Gempa mengira Taufan bakal tertawa terpingkal-pingkal mendengar pengakuannya sore itu, sepulangnya mereka berdua dari menjalani pengambilan sampel swab PCR di klinik terdekat.

"Aku nggak nyangka aja sih, Gem."

Ternyata Taufan hanya berkomentar datar dengan ekspresi yang juga datar. Gempa agak merinding, kenapa seolah aura Halilintar hadir dalam diri kakaknya yang nomor dua ini?

Tidak—tunggu dulu. Seringai Taufan merekah pelan-pelan. "Pffft. Seorang Gempa bin Amato, ketua organisasi sekolah, ketua dewan pemuda masjid, calon ketua kelas dua tahun berturut-turut, ternyata … takut tidur sendirian~"

Dan dengan itu tawa Taufan meledak di dalam kamar.

.

.

.

.

.


.

.

.

BoBoiBoy (c) Animonsta Studios

Through the Darkness (c) Roux Marlet

-Penulis tidak mengambil keuntungan material apa pun dari cerita ini-

Alternate Universe, Elemental Siblings without super powers

Family, Drama, Angst (more genres ahead)

.

.

.


.

.

.

.

.

Bab Empat: Memori

.

.

.

"HAHAHAHAHA!"

"OI, KAK! DROPLET-MU KE MANA-MANA!" pekik Gempa sambil menghindar, meski dia sendiri belum lepas masker.

BRAK! Karena tidak terbiasa dengan tata ruang yang berbeda, punggung Gempa malah menabrak kursi belajar milik Ice. Taufan masih terbahak-bahak.

"HAHAHAHA! Oh Gempa, Anak Mama~"

Gempa agak dongkol karena diledek dan karena punggungnya jadi sakit. Dia menyesal sudah bercerita pada Taufan penyebabnya tak bisa tidur semalam—bukan karena cemas akan apa yang sudah terjadi (meski ini juga sebagian kecil alasannya), tapi karena Gempa belum pernah tidur seorang diri. Alasan kekanakan yang membuat malu, tapi memang begitu kenyataannya.

"Jadi mau gimana ini?" Segera dialihkannya topik sebelum Taufan makin menjadi-jadi. "Soal masak dan sebagainya?"

"Biar Duri dan Solar yang masak, kita 'kan isolasi~" Taufan melempar dirinya ke kasur milik Ice. "Haaah. Empuk sekali~ Ice pakai berapa lapis cover bed coba, kok ranjangnya bisa begini empuk?"

"Setahuku tiga lapis," jawab Gempa, memilih duduk di kursi belajar Ice. "Kak Taufan, Solar itu baru level newbie belajar masak. Dan membiarkan dia dengan Duri berdua di dapur? BIG NO."

"Huuuh. Orang sakit 'kan perlu istirahat~" rengek Taufan, tapi lirikan matanya tak luput dari pandangan Gempa. Kakaknya itu sedang bergurau untuk menyalurkan keluh-kesah yang terpendam.

Sang adik menghela napas. "Amit-amit, kita nggak ada gejala."

Taufan menyahut dengan nada yang lebih serius, "Tapi kita kontak erat dengan Blaze. Jadi selama hasil swab PCR kita belum keluar, kita juga harus isolasi."

"Sebetulnya Solar dan Duri juga harus tes," Gempa bersikeras. "Apalagi Solar …"

"Tadi dokter klinik bilang kita serumah harus dikarantina, 'kan? Jadi mereka berdua juga harus jaga jarak, pakai masker di dalam rumah?"

Gempa mengangguk. "Iya. Dan yang terpenting biar Tok Aba aman. Lansia termasuk kelompok rawan ..."

Taufan melayangkan pandangannya ke langit-langit. "Kalau Duri dan Solar sama dengan kita, ya masa Tok Aba yang masak buat serumah?"

"Kita pesan makanan di luar saja, Kak," Gempa memutuskan. "Jadi kita bisa makan sendiri-sendiri dan nggak usah ada yang memasak. Paling nggak sampai hasil tes kita keluar."

"Yaa … kamu yang pesenin menu buka puasa nanti ya," gumam Taufan sambil menggeliat. "By the way, Gem, aku yang tidur di bawah ya. Enak banget kasurnya si Ice. Pantesan betah tidur."

Gempa tersenyum kecil sambil memandangi meja belajar Ice yang rapi. "Ice pernah bilang punggungnya sakit kalau tidur di kasur kapuk. Ya sudah kubilang ditumpuki bed cover saja biar empuk."

"Ooh, jadi ini saran darimu, Gem?" Taufan menepuk-nepukkan tangannya ke kasur, nadanya mengantuk.

Gempa meraih jam meja berbentuk lumba-lumba dan mengamatinya. "Yup. Dengan syarat, Ice sendiri yang cuci bed cover-nya. Berat tahu, tumpukan kainnya kalau sudah kena air."

"Iya, sih. Eh, hari ini yang jadwal laundry siapa? Sampai lupa."

"Blaze," jawab Gempa. "Sementara ku-handle dulu saja."

"Oiya, soal jadwal … kita perlu bahas banyak, Gem. Pertama, jadwal jaga Kokotiam."

"Tutup sementara," Gempa sudah memutuskan. "Tadinya aku berencana kita hanya terima delivery dari rumah. Tapi kalau kita serumah karantina, ya nggak bisa."

