"Kalau aku ditanyai siapa yang paling kusayangi, aku akan kesulitan menjawab. Sudah pernah dengar ada anak kembar tujuh? Pasti belum, 'kan?"
Suara itu tenang namun terdengar riang dalam sebuah ruangan bernuansa putih.
"Tapi kalau disuruh memilih satu, aku pilih Kak Blaze. Bukan berarti aku nggak sayang Duri atau Kak Gempa, atau Solar atau Kak Taufan atau Kak Halilintar ... Aku sayang mereka semua, tapi terlebih-lebih pada Kak Blaze. Dia dan aku seperti api dan air. Dia suka main basket dan aku suka tidur. Dia banyak bergerak dan aku malas bergerak."
Seseorang balas terkekeh dengan suara renta. "Yang bertolak belakang biasanya malah saling membutuhkan. Benar tidak?"
Suara yang pertama melantun kembali, "Nah, mungkin ada benarnya, Tok Kasa. Dan hanya Kak Blaze yang bisa membangunkanku dari hibernasi. Dia—"
Orang yang dipanggil Tok Kasa itu menyela, "Kejap, tunggu dulu. Blaze itu kembar nomor berapa tadi?"
"Kak Blaze empat, aku lima."
"Kau nomor empat ..." Tok Kasa mengerutkan dahi, menghitung dengan jari.
"Ish, Tok Kasa. Aku nomor lima."
"Heeeh? Kalian kembar berapa tadi?"
"Tujuh, Tok."
"Sampai lupa. Siapa yang nomor tujuh? Halilintar?"
"Solar."
"Sepertinya Tok harus tulis nama kalian semua biar tidak lupa," kekeh Tok Kasa lagi, menatap pemuda berumur tujuh belas tahun di hadapannya dengan mata berbinar jenaka. "Sudah selesai, kamu boleh pulang, Ice. Titip salam buat kakakmu, Glass, ya."
"Namanya Blaze ..." Ice sampai bosan mengoreksi, tapi dia ikut tersenyum di balik masker. "Terima kasih, Tok Kasa."
"Oh iya," ujar Tok Kasa lagi ketika Ice bangkit dari kursi, "Nama kalian bertujuh semuanya unik. Tapi kenapa tiga saudaramu namanya macam bencana alam? Angin 'taufan' dan 'gempa' bumi, lalu satunya … siapa tadi satu lagi?"
"Halilintar."
"Ah, iya, Halilintar. Orang tua kalian kerja di badan geofisika?"
Ice mengulum senyum geli. "Bukan, Tok, kerja di Kedutaan Besar."
Tok Kasa mengangguk-angguk, sepertinya asyik memikirkan sesuatu. Ice sudah hendak duduk lagi ketika pria itu mendadak berkata, "Sudah cukup, Nak. Pesan terakhirku … si Plaza itu, jaga dia baik-baik, ya."
"Siap, Tok ..." Kali ini Ice tak lagi mengoreksi, nama Blaze memang paling bikin lidah berbelit di antara mereka bertujuh—kecuali jika orang itu cadel, mungkin akan bilang nama Halilintar-lah yang paling rumit. Dia membungkuk. "Terima kasih. Assalamualaikum."
.
.
.
.
.
.
.
.
BoBoiBoy (c) Animonsta Studios
Through the Darkness (c) Roux Marlet
-Penulis tidak mengambil keuntungan material apa pun dari cerita ini-
Alternate Universe, Elemental Siblings without super powers
Family, Drama (more genres ahead)
Sequel of "Bridge over Troubled Water"
.
.
.
.
.
.
.
.
Bab Satu: Pulang
.
.
.
"Sudah?" Terdengar suara Halilintar menyambutnya di depan pintu ruang konseling. Kakak sulungnya itu rupanya menunggui sambil berdiri bersandar ke dinding, kedua tangan dilipat di depan dada, topi hitam dengan lidahnya terarah ke depan agak menutupi wajahnya yang sudah terbungkus masker.
Ice mengangguk dengan perasaan bersyukur dan terharu. "Yang lain di mana, Kak?"
"Pesan taksi online. Lagi cari yang kapasitasnya bisa berlima." Halilintar beranjak pelan dari dinding, meraih tas kecil berisi obat-obatan milik Ice di kursi.
