Halilintar bin Amato bukan tipe orang yang gampang jatuh tertidur. Putra sulung Amato itu selalu punya banyak hal untuk dipikirkan dalam satu hari bahkan sampai dengan ketika kepalanya sudah dibuai empuknya bantal. Siapa sih yang pikirannya tidak sibuk kalau punya enam orang adik kembar, enam lho, kaum Adam semua pula? Kalau bukan perkara Taufan yang bikin gaduh, pasti Blaze yang suka bikin party dalam rumah, atau Duri yang biarpun polos tapi sekalinya menangis bisa bikin geger seisi rumah. Ketiga adiknya yang itu memang troublemakers, tapi tidak berarti adik-adik yang lainnya tidak mengganggu pikiran. Kadang Gempa yang tak kunjung tampak batang hidungnya di dalam rumah saking padatnya beraktivitas di luar juga membuatnya kepikiran. Kadang tingkah Solar yang pesolek narsis membuatnya pusing.
Nah, jarang sekali penyebab tak bisa tidurnya Halilintar adalah Ice yang sebelas-dua belas dengannya: pendiam dan irit bicara.
Tapi kali ini, Ice mengisi pikiran Halilintar dengan kecemasan. Adik kembarnya yang lahir di urutan kelima itu sedang dirawat di ICU dalam keadaan koma, nyaris mati tenggelam di laut dan akibat penyakit kronis menahun yang tak satu pun saudaranya tahu. Cerita Fang, kawan mereka, tentang apa yang baru saja dialami Ice bersama Blaze, membuatnya tak bisa menutup mata dengan tenang kendati habis berkendara motor nyaris empat jam nonstop.
Jadi ketika akhirnya Halilintar berhasil tidur di kursi tunggu rumah sakit untuk terbangun kembali dengan kaget, hampir saja dia murka pada siapa pun biang keroknya.
Tapi mana jadi dia marah kalau penyebabnya terbangun adalah teriakan Blaze yang ambruk di lantai di depannya.
.
.
.
.
.
.
.
.
BoBoiBoy (c) Animonsta Studios
Through the Darkness (c) Roux Marlet
-Penulis tidak mengambil keuntungan material apa pun dari cerita ini-
Alternate Universe, Elemental Siblings without super powers
Family, Drama, Angst (more genres ahead)
.
.
.
.
.
.
.
.
Bab Dua: Mimpi
.
.
.
Blaze berharap bahwa ketika ia membuka mata, semua itu hanya mimpi buruk. Tapi nyeri yang berdenyut-denyut di kedua kakinya bahkan dalam posisi berbaring ini seolah berteriak berulang-ulang: semua yang dialaminya itu nyata! Sekujur tubuhnya serasa remuk, rasanya mirip seperti selepas pertandingan final basket habis-habisan di Kuala Lumpur waktu itu: tim mereka melawan juara nasional tingkat SMP dan kalah. Di dalam hati Blaze ada rasa sedih dan ia teringat adiknya, Ice. Ketika Blaze terpuruk kalah seperti waktu itu—dia yang biasanya menyemangati Ice dengan semangatnya yang selalu berkobar-kobar bagai nyala api—Ice akan balik menghiburnya dengan pijatan yang lembut dan sewadah besar es krim cokelat. Ice selalu tahu dan bisa membantu kapan saja Blaze sedang kehilangan semangat dan saat ini Ice tidak ada di sisinya.
Semalam, Ice nyaris mati. Blaze bergidik, berusaha mengusir pikiran yang tidak menyenangkan tentang kilas balik peristiwa semalam.
Dari tempat tidurnya, Blaze bisa melihat dua kakaknya tertidur. Taufan di sofa di seberang ruangan, berbaring selonjor sambil mendengkur di balik masker dengan kaki menjuntai keluar saking tingginya badan, sedangkan Halilintar duduk di kursi di dekat ranjang dengan kepala tertunduk dan kedua lengan dilipat di depan dada. Meski orang itu menunduk dan separuh wajahnya tertutup masker, Blaze tak mungkin salah mengenali jaket merah-hitam itu.
"Kak ... Hali?" Blaze memanggil kakaknya yang berada lebih dekat.
Si sulung tidak merespon, matanya terpejam. Sepertinya nyenyak sekali. Blaze heran, bisa-bisanya Halilintar tidur nyenyak di posisi begitu?
"Kak Taufan?" panggilnya pada kakak yang satu lagi. Barangkali karena jarak mereka jauh dan sama-sama tidur nyenyak seperti Halilintar, Taufan juga tak merespon. Lagipula Taufan itu terkenal paling pulas tidur sekalipun ada hujan badai berpetir di rumah, bisa saingan dengan Ice kalau ada lomba siapa yang tidur lebih pulas. Blaze sudah akan membiarkan saja dan kembali tidur ketika dia melihat jam dinding. Sudah hampir jam lima pagi. Apa kedua kakaknya ini sudah sahur? Blaze ingat dia tertidur sekitar jam sebelas malam dan waktu itu mereka berdua baru saja datang. Jangan-jangan mereka bablas ketiduran karena menungguinya di sini.
