New Author On Fanfiction Present

...

...

Naruto ©Masashi Kishimoto

HighSchool DxD ©Ichie Ishibumi

Beberapa character yang ada di dalam Fanfiksi ini milik para Author di Jepang dan saya hanya meminjam tanpa ada niatan menjadikan ladang pencarian.

...

...

Summary :

Dia hanyalah manusia biasa, Dia yang ingin hidup dengan damai bersama dengan orang-orang yang berharga baginya, dan Dia yang selalu menjunjung nilai kemanusiaan. Ini bukanlah kisah seorang ninja, ini bukanlah kisah seorang pria mesum yang menjadi iblis namun ini adalah kisah, Dimana seorang manusia yang hanya ingin menunjukkan bahwa Manusia itu masih ada! Manusia bukanlah ternak! Dan manusia masih bisa melawan!...

Warning : Human!Naru, Weak to Strong, Human!Issei, NoHarem!, Typo, Kalimat Rancu, dan You Hate This? Simple, Just Out From This Fiction Story!

Catatan : Seluruh teori yang ada hanyalah pemikiran Fantasi liar dari penulis ataupun dari sumber-sumber luar seperti Anime, DongHua, Light Novel, ManHwa, ManHua, Atau apapun yang dapat digunakan sebagai Reverensi.

...

...

#StayAtHome

[Let's start]

...

...

Kuoh, Termasuk ke dalam jajaran kota paling tenang di Jepang setidaknya sebelum penyerangan pasukan Kokabiel untuk mengobarkan Scond Great War. Sekarang kota tersebut sudah menjadi reruntuhan, Bagaikan sebuah kota yang di timpa gempa bumi yang sangat kuat. Banyak bangunan yang hancur, Pecahan kaca berserakan dimana-mana, Beberapa kendaraan terlihat hancur dan juga darah yang terlihat keluar dari celah-celah reruntuhan terlihat dengan mata telanjang.

'Haruskah kau membawa pasukanmu dan juga membunuh manusia di kota ini demi memenuhi ambisi mu, Kokabiel?'

Di tengah itu semua ada seorang pemuda berambut coklat yang sedang terdiam. Kepala pemuda itu tidak tertunduk melainkan memandang semua itu dengan wajah penuh amarah dan itu terlihat jelas dari rahangnya yang mengeras dan juga kepalan tangan kanannya yang mengeluarkan darah.

'Konflik selama ratusan tahun secara tiba-tiba menghilang begitu saja setelah segala rasa sakit yang kau terima akibat kehilangan rekanmu menghilang begitu saja, Bukankah itu semua tidak adil?'

Pikirannya terus menerus membumbung tinggi mencari segala jawaban atas apa yang terjadi sekarang ini. Namun yang pasti ia terima hanya satu, lemah!

Jika saja dirinya tidak lemah, Ia bisa menghentikan semua ini.

Jika saja dirinya tidak berfikir untuk selalu diselamatkan sang kakak, Maka kakaknya tidak akan mengalami nasib seperti itu.

Jika saja ia bisa berbuat lebih, Ia bisa meminimalisir korban yang berjatuhan!

Itu semua karena dirinya lemah, Karena itu juga ia membenci dirinya sendiri.

"Hei, Kau sedang apa?"

Mendengar itu pemuda tersebut menolehkan kepalanya ke arah suara yang berasal dari arah belakangnya. Disana ia menemukan seorang pemuda berambut hitam yang sedikit lebih tinggi darinya sedang menatap dirinya dengan wajah yang penuh keprihatinan.

"Jadi, Inikah Dragon Emperor yang menguasai Dragon Slayer Magic dan seseorang yang dilatih langsung oleh Draig dan Naruto?" Tanya pemuda itu dan dengan angkuhnya ia berkata, "Lemah."

Swushh... Boom!

Mendengar itu Issei dengan sepenuh tenang melesat langsung ke arah pemuda tersebut dan mengarahkan kepalan tinjunya tepat ke arah wajah pemuda itu. Bunyi dentuman dan juga angin yang menghempaskan debu yang berserakan terdengar di daerah tersebut. Bunyi tersebut tercipta bukan karena tepat mengenai wajah pemuda tersebut namun karena menghantam sesuatu yang tidak terlihat yang melindungi pemuda tersebut.

