Mustahil Gempa tidak ikutan terharu menyaksikan pemandangan si adik yang baru siuman dari koma selama dua minggu memeluk sang kakak sulung yang setia mendampinginya itu. Air mata sudah membayang, tapi Gempa mengerjap cepat, mencegah tetesan jatuh. Suara saudara-saudaranya di dekat jendela membuyarkan suasana haru,
"Uuuh. Bikin iri deh~" celetuk Taufan.
"Pengen peluuuuuuk Ice ..." sambung Blaze.
"Kak Ice harus mandi dulu lah, banyak kuman!" lontar Solar lugas.
"Lha, itu Kak Hali dipeluk sama Ice boleh?" Taufan bertanya.
"Eh lihat, Duri ikutan peluk Ice!" Blaze berseru sambil menunjuk.
Solar tepuk jidat. "Alamak, Kak Duri! 'Kan jadi pengen ikutan!"
"OI! KALIAN JANGAN IKUTAN DULU—"
Teriakan Gempa tidak didengar oleh ketiga saudaranya yang sudah berlari ke luar rumah. Saat itu telepon rumah berdering.
.
.
.
.
.
.
.
.
BoBoiBoy (c) Animonsta Studios
Through the Darkness (c) Roux Marlet
-Penulis tidak mengambil keuntungan material apa pun dari cerita ini-
Alternate Universe, Elemental Siblings without super powers
Family, Drama, Angst, Hurt/Comfort (more genres ahead)
.
.
.
.
.
.
.
.
Bab Enam: Luka
.
Chapter warning:
self-harm, suicidal thoughts
.
.
.
"Duri kangeeeeen sama Kak Ice!" seru si anak nomor enam sambil memeluk Ice beserta Halilintar.
"Blaze juga kangen Ice …!" Kembar nomor empat datang dan menubruk ketiganya.
"Taufan juga!" Si nomor dua merangkul semuanya dari atas karena badannya paling tinggi.
"Umm, kasihan Kak Hali, sesak napas tuh dia," komentar Solar yang belum ikut berpelukan dan mengamati dari jarak dua meter. Si sulung berusaha mendorong Duri yang paling dekat dan berhasil melepaskan diri dari hujan pelukan.
"Huffff. Kamu nggak ikutan, Solar?" ujar Halilintar sambil menghela napas.
Solar membetulkan letak kacamatanya dengan penuh gaya. "Nggak, ah. Biar nanti eksklusif, aku bisa peluk Kak Ice sendirian."
Halilintar mendengus. "Ya sudah, terima kasih, ya. Aku masuk dulu."
Sebelum si sulung melangkah, Gempa malah ikut keluar rumah.
"Ice!" panggil si anak nomor tiga sementara adegan penuh cinta itu masih berlangsung.
"Kak Gem … sini, mau ikutan?" balas Duri dengan riang.
"Bukan. Ada telepon untuk Ice. Pelukannya lanjut nanti, ya."
Semua yang memeluk Ice segera melepaskan diri. Si nomor lima juga tampaknya lega dan dia bergegas mendekat ke arah rumah. "Dari siapa, Kak Gempa?" tanyanya.
"Polisi," sahut yang ditanya singkat sambil mengulurkan tangan. "Ayo."
Blaze membelalak. "Mereka mau interogasi Ice?"
"Bukan interogasi," koreksi Gempa sambil menggandeng tangan Ice yang hangat.
"Istilahnya 'dimintai keterangan' ya, kalau nggak salah," Halilintar menyambung sambil mengikuti Gempa dan Ice masuk.
"Memangnya kamu kemarin diinterogasi?" imbuh Taufan.
"Yah, enggak juga, sih," gerutu Blaze.
"Kita bikin cokelat buat Kak Ice!" seru Duri bersemangat sambil menarik tangan adiknya. "Ayo Solar, bantu aku!"
Solar mengangguk, ikut semangat. "Ayo! Terbaik lah, Kak Duri."
Mereka semua pun masuk, dengan Blaze dan Taufan yang paling akhir.
"Cucu Atok ..." Terdengar suara renta sang kakek dari arah dapur.
