New Author On Fanfiction Present
...
...
Naruto ©Masashi Kishimoto
HighSchool DxD ©Ichie Ishibumi
Beberapa character yang ada di dalam Fanfiksi ini milik para Author di Jepang dan saya hanya meminjam tanpa ada niatan menjadikan ladang pencarian.
...
...
Summary :
Dia hanyalah manusia biasa, Dia yang ingin hidup dengan damai bersama dengan orang-orang yang berharga baginya, dan Dia yang selalu menjunjung nilai kemanusiaan. Ini bukanlah kisah seorang ninja, ini bukanlah kisah seorang pria mesum yang menjadi iblis namun ini adalah kisah, Dimana seorang manusia yang hanya ingin menunjukkan bahwa Manusia itu masih ada! Manusia bukanlah ternak! Dan manusia masih bisa melawan!...
Warning : Human!Naru, Weak to Strong, Human!Issei, NoHarem!, Typo, Kalimat Rancu, dan You Hate This? Simple, Just Out From This Fiction Story!
Catatan : Seluruh teori yang ada hanyalah pemikiran Fantasi liar dari penulis ataupun dari sumber-sumber luar seperti Anime, DongHua, Light Novel, ManHwa, ManHua, Atau apapun yang dapat digunakan sebagai Reverensi.
...
...
#StayAtHome
[Let's start]
...
...
"Sial... Aku lupa wasiatku belum ku sampaikan kepada Issei."
Suara gemuruh angin terdengar simpang siur di dalam dimensi itu. Walaupun penampakan darah, luka, dan semua hal yang baru saja terjadi ia coba kubur dalam pikirannya, Namun tetap saja rasa bersalah tidak luput dari dirinya. Ekspresi miliknya ia tekan, Guna menutupi kelemahannya dan kedua matanya memandang musuh didepannya mencoba untuk menemukan kelemahannya. Namun kelemahan tersebut tidak dapat ia temukan. Seakan-akan tembok raksasa sedang berdiri di depan matanya.
Tapak kakinya mulai mendekati Fallen Angel di depannya. Mata bagaikan permata bernama Shaphire bertemu dengan mata tajam seekor predator berwarna merah layaknya batu Ruby.
Kokabiel, Alasan dari semua kegilaan hari ini, Duduk di depan dirinya. Singgasana mewah yang didudukinya tidak sesuai dengan pelataran dihadapannya, Darah dan anggota tubuh setiap manusia berserta bulu-bulu hitam Fallen Angel tepat di bawah hidungnya. Satu tangan yang menampu dagu seakan-akan mengatakan kalau ia sedang bosan.
Tidak ada kesempatan sedikitpun untuk melawan Fallen Angel dihadapannya ini. Namun, Seperti pohon muda, Naruto memiliki potensi untuk menyamai Kokabiel walaupun itu memiliki kelemahan. Kelemahan yang akan membuat dirinya sendiri tidak akan pernah hidup dengan normal. Potensi berupa kreasi sihir yang ia buat untuk menembus potensi manusia.
'Belum... Belum saatnya."
Kokabiel masih memandang Naruto dengan ekspresi bosan di wajahnya. Namun tidak sekalipun Fallen Angel itu meremehkan Naruto walaupun ia manusia karena ia tau, Lebih dari siapapun, Manusia dapat menjadi makhluk terkuat di dunia ini.
Sshhh... Siiinnggggg... Swush...
Tangan kirinya yang terbebas ia hempaskan ke samping tubuhnya. Partikel-partikel cahaya mulai terkumpul dan mulai menjadi satu membuat sebuah bentuk tombak yang amat besar. Light Spear itu seketika melesat dengan kecepatan yang gila dan jika bukan karena insting Naruto yang meningkat tajam maka ia akan tewas seketika.
"Manusia..." Pria itu menatap Naruto masih dengan ekspresi bosan di wajahnya. Namun kali ini, Sebuah kesedihan juga bercampur disana. "... Adalah makhluk yang lemah. Tapi mereka selalu bisa bertahan! Saat Adam pertama turun ke dunia ini, Dia bisa bertahan hidup. Manusia juga yang membuat pertumpahan darah pertama yang ada di dunia ini. Manusia juga yang mau mengembangkan peradaban di dunia ini. Dan manusia juga yang bisa membuat Great Angel sekelas Lucifer jatuh dan menjadi Demon..." Wajah pria itu tampak sangat marah bahkan gigi tajamnya saling bertabrakan hingga membuat bunyi gemeletuk terdengar sampai tempat Naruto berdiri. "... Makhluk unik yang mengandung esensi kehancuran dan juga kehidupan. Menghargai kematian dan juga kehidupan di sisi yang sama. Terkadang baik melebihi Angel dan juga terkadang jahat melebihi Demon."
