Ketika Halilintar terjaga, dia teringat sebuah kenangan. Tadi dia terbangun dari tidur-sambil-duduknya jam satu pagi, lalu kembali berzikir sampai waktunya sahur dan salat Subuh hingga menjelang matahari terbit. Timur adalah arah balkon rumah sakit tempatnya beristirahat, dan di ufuknya kini tampak semburat merah di antara hitam pekat.
Dulu, di rumah mereka yang lama, Solar suka bertengger di jendela kamar pagi-pagi untuk menyambut terbitnya matahari. Si bungsu bisa duduk di ambang jendela besar di lantai dua itu setengah jam lamanya, mengamati langit yang sama sekali gelap menjadi terang sepenuhnya.
Solar pernah bilang, sebuah hari ada karena terbitnya matahari. Peralihan dari malam ke pagi menimbulkan semangat dan harapan baru seiring terbitnya hari yang baru—bahwa sesudah gelap, akan ada terang.
Kamar Halilintar di rumah Tok Aba menghadap ke utara, lagipula jendelanya rendah. Sekarang Halilintar mencoba memahami apa yang pernah Solar katakan. Dia bersandar di balkon sambil melayangkan pandangan ke timur, menatap cakrawala yang luas.
Lama, hening, sendirian.
Penerang tata surya itu pun muncul perlahan-lahan, mengubah langit yang gelap dengan terang yang samar-samar. Tiba-tiba air mata Halilintar menetes, padahal dia tak pernah menangis.
Ini baru hari kedua Ice koma, dan rasanya sudah seperti seabad.
.
.
.
.
.
.
.
.
BoBoiBoy (c) Animonsta Studios
Through the Darkness (c) Roux Marlet
-Penulis tidak mengambil keuntungan material apa pun dari cerita ini-
Alternate Universe, Elemental Siblings without super powers
Angst, Hurt/Comfort, Family, Drama (more genres ahead)
.
.
.
.
.
.
.
.
Bab Lima: Harapan
.
.
.
Pagi itu seorang pria tinggi besar berjubah putih—sepertinya dokter—mengundang Halilintar untuk masuk ke ruangan Ice dan si sulung mengikuti dengan kebingungan. Bukannya kemarin, ketika ada Taufan dan Blaze, mereka hanya boleh melihat Ice dari balik jendela? Bukankah tidak sembarang orang bisa masuk ke unit intensif?
Lebih bingung lagi ketika dokter berkulit kecokelatan tersebut kemudian memeriksa Ice—bukan dengan stetoskop, tapi dengan senter yang disorotkan ke bola mata lalu cubitan di bagian dada. Tidak ada respon apa pun dari adiknya itu. Halilintar ingin bersuara tapi menahan diri, dan kemudian sang dokter menoleh ke arahnya.
"Nama saya Dokter Rokta. Kalian saudara kembar?"
Pertanyaan yang sudah jelas jawabannya, tapi Halilintar tetap mengangguk.
"Dia adikmu atau kakakmu?"
"Adik saya," jawab yang ditanya, "Dia anak nomor lima. Saya anak sulung." Jeda sejenak, lalu Halilintar menyambung, "Tadi itu Anda melakukan apa?"
"Saya memberinya sedikit rasa nyeri untuk memancingnya bangun."
"Dan dia sama sekali tak bergerak," balas Halilintar kaku.
Sang dokter tersenyum lembut. "Jangan tegang begitu. Saya ingin minta bantuanmu … siapa namamu?"
"Halilintar."
"Baik, Halilintar. Jadi, adikmu yang sedang koma ini masih beruntung. Dia tidak perlu ventilator—itu nama alat bantu untuk memberikan napas. Adikmu masih bisa bernapas sendiri tanpa bantuan alat, dan itu berita bagus."
Rasanya ada secercah harapan ketika Halilintar mendengarnya.
"Berita buruknya … dia belum merespon rasa nyeri. Saya ingin mencoba satu pancingan rasa nyeri yang lebih kuat, tapi saya harus minta persetujuan keluarga, dalam hal ini, dirimu."
Tentu saja Halilintar tak langsung setuju. "Ice mau diapakan?"
Sang dokter mengepalkan tangan dan mengarahkan buku jarinya ke tengah dada Halilintar. "Ditekan seperti ini, pelan-pelan, tentu saja." Dia mendorong dan si sulung mengaduh pelan. "Tulang dada ditekan tulang jari. Kalau orang kondisi sadar, pasti kesakitan."
"Ya sudah. Silakan."
"Terima kasih."
Pemilik nama elemen petir itu mengamati dengan was-was. Sang dokter beranjak ke sisi tempat tidur Ice, memberi ruang bagi Halilintar untuk melihat. Tekanan di tulang dada itu singkat tapi keras dan Ice tetap bergeming. Dokter itu diam sambil berpikir.
"Kapan dia akan bangun, Dokter?" Halilintar bertanya.
"Saya tidak bisa menjawab. Kepastian hanya milik Yang Maha Esa." Sang dokter menghela napas. "Respon adikmu agak janggal. Kalau masih bisa bernapas sendiri, biasanya ada respon kecil untuk tekanan yang barusan. Misalnya tangan atau kakinya bergerak. Tapi kamu lihat sendiri, 'kan, dia tidak bergerak."
"Ya, Dokter." Halilintar juga merenung. "Tapi dia itu memang adik saya yang paling sulit dibangunkan."
Sang dokter mengerjapkan matanya yang besar. "Oh, ya. Tadi katamu dia anak nomor lima. Kalian kembar berapa?"
"Tujuh."
Dokter Rokta manggut-manggut. "Jadi dia ini punya enam saudara kembar. Nah, saya mau minta tolong satu lagi padamu, Halilintar."
"Apa itu?"
"Setiap hari kamu boleh masuk ke sini, cuci tangan dulu tentunya, lalu pegang tangan adikmu. Panggil namanya. Cara memancing agar dia bangun tidak hanya dengan rasa nyeri, tapi juga dari suara dan sentuhan orang terdekat."
"Saya … saya boleh menyentuhnya?" Halilintar merasa takjub.
"Selalu cuci tangan dulu. Tadi sudah, 'kan. Nah, peganglah dia."
Halilintar kemudian mendekat dan duduk di kursi di sisi tempat tidur Ice. Diraihnya sebelah tangan Ice—terasa agak dingin, lalu digenggamnya erat. Ditatapnya wajah sang adik yang pucat dalam pulasnya.
"Ice ..." panggilnya. Jeda agak lama, Halilintar mengulangi panggilannya. "Ice, ayo bangun."
Tetap tiada jawab. Sang dokter undur diri pelan-pelan.
"Ice, semua orang menunggumu bangun."
Bunyi monoton alat pemantau tanda vital mengisi kesunyian Halilintar yang masih memegangi tangan Ice. Merasa harapannya kembali terjun bebas, Halilintar memanjatkan doa di dalam hati. Setelah beberapa menit dia bicara,
"Ice … aku tetap di sampingmu sampai kamu bangun. Jadi, bangunlah, ya? Jangan tidur terus."
Dengan itu Halilintar keluar dari ICU dan kembali ke tempat istirahatnya, lalu mendapati ada telepon masuk dari Gempa di ponselnya.