"Tok Aba!" seru Ice sambil menghambur ke arah kakeknya, membuat saudara-saudaranya keheranan. Belum pernah mereka melihat Ice bisa bergerak segesit itu. Tok Aba balas memeluk sambil mengusap-usap rambut Ice yang, identik dengan semua cucu yang lain, berwarna gelap dengan beberapa helai putih—ciri khas mereka semua.
"Alhamdulillah … Allah mahabaik," gumam Tok Aba.
"Benar, Tok," sahut Ice. Tak berlama-lama dia memeluk sang kakek, Ice tersenyum kepada orang tua itu sambil bicara lagi, "Terima kasih, Tok. Ini ada polisi yang telepon … Ice jawab dulu, ya."
Gempa sudah menyediakan kursi untuknya di dekat meja telepon. Taufan dan Blaze duduk di sofa, mengamati dengan penuh perhatian. Halilintar pergi ke kamar, sedangkan Duri dan Solar ke dapur.
"Halo," ujar Ice di telepon.
"Ice bin Amato … bagaimana kabarmu?"
Suara lembut namun tegas itu dijawab dengan riang,
"Alhamdulillah, belum pernah saya merasa sebaik ini, Pak."
"Syukurlah. Namaku Sai, kepala polisi sektor selatan Pulau Rintis. Kau tentunya sudah ketemu kembaranku di Rumah Sakit Yong Pin?"
Seketika Ice teringat perbincangan tadi pagi. "Betul, Pak. Dokter Shielda baik sekali."
"Rupanya kita sama-sama anak kembar, ya, Ice?" Sai tergelak di seberang sambungan. "Hanya saja, Shielda sudah cukup tobat punya satu saja saudara kembar sepertiku."
Ice ikut tertawa kecil. "Ya … saudara kembar saya ada enam ..." Mata biru Ice beredar pada beberapa dari enam itu. Duri dan Solar masih di dapur, Tok Aba ikut duduk di sofa bersama Taufan dan Blaze. Halilintar dan Gempa tak tampak.
"Nah, dalam rangka agar keenam saudaramu dan dirimu bisa hidup aman tenteram, aku perlu bertanya beberapa hal padamu tentang penculikanmu. Apakah kamu keberatan?"
"Tak masalah," sahut Ice, menatap Blaze yang duduk di sofa dan menatapnya balik dengan sorot waspada. "Apa yang ingin Anda tanyakan?"
"Terima kasih, Ice. Aku tidak akan bertanya lagi soal kronologinya. Bisa kausebutkan ada berapa orang yang menculikmu dan kakakmu?"
Ice diam sejenak. "Ada tiga orang … ditambah … sepertinya dua orang lagi."
"Semuanya berjumlah lima orang?"
"Betul."
"Laki-laki semua?"
"Tidak. Ada satu perempuan ..."
"Empat laki-laki, satu perempuan?"
"Ya."
"Bisakah kau gambarkan ciri-ciri mereka?"
Ice berusaha mengingat-ingat. "Tiga orang yang pertama … yang satu laki-laki tinggi besar, badannya kekar, rambutnya jabrik dicat warna biru dan putih atau silver. Lelaki satunya juga besar ... cenderung gemuk, lebih pendek dari yang pertama, kalau tidak salah dia pakai topi atau memang botak ... Entahlah, rambutnya tidak kelihatan. Yang perempuan tinggi dan langsing, berambut merah muda." Ice menambahkan sambil sedikit bergidik, "Lipstiknya juga warna pink cerah."
Blaze di tempat duduknya juga ikut gemetaran. Taufan merangkulnya sambil terus mendengarkan.
"Yang dua lagi?"
"Saya tak terlalu ingat … yang dua itu datang belakangan. Mungkin salah satunya lelaki tinggi kurus dan kumisnya tebal, saya lihat dia di jembatan dekat Kokotiam bersama yang besar gemuk, saat Kak Blaze mendekati mereka."
"Berarti kau tidak ingat seperti apa orang yang kelima?"
"Tidak," sahut Ice.
"Dalam keterangannya, Blaze juga bilang tidak ingat. Lebih persisnya dia bilang, 'Aku panik dan tidak memerhatikan karena kondisi Ice makin buruk,' begitu. Apa yang terjadi padamu saat kedua lelaki itu datang?"
"Ah ..." Gelora rasa bersalah menyeruak di dada Ice. "Mereka memaksa saya minum alkohol, lalu saya … memuntahkannya."
