New Author On Fanfiction Present

...

...

Naruto ©Masashi Kishimoto

HighSchool DxD ©Ichie Ishibumi

Beberapa character yang ada di dalam Fanfiksi ini milik para Author di Jepang dan saya hanya meminjam tanpa ada niatan menjadikan ladang pencarian.

...

...

Summary :

Dia hanyalah manusia biasa, Dia yang ingin hidup dengan damai bersama dengan orang-orang yang berharga baginya, dan Dia yang selalu menjunjung nilai kemanusiaan. Ini bukanlah kisah seorang ninja, ini bukanlah kisah seorang pria mesum yang menjadi iblis namun ini adalah kisah, Dimana seorang manusia yang hanya ingin menunjukkan bahwa Manusia itu masih ada! Manusia bukanlah ternak! Dan manusia masih bisa melawan!...

Warning : Human!Naru, Weak to Strong, Human!Issei, NoHarem!, Typo, Kalimat Rancu, dan You Hate This? Simple, Just Out From This Fiction Story!

Catatan : Seluruh teori yang ada hanyalah pemikiran Fantasi liar dari penulis ataupun dari sumber-sumber luar seperti Anime, DongHua, Light Novel, ManHwa, ManHua, Atau apapun yang dapat digunakan sebagai Reverensi.

...

...

#StayAtHome

[Let's start]

...

...

Issei, Sudah berapa lama ia bertahan dalam pertempuran ini? Entahlah tapi dirinya yakin ini tidak lebih dari sepuluh menit yang dijanjikan Naruto kepadanya.

Sekarang ia tau maksud dari apa yang dikatakan Aniki-nya itu tempo hari. Medan perang adalah tempat yang sangat berbeda dari suatu pertarungan. Tiap detiknya sangat amat berharga, Bukan luka semata tapi nyawa yang menjadi taruhannya dan Issei sekarang paham.

Satu batalyon Fallen Angel sudah ia habis di tempat ini yang berarti seribu Fallen Angel menemui ajalnya dan berubah menjadi debu. Dirinya tau kalau energi yang terus menerus di alirkan Draig memang membuatnya bertambah kuat tapi bukan berarti ia tidak menerima efek samping dari penambahan kekuatan secara real-time itu. Mental dan juga fisiknya terus terkuras dan menjadi lelah karenanya. Namun, Seribu orang termasuk Aniki-nya harus ia lindungi.

Melihat semua yang terjadi pada Issei, Naruto mengepalkan tangannya dengan sangat erat. Ia mengangkat tubuhnya dengan perisai hitam sebagai penyangga tubuhnya yang bergetar. Ini baru enam menit tapi sirkulasi mana miliknya tidak menunjukkan percepatan dalam memulihkan staminanya.

"Simpan tenaga mu, Eiyuu-kun." Seorang pria yang tampak berusia tiga puluh tahunan memegang pundaknya dan berkata demikian. Mata pria itu menatap sejenak wajah Naruto sebelum ia mengalihkan pandangannya ke arah Issei yang sedang mengatur nafasnya yang memburu.

"Aku tidak tau apakah semua ini nyata, Aku juga tidak bisa menggunakan sihir sebagaimana kalian berdua gunakan namun..." Pria itu mengepalkan tangan kirinya yang bebas dan membawanya tepat di depan wajahnya. Ekspresinya menunjukkan kesedihan dan juga kesakitan pada saat yang bersamaan. "... Seharusnya bukan kalian kaum muda yang berkorban seperti ini. Tugas kami adalah melindungi 'Benih' dan 'Tunas muda'. Ini semua! Membuat harga diri kami sangat hancur!"

Bunyi bergemeretak terdengar dari arah Naruto. Pemuda itu mengadu giginya menunjukkan kalau ia marah! Marah karena ia sangatlah lemah karena harus berlindung di punggung tunas muda seperti Issei namun dirinya sendiri tidak pernah sadar kalau ia juga bagian dari tunas muda tersebut.