.
.
.
.
.
"Blaze kena Covid?!" sembur Halilintar terkejut, saat itu sekitar jam tujuh pagi.
"Kakak belum tahu?" balas Gempa di seberang sambungan. "Kukira sudah tahu dari grup kelas ..."
"Ya masa hal begitu aku tahu dari grup kelas, bukan dari adik-adikku sendiri?!" si sulung tak sanggup menahan nada tinggi dalam suaranya.
"Maaf, Kak Hali. Semalam Gempa sudah coba menghubungimu." Terdengar suara Taufan menyahut.
"Kami tak ingin membuatmu tambah cemas di sana," imbuh Gempa.
Halilintar menghela napas. "Notifikasi grup kelas kubisukan. Salahku sendiri sih, nggak langsung mengecek."
Taufan menyambung, "Aku dan Gempa di-swab kemarin sore. Kabarnya Fang juga. Harusnya hari ini hasilnya keluar. Kamu nggak apa-apa, Kak? Ada gejala nggak?"
Yang ditanya menyahut, "Nggak ada. Jadi gimana isolasinya Blaze?"
"Blaze di kamar kita, aku dan Kak Taufan pindah ke kamar Blaze dan Ice. Serumah dikarantina, nggak boleh keluar empat belas hari ke depan. Oh, ya, tiga belas hari kalau hari ini," jawab Gempa. "Tok Aba dan Blaze berbagi kamar mandi bawah, tapi Blaze sudah janji akan bersihin setiap dia habis pakai."
"Gimana kebutuhan sehari-hari?" tanya Halilintar. "Belanja online?"
"Iya, Kak. Sementara begitu," sahut Gempa lagi. "Makan juga pesan di luar sementara kami belum aman untuk masak. Oh iya, tadi aku sudah minta izin Tok Aba untuk pasang wifi. Sudah pesan, barangnya datang siang ini."
"Terbaik," sahut si sulung, teringat ujian fisika Duri yang terhalang susahnya sinyal. "Jadi untuk sekolah daring juga lebih lancar ya."
"Iya. Jangan sampai terulang harus ada yang remidi," ujar Gempa. "Oh iya, Kak, bagaimana kabar Ayah dan Ibu?"
Halilintar menyahut datar, "Alhamdulillah, baik. Mereka belum bisa pulang, India kena lockdown."
Gempa juga mengucap syukur di seberang sambungan. Halilintar tak ingin memperpanjang topik mengenai Ayah mereka, untung Taufan sudah bicara,
"By the way … Kak Hali harus tahu apa yang terjadi kemarin sore." Suara Taufan terdengar serius. "Tapi kamu tetap di sana jaga Ice ya, Kak. Kami bisa atasi ini."
"Ada apa kemarin sore?" tukas Halilintar, agak menyesal kemarin mematikan ponsel seharian. Dia jadi ketinggalan banyak berita!
"Blaze mencekik Solar di dapur ..."
Mendengarkan kronologi kejadian yang diceritakan Taufan membuat Halilintar mau tak mau jadi cemas. "Apa Duri dan Tok Aba tahu?"
"Sementara belum. Kata Gempa, lehernya Solar memar. Blaze bilang dia … dia berpikir dirinya gila."
Halilintar hanya diam.
"Dia mengira Ice ada di rumah dan Solar mau menyakiti Ice, makanya Blaze menyerangnya."
Si sulung yang posisinya berdiri bersandar ke dinding, melirik ke arah jendela tempat Ice terbaring. Masih tak ada perubahan yang berarti di monitor, mata Ice masih terpejam.
"Semua ini pasti berat sekali untuk Blaze," komentar Halilintar pada akhirnya. "Dia itu orangnya mudah tertekan."
"Dan biasanya kalau Blaze sedang tertekan, ada Ice yang bisa membantunya," sahut Gempa. "Tapi sekarang ..."
"Lalu Blaze bagaimana? Reaksinya Solar bagaimana?"
Taufan menjawab, "Blaze bingung … tapi dia tampak menyesal. Dia tahu dia mencekik Solar."
"Solar sepertinya sudah memaafkan Blaze," imbuh Gempa. "Dan dia menutup kejadian itu rapat-rapat dari Duri."
"Tapi aku was-was juga kalau Blaze tiba-tiba bertindak ekstrem lagi. Kemarin itu dia seperti bukan dirinya sendiri," lanjut Taufan. "Dia … trauma."
"Fan … kemarin itu ada psikolog datang ke kamar Blaze, waktu kamu masih tidur. Beliau berkenan dihubungi kalau ada masalah. Namanya Hang Kasa."
"Oh! Kukira yang waktu itu aku mimpi, Kak. Ternyata sungguhan terjadi, ya? Orangnya sudah kakek-kakek itu 'kan?"
"Ya. Aku juga simpan nomornya kemarin. Nanti kukirim, jaga-jaga kalau ada yang gawat lagi."
"Semoga saja nggak ada," balas Gempa.
Ketiga saudara itu lalu terdiam. Halilintar juga berharap tidak ada lagi hal yang gawat, apalagi selama orang tua mereka belum bisa pulang ke Malaysia. Keheningan selanjutnya diusik oleh suara si nomor dua yang bergetar,
"Kak … apa jadinya kalau Ice nggak bangun lagi?"
"Taufan!" hardik kakaknya. "Jangan berhenti berharap."
"Aku tahu. Tapi kita harus siap akan kemungkinan terburuk."
"Aku nggak mau memikirkan itu sekarang," Halilintar menukas.
"Kak Halilintar benar. Masih ada harapan, Kak." Suara Gempa yang lembut terdengar lagi. "Masih ada Allah."
Si sulung merasakan dadanya sesak karena haru. Di saat seperti ini, daripada merutuki ketidakpekaan Ayah dan meratapi nasib, kenapa tidak bersandar kepada Tuhannya?
"Taufan, Gempa, kalian banyak zikir, ya. Salat Tahajud juga. Duri dan Solar diajak. Bacaan Alquran sampai mana? Kita tadarus lewat video call."
"Boleh juga, Kak. Tapi jangan siang ini tadarusnya ..." kalimat Taufan berhenti dengan nada menggantung.
"Kenapa siang ini?" selidik Halilintar.
"Aku dan Gempa ada ujian bahasa Inggris. Gempa sampai lupa, lho. Kami belum belajar sama sekali."
"Untung tadi Yaya bikin reminder di grup kelas. Bisa-bisa kami bablas nggak ikut ujian nanti," sambung Gempa dengan nada sesal. Hal sepenting itu ada di to-do list miliknya tapi saking banyak kejadian kemarin dia sampai lupa mengecek daftar itu.
"Good luck, then," pungkas Halilintar. "Setelah baca grup kelas, ponsel mau kumatikan lagi. Aku nggak akan ke mana-mana," kembali diulangnya janjinya pada Taufan.