Isakan pelan berasal dari Blaze di sofa. Ice sendiri agak gemetaran mengingat peristiwa itu dan Gempa yang tiba-tiba sudah di situ lagi menepuk bahunya dengan lembut.
"Apa mereka bilang minuman apa itu?" Sai bertanya. "Atau menurutmu itu alkohol?"
"Mereka tidak bilang. Baunya seperti cairan untuk praktikum di laboratorium sekolah. Dan rasanya … panas di tenggorokan."
"Begitu ..." sahut Sai dengan nada menggantung. "Setelah itu?"
Ice menarik napas dalam dan melanjutkan,
"Setelah itu yang dua orang datang, mereka melakban mulut Kak Blaze, lalu membawa kami berjalan kaki ke kapal. Setelahnya ... saya rasa … saya pingsan."
"Setelahnya, kamu pingsan," ulang Sai. "Lalu … apa kamu ingat terjadi sesuatu?"
"Terjadi apa maksudnya?" gumam Ice, matanya bergulir ke arah Duri dan Solar yang masuk dari arah dapur. Untung saja cerita barusan tidak didengar oleh Duri.
"Menurut laporan, kamu sempat dibawa naik kapal. Apakah kamu sempat sadar waktu itu?"
Ice berpikir sebentar. "Saya rasa tidak."
"Dan selanjutnya, tim kami menemukanmu hanyut di laut. Kukira jelas saat itu kamu masih pingsan."
Mendadak Ice tersentak. "Jadi begitu, ya ..."
"Begitu apa?"
"Saya banyak mimpi tentang laut selama saya koma," jawab Ice dengan nada ringan. Dilihatnya Halilintar ikut bergabung di ruangan itu setelah menutup pintu kamarnya pelan-pelan.
Seisi ruangan hening. Sai di seberang sambungan juga tak bersuara, mungkin sedang merenungkan kalimat Ice yang terakhir.
"Apakah sudah cukup, Pak Polisi?" Ice duluan bersuara lagi.
"Oh, iya, sudah cukup. Terima kasih atas waktunya, Ice. Salam untuk kakek dan saudara-saudaramu."
"Terima kasih."
Ice menutup telepon. Blaze langsung menghambur ke arahnya yang masih duduk dan memeluknya erat-erat sambil berlutut.
"Ice … Ice … maafkan aku," seru Blaze sambil menangis.
Setelah semua yang sudah terjadi, Ice sadar bahwa Blaze pasti menanggung beban mental terberat di antara semua saudaranya. Dia yang pergi bersama Ice, ikut diculik dengannya, tapi pulang duluan ke rumah tanpa sang adik.
"Kak Blaze …" sahut Ice lirih, balas memeluk sang kakak yang gemetaran hebat. "Aku yang minta maaf ..."
Blaze menggeleng, membalas di sela isakan dan gemetaran, "Harusnya … aku … aku harusnya bisa jaga kamu. Tapi aku gagal."
Tangisan Blaze begitu memilukan hati dan Ice jadi ikut dilanda emosi. Air matanya juga berjatuhan selagi Blaze terisak-isak dengan amat sangat.
"K-kak Blaze bisa jaga aku, kok," Ice berusaha bicara di antara tangis. "Kakak b-berhasil lindungin aku dari para penjahat itu."
Tangisan Blaze makin nyaring. Kedua anak kembar yang saling berpelukan itu sama-sama gemetaran, bahu keduanya berguncang-guncang.
"Ta-tapi kamu dipaksa minum ..." ujar Blaze lalu berhenti, tak sanggup meneruskan.
"Sudah k-kumuntahkan. Nggak apa-apa, Kak."
"Aku gagal ..."
"Kak Blaze ..."
"Blaze, berhenti menyalahkan diri sendiri," Taufan berujar dari belakangnya. "Kamu sendiri tadi bisa mengingatkan Solar untuk itu."
"Nggak ada siapa pun yang salah di sini," sambung Gempa, kembali menepuk-nepuk bahu Ice.
"Yang salah ya, para penjahat itu," imbuh Halilintar.
Wajah Blaze amat merah karena emosi yang hebat, tapi dia sudah melepaskan Ice dari pelukannya dan mulai mengusap air mata yang sudah berhenti mengalir. Ice mengikutinya, rasanya belum pernah dia menangis seheboh ini.