"Laundry dan bersih-bersih rumah?"

"Sementara jalan giliran di antara kita berempat … kita berdua, dengan Duri dan Solar. Blaze mengurus sendiri kamar mandi bawah."

Taufan menguap. "Kalau perlu, salah satu dari kita gantiin Kak Hali jaga Ice di rumah sakit."

"Tapi kita serumah dikarantina. Nggak bisa," ucap Gempa sambil berpikir-pikir. "Empat belas hari ke depan, kita serumah nggak boleh ke mana-mana. Yah, kuharap Ice sudah akan bangun dan tidak sampai selama itu Kak Halilintar menginap di rumah sakit."

"Hmmm ..." balas Taufan dengan mata yang sudah terpejam.

"Kak Taufan jangan tidur dulu!" seru Gempa tiba-tiba. "Kita belum pindahin barang!"

"Astaga," Taufan balas berseru, seketika duduk. "Laptopku ..."

"Uuuh, harta berharganya Kak Taufan," kekeh Gempa, balas meledek sambil meraih kotak masker N95 pemberian Solar. "Pasti nggak bisa tidur kalau laptop nggak stand by di mejamu, 'kan?"

"Ish, diam kau, Gempa," gerutu Taufan sambil meraih masker N95 berbentuk bulat lalu memasang tali karetnya di belakang kepala. "Alamak, sesak banget masker ini!"

Gempa memutar bola mata sambil berkomentar, "Ya justru kalau longgar bahaya, 'kan."

"Aku nggak bisa napas!" keluh sang kakak lagi.

"Ya sudah, aku saja yang masuk kamar?" tawar Gempa.

Taufan ngotot. "Nggak mau, aku mau bawa sendiri laptopku."

Gempa berkacak pinggang dan melotot galak. "Ya sudah, dipakai maskernya."

Dengan wajah merengut yang tampak lucu, Taufan memakai masker itu dengan benar. Mereka berdua turun ke lantai bawah lalu mengetuk pintu—meski sangat aneh rasanya mengetuk pintu kamarmu sendiri.

"Ya ..." Terdengar suara Blaze menyahut, agak serak. "Masuk aja, Kak. Aku sudah pakai masker."

Pintu dibuka oleh Taufan dan tampak Blaze sedang duduk bersila di ranjang Halilintar, bersandar pada dinding.

"Nggak usah lama-lama," ujar Blaze tegang, sorot matanya lurus ke depan. "Nggak usah ngobrol denganku."

Gempa dan Taufan bertukar pandang lalu mengangguk. Lemari dan meja belajar milik Taufan lebih dekat ke pintu sedangkan milik Gempa ada di pojok dekat jendela. Gempa tidak mungkin melewati Blaze begitu saja tanpa menengoknya sekilas, dan dia agak kaget mendapati ada luka baru di lengan adiknya itu. Tapi dia kemudian mengepak barang ke ranselnya dalam diam, sama seperti Taufan. Sesekali Blaze terbatuk di balik maskernya. Semuanya diam.

"Astaga, kita bertiga ini kayak lagi marahan saja!" celetuk Taufan setelah satu menit, tak tahan dengan keheningan terlalu lama. Dia menatap Gempa yang menoleh kaget dan Blaze yang tetap di posisinya. "Kalau jarak kita segini dan semua pakai masker, 'kan nggak masalah, ya?"

"Ya … asal nggak sampai lima belas menit," sahut Gempa, mengingat-ingat kembali fakta tentang Covid. Dia bicara pada Blaze dari tempatnya, "Barangmu ada yang kurang, nggak, Blaze?"

Yang ditanya menyahut singkat, "Nggak, Kak."

"Pada akhirnya kita nggak cuma menyaksikan Covid di berita televisi, ya 'kan Blaze?" gurau Taufan. "Nanti malam kita video call, ya."

"Buat apa?" tanya Blaze sambil mengernyit.

Taufan melanjutkan, "Yaa 'kan biasanya habis buka puasa kita cerita-cerita ..."

"Kak Taufan mau aku cerita apa?" Suara Blaze meninggi.

Tampaknya Taufan memang berusaha memancing, "Cerita apa saja yang dilakukan hari ini ..."

"Kak Taufan," Gempa memotong, nadanya tajam, menatap Taufan yang sedang memandangi Blaze.

"Tentang aku yang mencekik Solar tadi?" balas Blaze, menatap lurus ke arah Taufan.

Hening lagi. Taufan melirik ke arah Gempa yang mengangguk sekilas.

"Aku sadar aku melakukannya," sambung Blaze dengan suara gemetar sambil memutus kontak mata dengan sang kakak, "tapi aku nggak tahu kenapa aku lakukan."

"Gimana ceritanya?" desak Taufan.

Blaze tidak langsung menjawab. "Nanti kuceritakan … video call bisa lebih dari dua nomor, 'kan? Solar juga perlu kuajak bicara."

"Ya, lebih baik begitu," sahut Gempa agak lega. Blaze tampaknya sudah lebih tenang daripada tadi siang.

"Ya ampun, kita ini serumah tapi ngobrol lewat video call!" Taufan tertawa miris. "Parah memang Covid ini."