Sambungan diputus. Grup kelas Ilmu Sosial sudah mencapai angka lima ratusan chat pagi ini. Halilintar menarik napas dalam, membacai pesan dari atas. Rupanya Gopal mengumumkan bahwa Blaze terkena Covid. Namanya sendiri di-mention beberapa kali menanyakan kabarnya dan saudara-saudaranya. Teman-teman sekelas tidak perlu tahu, 'kan, kalau Halilintar tidak sedang bersama Blaze dan yang lain saat ini? Blaze sendiri hanya menjawab dengan sebuah stiker "Terima kasih" untuk puluhan ucapan doa yang dialamatkan kepadanya.
Tidak berniat untuk mengirim pesan di grup seperti biasanya, Halilintar mematikan ponselnya. Lagi. Tak perlu mengecek rekening bank elektroniknya, dia yakin Amato sudah mengirim uang. Besok saja baru dicek kalau tagihan rumah sakit sudah dihitung.
Halilintar membuka bungkusan plastik besar berisi sleeping bag yang belum dipakainya karena semalam ketiduran di posisi duduk. Dia berharap bisa beristirahat dengan benar kali ini, paling tidak sampai Dzuhur. Disingkirkannya barang-barang belanjaan—beberapa lembar pakaian dan baju dalam, sabun dan handuk, alat tulis, makanan dan air minum—ke satu sudut, lalu memasang sleeping bag itu. Halilintar berdiri lagi sebentar dan menengok ke balik jendela.
"Ice, bangunlah," ujarnya perlahan. Tentu saja tidak ada jawaban. Ice masih terus tidur, bukan tidur malas yang seperti biasanya, melainkan tidur dalam ambang antara hidup dan mati.
Si sulung berbaring dan mencoba memejamkan mata. Ice adalah saudaranya yang paling tenang dan paling tidak bermasalah—tapi sekali ini Ice dalam masalah, dan dia menyebabkan Halilintar insomnia parah.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Kakiku rasanya aneh."
"Aneh gimana, Blaze?" tanya Taufan di video call sore itu. Ujian bahasa Inggris siangnya cukup mudah dan saat ini dia serta Gempa sedang deg-degan menunggu hasil swab PCR mereka. Jika salah satu dari mereka positif, yang positif itu akan isolasi bersama Blaze di kamar bawah. Kalau keduanya positif … nah itu baru repot, Tok Aba mungkin diminta pindah ke lantai atas atau Duri dan Solar yang pindah ke kamar bawah. Yang mana pun membuat rumit kalau ada yang positif.
"Kalau dipegang begini nggak kerasa apa-apa," ujar Blaze sambil mengangkat kaki kanannya lalu menusukkan satu jari ke betisnya. "Tapi kalau digelitiki seperti ini, ada rasanya."
"Hmm, menarik," celetuk Solar di kamarnya, wajahnya yang terbungkus masker dekat sekali ke layar. "Itu lukanya yang diperban, apa nggak perih kalau kena air?"
Blaze menggeleng. "Nggak perih. Padahal harusnya iya, ya. 'Kan berdarah ..."
Solar melanjutkan, "Dari kemarin seperti itu, Kak Blaze?"
Suara Duri tiba-tiba masuk, "Solar minggir, Duri juga mau lihat kakinya Kak Blaze!"
Solar menoleh, menelengkan kepala dengan agak dramatis yang dibuat-buat. "Eh? Apanya yang mau dilihat, Kak Duri? Bulu kakinya Kak Blaze?"
Duri tertegun, mata berkedip-kedip bingung. "Ung, Duri nggak tahu mau lihat apanya. Lha Solar lihat apa?"
"Ya itu, bulu kaki. Kak Blaze kapan terakhir cukur bulu kaki, hayo?"
Taufan menggigit bibir menahan tawa sedangkan sudut bibir Gempa juga sudah berkedut-kedut. Rasanya menyenangkan punya dua adik bungsu yang jadi penghibur di saat begini.
"Bulu kaki kalau dicukur, nanti tambah lebat, tahu!" balas Blaze. "Belum pernah cukur bulu ya, kalian?"
"Belum pernah," jawab Duri, polos maksimal. "Bulu kaki Duri cuma sedikit."
Solar tidak menjawab.
"Kalau bulu ketiak bagaimana?" lontar Taufan usil. "Blaze? Yang sukanya pamer ketek?"
"No comment," sahut Blaze sambil manyun. "Kan biasanya juga pada bisa lihat sendiri. Dan aku bukan niat pamer, tapi gampang gerah. Memangnya aku Solar?"
"Eh? Kok aku lagi?" Solar tidak terima diserang balik.
"Ya 'kan? Yang tiap hari ganti foto profil di medsos. Galeri ponselmu pasti penuh selfie semua," tuding Blaze sambil menyeringai.
"Ngomong-ngomong, Solar kalau mandi memang lama, ya?" celetuk Gempa yang nyengir kecil. "Yang antre kamar mandi nih lho ..."
"Iya, soalnya Solar luluran d—?" Duri kaget ketika mikrofon di ponsel Solar dimatikan oleh pemiliknya.
'Kak Duriiiii itu rahasiaaa!' Solar mengacak-acak rambut kakaknya dengan gemas dan Duri tampak hanya bisa pasrah. Taufan, Gempa, dan Blaze menyaksikan kekerasan bisu dalam rumah tangga. Blaze terkekeh, senang ada yang berhasil membuka satu aib Solar.
Taufan menegur dengan canda, "Solar! Berapa kali dibilangin, nggak sopan, ya! Duri itu lebih tua darimu!"
Duri sendiri ikut terkekeh sambil menyalakan mikrofon kembali. "Nggak apa-apa. Siapa tahu Duri bisa jadi pintar kayak Solar kalau kepala Duri diguncang begini."
"Kak, itu nggak lucu," komentar Solar datar sambil menghentikan aksinya. "Maaf, ya. Soalnya aku gemas padamu."
"Gemas tanda sayang, ya, Solaaar?" Duri menatap sang adik dengan mata besarnya. Dipeluknya Solar dengan tiba-tiba, membuat si bungsu kaget tapi tak bisa mengelak. "Duri juga sayang Solar, kok. Tapi Solar gemukin badan sedikit ya, biar kalau dipeluk empuk kayak Kak Ice!"
"Uuh, kangen peluk Ice," seloroh Blaze tanpa diduga. "Gimana kabarnya, ya dia? Masih tidur?"
"Iya, Ice belum bangun," sahut Gempa hati-hati. "Coba kita hubungi Kak Halilintar, ya."
Kali itu pun, ponsel Halilintar masih nonaktif. Taufan menggeleng, lalu berujar,
"Ah, ngomong-ngomong … ayo kita tadarus. Sudah lama, 'kan."
"Boleh, boleh," sahut Solar antusias.
"Yuk, siapin Alquran masing-masing," timpal Gempa. "Internet lancar semua?"
"Lancar jaya!" sorak Duri gembira.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Saat akhirnya mereka berhasil video call berenam dengan Halilintar, itu sudah sore di hari ketiga Ice koma. Hasil swab PCR Taufan dan Gempa yang pertama negatif, lalu mereka swab satu kali lagi, hasilnya negatif lagi. Kegiatan memasak dan mengurus rumah kembali berjalan seperti semula, demikian pula berkumpul di ruang makan bersama Tok Aba. Bedanya, Blaze tetap di kamar sepanjang hari dan Solar memakai masker setiap saat. Si bungsu bersikeras dirinya tidak perlu swab, bahwa dia bisa memantau sendiri kalau ada gejala, dan dengan memakai masker serta jaga jarak dia mencegah penularan pada siapa pun misalnya ternyata dia ketularan Blaze.