"Berlima?" ulang Ice tak paham. "Berlima satu taksi? Kukira kita akan perlu bagi dua taksi kalau bertujuh." Dia berjalan mengikuti Halilintar yang sudah duluan menyusuri lorong rumah sakit.
"Aku bawa motor, bisa bonceng satu. Tapi kamu ikut mobil."
"Oh," sahut Ice singkat. Kok bisa Halilintar bawa sepeda motor sampai ke sini? Bukannya rumah sakit ini jauh sekali jaraknya dari rumah mereka? Ice menyimpan pertanyaannya di dalam hati karena kakaknya itu tampak tak ingin ditanyai. Nanti saja kalau mereka betulan sudah di rumah.
"Tadi pada ke sini naik apa?" Ice menyuarakan pertanyaan yang dirasa paling relevan untuk saat ini. Sudah lama sekali Tok Aba tak lagi sanggup menyetir mobil dan agaknya kakeknya itu memang tak ikut ke rumah sakit ini.
"Numpang mobil tukang pos. Tapi masa kita numpang gratis bolak-balik."
Setelahnya hening. Ice memikirkan seperti apa saudara-saudaranya berdesakan dalam mobil pos.
"Sudah paham penyakit dan obatmu?" tanya Halilintar lagi, menoleh ke arah adiknya dengan perhatian yang tak kentara. "Obatnya diminum dua kali sehari di jam yang sama persis, jangan sampai lupa."
"Baik, Kak," Ice menyahut patuh. "Tadi Dokter Shielda menjelaskan dengan sangat jelas." Dan menyenangkan, tambah Ice dalam hati. Dokter internis wanita itu rupanya juga punya saudara kembar, jadi dia bisa berempati pada Ice. Sepercik rasa bersalah masih menghantuinya, tapi bukan lagi perasaan bersalah yang disembunyikan terhadap Solar dan Duri, kedua adik kembarnya. Ice sudah membuat orang serumah khawatir: enam saudara kembarnya dan Tok Aba. Dokter Shielda yang saudara kembarnya cuma satu saja tiap hari cemas kalau sang kakak kembar, Sai, yang adalah kepala polisi, tak kunjung pulang ke rumah. Ini Ice terbaring koma selama empat belas hari!
"Itu mereka. Sudah dapat taksi rupanya."
Suara datar Halilintar menggugah Ice dari lamunannya. Benar saja, mereka sudah tiba di ujung lorong yang terbuka ke arah halaman parkir.
"Ice!" Blaze berseru dari kursi sambil melambaikan tangan. Taufan buru-buru membantunya berdiri. Duduk agak jauh dari mereka ada Gempa, Duri, dan Solar, sementara sebuah mobil terparkir beberapa meter di depan.
"Mau peluk Kak Ice!" pekik Duri sambil berlari ke arah Ice dan Halilintar.
"Nggak boleh Duri, di rumah saja," si sulung mencegah. "Ayo Duri, mana helmmu. Kita perlu beli obatnya Tok Aba dulu di jalan."
Si anak nomor enam mendesah kecewa. "Duri ambil helm dulu. Helmnya ditaruh Solar di bawah kursi." Dia kembali ke kursinya di mana Gempa dan Solar sedang membereskan bawaan mereka.
"Lho, Duri yang ikut Kak Hali naik motor?" tanya Ice selagi Taufan dan Blaze mendekat.
"Iya," jawab Halilintar, mempercepat langkahnya ke arah Solar dan Gempa. Dia menyerahkan bungkusan obat Ice kepada Gempa lalu mengoperkan sesuatu ke tangan si bungsu sebelum menyeret Duri ke arah parkiran sepeda motor. Duri masih merengek-rengek dan melambai ke arah Ice yang membalas dengan riang. Ice tak bisa melihat benda apa yang Halilintar berikan ke Solar barusan, tapi rupanya Solar malah melempar-lemparkan benda itu di tangannya sambil bicara pada Gempa.
Kotak kecil pipih … bedak wajah? Buat apa Halilintar pakai kosmetiknya Solar?
"Ice! Ayo kita pulang!" Blaze berseru lagi, langkahnya lebih mantap dibantu Taufan. "Kita berdua duduk di tengah biar nggak usah manjat-manjat!"
