Jarang sekali satu hari berakhir tanpa Gempa bin Amato mencoret sembilan puluh lima persen tulisan di to-do list pribadinya. Dia bahkan punya dua versi: digital dan manual. Daftar kerjaan rumah selalu ditulisnya di atas kertas (kadang ditempel di papan biar bisa dilihat seisi rumah, ya, yang dimaksud adalah pembagian tugas bersih-bersih rumah, laundry, memasak, dan jaga kedai) sedangkan kerjaan sekolah dan organisasi ada di ponselnya. Sejak kecil Gempa memang terbiasa membuat daftar dan mencoret-coret daftar itu setiap selesai mengerjakan sesuatu menimbulkan kepuasan tersendiri.

Gempa masih ingat siapa yang pertama mengajarinya membuat daftar tugas. Bukan Ayah atau Ibu atau Tok Aba, melainkan: Pak Guru Kokoci. Sejak usia masih enam tahun, Gempa sudah belajar cara menata pikiran dan tingkah laku, mengatur jadwal, memastikan semuanya terorganisir—betul-betul karakter pemimpin sejati.

Sayangnya ada satu kerjaan yang belum terlaksana sejak dua hari lalu dan Gempa sangat menyesalinya:

Memasang wifi di rumah.

Itu janjinya pada Blaze dua hari yang lalu. Dua hari yang lalu, Gempa masih jaga kedai bersama adik pertamanya itu. Dan hari ini, Blaze pulang ke rumah dalam keadaan sakit.

.

.

.

.

.


.

.

.

BoBoiBoy (c) Animonsta Studios

Through the Darkness (c) Roux Marlet

-Penulis tidak mengambil keuntungan material apa pun dari cerita ini-

Alternate Universe, Elemental Siblings without super powers

Family, Drama, Angst (more genres ahead)

.

.

.


.

.

.

.

.

Bab Tiga: Sakit

.

.

.

Pelajaran baru saja berakhir. Ice sudah bergulung di atas sofa bersama bantalnya, Blaze dan Taufan main kejar-kejaran, Halilintar sibuk merapikan buku-bukunya dan Solar tengah menjelaskan ulang pelajaran bahasa Melayu barusan pada Duri dengan bersemangat. Gempa bertanya sesuatu yang menarik perhatiannya dari bacaan di pelajaran tadi,

"Tunawisma itu apa, Pak Guru?"

Pak Guru Kokoci, pria mungil berkacamata hitam yang tingginya sama dengan Gempa yang berusia enam tahun, berdeham penuh gaya sebelum menjawab, "Seseorang yang tidak punya rumah."

"Tidak punya rumah? Kasihan sekali." Gempa merenung sementara matanya memandang ruang belajarnya dan saudara-saudaranya yang luar biasa luas (sampai-sampai Blaze dan Taufan bisa sering main sepak bola di situ, yang berakhir dijewer ayah mereka) lengkap dengan lampu-lampu terang dan pendingin ruangan. "Kenapa namanya tunawisma?"

"Pertanyaan bagus! Penggalan kata 'tuna' artinya 'kurang' atau 'tidak punya'. Gempa pernah dengar tunanetra atau tunarungu?"

"Mm, orang buta dan orang tuli?"

"Ya, itulah."

"Kalau tunawisma, Gempa baru dengar ini," lanjut Gempa masih dengan nada prihatin. "Seperti apa rasanya tak punya rumah? Lalu kalau tidur bagaimana?"

Kokoci diam sejenak, lalu mengeluarkan sebuah buku dari dalam tasnya. "Gempa mau kudongengi sebentar?"

Yang ditanya mengangguk penuh minat lalu duduk lagi di kursi.

"Ini karya penulis Prancis, Victor Hugo. Tokoh utama dalam cerita ini bisa dibilang tunawisma."

"Les ... Mise-miserrrables?" Gempa coba membaca judulnya. Sang guru mengoreksi ejaan yang kurang tepat, lalu mulai bercerita. Beberapa saat setelah prolog, Halilintar ikut bergabung menyimak dalam diam sementara saudara mereka yang lain masih asyik sendiri.

"Jadi orang tunawisma hanya bisa berharap mendapat belas kasihan orang lain ...?" Gempa terhenyak.

"Betul. Kebanyakan tunawisma juga tidak punya pekerjaan … tidak punya keluarga … tidak punya ... apa-apa."

.

.

.

.

.

"TAK PUNYA APA-APA~ TAPI AKU PUNYA CINTA~~~"

Gempa tergugah dari lamunannya di balik jendela ruang tamu. Dari tadi dia tengah menunggu kedatangan ambulans dari Rumah Sakit Yong Pin, eh yang muncul malah suara cempreng dua orang itu diiringi petikan gitar yang sumbang nadanya.

"BANG GEMBUL!" Salah satu dari mereka melihat wajah Gempa di balik jendela dan melambaikan tangan yang memegang sebuah kaleng. Pemuda kumal yang kira-kira seusianya, rambut dicat hijau terang. Gempa tersenyum kecil, balas melambaikan tangan sebelum menghilang ke kamarnya.

"Bang Gembul, aku ada satu lagu baru buatmu!" pekik si rambut hijau lagi. Wajahnya yang bersegi tidak tertutup masker, suaranya yang parau dan cempreng berhenti di depan pagar rumah.

"Pak Bos memanglah hebat!" balas sosok yang satu lagi, pemuda berambut ungu terang yang sama kumalnya, memegang gitar kecil.

"Oi, Adu Du, Probe! Mana masker kalian?" balas Gempa yang sudah di ambang pintu lengkap dengan maskernya sendiri. "Jangan bilang hilang."

"Mwahahaha. Mana mungkin hilang. Sedang dicuci, belum kering!" jawab si rambut hijau, Adu Du.

"Iya, tapi Pak Bos nyucinya pakai air comberan. Patut lah tak wangi-wangi macam Bang Gembul yang cuci! ADUH!"

Adu Du memukul kepala si rambut ungu dengan kaleng di tangannya. "Diam kau Probe!" Dia menyeringai ke arah Gempa. "Tapi kalau Bang Gembul mau kasih masker lagi, aku nggak akan nolak, kok."

"Aku belum jahit lagi," sahut Gempa geli, masih di ambang pintu. "Soalnya wajah kalian berdua lebih lebar daripada saudara-saudaraku, jadi ukurannya beda."