"Yang penting sampai Kak Blaze selesai isolasi mandiri, aku nggak kontak erat dengan siapa pun. Jadi Kak Duri, jangan peluk-peluk aku dulu, ya. Meski aku tahu aku ini keren, badan kurus begini nggak enak dipeluk."
"Um, baiklah, Solar ..." sahut Duri yang masih belum sepenuhnya paham mengapa Solar ada kemungkinan tertular.
Yang memprihatinkan, rupanya Fang juga positif terinfeksi Covid. Grup kelas Ilmu Alam juga menjadi ramai seperti kelas sebelah. Karena merasa tidak pantas mendapat perhatian seorang diri saja, Fang akhirnya mengumumkan di grup itu bahwa Ice sedang koma, bahwa Ice yang lebih membutuhkan doa dan perhatian teman-teman sekelas, karena dia sendiri memang kena Covid tapi tidak bergejala dan tak ada bedanya karena sekolah berlangsung secara daring.
"Teman sekelas kita, Duri dan Solar serta saudara-saudaranya sedang kesulitan. Ice dirawat di rumah sakit karena koma dan Blaze diisolasi di rumah karena Covid. Mohon doanya, teman-teman."
Bahkan Pak Guru Papa Zola, wali kelas Ilmu Alam, juga mengirim doa,
"Lekaslah bangun dan sembuh, wahai anak-anak muda kebenaraaaan!"
Hanya grup kelas Bahasa yang tidak seramai dua kelas lainnya, jadi Taufan yang sore itu menginisiasi panggilan multisambungan dan untungnya Halilintar sedang menyalakan ponsel.
"Kak Hali buka kamera, lah. Apa gunanya kita video call kalau kameranya mati?"
"Huuuh. Iya, sebentar."
Sejurus kemudian wajah si sulung yang enggan tampak di layar, kelihatan pucat meski baru saja buka puasa.
"Kak Hali! Duri kangen!" seru si nomor enam.
"Halo, Duri," balas Halilintar. "Hai, semua."
"Kak Hali buka puasa pakai apa? Sayurnya yang cukup, lho. Tidurmu juga yang cukup, nanti vertigomu kumat. Kamu pucat ... banget."
"Gampang, Fan," sahut Halilintar sesingkat mungkin menanggapi panjang-lebarnya kalimat Taufan.
"Hmmm. Tinggal dirias sedikit bakal mirip zombie," celetuk Solar.
"Oh, ya?" Halilintar tersenyum tipis. "Ngomong-ngomong foto di grup yang kemarin … siapa yang punya ide meriasku pakai lipstik Ibu waktu itu?"
Taufan langsung berjengit di tempat, berharap sinyal ketiga adiknya kena gangguan semua sehingga tidak ada yang menyebut …
"KAK TAUFAAAAN!" Blaze, Duri, dan Solar kompak menyahut.
Gempa hanya terkekeh pelan melihat yang disebut menelan ludah.
"Taufan … rupanya kamu, ya," Halilintar berujar dingin. "Tunggu saja, Fan. Dan kamu, Solar," tunjuknya, "betul kamu yang ambil fotonya?"
"Iya," jawab Solar penuh percaya diri. "Bagus 'kan efek cahayanya?"
"Bagus sekali," sahut Halilintar, sendi di jari-jarinya berbunyi mengancam. "Terima kasih, ya. Saking berterima kasihnya, aku pengin menghadiahi kalian tinju satu-satu."
"Aku juga? Padahal aku nggak ikut-ikutan merias," kilah Solar.
"Kak Hali, bulan puasa, Kak, ampun," seru Taufan sambil meringis.
"Jangan pukul Kak, ampun," Blaze ikut minta maaf.
"Ampun Kak Hali. Duri cuma ikut-ikutan Kak Blaze!" Duri berusaha membela diri.
Halilintar hanya melipat tangan di dada. "Lalu apa yang terjadi setelah itu? Aku nggak ingat pernah dikerjain begini."
"Ya, soalnya Gempa lihat kejadiannya dan lapor ke Ayah. Kami berempat kena jewer, lalu Gempa dan Ibu bersihin wajahmu selagi kamu masih tidur," Taufan menerangkan.
"Orang lagi sakit, malah dikerjain. Tak patut, tak patut," komentar Gempa.
"Waktu itu aku sakit?" tanya Halilintar.
Taufan mengangguk. "Iya, demam tipus. Dirawat dan diinfus di rumah, yang di foto itu kamu sudah hampir sembuh. Tapi tidurnya Kak Hali luar biasa pulas sampai kami tergoda mengerjaimu."
"Mengalahkan tidurnya si Ice," komentar Blaze. "Dia sampai heran Kak Hali kok nggak bangun-bangun, padahal dia sendiri sudah tidur lama banget. Merasa tersaingi."
Semua tersenyum mendengarnya, berharap Ice betul-betul akan segera bangun.
"Kakak jaga betul kesehatanmu. Jangan sampai sakit di sana," ujar Gempa.
"Ya, Gem … kudengar Fang juga positif?"
Solar mengangguk. "Iya. Tapi dia nggak bergejala sama sekali."
Blaze hanya menggigit bibir gelisah.
"Jaga kesehatan, semuanya," ujar Halilintar akhirnya. "Kita lanjut tadarus, yuk? Sudah jadi pasang wifi 'kan di rumah? Tinggal baterai ponsel kalian awet atau nggak."
Ada usulan yang terlontar, "Kalau lancar … mulai besok kita tadarus bareng Tok Aba juga ya, Kak? Di ruang tamu? Biar ponselnya cukup satu aja yang sambung ke nomormu. Kalau suaranya ramai dan keras, Blaze bisa ikut dari kamar. Daripada tagihan listrik melonjak."
"Terbaik lah, Gem."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Siang di hari keempat Ice koma, hujan turun dengan deras. Halilintar merapatkan jaket dan selimutnya. Angin terasa cukup kencang meski ada partisi yang mengepungnya di tiga sisi. Sudah empat hari si sulung bolak-balik memanggil Ice untuk bangun dan menggenggam tangannya, tapi Ice masih tertidur. Mungkin karena suaranya tidak familier untuk Ice? Memangnya kapan Halilintar pernah membangunkan Ice di pagi hari? Lagipula dia tidak pernah dekat dengan si anak nomor lima dan merasa agak menyesalinya. Si sulung kemudian bergumam sendiri,
"Seandainya Blaze yang ada di sini … dia pasti bisa membangunkan Ice."
Sambil mengucapkan itu, sebuah pemahaman menyambar Halilintar bagai petir di siang bolong.
"Astaghfirullah, aku ini 'kan enggak hidup di zaman batu! Kenapa nggak kepikiran dari kemarin!"
Segera dikeluarkannya ponsel dan bergegas memutar untuk masuk ke ICU sambil menghubungi Taufan. Pada nada tunggu yang pertama sang adik langsung menjawab,
"Assalamualaikum ..."
