Chapter 3
Rated : M
Genre : Romance, adventure, action, fantasy
Warning : Alur berantakan, Typo, amburadul
''Kakek, sekarang bagaimana? ''.
Kakek tersebut hanya bisa menghela nafas lelah atas pertanyaan dari sang Putri, sialanlah, dia sudah terlalu tua untuk selalu mendengar ocehan dari wanita.
''Hahh... Karena tujuan kita sudah gagal, maka pulang ke rumah lebih menjadi tujuan utama kita''.
Shion hanya bisa cemberut saja mendengar ucapan sang Kakek, seharusnya tujuan mereka tercapai jika bukan karena seseorang secara tidak sengaja menghancurkannya.
''Mou... perjalanan ini sungguh sia-sia''.
''Setidaknya kita sudah berusaha ''.
''Berusaha untuk lebih tabah tepatnya!''.
''Poin yang bagus''.
Perjalanan panjang mereka mulai hanya diisi oleh keheningan yang begitu kosong, antara bingung mau bicara apa, takut bicara apa dan... gak bisa bicara apa-apa.
Yahh.. Harus dikatakan hal semacam ini hanya akan membuat Naruto mati kebosanan, setidaknya dia membutuhkan sebuah aksi disana sini yang dapat membuat jantungnya bergetar-getar.
Perumpamaan yang agak menyedihkan disana.
Walaupun dapat dikatakan dia akan disambut dengan baik oleh kakek tua itu dalam jamuannya, tidak membuat Naruto merasakan kenyamanan apapun.
Ayolah!.. Kenyamanan dalam definisinya adalah kehancuran dan aksi disana-sini, sial, jika dia tidak mendapatkan hal itu dalam rentan waktu beberapa hari, percayalah dia akan menjadi gila.
yah.. Cukup gila mengira sebuah batu berlian adalah Nasi. sesederhana itu baginya.
Karena itu, saat ada suatu pancaran energi yang begitu membuatnya terposana- setidaknya baginya- ,karena jika itu adalah orang lain ,maka hanya akan merasakan tubuhnya gemetar tak terkendali, menahan rasa ketakutan yang kian merajalela mencapai inti di dalam jiwanya.
Begitulah yang Naruto lihat pada orang tua itu dan gadis berambut kuyu disampingnya, mata mereka melebar dengan tubuh bergetar menahan rasa haus akan kengerian.
Walaupun begitu, keadaan mereka berdua tidak membuat Naruto merasakan adanya rasa empati apapun, tapi juga tidak mencemooh akan keadaan yang menimpa mereka.
Tanpa harus berpikir dua kali, apalagi sampai beberapa kali, Naruto langsung lepas landas menuju asal pancaran kekuatan tersebut, mengabaikan teriakan keterkejutan dari mereka berdua.
Setiap langkah dalam larinya, tidak meninggalkan bekas apapun, bahkan tidak ada suara sekalipun yang dapat membuatnya terlihat seperti seorang pembunuh yang sangat terampil dibidangnya.
Sesekali Naruto harus melompat untuk menghindari cabang yang runtuh dan batuan besar,bukan berarti itu masalah besar baginya, suara alam dengan ringan mengikuti setiap langkah dalam perjalanannya.
Tak ingin membuang-buang waktu berharganya, Naruto lantas mempercepat larinya, hingga jika dilihat oleh mata orang biasa maka hanya akan nampak sekelebat saja.
Pancaran energi kian terasa kental dia rasakan di udara, Naruto bisa merasakan adanya pergolakan dua energi kuat yang saling mendominasi satu sama lain.
Seringai buas tercipta dibibirnya saat melihat akhir dari perjalanannya terhenti disebuah tebing curam, Fokus penglihatannya teralihkan pada dimana dua energi yang masih saling mendominasi itu tercipta.
Diketinggian udara beberapa ribu meter dari tanah jauh dibawah sana, Naruto bisa melihat bahwa ada dua sosok yang saling berhadapan.
Salah satunya hal yang dapat diidentifikasi adalah sejenis Singa berwarna ungu, dengan sayap membentang lebar beberapa belas meter, sebuah kristal ungu bercahaya redup bisa dia lihat dikeningnya dibawah sebuah tanduk tunggal.
Lecutan-lecutan petir ungu mengelilingi hampir setiap inci dari tubuhnya, energi kebengisan terasa kental terhadap kekuatan yang dia pancarkan.
Namun, yang membuat Naruto begitu terpesona hingga kehilangan kata-kata,- bukan berarti dia bisa bicara normal-. Adalah seorang perempuan di langit sana yang mengenakan gaun ketat berwarna hijau giok pudar yang menutupi tubuhnya yang indah semampai, tangan kanannya memegang pedang panjang yang tampak tidak asing baginya sedang memancarkan cahaya berwarna hijau lembut.Rambut hitamnya tergerai memukau sedemikian rupa ditahan oleh aksesori burung phoenix yang tampak begitu mulia dalam wujudnya.