"Mungkin kau benar, Ojii-san..." Gumam Naruto yang sedang menundukkan kepalanya, "... Mungkin juga kau salah. Tapi yang pasti bukan hanya aku dan juga Issei yang bisa bertarung dengan mereka." Ucapnya

Ada satu hal yang tidak terpikirkan makhluk supranatural tentang Sky Insight yaitu meminjamkan kekuatan kepada sesama manusia. Sejarah dunia ini, Sejarah tentang perkembangan dunia dari masa ke masa.

Dengan begitu, Ia mengkompresi mana miliknya ke arah mata kanan. Terus menerus sampai-sampai pembuluh darah di pelipis miliknya membesar dan tampak akan meledak karena aliran darah yang membawa supply mana kearah mata miliknya. Mengatupkan giginya erat-erat, Naruto memaksakan dirinya untuk berdiri. Dan disitulah, Sky Insight dengan warna merah darah menghiasi mata kanan Naruto.

"History Requiem."

Di saat yang sama, Pelataran kota Kuoh sekali lagi berubah. Bukan karena sebuah distorsi ruang saat pasukan Majapahit memasuki Medan perang tetapi berubah seluruhnya menjadi hamparan kosong dengan segala macam benda ciptaan manusia berserakan disana.

"Dengar! Ini adalah saatnya! Kita harus melawan! Ambil segala sesuatu yang ada di depan kalian dan gunakan itu semua untuk menunjukkan kalau manusia bukanlah makhluk yang lemah! Manusia dapat terus berkembang! Manusia juga dapat berdiri di puncak!" Ucap Naruto yang mengangkat kedua lengannya ke langit namun sesuatu mulai tercetak disana kala ia menadahkan seakan-akan meminta. Sirkuit-sirkuit aneh mulai berbentuk di udara mulai membentuk suatu tiang dengan bendera yang tergulung di puncaknya.

"Kalian merasa marah, Balaskan!"

"Jika kalian ingin menyerah, Setidaknya bawalah satu Fallen Angel bersama kematian!"

Tang...

Bendera di atas tiang itu terlepas dan langsung terbuka dari gulungannya. Tiang itu bukanlah tiang biasa dan bendera itu bukanlah bendera biasa. Itu adalah sebuah Battle Standard yang digunakan sang 'Saintess' dalam perang dalam menegakkan keadilan demi memerdekakan negara nya. Bendera yang terlihat robek di beberapa bagian tapi bendera itu juga adalah barang paling mewah bagi mereka yang tau nilai nya.

Angin bertiup dan bendera itu berkisar pelan menunjukkan keagungan sang penguasa akan kehidupan dan kematian. Dengan setiap kibaran bendera tersebut tampak cahaya seperti matahari keluar dari kainnya. Orang-orang yang melihat keberadaan bendera itu bukan melihat keanehan namun seperti mendengar sebuah panggilan. Ya, Panggilan akan kemenangan!

Sesuatu yang mulai tumbuh di hati manusia sejak pertama kali manusia turun ke bumi dari taman eden. Di antara semua dosa, Di antara segala kerusakan yang manusia ciptakan, Di antara semua peradaban yang di bangun mereka. Mereka menyadari itu.

Harapan!

Harapan yang membuat manusia bertahan di dunia ini. Harapan yang berisi keinginan untuk melihat hari esok! Harapan atas segala kemauan manusia untuk membangun sejarah yang diwariskan pada generasi selanjutnya! Harapan juga yang menggerakkan semua manusia ini untuk melawan! Harapan berwujud 'Dua anak adam' yang dapat melindungi warisan mereka.

Namun, Saat harapan mereka semua berada di puncaknya suara letupan kecil terdengar. Letupan yang di sertai dengan tumpahan darah dari seorang pemuda yang tetap berdiri dengan gagah berani dengan bendera di tangannya.

Benar!

Naruto mengorbankan mata kanan yang ia miliki untuk menggunakan History Requiem.

...

...

Kedua mata itu mengerjap saat dirinya mulai sadar. Tubuhnya yang lemah mulai menjadi segar saat mencium aroma menenangkan dari bunga di suatu taman. Dan saat kedua mata berwarna Blue Shaphire itu terbuka dan melihat sekeliling, Yang ia lihat adalah kumpulan manusia yang berkumpul di pekarangan suatu menara aneh.