Ice mengerjap, senang akan sebelahan dengan Blaze. "Yang di belakang, siapa?"
"Kak Taufan dan Kak Gem. Solar minta di depan," sahut Blaze.
"Biar bisa puas ngaca di spion," imbuh Taufan dengan mata berkilat jahil.
"Kak, aku bisa dengar, lho," seru Solar dari jauh.
"Sudah, sudah," balas Gempa menengahi bercampur geli, mendekati pintu mobil. "Ayo naik, nanti Kak Halilintar dan Duri malah sampai rumah duluan."
Gempa naik disusul Taufan, yang sudah memastikan Blaze aman di gandengan Ice. Solar membuka pintu depan dan masuk.
"Lho, Paman petugas delivery burger 'kan?" seloroh si bungsu, mengenali paras pria paruh baya yang biasanya berkendara motor dan mengenakan topi berbentuk burger itu. "Sejak kapan jadi driver taksi?"
"Pandemi, Nak. Paman cari cara lain buat penghasilan," kekeh pria itu di balik maskernya. "Sudah masuk semua?"
Ice yang terakhir masuk, menutup pintu mobil. "Sudah, Paman."
Mobil pun melaju, diiringi lantunan musik dari radio.
"I'm fire … and I'm water … kau memberiku kuasa~!"
Taufan dan Blaze ikut bernyanyi riang karena mengenali lagu yang diputar sementara Gempa bersenandung. Solar sih diam saja di depan, tapi kelihatannya dia memang mengincar kaca spion. Ice merasa senang dengan awal perjalanan itu, tapi dia yang punya banyak pertanyaan mengawalinya dengan yang dikiranya paling ringan, "Nggak apa-apa Duri yang ikut Kak Hali? Dia belum pernah dibonceng naik motor, 'kan?"
Mendadak nyanyian Blaze terhenti dan suara Taufan melirih hingga lenyap sama sekali. Kecanggungan tiba-tiba hadir. Paman driver perlahan-lahan memelankan suara radio dan menyumpal telinganya dengan headset.
"Err, Ice. Sebetulnya banyak sekali hal yang terjadi selama kamu ... tidur," Gempa membuka suara. "Sebagai permulaan … baru tadi pagi kamu dipindah dari ICU ke bangsal biasa, jadi kami semua buru-buru ke sini menumpang mobil pos."
"Bedak dariku berhasil menyamarkan Kak Hali yang sudah mirip zombie," komentar Solar, yang kursinya segera didorong oleh Blaze dari belakang.
"Husy, Solar!" Tangan Blaze sudah bergerak maju, niat hati hendak menjitak, tapi sang adik menepisnya.
"Jangan coba-coba, Kak Blaze. Kenapa nggak cerita langsung saja!" gerutu si bungsu.
"Jadi," Ice menyela dengan nada cemas karena segera merasa ada yang tak beres, "apa saja yang terjadi?"
Semuanya diam. Taufan memecah keheningan dengan suara yang terdengar lelah,
"Kita punya tiga jam perjalanan. Siapa yang mau cerita duluan? Aku saja, ya." Taufan menjawab pertanyaannya sendiri.
"Retorika," gumam Gempa sambil berpaling ke jendela, "memang khas Kak Taufan. Tapi silakan, Kak."
"Terima kasih, Gem." Taufan berdeham dengan penuh gaya seolah akan menyampaikan pidato penting. "Jadi pertama-tama, Duri tak ada di sini karena kami pikir sebaiknya dia tak perlu tahu apa yang akan diceritakan ..."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Empat belas hari yang lalu ...
.
"Benar di sini lokasinya?"
Suara Halilintar tajam menusuk, lebih dingin dari angin laut malam yang menembus jaket. Mereka ada di tepi pantai dekat perahu-perahu nelayan tertambat, daerah sekitar situ sepi sekali. Taufan masih mencari keseimbangan bagi kedua kakinya di tanah selagi membuka ponsel dengan tangan gemetar. Saking tremornya dia sampai dua kali salah membuat pola kunci layar. Kakaknya itu ngebut gila-gilaan sepanjang perjalanan sampai Taufan tak berani banyak bergerak di atas motor dan berakhir kakinya kesemutan serta pantatnya kram.
"Taufan?" Halilintar belum mematikan mesin motor, belum beranjak dari posisinya di kemudi.