"Huh! Ya sudah! Kami tak jadi nyanyi kalau begitu!" ketus Adu Du.

"Ya! Tak ada masker, tak ada lagu!" timpal Probe. Macam nyanyian mereka indah saja. Melihat keduanya beranjak, Gempa mencegah,

"Eeh? Tunggu dulu! Kalian sudah sarapan?"

Mendadak Adu Du dan Probe pasang wajah memelas. "Belum, Bang ..."

Beberapa menit kemudian sebuah kresek berisi beberapa bungkus nasi lemak sudah berpindah dari tangan Gempa ke pagar lalu dari pagar ke tangan Adu Du dan Probe. Protokol kesehatan katanya, jangan berkontak langsung apalagi dua tunawisma itu tak pakai masker.

"Sudah, tak perlu nyanyi. Kalian pulang dan makanlah."

Mata kedua pemuda itu berbinar-binar seperti baru saja mendapat harta karun.

"Makan kenyang! Hore!"

"Jatahku jangan kamu makan lagi ya Pak Bos!"

Tak ada ucapan terima kasih, tapi Gempa merasa senang dengan hanya mengamati kedua pemuda berisik itu pergi dengan gembira.

"Kirain Kak Blaze dan Kak Taufan pulang," Solar bergumam dari tangga, baru turun dari kamarnya setelah yakin kedua pemuda itu sudah tidak di sekitar pagar. "Fansnya Kak Gempa, ternyata."

"Mereka belum sarapan, kasihan. Mungkin belum makan beberapa hari. Makin kurus saja kelihatannya," sahut Gempa sambil berlalu ke dapur untuk mencuci tangan.

"Adu Du itu sebetulnya agak … sakit nggak sih, Kak? Menurut Kak Gempa gimana?" Solar menyelidik. Karena Gempa tak menjawab, Solar melanjutkan hipotesisnya, "Menurutku dia itu depresi karena putus cinta. Dengar aja lagu-lagunya galau terus. Nggak tahu sih kalau Probe."

Gempa menatap adik bungsunya, mendapati Solar tampaknya tak bermaksud menyindir, melainkan menganalisis berlandaskan keingintahuan. "Kalau nggak tahu, nggak usah menebak-nebak, Solar," Gempa memperingatkan, nadanya lembut tapi tegas. "Sudah cukup kita tahu faktanya mereka tinggal di penampungan sampah."

Solar masih ingat apa yang pertama-tama mengundang Adu Du dan Probe jadi sering bertandang ke rumah mereka (pagar rumah mereka, lebih tepatnya). Tok Aba punya kebiasaan membuat nasi bungkus dan memajangnya pada sebuah rak bertuliskan "Nasi gratis, silakan ambil" di depan pagar rumah pada bulan puasa, dan beberapa tahun terakhir ini Gempa yang melanjutkan tradisi itu. Suatu hari, ada petikan gitar dan suara asing yang mengisi sore mereka menjelang buka puasa. Bentuk ucapan terima kasih dapat makanan gratis rupanya, tapi seisi rumah termasuk Tok Aba hanya meringis mendengarkan karena suara mereka sumbang.

Mulanya mereka malu-malu saat mengambil nasi bungkus itu, tapi sekarang sudah sampai ke tahap berani minta masker gratis pada Gempa. Memang bukan hanya Gempa seorang yang mau keluar rumah untuk bicara dengan mereka, yang lain kadang memberi uang receh upah mengamen yang tak bisa dibilang berkualitas, lebih sering lagi Taufan memberikan baju-baju tua yang masih layak pakai. Tapi entah kenapa, Adu Du dan Probe hanya mengingat nama Gempa. Mungkin saking Gempa seorang yang mengajak mereka bicara dari hati ke hati, sampai ke pertanyaan apakah boleh makan daging tertentu untuk menyiapkan menu, lantaran teringat seorang kawan, Gopal anak lelaki Pak Kumar, yang karena adat kepercayaan tidak bisa makan daging sapi.

"Boleh makan daging sapi? Apa saja, lah. Mau sapi, ayam, babi, anjing, kodok, kami makan semua."

Sampai sekarang pun Gempa sendiri tak paham asal suku bangsa dan agamanya Adu Du dan Probe.

Menyambung teguran kakaknya tadi, Solar mengedikkan bahu. "Iya, iya, Kak. Aku cuma masih penasaran saja kenapa mereka memanggilmu Bang Gembul. Mereka belum pernah ketemu Kak Ice, ya?"

Gempa mengulum senyum, menahan tawa yang ingin tersembur. "Bang Gembul itu singkatan dari … Abang Gempa Bumi cool."

Beberapa detik, Solar hanya diam sambil menaikkan alis kirinya yang pitak. Celetukannya yang berikut hanya,

"Kak Gempa sehat?"

Kekehan lolos dari mulut Gempa, dia tahu betul Solar paling sensitif kalau ada orang selain dirinya yang disebut keren. "Alhamdulillah, sehat."

.

.

.

.

.

"Meski bukan anak sulung, kamu yang paling cocok jadi pemimpin, Gempa."

"Pemimpin?" ulang Gempa. Dalam bayangannya langsung muncul sosok perdana menteri Malaysia, Sultan Brunei, dan Ratu Inggris yang dilihatnya di buku pelajaran.

Pak Guru Kokoci mengangguk. "Kalian 'kan tak akan selamanya tinggal bersama orang tua. Bertujuh kalian bisa terus bersatu kalau ada yang memimpin."

"Kenapa begitu, Pak Guru?" Gempa mengira Pak Guru Kokoci memanggilnya di ruangan untuk menegur karena nilai tes matematika Gempa tadi pagi buruk. "Apa karena Kak Halilintar sering sakit? Apa karena Kak Taufan suka main-main?"

"Itu juga termasuk. Tapi alasan utamanya bukan itu." Sang guru menegakkan tubuh, melepas kacamata hitamnya lalu menatap Gempa dengan serius. "Ujian-ujian itu … aku sudah mengetes kalian semua … intelektual, emosional, spiritual, dan ada satu poin lagi. Kau tentu bisa menebak kalau Solar adalah yang IQ-nya tertinggi, tapi secara keseluruhan ada empat poin yang jadi pertimbangan. Halilintar dan Taufan tidak sebaik dirimu sebagai pemimpin."

.

.

.

.

.

"KAK GEMPA! MEREKA PULANG!"