"Kak ..." Blaze memanggil lagi, kali ini lebih keras, menoleh pada Halilintar. "Kak Hali? Halilintar?"
Si sulung masih tidur. Blaze menurunkan pagar ranjangnya, beringsut ke tepi ranjang lalu mencoba berdiri dan berniat untuk mengguncang bahu kakaknya biar bangun, tapi ternyata kakinya tak kuat menopang tubuhnya. Blaze jatuh dengan berisik dan Halilintar tergugah sambil melompat dari kursi seperti tersengat listrik.
"Apakah ... Blaze?!"
"Aduuuh," keluh si kembar nomor empat sambil meringis. Halilintar buru-buru berjongkok.
"Kok kamu turun dari ranjang?!" seru si sulung dengan gusar. Tanpa menunggu jawaban Blaze, Halilintar memapah adiknya itu naik ke tempat tidur, menghindari menyentuh bahu maupun lengan Blaze yang dibalut perban. Dia sudah melihat bahwa Blaze barusan menitikkan air mata tapi adiknya itu tetap pasang muka nyengir.
"Hehe. Maaf, Kak."
"Kamu baru bangun?" tanya sang kakak singkat. Diliriknya Taufan yang sama sekali tak bergerak dari tidurnya.
Blaze mengangguk. "Kakak dan Kak Taufan sudah sahur? Ini sudah hampir jam lima pagi."
"Sudah. Semalam kami susah tidur. Harusnya nggak baik tidur lagi sesudah salat Subuh. Tapi mau gimana lagi, capek."
Halilintar mengucapkan semuanya itu tanpa nada yang bermakna, tapi Blaze bisa mendengar keresahan di dalamnya. Sungguh, satu rumah mestilah panik ketika tahu dia dan Ice diculik orang tadi malam.
Si adik berceletuk, "Aku sendiri nggak dibangunin sahur."
Halilintar menggeleng sambil berujar, "Kamu nggak usah puasa dulu. Nanti dokter mau kasih kamu obat minum, kalau sudah oke, boleh pulang."
Blaze terbelalak kaget. "Ice gimana? Dia belum sadar, 'kan? Aku—"
Halilintar memotong dengan paras galak, "Kamu pulang sama Taufan. Aku tunggu Ice bangun."
Blaze tak bisa terima. Dia juga mau menunggui Ice! Dia membantah, "Bukannya Kak Taufan belum bisa naik motor?"
Halilintar sudah duduk lagi di kursinya, menatap Blaze tajam-tajam lalu menyahut, "Kita minta ambulans antar kamu dan Taufan ke rumah. Motornya kubawa pulang bareng Ice nanti."
Blaze sudah hapal ekspresi garang kakak sulungnya itu yang berarti apa pun titahnya harus dituruti, tapi Blaze mau coba berkeras kepala. "Itu dia, Kak ... kapan Ice bangun? Kata Dokter Kaizo, dia koma."
Memang, ini bukan seperti waktu Solar dulu dioperasi. Mereka punya perkiraan—kepastian—kapan Solar akan siuman setelah efek obat biusnya habis dan tubuhnya memulihkan diri setelah operasi. Kali ini, tak ada yang tahu kapan Ice akan bangun.
Halilintar sendiri sangat berharap bahwa dia tak akan perlu berurusan dengan rumah sakit lagi setelah insiden yang menimpa adik bungsunya tujuh tahun silam. Apa daya? Minggu lalu pun si adik bungsu kecelakaan lagi sampai alisnya harus dijahit, tapi dia sudah bersyukur kecelakaan Solar yang kedua tidak separah yang pertama. Dia bicara lagi,
"Pahit-pahitnya, nanti aku belanja baju ganti dan lain-lain di dekat sini. Aku akan menginap di sini selama yang diperlukan. Kau," Halilintar sengaja menjeda untuk menekan, "pulang dengan Taufan. Titik."
Blaze menelan ludah. Perintah Halilintar adalah mutlak di rumah mereka, meski si sulung tak pernah main perintah untuk hal-hal yang sepele. Komandan sejati di rumah adalah Gempa yang merupakan perpanjangan tangan Tok Aba, tapi ketika menghadapi situasi yang pelik maka Halilintar yang akan mengambil keputusan. Lagipula kalau Blaze memang sudah boleh pulang, dia akan pulang dengan senang hati. Kejadian tadi malam memang nyata, bukan mimpi buruk belaka dan Blaze jelas ingin menjauhkan diri dari sekitar lokasi kejadian. Tapi itu artinya meninggalkan Ice di sini ...
Halilintar berdiri dan memecah keheningan, "Kamu mau minum? Kuambilkan air sebentar."