"Kau sudah bangun, Saintess?" Dirinya tidak dapat menghentikan setiap pertanyaan yang muncul di kepalanya dan kenapa dirinya sendiri sampai di menara ini dalam keadaan selamat adalah misteri namun sekelebat ingatan memasuki kepalanya.

Ingatan tentang seorang pemuda yang berjalan mendekatinya dengan sebuah tablet tanah di tangannya dan distorsi ruang yang mengeluarkan pasukan hebat dari tenggara.

"Brother!" Dirinya langsung menjadi panik saat mengingat hal tersebut. Kakaknya harus melawan seribu pasukan Fallen Angel yang merupakan pasukan veteran dari Great War terdahulu. Walaupun ia yakin kalau Great Army from SouthEast tidak dapat ditunjukkan dengan mudah tapi rasa khawatirnya sangat besar. Apa yang terjadi?

Ia membawa tubuhnya untuk berdiri dan melihat sekelilingnya hingga apa yang ia lihat dapat menjawab rasa kekhawatiran di lubuk hatinya. Disana, Di luar kubah magis yang melindungi Avalon, Sepuluh ribu manusia berjaga dengan tubuh mereka yang gagah.

"Judgment baik-baik saja, Saintess. Red Dragon bersama dengan seribu manusia ada disisinya." Ucap orang yang sedari tadi ia hiraukan. Bukan bermaksud tidak sopan namun hubungan antara dirinya dan kakaknya lebih erat daripada hubungan mereka berdua dengan adik mereka, Mito. Hubungan yang dimulai semenjak di dalam rahim orangtuanya.

Ya, Keduanya, Naruto dan Minaka adalah saudara kembar. Mereka berdua saling menjaga semenjak di dalam kandungan dan karenanya apa yang Naruto rasakan terkadang ia rasakan. Namun perasaan yang ia rasakan saat ini, Bukanlah perasaan putus asa melainkan perasaan berupa semangat murni yang ia rasakan dari kembarannya dan Minaka tau jika kakaknya sedang bersemangat dalam suatu pertempuran maka ia tidak akan berfikir dua kali melakukan apapun yang ia mau walau mengorbankan segala yang ia punya.

Deg...

"Arggg..."

Seketika rasa sakit pada mata kanan miliknya membuat Minaka bersimpuh berlandaskan kedua lututnya. Rasa sakit ini, Apa yang terjadi? Kenapa ia memiliki perasaan yang tidak enak tentang kakaknya? Hubungan satu arah dimana hanya Minaka yang dapat merasakan penderitaan Naruto namun Kakaknya tidak dapat merasakan apa yang ia rasakan karena Minaka tau, Apa yang kakaknya emban merupakan tugas yang sangat berat bahkan teramat berat untuk dipikul di bahu seorang pemuda.

Jika saja, Jika saja penderitaan kakaknya dapat dibagi dengan dirinya! Ia ingin mengambil sebagian penderitaan kakaknya.

"J-Jeanne... Kita... Kita ada dimana?" Minaka mengalihkan pandangannya saat ia mendengar suara ketakutan dari seorang gadis. Gadis yang merupakan anggota timnya, Gadis yang ia tau memiliki rasa cinta satu arah kepada sang kakak dan Gadis yang dijanjikan memenggal kepala kakaknya saat ia mengetahui apa yang tidak ia ketahui.

"Entahlah, Aku juga tidak tau kita ada dimana tapi aku yakin kalau ini adalah tempat yang aman."

"Kau benar! Ini adalah Oasis terakhir manusia, Avalon!"

Kedua gadis itu mengalihkan pandangan mereka ke arah seorang perempuan berambut putih dengan tongkat kayu di tangannya. Mereka tidak tau siapa namun dengan gadis itu menyebut nama Avalon, The Forever Sealed Utopia, Dengan sangat mudahnya, Kedua gadis itu tau siapa perempuan itu.

