31/Desember/2021

Dia Memanglah Obat Hatiku—

By: Abidin Ren

Sinopsis: Aku selalu ragu untuk menjawab perasaan gadis lain terhadapku. Namun, setelah aku mengenal lebih dekat akan sosok seorang Toujou Nozomi, semua pemikiranku itu pun berubah begitu saja. Ya, dia-lah sosok yang jujur, baik hati, serta perempuan ideal, yang telah berhasil membuatku selalu merasa nyaman … jika aku berada di dekatnya.

Disclaimer: [Naruto] © Masashi Kishimoto | [Love Live! School Idol Project] © Kimiko Sakurako

This Story Created by Me

[U. Naruto & T. Nozomi]

Slice of Life — Romance(?) — Comedy(?).

Alternate Universe! OOC, ONESHOOT! Etc.

.

[Naruto's PoV!]

.

Hanya sebuah kisah kecil yang kutulis, sebagai sequel dari Fict milikku yang berjudul "Kau-lah Obat Diriku".

.

Happy Reading, Minna-san~

Enjoy It~

.

.

.

Hari Minggu. Jika kalian mendengar dua kata itu, apa yang akan terlintas di kepala kalian?

Ada beberapa orang yang memberikan jawaban seperti: tidur seharian di rumah, lalu beberapa yang lain mungkin menjawab semacam: pergi bersenang-senang seharian penuh bersama seorang kekasih, dan dengan kata lain adalah … kencan. Tapi, bagi orang-orang yang tidak memiliki hubungan spesial semacam itu, apakah momen seperti berjalan-jalan dengan lawan jenis masing-masing, masih bisa dikatakan sebagai kencan? Entahlah, aku sendiri meragukannya. Ahaha ….

"Hah, hah—gomen! Apa aku membuatmu menunggu lama, Naruto-kun?"

Punggungku langsung menegak ketika suara lembut barusan menerpa gendang telingaku. Tentu, aku sangat mengenali suara ini, karena memang pemilik suara inilah yang akhir-akhir ini sering mengisi hari-hariku. Aku kemudian berbalik.

Disana, tepat di depanku, berdiri seorang perempuan berambut ungu panjang yang dikuncir dua bagian, masih dengan napas yang tersenggal-senggal. Dia memakai pakaian semacam sweater merah muda berlengan panjang, ada sebuah syal ungu tebal yang melilit lehernya. Rok putih longgar selututnya tampak seperti menari-nari ketika dia berlari menuju tempatku berdiri.

"Tidak juga, aku baru saja sampai, kok." Aku menggumamkan itu. Dia membawa sebuah tas kecil hijau di tangan kanannya.

Hm, hm, yah … penampilannya tidak terlalu berlebihan, menurutku.

"Ettoo, sekali lagi, maaf karena sudah mengganggu hari liburmu, Naruto-kun."

Aku melirik ke samping, tidak ingin ketahuan kalau aku sudah terlalu lama memperhatikan penampilannya itu. Yah, memang pakaiannya sangat simpel, tapi itulah yang membuatnya terlihat menarik untukku. "Ehem! Tak apa, lagipula aku tidak punya jadwal kegiatan lain di hari ini kok, Nozomi-san."

—Baiklah, mungkin akan sedikit kuceritakan tentang apa yang sebenarnya terjadi.

Gadis di depanku ini adalah Toujou Nozomi-san, teman sekelasku di angkatan tahun kedua SMA. Yah, dia orangnya baik, selalu membantuku meskipun aku sendiri tidak pernah memintanya sekalipun. Sepertinya … perilaku baiknya ini dikarenakan ia yang sebenarnya punya perasaan terhadapku?

Ah, iya, aku tahu jika Nozomi-san menyukaiku setelah dia mengutarakannya kepadaku secara langsung sekitar dua bulan yang lalu, tepatnya di hari ulang tahunku. Jujur saja, aku sendiri terkejut mendengarnya. Bagian mana dari diriku ini yang membuatnya terpesona, sih?!

Eh? Eerr …aku bukannya narsis atau apa ya, jadi abaikan saja yang terakhir tadi.

Lalu, bagaimana hubungan kami sekarang? Jika kalian menanyakan itu, maka sudah pasti jawabannya adalah … kami belum berpacaran. Ada suatu alasan mengapa aku belum berani menerima pernyataan cintanya Nozomi-san, dan bukan berarti aku ingin terus menggantung perasaannya, ya! Aku juga berharap hubungan kami menjadi jelas, kalian mengerti?

Yah, sebenarnya aku masih takut sampai sekarang. Trauma karena aku dulu pernah ditinggalkan oleh Ino-chan dan Kotori-chan, masih membuatku belum yakin untuk menerima perasaan dari Nozomi-san. Terlebih lagi, dua minggu kemarin aku melihat kejadian di mana Nozomi-san sedang berbincang-bincang akrab dengan seorang lelaki yang tak kukenal, yang mana hal ini terus membuatku kepikiran. Aku … merasa tidak tenang, entah kenapa. Apakah ini yang dinamakan rasa cemburu? Aku benar-benar merasa bodoh

Jadi yah, paling tidak, hal yang kuharapkan tadi mungkin tak 'kan terjadi dalam waktu dekat ini.