Sekarang Fallen Angel itu berdiri dari tempat duduknya. Meninggalkan singgasana miliknya dan berdiri sejajar dengan seorang manusia. Pandangan pria itu memandang Naruto dengan senyum halus yang sangat tulus dan berkata, "Pergilah, Aku tidak ingin membunuh manusia di kota ini. Tujuanku hanya ingin membunuh dua Demon's Heiress yang kau selamatkan barusan."
"Tidak bisa, Aku berterima kasih kepadamu. Pengetahuan tentang perbintangan darimu membuat kami bertahan melalui berbagai zaman. Aku mengucapkan terima kasih namun aku harus mengakhiri ini sekarang..." Ucapnya kala sebuah pedang terbang dengan sendirinya ke arah Naruto. Pedang yang menjadi kesayangan dirinya dan juga King Gilgamesh, Merodach. "... Aku akan melanjutkan mimpi mu untuk melindungi umat manusia."
"Harus ku akui kalau manusia sangat kuat dengan segala kekurangan mereka..." Kata-kata yang menunjukkan keseganan keluar dari mulut seorang Kokabiel bahkan untuk Naruto sendiri dirinya tidak dapat memungkiri kalau ia sendiri kaget setelah apa yang ia lalui dalam perang ini. "... Kalian dapat bersatu di tengah-tengah krisis dan kelemahan kalian dapat ditutupi satu sama lain."
"Satu pertanyaan dariku sebelum kita memulai pertarungan kita..." Ucap Naruto yang sedikit mengendurkan penjagaannya sendiri. Dan kemudian sebuah pertanyaan keluar dari mulutnya, "... Apa kau tidak sedih saat melihat ribuan pengikutmu tewas?"
Kokabiel yang mendengar pertanyaan Naruto langsung terbang ke langit dan melebarkan lima pasang sayap miliknya. Aura suci meledak dari arah Kokabiel membuat atmosfer di sekitar Naruto tampak semakin intens namun untuk Naruto sendiri sebuah perasaan aneh terus menggerogoti dirinya. Perasaan yang mengatakan kalau ia harus menang tidak peduli apapun itu, Perasaan yang mengatakan kalau dirinya tidak boleh di dominasi lawannya, Perasaan yang membuat sebuah beban dan rasa bangga yang amat berat untuk di pikul bahunya.
Keheningan melanda keduanya, Saling mengobservasi dan tidak ada yang memulai pergerakan pertama mereka sebelum keduanya memilih untuk menyerang bersamaan. Kecepatan yang sangat gila dengan Kokabiel yang mendekat ke arah tanah dan Naruto yang mengambang di dalam dimensi miliknya hingga tinju keduanya bertemu. Gelombang kejut menghiasi pelataran mereka dan karena kuatnya gelombang kejut tersebut, Naruto maupun Kokabiel, Keduanya terpental ke arah belakang.
Namun tidak sampai disitu, Kokabiel langsung menyerang Naruto secara membabi buta. Menangkis dan menangkis, Hanya itulah yang dapat Naruto lakukan! Dengan bantuan Sky Insight sekalipun dirinya kesulitan untuk menghindari serangan Kokabiel. Setiap otot yang melekat di tubuh Kokabiel bernafas dengan irama yang sangat bagus hingga dirinya sendiri kesulitan untuk menghindari serangan Kokabiel. Setiap sisi wajahnya terkena pukulan Kokabiel sampai tangannya sendiri gemetaran karena saat memegang Merodach.
Merodach kembali terlepas dari tangannya dan terganti dengan sebuah pedang. Pedang yang menjadi kesayangan seorang pahlawan dari Irlandia, Orang yang menjadi mentor dan juga ayah angkat dari seorang Chu Chunllain, Sétanta. Pedang berbentuk seperti bor sekarang sudah ada di tangan kanannya.
Kokabiel yang melihat itu juga melemparkan Light Spear miliknya dan Naruto sendiri menyalurkan mana miliknya, Membuat gerakan menusuk hingga sebuah jalur tujuh warna terbentuk di depan wajahnya. Sebuah tombak yang terbuat dari kompresi cahaya dan juga pelangi yang terbentuk karena pembiasan cahaya saling beradu saat berbenturan.