Bahkan dari pintu ambulans, Taufan bisa mendengar pekikan Duri yang bersemangat di ruang tamu. Pintu rumah mengayun terbuka dan sosok Duri yang berkaos hijau muncul.

"Kak Taufan! Kak Blaze!" serunya sambil melambaikan tangan, hendak mencari sandal untuk keluar.

"Eh, Duri, pakai dulu maskermu!" teriak Gempa dari dalam rumah. "Itu mobil rumah sakit!"

Rengekan Duri hilang timbul ketika dia masuk lagi ke dalam. Berikutnya Gempa yang muncul di pintu, sudah bermasker. Taufan sedang menurunkan Blaze dan kursi rodanya dibantu petugas ambulans. Blaze sendiri mengerjap-ngerjap linglung, sepertinya baru bangun tidur.

"Kursi rodanya boleh dipinjam dulu," ujar si petugas yang baik hati.

"Terima kasih," gumam Taufan dan Gempa kompak.

"KAK BLAZE~!" seru Duri ketika mereka bertiga masuk ke rumah. Dia berlari menghampiri sang kakak di atas kursi roda dan mau merangkul bahunya, tapi Blaze mencegahnya,

"Jangan sini, sakit."

"Kalau gitu perut Kak Blaze aja," ujar Duri, sudah membungkuk dan melingkarkan lengan ke perut.

"Jangan! Perutku juga sakit!" Blaze menjerit sambil mendorong Duri menjauh. "Maaf ya Duri, jangan peluk aku dulu. Sakit semua badanku."

Mata Duri yang besar membelalak ngeri. "Kak Blaze diapain aja sama para penculik?"

Blaze berpaling, menahan diri agar tidak menangis di depan Duri yang bertanya demikian murni karena kepolosannya. Untung Taufan menyelamatkannya,

"Duri tahu kalau orang diculik kayak gimana?"

"Um ... diikat?"

"Nah, itu dia. Kak Blaze capek karena kelamaan diikat, dia perlu tidur. Jangan diganggu dulu, ya, Duri."

Taufan menepuk-nepuk kepala si adik untuk meyakinkannya. Blaze juga kembali menatap Duri dan nyengir tanpa bicara apa-apa. Wajah Duri menjadi cerah.

"Berarti Duri boleh peluk Kak Blaze setelah Kak Blaze tidur nanti?"

Taufan segera mengarang alasan. "Eh ... nanti dulu. Nanti Kak Taufan akan panggil Duri kalau sudah boleh peluk Kak Blaze." Sambil mengucapkan itu pun Taufan sendiri sudah kepengin menangis. Kepolosan Duri betul-betul mengguncang pertahanan mentalnya. Dari sudut matanya bisa dilihatnya Solar yang bertengger di tangga curi-curi mengusap mata.

"Blaze tidur di tempatku saja," Gempa berucap lembut. "Barusan spreinya kuganti."

"Ng, Blaze tidur di kasur Kak Hali, orangnya sudah kasih izin. Dia baru akan pulang kalau Ice sudah sadar. Kamu nggak perlu pindahan lagi, Gem."

"Oh begitu? Spreinya Kak Halilintar belum diganti. Blaze baring di tempatku dulu saja selagi aku ganti spreinya."

Blaze meringis. "Kak Gempa nggak usah repot-repot, toh nanti spreinya kalau kutidurin cepat bau, hehehe. Lagian aku belum mandi dari kemarin."

"Kalau sprei bersih, istirahat juga jadi enak, 'kan." Gempa bersikeras tanpa bersikap keras.

Blaze luluh dibuatnya dan meringis lagi. "Ya sudah, Kak."

"Kak Blaze mau cokelat? Aku buatkan sebentar," Solar tiba-tiba bicara.

"Eh? Kak Blaze nggak puasa?" Duri menelengkan kepala.

Mendapat kesempatan, Solar segera mengalihkan perhatian. "Iya, 'kan Kak Blaze lagi sakit, jadi nggak puasa. Kak Duri, ayo kita bikinin hot chocolate. Biar perutnya Kak Blaze enakan."

Duri berbinar-binar. "Ayo!"

Taufan dan Gempa menatap saja dua adik mereka yang terkecil masuk ke dapur. Blaze menggigit bibir dengan gemetar. "Kak Gempa ..."

"Ayo di kamar saja," bimbing Gempa dengan nada menenangkan. Dia membukakan pintu kamar dan Taufan mendorong kursi roda Blaze masuk.

"Maaf Kak, masker kainmu kuhilangkan," sesal Blaze.

"Nggak apa-apa, cuma masker kain yang hilang, kan masih bisa jahit lagi." Gempa tersenyum haru. "Kalau kamu atau Ice yang hilang, nggak ada gantinya. Alhamdulillah, kamu pulang selamat, Blaze..."

Air mata Blaze mengalir tanpa bisa ditahan. "Maaf Kak... Gara-gara aku, Ice ..."

Gempa menepuk kepala Blaze pelan—karena bingung mau menepuk bagian mana lagi. "Istirahat dulu, ceritanya bisa nanti. Kak Taufan, ayo kubantu angkat Blaze ke tempat tidurku dulu."

Wajah Blaze merah sekali, ekspresinya seperti ingin menghilang ke dalam bumi. Tentu saja, biasanya dia bebas bergerak semaunya dan seenaknya tapi sekarang harus bergantung pada kakak-kakaknya. Apalagi, dia mengingatkan diri sendiri di dalam hati, dia belum mandi sejak kemarin pagi! Semoga saja Kak Gempa dan Kak Taufan nggak pingsan setelah ini, batinnya.

"Sudah lama ya nggak main gendong-gendongan kayak dulu," kikik Taufan, mencoba mencairkan suasana. "Dulu kamu sama Duri paling suka kalau kugendong. Kayak naik kuda bilangnya."

Blaze hanya meringis kecil sambil memejamkan mata, masih malu. "Aku berat ya?"

Gempa menyahut dengan senyum, "Santai saja, Blaze. Meski nggak sekuat Kak Halilintar, kami berdua juga cukup kuat kok. Masa kamu nggak boleh bertumbuh besar?"

"Makasih Kak," bisik Blaze lirih.

Kadang Taufan merasa Gempa itu anak nomor dua—kakaknya, dan bukan sebaliknya, saat si adik kemudian membongkar lemarinya yang rapi untuk mencari sprei. Dia sendiri beranjak ke tempat tidur Halilintar yang akan ditempati Blaze sementara adiknya itu menggigit bibir lalu mulai mengamati luka-luka berperban di tubuhnya.