"Kak Blaze ingat, yang penting, apa setelah kejadian ini," Solar meneruskan pelan-pelan. Si bungsu kemudian menoleh sambil nyengir. "Kak Duri, yang penting sekarang apa?"
"Yang penting sekarang Kak Ice minum hot chocolate spesial SoRi!" sorak Duri ceria.
"Sorry ...?" Lima anak kembar mengulang dengan heran. Tok Aba, yang tadi sudah dengar duluan Duri dan Solar berbisik-bisik selama Ice bertelepon, terkekeh geli.
Solar bicara lagi, "Maaf-maafannya udahan. Nanti sambung lagi pas Lebaran. Sekarang minum hot chocolate spesial SoRi dulu, Kak Ice."
"Sori ini ... maksudnya apaan?" tanya Taufan tak paham.
"Ish, Kak Taufan masa nggak tahu?" celetuk Duri. Solar segera pasang pose sok keren bersama sang kakak yang anehnya mengikuti dengan mudah, seolah mereka tadi sudah berlatih sebelum kembali dari dapur.
"Hot chocolate spesial SoRi … BUATAN SOLAR DAN DURI!"
Ada tawa yang meledak, senyum yang terulas, dan tepuk tangan yang antusias.
"Duo SoRi … hehehe, terbaik," ujar Ice terharu.
.
.
.
.
.
Asar itu menjadi kali pertama mereka salat berjemaah di rumah setelah dua minggu terakhir, juga salat pertama Ice setelah penculikannya. Tujuh saudara ditambah kakek mereka, namun kali ini bukan si sulung yang menjadi imam. Halilintar ada di safkedua bersama Gempa dan Ice, sedangkan Blaze, Duri, dan Solar paling belakang. Taufan memimpin salat di musala belakang rumah sore itu, dia berdiri di sebelah kanan Tok Aba di baris terdepan, semuanya bersyukur karena kini mereka sudah lengkap dan sehat walafiat.
Selama ini kalau mereka salat berjemaah di rumah itu, Tok Aba yang menjadi imam, atau, pada kesempatan yang jarang terjadi, Amato yang mengimami mereka. Sejak mereka bertujuh genap berusia tujuh belas bulan lalu, hampir tiap kali Halilintar yang memimpin salat.
Gempa tahu Halilintar sudah mencapai batasnya sampai dia meminta si anak nomor dua yang memimpin salat pertama setelah mereka pulang itu. Seandainya ada yang lain yang bisa bawa sepeda motor, Halilintar bakalan memilih ikut naik mobil saja, tapi sekali lagi ada Duri yang ingin mereka hindarkan dari semua cerita yang terlalu ekstrem. Tadi dia langsung masuk kamar dan sudah berniat langsung tidur saja ketika ingat saat itu menjelang Asar.
"Kakak kalau sakit, nggak apa-apa langsung tidur. Spreinya bekas Blaze sudah kuganti tadi sebelum berangkat."
Si sulung menggeleng. "Terima kasih. Kamu optimis kami bakal pulang hari ini ya, Gem?"
"'Kan Kak Halilintar sendiri yang bilang untuk terus berharap. Mendengar kabar Ice dipindahkan ke bangsal biasa, harapan kami bangkit."
Halilintar mengeluarkan topinya yang berwarna hitam-merah dari tas cangklong. "Ini juga tadi, terima kasih, ya, sudah dibawakan." Dia meraih tisu wajah lalu menatap cermin di meja belajarnya. "Ajaib banget memang, bedaknya Solar ini."
Dilihat dari dekat dengan lampu yang terang, wajah Halilintar yang sedang dibersihkan dari tipuan make-up terlihat sangat pucat dengan kantung mata yang hitam. "Bisa pingsan si Ice kalau lihat aku kayak begini." Dipakainya kembali topi itu supaya agak menutupi wajahnya.
"Terima kasih ya, Kak," ujar Gempa tulus, sangat terharu melihat ketegaran si sulung.
"Yang penting Ice sudah bersama kita lagi," sahut Halilintar, pura-pura tidak menyadari tatapan kagum si anak nomor tiga. Rasanya Gempa tak perlu menyuarakannya: seandainya Blaze tidak kena Covid dan seisi rumah tidak dikarantina, Halilintar mungkin tetap akan menjaga Ice.