"Waalaikumsalam. Fan, Blaze apa kabar? Aman?"
Jeda sedetik. "Aman gimana maksudnya, Kak?"
"Dia di kamar? Kamu di kamar?"
"Kak, satu-satu, deh. Kak Hali minta apa?"
Halilintar baru sadar napasnya memburu saking semangatnya. "Suruh Blaze telepon ke nomorku, ponselnya mau kudekatkan ke telinganya Ice. Sebentar, aku cuci tangan dulu."
"Hah?"
"Kata dokter, itu salah satu cara membuat Ice bangun."
"Membangunkannya dengan teriakan seperti biasa, Kak?"
"Iya. Bukankah biasanya hanya suara Blaze yang bisa bikin Ice bangun?"
Sejurus kemudian Halilintar sudah duduk di sisi tempat tidur Ice dengan ponsel yang sedang terhubung video call diletakkannya persis di telinga sang adik. Suara Blaze yang serak dan cempreng mengisi ruangan.
"IIIIICE … BANGUUUUUUUUUUUN!"
Halilintar merasa dirinya aneh ketika dia tertawa kecil. Sejak kapan dia bisa merasa geli dengan tingkah Blaze yang rutin satu ini? Di satu sisi, dia merasa senang bahwa ada ide baru yang herannya baru terpikirkan sekarang. Kalau tidak mungkin menghadirkan Blaze di sini, setidaknya suaranya saja mungkin bisa membuat Ice bangun?
Di sisi lain … ternyata Ice tetap tidak merespon apa-apa.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Sore itu sebuah percakapan terjadi pada grup medsos dadakan yang dibuat tiga ketua kelas dan satu perwakilan organisasi sekolah:
"Dey, besok jadi kah?"
"Jadi lah, Gopal."
"Haiya! Masa nggak jadi lagi! Makanya siang-siang jangan ketiduran!"
"Untung paketnya bukan makanan basah, 'kan jadi awet."
"Tapi bunganya harus beli lagi, yang kemarin sudah layu, ma."
"Eh? Buat Ice nggak jadi bawa biskuitku kah?"
"DEY! NGGAK."
"Haiya, Ice mana bisa makan, Yaya."
"Kalaupun dikasih bunga, mau dipajang di kamar ICU apa boleh? Kalau dikasih biskuit, setidaknya bisa buat Halilintar."
"Dey, kasihan Halilintar kalau menu buka puasanya pakai biskuitmu."
"APA GOPAL?!"
"Ish, berisik lah kalian ini ..."
"Maaf, Fang. Tapi kita perlu kamu di grup ini. Lagian kamu 'kan nggak ada gejala?"
"Iya, tapi semalam aku teleponan dengan Blaze sampai tengah malam. Jadi aku kurang tidur."
"Gimana dia?"
"Bosan katanya. Main game apa pun dan nonton apa pun sudah bosan. Pasti menyiksa sekali kalau seorang Blaze yang hiperaktif terpaksa mengurung diri di kamar."
"Ini hari kelima dia isolasi, 'kan? Gejalanya sudah membaik?"
"Kemarin dia masih belum bisa mencium deodoran. Katanya tiap pagi sudah dicoba, nggak ada aroma apa-apa."
"Apa kita belikan minyak juga buat Blaze biar bisa segera membau? Nenek saya suka pakai minyak gosok yang baunya menyengat itu, ma."
"Um, kayaknya nggak usah, Ying. Deodorannya itu aja biasanya sudah nyengat baunya, tahu."
"Fang tahu banget ya baunya Blaze, hahaha. Memang cocok lah kalian berdua."
"OI GOPAL!"
"Sudah kalian berdua. Dan kau Gopal, kamu itu ketua kelas, jadi teladan dong."
"Memang lah teladan, teladan ngutang di Kokotiam ..."
"OI FANG!"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Hari kelima Blaze isolasi adalah hari keenam Ice terbaring koma. Sekarang tadarus dan pengajian menjadi acara rutin Halilintar bersama Tok Aba dan lima saudaranya setiap sore dan malam, sedangkan sekolah daring tetap berlangsung di pagi hari. Di luar waktu-waktu itu, ponsel Halilintar senantiasa mati.
Tidurnya tak pernah nyenyak, karena pada dasarnya Halilintar memang tak mudah tidur di tempat asing, apalagi karena memikirkan Ice yang terus tidur di ruangan di sebelahnya.
Meski tiap hari mendapat asupan rohani, Halilintar tetap merasa makin hilang harapan seiring bertambahnya hitungan hari Ice dalam keadaan koma dan akibat akumulasi kelelahan yang berkepanjangan. Pagi ini hidungnya bahkan mulai melelehkan ingus. Payah, jangan sampai dia kena gejala yang mengarah ke Covid!
Waktu kecil, Halilintar memang paling sering sakit-sakitan meski sakitnya biasanya flu ringan—tapi tak ada saudaranya yang lain yang kena flu hampir sebulan sekali. Beruntung dengan rutin berolahraga dan seiring bertambahnya usia, tubuhnya semakin kuat. Kali ini pun dia harus kuat demi Ice. Masa di sini sang adik tidur di ICU sedangkan dirinya ikut jatuh sakit? Sementara semua orang di rumah sedang karantina?
Dan masa, agar Halilintar benar-benar bisa tidur pulas dia harus jatuh sakit dulu? Seperti waktu dia sakit tipus di rumah yang lama sampai tidak sadar dikerjai adik-adiknya?
Teringat kejahilan yang sudah dibahas, Halilintar teringat kembali cerita Taufan soal Blaze yang mencekik Solar. Di hari-hari berikutnya, Blaze tampak biasa saja—gelisah dan cemas, tapi selebihnya normal. Kenapa dia sampai berhalusinasi di hari itu? Apakah karena masih syok sehabis kejadian penculikan dan mengetahui Ice terbaring koma?
Dari obrolan singkat dengan Fang yang mulanya hanya bertanya kabar, Halilintar tahu bahwa para penjahat yang menculik Blaze, Geng Kristal, disebut-sebut 'suka bereksperimen' meski Fang juga tidak terlalu tahu detailnya. Apakah obat bius yang mereka pakai sebelum melukai kaki Blaze bisa menyebabkan halusinasi separah itu?
Kemudian, hari itu Halilintar masih menghadapi tantangan lainnya. Barangkali kondisi berpuasa dibarengi susah tidur kronis dan kecemasan berlebih berhari-hari merupakan kombinasi mujarab untuk mengundang sakit yang paling dibencinya: vertigo.
Pagi itu Halilintar bisa merasakan kepalanya berputar padahal dia sedang duduk bersandar ke dinding. Mulanya pusaran itu ringan dan bisa diabaikan, lama kelamaan makin menjadi-jadi. Ditutupnya ponsel dan pelan-pelan menggeser tubuhnya ke arah sleeping bag. Sebelum serangan pusing berubah menjadi mual, Halilintar mencoba berbaring. Dipejamkannya mata, tapi pusing berputarnya tetap terasa. Dipaksanya mata membuka kembali dan mencari-cari jika ada orang, tapi di sekitarnya sepi. Halilintar mengerang, merasa betulan mual sekarang.