"Kau tau?" Pemuda itu berjalan dengan santainya mengelilingi Issei yang terdiam melihat apa yang terjadi dan kembali melanjutkan ucapannya, "Jauh di selatan Jepang, Tepatnya di Asia Tenggara, Ada sebuah negara yang memiliki pejuang-pejuang hebat. Mereka tidak bertarung dengan sihir atau apapun itu melainkan sebuah kekuatan tersembunyi yang di miliki manusia."

Kepalan tangan pemuda itu langsung mengerat dan melancarkan tinjunya ke arah ulu hati Issei dari samping, "itulah Inner Spirit."

Swush... Bugh... Boom!

Tinju itu melesat dengan kecepatan yang sangat hebat dan tepat mengenai Issei hingga pemuda itu terpental ke arah reruntuhan.

'Sial... Rasanya seperti tertabrak truk!'

"Tenaga dalam atau bahasa kerennya Inner Spirit, Suatu tehnik yang dimiliki manusia dengan melepaskan pembatas tertentu. Pejuang-pejuang inilah yang membuat negara tersebut di takuti atas kekuatan mereka. Kebal terhadap senjata tajam, Langkah kaki yang seringan kapas, Dan titik paling tinggi adalah membalikkan hukum yang ada di dunia ini. Itulah Inner Spirit." Ucapan pemuda itu membuat Issei mengingat masa lalu saat pelatihan dengan sang kakak.

Tentang suatu negara yang mana merupakan bekas jajahan Jepang, Tentang suatu negara yang membuat orang-orang Jepang tidak bisa bermain dengan kasar dan sedikit memainkan peran penjilat, Dan juga tentang pejuang-pejuang terhebat yang sangat Issei idolakan setelah membaca sejarah mereka.

"Indonesia, Negara dengan sejuta keindahan dan juga pejuang yang ditakuti sampai saat ini." Ucap Issei dan pemuda itu hanya tersenyum mendengarnya. Tiba-tiba pemuda tersebut merogoh saku belakangnya dan mengeluarkan dompet, Bukan untuk mengeluarkan uang namun mengeluarkan secarik kertas yang ia simpan di dalam dompetnya.

"Bacalah itu." Ucap pemuda tersebut dan dengan sigap Issei mengambil kertas tersebut. Kata demi kata pemuda itu baca dan kalimat demi kalimat Issei pahami hingga ia membuang kertas tersebut.

"Tolong bantu aku untuk menjadi kuat, Ryu!" Tegas, Kali ini suara Issei berubah menjadi suara seorang pria yang sangat tegas. Bukan karena alasan lain, Melainkan dirinya sadar atas apa yang terjadi saat ini setelah membaca kertas tersebut.

"Tugasku disini adalah membantumu jadi tidak usah meminta pertolonganku, Teman!" Ucap Ryu yang menjulurkan tangannya kepada Issei dengan senyum di wajahnya, Bukan senyum palsu melainkan senyum tulus dan juga tatapan mata yang ditunjukkan kepada orang yang di segani.

"Tapi tidak sekarang dan tidak di kota ini, Kota ini masih di tutupi rune sihir yang tidak dapat ku pecahkan walaupun Merlin-sama tau apa yang harus ia lakukan, itu akan menjadi sesuatu yang aneh untuk pemimpin Demon dan juga Fallen Angel. Kita akan berangkat ke Indonesia, Kau juga tidak akan belajar dariku melainkan dari Inkarnasi raja-raja di masa lalu dan lagi kau akan di ajarkan seni bela diri yang selalu kami pelajari. Itu tergantung kepada mu untuk menggabungkan Karate dan bela diri yang akan kau pelajari."

"Memang jenis bela diri apa yang akan ku pelajari?" Tanya Issei sebelum ia mengambil uluran tangan dari Ryu. Sedangkan Ryu sedikit terkekeh mendengarnya.

"Bela diri kuno yang selalu diturunkan turun temurun dari leluhur kami, Silat."

Disitulah, Saat duo antara seorang Inkarnasi pangeran dari masa lalu bertemu dengan Red Dragon Emperor yang akan membawa manusia pada masa kejayaannya. Dua orang yang akan sangat ditakuti aliansi supranatural di masa depan.