Tak sampai situ, Light Spear terus menerus tercipta di belakang tubuh Kokabiel dan meluncur tanpa halangan ke arah Naruto. Tak ingin mati konyol, Pemuda itu mengerahkan seluruh mana miliknya untuk meluncurkan senjata yang ada di sekitarnya. Debu berterbangan akibat ledakan yang tercipta dari benturan senjata tersebut, Angin kencang dapat menghempaskan tubuh keduanya namun sayangnya tidak dapat menggoyahkan semangat kedua makhluk tersebut. Makhluk yang berdiri demi memperjuangkan ideologi masing-masing.
Disatu sisi ada seseorang yang ingin memulai perang demi melindungi umat manusia dan sisi lainnya ada seseorang yang ingin menunjukkan kalau manusia bukanlah makhluk yang lemah. Masing-masing berdiri demi memperjuangkan apa yang mereka percayai dan tidak ada rasa mengalah sama sekali.
"The Light Shines On The Dark!"
Saat Kokabiel mengucapkan kata-kata tersebut dengan lantang, Kepingan-kepingan cahaya bagaikan kunang-kunang menyinari dimensi buatan milik Naruto. Kepingan-kepingan cahaya itu mulai membentuk puluhan, ratusan, ribuan, bahkan hampir tidak terhingga. Naruto sendiri tau apa yang Kokabiel lakukan dan apa efek dari serangan milik Jenderal Fallen Angel itu.
'Serangan yang digunakan Kokabiel bersama dengan Azazel berserta dengan pasukan miliknya. Serangan yang menghancurkan Nephilim dalam satu malam.' Pikiran pemuda itu mulai menggali informasi dari sejarah lebih dalam dari biasanya. Terus menerus sampai ia menemukan titik terangnya. Tentang sebuah dinding yang dibuat oleh seorang pemimpin suatu masa. Tenang ribuan penduduk yang menjadi tumbal proyek, dan tentang ketakutan akan invasi dari suku yang memusuhi negara mereka. Karena itulah sebuah perkamen kertas terbang ke hadapannya dengan lukisan berbentuk Eastern Dragon yang menghiasi perkamen tersebut.
This is a Symbol of Your Majesty
This is a Symbol of Your Sacrifice
This is a Symbol of Fear
I Summoned You and Manifested to Protect Me!
Show Your Splendor!
Great Wall
Dari ketiadaan tercipta sebuah tembok yang memanjang hingga ujungnya tidak dapat dilihat. Tembok itu sangat kokoh, Terlihat dengan mata telanjang pun dapat terlihat kemegahan dari tembok tersebut. Tembok yang di bangun untuk menghentikan invasi musuh sekarang digunakan untuk kedua kalinya.
Ledakan hebat terjadi kala Light Spear menghantam dinding-dinding tersebut. Debu-debu berterbangan namun kekokohan tembok tersebut tidak akan pernah bisa digoyahkan dan Naruto sendiri berada di belakang tembok itu. Berlindung dan mencoba memanggil ratusan bahkan ribuan Flintlock milik Nobunaga.
"Three Thousand Worlds : Three Line Formation"
Kali ini suara tembakan terdengar di ruang dimensi tersebut. Banjiran peluru tidak dapat dibendung karena peluru tersebut memiliki sesuatu yang sangat spesial. Anti-Mistery, Sihir memiliki misterinya tersendiri dan karena hal tersebutlah peluru yang keluar dari Flintlock tersebut tidak dapat di tahan dengan sihir perlindungan apapun dan melubangi setiap jengkal tubuh Kokabiel.
Tubuh malaikat itu berdarah-darah, Tidak ada siapapun yang dapat bertahan setelah mendapatkan luka tersebut namun berbeda dengan musuh Naruto kali ini. Level yang sangat berbeda dan Naruto sendiri harus memutar pikirannya berkali-kali lebih cepat dari sebelumnya. Terus menerus tanpa henti tembakan dari Flintlock tersebut bagaikan badai yang tidak akan pernah berhenti namun Kokabiel sendiri sadar, Ini semua tidak ada gunanya. Semua sejarah yang tercetak masih bisa menyusahkan Kokabiel termasuk dengan sejarah King Arthur dan juga anggota Knight of Round Table miliknya.
"Kalian manusia adalah makhluk yang hebat dan memang ditakdirkan menjadi penguasa dunia ini..." Ucap Fallen Angel tersebut namun dirinya sendiri mendapatkan suatu pencerahan, 'Tidak peduli apa yang mereka hadapi, Manusia akan selalu bertahan.'