Ah iya, dan sekarang, tepat di pagi hari Minggu yang sedikit mendung ini, Nozomi-san memintaku untuk menemaninya pergi jalan-jalan. Aku tidak masalah, lagipula anggap saja ini sebagai balasan rasa terima kasihku kepadanya, karena Nozomi-san juga sudah sering menemaniku akhir-akhir ini. Kalau boleh jujur, setelah kejadian di atap waktu itu, aku dan Nozomi-san sudah menjadi lebih dekat serta saling terbuka satu sama lain, meskipun pertengkaran kecil—semacam saling lempar ejekan atau yang lainnya—masih tidak bisa terhindarkan di antara kami. Tapi tentu saja, momen seperti itulah yang kusukai ketika aku sedang bersamanya. Rasa tenang yang menghangatkan hatiku.

"Begitu, ya. Etto, uhm …."

Hee? Ada apa? Ada apa? Kenapa Nozomi-san melirikku secara berulang kali dengan wajah yang memerah? Aku juga sadar kedua kakinya terus bergerak-gerak tidak tenang sedari tadi, sementara tangannya sesekali memperbaiki kerah pakaiannya. Aku memandang Nozomi-san lagi dari bawah ke atas …, berpikir apakah ada suatu hal yang sedang mengganggu pikirannya. Lalu akhirnya aku mengerti.

Oh, pasti karena itu.

Aku menghela napas saat menyadari apa alasan Nozomi-san bertingkah aneh seperti ini. Aku melirik ke samping, sementara jari telunjukku menggaruk pipiku berulang kali. "Ehem. Ngomong-ngomong, pakaian itu terlihat cocok untukmu, Nozomi-san."

"Be-Benarkah?" Aku mengangguk saat meliht wajah Nozomi-san seketika saja berubah antusias.

"Iya, kau terlihat imut dibandingkan yang biasanya."

Rona merah muda segera memenuhi kedua pipi Nozomi-san. Dan tak lama setelahnya, aku baru menyadari … kata-kata yang telah kuucapkan.

Kenapa dengan mulutku hari ini, sih?!

Aku sedikit munutupi mulutku menggunakan punggung tangan kiriku ketika hatiku berteriak dengan keras. Itu tadi sungguh memalukan.

"Te-Terima kasih …, Naruto-kun."

"A-Ah, ya …."

"…"

"…"

"…"

"…"

Gah! Kenapa malah jadi canggung begini suasananya?! Aku kembali mengeluarkan napas pasrah ….

"Ehm, mau pergi sekarang?"

Aku menanyakan itu sambil mendongak, melihat butiran-butiran kecil berwarna putih mulai turun dari langit.

Ya, ini adalah akhir bulan Desember, jadi tentu saja salju sudah mulai turun sejak beberapa hari yang lalu. Begitupula dengan hari ini. Nozomi-san mengajakku keluar juga karena untuk mengawali Liburan Musim Dingin Sekolah.

"Tentu, ayo!"

Tanganku segera ditarik oleh Nozomi-san. Senyuman senang menghiasi wajahnya ketika dia berlari di depanku.

'Aaah, entah kenapa, senyumannya itu selalu bisa membuatku terpesona. Bahkan, senyuman itulah yang kadang bisa menenangkanku ketika aku sedang mengalami masalah, apapun itu.'

Aku hanya bisa mengikuti ke mana pun gadis ini pergi, karena dia masih belum mau melepaskan tarikannya dari tangan kananku.

.

.

.

"Aaah, tadi itu sangat menyenangkan, ya. Bukankah begitu, Naruto-kun?"

"A-Ah, tentu saja, ahaha …."

Sebenarnya, aku sedikit kelelahan setelah pergi ke berbagai tempat bersama Nozomi-san tadi, dan aku sedikit bersyukur karena gadis ini tidak ingin pergi ke tempat lain lagi. Kami berdua sempat pergi ke Game Center, bioskop, kafe, dan … ah, apalagi ya? Aku bahkan sampai melupakan tempat yang sudah kukunjungi karena saking banyaknya.

Dan sekarng ini kami berdua berada di taman, duduk bersebelahan di sebuah ayunan. Aku dari tadi bisa mendengar Nozomi-san yang bersenandung kecil. Aku akui, suaranya memang merdu. Aku dulu bahkan tak bisa berkata-kata ketika pertama kali mendengarnya menyanyi bersama teman satu klubnya—dan ternyata salah satu mantanku di klub yang sama dengannya. Ugh~

Abaikan saja yang terakhir tadi.

Aku bisa melihat banyak anak-anak yang bermain di area taman ini. Meskipun musim dingin telah tiba, semangat anak-anak itu tidak berkurang sedikitpun untuk beraktivitas di luar rumah. Memang, suhu hari ini tidaklah sedingin seperti beberapa hari sebelumnya ketika salju mulai turun. Karena itulah aku tidak heran, mengapa Nozomi-san tidak merasakan kedinginanan meski sekarang dia memakai rok setinggi itu.