Wajahnya yang teramat cantik dan tenang, bahkan tidak menunjukkan emosi yang lain selain murni ketenangan bahkan ketika berhadapan dengan Binatang buas yang Naruto percayai dapat memberinya perlawanan yang lumayan sengit, setidaknya dalam keadaannya yang sekarang.
Di lekukan punggung indah perempuan itu , tersemat sepasang sayap berwarna hijau yang tampak sedikit transparan untuk dilihat, kemungkinan terbentuk dan tersusun dari suatu energi yang dia miliki.
Perempuan itu dengan tenang melayang di langit dalam segala bentuk kemuliaannya. Tubuhnya memberikan nuansa rasa keanggunan dan kemuliaan yang tidak bisa disamarkan bahkan oleh gaun yang begitu sederhana yang dikenakannya
Ahh... kenapa jantungnya berdebar, apa, apakah ini cinta?.
Yahh pasti ini Cinta.
Satu hal yang pasti baginya sebagai seorang Maharaja.
Perempuan itu lolos dengan nilai yang menjulang tinggi kelangit dalam segala kecantikannya, maka sudah diputuskan olehnya, perempuan itu layak dan harus menjadi Istrinya.
Bahkan tidak peduli jika dia menolak, Naruto tetap akan membuatnya bertekuk lutut dalam pesonanya.
''OIII!!!... ''
Teriakan Naruto bergema dalam setiap ketegangan yang masih terjadi, tak memperdulikan bahwa dia akan berada dalam situasi yang dapat membuat orang merasa bahwa ini adalah akhir dari hidup.
Kedua tatapan terkejut Naruto dapatkan dari mereka.
Namun Naruto kesal.
''AKU HANYA BUTUH PERHATIAN DARI ISTRIKU SAJA!!!, BUKAN DARIMU JUGA KUCING!!!.JADI DIAM!! ''.
Mata Naruto dia alihkan pada perempuan itu, menyalurkan setiap rasa cinta padanya lewat tatapan semata.
Sedangkan disisi lain sana, perempuan itu hanya bisa berkedip kaget saat menerima tatapan dari seorang lelaki aneh diseberang sana, dan apa yang dia maksud Istrinya. Maksudnya, dirinya adalah istrinya.
Sejak kapan bahkan dia menikah, apakah lelaki itu aga-...
''BERANI SEKALI KAU MENGGANGGU WAKTU EKSEKUSINYA !!! DASAR HAMA PENGANGGU!! ''.
Teriakan menggelegar dari Singa itu, membuat Naruto terkejut secara nyata, bukankah dia sudah berucap diam, maka seharusnya Kucing bodoh itu akan diam kaku secara patuh.
Ataukah 'Silat Lidah'nya tidak akan memiliki pengaruh apapun pada mereka yang memiliki kekuatan pada peringkat tertentu. Menarik, sepertinya dia mempunyai tantangan disini.
Tangan kiri Naruto terjulur kesamping dimana disana tercipta sebuah riak, tanpa membuang waktu, Naruto mulai memperlihatkan sebuah Katana panjang berwarna biru kehitaman.
''Kau tau, aku hanya ingin berbicara dengan istriku yang disana itu''.
Perempuan itu hanya bisa terheran-heran akan ucapan tersebut, yang jelas-jelas ucapan lelaki itu layangkan padanya bahkan hingga menatapnya dengan pancaran.., apakah itu kasih sayang.
''Tapi kau, seekor Kucing kampungan dengan berani mengganggu waktu kami berdua''.
Singa itu menggeram marah pertanda menjawab ucapan dari Naruto sebagai sebuah penghinaan baginya, dan dalam benaknya berjanji akan membuat Naruto merasakan kematian yang menyakitkan.
''Sungguh begitu tercela tindakanmu itu, maka dari itu... ''
Mata kanan Naruto mulai terbuka dan menunjukkan mata merah dengan pupil oranye yang mulai terbakar dalam kobaran api liar.
.
.
.
.
... Aku akan mendisiplinkan mu, Kucing ''.
T.
B.
C.
Nahh... Setalah sekian lama akhirnya aku punya waktu luang lagi, betapa senangnya.
Walaupun terkesan pendek wordnya, karena sebenarnya ga bisa buat wordnya panjang karena imajinasiku bakalan buyar, jadi yahh.. Hanya bisa segitu saja deh.
Tapi setidaknya aku akan agak rutin updatenya... Mungkin lohh yahh.
Semoga kalian menikmatinya. Silahkan Review dan komen nya.