"Atok baru istirahat di kamar, Gem?" Taufan bertanya sambil melepas sprei di ranjang Halilintar.

"Iya, beliau juga nggak bisa tidur semalam," sahut Gempa. Dia bilang 'juga', artinya mereka semua yang di rumah pun mengalami susah tidur. "Kalian gimana?"

"Pegal sih, aku tidur di sofa. Habis sahur baru aku dan Kak Halilintar bisa tidur."

"Aku nggak tidur semalaman," ujar Gempa tanpa menoleh, membuat Taufan kaget.

"Sampai segitunya, Gem? Tapi kamu nggak kelihatan kayak habis begadang."

Gempa sudah mendapatkan spreinya. "Setelah kalian video call ... butuh waktu lama aku bikin Solar mau pergi tidur. Duri sih sudah tidur duluan, untung sekali. Banyak hal akan sulit dipahaminya."

"Solar tidur jam berapa?"

"Jam satu pagi dia naik ke kamar. Tapi aku ragu dia langsung tidur. Katanya mau coba meriset soal buronan itu."

Blaze sudah melepas perbannya di lengan kiri dan mengamati lukanya sambil mengernyit. Pikirannya melayang kepada Ice, lalu pada kejadian semalam. Lama sekali Blaze memandangi bekas cakaran di lengan kirinya sambil melamun hingga Taufan menepukkan tangan di depan matanya. Blaze tergugah, mengerjap pelan dengan pandangan bingung.

"Blaze, kamu mau langsung tidur atau makan siang dulu? Udah Dzuhur nih."

Gempa menyambung, "Aku masak sup makaroni buat sahur tadi pagi. Kupanaskan sebentar, ya."

Blaze hanya mengangguk dalam diam, Gempa pun menghilang ke dapur. Sejurus kemudian dia bicara,

"Kak Taufan, bantu aku wudu, ya. Aku mau salat sambil duduk."

"Eh? Oke."

.

.

.

.

.

Bekas cakaran perempuan itu masih ada di sana, tak berdarah, tapi Blaze merasa lukanya masih segar. Luka di hatinya, lebih tepatnya. Oh, astaga, seperti ada sesuatu yang berdarah dan perih di dalam sana. Lagipula ...

… bagaimana keadaan Ice saat ini? Blaze bisa pulang dan tidur dengan nyaman di rumah, tapi Ice masih meregang nyawa di rumah sakit. Dari film-film yang diceritakan Taufan kepadanya, Blaze tahu istilah 'koma' berarti seseorang sedang berada di batas antara hidup dan mati. Seperti apa rasanya? Blaze tak sanggup membayangkan adiknya yang satu itu dalam kondisi demikian.

Blaze merasa pusing. Kenapa harus Ice? Kenapa harus dirinya? Blaze tak pernah dan tak ingin mengasihani diri sendiri, tapi apa yang dialaminya membuatnya merasa seperti out of character. Seperti apa hidupnya setelah hari kemarin? Akankah tetap sama? Sementara Ice belum tentu bisa melanjutkan hidup sepertinya? Blaze gemetaran. Gelisah parah padahal baru saja salat, dia merasa mendengar suara. Dia merasa melihat sosok. Pelan-pelan ia menapakkan kaki ke lantai dan berdiri.

Kak Taufan dan Kak Gempa masih di lantai atas, mengepak baju-baju Blaze dari lemari untuk dipindah ke kamar ini. Blaze berjalan menuju dapur dan di sana ia duduk di kursi tanpa benar-benar memerhatikan sekitarnya.

.

.

.

.

.

"Kak … Blaze?"

Selorohan salah satu adiknya dianggap angin lalu saja di telinga si pemilik nama yang tengah menatap kobaran api di hadapannya. Netra merahnya beralih ke sisi yang lain dan menatap sendu sambil berbisik,

"Ice masih kedinginan?"

Tombol kompor dimatikan dalam sekejap dan api itu seketika padam. Sepasang mata penuh keingintahuan di balik kacamata menatap tajam kakaknya yang barusan bicara sendiri. Solar tadi mencium aroma hangus dari dapur dan menemukan Blaze duduk di depan kompor yang apinya menyala besar tanpa apa-apa yang dipanaskan di atasnya. Hal pertama yang dia lakukan jelas mematikan kompornya duluan baru bicara,

"Kak Blaze yang—?"

Ucapan Solar terhenti ketika Blaze melompat dari kursi dan menerjangnya tanpa ampun. Tubuh Solar terbanting keras ke lantai dan Blaze mencekik lehernya yang kurus. Si bungsu menendang-nendang tapi berat badan Blaze menindihnya. Dicengkeramnya kedua tangan Blaze yang mencekiknya tapi Solar jelas kalah kuat. Sorot mata kakaknya itu terlihat aneh, atau itu hanya imajinasi Solar saja yang posisi kacamatanya jadi miring dan dengan cepat kehabisan udara untuk bisa berpikir …

"Astaga, Blaze! Solar!"

Ada yang menarik Blaze menjauh dan Solar langsung menarik napas dengan lega. Begitu punya tenaga untuk bangun, dia mundur menjauh dan bersandar ke dinding dapur, mencoba memahami apa yang baru saja terjadi sambil membenahi napasnya dan letak kacamatanya.

Taufan dan Gempa sedang menahan Blaze yang meronta hebat dari sebelah kiri dan kanannya.

"Dia mau menyakiti Ice!" pekik Blaze.

"Dia itu Solar! Adikmu!" teriak Taufan di telinga anak itu. Kemudian, dengan gerakan terlatih yang membuat baik Gempa maupun Solar terkejut, Taufan memuntir lengan Blaze ke belakang dan membuatnya menunduk di depan si bungsu.

"Lihat baik-baik. Masa wajah imut nan kinclong seperti itu milik penjahat?"

Bahkan di situasi segenting ini Taufan masih sempat berkelakar. Blaze mengerjap beberapa kali dengan tangan terkunci. Sorot matanya berubah sambil bersuara, "S-Solar? Maaf?"

Solar sudah menemukan kembali tenaga pada kakinya. Dia segera bangkit dan berlari naik tangga tanpa bicara apa-apa.

"Solar!" seru Gempa sambil melepaskan Blaze, lalu menoleh sejenak. "Kak Taufan ...?"