"Bentar Kak," gumam si anak nomor dua. Kunci layar terbuka, Taufan tidak terlalu kaget melihat banyaknya notifikasi chat dan panggilan tak terjawab dari Gempa, Solar, Fang …
Daripada membuka tangkapan layar yang tadi dibagikan oleh Gempa, Taufan lebih memilih membuka chat yang menumpuk. Benar saja. Dia mendongak dan menatap Halilintar dengan kesal.
"Kak Hali sih, melarangku buka ponsel di jalan. Baca nih!"
Tanpa diminta, Halilintar mengambil ponsel Taufan dan membaca chat dari Gempa.
'Kak, barusan kami dapat kabar dari Fang. Blaze sudah ketemu, dia dibawa ke Rumah Sakit Yong Pin.'
'Kak Taufan dan Kak Halilintar sudah sampai mana?'
'Please reply ASAP'
'Halo?'
'Kak Taufan?'
Di bawah pesan itu ada lima kali panggilan tak terjawab. Pesan Gempa yang terakhir berbunyi,
'Ice juga sudah ketemu, dibawa ke RS Yong Pin juga. Langsung masuk ICU. Kalau sudah baca pesan ini, tolong kabari ya.'
Halilintar mengembalikan ponsel adiknya lalu memutar arah sepeda motor. "Ayo, ke Yong Pin kalau gitu."
"Hee? Gitu doang?" Taufan makin kesal karena dari tadi dia bisa merasakan ponselnya bergetar-getar di saku tapi Halilintar melarangnya membuka ponsel di atas motor yang melaju. Lagian kalau sengebut itu, Taufan sendiri ngeri ponselnya bakal jatuh atau dirinya yang jatuh menghantam aspal atau tanah. "Rumah Sakit Yong Pin 'kan sudah belokan yang tadi. Harusnya kita bisa ke sana langsung kalau dari tadi Kakak nggak keras kepala!"
"Fan, buruan naik atau kutinggal," ancam Halilintar yang juga kedengaran lelah.
Taufan mendengus dan mengentakkan kaki sekilas sebelum melompat ke boncengan.
"Ngapain kamu hentak kaki?" serang Halilintar sambil memacu motornya.
"Kakiku kesemutan!" balas Taufan meradang, buru-buru cari pegangan. Sensitif sekali sih kakak satu-satunya ini!
"Ya maaf," gumam Halilintar pelan tapi jelas.
Kemudian mereka berdua sama-sama diam. Taufan tak sanggup mengeluarkan keriangannya yang biasa di kondisi begini. Dia cemas pada Blaze dan Ice, apalagi setelah Solar cerita tentang penyakit yang mungkin diderita Ice sejak bertahun-tahun sebelumnya. Di atas semua itu, dua adiknya itu hilang diculik saat bertugas jaga di Kokotiam! Bukan hanya Halilintar yang boleh panik dalam situasi begini, 'kan? Taufan memilih bungkam dan akan melanjutkan sesi Salahkan-Halilintar setelah mereka sampai di rumah sakit.
Tapi saat sudah sampai di RS Yong Pin sekitar jam sebelas malam, pemandangan Blaze yang babak belur dan sedang terbujur di kasur membuat semua kemarahan menguap. Taufan yakin Halilintar pun merasakan hal yang sama ketika kakaknya itu bicara dengan lembut kepada Fang yang sangat setia kawan,
"Terima kasih, Fang. Kau pulang saja, istirahat di rumah."
Kapan terakhir kali Halilintar bisa bersuara demikian halus dan tulus? Taufan sudah lupa, tapi dia ikut menyambung,
"Biar kami yang jaga Blaze."
Sambil masih mengusap pantat yang kram, Taufan memandangi adik kembarnya yang penuh luka itu. Blaze masih membuka mata tapi tampaknya dia sudah hampir jatuh tertidur karena obat bius. Di wajahnya banyak lebam, sedangkan bahu dan lengan sebelah atasnya ditutup perban, bagian atas bajunya terkoyak. Melihat sosok yang serupa dengannya itu terluka membuat Taufan sendiri merasakan ngilu. Fang meraih selimut Blaze dan menunjukkan lebih banyak perban di kedua kaki. Saking rapatnya lilitan perban itu hingga mencapai lutut Blaze yang memang mengenakan celana sepanjang lutut.