Gempa menutup resleting ranselnya. "Biar nggak tambah parah, kita nggak boleh lama-lama di sini. Aku sudah selesai, Kak Taufan gimana?"

Taufan memandangi lemarinya yang masih berantakan. "Ups ..."

.

.

.

.

.

"Apa aku gila? Jadi tadi itu aku melihat Ice dan mendengarnya bicara. Dia bilang dia takut dan kedinginan, lalu kuajak dia ke dapur. Itu 'kan tempat favoritnya dan di sana ada sumber panas. Waktu Solar datang, Ice bilang lagi kalau dia takut …"

Blaze tidak melanjutkan lagi. Matanya berkeliaran gelisah menatap wajah kedua kakaknya.

"... Tapi kamu tahu kalau itu Solar, 'kan?" tanya Taufan. Ia dan Gempa betulan bicara dengan Blaze lewat video call setelah salat Isya, dengan laptop supaya layarnya lebih lebar. Blaze sendiri memakai meja belajar Halilintar untuk memasang ponselnya.

"... Entahlah." Blaze menjawab tak yakin. "Mungkin aku berhalusinasi. Makanya Kak, apa aku gila?"

Taufan menggeleng kuat-kuat. "Tenang dulu. Kita nggak bisa menyimpulkan begitu saja."

"Gimana perasaanmu sekarang, Blaze?" tanya Gempa. "Kakimu sudah baik?"

"Sudah bisa dipakai jalan, tapi rasanya masih aneh," sahut Blaze, bergerak tak nyaman di ranjang.

"Tanganmu?" Gempa melanjutkan.

Blaze mengernyit. "Ya … kurasa aku memang sudah gila, Kak. Aku sadar waktu mencakar tanganku sendiri tadi siang. Itu sebelum Ice muncul."

"Kamu cakar sendiri?" ulang Taufan yang tadi juga sudah melihat sendiri ada luka baru di lengan Blaze, nadanya prihatin. "Kenapa, Blaze ...?"

Di seberang sambungan, Blaze menelungkupkan kepala ke meja dan merintih. Dia memeluk kedua tangannya sendiri. "Rasanya kayak … tangan perempuan itu … kuku-kukunya … masih ada di sini."

Gempa dan Taufan tak sanggup berkata-kata. Mereka mendengarkan saja Blaze menangis sesenggukan di bawah sana, di kamar mereka, suaranya pelan tapi sampai ke ruangan itu karena mereka terhubung dengan video call. Ingin rasanya mereka bisa pergi ke bawah dan memeluk Blaze …

"Kalian jangan ke sini, ya," sela Blaze tiba-tiba, wajahnya yang bersimbah air mata muncul di layar. "Jangan coba-coba. Biarkan aku sendiri."

Taufan dan Gempa bertukar pandang untuk kesekian kalinya dalam hari itu.

"Kalau kamu perlu apa-apa, telepon saja, ya," ujar Gempa akhirnya. "Ponsel kami nyalakan terus."

"Main game atau nonton video, biar senang!" usul Taufan sambil nyengir. "Apa bola basketmu mau kamu bawa saja di situ?"

Blaze menggeleng sambil mengusap air matanya. "Di sini ada piala-pialanya Kak Hali. Kalau pecah bisa geger nanti. Simpan saja bolanya di bawah mejaku, Kak."

"Oh iya, benar juga," sahut Taufan.

Gempa bicara lagi, "Lalu … ini kita jadi telepon Solar? Duri pasti mendengarkan juga, dong."

"Nggak apa-apa. Aku mau bicara soal hal lain, bukan tentang yang tadi. Ah, mending kita buat grup sekalian di medsos? Anggotanya kita bertujuh?"

"Boleh lah," sahut Gempa. "Ini di laptop sambungnya pakai nomorku."

Blaze membuat sebuah grup tanpa nama di medsos, memasukkan nomor Taufan dan Gempa yang sedang tersambung, disusul Solar, Duri, Halilintar, dan Ice. Kemudian sambungan baru dibuat oleh Blaze ke nomor Solar. Pada nada sambung yang kedua langsung diangkat,

"Lho, ini ada apa?" Solar bertanya, wajahnya memenuhi layar.

"Hai Solar!" sapa Taufan agak berlebihan. "Kita ngobrol cara baru, nih. Duri di situ, 'kan?"

Ponsel Solar berpindah tempat, sepertinya ke meja belajar. Sesaat kemudian, wajah Duri juga tampak di layar.

"Kak Taufan! Kak Gempa! Kak Blaze!" Duri memekik, menyapa semua orang. "Wah, aku baru tahu kita bisa telepon video berbanyak begini."

"Teknologi zaman sekarang, Duri," sahut Gempa yang selalu geli melihat tingkah adiknya yang polos itu.

"Hehe, terbaik … Kak Blaze, apa kabar?" Duri bertanya antusias.

"Sudah lebih baik daripada tadi siang," jawab Blaze, matanya berpindah dari layar Duri dan Solar kepada Taufan dan Gempa lalu menambahkan, "Alhamdulillah."

"Sudah nggak sakit perut?" tanya Duri lagi.

Blaze menggeleng, menahan senyum dan rasa sedih di saat yang sama. Dia harus ingat di keluarga mereka ada Duri yang senantiasa seperti kertas putih yang polos.