Blaze menjawab dengan nada melamun, "Eh, iya, Kak."
Begitu menerima gelas berisi air dari Halilintar, Blaze langsung minum dengan rakus. Dia baru sadar dirinya haus sekali. Atau memang sejak tadi malam dia belum minum air? Ah, dia sampai tidak ingat makan dengan apa semalam, makanan yang dibelikan Fang, jelas. Dia jadi berutang sekian ringgit terhadap sohibnya itu. Eh, lalu, apa Fang pulang ke rumahnya sendiri?
"Fang mana?" tanya Blaze setelah menandaskan isi gelas.
"Pulang," Halilintar menyahut singkat. Tangannya sudah kembali dilipat di depan dada. Blaze mengulurkan gelasnya sambil nyengir.
"Aku masih haus, Kak. Tolong ambilin lagi ya ..."
Si sulung berdiri lagi dan meraih gelas itu. "Terang aja. Kamu semalaman nggak minum, kata Fang."
"Hah? Apa iya?"
"Kamu makan saja harus dipaksa oleh Fang. Habis makan, nangis lagi. Habis nangis, gulat sebentar dengan Fang, terus kamu disuntik obat tidur," Halilintar mencerocos sambil mengisi gelas di bawah dispenser di seberang ruangan.
Blaze termenung sambil memain-mainkan jari, tak menanggapi.
"Tidurmu nyenyak?" Suara Halilintar melembut ketika kembali dengan gelas terisi penuh lalu menyodorkannya kembali pada adiknya. "Aku bukan Gempa yang pandai menghibur orang. Maaf kalau kata-kataku nggak enak."
"Terima kasih, Kak," sahut Blaze sambil minum lagi. Dia mendesah keras setelah menghabiskan gelas kedua. "Rasanya capek … entahlah nyenyak atau nggak … aku nggak ingat mimpi apa-apa, sih."
"Kalau masih capek, ya tidurlah lagi. Dokter jaga baru ke sini jam delapan pagi. Sarapanmu diantar jam tujuh."
"Oke, Kak."
Sebetulnya Halilintar-lah yang masih perlu tidur lagi, tapi melihat Blaze kembali memejamkan mata, dia merasa lega.
.
.
.
.
.
"Aku takut … aku merasa seperti bukan diriku. Biasanya aku tak takut apa pun. Tapi … kemarin … untuk pertama kali di hidupku, aku begitu takut. Aku takut mati, aku takut adikku mati."
Suara itu hilang timbul, berasal dari sosok yang serupa dengan Taufan yang duduk di ranjang. Di hadapannya sedang duduk seorang pria tua yang membalas menatap lawan bicaranya lekat-lekat.
"Tak apa merasa begitu. Itu bukan sesuatu yang salah."
"Aku benci menjadi penakut. Apa yang akan terjadi selanjutnya? Apa jadinya pada adikku?"
Jeda sejenak. Taufan merasa dirinya sedang bermimpi, tapi tempat yang dimimpikannya ini sama persis dengan ruangan yang diingatnya sebelum memejamkan mata.
"Menjadi penakut dan menjadi lebih waspada, itu dua hal yang besar bedanya."
"Tapi … semuanya sudah terjadi, Tok Kasa. Sudah terlambat kalau mau jadi lebih waspada."
"Memang sudah terjadi, tapi masih ada masa depan. Masa depan adalah misteri. Yang kamu kerjakan hari ini, itulah yang menuntunmu ke masa depan, Blaze bin Amato."
.
.
.
.
.
Taufan baru berhasil dibangunkan kakaknya waktu sarapan Blaze sudah habis dan dokter jaga sudah berkunjung ke kamar itu. Lelap sekali tidurnya si anak nomor dua di ruangan yang sama sekali asing. Kadang Halilintar iri pada betapa mudahnya si adik terlelap di mana saja.
"Jadi? Apa saja yang kulewatkan?" Taufan bertanya sambil meregangkan punggung yang pegal.
Halilintar sedang membereskan obat yang berceceran di atas meja. "Blaze dapat obat minum, tadi dokter dan psikolog sudah ke sini. Dia boleh pulang kalau administrasi sudah beres."
"Syukurlah. Hola, Blaze. Sudah makan?" Cengiran terpasang di wajah Taufan yang tertutup masker sambil menyapa si adik troublemaker itu. Dia mendekati ranjang Blaze yang menyahut,
"Sudah, lah. Kalian tadi sahur pakai apa?"
"Bawa opornya Gempa, dalam rantang nih," Taufan berujar sambil menunjuk rantang di atas meja. "Tadinya ini mau buat kamu sama Ice buka puasa tadi malam …"
Blaze memurung lagi. Halilintar melempar pandang menegur ke arah Taufan.
"Tapi, eh ... ayo siap-siap, Blaze. Nanti siang kamu pulang bareng aku naik ambulans."
