Thousand of Tears

Chapter 66 Kepala Kereta


Tanjiro yang mendapati rekannya itu sudah sampai di atas gerbong kereta dengan membuat lubang pada atap gerbong, tanpa basa-basi langsung meminta Inosuke untuk melindungi semua penumpang yang ada di dalam kereta.

Inosuke menurutinya, namun niatnya agak sedikit berbeda. Inosuke dan Nezuko menyerang dan menghancurkan gumpalan daging yang muncul dari segala sisi gerbong kereta itu agar tidak menelan para penumpang yang sedang tak sadarkan diri karena pengaruh kekuatan Enmu.

Nezuko yang mulai kewalahan kini tertangkap oleh gumpalan daging itu. Tubuhnya meronta berusaha melepaskan diri. Tiba-tiba, bagaikan secercah kilat, Nezuko terlepas dari kekangan. Zenitsu membebaskan Nezuko dengan jurus petirnya. Nezuko terpana dengan Zenitsu yang baru saja menyelamatkannya. Namun belum juga 5 detik, raut wajah Zenitsu yang asalnya terlihat sangat serius kini berganti menjadi wajah bodohnya yang sedang tidur seperti biasa. Nezuko bagaikan bingung dia tadi baru saja mengagumi apa atau siapa...

.

.

.

Suara kilatan petir dari jurus pernafasan Zenitsu terdengar sampai pada gerbong dimana Tanjiro dan Shirazumi berada. Mereka berdua juga berusaha melindungi para penumpang dengan terus menebas gumpalan daging yang terus muncul.

Gerbong yang sempit membuat katana sulit digunakan. Salah bergerak dan katana itu akan terjebak di antara kursi dan dinding gerbong dan tersangkut.

Shirazumi dan Tanjiro terkejut kembali saat kereta itu terasa seperti melambung sesaat. Rupanya Sang Pilar Api telah bangun dan menyerang gerbong kereta yang telah terindikasi sebagai bagian tubuh oni. Suara khasnya yang selalu bersemangat terdengar sangat meyakinkan.

Rengoku memberikan intruksi berdasarkan 8 gerbong kereta. Dirinya akan melindungi penumpang di lima gerbong dari belakang. Nezuko dan Zenitsu melindungi tiga gerbong sisanya. Terakhir Tanjiro, Shirazumi, dan Inosuke akan menyerang kepala Oni kereta itu.

"Kepala..? Tapi kan sekarang oni ini sudah..." Tanjiro tak menyelesaikan kata-katanya karena Shirazumi memotong pembicaraannya.

"Rengoku-san. Anda bilang tadi delapan gerbong. Tapi tadi kuhitung ada sembilan..." Ucap Shirazumi. Shirazumi memang sempat menghitung jumlah gerbong kereta itu saat mereka ada di atap kereta.

"PASTI ADA! APAPUN BENTUKNYA, ONI TENTU PUNYA KEPALA!" Kali ini Shirazumi yang tak bisa melanjutkan kata-katanya karena terpotong ucapan Rengoku yang terlalu terdengar bersemangat walaupun sedang dalam keadaan seperti ini.

Belum sempat Tanjiro dan Shirazumi mengedipkan mata, Rengoku sudah menghilang dari hadapan mereka dengan kecepatan yang luar biasa. Getaran yang membuat terasa melambung itu rupanya adalah pergerakan Rengoku yang sangat cepat.

Shirazumi terus menebas daging-daging yang tumbuh dari segala penjuru sementara Tanjiro berteriak memangil Inosuke.

Bagaikan menyahut panggilan Tanjiro (walaupun sebetulnya bukan), suara Inosuke terdengar dari atas gerbong kereta. Pemburu oni bertopeng babi itu terdengar kesal karena menurutnya Rengoku telah ikut campur dan mengganggunya. Namun, walaupun dia mengatakan hal-hal kesal, tetapi dia juga berkata kalau Rengoku itu keren. Itu juga membuatnya kesal.

Tanjiro menyampaikan intruksi Rengoku pada Inosuke untuk melindungi tiga gerbong terdepan. Kini mereka bertiga menuju ke arah gerbang terdepan.

"INOSUKE! KEJAR GERBONG PALING DEPAN! KEPALANYA PASTI DISANA!" Shirazumi Berkata dengan kencang.

"YA! BAU MENJIJIKKAN PALING TERCIUM DARI ARAH DEPAN" Inosuke juga sudah merasa kalau gerbong paling depan mengeluarkan bau yang sangat menjijikkan.

Penciuman Tanjiro sedikit terganggu karena angin yang sangat kencang dari kereta yang melaju dengan cepat. Karena itu dia terlambat menyadari kalau ada yang tidak beres dengan gerbong depan.