...

...

Munich, Germany

"Sudah satu minggu semenjak penyerangan Kokabiel dan sampai sekarang tidak ada kabar apapun, Nee-chan!"

Di suatu ruangan, Tepatnya kantor cabang Human Faction yang berada di Jerman, Infinite Stratos. Seorang pemuda berambut hitam dengan postur tubuh yang lumayan tinggi untuk ukuran pemuda Jepang sedang berdiri tepat dihadapan seorang wanita berambut hitam panjang dengan setelah jas kantoran.

Pemuda itu tampak geram dengan apa yang ia dengar dari wanita tersebut yang mana merupakan kakaknya sendiri. Berita tentang penyerangan Kokabiel satu minggu yang lalu membuat dirinya lepas kendali untuk mengendarai mesin kebanggaan mereka semua.

"Ichika, Hentikan apapun yang akan kau lakukan seperti kemarin. Kita hanya perlu percaya kepada Naruto-kun untuk kejadian saat ini. Semua ini tidak lebih dari rencana yang sudah ia rencanakan, Kau paham?" Kata-kata dari wanita tersebut membuat dirinya sendiri terdiam. Apa maksud dari wanita di hadapannya ini? Semua ini bagian dari rencana Naruto?

"Rencana? Rencana apa maksudmu?" Tanya Ichika yang dibuat bingung dengan apa yang di ucapkan kakaknya itu namun kakaknya hanya tersenyum dan berkata, "Masih terlalu cepat untuk mu mengetahui rencana tersebut."

"Kalau begitu biarkan aku pergi ke Jepang dengan Houki."

"Hooo... Tujuan mu menjenguk atau berkencan dengan pacar mu?" Kata-kata yang terlepas dari mulut kakaknya sukses membuat Ichika bersemu dan itu cukup membuat Chifuyu tersenyum karena melihat tingkah lucu adiknya itu. Sudah cukup lama dirinya tidak melihat adiknya bahkan semenjak Naruto bertemu dengan mereka dan menjadi bagian keluarga kehidupan mereka tampak lebih berwarna, Lebih dari biasanya. Hubungan Ichika dan juga Naruto sangat lekat bahkan sampai membuat Chifuyu cemburu karena tali persaudaraan antar keduanya.

"Dia adalah saudaraku, Dia adalah orang yang berharga bagiku, Dia juga keluargaku." Rahangnya mengeras menahan amarah dan kepalan tangannya juga semakin mengerat, "Aku hanya ingin melihat bagaimana keadaannya saat ini. Dia sangat menderita, Kedua adiknya menjaga jarak dengan dirinya dan lagi dia tidak memiliki siapapun selain kita. Bahkan semenjak bertemu kita, Dia adalah orang yang paling mengerti diriku. Kau tau, Kak? Semenjak kau menjadi ketua Infinite Stratos, Hanya dia orang yang menjadi rumah untuk ku. Bahkan jika di perintahkan untuk memilih antara Houki dan juga Naruto, Aku akan memilih Naruto." Ucapnya dan Chifuyu yang tersenyum mendengar itu kemudian bertanya, "Kenapa?"

Ichika hanya terdiam dan kemudian menghela nafasnya, Melangkahkan kakinya menuju pintu keluar seraya berkata, "Perempuan hanya sementara tapi persaudaraan kami selamanya, Nee-chan. Aku tau mau bagaimanapun Houki bisa meninggalkan ku namun Naruto selalu ada untuk ku karena ia adalah saudara ku. Aku permisi."

'Seharusnya kau tidak kesana, Kedua adik Naruto ada di Kuoh dan lagi Magic Barrier di kota tersebut belum terbuka.'

...

...

"Terima kasih atas makanannya."

Orang-orang yang selamat saat ini berada di rumah sakit yang menjadi tempat berkumpul para survivor yang selamat. Beberapa orang pria terlihat mengenaskan dengan bagian tubuh yang tidak lagi utuh, Kehilangan lengan ataupun anggota tubuh lainnya, Namun tidak tampak kesedihan terukir di wajah mereka. Kebahagiaan dan juga canda tawa mewarnai kemenangan umat manusia untuk pertama kalinya dalam sejarah.