Yang diajak bicara hanya mengangguk lesu.
"Aku bawain jaketnya Gempa, bisa kamu pakai dulu. Tahu sendiri 'kan jaket Gempa itu superwangi!" imbuh Taufan lagi, berusaha membuat adiknya yang biasanya bersemangat itu kembali ceria. Dikeluarkannya jaket berwarna kombinasi cokelat dan kuning itu dari dalam tas. "Tadaa~"
Blaze menerima jaket Gempa sambil meringis. Meski sudah tahu kalau Gempa adalah yang paling jago menangani laundry, tetap saja Blaze mendekatkan jaket kakaknya itu ke hidung. Niat hati menenteramkan pikiran dengan bau wangi, tapi entah kenapa dia hampir tak dapat mencium aromanya. Blaze baru sadar dirinya tidak memakai masker sedangkan kedua kakaknya tetap pakai selama tidur.
"Ah, masker kainnya Kak Gempa ..." Blaze menunjuk ke arah Halilintar yang memakai masker serupa dengan yang dipakainya kemarin—dan dibuang entah ke mana oleh para penjahat.
"Gempa masih bisa jahit lagi, tenang saja," sahut Halilintar. "Sayangnya kami nggak bawa cadangan masker, dan menurut perawat tadi malam sebaiknya kamu jangan diberi masker dulu kalau masih mau nangis. Bisa sesak napas nanti."
Blaze tercenung. "Kak Gempa nggak akan marah? Buah karya tangannya kuhilangkan. Kayaknya punya Ice juga dibuang penjahat. Dan jaketnya Kak Gem yang wangi bakal bau kalau kupakai sekarang."
"Kamu kayak nggak kenal Gempa aja, Blaze," celetuk Taufan sambil mengacak rambut sang adik. "Semalam dia bilang, untuk menyambutmu pulang nanti dia mau masak kari!"
"Apa iya?" tanya Blaze sedikit antusias mendengar nama makanan favoritnya. "Uuh, tapi, masa nanti aku makan padahal serumah puasa semua."
"Nggak masalah. Kamu menambah pahala kami, hehehe," kekeh Taufan. Saat itu Halilintar beranjak ke pintu sambil berujar,
"Aku mau urus administrasi dulu. Taufan, kamu cek ponselmu ya. Siapa tahu Gempa nge-chat."
"Oke, Kak."
Sementara Blaze mengenakan jaket Gempa pelan-pelan, Taufan melakukan yang diminta kakaknya. Dia mengangkat sebelah alis ketika ternyata ada chat masuk dari Halilintar sendiri, baru saja.
"Tadi Blaze sempat jatuh waktu kamu belum bangun, kakinya masih sakit. Terus dia menolak waktu ditawari dimandikan perawat. Dia belum ke kamar mandi sejak tadi, mungkin sungkan kalau sama aku. Tolong bantuin ya."
Taufan memandangi adiknya sekilas, rupanya selang infus dan transfusi yang terpasang di tangan Blaze semalam sudah dilepas semua jadi dia bisa memakai jaket dengan mudah. Si adik berujar,
"Kak Taufan, sebetulnya aku kebelet pipis dari tadi." Jeda sejenak, suara Blaze melirih, "Aku malu kalau harus digendong Kak Hali."
Kak Halilintar ternyata peka juga, batin Taufan. "Lha, kalau kugendong nggak malu?"
"Kak Taufan 'kan beda."
"Beda apanya," kekeh Taufan lalu balik badan dan membungkuk. "Ayo sini."
Pelan-pelan Taufan bisa merasakan punggungnya dibebani. Lengan Blaze melingkari leher kakaknya itu dengan enggan. Seandainya kakinya sudah kuat, mana mau dia mempermalukan diri macam begini. Taufan menggendongnya sampai masuk ke kamar mandi lalu menurunkannya pelan-pelan di atas kloset duduk.
"Terima kasih Kak."
"Mau dibantuin?" Taufan nyengir jahil, bahkan meski tertutup masker Blaze bisa melihatnya.
"Heeeeh? ENGGAK! Aku bisa sendiri!"
"Kayak kita dulu nggak pernah mandi bareng aja," kekeh Taufan sambil melangkah ke luar. Blaze membanting pintu menutup di belakangnya.
Seketika Taufan menyesali kelakarnya yang agak keterlaluan barusan. Reaksi Blaze tidak seperti biasanya—mereka berdua 'kan duo jahil di dalam rumah, jadi kalau saling menjahili ya biasanya sama-sama haha-hihi saja (misalnya, "Kupelorotin lho!" dibalas, "Ayo sini kalau berani, nanti Kak Taufan kuketekin!") Tapi Taufan teringat cerita Fang semalam ... Mendengarkannya saja membuat Taufan mual dan Halilintar membuang muka. Taufan tak sanggup membayangkan betapa mengerikannya keseluruhan pengalaman Blaze semalam, ditambah lagi adiknya itu harus menyaksikan Ice disiksa di depan mata.