"Apa kau... Merlin?" Tanya Jeanne dan Merlin yang mendengar pertanyaan itu tersenyum. Merlin adalah orang yang sangat mencintai manusia namun disisi lain kepribadiannya, Ia membenci manusia karena tidak dapat mengerti segala tindak tanduk mereka. Namun akhirnya, Merlin sedikit belajar tentang manusia dan secara garis besar, Manusia adalah makhluk yang sangat sulit untuk di tundukkan saat terjadi sebuah konfrontasi.

"Ya, Aku adalah Merlin. Sekali lagi ku ucapkan selamat datang di Avalon." Ucap perempuan itu dengan tangan kiri yang ia bawa di depan dadanya dan memberikan salam layaknya seorang abdi.

"Merlin, Jika kau abadi dan selalu menyaksikan apa yang ada di dalam sejarah dunia. Aku ingin bertanya..." Xenovia, Gadis itu saat ini sedang bimbang karena ingatan sebelum kegelapan menghampirinya adalah ingatan tentang kenyataan yang di ucapkan seorang Cadre Fallen Angel di hadapan mereka semua. "... Apa... Apa... Apakah tuhan memang sudah tiada?!"

Demi apapun itu, Xenovia bersumpah jika ia tidak ingin mendengar jawaban 'iya' dari mulut perempuan di hadapannya itu. Jika saja tuhan itu sudah tiada, Kenapa segala sesuatu ciptaannya masih berjalan sebagaimana mestinya. Namun kali ini jawaban yang ia dapat adalah jawaban yang sama sekali tidak ingin ia dengar.

"Iya, Apa yang kau katakan benar. Tuhan sudah tiada..." Jawab Merlin dengan wajah datarnya. Merlin seharusnya tidak memberitahukan fakta tersebut, Namun ada kalanya manusia harus membuka mata mereka sendiri dan ini juga adalah alasan kenapa wajah Merlin menjadi datar, "... Dan Kematian-'Nya' juga merupakan alasan seorang, Namikaze Naruto, Pergi dari gereja. Dan jika kalian mengetahui fakta tersebut, Kalian akan terjebak di dalam bahaya dengan Hunter yang memburu kalian semua. Itulah alasan seorang Namikaze Naruto, Pergi dari gereja dan mendapat label Heretic dari Vatikan."

Deg...

Suatu emosi kecil hinggap di hati Xenovia, Perasaan akan keegoisan untuk memiliki seniornya itu hanya untuk dirinya sudah ia kubur jauh di lubuk hatinya dan sekarang yang ada hanyalah rasa benci dan keinginan untuk membunuhnya. Namun disaat ia mengetahui fakta tersebut, Runtuh sudah benteng yang Xenovia buat untuk mengurung dirinya sendiri. Dirinya sendiri tidak percaya, Seniornya mengemban fakta yang sangat besar dan menerima semua kebencian dari Juniornya bahkan dari anggota keluarganya, Hanya untuk melindungi mereka semua.

"Je-Jeanne..." Ucap kecil Xenovia, Dan Minaka sendiri hanya bisa diam mendengar fakta tersebut karena ia sendiri tidak tau harus berbuat apa. Namun sekelebat ingatan hinggap di benaknya.

"Ingat apa yang dikatakan Senior-mu saat malam itu..." Mengingat malam itu membuat Xenovia tidak dapat berkata apapun lagi, Karena kejadian malam itu juga lah ia terus berlatih dan menjadi dirinya yang sekarang ini hanya untuk membawa pulang kepala seorang Uzumaki Naruto ke Vatikan. "... Dia berucap, 'Tumbuh kuatlah Xenovia jika waktunya tiba dan kau ingin membunuhku aku akan membiarkan nyawaku berada di bawah pedang milikmu.' Dia meninggalkan kita di Vatikan bukan karena alasan apapun melainkan ia menjauhkan kita dari masalah, Xenovia! Rasa cintanya kepada kita teramat besar sampai kita sendiri..."