Makanan yang mereka makan saat ini hanyalah bubur kaleng yang mereka kumpulkan dari supermarket terdekat karena sayuran dan juga daging sudah tidak dapat di makan karena membusuk akibat padamnya aliran listrik di Kuoh. Cahaya dari api unggun temaram menjadi penerangan semua manusia di kota tersebut saat ini.

"Haaa... Kalau begini terus apa yang akan terjadi kedepannya?" Gumam seorang pemuda berambut biru yang sedang bertugas untuk membagikan makanan. Pemuda itu tampak sangat depresi setelah melihat pertarungan seseorang yang ia tandai sebagai rivalnya namun bukan semangat untuk menyamai rivalnya, Dirinya merasa tidak dapat menyamai Red Dragon Emperor tersebut.

Aomine Daiki, Seseorang yang beruntung karena di dalam dirinya bersemayam salah satu dari para naga yang di berikan gelar Dragon King. Namun setelah melihat pertarungan di hari itu, Dirinya merasa bahwa celah antara dirinya dan juga Issei tidak dapat di tutupi mau bagaimanapun ia berlatih. Sekarang ia sadar jika selama ini ia salah karena menjadi pribadi yang sombong dan lagi jika suatu saat manusia menyatakan pembelaan diri kepada para makhluk supranatural maka tidak menutup kemungkinan kalau perang dengan bangsa Demon akan terjadi.

'Jika itu terjadi, Sekali saja aku ingin melawan Hyodou walaupun aku tau hasilnya seperti apa.' Pikirnya kala melepas apron yang menjadi pelindung pakaian yang ia kenakan dari noda dan berjalan mendekati kerumunan survivor dengan semangkuk bubur kalengan di tangannya.

Sekarang semua orang di kota Kuoh sudah mengetahui eksistensi supranatural juga kalau Naruto, Issei dan juga squad adiknya memiliki kekuatan untuk menuntun manusia melawan balik penderitaan kali ini. Bahkan untuk gadis-gadis di Kuoh Academy semakin tergila-gila dengan Issei setelah kejadian kali ini, Jika saja ia tidak sombong dan mencoba menutupi kelemahannya dengan latihan teratur maka mungkin saja, Ia juga akan mendapati pujian dan sorak sorai warga Kuoh.

[Hooo... Kali ini kau sudah menyadari kesalahanmu?]

Suara berat yang menggema di kepalanya itu adalah suara dari Kirin salah satu dari Five Dragon King. Dirinya sendiri tidak pernah menyadari keberadaan Kirin dan menjalin hubungan dengan baik karena ia menganggap Kirin sebagai sumber kekuatan dan ia memiliki hak atas kekuatan tersebut. Namun ia salah.

'Aku tau aku salah, Jadi bisakah kau membuatku setara dengan Red Dragon Emperor itu?' Pikirnya kala melihat ke arah bubur yang ia pegang kali ini. Yah, Setidaknya setara dengan Red Dragon Emperor akan menjadi sesuatu yang menjadi cukup memuaskan.

[Mau sampai kapanpun kau tidak akan bisa menyamai kekuatan pemuda itu. Sejak dulu, Draig dan Albion, Selalu menjadi naga yang di takuti setelah para Dragon God. Namun tidak menutup kemungkinan kau bisa sejajar dengannya kalau kau mau mendengar saranku.]

"Kalau begitu, Mohon bantuannya Kirin." Ucap kala memasukkan sesendok bubur kedalam mulutnya. Keadaan di pemukiman tersebut sangat ramai, Sama sekali tidak ada yang namanya kemuraman ataupun kesedihan bahkan setelah bencana besar seperti penyerangan Legion of Kokabiel sekalipun mereka masih bisa duduk tertawa bersama di depan api unggun.

Tak jauh dari tempat Daiki duduk, Terlihat tiga orang gadis sedang berbicara satu sama lain. Dari seragam yang mereka kenakan mereka adalah Siswi dari Kuoh Academy, Terlebih mereka adalah orang-orang yang berpengaruh di Academy tersebut.