Eh? Tunggu, bukan berarti jika aku selalu mengawasi seluruh area tubuhnya, terlebih lagi bagian privasinya, ya! Tidak, aku tidak pernah memiliki maksud buruk seperti itu. Jadi, singkirkan pikiran kotor kalian tentangku, oke?

"UWAAAAHH …! Sakit~ hiks, hiks …."

Lamunanku terbuyarkan ketika suara tangisan itu terdengar olehku. Di depanku, ada seorang anak kecil laki-laki yang menangis. Dia sepertinya tersandung, dan hal itu membuat lututnya terasa kesakitan. Perlu diketahui, salju di taman ini tidaklah menumpuk begitu tebal, jadi harusnya anak itu berhati-hati, karena jika ia sampai terjatuh, tentu saja tak 'kan ada sensasi lembut yang akan dia dapatkan—

"Eh, mau kemana kau—" Aku terkejut karena Nozomi-san tiba-tiba berdiri dari ayunan, lalu bergegas mendekati anak kecil tadi.

"Sini, Onee-chan bantu. Mana yang terasa sakit?" Dia bertanya, dengan kekhawatiran yang dapat kulihat dengan jelas tercetak di wajahnya.

"Sakit, Onee-chaaan~" Anak kecil itu mengatakannya sambil menunjuk ke luka yang ada di lutut kanannya.

"Cup, cup, tenang saja. Sebentar lagi, sakitnya pasti akan hilang, kok!"

Cih, dia manja sekali! Aku tidak tahu, entah kenapa ini bisa membuatku kesal hanya karena melihatnya yang sedang dipeluk oleh Nozomi-san. Padahal, dia 'kan cuma anak kecil, kenapa aku bisa iri padanya …?! Gah!

"Hmm?"

Aku melihat Nozomi-san mengeluarkan sesuatu dari dalam tas hijau kecilnya. Itu adalah … sebuah plester! Ah, ini mengingatkanku pada kejadian di atap sekolah waktu itu. Apakah Nozomi-san memang selalu membawa barang semacam ini ke mana pun, ya? Dia memang gadis yang baik, selalu cepat tanggap pada kejadian yang ada di sekitarnya. Nozomi-san pasti bisa menjadi ibu yang hebat untuk—Akh! Ehem, apa yang baru saja kupikirkan?! Itu memalukan …!

"Yuk, pakai ini!" Nozomi-san menempelkan plester tadi secara lembut pada lutut bocah itu. "Apa masih sakit?"

"Hiks, hiks, masih~ …."

"Kalau begitu, kita ucapin mantra ampuh, ya. Coba ikutin Onee-chan," katanya sambil mengangkat kedua tangannya. Anak laki-laki itu terlihat bingung pada awalnya, tapi dia tetap mengikuti gerakan serta ucapan Nozomi-san.

"Sakit-sakit pergilah menjauh~ Ayo sama-sama bilang …, Wuusss!"

Heh, ternyata … Nozomi-san bisa begini juga, ya. Jarang-jarang aku melihatnya bertingkah seperti itu. Anak kecil itu mulai tertawa, tidak lama setelah mengucapkan "mantra" dari Nozomi-san.

"Benar! Sakitnya mulai hilang, Onee-chan!"

"Yeey! 'Gitu dong, tersenyum! Jangan nangis lagi, ya." Nozomi-san mengusap beberapa kali kepala anak itu dengan bahagia.

Sementara itu, aku bisa melihat ada seorang perempuan dewasa menghampiri Nozomi-san dan si anak kecil. Sepertinya, dia adalah ibunya. "Maaf ya, Nak, jadi merepotkanmu."

"Tidak apa kok, Bibi. Sayang sekali kalau dia sampai menangis, padahal anaknya kelihatan imut loh. Hihihi~"

Setelah berbincang sebentar dengan Ibu dari anak kecil tadi, Nozomi-san izin pamit dan segera berjalan menuju tempat ayunan kami.

"Maaf ya, Naruto-kun, aku meninggalkanmu begitu saja, ahaha …," katanya dengan ekspresi canggung. Aku menggeleng singkat untuk menanggapinya.

"Tak apa, aku tidak begitu keberatan, kok. Justru, aku harusnya berterima kasih pada bocah itu, berkatnya aku bisa melihatmu bersikap lucu seperti tadi. Jarang-jarang 'kan, aku melihatmu berinteraksi dengan anak-anak. Jujur, itu sedikit menghibur, apalagi saat kau mengucapkan 'mantra'—Ups! Pfft, bwahaha!"

"Iiiihh! Naruto-kun! Berhenti menertawakanku! Itu tadi bukan hal yang pantas untuk ditertawakan, tahu!"

"Aduh, aduh! Tolong, jangan lakukan itu padaku, Nozomi-san!" Nozomi-san memukuli bahuku. Sebenarnya, aku tidak merasakan sakit dari pukulannya. Aku … hanya mencari-cari alasan saja. Semacam … ber-akting, kalian paham maksudku, bukan?