"Baiknya kuceritakan dulu apa saja yang kudengar tadi ..." ujar pemuda berkacamata itu.
"Kenapa kakinya?" Halilintar terbelalak, suaranya meninggi. Kegusaran segera muncul di raut yang juga serupa dengan Taufan itu.
"Kak, jangan teriak. Blaze mau tidur," Taufan membujuknya.
"Kita keluar saja?" Fang menawarkan sambil menguap di balik maskernya. "Ada teras di situ."
Halilintar melirik ke arah teras yang ditunjuk lalu mengangguk.
"Bolehlah. Sekalian kita video call Gempa bagaimana? Biar yang di rumah tahu juga," usul Taufan sambil mengekor kakaknya dan Fang menuju pintu teras.
"Kau saja," Halilintar berujar sambil menghela napas panjang. Dia memilih bersandar ke pagar teras sedangkan Fang langsung duduk di kursi. Taufan berdiri dekat pintu, membuat panggilan video di ponselnya sambil masih menggerak-gerakkan kaki. Bunyi nada sambung hanya dua kali sebelum panggilan dijawab.
"Halo Gem—eh, Solar?"
Halilintar mencondongkan badan mendekat dan Fang menoleh dengan gerakan lambat. Wajah identik yang tampak di layar memang milik si adik bungsu yang berkacamata.
"Solar, Gempa di mana? Aku nggak keliru telepon nomormu 'kan ini?" Taufan bersuara.
"Itu Solar di ruang tamu," komentar Halilintar yang bisa menangkap wujud televisi di belakang Solar, yang menjawab,
"Kak Gempa lagi di kamarku. Cerita dongeng ke Kak Duri biar dia tidur duluan. Yang ini memang ponsel Kak Gempa, dia mau ke sini lagi."
"Tok Aba sudah tidur?" tanya Taufan lagi.
"Belum. Baru kunci pintu-pintu dan jendela." Solar di seberang sambungan menoleh ke sebelah kanannya. "Tok Aba, ini Kak Taufan telepon."
Terdengar suara kakek mereka menyahut diiringi bunyi rentengan kunci. Astaga, sudah jam setengah dua belas malam dan seisi rumah mereka belum tidur semua.
"Nanti pasang alarm biar nggak telat sahur," ujar Halilintar mengingatkan.
"Oke. Ini sama Atok dulu ya, aku panggil Kak Gempa."
Ponsel berpindah tangan dan wajah kakek mereka yang cemas tampak di layar. Taufan meletakkan ponselnya di jendela teras agar mereka bertiga bisa menghadap layar yang sama.
"Halilintar? Taufan? Alhamdulillah, kalian sudah sampai ya."
"Iya Tok, Alhamdulillah." Keduanya menyahut.
"Kami khawatir, kalian berdua belum berkabar dari tadi."
"Maaf, Tok," jawab Halilintar yang tahu dirinya dihadiahi lirikan kesal Taufan. "Tok Aba menunggu kabar kami sampai belum tidur?"
"Mana bisa Atok tidur kalau dua lagi cucu Atok masih di perjalanan?"
"Iya Tok, maaf sudah membuat Tok Aba dan yang lain khawatir," ujar si sulung lagi sambil menggigit bibir.
"Sudahlah, yang penting kalian juga selamat. Fang, halo, terima kasih untuk bantuanmu dan abangmu."
Fang mengangguk sopan. "Sama-sama, Tok Aba."
"Bagaimana Blaze?"
Si pemuda berkacamata menghela napas. "Dia tidur, diberi obat oleh dokter. Dari tadi berusaha turun dari ranjang, mau ke ICU. Sampai capek saya menahannya, Tok."
Paras Tok Aba berkerut sedih. "Maaf merepotkanmu, Fang."
"Tak masalah, Tok. Saya heran saja kok Blaze masih punya cukup tenaga buat bergulat dengan saya," Fang terkekeh miris lalu menoleh, matanya bertemu pandang dengan Taufan.
"Tok, ini Fang mau cerita soal Blaze," ujar Taufan, mendekat ke layar. "Apa Gempa sudah di situ?"
"Belum. Sebentar, ya."