Sepertinya pe-er Taufan setelah sampai di rumah nanti tambah banyak, belum lagi Taufan perlu membayangkan seperti apa reaksi Duri. Adiknya yang satu itu tidak ikut perbincangan via video call semalam—meski memang sebaiknya begitu, karena, seperti sudah disebutkan tadi, pengalaman Blaze mungkin terlalu mengerikan bagi dunia Duri yang polos. Pendidikan tentang seksualitas hanya sedikit sekali dibahas di sekolah, guru-guru pun tampak malu saat menyampaikannya. Kalau bukan karena film dan video yang ditumpuk di laptopnya, barangkali Taufan tak akan tahu apa itu kondom sampai umur segini. Tenang, isi laptopnya secara rutin dipantau oleh kakaknya dan Gempa, karena Blaze dan Solar kadang meminjam laptop yang hanya satu-satunya di rumah itu. Taufan cukup tahu batas, kok.
Duri memang masuk kelas ilmu alam tapi tampaknya pelajaran Biologi sebatas tulisan dan gambar untuk dihapalkan baginya yang memang hanya mampu berpikir sederhana. Jadi untuk sementara, biarlah seperti ini dulu.
Beberapa saat kemudian Taufan mendengar pintu kamar mandi terbuka dan di sana Blaze berusaha berdiri sambil berpegangan kuat-kuat pada handrail. Taufan sampai berlari, tak mau Blaze sampai jatuh lagi.
"Kakimu lemas?" tanyanya cemas sambil menyediakan punggungnya lagi.
"... nggak ada rasanya," sahut Blaze panik sambil menumpukan berat badannya kepada Taufan.
"Hah?"
"Kukira kesemutan aja karena berbaring terus. Tapi tadi jari kakiku coba kugerakin dan nggak kerasa apa-apa."
Taufan sudah membawa adiknya kembali ke tempat tidur. Disentuhnya pergelangan kaki kiri Blaze dengan satu jari. "Begini nggak kerasa?"
Blaze menggeleng. Kemudian Taufan menggelitik telapak kakinya.
"IH! GELI!" pekik Blaze seketika dan menarik kakinya menjauh.
Taufan terkekeh. "Kakimu nggak apa-apa, kalau gitu."
"Kak Taufan yakin?"
"Kapan sih Taufan bohong sama Blaze?"
Blaze memutar bola mata. "Wah, sering."
Taufan mencengkeram dadanya seolah kesakitan dan mengerang, "Ouch. Adik durhaka kamu." Tapi sembari mengucapkannya, dia terkekeh. "Lha, tadi dokter bilang apa soal kakimu?"
"Katanya pengaruh obat biusnya masih ada," jawab Blaze dengan nada mengambang. Saat itu, Halilintar muncul di pintu kamar dan membawa pengumuman,
"Ambulansnya sudah siap."
Taufan bersorak. "Yeay! Ayo, Blaze, kita pulang. Eh, pakai kursi roda?" Dia melihat benda yang didorong masuk oleh kakaknya yang menyahut,
"Dipinjami rumah sakit. Memangnya kamu mau gendong Blaze sampai ke parkiran? Ini kita di lantai dua, lho."
Si anak nomor dua hanya terkekeh. Dibantu Halilintar, Taufan memindahkan Blaze yang berdiam diri ke atas kursi roda.
Kemudian mereka berkemas singkat dan membagi barang bawaan: rantang dan termos dibawa pulang Taufan beserta obat milik Blaze, sedangkan Halilintar hanya membawa tas cangklong miliknya.
"Pakai masker, Blaze." Halilintar mengoperkan masker medis yang disediakan rumah sakit. Seorang perawat laki-laki masuk ke kamar dan menyampaikan akan mengantar mereka.
"Kita bisa ke ICU dulu?" pinta Blaze saat didorong keluar dari kamar. "Kak Hali nanti tidur di mana?"
Kedua kakaknya bertukar pandang. Halilintar yang mendorong kursi roda bersuara pelan,
"Gampang lah. Ayo, kita tengok Ice sebelum kamu pulang."
"ICU? Tapi … kita nggak boleh masuk 'kan?" tanya Taufan, menoleh kepada si perawat.
"Boleh lihat dari luar," jawab si perawat bersimpati. "Mari saya antar dulu."
Sejurus kemudian, Blaze menyesal meminta pergi ke ICU. Melihat Ice terbaring dengan banyak kabel monitor dan selang menempel di tubuhnya yang pucat membuat hati Blaze sakit sekali.
"Ice ...?" selorohnya pelan, menatap dari balik kaca. "Bangun, Ice. Ini sudah pagi."
Tentu saja Ice tidak menyahut. Kaca itu pun kedap suara.