Pria itu tersenyum dan kemudian dirinya sedikit demi sedikit mulai terpecah menjadi pecahan cahaya. Pecahan cahaya itu terlihat lebih jernih daripada cahaya yang terpanggil dengan sihir. Mulai dari sayap dan ujung kakinya, Semua tubuh Kokabiel terurai menjadi cahaya.
'Kalau pemuda ini berhasil bertahan maka tidak ada lagi yang harus kutakutkan karena pilar penopang manusia sangat kuat.'
Cahaya-cahaya itu berkumpul dan menjadi satu menciptakan sebuah tombak. Tombak yang teramat besar dengan corak sayap-sayap malaikat yang sangat indah sampai membuat Naruto terdiam. Bukan karena keindahan dari tombak tersebut, Sekali lagi, Bukan! Melainkan karena dirinya tau tombak apa itu.
Tombak itu terbentuk dengan mengorbankan diri Kokabiel sendiri. Tombak yang bahkan dapat menembus dimensi ini jika dibiarkan. Tombak yang terbentuk dari esensi para malaikat yaitu cahaya dari 'Tuhan' itu sendiri. Membuat Naruto sadar jika tidak ada yang dapat ia lakukan dan sekarang hanya ada dua pilihan yang tersisa.
Mengorbankan dirinya sendiri menggunakan sebuah teknik yang ia sendiri tidak ingin gunakan atau membiarkan kota Kuoh hancur berserta dengan semua eksistensi yang ada di luar pelindung Avalon. Dan Naruto sendiri lebih memilih untuk memilih opsi pertama! Tidak peduli sekeras apa Issei membantu petugas untuk mengevakuasi warga, Ia tau jika masih ada manusia di kota tersebut dan jika tombak tersebut merobek dimensi ini maka Kehancuran kota Kuoh tidak dapat di hindari.
"Demi manusia, Aku akan berdiri dan mengorbankan diriku." Ucapnya dan seketika sebuah sirkuit sihir tercetak dengan jelas di tangannya, Merambat terus menerus sampai menutupi wajah kanannya. Menyalurkan mana terus menerus sampai darah keluar dari telinga kanan dan juga pori-pori tubuhnya menyemburkan darah. Sihir yang ngorbankan dirinya sendiri sebagai material untuk mewujudkan sihir tersebut.
"History Playback!"
...
...
Di luar dimensi milik Naruto, Issei dan semua manusia yang selamat sedang beristirahat sejenak menghilangkan rasa tegang pada otot mereka. Kali ini mereka semua bangga karena menjadi saksi dari perlawanan umat manusia namun berbeda dengan Issei, Pemuda itu hanya diam karena tidak dapat bertindak untuk bersama dengan Naruto melawan Kokabiel.
Pemuda itu memandang kesekelilingnya, Bukan wajah putus asa ataupun kesedihan namun yang ia lihat adalah raut wajah yang penuh dengan kebanggaan dan juga kebahagiaan. Dirinya sendiri tidak dapat memungkiri kalau apa yang mereka rasakan adalah kebanggaan tersendiri namun kenapa mereka tidak berputus asa walaupun kembali dengan anggota tubuh yang tidak lengkap?
[Bersiaplah ini belum selesai, Rival kita sedang menuju kemari.]
Draig yang sedari pertarungan itu diam dan terus menerus mengalirkan energi miliknya yang sangat besar karena ia tau kalau naga itu sedang bersemangat. Namun kali ini, Draig membuka mulutnya dan memperingati dirinya. Hanya satu yang hinggap di dirinya saat Draig mengatakan Rival, White Dragon Emperor. Rival yang sedari awal berada di dunia ini bersama dengan Draig sampai naga tua itu sendiri lupa dimana ia memulai rivalitas mereka berdua.
[Jangan kau gunakan Dragon Slayer Magic di hadapan Albion, Paham?]
Issei menganggukkan kepalanya mendengar ucapan Draig. Dirinya sendiri sadar akan alasan dibalik larangan Draig. Mengajarkan sihir kepada manusia saat ini sama dengan melanggar tabu kaum naga karena tidak ada manusia yang dapat menahan tekanan hasrat kaum naga namun berbeda dengan Issei jika saja Albion, Rival Draig, Sadar akan kapabilitas Issei maka tidak dapat dipungkiri kalau naga itu akan membiarkan Issei dan juga Draig.