"Bukan hanya kepada kalian, Rasa cinta yang teramat besar untuk semua manusia adalah apa yang dapat ku rasakan dari Namikaze Naruto. Seakan-akan dia akan menjadi Messiah kedua di muka bumi ini." Ucap Merlin yang memotong pembicaraan Jeanne, Namun yang mendengarnya mendapatkan satu hal aneh.

"Kenapa sedari tadi Merlin menyebutkan nama keluarga Namikaze yang sudah musnah bukan keluarga Uzumaki untuk nama Senior dan juga Jeanne?"

Yup, Xenovia dan semua orang yang ada di Vatikan tidak tau identitas Naruto berserta kedua adiknya. Semua orang hanya tau kalau merek bertiga adalah yatim piatu korban perang yang dibawa Vasco Strada karena memiliki kekuatan magis yang sangat besar.

"Apa yang kau ucapkan tidak selamanya benar karena kau selama ini di kelilingi tiga orang terakhir dari keluarga Namikaze, Xenovia." Ucap Minaka dan Xenovia sendiri hanya dapat terdiam mendengar hal tersebut. Keluarga paling kuat karena dapat memanipulasi waktu dan karena kekuatan mereka jugalah, Keluarga itu musnah dalam semalam. Namun selama ini, Dirinya tidak sadar jika di kelilingi tiga orang terakhir dari keluarga Namikaze.

...

...

"SERAAAAANGGGGG!"

Teriakan dari kedua kubu berhasil memecahkan ketegangan yang ada di medan perang tersebut. Sembilan ribu Fallen Angel melawan seribu manusia dengan segala senjata yang ada di dalam sejarah mereka.

Mereka semua bukanlah seorang petarung. Seorang jaksa, Seorang pengusaha, Seorang pedagang, Seorang penjaga kasir, bahkan kakek-kakek renta sekalipun membawa sebuah senjata di tangan mereka. Senjata yang berisi sejarah manusia.

Namun disaat yang sama, Kesalahan pertama muncul di formasi mereka saat seorang pria tua dengan tombak di berwarna kuning di tangannya bertarung terlalu jauh dari yang lainnya. Pria itu keluar dari formasi karena mengetahui kalau tombak yang ia miliki memiliki efek berupa kutukan yang membuatnya terus menerjang ke arah depan. Akibatnya, Saat dia melawan terlalu banyak Fallen Angel tidak ada seorangpun yang melindungi punggungnya.

Swush... Srash...

Satu tombak cahaya berhasil menyerempet bahunya, Setidaknya itu cukup untuk merangsang syaraf milik pria itu untuk mengantarkan rasa sakit hingga ia terjatuh dengan lutut yang menjadi poros tubuhnya. Namun saat sebuah Light Spear hendak mencapai kepala pria itu sebuah Perisai dengan hiasan berupa kelapa manusia dengan rambut ular melindungi pria tersebut.

Sekali lagi, Aegis di gunakan untuk melindungi hal-hal yang benar dan Achilles akan berterimakasih untuk itu.

Dan belum sempat pria itu berteriak luka miliknya sudah sembuh kembali kala sebuah cahaya menyiram tubuhnya. Pria itu tau siapa yang menyembuhkannya, Seorang pemuda yang mengorbankan mata kanannya untuk membuat dunia yang aneh ini.

"Katakuri-san, Aku akan melindungi mu." Ucap pria yang memegang Aegis di tangannya sedangkan pria yang bernama Katakuri itu hanya menganggukkan kepalanya.

Keduanya bertarung dengan sangat baik untuk dua orang yang tidak pernah bertarung karena bukan mereka yang mengendalikan senjata tersebut. Senjata tersebutlah yang mengendalikan tubuh mereka.

Sedangkan jauh di belakang, Ada Naruto yang menghela nafasnya. Sejauh ini tidak ada seorang Manusia pun yang tewas dalam menghadapi Fallen Angel dengan sepasang sampai tiga pasang sayap dan Issei setelah disembuhkan sedang melawan lima Fallen Angel dengan empat pasang sayap.