Saat itu dilihatnya ada seseorang berdiri di balkon. Halilintar berseru minta tolong, tapi mungkin suaranya terlalu lirih dan orang itu tidak melihat ke arahnya. Dia mencoba untuk duduk dan memanggil, tapi saat itu mata Halilintar melotot karena apa yang dilihatnya.
Sosok itu berdiri di atas teras balkon, bukan di lantai, seolah ingin melompat terjun dari situ. Dan Halilintar mengenalnya, tapi dia tidak mempercayai matanya sendiri.
Halilintar tidak ingat apa yang terjadi berikutnya karena pusaran di dalam kepalanya begitu dahsyat dan membuatnya hilang kesadaran. Saat membuka mata lagi, dia sedang terbaring di dalam ruangan berbau obat dan ada selang infus di lengan kanannya. Sebuah dorongan yang tak tertahankan melanda perutnya dan Halilintar buru-buru duduk. Seseorang menyodorkan baskom kepadanya dan si pemuda langsung muntah ke situ setelah menarik lepas maskernya.
"Dey, vertigomu kumat, Halilintar?"
"... Gopal?" gumam Halilintar, lirih.
Wajah berkulit kecokelatan itu mengeriut jijik. "Sabar, ya. Kamu terpaksa ikut jadi pasien di sini."
Halilintar belum bisa menjawab dan muntah sekali lagi.
"Err ... biar kupanggilkan Dokter sebentar. Ini, pegang sendiri."
Halilintar mau mengucap terima kasih tapi rasanya lemas sekali. Baskom muntahan itu kemudian diletakkannya dengan tangan gemetaran ke meja di sampingnya, masker dipakainya kembali. Melihat interior di sekitar dan lalu-lalang orang di ruangan sebelah yang terlihat dari tempatnya, tampaknya Halilintar sekarang berada di UGD. Kepalanya sudah tidak terasa berputar, tapi Halilintar menunduk dan mengerang.
Benarkah yang tadi itu …?
"Halilintar bin Amato," ujar seseorang dengan suara yang familier, membuatnya mendongak pelan-pelan. Rupanya Dokter Kaizo, sedang giliran tugas di sini. "Memang riwayat vertigo?"
Halilintar mengangguk pelan, merasa benci terlihat lemah oleh orang yang dikenalnya.
Kaizo bicara lagi sementara seorang perawat menyingkirkan baskom kotor dari meja, "Tadi kamu sudah diberi obat. Bagaimana rasanya sekarang?"
Yang ditanya berdeham sedikit. "Sudah tidak pusing, Dokter."
"Kamu kurang tidur?"
Halilintar menatap sang dokter. Hal itu pasti kelihatan jelas di wajahnya, Dokter Kaizo seperti melontarkan retorika padanya.
"Tentu saja, Dokter. Adik saya koma ..."
"Aku tak akan menyalahkanmu. Kalau aku yang di posisimu dan adikku sedang koma … aku juga akan susah tidur."
"Ice ..." gumam Halilintar sambil menunduk lagi.
"Barusan sudah ada yang mengecek kondisi Ice di ICU. Belum ada perkembangan."
Menelan ludahnya, Halilintar berkata, "Saya … saya harus telepon Taufan dan Gempa."
Melihat si kembar sulung itu tampak kalut, Kaizo berujar lembut, "Ya sudah. Kamu istirahat di sini dulu. Teman-temanmu berkunjung, tapi nanti saja baru kubolehkan ke sini."
"Terima kasih," balas Halilintar sembari mencari ponsel di sakunya. Dibuatnya panggilan ke nomor Taufan dengan tangan masih gemetar selagi Kaizo berlalu. Halilintar berusaha menenangkan diri sambil menunggu. Nada sambung berbunyi dua kali, lalu suara sang adik menyahut,
"Assalamualaikum Kak Hali."
"Kak Halilintar telepon?" Kedengaran suara Gempa di latar. Mereka berdua pasti di satu ruangan.
Si sulung segera bicara, "Waalaikumsalam. Fan, Gem. Tolong ... Ice butuh bantuan."
"Hah?"
Halilintar tahu bahwa kalimatnya selanjutnya akan mengejutkan. Dia menarik napas dalam-dalam sebelum meneruskan,
"Aku … aku tadi … melihat rohnya Ice mau melompat dari balkon lantai dua. Dia seperti putus asa akan sesuatu."
Jeda beberapa detik.
"Kak Hali … kamu serius?"
"Serius. Aku nggak pernah cerita ke kalian, nanti kalian takut. Sejak kecil ... aku … aku bisa melihat roh …"
Baik Taufan maupun Gempa tak bersuara, dan Halilintar meneruskan,
"Lebih tepatnya, roh orang yang hampir meninggal ..."
Suara sang kakak melirih di akhir kalimat itu, bagaimana Taufan dan Gempa di seberang sambungan tidak merinding mendengarnya? Halilintar sendiri masih gemetaran, masih tidak rela bahwa benar roh Ice yang dilihatnya sebelum pingsan tadi. Kali ini si sulung betul-betul dilanda keputusasaan. Dia bicara lagi dengan napas memburu,
"Tolong, Fan, Gem … tanya Blaze. Dia mungkin pernah didatangi rohnya Ice. Ingat waktu dia mencekik Solar. Dia mungkin tahu sesuatu."
Masih jeda lagi beberapa detik sebelum Gempa menyahut dengan sepercik kepanikan dalam suaranya,
"Baik, Kak. Kami tanyai Blaze sekarang juga. Sampai nanti."
Sambungan diputus. Halilintar bahkan tidak sempat lagi memikirkan dirinya sendiri yang baru saja pingsan karena vertigo. Langsung diucapkannya zikir kembali sambil memikirkan Ice, tak terasa air matanya menetes lagi tanpa bisa ditahan. Mulanya perlahan, lama-lama makin deras seiring doa yang dipanjatkannya untuk sang adik yang tengah meregang nyawa. Sampai dibekapnya mulut dari balik masker untuk menahan isak yang terlalu keras.
Halilintar dulu benci sekali pada kemampuan melihatnya itu karena secara tak langsung membuat kesehatannya buruk, dan kali ini perasaannya terkoyak antara semakin benci dan bersyukur. Kalau tidak karena bakatnya itu, Ice bisa saja meninggal mendadak tanpa peringatan. Sambil berdoa berulang-ulang, Halilintar berharap Blaze betulan tahu sesuatu.
"Jangan mati, Ice … jangan mati."
Entah berapa menit berlalu dengan Halilintar menangis untuk adiknya yang kalem itu. Saat akhirnya bisa tenang, telapak tangan dan maskernya sudah basah kuyup. Karena di ruangan itu ada wastafel, Halilintar beranjak dan menarik tiang infusnya ke sana untuk mencuci tangan dan wajahnya.
Saat selesai, dia bisa melihat teman-temannya duduk di kursi tunggu di sebelah luar. Gopal yang pertama melihatnya, lalu berseru pada seorang gadis berkerudung merah muda dan gadis lainnya yang berkacamata. Ketiganya kemudian mendekat.