Layar tak menunjukkan siapa pun selagi Tok Aba sepertinya juga hendak naik ke lantai atas. Terdengar suara-suara di latar dan beberapa detik kemudian wajah Gempa beraut kalut mengisi layar.
"Kak, kenapa nggak beri kabar?!" Suara Gempa yang biasanya tenang itu meninggi tanpa mengucap salam terlebih dahulu. Taufan diam saja dan dengan terang-terangan melirik kakaknya.
Halilintar lelah disalahkan terus tapi dia harus mengucapkannya, "Maaf, Gem. Sekali lagi maaf."
Sorot mata keemasan Gempa masih berkilat marah. "Kami di rumah kira kalian berdua kenapa-kenapa di jalan! Ini sudah malam dan jaraknya jauh!"
"Sudahlah Gempa, mereka berdua selamat. Itu yang penting." Suara Tok Aba terdengar menenangkan. Ponsel beralih lagi dan kali ini suara Solar mengisi sambungan,
"Jadi Fang mau cerita apa?"
Taufan mendelik melihat si bungsu lagi. "Hei, Solar. Kamu nggak ikut Duri tidur?"
Solar bersedekap sambil menelengkan kepala. "Mana mungkin aku melewatkan kabar paling up-to-date. Kak Gempa membolehkan. Lagipula dia sedang marah pada kalian berdua. Aku di sini netral meski kesal juga pada kalian."
"Ya sudah. Bisa kumulai ceritanya?" Fang menyela sebelum Halilintar balik tersulut amarahnya dan Taufan membalas komentar Solar yang terdengar menyebalkan. "Aku juga sudah pengin tidur dari tadi."
Taufan meringis di balik masker. "Oke, Fang, maaf. Silakan."
Baik yang ada bersama Fang di teras rumah sakit maupun di rumah Tok Aba di seberang sambungan menyimak dengan perhatian. Bagaimana Blaze mendapati dua pria itu di dekat jembatan, berniat mempromosikan menu Kokotiam dan malah berakhir disetrum stun gun sampai pingsan, dirinya dan Ice yang diikat dalam sebuah rumah tak dikenal, seorang perempuan anggota geng penjahat itu yang melecehkan mereka berdua …
"Tunggu dulu, melecehkan?!" ulang Halilintar dengan nada berbahaya.
"Kata Blaze, mereka dipegang-pegang." Tapi sambil mengucapkan kalimatnya pun, Fang sendiri bergidik. "Blaze juga dicakar. Kau lihat lengan dan bahunya diperban, 'kan? Itu bekas cakaran si perempuan."
"Astagfirullah ya Allah ..." Semuanya bisa mendengar Gempa dan Tok Aba mendesah kalut.
"Mereka nggak … di … diperkosa, 'kan?" Solar bertanya hati-hati. Halilintar di ujung sana sudah tampak mau meledak, Taufan menaruh tangannya di bahu sang kakak.
Fang menggeleng sambil menelan ludah. "Menurut cerita Blaze sih nggak. Jaketnya Ice dibuka, Blaze ditarik rompinya. Nggak lebih dari itu. Dokter sudah memeriksa Blaze, nggak ada tanda-tanda bekas … hubungan intim ..."
Suara Fang melirih, semuanya diam. "Aku nggak tahu kalau Ice. Dia sempat dibawa naik kapal oleh penjahat."
"Astaga ya Allah ..." Suara Gempa kedengaran sangat terpukul. Untung sekali Duri sudah tidur.
"Kembali dulu ke saat mereka ditawan. Para penjahat menganggap Ice lebih bisa diajak kerja sama dan memperlakukannya baik-baik," Fang meneruskan pelan-pelan. "Sementara Blaze yang banyak berteriak dan melawan, dipukul dan ditendang oleh penjahat yang laki-laki."
Taufan bisa mendengar napas Halilintar yang memburu.
"Sampai suatu ketika, Ice yang diajak bicara oleh si penjahat mendadak lemas. Para penjahat lalu memberinya minum dan … dan dia minum, tentu saja. Itu sudah lewat Magrib. Tapi ternyata … minuman itu … mereka memberi Ice minum alkohol."
Sesuatu berderak patah di sisi Fang. Taufan menunduk, melihat gantungan kunci motor dari kayu yang sudah terbelah dua di tangan Halilintar. Di seberang sambungan terdengar suara isakan Gempa.