"Tanjiro. Kereta ini terdiri dari sembilan gerbong. Rengoku-san tadi memberikan intruksi untuk melindungi delapan gerbong yang berisi penumpang. Pasti gerbong paling depan yang tidak membawa penumpang adalah kepalanya!" Shirazumi berhasil mengatakan kata-kata yang sejak tadi tak sempat diucapkannya.

"Ya. Tempat penyimpanan batu bara. Tempat itu yang paling cocok untuk disebut 'kepala'" Ucap Tanjiro membalas ucapan kakaknya. Mereka terus berlari menuju gerbong penyimpanan batu bara.

.

.

.

Inosuke sampai lebih dulu di gerbang terdepan dimana masinis berada. Masinis itu terkejut dengan orang asing uyang tiba-tiba muncul. Ditambah lagi penampilannya sangat mencurigakan menurutnya.

Inosuke berusaha mendekat lebih jauh, namun tangan-tangan yang tba-tiba muncul dari dinding-dinding gerbong menahan Inosuke untuk mendekat.

Saat Inosuke kewalahan menangani tangan-tangan itu, Tanjiro datang dan menebas tangan-tangan itu dengan jurus perna[asan air miliknya. Dibelakangnya, SHirazumi menyusul sambil juga menebas tangan dan daging-daging yang menghalanginya.

Dengan posisinya yang sudah sangat dekat dengan leher oni, Tanjiro bisa mencium dan menentukan posisi leher oni yang sudah menjadi kereta itu. Tanjiro menunjukkan posisinya dan Inosuke menebas lantai gerbong itu.

Dengan lantai yang terkelupas, dapat terlihat susunan tulang leher yang sangat besar nan mengerikan.

Tanjiro menggunakan pernafasan air bentuk ke-8 Takitsubo untuk menebas leher itu, namun tangan-tangan itu berusaha melindungi lehernya, membuat tebasan Tanjiro tertahan. Selain itu tangan-tangan itu juga beregenerasi lebih cepat dari sebelumnya.

Shirazumi yang sejak tadi dihujani serangan tangan-tangan itu juga mulai kewalahan. tangan kanannya yang memegang katana kini terjebak di antara gumpalan daging.

Tanjiro yang melihat kakak perempuannya dalam keadaan yang buruk, berusaha mendekati Shirazumi. Namun tiba-tiba gumpalan daging itu menumbuhkan beberapa mata. Tanjiro yang kewaspadaannya sedikit menurun, tak bisa menghindar dan kini pandangannya sejajar dengan mata-mata itu. Sebelum tertelan ke alam mimpi Enmu, dia sempat memperingatkan Inosuke untuk menebas lehernya sendiri kalau sampai terbawa ke alam mimpi.

Begitu terbawa ke alam mimpi, Tanjiro langsung menebas lehernya sendiri dalam mimpi hingga akhirnya dia langsung terbangun. Berkali-kali dia menebas lehernya sendiri dalam mimpi hingga tiba-tiba dia berhenti.

"TANJIRO HENTIKAN! APA YANG KAU LAKUKAN!?" Shirazumi yang melihat adiknya hendak menebas lehernya sendiri berteriak. Inosuka juga menahan tangan Tanjiro yang hampir membunuh dirinya sendiri. Tanjiro hampir terkecoh. Dia mengira sedang berada di alam mimpi, namun sebetulnya bukan.

Enmu mempermainkan Tanjiro dengan berpura-pura memberikan jurus mimpinya padahal tidak. Berulang kali berganti antara alam mimpi dan kenyataan, itu membuatnya bingung.

Inosuke tak terpengaruh karena dia memakai topeng. Matanya dan mata Enmu tidak berhadapan langsung, karena itu jurus hipnotis mimpi dari mata Enmu tak berpengaruh padanya.

Shirazumi yang entah sejak kapan telah membebaskan tangannya yang sempat terjebak tadi rupanya menggigit bibir bawahnya sendiri dengan taringnya hingga berdarah. Dengan itu dia menahan dirinya untuk jatuh tertidur karena mimpi Enmu tak bisa menembusnya.

Di gerbong yang membuat sulit bergerak itu, Masinis yang sejak tadi tak melakukan apapun tiba-tiba menyerang Tanjiro sambil mengucapkan kata-kata yang mirip sekali dengan anak-anak yang tadi mengikat tangan mereka dengan tali. Rupanya Masinis ini juga merupakan pion milik Enmu.

Shirazumi histeris saat melihat masinis itu menusuk perut adik laki-lakinya dengan pemecah es.

Sesaat SHirazumi mengeluarkan aura gelap. Kalau saja Tanjiro tak menghentikan kakaknya, masinis itu mungkin tak akan berakhir hanya dengan pukulan Tanjiro yang membuatnya pingsan.


Kau mungkin pernah mengalaminya,

Luka yang dialami saat mimpi tak akan ada saat kau bangun.

Tapi apakah itu benar?

Apakah luka di dalam mimpi tak akan memberikan rasa sakit?


TBC

Ada kritik & saran?

Aku tunggu ^_^