"Halilintar, kau oke?" Yaya bertanya, rautnya khawatir.
"Sudah tak mual?" tanya Gopal hati-hati.
"Alhamdulillah, sudah membaik … Gopal, Yaya … terima kasih sudah datang, ya. Dan … Ying juga."
Halilintar menatap kawan perempuannya yang berparas oriental itu. Seingatnya Ying sekelas dengan Yaya, Taufan, dan Gempa di kelas Bahasa, dan sudah ada Gopal ketua kelas Ilmu Sosial di sini. Ketua kelas Ilmu Alam 'kan sedang isolasi di rumah.
"Saya ikut sebagai sekretarisnya Gempa, ma," Ying menjelaskan melihat paras Halilintar yang bertanya-tanya.
Barulah Halilintar ingat di mana biasanya dia melihat Ying di sekolah, yaitu di kantornya Gempa. "Oh ya … terima kasih, Ying. Jadi kamu perwakilan organisasi sekolah, ya."
"Dan sebagai perwakilannya Fang juga," bisik Gopal keras-keras penuh drama.
"Jangan sebar-sebar fitnah, Gopal!" seru Ying dengan wajah memerah.
"Gopal ini penuh gosip ya!" Yaya ikut berkacak pinggang.
"Terima kasih, semua," ujar Halilintar lagi, kalimatnya keluar dalam desahan lelah. Dipegangnya kepala, langkahnya limbung hendak kembali ke ranjang.
"Dey, kamu masih pusing?"
"Aslinya sudah enggak. Tapi suara kalian yang bikin pusing."
Kalimat Halilintar demikian menohok sampai ketiga temannya serempak minta maaf. Kemudian Yaya berkata,
"Tadi kami sudah mengunjungi Ice ..."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Begitu telepon ditutup, Taufan yang masih tertegun berkomentar dengan nada mengambang,
"Pantas saja Kak Hali itu paling ogah dengar cerita horor."
"Kak Taufan, bukan saatnya mikir itu sekarang," balas Gempa sambil meraih masker N95 lalu menyodorkannya pada kakaknya.
"Kita … ke kamar?" Taufan tampaknya masih syok mendengar informasi dari si sulung. "Tanyai Blaze langsung?"
"Ini bukan hal yang mudah dibicarakan lewat telepon, Kak. Ayo."
.
.
.
.
.
Pintu kamar diketuk keras. Tak ada tanggapan dari dalam.
"Blaze?" panggil Gempa tak sabar. "Aku dan Taufan mau masuk." Tanpa menunggu respon, Gempa membuka pintu, Taufan mengikuti. Mereka melihat Blaze sedang berdiri menghadap jendela yang terbuka, posisinya memunggungi pintu.
"Blaze," Gempa memanggil sekali lagi, nadanya berubah khawatir karena Blaze tidak bersuara padahal suaranya sendiri sudah lebih keras dari biasanya.
"Blaze?" Taufan ikut memanggil, mendadak was-was kalau ada yang 'gawat' lagi.
"Kak Taufan ..." Blaze balik badan pelan-pelan, wajahnya tampak kosong dan dia tidak memakai masker. "Kak Gempa."
"Kamu … sedang apa, Blaze?" tanya Taufan hati-hati.
"Ice ..." gumam Blaze, lalu duduk di kursi belajar Gempa. Matanya berkedip-kedip bingung.
"Kamu melihat Ice?" tebak Gempa langsung pada intinya.
Seketika sorot Blaze menajam pada kakaknya. "Iya, Kak. Kak Gempa percaya? Apa aku memang gila? Ice 'kan masih di rumah sakit, jauh dari sini."
Gempa meraih bahu Blaze, gerakannya lembut tapi tegas. "Kamu nggak gila, Blaze. Coba ceritakan."
Tiba-tiba setetes air mata Blaze jatuh. "Sejak waktu aku mencekik Solar hari itu, baru kali ini aku melihat Ice di rumah ini lagi."
Taufan ikut duduk, di kursi belajar Halilintar. Gempa mengambil tempat di ranjangnya sendiri.
"Ice ada di bagian mana di rumah ini?" Gempa memulai.
"Yang waktu itu, di kamar ini, lalu di dapur."
"Yang hari ini?"
"Tadi sempat di kamar ini juga. Lalu dia keluar, naik tangga." Blaze berhenti. "Kuikuti dia, tapi dia hanya duduk, tidak mau masuk kamar."
Taufan mengernyit. "Apa karena di kamar kalian sedang ada kami berdua?"
Blaze menggeleng. "Bukan kamarku. Dia duduk di depan kamarnya Duri dan Solar. Lalu turun lagi, jadi aku ikut turun. Sampai di jendela ini, dia hilang."
Kedua kakak Blaze bertukar pandang.
Gempa bersuara hati-hati, "Blaze … maaf, aku tanya ini lagi. Kenapa kamu mencekik Solar hari itu?"
Blaze tidak ragu saat menjawab, "Ice bilang dia takut."
"Kamu juga mendengar suaranya?" balas Taufan takjub, dijawab anggukan dari Blaze.
"Persisnya Ice bilang apa?" selidik Gempa.
Blaze coba mengingat-ingat lalu menjawab, "Ada yang datang, Kak Blaze … aku takut."
"Dan yang datang itu Solar?" sambung Gempa, dijawab anggukan lagi.
"Bagaimana bisa Ice takut pada Solar?" imbuh Taufan.
"Mungkin dia mengira Solar mirip salah satu penculik kalian?" balas Gempa lagi, mencoba alternatif kemungkinan.
Blaze menggeleng. "Nggak ada di antara mereka yang seperti Solar. Dan aku bertindak karena insting saja waktu itu. Ice takut dan aku harus melindunginya."
Taufan mengetuk-ngetukkan jari ke meja. "Ice dan Solar … mereka nggak pernah kelihatan bersama-sama. Solar sih memang individualis dan baru-baru ini saja dekat dengan Duri."
Gempa memikirkan kembali hasil tes Pak Guru Kokoci. "Ice yang biasanya tenang dan rasional bisa sampai takut pada Solar, pastilah ada sesuatu yang sangat fatal." Tiba-tiba dia teringat sesuatu. "Waktu Solar kecelakaan di ulang tahun Fang yang kesepuluh … Ice ada di mana?"
Taufan tidak tahu-menahu. "Entah. Aku main sama Fang, Blaze juga."
"Solar dan Duri pergi ke tempat kembang api berdua saja," sahut Blaze, mencoba mengingat-ingat. "Di hari aku mencekik Solar itu aku punya dugaan bahwa ini ada hubungannya dengan kecelakaan Solar yang dulu. Tapi Solar sendiri belum ingat seputar kejadian."
"Coba tanya Duri?" usul Taufan.
Gempa menggeleng. "Tapi Duri nggak ada hubungannya … atau mungkin ada?"
Blaze mengusulkan, "Mending kita tanya Solar langsung. Dia di kamar?"
Gempa kurang setuju. "Tapi kalau Duri juga di kamar bagaimana? Dia pasti ingin tahu."
Taufan menyela, "Sudah saatnya nggak ada lagi rahasia-rahasiaan, Gem. Kalau Duri juga ada, maka biarkan dia tahu."