"Oke, oke, aku akan berhenti terta—pfft!"

"Tuh 'kan, kamu masih tertawa!"

"Iya, iya, aku—"

Aku mendengar suara seperti benda yang menempel pada sesuatu, bersamaan dengan aku yang merasa jika sarafku berhenti bekerja sejenak, ketika rasa dingin segera memenuhi seluruh isi wajahku. Aku segera membersihkan wajahku dari benda lembut yang masih setia menempel disana—tentu, tanpa pikir panjang aku sudah tahu kalau itu adalah salju.

Aku menatap datar Nozomi-san yang sudah bersiap dengan satu buah bola salju di kedua tangannya. "Hoo~ kau berani juga melakukan ini, hm, Nozomi-san?"

Dia menjulurkan lidahnya, bermaksud mengejekku, mungkin? "Biarin. Lagian, kamu duluan yang mulai menertawakanku, Naruto-kun."

"Begitu, ya. Baiklah, aku juga tak akan mengalah meski kau seorang perempuan, loh~"

"Silakan saja~"

Menanggapi ekspresi menantangnya, aku mengambil salju di bawahku, dan membentuknya sedemikian rupa agar terlihat seperti bola bisbol. Setelahnya, aku segera melemparkannya pada Nozomi-san, tapi ternyata dia berhasil menghindari lemparan bola saljuku.

"Cuma begitu yang kamu bisa, Naruto-kun?" Terlihat jelas sekali kalau dia sedang meremehkanku. Aku merasa, kalau harga diriku sebagai lelaki langsung turun karena hal ini.

Nozomi-san tanpa peringatan langsung melemparkan bola salju di tangan kanannya ke arahku, membuatku telat bereaksi dan—rasa dingin kembali kurasakan di wajahku. Aku menyingkirkan salju di wajahku secara kasar, namun … ada lagi salju yang memenuhi mukaku. Ini sudah ketiga kalinya bola salju gadis itu mengenaiku, tepat sasaran!

"Kau curang Nozomi-san!"

Dia bersikap seolah tak tahu apa-apa dengan menggerakkan mulutnya seperti bersiul, namun sayangnya tak ada suara sedikitpun yang keluar. Tidak usah berpura-pura begitu, Nozomi-san.

Merasa kesal, aku pun berniat membalas perbuatan gadis SMA itu. Aku membuat bola salju secepat mungkin, kemudian melemparkannya. Nozomi-san juga tidak diam saja, dia melakukan hal yang sama seperti yang sedang kulakukan.

…. Selama kurang lebih lima menit, kami berdua terus melakukan perang bola salju, sampai akhirnya aku meminta untuk berhenti. Itu dikarenakan ibu-ibu dari anak-anak kecil di taman ini, ternyata mereka sedang memperhatikan aku dan Nozomi-san. Terlebih lagi, aku bisa mendengar suara bisik-bisik mereka semacam "Ah, indahnya masa muda" dan sesuatu seperti itu. Aku lupa kami sedang di tempat umum. Gah, ini memalukan!

"Baik, baik, maafkan aku soal yang tadi." Aku kembali meminta maaf, kali ini terdengar agar lebih tulus.

Astaga, mengingat kejadian tadi saat Nozomi-san berbicara seperti anak kecil, membuatku tidak bisa untuk tidak tertawa. Lagipula, ini bukan salahku, dan bukan berarti jika aku ingin menertawaimu seharian, Nozomi-san. Ya ampun~

"Hmmph! Dasar, Naruto-kun bodoh!"

Dia mengatakan itu sambil berpaling ke samping. Aku tahu kalau Nozomi-san masih malu saat ini, itu terbukti dengan warna merah muda yang menjalar sampai ke telinganya. Lagipula, seharian ini selalu mendung, jadi tidak mungkin wajahnya yang memerah itu akibat dia kepanasan. Ahh, biarkan sajalah, itu malah membuatnya terlihat imut—

Ah, pikiranku kembali ngelantur ….

Aku melihat jam tanganku, di situ sudah menunjukkan pukul enam petang. "Sudah malam, mau pulang sekarang?"

"Eh? Benarkah?" Nozomi-san memeriksa smartphone-nya secara tergesa-gesa. "Aah …, kamu benar. Waktu ternyata berlalu begitu cepat, ya."

Kenapa dia tiba-tiba menjadi sedih, coba? "Jadi bagaimana …? Pulang?"

"Mmmm, tunggu sebentar. Sebenarnya, masih ada satu tempat yang ingin kukunjungi, dan kebetulan … ettoo, festival itu diadakan hari ini."

Festival, ya …? Kalau tidak salah, beberapa hari kemarin aku juga melihat ada beberapa orang yang membagikan pamflet-pamflet mengenai festival, meskipun aku tidak terlalu mengingat festival apa yang mereka adakan. "Baiklah, tapi jangan sampai kemalaman, ya."