"Duri dan Solar juga waspada, ya. Kalau kalian bergejala, bilang ke kami," ujar Gempa.

Duri mengacungkan jari. "Kalau ada batuk, pilek, demam. Apa lagi Kak Gem?"

"Tiba-tiba nggak bisa mencium bau atau merasakan makanan," sahut Blaze. "Itu gejalaku."

"Kamu sudah nggak demam, Blaze?" tanya Gempa. Dijawab gelengan oleh Blaze, yang tadi sudah mendapatkan kiriman obat dari RS Yong Pin.

"Tapi hati-hati juga … nggak bisa mencium dan nggak ada rasa, tidak selalu karena Covid," seloroh Taufan.

"Apa iya?" sergah Solar, keingintahuannya timbul. "Kok bisa?"

"Iya. Nggak bisa nyium dan nggak ada rasa … bisa jadi karena cuma dianggap teman."

Suara jangkrik pun mengisi keheningan yang menyusul kelakar garing Taufan barusan.

"Kak Taufan curhat ya karena pedekatenya ke Yaya gagal terus?" serang Solar tanpa ampun.

"OI! BUKA-BUKA AIB ORANG!" seru Taufan.

"Lha, siapa duluan yang mulai," kikik Gempa.

"Cieee, ternyata Kak Taufan naksir ketua kelas sendiri ..." Duri ikut-ikutan menggoda.

"Lho, Duri, kamu paham soal beginian?" Taufan membelalakkan mata.

Duri menjawab dengan tenang, "Iya, dong. Solar sering cerita padaku. Katanya ini cinta segitiga, karena Yaya kayaknya sukanya sama Kak Gempa, sejak Kak Gempa mengundurkan diri di pemilihan ketua kelas."

Tatapan membunuh diarahkan Taufan pada si adik bungsu di layar, lalu pada Gempa di sebelahnya.

"Apa? Aku nggak tahu apa-apa!" kilah Gempa, yang sebetulnya pernah dengar desas-desus tapi mengabaikannya. Perkara romansa tak pernah menjadi prioritas utama dalam to-do list milik Gempa. Meski perihal pengunduran dirinya di pemilihan ketua kelas Bahasa itu memang betul, karena dia sudah mengemban tugas ketua dalam organisasi sekolah.

"Gosipnya bukan suka sama Kak Gempa, tapi Kak Halilintar," koreksi Solar yang tenang-tenang saja. "Tapi seru juga kalau ternyata Yaya suka Kak Gempa. Lebih cocok aja sih, daripada sama Kak Taufan."

"SOLAAAAR …!" seru si pemilik nama elemen angin.

"Ya, Kak?" jawab Solar sok polos, senyumnya melebar. Kemudian dijulurkannya lidah untuk mengejek. "Weeek! Kak Taufan 'kan nggak boleh masuk kamarku!"

"Adik durhakaaaaa!" pekik Taufan gemas sementara Duri cekikikan heboh.

"Oi, oi, sudah," sela Blaze yang diabaikan tapi dia ikut terkekeh juga. "Seru juga ya ngobrol kayak begini. Bikin gemas soalnya kita nggak bisa saling jitak kalau ada yang nyebelin."

"Kayak waktu di rumah yang dulu, ya ...?" seloroh Gempa.

"Iya, Kak …" sambung Solar. "Di rumah kita yang dulu nggak bisa main jitak karena yang mau dijitak sudah lari dan ngumpet duluan."

"Pengalaman pribadi, ya, Solar?" balas Taufan sambil meregangkan otot tangannya. "Sudah gatal tanganku untuk menjitakmu."

"Kok aku saja? Nggak ingat Kak Blaze pernah main petasan di dalam rumah dulu?" Solar membela diri.

"Oi, kok jadi aku yang disebut-sebut?" gerutu Blaze. "Lagian rumah yang dulu 'kan langit-langitnya tinggi. Kukira nggak apa-apa main di dalam."

"Tapi ada chandelier di ruang tamu, kalau ketiban itu bisa tewas, tahu," balas Solar.

"Ah, chandelier yang itu. Aku pernah bayangin kalau coba berayun di atas situ. Pasti seru," sahut Blaze.

Taufan membalas, "Ngaco, Blaze. Tinggi banget tahu lampunya, kamu lompat dari balkon lantai dua aja nggak akan bisa sampai ke tengah situ."

"Iya sih, kenapa harus ada lampu sebesar itu, coba," Gempa menyahut sambil merenung. "Dan umur berapa kita waktu tahu cara bacanya chandelier?"

"Pokoknya berikutnya kita pindah ke sini," tukas Taufan, dan setelah itu semuanya hening.

"Kak Taufan, masih simpan foto waktu di rumah dulu?" Duri bertanya pelan-pelan. "Foto kita sekeluarga di rumah itu, dengan Ayah dan Ibu."

"... Mestinya ada di laptop. Nanti kucarikan," sahut yang ditanya.

"Dulu kita juga punya kucing berbulu hijau ..." Duri mengenang dengan nada sendu.

"Cattus yang malang," sambung Solar sambil menepuk-nepuk bahu kakaknya.

"Duri sayang Cattus. Cattus masih kecil, kenapa harus mati?"