Halilintar meneruskan, "Gem … kita punya pe-er untuk mencegah kejadian seperti ini terulang lagi. Kamu sudah punya rencana?"
"Ya, Kak. Sedikit … soal Kokotiam, kita delivery dari rumah saja."
"Oke, aku setuju. Nanti ya … habis buka puasa, kita diskusikan. Nanti salat Asar dulu, lalu aku mau tidur sampai Magrib. Jangan ada yang ribut ya."
"Ini Ice masih telepon. Kakak mau dengar juga?"
Halilintar sudah terlanjur rebahan di kasur. "Nanti kususul," sahutnya sambil menguap.
.
.
.
.
.
Selepas salat Asar, Ice menyesap minuman cokelat hangat itu—tadi masih terlalu panas baginya—dihirupnya pelan-pelan dengan ekspresi senang, sudah tahu seisi rumah puasa kecuali dirinya, jadi ya nikmati saja. "Sedapnya … terima kasih, ya. Sejak kapan kalian berdua jadi kompak begini?"
Duri menoleh pada adik satu-satunya yang bersandar di lengan sofa di sisi kiri Ice. "Umm, sudah lama, 'kan, Solar?"
"Sejak berjuta tahun cahaya yang lalu," sahut Solar hiperbolis sambil menyeringai kecil.
"Ada-ada aja, emang kamu sudah lahir?" sambar Taufan ikutan nyengir dari sebelah kanan Ice.
"Memangnya satu tahun cahaya itu berapa tahun?" tanya Duri.
"Errr, Kak Duri. Itu ungkapan aja," Solar berkilah.
"Solar sendiri nggak tahu kok satu tahun cahaya itu berapa," gurau Gempa meski yakin adiknya itu pasti akan menjawab ...
"Tahu, dong!" dengus si bungsu sambil mendorong kacamatanya penuh gaya. "Tahun cahaya itu sebetulnya bukan satuan waktu, tapi jarak. Cuma karena kedengaran keren, jadi kusebut aja. Yah, sekarang jadi nggak keren lagi, deh."
"Satuan jarak?" Duri membeo. "Duri baru tahu ..."
"Iya Kak, soalnya ini materi olimpiade fisika tahun lalu."
"Jadi satu tahun cahaya itu berapa jaraknya?" desak Blaze yang jadi tak sabar.
"Satu tahun cahaya itu jarak yang ditempuh cahaya dalam waktu satu tahun ketika melewati ruang hampa udara," Solar menjelaskan seperti mengutip ensiklopedi. "Sekitar sembilan koma sekian … dikali sepuluh pangkat lima belas meter. Kalau dalam satuan kilometer, pangkatnya jadi dua belas."
"Uhh, apa hanya aku yang jadi pusing dengar banyak angka?" kelakar Taufan.
"Iya deh iya, yang tahun lalu juara ..." sahut Gempa sambil mengulum senyum.
"Hehehe … terbaik," gumam Ice. Diamatinya semua saudaranya satu per satu dan menyadari ada yang tak hadir. "Eh, Kak Hali di mana?"
"Istirahat di kamar," balas Gempa lembut. "Ice juga, kamu nggak capek?"
"Nggak terlalu. Aku 'kan habis tidur lama banget, Kak."
"Ice, janji ya, kamu nggak akan tidur lama kayak begitu lagi," seloroh Blaze dengan nada serius. "Tidur itu yang kira-kira dong, jangan empat belas hari."
Ice hanya terkekeh.
Duri menimpali, "Iya, ya. Kak Ice tidurnya lama banget kali ini. Tapi coba kalau enggak, kamu mau tidur di mana, Kak? 'Kan Kak Blaze kena Covid."
"Di sofa ruang tamu juga nggak apa-apa, kok," sahut Ice bercanda. Bakal berapa banyak selimut yang dibutuhkannya kalau dia mau tidur di ruangan terbuka situ? Brr, pasti dingin!
"Untungnya kamu nggak Covid juga, Ice ..." ujar Taufan.
"Sudahlah Kak. Yang penting semuanya sudah sehat lagi!" komentar Duri yang tidak mau berpikir berat-berat.
"Terbaik ..." gumam Ice.