"Okeey~"

Aku hanya bisa tersenyum kala melihat Nozomi-san kembali bersemangat seperti tadi siang. Dan setelahnya, kami pergi meninggalkan taman ini.

.

.

.

"Uwwooow!"

"Ufufu, ekspresimu terlihat menggemaskan, Naruto-kun."

"Eh?"

Ahaha, yah, sepertinya aku memang terlalu bersemangat saat melihat apa yang ada di depanku saat ini.

"Winter Illumination Festival, ya?" Aku mengingat-ingat nama dari festival ini.

Illumination adalah hiasan lampu warna-warni yang membentuk suatu objek. Festival ini diadakan di beberapa kota besar untuk meyambut perayaan Natal dan Tahun Baru, dengan tema yang beragam di setiap kota, tentu saja.

Sementara di tempat yang aku dan Nozomi-san kunjungi sekarang, mereka memakai tema Jewellumination. Ada berbagai macam warna lampu LED yang mereka gunakan secara sekaligus; mulai dari berlian, rubi, amber, topaz, zamrud, safir, bahkan amethyst. Jadi, karena itulah temanya dinamakan seperti itu.

"Ayo kita ke sana, Naruto-kun!"

"Emm, maaf, aku sebenarnya ingin duduk sejenak." Seharian ini sungguh melelahkan. Meskipun ada kalanya tadi aku juga merasakan kesenangan karena melihat sifat dan perilaku manis dari Nozomi-san, tetap saja aku butuh mengistirahatkan diriku.

"Eehh~? Padahal, aku ingin mengambil foto di sini bersamamu~"

"Sebentar, beri aku waktu sebentar saja, ya? Aku janji, nanti aku pasti akan menyusulmu, lalu berfoto sampai sepuasmu, oke?"

"Huuuuh, baiklah."

Meskipun ekspresinya terlihat jelas kalau dia keberatan, tetapi Nozomi-san sangat memahami kondisiku, jadi dia membolehkanku untuk istirahat. Sementara itu, Nozomi-san izin pamit untuk berkeliling. Yah, kuharap dia tidak pergi terlalu jauh, karena memang di sini sangat ramai sekali, pasti akan menyusahkan nanti untuk mencarinya.

Aku berjalan menuju bangku panjang terdekat, lalu duduk disana. Meskipun sudah malam, tempat ini begitu terang dikarenakan mendapat banyak pencahayaan dari lampu hias berwarna-warni. Ditambah dengan warna putih bersihnya salju di mana-mana, area ini benar-benar terlihat indah sekarang. Banyak sekali tempat serta barang yang diberi hiasan lampu, bahkan pohon juga demikian.

Selama kurang-lebih 10 menit, aku hanya duduk diam sambil mengamati sekitar. Lalu, pandanganku berhenti ketika aku tak sengaja melihat ada mesin penjual minuman otomatis. "Hmm, minum yang hangat-hangat sepertinya tidak buruk juga."

Setelah memutuskannya, aku berjalan ke arah mesin penjual minuman itu. Memasukkan beberapa yen uang koin, aku kemudian menekan salah satu tombol untuk memilih sebuah minuman yang telah tersedia. MAX Coffee, itulah yang kupilih.

"Aaahh~ enak."

Tenggorokanku terasa lega sekali. Setelah seharian berjalan di suhu dingin seperti ini, lalu meminum minuman hangat, aku merasa kembali hidup. Yah, memang terlalu berlebihan untuk aku mengatakannya seperti ini, tapi biarlah.

"Ternyata benar Naruto! Kau juga di sini?"

Hm? Sepertinya aku kenal suara ini. Aku berbalik, lalu menemukan seorang gadis berambut merah muda sedang berdiri di depanku dengan tatapan terkejut. "Oh, Sakura-chan? Kau sendirian saja?"

Namanya adalah Haruno Sakura-chan, salah satu teman semasa kecilku. Aku tak 'kan heran jika bertemu dengannya di acara festival semacam ini, lagipula memang begitulah kebiasaan seorang perempuan; mereka akan pergi ke tempat mana pun asalkan itu bisa membuat mereka senang.

"Tidak juga, aku ke sini bersama Sasuke-kun, kok." Sakura-chan menunjuk ke seberang tempat kami. Disana, aku bisa melihat seseorang yang sangat kukenali. Astaga, aku yakin dia tahu bahwa aku ada di sini, tapi kenapa dia tak mau menyapaku sih? Dasar Teme …!

"Dia tidak berubah sama sekali, wajah datarnya itu selalu berhasil membuatku kesal saja, heh."

"Hee~ bukankah kau sama saja, Naruto? Menurutku, kita bertiga masih sama ketika kecil dulu."

"Hahaha, kau benar."

Aku, Sakura-chan, dan Sasuke memang teman sedari kecil. Kami bertiga tumbuh bersama-sama, dan kupikir kami bisa terus bersama sampai lulus SMA. Namun ternyata, mereka berdua memilih SMA berbeda denganku yang masuk ke Otonokizaka High School di daerah sekitar Akibahara. Jadi, sekarang kami bertiga hanya bisa bertemu beberapa kali saja dalam seminggu.