Alarm imajiner di kepala Gempa berbunyi terlambat. Duh, harusnya dia tidak bawa-bawa topik nostalgia tentang rumah lama mereka di Kuala Lumpur.

Duri mulai terisak di kamarnya. "Duri kangen Cattus … Eh Solar, jangan dimatikan dong."

Tangan Solar sudah hampir memutuskan sambungan. Dia mengernyit menatap kakaknya.

"Duri sudah besar, bukan anak kecil lagi. Duri harusnya nggak nangis untuk kucing yang sudah lama mati terlindas mobil."

Duri bicara begitu pun sambil sesenggukan. Kakak-kakak mereka semua diam saja, jadi Solar yang kemudian bicara,

"Cattus masih ada kok, Kak, di dalam memori kita semua."

"Huweeee ..."

Otomatis Duri memeluk Solar, tangisnya menjadi-jadi.

"Kak Duri jangan keras-keras, nanti Tok Aba dengar," Solar coba menenangkan.

Taufan membisukan mikrofon di laptop. "Bijak juga Solar ternyata. Gem, aku cari dulu foto di laptop. Teleponnya pindah lewat ponselmu saja."

Sejurus kemudian, foto yang dicari sudah ketemu. Taufan segera mengirimnya ke grup baru itu. Foto tujuh orang anak kembar, beserta ayah dan ibu mereka, dan ada Cattus si kucing hijau di pelukan anak berbaju hijau juga. Mereka berpose di sebuah ruang tamu dengan sofa-sofa besar berhiaskan gemerlapnya chandelier yang dimaksud tadi.

Semua yang ada di foto itu tersenyum. Tapi semua yang melihat foto itu sekarang, melihatnya dengan emosi yang berbeda-beda.

"Ada foto Duri berdua sama Cattus?" celetuk Duri.

Taufan masih berkutat di laptop. "Kucari dulu. Ada mestinya."

Berikutnya lebih banyak lagi foto diunggah ke dalam grup. Gempa kemudian berujar,

"Kak Taufan, ini aku coba telepon Kak Halilintar sekalian ya."

"Eh, dia tadi bilang mau matiin ponselnya dulu."

"Hah?"

"Aku mau jadiin ini wallpaper di ponselku!" Duri berseru penuh semangat mendapati gambar dirinya berumur lima tahun sedang menggendong Cattus yang mungil. "Solar, gimana caranya? Ajarin dong~!"

"Medsosnya Kak Halilintar nggak aktif," ujar Gempa sesaat kemudian. "Eh, Blaze dari tadi diem aja."

"Dia tadi mute suaranya. Oi Blaze?" panggil Taufan. "Kamu masih di situ?"

Tahu dirinya dipanggil, Blaze menyalakan suara. "Bentar Kak. Grup kelasku berisik."

"Oh, ada apa?" selidik Taufan.

"Kak Gopal, dia umumkan di grup kelas kalau aku kena Covid. Banyak ucapan doa buatku. Tapi aku risih dibeginikan."

Taufan keheranan. "Dari mana Gopal bisa tahu? Memang ada yang bilang ke dia?"

"Fang kena tracing karena kontak erat denganku, dan dia 'kan ketua kelas Ilmu Alam. Kak Gopal ketua kelas Ilmu Sosial. Para ketua kelas 'kan punya grup sendiri."

"Astaga, aku lupa sama sekali soal Fang!" pekik Taufan, ngeri sendiri mengingat kembali kronologinya, dengan Fang yang selalu berada di sisi Blaze semalam. "Jadi dia juga di-swab?"

Blaze mengangguk cemas. "Semoga saja nggak positif …"

Duri dan Solar sepertinya sudah asyik sendiri dengan foto Cattus dan tidak mendengar info bahwa ketua kelas mereka kena tracing dari kasus Blaze. Mereka toh akan tahu juga dari grup kelas Ilmu Alam nanti. Gempa merasa sudah saatnya obrolan ini diakhiri, tapi Blaze masih bicara,

"Ngomong-ngomong, Duri dan Solar, kalian masih ingat kecelakaan di ulang tahun Fang yang kesepuluh …?"

Dua adik yang diajak bicara kembali mengisi layar.

"Ingat lah," jawab Duri sambil menggeleng. "Tapi Duri nggak mau mengingatnya lagi."

"Kenapa tanya itu, Kak Blaze?" timpal Solar.

"Solar sendiri, kamu ingat kejadiannya?"

"Nggak terlalu ..." jawaban Solar mengambang. "Yang jelas itu salahku sendiri. Kalau diminta ingat-ingat, nanti dulu ya. Agak samar di sekitar waktu kejadian ..."

Blaze memaksakan kekehan singkat. "Baiklah ..."

"Kak Blaze ..." panggil Solar, menatap serius.

"Ya?" sahut Blaze, agak was-was. Masa Solar mau membuka kejadian tadi siang di depan Duri …?

"Cepat sembuh, ya." Ternyata demikian ucapan Solar diiringi senyum simpul. Seketika Blaze merasa terharu, mau mengucap maaf tapi sebaiknya tidak di sambungan ini, nanti Duri bertanya-tanya.

"Lekas pulih Kak Blaze!" sorak Duri. "Biar Duri bisa peluk Kak Blaze lagi!"

"Get well soon, Bro," sambung Taufan penuh gaya.