Taufan tiba-tiba terlonjak. Segera dirogohnya saku dan sejurus kemudian berseru, "Ada telepon … dari Ayah!"
"Ayah telepon?" Gempa dan Duri bersuara, satu dengan nada ingin tahu dan satunya antusias.
"Pakai laptop, Kak Taufan!" pekik Duri. "Biar layarnya lebar!"
Taufan meringis ke arah kamar. "Gem. Kamu yang masuk ambil laptop di mejaku, ya. Aku takut nggak sengaja ngebangunin singa tidur. Kujawab dulu ini."
Gempa segera beranjak. "Oke, Kak. Sama charger juga nggak?"
"Boleh." Taufan menggeser tombol ponselnya dan segera saja wajah sang ayah terpampang di layar.
"Assalamualaikum Ayah!" Taufan berseru diikuti Duri yang sudah pindah dari sisi Solar ke sampingnya.
"Waalaikumsalam," sahut Amato dari seberang. "Halo Taufan, Duri. Ayah baru baca pesan Halilintar. Jadi Ice sudah di rumah, ya?"
"Sudah, Ayah," jawab Ice, dan Taufan mengarahkan ponselnya kepada sang adik yang masih duduk di sofa bersama Blaze.
"Blaze … Ice … Solar ..." panggil sang ayah satu per satu sambil tersenyum di balik masker, senyum hangat yang juga tampak dari sinar matanya. "Mana Gempa dan Halilintar?"
"Kak Hali tidur, Gempa baru ambil laptopku di kamar, Ayah," sahut Taufan, menyetel ke mode loudspeaker dan memasang ponselnya bersandar di atas meja ruang tamu.
Amato tampak mengecek arloji. "Sekarang jam … setengah empat sore di Malaysia. Ah, dia pasti kurang tidur selama di rumah sakit, ya."
"Iya. Kak Hali sempat kumat vertigonya selama di sana, Ayah," celetuk Solar. "Kami serumah ikut dikarantina, jadi Kak Hali sendirian jaga Kak Ice."
Dahi Amato berkerut khawatir. "Pasti berat … untungnya Ice, kamu cepat bangun lagi."
"Iya, Ayah," jawab Ice, tersenyum simpul.
Amato menatap ke arah si bungsu lagi sambil menunjuk alisnya sendiri. "Ah, iya, Solar. Maaf, Ayah baru tahu kamu sempat jatuh."
"Sudah nggak apa-apa kok, Ayah," jawab Solar enteng, lalu nyengir kecil. "Tapi alisku jadi pitak. Ayah tahu aku bisa sulam alis di mana ya?"
"Ya ampun, Solaaaar," gumam Taufan geli. "Jarang-jarang lho Ayah telepon, dan kamu malah nanya hal yang nggak penting!"
"Eh, itu penting ya Kak!" balas Solar bercanda, tanpa nada tersinggung. "Gantengku berkurang tahu!"
"Mana ada," sahut Taufan yang nyengir lebar sekali, masih senang mendapati Solar yang sekarang bisa lebih banyak bercanda. "Kita semua itu terlahir udah ganteng dari sananya."
"Betul. Anak-anak Ayah ganteng semua, kok," sela Amato sambil terkekeh, membuat baik Solar maupun Taufan jadi berbinar-binar. Berikutnya dia menoleh pada si kembaran yang dari tadi tak bersuara. "Halo Blaze ..."
"Ya, Ayah," sahut si pemilik nama dengan suara pelan.
"Kamu sudah nggak demam atau batuk?"
Blaze menggeleng singkat. "Dan aku sudah bisa cium bau."
"Alhamdulillah. Sudah selesai masa isolasi ya?"
"Iya, tepat empat belas hari, Ayah. Sudah selesai," sahut Blaze sambil melirik ke arah Ice.
"Ayaaah. Ibu mana? Duri kangen ..." celetuk si anak nomor enam. Saat itu Gempa sudah keluar dari kamar membawa laptop milik Taufan.
"Ibu di hotel, ini Ayah baru istirahat rapat sementara yang lain makan siang."
"Ayah, sambungannya pindah ke laptop, ya," ujar Gempa yang membantu kakaknya memasang perangkat itu di atas meja.
"Kak Hali gimana?" bisik Taufan selagi sambungan terputus sementara.