Pertarungan yang tampak sangat hebat terjadi di langit dimensi tersebut. Ledakan, Api, dan juga tabrakan angin terjadi di langit kala Issei beradu pukul dengan para jenderal Fallen Angel milik Kokabiel. Namun semenjak pertempuran ini pecah, Naruto tidak melihat keberadaan Kokabiel sekalipun.

Perang kuantitas bercampurkan kualitas melawan kualitas premium. Dan selama tidak ada yang terkena serangan fatal, Naruto masih bisa menyelamatkan mereka semua! Tidak seperti efek Phoenix Tears yang hanya menyembuhkan luka namun Luminousité Eternelle mampu menyembuhkan kelelahan anggotanya.

Beberapa Fallen Angel yang sadar kalau mereka tidak dapat menyerang orang-orang itu memilih untuk menyerang Naruto. Sepuluh Fallen Angel dengan dua pasang sayap yang dipimpin Fallen Angel dengan tiga pasang sayap menyerang Naruto yang senantiasa memegang bendera miliknya. Bagaikan seekor hiu yang mencari mangsa saat darah mencapai hidung mereka, Mereka semua mendekat namun sayangnya...

Jleb... Jleb... Jleb...

Rantai emas yang terbuat dari tubuh surgawi sebuah boneka yang digunakan untuk menyadarkan seorang raja Tiran dari Sumeria melindungi Naruto. Rantai-rantai itu menusuk sayap dan semua anggota tubuh yang digunakan untuk bergerak. Rantai yang menjadi harta berharga seorang King Gilgamesh dan dengan izin Gilgamesh jugalah Naruto bisa menggunakan rantai itu, Untuk kali ini.

Waktu bergerak lambat dalam bidang pandang Naruto. Ia dapat melihat segala sesuatu bergerak sesuai dengan irama yang ada. Pergerakan teman dan juga musuhnya, Setiap kepakan sayap, Tebasan pedang, Tombak dan dentuman saat Perisai bertabrakan dengan Light Spear, Saat manuskrip sihir mengeluarkan sihir elemen yang terkandung di dalamnya, Naruto dapat melihat mereka semua. Seakan-akan aliran waktu dunia melambat di dapat matanya.

Malaikat jatuh mati satu persatu begitu juga dari pihak manusia yang terkena serangan fatal saat tubuh mereka terhujam beberapa Light Spear. Saat jantung mereka berhenti berdetak kala senjata-senjata tak bertuan itu terjatuh untuk kesekian kalinya.

Musuhnya memang berkurang begitu juga dengan manusia yang ada di pihaknya, Luminousité Eternelle tidak dapat menghidupkan orang mati dan menyelamatkan manusia dengan luka kritis. Dan karena itulah, Ia tau apa yang harus ia lakukan setelah perang ini selesai. Menyerahkan diri kepada semua orang di Avalon dan menerima untuk diadili di bawah kekuasaan Merlin atas hilangnya nyawa manusia di medan perang ini.

Tidak satupun anggota timnya tidak menerima luka atas serangan Fallen Angel di perang ini. Paling kecil hanyalah sayatan kecil ataupun goresan kecil san yang paling parah adalah kematian.

Dirinya belum bertindak saat melihat seorang pria yang kehilangan satu lengannya yang masih bisa tersenyum memegang tombak di tangan kirinya. Bergerak kesan kemari dan menusuk Fallen Angel bagaikan seekor lebah saat sarangnya di ganggu.

Dirinya juga belum bertindak karena mau sebanyak apapun ia marah, Tidak akan ada yang berubah. Luminousité Eternelle hanya menyembuhkan dan tidak bisa menumbuhkan anggota tubuh yang hilang. Tangannya terkepal dengan erat sampai bu u-buku jarinya memutih saat memegang tongkat bendera yang ia bawa. Ia ingin sekali saja, Mengayunkan pedang, Melemparkan satu anak panah ataupun mengangkat Perisai untuk melindungi setidaknya seorang manusia yang berani berada disisinya.