"Jadi Sona, Apakah ada cara kita bisa mengirim pesan dari sini?" Ucap seorang gadis berambut merah dengan tangan yang berpangku di bawah dadanya. Wajahnya menyiratkan kalau dirinya lelah dan juga kesal berada di tempat ini. Lelah karena sedikitnya jam tidur dan juga kesal karena tidak bisa beristirahat dengan nyaman seperti yang sudah-sudah.

"Tidak ada yang bisa ku lakukan, Rias. Kubah ini seakan-akan menutup akses kita ke dunia luar. Walaupun kita setahun berada di kota ini kakak kita tidak akan menyadari apa yang terjadi karena kita sendiri jarang mengirimi mereka surat." Ucap seorang gadis berambut raven dengan kacamata yang membingkai wajahnya. Sona, Gadis yang merupakan calon penerus keluarga Sitri dan saat ini menjabat sebagai seorang Ketua Osis.

"Lalu apa yang harus kita lakukan, Rias? Sona? Naruto-kun kehilangan ingatan bahkan untuk menjenguknya saja kita tidak bisa karena Hyodou, Emiya, Ryu, dan juga Tohsaka menjaga pintu masuk ke ruangan Naruto-kun secara bergilir. Walaupun kita bisa masuk ada perwakilan Vatikan yang mana bisa menyebabkan konflik antara Angel dan Demon." Mendengar itu membuat Sona dan juga Rias tampak lebih kesal dari saat ini. Itu benar, Jika saja mereka semua tidak menyobongkan diri bahwa mereka bisa menghadang Kokabiel maka mereka semua tidak akan terjebak di kota ini. Belum lagi fakta bahwa mereka tidak dapat mengirim pesan ke luar wilayah Kuoh sudah cukup membuat kelompok tersebut semakin stress. Belum lagi, "Karena Naruto-kun kehilangan ingatan kita tidak dapat mencari cara untuk menghilangkan Soul Contract itu." Mengingat hal tersebut membuat Rias tambah berputus asa, Jika saja dirinya tidak dengan gegabah dan juga tidak menyobongkan apa yang ia bisa maka dirinya tidak akan pernah terjerat kontrak bodoh tersebut. Yah, Jika saja itu semua belum terjadi, Namun masalahnya Nasi sudah menjadi bubur.

"Lakukan saja yang kalian mau!" Ucap Rias, Kemudian dirinya pergi meninggalkan Sona dan juga Akeno dengan amarah yang memuncak. Yah, Siapa yang tidak marah jika derajatnya yang mana merupakan seorang bangsawan Demon harus menuruti ketentuan manusia secara mutlak?

Menghiraukan Rias yang sedang tidak karuan. Jauh di dalam rumah sakit tepatnya di bagian taman belakang, Dimana tempat orang-orang yang mencoba bertahan hidup dengan penyakitnya merasakan kesegaran udara, Terlihat banyaknya mayat manusia. Bukan puluhan melainkan beberapa gunung tubuh manusia ada di taman tersebut jika dilihat dengan mata telanjang mungkin berjumlah ratusan. Dan tak jauh dari tempat tersebut seorang gadis berambut putih dan juga seorang pria yang memiliki setelan berwarna putih berdiri dan melihat tumpukan mayat tersebut dari kejauhan.

"Hufft..." Pria itu menghela nafasnya dan wajahnya seketika mengeluarkan kesedihan yang kentara namun ia mencoba untuk tetap tegar saat melihat rekap korban yang di temukan selama seminggu ini. "471 orang tewas karena penyerangan ini dan 269 orang luka-luka termasuk orang-orang yang mengikuti Eiyuu-kun ke medan perang. Kira-kira begitulah rekap korban dalam penyerangan ini, Merlin-sama."

"Tak peduli zamannya, Korban jiwa tidak akan terelakkan jika sesuatu seperti perang terjadi. Aku sudah melewati berbagai zaman dan menjadi saksi bisu atas semua perumahan darah di dunia ini jadi yang bisa kita lakukan hanyalah memakamkan mereka semua dengan layak." Ucap Merlin dan kemudian ia mulai bertanya, "Jenis pemakaman apa yang biasa di gunakan orang-orang di kota ini?"