"Ngomong-ngomong, di mana pacar barumu?"

"Haa?! Apa maksudmu itu, coba?"

Ke-Kenapa dia tiba-tiba menanyakan itu? Dan lagi, bisakah kau berhenti celingak-celinguk begitu, Sakura-chan?!

"Ayolah, jangan berpura-pura tidak mengerti, Naruto. Kau sendiri pernah bilang, kalau kau sudah putus dari Kotori-chan. Jadi, tidak mungkin kau ke sini sendirian, kecuali kau memang terlampau bodoh hanya karena ingin melihat pasangan lain bermesraan di sini, dan menyakiti perasaanmu sendiri~"

Guh! Dia tepat sasaran, dan aku tidak bisa menyangkal itu. "Karena kau sudah tahu itu, paling tidak jangan mengatakannya secara terang-terangan, lah!"

Sakura-chan tertawa puas. Hah, sepertinya dia senang sekali karena berhasil menggodaku. "Jadi …?"

"Ehmm, yah … aku pergi ke sini bersama teman perempuan sekelasku—"

"Hee~ Siapa namanya? Apakah dia cantik? Sudah berapa lama kalian pacaran?"

"Kami tidak berpacaran …!" Aku lama-lama jadi geram sendiri mengurusi godaannya.

"Heee~?"

Berhenti memasang seringai seperti itu! Itu terlihat menyebalkan, kau tahu, Sakura-chan?!

"Paling tidak, beritahu aku yang mana orangnya. Aku juga ingin tahu wajah pacarmu itu seperti apa. Mungkin, suatu saat nanti, kita berempat bisa melakukan double date 'kan, Naruto?"

"Sudah kubilang …! Dia bukan pacarku!" Dan jangan mengatakan hal mengerikan seperti itu lagi. Double date? Yang benar saja. Aku yakin, Sasuke tak 'kan setuju dengan idemu itu, Sakura-chan.

"Booo~ Kau tidak asyik sama sekali, Naruto~"

Dia terdengar semakin menjengkelkan saja. "Aaargh! Berisik! Sudah pergi sana. Kau tidak lihat apa, ekspresi Sasuke terus merengut sebal karena sudah kau tinggal terlalu lama, ha?"

"Fufufu. Baik, baik, aku akan pergi~" Dia akhirnya berjalan meninggalkanku.

"Aku tahu kau sudah tidak sabar ingin bermesraan dengan te-man-mu-i-tu, jadi bersenang-senanglah!"

"Ka—! Awas saja kau …, Sakura-chan!"

"Bweee!" Dia berlari sambil menjulurkan lidahnya. Sampai akhir pun, dia masih saja menggodaku. Haah~

Yah, memang itu membuatku kesal, tapi aku tidak terlalu membenci sifatnya itu yang suka sekali ikut campur dengan urusan asmara orang lain. Aku sudah mengenalnya lama, jadi aku telah terbiasa dengan ini.

"Lebih baik aku segera mencari Nozomi-san saja …."

Setelah meminum habis MAX Coffee-ku yang masih tersisa dan membuang kalengnya ke tempat sampah, aku segera berjalan menuju lautan manusia di depanku. Terus menoleh kesana-kemari untuk mencari keberadaan dari Nozomi-san, akhirnya aku menemukannya sedang berfoto di depan sebuah tempat seperti terowongan berwarna kuning yang sangat terang. Setelah cukup dekat, ternyata terowongan itu hanyalah tiang bambu yang dibuat sama persis seperti gerbang Torii—gerbang berwarna merah yang biasanya ada di depan sebuah kuil-kuil, semacam itulah.

Tiang-tiang bambu itu diletakkan memanjang berurutan, membuatnya terlihat seperti Senbon Torii di kuil Fushimi Inari-Taisha, Kyoto. Yah, meskipun di sini tidak sepanjang seperti yang aslinya sih, paling-paling jauhnya cuma beberapa meter saja. Lalu, di setiap tiang berwarna merah itu, sudah terlilit banyak sekali lampu kecil berwarna kuning, makanya jika dari kejauhan, itu akan terlihat seperti terowongan bercahaya.

"Nozomi-san!" Aku segera memanggil gadis itu. Dia yang sedang berfoto ria sendirian, langsung menoleh padaku. Dia melambai-lambai, memberikan isyarat agar aku segera mendekat.

"Aku sudah menunggumu lama, tahu~ Hmmph!"

Aku benar-benar suka saat melihatnya cemberut begitu, ahaha. "Maaf, maaf. Tapi, tidak ada yang mengganggumu sama sekali, 'kan?"

Dia membusungkan dadanya, senyuman percaya diri menghiasi wajahnya. "Tentu saja! Mereka tidak berani menyentuhku, ketika aku mengatakan, Berani mendekat, maka bersiaplah kalian untuk dihajar oleh paca—"

"Ha? Apa? Kau ingin mengatakan apa, Nozomi-san?"

Nozomi-san melirik ke samping dengan pipi merona, "Ehm, teman laki-lakiku."