Sungguh, Jika saja ada jalan untuk menghindari perkelahian yang tercatat dalam takdir dunia maka Issei ingin memilih jalan tersebut. Dirinya sendiri lelah dan lagi karena menggunakan Balance Breaker dan juga Dragon Slayer Magic secara bersamaan sangat membebani tubuhnya, Jika saja bukan karena suntikan adrenaline yang ia bawa mungkin ia akan pingsan dan tertidur untuk waktu yang sangat lama. Dan dari kejauhan sinar berwarna putih mendekat layaknya komet di malam hari, Komet itu melaju dan kemudian turun mendekat hingga berhenti tepat di hadapan Issei.
"Maaf jika terlambat, Aku datang kemari untuk menangkap Kokabiel atas perintah Azazel." Suara seorang pemuda terdengar dari dalam helm naga putih dan Issei terus mengeluarkan aura permusuhan karena, 'Orang ini memiliki aura manusia dan juga Demon di dalam tubuhnya, Apakah dia Half-Demon?' Issei sendiri tidak dapat menemukan jawaban dari pertanyaan yang ada di dalam kepalanya. Namun makhluk apa yang memiliki aura manusia dan juga Demon secara bersamaan selain Half-Demon? Entahlah, Ia sendiri tidak tau namun berterimakasihlah kepada Draig, Karena dengan darah Draig yang mengalir di tubuhnya, Ia dapat meningkatkan persepsi miliknya.
Namun dari belakang Issei, Sebuah robekan dimensi memuntahkan seorang pemuda berambut Yellow-Orange dengan kondisi yang sangat memprihatinkan. Seluruh tubuhnya mengeluarkan darah, Lebih tepatnya seluruh sela di tubuhnya menjerit meminta pertolongan. Darah berwarna merah dan juga bau anyir membuat semua orang yang selamat berlari ke arah Naruto.
"Kokabiel... Sudah... M-Mat... Ti... Kita... Menang!" Ucapnya dan seketika pemuda itu pingsan didalam dekapan Red Dragon Emperor yang dengan sigap membopong tubuh pemuda itu. Sedangkan di sisi lain, Ada White Dragon Emperor yang berdiri terdiam mendengar hal tersebut. Jika saja, Ia pergi melawan Kokabiel maka dipastikan kalau ia akan tewas dan semua pengorbanan yang ia lakukan hancur.
"Kalau kau mendengar apa yang dikatakan Aniki ku ini, Maka tugas mu sudah selesai White Dragon Emperor. Dan jikalau kau ingin melanjutkan pertarungan antara 'Merah' dan 'Putih' maka tunggulah sampai aku pulih, Karena aku tau naga memiliki harga diri yang sangat tinggi dan mereka tidak akan melawan musuh yang lebih lemah darinya." Ucap Issei dan White Dragon Emperor atau bisa dibilang Vali hanya menganggukkan kepalanya dan pergi saat mengetahui kalau tugasnya sudah selesai.
'Jika saja aku tau kalau ini semua akan berakhir, Aku tidak perlu datang! Lagipula Barrier yang menutupi kota ini memiliki aksara yang sangat rumit.' Pikr Vali yang terbang meninggalkan tempat tersebut tanpa tau melihat kebawah dimana tumpukan bulu-bulu hitam terlihat berserakan di sepanjang jalan utama kota Kuoh dan dua orang pemuda-pemudi sedang duduk bermesraan.
"Seperti dugaan, Lord El-Melloi kalau penutupan kota Kuoh dari dunia luar bukan hanya sekedar menahan manusia disini." Ucap pemuda berambut merah marun yang sedang duduk dengan sebuah pedang bertengger di dadanya.
"Kau benar, Aku tidak tau darimana bantuan ini datang tapi sepertinya pasukan ini ada hanya untuk berjaya-jaga jika Kokabiel mati di tangan Naruto-senpai." Ucap Gadis yang bersandar di bahu kanan pemuda tersebut.
"Aku tidak tau tapi sepertinya tugas kita kali ini selesai." Ucapnya saat melihat cahaya temaram matahari yang mulai terbit terlihat dari ufuk timur. Langit biru yang terlihat indah bercampur dengan cahaya matahari yang mulai terbit membuat kedua pasangan itu sangat lega karena hari baru mulai terlihat. Begitu juga dengan masalah baru yang akan muncul.
...
...
Brakk... Brakk... Brakk...