"Yah, Karena Kuoh termasuk wilayah yang sedikit memiliki ruang lingkup hijau maka kremasi adalah jawaban setiap ada seseorang yang meninggal." Mendengar itu membuat Merlin menundukkan kepalanya. Pada dasarnya, Kremasi adalah suatu jenis pemakaman yang sama sekali tidak menghormati jenazah seorang manusia. Namun apa mau dikata, Kremasi juga merupakan salah satu dari cara pemakaman yang sudah ada berabad-abad yang lalu.

"Laksanakan pengkremasian, Aku tidak sanggup melihat roh mereka menangis." Ucap Merlin dan kemudian gadis itu pergi menjauh dari taman tersebut meninggalkan dokter dan juga orang-orang yang mulai mencoba untuk membakar tumpukan mayat itu.

...

...

"Tuan ku, Menurut laporan yang berasal dari Demon yang hidup di dunia atas, Mereka merasakan suatu keanehan di kota Kuoh."

Pada sebuah ruangan di Underworld, Seorang pria sedang berdiri tepat dihadapan seseorang berambut merah. Sirzech Gremory, Salah satu dari Demon terkuat yang menyandang gelar Demon King Lucifer yang ia ambil dari keturunan Demon sebelumnya.

Great War, Perang yang terjadi di Underworld beberapa ratus tahun yang lalu. Perang yang mengakibatkan kerugian di pihak iblis saat kehilangan Demon King Lucifer sebagai pemimpin mereka dan di lanjutkan Civil War antara Demon yang memegang ideologi lama dan ideologi baru, Perang yang mengakibatkan hilangnya 36 Demon Pillar dan setengah polulasi Demon.

"Kirimkan perwakilan ke Grigory dan..."

"Itu tidak perlu, Sirzech. Aku sendiri sudah datang kemari."

Saat Sirzech mulai berbicara untuk mengirim utusan diplomasi dari kaum Demon ke Grigory, Markas besar kaum Fallen Angel, Seseorang memotong ucapannya. Di hadapan Demon King itu seorang pria dengan janggut tipis dan warna rambut campuran sedang berdiri dengan sebatang rokok di tangannya.

"Apa yang anak buah mu katakan itu ada benarnya. Menurut seorang Informan berhargaku, Kuoh sudah rata dengan tanah karena Occult War dan dalang di balik perang tersebut adalah Legion of Kokabiel." Mendengar itu kedua mata sirzech membola dan melotot ke arah orang tersebut hingga kapan saja bisa keluar namun pria tersebut dengan cepat mencoba untuk membenarkan kesalahpahaman di ruangan tersebut.

"Jadi masalahnya adalah seperti ini, Kokabiel adalah orang yang sangat sulit di atur dan salah satu dari sekian banyak tumor di organisasi yang aku pimpin. Ia tidak terima dengan hasil dari Great War sebelumnya dan karena hal tersebutlah ia menyerang Kuoh atas nama dirinya sendiri dan target penyerangan tersebut, Kau pasti sudah tau." Ucapnya dan seakan sadar dengan apa yang dikatakan pria itu, Sebuah energi merah kehitaman mulai terbentuk di tangan Sirzech. "Wow wow wow... Tenang dulu, Asal kau tau adikmu dan juga adik dari Leviathan selamat dari penyerangan tersebut. Ohh... Bukan! Bukan karena pemilik Dragon King Kirin dan juga Dragon King Vvitra melainkan seorang pemuda yang melindunginya. Pemuda yang ingin kau lenyapkan beberapa hari yang lalu." Ucap pria tersebut dengan sepuluh tombak cahaya yang tercipta tepat di belakangnya dan menargetkan Sirzech sebagai target.

"Jadi apa mau mu, Azazel?"

"Cukup mudah..." Pria itu, Azazel, Mengeluarkan sebuah berkas dari dalam sakunya dan membiarkan berkas tersebut melayang ke arah Sirzech dengan bantuan sihir. "Diplomasi dengan pemuda tersebut dan aliansi faksi kudus."