"Dia nggak bergerak di tempat tidur," balas Gempa. "Kok Ayah tiba-tiba telepon, ada apa ya?"
Telepon tersambung kembali, kali ini di layar yang lebih besar. "Terima kasih, Taufan, Gempa." Amato mengedarkan pandangan dengan serius. "Ayah bersyukur semuanya sudah di rumah, sehat dan selamat. Tapi Ayah rasa ada yang perlu kita diskusikan bersama."
"Apa Ayah?" sahut Duri antusias.
Amato tersenyum. "Barangkali hal ini belum banyak dibahas di sekolah. Jadi pertama-tama … Duri, apa kamu tahu dari mana asalnya bayi?"
Semuanya tidak menduga pertanyaan itu dari sang ayah. Duri tampak berpikir.
"Umm, dari surga?"
Gempa mengernyit. Jawaban itu tidak sepenuhnya salah, sih. Tapi yang dimaksud Ayah sepertinya bukan itu …
Duri melanjutkan jawabannya, "Bayi asalnya dari surga, lalu saat ada sperma laki-laki dan ovum perempuan yang bertemu lalu menempel di rahim, bayi dari surga itu bertumbuh besar di sana. Sampai akhirnya lahir."
"Duri tahu … bagaimana caranya sperma dan ovum bertemu?" Amato bertanya hati-hati.
Yang ditanya mengangguk dan menyebut nama alat kelamin laki-laki dan perempuan. "Itu 'kan ada di pelajaran Biologi, Ayah."
"Apa Duri tahu, kegiatan seperti itu disebut apa?"
"Tahu, Ayah. Hubungan seksual, sexual intercourse, kopulasi, bersetubuh, bersanggama ..."
"Ya ya ya," sela Gempa yang merasa gerah. Siapa yang mengira bahwa Duri tahu lebih banyak kosakata daripada dirinya? Duri baca, lihat, atau dengar di mana ya kira-kira? Saat itu mata keemasan Gempa bertemu pandang dengan sepasang mata di balik kacamata yang langsung melengos.
Wah, wah … jangan-jangan Duri dicekoki ilmu-ilmu berbahaya oleh adik satu-satunya yang kelebihan kadar keingintahuan itu? Meski menjunjung tinggi perdamaian tanpa kekerasan, dalam hati Gempa sudah berniat untuk menjitak Solar kalau telepon ini selesai.
"Apa tujuannya hubungan seksual?" Amato bertanya dengan sorot penuh minat. Tampaknya sang ayah juga agak kaget dan heran karena Duri cukup banyak pengetahuan soal ini.
"Um, punya bayi? Punya keturunan?"
Amato tak langsung menjawab. "Tidak semua pasangan melakukannya untuk punya keturunan, Duri."
Duri membelalakkan mata. "Lho. Jadi untuk apa lagi?"
"Ada yang tahu?" Amato balik bertanya pada anak-anaknya yang lain.
Yang sebetulnya tahu tapi tak mau menjawab ada banyak. Rasanya topik ini memang memalukan untuk dibicarakan, padahal remaja seusia mereka perlu pemahaman yang jelas soal ini.
"Solar?" Amato menyebut nama.
"Kok aku, sih, Ayaaah," keluh si bungsu sambil merutuk dalam hati. Salah omong dan dia bisa dibunuh Kak Gempa. Semua mata saudaranya sekarang menatapnya, bahkan sepasang mata hijau Duri yang bersinar polos—dia benar-benar tidak tahu apa gunanya hubungan seksual selain punya bayi.
"Hayoo Solar, kamu sudah baca apa saja soal seks?" Amato menyelidik, tahu betul bahwa anak bungsunya ini pasti sudah banyak berkelana ke berbagai sumber pengetahuan—entah itu aman atau tidak.
Solar menggigit bibir, wajahnya memerah. "Yaa banyak, Ayah." Dia tak berani menatap mata sang ayah maupun kakak-kakaknya. "Aku cerita ke Kak Duri seperlunya saja, kok!"
"Nah yang belum diceritakan ke Duri, masih banyak dong?"
"Alamak, Ayah … masa semuanya diceritakan ..." Solar merasa makin tersudut.