"Ice memuntahkannya—aku tak bisa bayangkan seperti apa rasanya dipaksa muntah sedangkan sudah dua puluh empat jam perutmu tak diisi makanan. Mereka berdua lalu diangkut, para penjahatnya berjalan kaki ke arah dermaga. Di jalan, Ice pingsan. Blaze sudah putus asa ketika jam tujuh malam, alarm di ponselnya dan ponsel Ice berbunyi bergantian."
"Waktu itu share location-nya aktif!" seru Solar antusias.
"Sepertinya begitu. Berisik dan membuat bingung, akhirnya para penjahat membuang ponsel itu dan meninggalkan Blaze di sekitar perkampungan nelayan, sementara Ice mereka bawa terus, kabur naik kapal. Polisi mengejar dengan kapal juga, sementara aku dan tim medis menemukan Blaze yang megap-megap. Sepertinya dia habis dicekik atau semacam itu. Kakinya berdarah-darah bekas disayat senjata tajam, tapi Blaze sendiri baru tahu ketika aku yang bilang padanya … mestilah kakinya dibius atau semacam itu sampai tidak terasa."
Fang menjeda sejenak, melihat Halilintar dan Taufan tidak ada yang bersuara, lalu meneruskan,
"Lalu kami ke rumah sakit ini. Blaze menangis terus sampai harus kupaksa makan. Saat Ice dibawa ke sini juga, dia langsung dimasukkan ke ICU. Sisanya seperti yang disampaikan abangku lewat telepon pada Gempa tadi."
Fang memejamkan mata dan mengembuskan napas panjang. Semuanya masih diam, mencerna keseluruhan kisah yang kedengarannya hanya terjadi di cerita fiksi itu.
"Kenapa penjahatnya melepaskan Ice?" seloroh Taufan dengan murung setelah bermenit-menit keheningan.
"Kalau menurut abangku, mungkin mereka mengira Ice sudah mati. Badannya dingin, nadinya nyaris hilang, napasnya nggak ada. Siapa yang kira dia koma hipotiroid?"
"Jadi betul itu penyakit Kak Ice?" sambar Solar seketika. Fang mengiyakan tanpa semangat. "Sama seperti Tok Aba?" Si bungsu menoleh pada sang kakek.
"Atok rutin minum obat," sahut kakeknya dengan nada penuh sesal. "Aneh juga, Atok kira penyakit ini nggak menurun."
"Gejalanya Kak Ice agak beda dengan Tok Aba," sela Solar. "Fang, nanti minta tolong abangmu ajari aku soal hipotiroid, ya."
Fang hanya mendengus lelah. Taufan menepuk bahunya sambil berkata,
"Sudah, Fang. Sekali lagi terima kasih."
"Terima kasih Fang!" Solar berseru dengan serius.
"Terbaik, Fang," imbuh Tok Aba. "Pulang dan istirahatlah."
"Terima kasih, ya," ujar Gempa yang baru muncul lagi, kelopak matanya agak sembab. "Kau memang kawan terbaik, Fang."
"Sama-sama, semua. Semoga keadaan segera membaik."
"Amiiiin."
Sambungan dimatikan. Fang bangkit dari kursi dan meregangkan badan.
"Nah, aku pulang, ya."
"Dijemput supir? Atau nyetir sendiri?" tanya Taufan.
"Nyetir sendiri, Fan," Fang menguap lebar-lebar, masih di balik masker. "Halilintar," panggilnya pada si sulung yang masih membisu dari tadi. "Kuberi tahu satu hal. Jangan coba cari mereka, para penjahat itu. Aku tahu kau marah sekali. Tapi jangan nekat balas dendam."
Mata sewarna rubi balas menatap tajam, masih dalam diam. Halilintar membuang muka. Fang masih punya cukup tenaga untuk menyumbang nasihat,
"Taufan, kau ingat kata-kataku. Kakak sepupuku kepala polisi, mereka tahu siapa para penjahat ini. Mereka akan ditangkap dengan kuasa hukum. Jangan main hakim sendiri kalau tak mau menyesal seumur hidup. Kau Halilintar, kalau kau memang bercita-cita jadi hakim, tentu kau tahu persis apa maksudku."
.
.
.
.
.