"Nanti susu langgananmu kuhabiskan kalau kamu nggak segera bangun!" ketus Blaze tiba-tiba sambil berpaling. "Kutinggal pulang, lho, Ice. Ayo, Kak."
.
.
.
.
.
"Nanti aku telepon kalau sudah sampai rumah, Kak."
"Oke. Terima kasih, Fan."
Blaze sudah dinaikkan ke dalam ambulans dan Taufan ikut naik. Halilintar melambaikan tangan dengan wajah datar dilingkupi lelah.
"Kak Hali ..." Taufan berujar lirih sebelum menutup pintu. "Ingat apa yang Fang bilang. Jangan nekat."
Halilintar diam sejenak, lalu menggeleng. "Ice perlu aku di sini. Aku nggak akan ke mana-mana."
"Janji, lho?" Taufan tak luput mendapati tangan kakaknya mengepal.
"Janji. Aku akan tunggui Ice sampai bangun." Kalimat Halilintar terdengar seperti bersumpah.
"Setelah itu langsung pulang!" tegas Taufan.
Si sulung hanya mengangguk sekilas, lalu berkata pada Blaze, "Nah, sampai jumpa, Blaze."
Yang dipamiti balas melambai. "Jaga diri, Kak."
"Oh, ya. Tentu saja."
Pintu ambulans ditutup dan Halilintar mengembuskan napas lelah. Ditunggunya sampai kendaraan itu keluar dari area rumah sakit dan menghilang di ujung jalan, baru balik badan kembali ke ICU.
.
.
.
.
.
"Kak Taufan sudah tahu Ice sakit?"
Di dalam ambulans, Taufan duduk di kursi belakang, di samping sebuah ruang kosong yang biasanya berisi bed. Yang duduk di tempat kosong itu adalah Blaze di atas kursi roda dan barusan melontarkan pertanyaan bernada sedih.
"Solar yang pertama punya dugaan," balas sang kakak. "Yang ternyata benar." Dia menjeda, melihat Blaze belum menyahut, lalu melanjutkan, "Hipotiroid, kronis, dan sudah komplikasi."
"Aku nggak tahu apa-apa," sahut Blaze dengan nada menyesal yang mendalam. "Aku yang sekamar dengannya nggak tahu apa-apa."
"Kita serumah nggak ada yang tahu," ujar Taufan lembut. "Sedangkan Solar itu memang kepintarannya mengherankan, kau juga tahu, 'kan?"
"Dari mana dia bisa tahu?" Ada sepercik nada iri dalam pertanyaan Blaze. Kok Solar yang tidak dekat dengan Ice bisa punya dugaan?
"Kemarin itu ..." Taufan mengingat-ingat, lalu melihat kuku jari tangannya sendiri. "Yang pertama, kuku. Bentuk kukunya Ice aneh."
Otomatis, Blaze menunduk melihat kukunya sendiri. "Semalam Fang juga mau lihat kukuku. Kenapa kukunya Ice?"
Taufan menyejajarkan tangannya pada tangan Blaze. "Bagian kuku yang warna putih biasanya mulai dari ujung jari, 'kan? Kukunya Ice hampir setengahnya berwarna putih, sampai ke tengah daging, dan pinggirnya nggak rata."
Blaze bergidik. "Bisa patah dong?"
"Yah, amit-amit, sih. Ice sering pakai sarung tangan, makanya nggak ada yang tahu. Solar kebetulan lihat kukunya waktu belajar fisika bareng."
Blaze tercenung. "Terus apa lagi?"
"Bentuk kuku itu sudah bikin Solar penasaran. Dia coba browsing dengan bermodal gejala yang lain. Sering kedinginan, gampang capek dan ngantuk, lamban dan malas bergerak. Waktu dia baca tentang hipotiroid, rasanya cocok."
"Wajah bengkak dan napas tersengal juga termasuk gejala?" tanya Blaze, teringat kondisi Ice sebelum pingsan semalam.
"Nah, yang dua itu sudah masuk komplikasinya. Namanya … apa kemarin, Solar dan Dokter Kaizo menyebut sebuah nama berakhiran coma. Kusebut saja koma hipotiroid."
"Jadi Ice koma karena komplikasi sakitnya?" Blaze mendesah. "Bukan koma karena nyaris tenggelam?"
"Itu kita belum tahu. Bisa saja keduanya ..." Taufan juga ikut merasa sendu. "Ngomong-ngomong, Blaze. Semalam kamu diperiksa apa aja?"
Yang ditanya menelengkan kepala. "Apa aja, maksudnya?"
"Luka-lukamu, dan … pemeriksaan yang lainnya." Taufan sebetulnya hanya ingin memastikan apakah Blaze benar-benar menjalani semua pemeriksaan seperti yang diterangkan seorang perawat yang mendatangi kamarnya sekitar jam setengah satu pagi, sebelum Taufan dan Halilintar pergi tidur.