Yang ditanya menyahut tenang, "Ya, kuurus Blaze. Kau urus Solar. Jangan sampai Duri tahu."

Gempa berlari mengejar si adik bungsu ke lantai atas sedangkan Taufan mendudukkan Blaze di kursi dapur. Lengan Blaze terasa panas dan ada bekas cakaran baru di sebelah atasnya, membuat Taufan mengernyit.

"Lho Blaze, kamu demam?" ujar sang kakak sambil menempelkan tangan ke dahi adiknya dan mendapati bagian situ juga sama panasnya.

"B-barusan … aku ngapain?" Blaze tergagap kebingungan dengan tangan gemetar. "Ice di mana? Solar di mana?"

"Blaze ..." Taufan membungkuk lalu memeluk si adik erat-erat, tak peduli itu mungkin malah menyakiti Blaze. Tapi kepanikan si anak nomor empat seperti mengalahkan semua rasa sakit. Taufan bisa merasakan debaran jantung Blaze yang sangat cepat dan tak beraturan serta napasnya yang memburu. "Ice masih di rumah sakit."

"Tadi Ice ada di sini," ucap Blaze ngotot, tapi dia terdengar agak ragu. "Mana Ice? Aku mau Ice!"

Taufan tidak tahu harus menjawab apa. Akhirnya dia hanya bilang, "Ayo kubantu ke kamar. Kamu sudah bisa jalan rupanya."

"Ice ..." Blaze mulai menangis, membuat hati Taufan teriris. Tadi pagi dan siang adiknya ini masih tampak baik-baik saja, tapi siapa yang tahu bahwa ternyata stabilitas mentalnya terganggu? Mereka berdua pindah dari dapur ke kamar, dengan Blaze yang terpincang-pincang dan menangis dipapah oleh Taufan.

"Aku cek suhumu dulu. Kamu nggak merasa meriang?" ujar sang kakak sambil mencari termometer di meja belajar Gempa.

Blaze yang sudah berbaring tidak menyahut dan masih terus menangis. Taufan merasa dia perlu menghubungi rumah sakit untuk berkonsultasi tentang kondisi kejiwaan sang adik, tapi rupanya saat itu telepon rumah mereka berdering keras. Taufan melesat ke luar kamar dan hampir bertabrakan dengan Tok Aba yang sepertinya baru masuk dari kebun belakang.

"Aku saja Tok," ujar Taufan mendahului. "Ah, Duri lagi di kebun bareng Atok?"

"Iya, Duri masih di kebun," sahut sang kakek sambil menepuk-nepukkan tangan yang kotor. "Terima kasih, Taufan. Atok cuci tangan dulu."

Seketika Taufan merasa lega. Duri dan Tok Aba sepertinya tidak mendengar insiden barusan, dan itu artinya Solar sendirian di kamar. Semoga saja Gempa bisa segera membereskan keadaan. Diangkatnya gagang telepon itu.

"Halo? Assalamualaikum."

"Waalaikumsalam. Saya Nut dari Rumah Sakit Yong Pin, Rintis selatan."

Si anak nomor dua mendengarnya dan membeku di tempat. Telepon dari RS Yong Pin? Apakah ini tentang Ice? Kalau iya, apakah kabar buruk? Hati Taufan mencelos memikirkan semuanya dalam sepersekian detik.

"Apakah betul dengan Blaze bin Amato atau keluarganya?"

Taufan masih kaget. Lho, rupanya Blaze yang dicari. Seketika dia merasa lega, setidaknya itu berarti kondisi Ice tidak memburuk.

"Betul, saya kakaknya."

"Dengan Saudara siapa saya berbicara?"

"Taufan."

"Baik Saudara Taufan, kami mau menyampaikan bahwa hasil swab PCR adik Anda, Blaze, positif."

Hah ... Taufan tidak salah dengar, 'kan?

.

.

.

.

.

Telepon itu rupanya dari rumah sakit, mengabarkan bahwa Blaze positif terinfeksi Covid. Dia diberi dua pilihan: isolasi mandiri di rumah atau rawat inap di rumah sakit lagi. Taufan mengepalkan tangan sambil merutuk, rupanya kecurigaannya benar. Blaze tidak komentar apa-apa soal jaket Gempa yang wanginya bahkan menembus masker dan siang ini dia demam tinggi plus halusinasi—meski rasanya itu bukan salah satu gejala Covid. Makan sup makaroni tadi pun dia bilang tak ada rasanya. Terjawab sudah. Taufan merasa lemas. Adiknya itu sedang kacau jiwa dan raganya, lalu kini dia harus diisolasi?

"Adakah yang berkontak erat dengannya?" Nut bertanya.

"Oh, ya, kami serumah semuanya kontak erat," balas Taufan dengan linglung, mengingat-ingat dirinya dan Gempa yang jelas bicara dengan Blaze dalam jarak sangat dekat tanpa masker. Lalu Duri yang mau memeluk Blaze saat datang. Lalu Tok Aba yang mendatangi Blaze di kamar. Lalu Solar yang barusan dicekik Blaze. "Apa?! Kami harus dites semua?!" Dengan cepat Taufan berhitung dalam kepala, berapa biaya tes PCR untuk lima orang. Dia harus beri tahu Gempa dan Tok Aba.

"Kami menyarankan dia dirawat inap. Bila perlu ada pendampingan dari psikolog lagi setelah kejadian kemarin."

Jadi tentunya petugas yang melacak kontak ini sudah tahu kasus Blaze dan menawarkan opsi itu. Apakah itu jalan terbaik?

"Bila terpaksa isolasi di rumah, pastikan dia menempati kamar sendiri dan menggunakan kamar mandi serta peralatan makan terpisah."

Ada jeda sangat lama setelah si petugas selesai bicara. Taufan berujar, "Kami akan rundingan dulu, ya. Terima kasih."

Taufan sangat bingung. Telepon ditutup dan dia bergegas ke kamar untuk mengecek suhu Blaze.

"Tiga sembilan koma lima?!" serunya kaget, memandangi Blaze yang masih meringkuk sambil terisak. "Astaga ..." Taufan berlari keluar dan bertemu Tok Aba yang sudah selesai mengeringkan tangan di dapur.

"Taufan, kalian habis masak apa? Kok baunya gosong?"

"Atok … ceritanya panjang … dan Blaze positif Covid."

Tok Aba tertegun. "Ya Allah …"

"Atok duduk dulu, aku panggil Gempa. Ah, di ruang tamu saja, Tok, jangan di dapur."