"Istirahat yang cukup, Blaze," pungkas Gempa. "Kalau butuh apa-apa, kabarin di grup. Lekas sembuh, ya."

"Aamin. Terima kasih semua."

Telepon multisambungan itu pun disudahi. Gempa membuka ranselnya untuk mencari sprei bersih miliknya, karena dia yakin sekali sprei Blaze perlu diganti sebelum dia tidur. Taufan mengangkat kedua tangan ke atas dan melakukan stretching singkat.

"Kak Hali tadi nggak berhasil dihubungi, ya?" ujarnya sambil menguap. "Katanya habis belanja memang mau matiin ponsel."

"Oh, begitu?" balas Gempa, mendongak. "Kenapa memangnya?"

Taufan tak segera menjawab sambil menutup semua aplikasi di laptopnya. "Biasa, kalau galau 'kan dia begitu."

Gempa mengernyit. "Kok galau?"

Taufan balas menatap adiknya, lekat-lekat. "Tadi dia berhasil telepon Ayah."

"Oh, ya," gumam Gempa, kembali menunduk meski sudah menemukan spreinya. Jeda yang singkat terasa menyesakkan. Taufan menambahkan sambil menutup laptop,

"Tenang, Kak Hali bersumpah nggak akan ke mana-mana setelah belanja. Dia pasti kembali ke rumah sakit demi Ice."

Gempa hanya diam saat memanjat ke ranjang Blaze dan menarik spreinya. Dia bersyukur masih bisa mencium aroma yang tak sedap dari kain bercorak api itu, tapi pikirannya tidak sempat merasa geli. Foto-foto dari Taufan tadi sukses membawa memori Gempa ke hari-hari terakhir mereka di rumah yang lama.

"Gem, kamu tahu kenapa aku suka fotografi dan jurnalistik? Sampai minta dibelikan laptop dan kamera sendiri?" Suara Taufan terdengar lagi. Dia tak lagi berada di meja belajar Blaze, melainkan duduk di ranjang Ice, bersandar ke tiangnya. Manik keemasan Gempa bertemu dengan mata biru kakaknya. Taufan meringis, tapi sorot matanya sedih.

"Semua benda yang berwujud suatu saat akan rusak," mulai sang kakak, "begitu pula kenangan."

Gempa pernah berpikir Taufan memilih jurusan Bahasa karena menyukai hal-hal yang puitis dan melankolis di balik sikapnya yang selalu periang. Tapi mungkin, ada alasan yang lebih dari itu. Dibalasnya tatapan Taufan dengan serius, menunggunya meneruskan.

"Ya, aku nggak pernah main rahasia-rahasiaan, Gem. Yang satu ini juga harusnya sudah jelas tanpa aku cerita pada kalian. Aku tahu dan ingat apa yang dilakukan orang-orang itu, waktu itu. Melindas Cattus hanya satu dari sekian banyak tindakan biadab mereka."

Mendengar itu, Gempa terkejut dan seketika dilanda rasa bersalah. Baru hari ini dia sadar tentang badan Solar yang kurang berisi dan kebiasaan Halilintar yang menonaktifkan ponselnya kalau sedang galau. Ke mana saja Gempa selama ini? Dia terlalu sering beraktivitas di luar sampai luput mengamati saudara-saudaranya dan itu semua sesungguhnya disengaja karena sesuatu hal ...

"Kak Taufan … maafkan aku." Gempa menelan ludah dan turun dari ranjang atas. "Aku yang selama ini menyimpan sebuah rahasia dari kalian … darimu dan dari Kak Halilintar. Kakak ingat guru privat kita waktu kecil? Pak Guru Kokoci?"

.

.

.

.

.


.

.

.

.

.

Halilintar tahu bahwa ruang tunggu ICU bukan tempat ideal untuk beristirahat. Banyak keluarga berakhir dengan tangisan ketika datang kabar duka dari dalam unit intensif itu. Tak bisa dipungkiri, sebagian besar pasien yang masuk ke ICU pada akhirnya tidak pulang ke rumah, tapi berpulang ke rumah Sang Pencipta.

"Halilintar, di rumahku ada kamar kosong. Kamu boleh kok kalau mau menginap di sini."

Tawaran Fang via chat tadi siang ditolaknya.

"Tidak usah. Tapi terima kasih, ya."

Fang memang kawan terbaik, tapi Halilintar akan tunggui Ice di rumah sakit ini. Dia tak akan pergi ke mana-mana hanya untuk bisa merebahkan punggung dengan nyaman. Apa jadinya kalau Ice siuman dan tidak ada siapa pun yang menunggunya? Rasanya pasti sepi dan menyedihkan.

Tapi dengan menerima lantai dan dinding yang dingin menjadi tempat istirahat sementaranya, Halilintar harus tahu bahwa tidurnya tak akan nyenyak. Apalagi setelah tadi berhasil tersambung dengan ayahnya di seberang lautan … membuat Halilintar kemudian mematikan ponsel, menyimpannya di saku selama berbelanja, dan mengisi daya baterainya sampai lewat salat Magrib.

Ayah bilang akan segera pulang, tapi India sedang lockdown sehingga niat itu belum bisa terkabul dalam waktu dekat. Halilintar hanya diam mendengarkan janji itu. Kalaupun tidak ada lockdown, apakah akan berbeda?