"Aku sempat pingsan ... Waktu bangun, aku masih di pantai, ada kantong darah dan kakiku sudah diperban. Terus aku dibawa naik ambulans ke rumah sakit. Ke UGD."
"Terus?"
Blaze merenung. "Apa ya? Dicek tensi? Distetoskop? Oh, iya. Aku … aku nggak begitu yakin aku ingat apa saja yang … mereka lakukan …" Suara Blaze agak menghilang dan dia mengusap wajahnya dengan gusar. "Karena dokter melihat bajuku koyak dan … apa ya? Terlihat … terguncang? Jadi dia mengira telah terjadi pemerkosaan. Jujur, waktu ditanya ke arah itu aku juga nggak yakin iya atau enggak. Aku nggak bisa langsung mengingat, lagipula aku pingsan berapa lama, udah nggak bisa mikir. Jadi dokter memeriksa … selangkanganku juga."
Taufan mengernyit. "Atas seizinmu, 'kan?"
Blaze mengangguk sambil bergidik.
"Meriksanya gimana?" Taufan tak bisa menahan keingintahuannya.
"Ya dilihat."
"Kakimu mengangkang kayak ibu melahirkan, begitu?"
Wajah Blaze memerah. "Gimana lagi? Apaan sih Kak Taufan nih!"
"Terus, dilihat aja?"
"Nggak juga. Diusap pakai sesuatu semacam kapas, nggak tahu apa."
"Oh." Taufan meringis. "Uuh, nggak kebayang rasanya kayak apa."
"Nggak sakit sih. Geli sedikit. Tapi mana kepikiran soal itu. Aku mikirin Ice."
Taufan merasakan napasnya tercekat. "Semalam, ada perawat yang minta persetujuan kami untuk memeriksa Ice seperti itu juga. Berhubung orangnya nggak sadar, ya sudah kami beri izin. Daripada kena infeksi macam-macam kalau beneran … kejadian."
"Lalu?" Suara Blaze menegang. Ice 'kan sempat dibawa naik kapal penjahat! Lagipula ada ancaman Retak'ka yang kedengarannya tidak main-main itu. Jangan-jangan Ice betulan sempat di...
"Aman, kok." Jawaban Taufan membuat Blaze mengucap syukur. Dalam hati Taufan sendiri tidak merasa perlu menyampaikan bahwa dia cukup heran laki-laki juga bisa jadi korban pemerkosaan. Setahunya, suatu kejadian dihitung sebagai pemerkosaan jika terjadi penetrasi seksual yang di luar kehendak. Kalau korbannya perempuan, kita tahu apa yang terjadi. Kalau korban adalah lelaki? Apakah penetrasi lewat anus? Tapi kalau di sini penjahatnya perempuan, apakah dipaksa bersetubuh juga dianggap pemerkosaan?
Apa pun itu, Taufan tidak mau berpikir jauh-jauh. Yang penting kedua adiknya selamat, sudah cukup.
Blaze menguap. "Ngomong-ngomong soal infeksi, semalam aku juga cek darah dan swab hidung sama tenggorokan."
"Oh ya? Swab Covid?" Taufan merasa ini berita baru. Atau jangan-jangan dia sudah terlalu capek semalam sehingga yang satu ini lewat begitu saja.
Anggukan malas sebagai jawaban, tampaknya Blaze sudah diserang kantuk lagi.
"Hasilnya gimana?"
"... Nanti ditelepon."
"Berapa lama sih maskermu dilepas?" Taufan merasa dikacangi ketika tak ada jawaban. "Oi, Blaze?"
Ketika ditengok lagi, rupanya sang adik sudah tertidur nyenyak.
.
.
.
.
.
Halilintar mengamati deretan bilik kecil yang menjadi ruang tunggu bagi keluarga pasien ICU itu. Tiap bilik persis berada di belakang kamar seorang pasien, dan karena sedang pandemi, hanya boleh ada satu orang keluarga yang menunggu. Tempat itu hanya terdiri atas sekat dinding dua kali dua meter tanpa alas maupun kursi, meski ada sebuah stop kontak kecil di sudut. Rasanya dia perlu beli tikar atau kantong tidur sekalian kalau harus tidur agak lama di sini.
Jendela kecil di sebelah atasnya persis terhubung ke tempat Ice dirawat. Dari situ Halilintar bisa menengoknya setiap waktu seperti yang dilakukannya sekarang. Monitor-monitor yang merekam fungsi tubuh Ice masih menunjukkan grafik monoton yang hanya sedikit dipahaminya.
Si sulung mendudukkan diri di lantai, bersandar ke dinding, dan menghela napas keras. Dia mau istirahat sebentar sebelum nanti pergi belanja beberapa kebutuhan. Untung isi tas cangklongnya itu selalu lengkap: ponsel dan charger-nya, dompet dan kartu-kartu penting. Sebelum memejamkan mata, dibukanya ponsel dan dicarinya sebuah chat yang belum berbalas sejak tadi malam.