Namun dirinya tidak bisa bergerak untuk sekarang ini. Mana miliknya ia sirkulasikan untuk mengendurkan otot miliknya guna mempercepat regenerasi tubuhnya karena ia tau siapa itu Kokabiel. Jika perang ini adalah sebuah Event di dalam game, Maka Kokabiel adalah bos terakhir di Event tersebut.

Ia sadar jika lawannya tidak bisa ia pandang sebelah mata. Kokabiel, Fallen Angel, Itu sangatlah berbahaya dalam sebuah pertarungan. Sama seperti Fallen Angel biasa, Kokabiel menggunakan elemen cahaya dalam sebuah pertarungan, Memanipulasi cahaya menjadi bentuk apapun yang ia inginkan. Skill uang dimiliki pria itu berbeda dari semua Fallen Angel yang pernah ia hadapi.

Close combat, Range combat, Berbagai jenis sihir astronomi dan juga sihir cahaya yang menurutnya sangat menyebalkan. Dan yang paling parah adalah pengalaman dalam sebuah pertarungan hidup dan mati sangat berbeda dengan Naruto yang masih berupa pohon muda yang sangat mudah di tutupi bayangan pohon besar.

Lalu bagaimana dengan pohon muda seperti Naruto?

Dirinya memiliki potensi untuk terus tumbuh, Tumbuh dan berkembang sampai ia bisa menyamai pohon besar. Sihir miliknya hanyalah sihir api yang tidak sengaja ia pelajari, Materialisasi sejarah berpengaruh pada matanya, Dan fisiknya adalah fisik manusia yang renta. Oleh karena itu, Ia harus menekan semua yang ia rasakan saat ini.

Dan setelah ia amati jalan pertarungan ini, Bukan hanya dirinya saja yang ingin semua ini berakhir dengan cepat. Semua manusia yang bertarung di sisinya juga, Ingin peperangan cepat berakhir walaupun mereka tidak mengutarakan apa yang mereka rasakan. Dapat ia lihat jika kedua kaki yang gemetar, Bahu yang sudah lelah, Dan juga luka-luka yang disembuhkan berulang kali pasti akan menyebabkan sebuah trauma tersendiri bagi otak mereka.

Saat musuh berjatuhan dan saat manusia menutup kedua matanya disitulah kenyataan Medan perang saat ini. Saling menghindari serangan, Saling memberi serangan, dan terus menerus terjadi tepat di hadapannya. Saat salah seorang dari mereka berhasil membunuh satu Fallen Angel, Mereka bersama membantu yang lainnya. Tidak perlu serangan yang tepat mengenai lawan namun seberapa bisa mereka berhasil menghindari serangan yang diluncurkan untuk membunuh mereka adalah yang menjadi point kali ini.

Setiap tebasan terkadang angin kencang terjadi, Setiap tebasan api panas menyembur, Dan saat semua itu sampai satu atau dua Fallen Angel yang tidak dapat menahan serangan itu berubah menjadi abu. Dan...

Boom...

Sesuatu jatuh di samping dia berdiri. Issei, Terkena serangan yang sangat fatal namun tidak sampai membahayakan nyawanya sendiri sampai Semi Armor Welsh Dragonoid miliknya hancur tapi Naruto hanya tersenyum. Naruto tau siapa itu Issei, Sampah yang berubah menjadi permata tidak akan ingin menjadi sampah untuk kedua kalinya, Karena itulah Issei tidak ingin menjadi sampah untuk kedua kalinya.

Partikel cahaya merah mulai berkumpul di tangan kirinya membentuk Boosted Gear untuk kedua kalinya. Tangan kirinya dia julurkan ke depan, lurus dengan punggung tangannya dan seketika cahaya hijau yang gemilau memancarkan cahaya-nya. Kali ini, Untuk kali ini, Cahaya itu lebih terang dari sebelumnya.

[Boosted Gear : Balance Breaker : Welsh Dragon Chain Mail]

Kali ini tekanan yang Issei keluarkan lebih dari biasanya dan Naruto tau, Bayaran yang ia ambil akan sangat membebani tubuhnya. Full armor yang menjadi manifestasi dari Red Dragon Emperor menunjukkan taringnya di medan perang. Permata hijau ada di beberapa tempat yang yang paling besar ada di bagian dada Issei yang terlihat sedang mengumpulkan mana di sekitarnya.