.

.

.

.

.

Solar sedang duduk menatap cermin di kursi belajarnya yang membelakangi pintu. Pintunya sendiri tidak tertutup rapat dan Gempa langsung masuk sambil berujar lirih,

"Solar ..."

Si adik bungsu tidak menoleh maupun bersuara.

"Maaf," Gempa berkata sambil berjalan mendekat.

Tetap tak ada balas. Gempa sudah berdiri di sebelah kursi Solar. Sebelah tangan adiknya itu sedang memegangi leher bajunya sendiri.

"Aku baru sadar Kak Blaze ternyata kuat sekali," komentar Solar datar, akhirnya menoleh menatap wajah Gempa.

"Eh … lehermu memar?" seru Gempa, seketika panik melihat semburat biru-ungu di daerah yang tidak semestinya.

"Iya. Nggak apa-apa, sih." Solar kemudian sibuk mencari sesuatu di lacinya.

"Memar itu bukannya ada pembuluh darah yang pecah di dalam?" Gempa menyentuh bahu Solar perlahan. "Sini kulihat sebentar."

Solar menarik bahunya, sudah mengeluarkan sebuah salep dari laci. "Nggak usah, Kak. Diobatin ini nanti hilang juga. Cuma, kalau Kak Duri sampai lihat, dia pasti bertanya-tanya."

"Solar, lihat mataku," ujar Gempa tegas. Dari tadi Solar tidak melakukan itu meski sedang bicara padanya. Solar menggigit bibir dan akhirnya mau menatap netra kuning keemasan kakaknya.

"Maaf, ya," ujar Gempa lagi, menemukan sorot ketakutan di mata si bungsu.

"Bukan salah Kak Gempa," balas Solar sambil membuang muka, akhir kalimatnya bergetar.

"Maafkan Blaze."

Solar tidak menjawab dan malah bangkit dari kursi, menuju lemari baju. Gempa juga tidak bicara lagi dan mengamati. Tadi dia dan Taufan sibuk sekali memindahkan barang Blaze dari kamarnya sampai tidak sadar Blaze sendiri sudah keluar dari kamar mereka ke dapur. Lalu dia mendengar ada yang berteriak dan suara benda (ternyata orang) jatuh yang keras sekali. Gempa sama sekali tak paham kenapa Blaze bisa menyerang Solar seperti itu. Dia berharap Kak Taufan bisa mengatasinya.

Solar rupanya mengeluarkan sebuah kaos turtleneck warna abu-abu dari lemarinya. Dilepasnya jaket putihnya yang trendi lalu kaos putih yang ada di bawahnya. Solar mengganti bajunya dengan kaos turtleneck itu kemudian mengenakan jaketnya kembali.

"Nggak kelihatan, 'kan?" tanyanya pada Gempa yang masih diam. Leher Solar kini tertutup kain seluruhnya dan benar saja, bekas memarnya tentu juga ketutupan.

"Nggak kelihatan," balas sang kakak terharu. "Kamu memikirkan Duri, ya, Solar."

Solar angkat bahu seolah tak peduli. "Yah, soalnya akan repot menjelaskan padanya. Memang Kak Gempa bisa jelasin?"

Gempa menggeleng. "Aku belum tahu kenapa Blaze bisa … bertindak begitu tadi."

"Dia tadi seperti bicara dengan Kak Ice," sambung Solar sambil duduk lagi di kursi, meraih kembali cerminnya.

Gempa terbelalak. "Ice?"

Solar masih mengamati pantulan dirinya di cermin. "Sudah lama aku nggak pakai baju ini. Kayaknya badanku nggak bertumbuh sama sekali sejak SMP."

"Ya, Solar, kamu harus lebih banyak makan. Dan olahraga," balas Gempa, yang tadi baru menyadari betapa kurus badan adiknya itu saat ganti baju. Hampir sama kurusnya dengan Adu Du! Jaket Solar yang penuh pernak-pernik menutupi postur tubuhnya yang sesungguhnya.

"Lho, aku ini banyak ngemil kalau nggak puasa, Kak. Tapi habis semua buat bahan bakar otakku."

Gempa mengusap kepala Solar yang pernah dioperasi itu dengan lembut. "Olahraganya belum rutin, 'kan?"

"Buat apa? Kak Gempa banyak olahraga juga nggak tinggi-tinggi," Solar meledek.

Wah, kok Solar bawa-bawa tinggi badan di sini? Gempa yang rajin jogging tiap pagi hanya meringis. "Aku ini sama tinggi dengan Blaze dan Kak Halilintar, ya! Jangan bandingkan dengan Kak Taufan, dong! Dia itu tingginya kebangetan."

"Aneh sebetulnya. Biasanya pemain basket lebih tinggi dari orang kebanyakan. Tapi Kak Taufan yang kerjaannya main skateboard malah lebih tinggi dari Kak Blaze."

"Entahlah, Solar. Ice yang rajin minum susu yang katanya baik untuk tulang juga malah tumbuh ke samping, bukan ke atas. Tapi kamu dan Duri itu memang yang badannya paling kecil dari semuanya."

Solar membetulkan letak kacamatanya dengan penuh gaya. "Heh. Kak Duri lebih kecil dariku. Aku lebih berat tiga kilogram dan lebih tinggi tiga sentimeter darinya."

Gempa terkekeh, bersyukur Solar sudah beralih topik. "Iya deh iya. Tapi untuk remaja laki-laki tujuh belas tahun, kalian itu termasuk kecil."

"Imut-imut, maksud Kak Gempa?" balas Solar sambil tersenyum miring.

"Hm, aku nggak bilang begitu," Gempa berkomentar netral.

"Tadi Kak Taufan menyebutku imut," seringai Solar melebar. "Imut dan kinclong, katanya. Terima kasih, lho. Kalian kalau ngefans denganku, bilang saja. Tak usah malu-malu."

"Solaaar, kamu ini. Wajah kita tuh sama semua, tahu!" Gempa geli bercampur gemas juga terhadap si bungsu.

"Berarti tadi Kak Taufan memuji diri sendiri?" Solar pasang pose berpikir keras, jemarinya menopang dagu. Mendadak parasnya berubah. "Ah, aku pernah memikirkan ini, tapi nggak tahu benar atau enggak. Kita bertujuh ini 'kan lahir di hari yang sama, iya 'kan Kak?"