'Assalamualaikum, Ayah. Tadi sore Blaze dan Ice diculik orang. Sudah ketemu, aku dan Taufan jaga mereka di rumah sakit. Blaze banyak luka, Ice koma.'
Pesan itu sudah terkirim dan diterima, tapi Amato menonaktifkan fitur "sudah dibaca" sehingga Halilintar tak tahu apakah ayahnya sudah membaca pesannya atau belum. Dia ingat dan paham sang ayah sangat serius waktu berpesan padanya, "Hanya telepon jika ada yang gawat."
Dua adiknya diculik orang, itu saja sudah gawat sebetulnya, 'kan? Tapi semalam Halilintar tidak cukup jernih berpikir, lagipula menghubungi orang yang sedang berada di luar negeri untuk kasus genting seperti semalam hampir tak ada gunanya. Maka si sulung hanya mengirim pesan, berharap sang ayah membacanya.
Harapannya tipis.
Amato bahkan belum menjawab pesan Halilintar dua minggu sebelum itu, saat dia mengabarkan Solar yang jatuh dari ranjang tingkat atas sampai alisnya berdarah dan harus dijahit. Juga perkara ujian adik-adiknya kelas ilmu alam yang berakhir Duri remidi dan Ice sampai terlambat sahur persis sebelum penculikan itu. Mengenang hal-hal yang lebih jauh lagi dan sama menyedihkannya karena mendapat slow response dari Ayah membuat Halilintar tambah lelah.
Rasanya Halilintar ketiduran sebentar. Saat ponselnya bergetar heboh, dia terbangun kaget. Nama Taufan tertera di layar, segera dijawabnya,
"Halo, Assalamualaikum?"
"Waalaikumsalam, Kak Hali!" Balasan di seberang terdengar ceria. "Aku dan Blaze sudah sampai di rumah. Kursi roda rumah sakit boleh kami pinjam dulu untuk dipakai di rumah."
"Alhamdulillah." Halilintar lega kedua adiknya itu sudah aman di rumah. Hei, berarti dia ketiduran hampir tiga jam, ya? Diliriknya jam tangan, memang sudah hampir Zuhur.
"Kamu gimana, Kak?"
"Nanti mau belanja bentar. Ice masih belum sadar."
Irit kosakata, memang khas si sulung. Obrolan itu pun tak berlanjut terlalu lama. Halilintar tersenyum miring, hatinya miris ketika kembali mengecek chat di nomor Amato yang masih tak bertanggap.
Setelah merenung selama bermenit-menit, akhirnya dipilihnya tombol panggilan ke nomor itu.
Nada sambung terdengar, Halilintar menunggu dengan berdebar. Beberapa kali dan tak kunjung diangkat. Si sulung mulai putus asa. Mungkin Ayah sedang sibuk, sedang ada rapat, sedang apa pun itu dengan pekerjaannya sebagai duta. Barangkali hanya dalam mimpi semata, ayahnya akan menjawab panggilan langsung.
Tepat saat Halilintar merasa nada sambung akan berakhir, tiba-tiba panggilan itu dijawab dengan suara berat di seberang,
"Assalamualaikum."
Halilintar mendadak diserang emosi bersamaan. Sudah lama, terlalu lama malah. Dia sangat merindukan suara ini, demi Allah, dia merindukannya sekaligus membencinya. Dikuatkannya hati untuk bicara dengan cepat dan langsung ke intinya,
"Waalaikumsalam, Ayah. Maaf mengganggumu. Ice sedang koma ..."
.
.
.
.
.
bersambung.
.
.
.
.
.
.
Catatan Penulis:
Komplikasi dari hipotiroid kronis yang tak tertangani disebut myxedema coma, yang disebutkan juga dalam Bridge over Troubled Water.
Gejalanya dijelaskan dari namanya: edema artinya pembengkakan, dan coma = kondisi koma. Myxa berasal dari bahasa Yunani dan bermakna mukus/lendir, yang mana kekurangan hormon tiroid menimbulkan penumpukan molekul berlebihan di bawah kulit, yang menyebabkan bengkak itu tadi.
.
Para perawat dan dokter jaga di cerita ini merupakan original character sampingan, kecuali disebutkan namanya dari fandom BoBoiBoy. Sekalipun hanya peran sampingan dan tak diingat namanya, mereka selalu ada saat pasien membutuhkan :")
Rasanya alur di bab ini agak kaku, mungkin karena pindah-pindah tokoh? Semoga tetap terbangun suasananya :") Bab selanjutnya berlatar di rumah Tok Aba, masih dalam flashback ketika Blaze pulang dan Ice masih koma.
.
Akhir kata, terima kasih sudah membaca. Bila berkenan, bisa tinggalkan review, PM, atau jejak apa pun :3 Kritik dan saran sangat diterima! ^^
.
26.06.2021