Setelah Fang pulang, Halilintar dan Taufan masih berdiskusi tentang apa yang mau dikerjakan esok hari. Kemungkinan Blaze sudah diperbolehkan pulang, lalu apa? Karena sudah lelah dan suntuk, akhirnya mereka memutuskan untuk tidur. Tapi memutuskan untuk tidur di mana, membuat kakak-adik itu nyaris berdebat lagi.
"Kak Haliii. Dirimu serius mau tidur di kursi?"
"Serius."
"Aku tuh bisa tidur di mana saja, Kak. Kamu saja yang tidur di sofa empuk ini." Taufan, yang sudah bertengger di atas sofa yang dimaksud, menepuk-nepuk untuk meyakinkan.
"Nggak. Kamu sendiri tadi bilang pantatmu kram. Tidur di kursi bikin tambah kram, mau?" Halilintar berujar sadis.
Taufan meringis, lalu menunjuk maskernya yang tetap siaga di wajah. "Kita harus tidur pakai ini?"
"Kalau kamu mau kena Covid, silakan dilepas. Kita nggak lagi di rumah, Taufan. Ini rumah sakit."
"Iya deh." Taufan menyamankan posisinya berbaring di sofa panjang itu, tapi ternyata badannya lebih panjang dari sofa. Halilintar memindahkan kursi di seberang ruangan agar menempel ke dinding di dekat ranjang Blaze yang sudah tertidur pulas.
"Kak, ingat pesan Fang. Jangan balas dendam," seloroh Taufan yang mendadak diserang kantuk setelah menemukan tempat rebahan. "Jangan pergi tengah malam, ya."
"Ngaco, ini sudah lewat tengah malam, tahu. Hampir jam satu pagi."
"Yah, pokoknya. Besok pagi waktu aku bangun, aku masih mau lihat wajahnya Kak Hali yang kayak baju belum disetrika itu."
Halilintar tak membalas. Taufan mengangkat kepala dan melihat kakaknya itu sudah menundukkan kepala dalam posisi duduk di kursi, tak biasanya sang kakak jatuh tertidur secepat ini. Sepertinya Halilintar belum tidur. Taufan menarik napas panjang dan mengembuskannya.
"Oiya, Kak Hali, aku mau tanya." Meski sebetulnya Taufan sudah tahu jawaban pertanyaan yang akan dilontarkannya, tapi menggoda Halilintar selalu jadi kebiasaannya sebelum berangkat tidur. "Kenapa Kakak nggak bolehin aku buka ponsel di jalan tadi?"
"Pakai nanya lagi. Biar kamu dan ponselmu nggak jatuh, lah." Si sulung rupanya memang belum tidur, tapi matanya terpejam.
Taufan menyeringai. "Lebih sayang ponselnya jatuh atau akunya yang jatuh~?"
"Berisik."
"Ya udah. Met bobok, Kak Halilintar sayang~"
"Taufan bin Amato, kamu pilih mau ditimpuk pakai termos atau rantang?"
.
.
.
.
.
bersambung.
.
.
.
.
.
.
Catatan Penulis:
Hadir juga akhirnya sekuel dari Bridge over Troubled Water! Pembaca yang belum baca cerita yang itu, disarankan mampir dulu, ya. Beberapa bab ke depan akan membahas time skip selama Ice terbaring koma di rumah sakit, baru apa yang terjadi setelahnya. More genres ahead? Bocoran: bakal ada suspense dan crime lagi, dan mungkin cenderung angst :")
Awalnya Roux tidak merencanakan bikin sekuel demi sekuel waktu pertama kali nulis Thorn in the Flesh. Murni pengin bikin cerita manis Duri dan Solar saja. Eh, rupanya imajinasi saya merembet ke mana-mana, dan jadilah cerita kedua tentang Blaze dan Ice, dan … ya, seperti itu :") dengan urutan begini, cerita kali ini akan berfokus pada tiga kakak tertua mereka.
.
Bab pertama ini terkesan Taufan-centric, curahan hati pemuda receh riang gembira yang juga bisa kesal di saat tertentu. Bab selanjutnya campuran antara Halilintar-centric dan Taufan-centric. Jadi selanjutnya lagi bakal ada Gempa-centric, tunggu saja :D
Akhir kata … terima kasih sudah membaca, kritik dan saran sangat diterima.
13.06.2021