"I … ya?" sahut Gempa, agak was-was dengan perubahan ekspresi Solar dan bingung tentang arah pembicaraan yang baru.

"Kalau kita lahir di hari yang sama, kita bertujuh yang adalah kembar identik, kenapa aku dan Kak Duri lebih kecil dari yang lain? Bukan kebetulan dia nomor enam dan aku yang terakhir, 'kan?"

Gempa diam sambil berpikir juga. Dia menunggu Solar mengemukakan teorinya.

"Mungkin nggak sih, cedera kepala membuat pertumbuhan kami terhambat?"

Gempa tersentak. "Belum pernah kepikiran," ungkapnya jujur. "Bisa jadi? Sejak dulu Duri memang yang paling kecil badannya. Kalau kamu … sekitar waktu sekolah dasar, tinggi badan kita sama."

"Iya, 'kan? Sejak kecelakaan waktu umur sepuluh, aku cuma bertambah tinggi sedikit. Tapi nggak apa-apa, kok. Biar pendek, aku tetap cakep. 'Kan? 'Kan?"

Perkataan Solar yang narsis membuat Gempa garuk-garuk kepala. "Teorimu boleh juga, Solar."

"Aku baru teringat lagi setelah tadi Kak Blaze—"

"GEM!" panggil Taufan yang mendadak muncul, berteriak dari pintu kamar. "Turun sekarang. Ke ruang tamu." Dengan itu dia langsung balik badan dan berderap menuruni tangga.

"Eh?" Barusan Gempa bukan melihat Halilintar, tapi Taufan, 'kan? Kenapa nada suara dan irit kosakatanya macam si sulung saja? "Kak Taufan?" sambil bergumam lirih, Gempa otomatis beranjak ke pintu.

"Aku ikut!" seru Solar, segera mengekor.

.

.

.

.

.

"Jadi?" tantang Solar di ruang tamu. Taufan berdiri di pojok ruangan, sementara Gempa di pojok satunya. Tok Aba duduk di sofa ruang tamu, sedangkan Solar berdiri di dekat tangga.

"Blaze positif Covid," Taufan mengumumkan dengan napas berat. "Kita semua perlu tes PCR."

Solar mengacungkan jari. "Nggak semua, dong. Hanya kakak berdua yang merawatnya yang kontak erat."

"Atok tadi bicara dengan Blaze," sela Tok Aba sambil menoleh, karena Solar ada di belakangnya.

"Berapa menit? Jaraknya berapa?" Solar menyelidik.

"Lima menit kira-kira. Jaraknya ... Atok di pintu, Blaze di ranjangnya Halilintar."

Solar menggeleng. "Kontak erat itu kalau bicara dalam jarak kurang dari semeter dan lamanya lebih dari lima belas menit. Tok Aba nggak kontak erat."

"Apa bersentuhan termasuk kontak erat?" Taufan bersuara, memandangi Solar dengan serius. "Kamu dan Duri sempat sentuhan sama Blaze tadi … dan kamu lebih lama."

Solar tampak bimbang. "Aku nggak tahu yang tadi berapa lama. Kak Duri cuma beberapa detik, 'kan."

Tok Aba bergumam bingung, "Kapan Solar sentuh Blaze?"

Gempa buru-buru mengalihkan topik. "Biayanya berapa untuk tes PCR per orang, Kak?"

Taufan menjawabnya.

Semua menghitung dalam kepala, Solar paling dulu bicara, "Mahal kalau kita semua tes, Kak."

"Aku nggak usah tes. Aku temani Blaze di kamar," ujar Gempa, berpikir dengan demikian masalah akan beres.

"Gem!" hardik Taufan. "Jangan egois begitu. Siapa yang masak untuk Atok, Duri, dan Solar?"

"Kan ada Kak Taufan ..." seloroh Gempa yang masih kaget pada perubahan kakaknya.

"Aku yang temani Blaze di kamar," sanggah Taufan. "Kamu nggak sedekat aku dengan Blaze."

"Oi, Kak … mau bagaimana pun kalian berdua tetap harus tes," sela Solar.

Pintu yang mengarah ke kebun terbuka dan Duri yang tangannya belepotan tanah tertegun di ambangnya. "A-ada apa ...?" Mata besarnya beredar takut-takut, terutama melihat atmosfer seram di sekitar Taufan yang berbeda sekali dari biasanya.

Solar melanjutkan, seolah Duri belum hadir di sana, "Opsi yang terbaik, Kak Blaze dirawat inap lagi. Tapi tidak bisa ditemani, karena dia akan masuk bangsal isolasi."

Semuanya diam.

Gempa menggeleng. "Blaze sedang kacau."

"Kenapa?" tanya Tok Aba dan Duri bersamaan. Saat itu terdengar suara keras dari balik pintu kamar yang ditempati Blaze dan Solar segera melesat menaiki tangga seolah kabur.

"Solar!" seru Gempa, sementara Taufan bergegas mendekati pintu kamarnya yang barusan seperti dipukul dengan keras dari dalam.

"Blaze?" panggil Taufan sambil meraih pegangan pintu dan berusaha membukanya, tapi tak bisa.

"Aku nggak mau ke rumah sakit!" teriak Blaze dari balik pintu—dia yang menahan gagang pintu. "Kak Taufan jangan masuk!"

Gempa ikut mendekati kamarnya, terbagi antara mau naik menyusul Solar sekali lagi atau membantu Taufan di sini. Kunci pintu kamar mereka memang tidak terpasang, melainkan disimpan Halilintar di dalam lacinya, jadi sedang berlangsung adu kekuatan yang berlawanan antara Taufan yang berusaha membuka pintu dan Blaze yang menahan supaya pintu tetap tertutup.

"Kak Blaze kenapa …?" gumam Duri kebingungan, menatap Tok Aba minta pertolongan.

"Dia positif Covid, Duri ..." sang kakek menjawab.

"Sudah jelas keputusannya," Taufan menghela napas dengan gusar. "Dia nggak mau dirawat inap dan nggak mau ditemani."

"Blaze," Gempa ganti mencoba memanggil sang adik. "Ini Gempa. Aku boleh masuk?"

Balasan Blaze lebih keras lagi, suaranya serak, "Nggak boleh! Nanti ketularan!"

Rupanya Blaze sendiri sudah mendengar diskusi mereka tadi, dan kedengarannya sudah lebih bisa diajak bicara. Saat itu Solar berderap menuruni tangga. Di tangannya ada beberapa barang.