"Yah, Kau tau? Entah bagaimana caranya anak tersebut selamat menghadapi Kokabiel yang mana seorang Jenderal terkemuka pada masanya. Sky Insight, Sebuah Magic Eye yang sangat misterius dan termasuk kedalam jajaran Magic Eye terkuat. Mengingat kemampuan untuk mematerialisasikan sejarah maka pemuda itu adalah seseorang yang sangat berbahaya. Jadi tidak ada salahnya kita memulai Diplomasi dengan pemuda itu dan membiarkan pemuda itu berdiri bersama kita daripada menjadikannya musuh, kan?"

Mendengar itu Sirzech tampak sedikit tenang dan mulai menimbang keputusan yang akan ia ambil. Pemuda itu adalah orang yang selalu membantunya untuk menjalankan misi yang mustahil untuk di berikan kepada High Class Demon dan karena Ultimate Class Demon dapat di hitung dengan jari maka ia mengirim pemuda tersebut untuk menjalankan misi dan tentunya dengan bayaran yang tidak main-main. Belum lagi pemuda itu sudah menyelamatkan adiknya.

"Lalu bagaimana jika pemuda tersebut tidak menolak?" Tanya Sirzech dan Azazel yang sudah memprediksi hal tersebut menjawab dengan senyum jahat di wajahnya, "Jawabannya cukup mudah, Perang! Dan itulah alasan di balik Aliansi yang aku ajukan. Dengan pergabungan ketiga Fraksi Kudus maka tidak mungkin manusia dapat menentang kita. Manusia hanyalah makhluk yang bodoh namun mereka dapat belajar dan sebelum mereka belajar warisan dari leluhur mereka juga sebelum mereka menemukan manuskrip kuno tentang sihir yang aku ajarkan, Maka manusia tidak memiliki kemungkinan untuk menang."

"Belum lagi dengan bantuan para Angel dan juga Fallen Angel, Para manusia yang bodoh itu dapat dengan mudah kita kendalikan. Dan jika mereka mencoba melawan maka Legiun dari ketiga pasukan akan meratakan peradaban manusia. Dan saat rasa takut dan terror menyerang hati mereka, Mereka akan menurut seperti ternak."

Di ruangan itu Azazel dengan bebas mengatakan apa yang ia pikirkan saat ini. Dulu dirinya memang mencintai manusia dan mengajarkan mereka sihir untuk melindungi diri dari ancaman makhluk supranatural namun setelah berabad-abad berlalu, Manusia mulai merasa bahwa sihir tidak di perlukan lagi dan karena itu juga sedikit manusia yang bisa menggunakan sihir.

"Kalau begitu, Aku setuju untuk membuat Aliansi ini." Mendengar jawaban Sirzech membuat senyum di wajah Azazel semakin lebar.

"Kau dengar itu, kan? Michael?"

Dan dari suatu tempat sebuah cahaya turun menampilkan seorang pria berambut kuning keputihan lengkap dengan Halo ring di atas kepalanya, Lima pasang sayap merpati dan pakaian serba putih belum lagi dengan aura suci yang terpancarkan dari makhluk tersebut. Pemimpin para Angel, Seseorang yang mengatur sistem di surga setelah kematian tuhan dan salah satu dari ciptaan paling awal.

"Dengan ini, Aliansi Faksi Kudus terbentuk. Darah dan juga duka di masa lalu adalah masa lalu dan sekarang adalah masa depan dimana tujuan kita adalah membawa Faksi Kudus sebagai Faksi paling berkuasa." Ucap Michael saat membacakan isi deklarasi tersebut. Isi deklarasi itu tampak berisi kearoganan Faksi Kudus dan kenapa Michael tidak terjatuh? Jawabannya karena ia hanya membaca dan mengucapkan hal tersebut dari hatinya langsung. Ia menyadari hal tersebut karena ia adalah makhluk yang mangawasi sistem surga dan menemukan celah di dalam sistem yang mengatur para Angel.

"Aku harap tidak ada perlawanan dari manusia seperti Great War."

"Yah, Aku juga berharap seperti itu setelah berhadapan dengan orang tersebut."

"Ahh... Kau mengingatnya, Sirzech?"

"Tentu saja, Dia adalah makhluk yang seharusnya tidak ada di pihak manusia. Orang yang dapat meninggalkan luka di dada Leviathan terdahulu yang memiliki kulit yang teramat keras, Orang yang memiliki gelar King of Hero. Ku harap tidak berhadapan dengan orang itu lagi."