Kau pembohong yang buruk! Jelas-jelas kalau kau tadi ingin mengatakan pacar! Dan perlu kita ingat baik-baik, hubungan kita belum sejauh itu—Yah, meskipun aku memang akan marah jika ada lelaki yang berbuat macam-macam padamu, tapi tetap saja … ini tidak seperti dirimu saja, Nozomi-san. Sejujurnya, kau yang sampai berbohong soal hubungan seperti ini malah terlihat aneh.

"Aku—"

Ketika sadar aku ingin mengatakan sesuatu seperti protesan atau semacamnya, Nozomi-san berbalik dan segera berjalan menuju "terowongan" bercahaya. "Sudahlah, lupakan yang tadi. Ayo masuk ke sana."

"Eh, tunggu aku!"

Aku hanya bisa menghela napas pasrah sambil mengikutinya dari belakang, yang ternyata sudah semakin jauh memasuki terowongan di depan.

"Ngomong-ngomong …, siapa gadis yang baru saja bersamamu?"

"Hmm?" Apa yang dia maksud itu Sakura-chan? Dia melihat pembicaraan kami, ya?

Aku menggaruk kepala belakangku, dan secara ragu-ragu berkata, "Kalau aku bilang, dia itu … pacarku, apa kau akan marah, Nozomi-san?"

Dia seketika berhenti berjalan. Aku sudah menyiapkan diriku kena marah olehnya ketika Nozomi-san berbalik, tapi justru sebaliknya yang terjadi …, malah mengejutkanku.

Dia, Nozomi-san, berdiri di depanku dengan senyuman yang menunjukkan kebahagian. Aku terperangah, tak bisa menanggapi situasi yang terjadi saat ini.

"Syukurlah kalau begitu. Aku senang mendengarnya, kok."

"Huh? Eh—tunggu aku, Nozomi-san! Apa maksudmu?"

Aku segera mengejar Nozomi-san yang kembali berjalan setelah menyatakan barisan kata-kata tadi. Aku menyejajarkan langkah kami berdua. "Ettoo, kenapa kau tidak marah?"

"Untuk apa aku melakukan itu?" Suaranya terdengar tenang, tak ada nada lain yang disembunyikan. "Kalian berdua terlihat sangat dekat, jadi saat kamu bilang bahwa gadis berambut pink tadi adalah pacarmu, aku berpikir, 'Ah yah … mereka memang cocok, tidak mengherankan sih'. Begitulah~"

"Ah, tidak—maksudku … bukankah dua bulan lalu, kau menyatakan perasaan sukamu kepadaku, apa itu cuma bohong? Kau tidak cemburu sama sekali ketika melihatku dekat dengan gadis lain?"

Nozomi-san berhenti berjalan, secara otomatis aku mengikuti gerakannya. Dia menghadap ke arahku, kedua mata kami bertemu satu sama lain, saling menatap sangat intens.

"Heh~" Secara mengejutkan, gadis di depanku ini tersenyum tipis. Kata-katanya berlanjut, "Kamu memang bodoh soal beginian ya, Naruto-kun. Tentu saja aku cemburu!"

"A-Ah, begitu. Maaf."

"Aku menyukaimu kok, aku bahkan terkadang merasa sakit hati ketika aku melihatmu dekat dengan gadis lain di sekolah. Namun, fakta bahwa kamu ternyata bisa tertawa bahagia ketika bersama mereka, itu sudah membuat rasa cemburuku lenyap begitu saja. Aku bisa merasa tenang, meski hanya melihatmu tersenyum saja, Naruto-kun. Itu sudah cukup bagiku."

"Nozomi-san …." Aku tidak tahu harus berkata seperti apa. Aku merasa bersalah karena telah berbohong padanya, meski sebenernya aku hanya berniat untuk bercanda pada awalnya tadi.

Lamunanku buyar ketika suara gadis itu kembali terdengar indra pendengarku.

"—Apa kamu sudah merasa lebih baik?"

"Maksudmu?"

"Kamu tahu, belakangan ini kulihat wajahmu seperti kelelahan, semacam ada suatu masalah yang membuatmu tertekan. Jadi, karena itulah, aku mengajakmu keluar hari ini … dengan tujuan, seperti itu lah."

Ah, aku mulai mengerti alur pembicaraannya. Jadi, dia mencemaskanku belakangan ini? Apa ekspresiku terlihat sejelas itu? Mungkin saja. "Sejujurnya, aku hanya terus kepikiran saja. Sekitar dua minggu kemarin, aku tidak sengaja melihatmu sedang berbincang-bincang dengan lelaki berambut oranya ketika kau di pusat perbelanjaan. Aku benar-benar minta maaf! Aku tidak bermaksud untuk mengun—"

"Fufufu~"

"Eh?"

"Maksudmu Yahiko-Senpai?"

Siapa dia? Aku baru pertama kali mendengar namanya.

"Dia itu Mahasiswa Kampus, dulunya Yahiko-Senpai memang Senpai-ku waktu SMP. Aku menghormatinya, tapi aku tidak memiliki perasaan istimewa terhadapnya, Naruto-kun. Astaga kamu ini~"

"Benarkah?"