"Kamu tenang dulu, Halilintar. Tak baik menangani kejadian begini dengan amarah."

Hanya Amato dan Gempa yang memanggil namanya dengan utuh, bukan seperti saudara yang lain memanggilnya "Hali" saja tapi Halilintar lebih suka kalau ayahnya menyebut namanya tidak dengan nada perintah mutlak seperti itu.

"Ayah akan bantu dana dari sini. Nanti Ayah kirim. Jangan merepotkan Atok."

Sesungguhnya bukan uang yang sedang dinantikan Halilintar. Harusnya sang ayah juga tahu. Kekecewaan dan rasa frustrasi membuat si sulung akhirnya memutuskan mengisi malam itu dengan lantunan zikir selepas salat Isya. Perlahan-lahan dan dengan suara lembut, Halilintar tak punya pilihan selain berpasrah kepada Tuhannya.

Baterai ponselnya sudah terisi penuh, tapi tidak dinyalakannya. Lama-lama Halilintar jatuh tertidur dan terbangun lagi ketika ada serangga menggigit lengannya. Saat itu ternyata sudah tengah malam, jadi dinyalakannya ponsel yang sedari tadi mati lalu membaliknya di lantai. Antisipasi jika ternyata banyak notifikasi masuk selama mati tadi, ponselnya tidak hang. Lima menit setelah ponsel itu menyala, barulah Halilintar menatap layarnya.

Ada panggilan tak terjawab dari Gempa sekitar jam delapan malam. Teringat kesalahannya kemarin, hendak langsung diteleponnya kembali nomor sang adik, tapi dia sadar ini jam satu pagi. Lagipula tadi siang dia sudah bilang ke Taufan kalau akan mematikan ponsel sementara.

Grup kelas sepertinya sedang heboh. Halilintar segera membisukan notifikasinya untuk grup itu dan penasaran pada sebuah grup baru yang bernama asing,

"Tujuh Keajaiban Dunia …?"

Grup itu dibuat oleh Blaze dan kemudian dinamai demikian oleh Solar. Anggotanya tujuh bersaudara kembar. Isinya foto-foto kenangan mereka belasan tahun yang lalu, di rumah lama mereka di Kuala Lumpur …

"Apa-apaan ini?" gerutu Halilintar, mendapati bahwa di antara banyak foto, ada foto dirinya waktu kecil yang sedang tidur dan dirias oleh Taufan, Blaze, dan Duri dengan lipstik milik ibu mereka. Ketiga troublemakers cilik itu berpose jahil di depan kamera, dan Halilintar cukup yakin bahwa Solar yang mengambil gambar itu—tak mungkin Gempa atau Ice.

"Kok aku nggak ingat pernah dibeginikan? Awas saja kalian."

.

.

.

.

.


.

.

.

.

.

"Apa artinya, Gem?"

Taufan membacai tulisan tangan Gempa dalam sebuah buku kecil yang sudah tampak tua. Dia tak paham apa rahasia yang dimaksud adiknya, apalagi daftar yang ditunjukkan Gempa kemudian.

"Pak Guru Kokoci dulu pernah mengetes kita semua," Gempa memulai, "dengan semacam … tes psikologi? Dan beliau bilang aku cocok menjadi pemimpin."

"Memang kamu seorang pemimpin, Gem," sahut Taufan lugas. "Jadi itu rahasianya? Ish, nggak seru."

Gempa mengernyit sambil mengambil tempat duduk di ujung ranjang Ice. "Kakak sudah tahu?"

Taufan balas mengernyit dari ujung satunya. "Lha? Itu fakta yang sangat jelas. Sudah berapa jabatan ketua kamu pegang, Gem? Sampai merelakan kursi ketua kelas pada Yaya."

"Yaya memang patut memimpin kelas, kok, bukan karena aku merelakan," Gempa mengoreksi.

"Iya, iya. Tapi soal itu, Kak Hali juga paham kok. Kami berdua sering berpikir, kamu harusnya yang jadi anak sulung."

Gempa terhenyak. "Kalian … nggak marah?"

"Ngapain marah?" Taufan mengangkat alis. "Kamu itu kalem, nggak sepertiku. Kamu itu sabar, nggak seperti Kak Hali. Adik-adik kita nurut sama kamu, bukan karena takut dijahili atau takut dimarahi. Tapi karena karismamu sebagai pemimpin."

Taufan ternyata punya segudang kosakata yang padat makna. "Kalian berdua sering membicarakanku?" Gempa tertunduk malu.

"Yah, kalau kamu pulang telat, pasti kami membicarakanmu." Taufan menyeringai. "Makanya Gem, sejak ada pandemi, aku jadi nggak hanya berduaan di kamar sama Kak Hali yang seram itu. Karena kamu di rumah terus, hehehe. Makasih, ya."

Gempa tersenyum sekilas, merasa lega karena satu rahasia kecilnya rupanya tak dipermasalahkan.

"Nah, jelasin daftar ini. Aku nggak mau nebak-nebak," ujar Taufan sambil mengulurkan buku kecil Gempa. "Kenapa bisa kamu yang dibilang cocok jadi pemimpin? Ini tes IQ dan lain-lainnya, 'kan?"