[Boosted Blaster]

Sebuah laser dengan satu lintasan lurus menghantam seorang Fallen Angel dengan empat pasang sayap di antara lima dari mereka. Tidak ada yang tersisa untuk kedua kalinya dan tidak ada juga keselamatan untuk semua musuh di depan Issei saat kepalan tangannya mengeluarkan api berwarna merah darah. Itu... Adalah Fire Dragon Magic milik Issei yang sudah diperkuat saat ia memasuki mode Balance Breaker.

Menyatukan kedua tangannya dan ketika Issei membuka tangannya, Sebuah bola api terbentuk. Bola api yang semakin lama semakin membesar, Tidak peduli apa yang akan terjadi Issei akan membunuh semua musuhnya karena sudah membuat sang kaisar menjadi musuhnya.

"SEMUANYA! PERGI DARI SANA!" Teriakan Naruto langsung memasuki gendang telinga semua orang. Dan bola api yang Issei buat memasuki penglihatan mereka, Mereka sadar jika saja bola api itu meledak maka cangkupan ledakannya akan menelan mereka kedalam api.

Semua orang berlari tunggang langgang menjauhi Medan perang namun beberapa harus menjadi korban karena menunjukkan punggung mereka ke arah musuh. Tidak ada teriakan, Tidak ada ekspresi kesakitan saat semua manusia itu terbunuh dan itu membuat mental Naruto terganggu karenanya.

Saat semua manusia sudah memiliki satu hati, satu pikiran, dan satu tujuan maka kata-kata tidak lagi diperlukan. Tapi, Tatapan mereka semua tetap terasa berat di pundak Naruto.

...

...

Perang dengan sembilan ribu pasukan Fallen Angel sudah berakhir. Seribu pasukan manusia hanya tersisa tiga puluh manusia yang tidak semuanya sempurna. Beberapa anggota tubuh mereka hilang, Beberapa orang kelelahan, dan beberapa orang kritis. Namun tidak ada satupun ekspresi sedih di wajah mereka melainkan ekspresi bahagia. Mereka semua bahagia, Untuk kali pertama manusia bertarung bukan dengan sesama manusia. Pertarungan melawan eksistensi supranatural, Fallen Angel, Akan selalu mereka kenang walau tidak akan dikenang sejarah.

"Issei, Kalian semua..." Semua orang mengalihkan pandangannya ke arah Naruto yang terlihat sudah mulai fit. Namun mereka tau rasa sakit yang di alami Naruto lebih daripada yang mereka alami. Mental dan juga fisik yang pemuda itu miliki kelelahan. "... Terima kasih..." Hanya mendengar kata itu saja, Mereka semua merasa senang, Akhirnya selama mereka hidup, Mereka bisa berguna dan tidak mementingkan diri sendiri sampai tergabung dalam perang ini. "... Istirahatlah disini dan aku akan mengakhiri semuanya." Namun sayang, Orang itu, Sang pahlawan, mengucapkan kata-kata perpisahan. Mereka semua terkejut dengan apa yang dilakukan pahlawan tersebut saat menendang mereka semua keluar dimensi buatan milik Naruto.

Disanalah, Seorang pemuda yang berdiri dengan gagah berani berhadapan dengan seorang petinggi Fallen Angel yang sedang duduk di sebuah tahta. Walaupun susah untuk Naruto melihat dengan benar karena dirinya sendiri belum terbiasa dengan hilangnya satu mata, Tapi ia tidak peduli. Ia harus melakukan ini.

"Sial... Aku lupa wasiatku belum ku sampaikan kepada Issei."

...

...

The Thousand Heroes

...

...

Author's Note :

Damn, Dalam satu hari ketik kebut dan UP 3 chapter. Stress!

Entahlah, Kalian sadar atau tidak kalau dalam 1 hari ini, tanggal 5 November 2021, Gw update 3 chapter

Dude, That's so Hard for Me