"Tentu saja. Lagipula, Yahiko-Senpai sudah punya pacar, dan mereka berada di fakultas yang sama, tahu."

Begitu, ya. Aku tiba-tiba merasa lega setelah mengetahui ini ….

Tidak terasa, selama perbincangan panjang kami tadi, ternyata kami sudah melewati semua tiang dengan lampu kuning terang, atau bisa kusebut sebagai "terowongan bercahaya".

"Kalau begitu, aku minta maaf."

"Maaf untuk …?" Nozomi-san tampak bingung.

"Yang tadi, gadis itu sebenarnya bukan pacarku." Aku pun menjelaskan pada Nozomi-san kalau Sakura-chan adalah teman semasa kecilku.

Setelah mengerti maksudku bahwa aku hanya berniat membuatnya cemburu saja, Nozomi-san tidak mau melepaskan tatapan mengerikannya itu dariku sedetik pun! Itu mengerikan!

"Kamu mempermainkanku ya, Naruto-kun?!"

Tolong jangan mencubitku seperti itu! Itu sakit sekali, Nozomi-san! "Maaf! Aku tidak berniat begitu!"

"Baiklah, aku akan melepaskanmu kali ini, tapi tidak untuk yang kedua kalinya, oke?" Aku cuma berani mengangguk pelan sebagai balasannya.

Aku selama ini selalu ragu pada perasaanku sendiri terhadap Nzozomi-san. Tapi, setelah malam ini, aku sudah menyadari semuanya. Ketenangan jiwa yang kurasakan ketika aku selalu bersamanya, inilah yang selalu kucari. Setelah mendengar segela perkataan Nozomi-san tadi, aku juga yakin kalau perasaan sukanya terhadapku … itu bukanlah untuk main-main belaka.

Semua orang tampak berbondong-bondong pergi ke ujung jalan sana, aku bahkan bisa mendengar suara mereka, kalau ada semacam kembang api yang akan diluncurkan sebentar lagi.

"Ayo kita ke sana juga, Naruto-kun!"

"Hei, Nozomi-san." Aku segera meraih tangan kirinya, membuatnya berhenti berjalan, lalu menoleh ke arahku. Aku menatap jauh ke dalam bola matanya. "Kau dulu pernah menyatakan perasaanmu padaku, tapi aku saat itu belum memberikan jawaban yang pasti, kan?"

"Iya, memang kenapa?"

"Aku minta maaf—"

"Kamu terus saja mengatakan itu dari tadi. Tidak bisakah kamu langsung ke intinya saja?"

Aku sedikit tersenyum, sadar kalau Nzozomi-san sudah tidak sabar dengan perkataanku. Dia terus menoleh ke ujung jalan sana—tempat melihat kembang api yang enak. Apa dia sesemangat itu untuk mononton kembang api?

"Aku juga mencintaimu."

"Eh?"

Aku bisa merasakan kalau tubuh gadis ini menegang sesaat, karena aku masih menggenggam tangan kirinya. Dia menoleh ke arahku secara pelan, dan aku bisa melihat ekspresi terkejutnya beserta mulutnya yang sedikit terbuka itu. "Kamu serius …?"

Aku mengangguk. "Rasa nyaman yang selalu ada ketika aku bersamamu, detak jantung yang selalu muncul ketika aku melihat senyumanmu, semua ini memang nyata. Aku yakin … aku memang menyukaimu. Maaf, karena sudah membuatmu menunggu lama jawabanku ini, Nozomi-san."

Tanpa ada lagi kata-kata yang terlempar di antara kami berdua, kami sudah mengerti keadaan kami masing-masing. Nozomi-san juga terlihat bahagia sekali, bahkan air matanya terus mengalir ketika kami saling berpelukan. Cahaya dari kembang api menyinari malam dingin di akhir tahun ini.

.

.

.

END!

Note:

Yah, halo...? Cuma sebuah kisah kecil dariku di penghujung tahun 2021 ini, dan ini merupakan sequel dari fic-ku yang berjudul "Kau-lah Obat Hatiku". Kalau gak salah, itu fic ku-publish bertepatan dengan ultah-nya Naruto [10-Oktober-2020], yah satu tahun lah.

Fic ini kubuat karena aku dulu udah janji ama author Okita Shinn, saat dia minta lanjutan dari fic yang kusebutkan di atas. Maaf kalau butuh waktu lama terealisasinya, Pak Shinn, meski ide kasarnya udah lama ada dulu, wkwk.

Maaf kalau ceritanya tidak sesuai ekspektasi kalian, eksekusi ending fic ini yang kurang memuaskan, ataupun sifat Naruto dan Nozomi di sini berbeda dengan yang di fic pertama. Cuma itu aja dariku, sekian.

.

.

.

Happy New Year 2022 for you All, dan semoga yang terbaik selalu menyertai kita semua di mana pun kita berada.

Tertanda. [Abidin Ren]. (31/Desember/2021).