Lawan bicara Taufan melihat sekilas ke ponselnya, mengecek waktu. "Kalau aku jelasin, kayaknya nggak bakal singkat ..."

"Nggak apa-apa, Gem. Daripada kebawa mimpi karena penasaran."

Empat daftar, dengan masing-masing judulnya: Intelligence, Emotional, Spiritual, dan Adversity.

Taufan berceletuk lagi, "Aku selalu penasaran, level IQ-ku ada di mana di antara kita bertujuh. Kok aku kecewa, ya. Hahaha."

Gempa menunjuk angka enam di samping nama Taufan, "Kak, angka ini hanya menunjukkan urutannya, bukan nilai IQ-nya sendiri."

"Oh, gitu. Soalnya Solar nomor satu dan Duri nomor tujuh ..."

Dalam daftar berjudul Intelligence, kecerdasan akademik, sesuai urutannya: Solar, Blaze, Ice, Halilintar, Gempa, Taufan, terakhir Duri.

Taufan berkomentar, "Kak Hali lebih sering masuk ranking daripada Blaze, lho. Beneran IQ Blaze lebih tinggi?"

Gempa menyahut, "Lanjut dulu ke daftar berikutnya."

Emotional, dari nomor satu sampai tujuh: Ice, Gempa, Duri, Taufan, Solar, Halilintar, Blaze.

"Dari yang paling kalem sampai yang paling … pemarah?" Taufan merenung. "Blaze bukan pemarah sih ..."

"Lanjut dulu, Kak."

Spiritual, dimulai dari Gempa dan Ice sama-sama di nomor satu, disusul Halilintar, Taufan, Solar, Duri, dan terakhir Blaze.

"Kok kamu dan Ice sama-sama nomor satu? Skor kalian sama?"

Gempa mengangguk. "Penjelasannya nanti dulu. Yang terakhir, Kak."

Adversity, kemampuan beradaptasi dan mengatasi masalah. Urutannya: Ice, Taufan, Gempa, Solar, Halilintar, Duri, dan Blaze lagi-lagi di akhir.

"Kak Taufan pernah nggak bertanya-tanya, kenapa Blaze dan Ice itu cocok meski bertolak belakang?" Gempa melontarkan pendapatnya.

Taufan mulai agak paham sekarang. Kalau IQ dikesampingkan, nama Ice paling sering muncul di puncak daftar sedangkan Blaze di paling bawah. "Karena mereka dua kutub yang saling melengkapi ..."

Gempa melanjutkan dengan serius, "Jadi, kalau salah satu nggak ada, apa jadinya?"

.

.

.

.

.


.

.

.

.

.

Subuh itu Solar tersentak bangun dengan rasa nyeri luar biasa di dada dan membuat napasnya sesak. Buru-buru dicarinya oksimeter di bawah bantal, dan sejurus kemudian merasa lega mendapati saturasi oksigennya di angka 98%. Bukan gejala Covid-19, semoga saja … sambil berharap demikian, Solar pun sudah tahu penyebabnya terbangun seperti barusan.

Semalam ia memimpikan Ice ada di rumah, sedang minum es cokelat di dapur dengan wajah malas seperti biasa. Tapi rasanya ada sesuatu yang menyakitkan ketika melihat sosok Ice, sesuatu yang Solar belum bisa ingat dengan jelas. Samar-samar, hanya samar-samar saja, Solar merasakan nyeri di dadanya seolah simultan dengan nyeri berdenyut di puncak kepalanya. Sudah lama bekas operasi di kepalanya itu tak lagi pernah mengganggu. Pertanda apa ini? Apakah ini … ada hubungannya dengan kecelakaannya dulu? Lalu sosok Ice di dapur itu menghilang, digantikan sosok Blaze yang menerjang Solar dan mencekik lehernya … persis kejadian sore sebelumnya ...

Solar menghela napas dalam dan mengembuskannya keras-keras. Lehernya masih sakit pagi ini. Tiba-tiba Duri di bawah ranjangnya bergerak-gerak.

"Solar sudah bangun?" tanya sang kakak perlahan.

Yang ditanya mengerjap heran. Suara Duri terdengar lantang dan sadar penuh, tidak kedengaran seperti habis bangun tidur.

"Sudah, Kak," jawab Solar, mengubah posisinya menjadi duduk. Sekarang dia sangat hati-hati berpegangan pada pagar ranjang kalau mau menjenguk ke bawah. Dilihatnya kakaknya sedang duduk bersila di pinggir ranjangnya sendiri. Matanya sembab.

"Solar … semalam Duri mimpiin Kak Ice ..."

.

.

.

.

.

bersambung.

.

.

.


.

.

.

Catatan Penulis:

Ada humor garing sok baper tentang Covid yang nyelip, itu bukan ide orisinal saya, ya. Pernah baca seliweran di grup WhatsApp dan menurut saya cocok aja kalau diucapkan oleh Taufan, hehehe.

Flashback akan berakhir di bab lima, selanjutnya latar waktu akan kembali pada masa setelah Ice sadar dari koma.

.

Terima kasih sudah membaca, kritik dan saran sangat diterima. Tanggapan sekecil apa pun, sangat berarti untuk menambah semangat menulis ^^

.

Selamat menyambut Idul Adha bagi yang merayakan. Stay safe, all...

19.07.2021