Pintu demi pintu terbuka kala seorang pemuda yang terbaring di Urgent Bed milik pihak rumah sakit, Dengan darah di seluruh tubuhnya sudah cukup membuat semua orang tampak khawatir. Pemuda itu bukan siapa-siapa kemarin namun saat ini pemuda itu adalah seorang pahlawan yang sangat mereka hormati dan itu semua terlihat dengan ribuan orang di luar rumah sakit yang menunggu kabar dari pemuda tersebut.
Plakk...
"Kau berjanji akan mengorbankan nyawa mu sendiri untuk melindungi kakak ku, kan!" Suara tamparan dan juga isak tangis seorang perempuan terdengar di sepanjang koridor rumah sakit itu.
Seorang gadis yang mengenakan pakaian biru kehitaman adalah pelaku penamparan seorang pemuda. Pemuda yang mempertaruhkan nyawanya saat melawan lima jenderal Fallen Angel milik Kokabiel. Dan seorang pemuda yang sangat menyesal karena keadaan dari orang yang sangat ia hormati itu sedang kritis karena tindakannya. Padahal dirinya sendiri sedang dalam keadaan yang sangat tidak baik, Dengan luka di sekujur tubuhnya, Beberapa tulang retak, Dan juga ia harus mengenakan alat bantu berjalan hanya untuk berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya.
"Hentikan sikap anda itu, Nona! Hyodou-san juga terluka parah dalam peperangan kali ini." Ucap seorang dokter yang mencoba menghentikan gadis tersebut namun apa daya karena dokter tersebut juga tidak dapat bertindak banyak. Gadis itu adalah adik kembar dari sang pahlawan dan karenanya, Dokter tersebut sadar kalau hubungan antara kedua orang itu sangat dekat karena sudah dimulai sejak berada dalam kandungan.
"Maaf... Maaf... Maaf..." Hanya kata itu saja yang keluar dari mulut Issei, Pemuda yang berperang disisi Naruto. Kata maaf terus menerus keluar tanpa lelah dari mulutnya, Begitu pula dengan air mata yang mengalir tanpa henti. Rasa bersalah yang sangat amat besar sampai-sampai membuat Jeanne Team dan juga Demon yang masih ada di tempat tersebut terdiam. Bahkan untuk Daiki dan juga Saji yang menargetkan Issei sebagai Rival tidak dapat berbuat banyak selain diam. Karena keduanya tau batas kekuatan yang dimiliki, Layaknya seekor hewan yang tau mana yang bisa ia mangsa atau tidak, Layaknya insting tersendiri.
"Issei-kun.." Kali ini seorang gadis mendekati Issei yang sedang menundukkan kepalanya dan tanpa aba-aba ia memeluknya sambil berucap, "... Kau sudah berusaha dengan keras, Aku tau kalau kau menyalahkan dirimu sendiri atas kejadian ini Namun ini bukanlah salahmu."
Jeanne, Mito, Merlin, Orangtua Issei dan juga beberapa manusia yang menjadi korban selamat dalam peperangan di dimensi Naruto hanya bisa diam tanpa satupun kata yang keluar. Mereka semua tau perlakuan Jeanne itu salah karena dirinya sendiri tidak tau apa yang tanggung seorang Hyodou Issei di dalam History Requiem. Walaupun dengan berkah dan juga pecahan Excalibur yang dimiliki gadis itu, Belum menjamin kemenangan melawan Fallen Angel dengan empat pasang sayap belum lagi jika jumlahnya ada lima.
Entah sudah berapa jam mereka menunggu dan entah berapa hari mereka berada di gedung tersebut namun yang jelas adalah kondisi kota Kuoh masih hancur. Three Faction juga belum menyelesaikan pembongkaran Magic Barrier yang menutupi kota ini dan karena hal tersebutlah, Tidak ada berita aneh tentang kota Kuoh di televisi.
"Dia sudah sadar!" Teriakan seorang perawat memasuki gendang telinga semua orang yang ada bahkan orang-orang yang ada di pekarangan rumah sakit tersebut memaksa untuk masuk demi melihat sang pahlawan. Pahlawan yang sudah menyelamatkan mereka semua, Pahlawan yang karenanya mereka masih dapat melihat matahari, Dan karena pahlawan itu juga mereka bisa mengetahui dan membalas segala perlakuan yang mereka terima dari balik kegelapan, Namun...
"Kalian siapa? Dan dimana aku ini?"
Namun mereka tidak menyangka jika orang yang paling menderita di pertempuran ini, Menderita untuk kedua kalinya.
...
...
To Be Continue
...
...