"Aku pernah beli masker N95 dan oksimeter di olshop buat jaga-jaga … seandainya salah satu dari kita ada yang kena Covid."

"Ter-terbaik, Solar," sahut Tok Aba yang masih bingung.

"Kak Taufan dan Kak Gempa mundur dulu. Kita bicarakan baik-baik. Kak Blaze nggak mau ke rumah sakit dan nggak mau ditemani di kamar. Jadi dia akan tetap di kamar kalian? Sendirian?"

Taufan dan Gempa saling berpandangan.

"Ya gimana lagi?" balas Taufan dengan nada masih tinggi.

"Artinya kami berdua yang pindah kamar … ke kamarnya Blaze dan Ice," sambung Gempa.

Solar mengangguk. "Kamar mandi gimana? Di lantai bawah hanya ada satu kamar mandi, dipakai bareng Tok Aba," si bungsu menoleh ke arah kakek mereka. "Bisa saja Tok Aba dan Kak Blaze berbagi kamar mandi, tapi Tok Aba yang duluan, baru Kak Blaze, dan dia harus bersihin pakai karbol setelah selesai."

"Atok ikut pakai kamar mandi kita di atas aja?" usul Duri.

Gempa menggeleng. "Jangan. Kasihan Atok naik-turun tangga."

"Aku bisa bersihin kamar mandi," seru Blaze dari dalam kamar. "Atok pakai kamar mandi duluan."

"Oke, beres." Solar berpikir-pikir. "Oksimeter ini untuk memantau kadar oksigen di darah, jaga-jaga kalau muncul gejala sesak napas. Nanti sekalian dibawa masuk saja waktu makan … oh, iya. Peralatan makan untuk Kak Blaze harus dipisah dari yang lain."

"Bisa, bisa," sahut Gempa. "Pakai kotak bekal saja yang biasa untuk ke sekolah."

"Jadi ini kita berdua yang pindahan? Barang-barang kita di dalam semua, Gem." Taufan menggaruk kepala. "Laptopku juga di dalam ..."

Solar berujar bangga, "Nah itu gunanya kubawakan masker N95, Kak. Pakai ini, kalian akan aman masuk ke dalam. Tapi jangan sentuh Kak Blaze."

"Solar, bicaramu seolah Blaze itu makhluk paling infeksius sedunia," gerutu Taufan.

"Lha, 'kan memang benar dia infeksius?" balas si bungsu.

Taufan sudah lelah dan harus ditahan oleh Gempa untuk tidak menjitak keras kepala Solar. Sepertinya si anak nomor dua lupa bahwa di ruangan itu masih ada Tok Aba dan Duri.

.

.

.

.

.

Jadi rupanya ada empat poin yang diamati oleh Pak Guru Kokoci: IQ, kecerdasan intelektual; EQ, emosional; SQ, spiritual; dan terakhir … yang paling penting untuk stabilitas mental dari semuanya: AQ, adversity quotient, kemampuan beradaptasi dan mengatasi kesulitan.

"Ingat-ingat pesan Pak Guru, ya, Gempa … adikmu yang satu itu, Blaze, dia yang poin EQ, SQ, dan AQ nya paling rendah dibanding yang lain. Dengan poin serendah ini, meski IQ-nya nomor dua tertinggi, dia kombinasi karakter yang paling rawan stres di antara kalian bertujuh. Jangan sampai dia tertekan atau bisa jadi sangat gawat."

Gempa berumur enam tahun menelan ludah sesudah mendengarkan penjelasan panjang lebar yang masih belum terlalu dipahaminya.

"Pak Guru Kokoci, kalau Blaze kombinasi poinnya terendah … siapa yang tertinggi?"

Kokoci menatap dalam-dalam mata keemasan Gempa.

"Bukan aku, 'kan?" tanya Gempa. "Kalau soal kecerdasan akademik, aku yakin IQ-ku hanya di tengah-tengah. Aku juga tidak pandai beradaptasi."

"Memang bukan Gempa," balas Kokoci, "poinmu memang yang tertinggi di SQ dan tertinggi kedua di EQ. Untuk IQ ..." sang guru mengintip catatannya, "IQ-mu ada di nomor lima, dan AQ kamu nomor tiga."

"Tapi tadi Pak Guru bilang aku cocok jadi pemimpin? Ternyata tidak semua poinku tinggi?" Nada suara Gempa terdengar menuntut.

"Benar. Banyak teori tentang ini, tapi pendapat Pak Guru pribadi, untuk jadi pemimpin yang baik, EQ dan SQ-mu harus tinggi didukung AQ yang cukup dan terakhir IQ."

"Jadi? Justru yang kombinasi empat poinnya tertinggi malah lebih layak jadi pemimpin, dong?" ujar Gempa agak kecewa.

"Tidak juga. Saudaramu yang satu ini tidak punya motivasi semacam itu."

Gempa mengernyit. "Lebih layak daripada aku … tapi bukan Kak Halilintar atau Kak Taufan, dan tak punya motivasi?" Rasanya Gempa bisa menebak ...

"Ya. Yang kombinasi poinnya tertinggi adalah Ice. IQ-nya di urutan ketiga, sedangkan EQ, SQ, dan AQ semuanya nomor satu."

.

.

.

.

.

bersambung.

.

.

.


.

.

.

Catatan Penulis:

Umat beragama Hindu tidak boleh makan daging sapi karena sapi merupakan hewan yang keramat bagi mereka. Karena Gopal bersuku bangsa India, saya anggap saja dia dan keluarganya menganut agama terbesar di negara itu, yakni Hindu.

Yep, ada tokoh baru lagi: Pak Guru Kokoci, Adu Du, dan Probe (meski yang dua pengamen ini sudah pernah disebut di Thorn in the Flesh) dan jangan lupakan Nut.

Bagian cerita yang dicetak miring adalah flashback Gempa sewaktu umur enam tahun. Jadi bab ini adalah flashback dalam flashback :")

Di cerita ini ada selipan informasi tentang tata cara isolasi mandiri Covid-19 kalau tinggal bersama banyak orang dalam serumah, dan empat macam quotient dalam psikologi. Semoga jelas dan bermanfaat.

Semoga, kita semua selalu sehat di masa pandemi ini. Tetap jaga protokol kesehatan, ya. Terima kasih sudah membaca! Kritik dan saran sangat diterima.

11.07.2021