saran?

Aku tunggu ^_^