Yah, Diskusi antara ketiga pemimpin suatu ras itu menunjukkan ketakutan mereka pada potensi manusia. King of Heroes, Gilgamesh, Pada dasarnya ia bukan 100% manusia. Eksistensi yang melampaui manusia dan mendekati ranah dewata dan ia adalah makhluk yang tidak dapat di pandang sebelah mata, Makhluk sekuat itu berdiri di sisi manusia. Obrolan ringan dan juga rencana mereka diskusikan di ruangan tersebut. Tentang rencana-rencana yang akan mereka lakukan di masa depan. Namun sayangnya mereka tidak tau kalau manusia memiliki organisasi yang melindungi mereka.

...

...

"SENIOR!"

Nama ku adalah Xenovia Quarta, Seorang yatim piatu yang di pungut Vatikan. Saat itu, Saat anak-anak perempuan lainnya mengambil pakaian suster untuk menjadi suster di gereja, Aku memilih mengambil pedang dan mengabdikan diriku pada Vatikan.

Disanalah aku bertemu dengan dia, Seorang pemuda yang tampak indah untuk dipandang. Senyum secerah matahari, Mata biru laut yang sangat indah dan juga perlakuan baik kepada siapapun, Telah memikat hatiku. Dia adalah Uzumaki Naruto, Senior yang juga menjadi mentor dari tim yang mana aku berada di dalamnya. Pria yang kuat, Pria yang memiliki rasa keadilan yang tinggi dan juga pemuda yang memiliki pribadi yang dewasa berbanding terbalik dengan fakta bahwa umurnya hanya 1 tahun lebih tua dariku.

Teknik pedang yang aku pelajari saat ini adalah hasil latihan darinya. Menggunakan daya gravitasi sebagai pembantu untuk menghentakkan Greatsword menjadi masukan yang berkesan bagi diriku dan menjadi pupuk pendorong agar aku tumbuh.

Aku mencintainya.

Aku menyayanginya.

Aku ingin selalu berada disisinya.

Namun saat melihat keadaannya saat ini rasa sakit hinggap di dadaku. Sakit! Teramat sakit! Bagaikan tombak yang tak terhitung jumlahnya menghujam diriku tanpa lelah. Dirinya saat ini hanya bisa terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Dan yang paling membuatku sakit adalah senyuman di wajahnya yang tidak pernah luntur seakan menerima apa yang sudah terjadi pada dirinya.

Namun kali ini amarah yang sangat kuat meledak di hatiku saat melihat seorang gadis, Demon, Mengeluarkan sihir berwarna merah kehitaman yang diarahkan tepat ke arah seseorang yang ku cintai.

Swushh... Boom...

Tanpa pikir panjang aku berlari dan melepaskan sebuah tendangan ke arah gadis itu namun tak di sangka gadis itu bisa menangkis seranganku dengan menyatukan kedua lengannya. Bunyi dentuman tidak terelakkan dan saat itu juga kain pembungkus Excalibur Destruction milikku terlepas...

"Apa yang akan kau lakukan sekarang, Gremory?" Pedang sudah terhunuskan tepat ke arah Gremory yang menatap diriku dengan pandangan tidak suka. Pertarungan pertamaku melawan seorang High Class Demon.

...

...

To Be Continue

...

...

Hallo, Wahh... Sebelumnya aku hanya upload upload saja dan belum membaca kolom Review sama sekali tapi terima kasih atas dukungan kalian untuk fict ini. Sungguh!

Ku rasa hanya segini yang bisa ku berikan untuk kalian, Maaf kalau tidak bisa berusaha lebih banyak tapi ini sudah batas maksimalku.

Umm... Sekali lagi aku tekankan kalau ini adalah fict dengan pair biasa tanpa adanya Harem. Yah entah kenapa melihat Harem diriku sendiri muak karenanya, Apalagi dengan Harem yang di isi lebih dari 10 wanita atau lebih. Yah, Diriku sendiri tidak menghujat kalian yang menyukai Harem tapi kalau untukku pribadi, Gk dulu deh.

New Author On Fanfiction, Ciaaaooo