Berpikir-pikir, akhirnya Gempa memutuskan, "Bukan soal Blaze mencekik Solar, ya Kak … kita akan bahas kecelakaan Solar yang dulu saja. Soal yang satunya bisa lain kali."
Jadilah kemudian Solar dan Duri yang memang sedang di kamar dijemput oleh Gempa yang bilang "Ada hal serius untuk dibicarakan bersama Blaze" dan mereka diminta pakai masker N95. Kedua adik bungsu itu masuk ke kamar dengan paras bingung, Solar memilih berdiri di dekat pintu. Blaze langsung bicara dari tempatnya.
"Jadi, Solar. Aku mau tanya soal kecelakaanmu waktu umur sepuluh dulu."
"Ya, Kak?"
"Kamu ingat apa saja yang terjadi sebelum kamu ke tempat kembang api?"
Solar diam sejenak. "Belum yakin. Kak Blaze mau tahu tentang apa?"
Blaze menghela napas. "Ada di mana Ice waktu itu?"
"Oh, kalau Kak Ice, dia di meja tempat es buah dihidangkan."
Jawaban Solar bernada ringan, tapi efeknya membuat hati Blaze terasa dihantam batu.
"Kamu … kalian berdua, kalian bilang pada Ice kalian mau ke mana?"
Duri mengacungkan tangan. "Bilang, dong."
"Waktu itu kami pamit ke Kak Ice saja," sambung Solar, seketika menyadari sesuatu dan mendadak napasnya jadi berat. "Ya, hanya pamit ke Kak Ice … dan sepertinya nggak ada yang lain yang tahu kami berdua pergi ke mana."
Blaze mengembuskan napas panjang. Baginya sudah jelas sekarang. Awalnya dia kira Ice takut ditagih utang membelikan gelato untuk Duri kalau nilainya bagus dan membelikan Solar donat gula putih kalau berhasil juara kelas lagi. Janji kekanakan itu didengar Blaze waktu ketiga adiknya itu belajar fisika bersama tempo hari.
Akar masalahnya sudah jauh sekali di masa lalu … dan Ice hidup selama tujuh tahun terakhir ini dengan menyimpannya seorang diri?
Gempa dan Taufan juga sepemikiran dengan Blaze. Hanya Duri yang masih tampak bingung.
"Solar … kamu ingat tentang itu, apa barusan saja?" Gempa bertanya.
"Nggak juga. Dari awal aku memang masih ingat kalau ada Kak Ice yang kami pamiti."
Taufan terbelalak keheranan karena mengerti arah pembicaraan. "Jadi, kamu nggak apa-apa?"
"Nggak apa-apa gimana?" tanya Solar balik, bernada lugas.
"Solar," sela Blaze. "Kamu tahu, Ice itu hatinya lembut ..."
"Ya, lalu?"
"Dia mungkin menyesal membiarkan kalian berdua pergi, apalagi kemudian kamu kecelakaan dan Duri menangis heboh."
Solar tertegun. "Ya … mungkin, Kak Blaze. Tapi yang salah 'kan aku sendiri."
Gempa berujar lembut, "Kita bukan mau main salah-salahan. Coba kamu pikirkan. Kamu menjaga jarak dengan semua orang sejak kecelakaan itu. Bagaimana kalau Ice mengira kamu membencinya?"
"Mana mungkin aku benci Kak Ice cuma karena itu?" balas Solar agak defensif.
"Pemikiran Ice beda dengan pemikiranmu," balas Gempa. "Demikian pula pemikiranmu nggak sama dengan kami. Daripada kita berdebat … Duri, kamu sendiri ingat ada Ice waktu itu?"
Duri mengangguk pelan-pelan, parasnya sedih. "Tapi Duri juga nggak mengira Kak Ice bakal berpikir sejauh itu."
"Ini juga baru dugaan saja," ujar Taufan. "Ayo kita telepon Kak Hali."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Dokter … di wajahnya ada bekas air mata. Apa dia menangis semalam?"
"Pupil matanya bekerja normal."
"Barusan dicoba. Ada respon terhadap rangsangan nyeri!"
"Volume napasnya bertambah dan stabil."
"Saturasi oksigen, denyut nadi, dan detak jantung, semuanya dalam batas normal."
"Alhamdulillah. Dia bisa dipindah ke ruangan biasa."
"Apa kakak kembarnya ada di luar? Kalau tidak salah dia sempat dirawat di UGD."
"Ada, akan saya panggil dia."
Dokter Rokta yang bertugas di ICU pagi itu tersenyum haru.
"Ice bin Amato … selamat datang kembali."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Siang itu, hari keempat belas sejak Blaze dinyatakan positif Covid. Halilintar mengucap syukur karena sudah sampai di rumah kembali dengan selamat. Dibimbingnya Duri yang terduduk kaku di boncengan untuk turun, saking takut bergerak di atas sepeda motor sepanjang perjalanan. Dia jadi agak menyesal. Taufan yang berisik saja bisa diam seribu bahasa setelah diboncengnya tiga jam, apalagi Duri yang belum pernah dibonceng naik motor.
"KAK HALIIII!"
Sebuah suara memanggilnya dari arah rumah, membuat Halilintar menoleh heran. Sebelum sempat melihat siapa yang memanggil, sesosok pemuda berjaket biru sudah memeluknya erat sampai hampir terjengkang. Duri juga melongo melihat pemandangan itu.
"Kak Hali ... terima kasih."
Rombongan kelima adiknya yang naik taksi memang lebih dulu sampai, karena Halilintar perlu beli obat untuk Tok Aba dulu di jalan.
"Terima kasihku seluas samudera untukmu, Kak," ujar si anak nomor lima.
Halilintar tersenyum di balik masker, hatinya penuh syukur sembari membalas pelukan sang adik dan berujar,
"Ice … kamu ketularan gombalnya Taufan, ya?"
.
.
.
.
.
bersambung.
.
.
.
.
.
.
Catatan Penulis:
Untuk hasil swab PCR yang negatif, perlu dilakukan swab lagi pada hari kedua (minimal dua puluh empat jam sejak pengambilan swab pertama) untuk memastikan apakah seseorang positif terinfeksi Covid atau tidak. Di tempat kerja saya pernah ditemui kasus yang swab pertama negatif lalu swab kedua positif. Hal itu dapat dikarenakan virus baru saja masuk di hari pertama dan belum memperbanyak diri di tubuh, sehingga belum dapat terdeteksi, yang kemudian bisa dideteksi pada hari kedua.
Susulan disclaimer untuk bab yang lalu: "Semua benda yang berwujud akan rusak, begitu pula kenangan." Kurang lebih dikutip hampir persis sama dari anime movie Natsume Yuujinchou: Utsusemi no musubu (Ephemeral Bond).
Buat yang belum tahu gejala vertigo, jangan sampai kena, deh. Nggak enak banget :( Bab ini kesannya sangat Halilintar-centric sekali. Bab depan kira-kira siapa ya ...?
Dan … aaaa akhirnya Ice bangun :") tapi cerita belum tamat di sini, ya.
Kritik dan saran sangat diterima. Terima kasih sudah membaca, stay safe~
01.08.2021