"Bagi tahu, lah, Solar ... kita-kita juga pada nggak tahu, lho," goda Taufan yang dari nadanya malah terdengar kontradiktif. Justru sepertinya Taufan adalah yang nomor dua paling maju ilmunya soal ini setelah Solar.
"Orang berhubungan seks ... untuk memuaskan hawa nafsu," jawab Solar sambil menunduk, wajahnya panas sekali. "Mencari kenikmatan, kepuasan seksual."
Dari semua orang, ternyata lagi-lagi Duri yang menjadi penanggap pertama, "Apa nikmatnya?"
Solar sudah kepengin lenyap ke dalam bumi mendengar pertanyaan itu, dan untungnya Amato menyelamatkannya.
"Anak-anak Ayah belum perlu tahu sekarang. Nanti kalau kalian sudah menikah, baru tahu, ya!"
Duri mengangguk-angguk. "Kalau menikah itu umur berapa, Ayah?"
Sepertinya Duri sudah ketularan virus ingin tahunya Solar tapi versi polos. Pertanyaannya barusan sungguh kekanakan dan dijawab dengan bijak,
"Tergantung rida Allah."
"Kalau Ayah menikah umur berapa?" tanya Taufan, tiba-tiba bersemangat.
"Hayoo, coba hitung. Sekarang Ayah umur berapa, kurangi umur kalian sekarang, dikurangi tiga tahun lagi."
"Dua puluh empat," Solar menjawab cepat, menolong semua saudaranya biar tidak perlu berhitung dalam kepala. "Ayah menikah di umur dua-empat."
"Kok ada dikurangi tiga tahun?" Duri bertanya lagi.
"Ayah dan Ibu 'kan menikmati momen hanya berdua dulu. Lagipula, bayi 'kan nggak lahir begitu saja, Duri. Butuh sembilan bulan di dalam perut ibu."
"Oooh iya betul!" pekik Duri keras sekali. "Jadi Duri dan yang lain, di dalam perut Ibu selama sembilan bulan?"
Amato terdiam sejenak sebelum menjawab dengan senyum simpul, "Kalian ... kurang dari itu … saking berdesakan di dalam perut, jadi pengin cepat-cepat keluar, sih, hehehe ..."
Saat itu terdengar bunyi pintu dibuka dengan keras. Halilintar keluar dari kamar dengan wajah kusut.
"Kak Hali!" Duri bersorak memanggil. Yang dipanggil menatap laptop penuh selidik, tampak terganggu istirahatnya. Begitu tahu siapa yang menelepon, mata Halilintar yang hanya separuh membuka terbelalak sepenuhnya.
"Ayah?" gumamnya.
Terdengar balasan, "Halilintar."
Si sulung mendekat dengan ekspresi dan sikap tubuh yang tegang. Dia tidak tahu harus bicara apa saat ini.
"Terima kasih ya," Amato bicara duluan dan menatap mata putra pertamanya itu lekat-lekat. "Ayah bangga padamu, Halilintar."
Sudut mulut Halilintar berkedut, tak menyangka akan mendapat pujian, tapi dia belum bicara.
"Setelah India tidak lockdown lagi, Ayah dan Ibu langsung pulang."
Ini mimpi atau bukan, ya? Halilintar masih merasa belum sepenuhnya terbangun. "Ayah janji?" tuntutnya meski merasa kedengarannya kurang sopan.
"Ayah janji. Maaf ya, kamu baru tidur ya?"
Halilintar masih pasang paras datar dan mengangguk tanpa bicara.
"Kak Haliii, dingin banget sih sama Ayah," celetuk Taufan, memaksakan cengiran. "Jarang-jarang lho Ayah telepon ..."
Si sulung menatap adiknya dengan ganas, hendak berucap bahwa persisnya karena itulah dia mengambil sikap dingin dan tentunya Taufan sendiri tahu itu, tapi tidak jadi diutarakannya. "Kalian bahas apa, kok berisik sekali."
"Bahas adik bayi!" sorak Duri ceria.
"Haaah?" balas Halilintar, dahinya mengerut tak paham.
"Ayah, untuk apa mendadak beri kami sex education? Lewat telepon pula," gerutu Blaze yang dari tadi tak bicara.
"Maaf Blaze, mungkin nggak nyaman buatmu dan Ice. Tapi kalian semua perlu tahu."
Duri menoleh ke arah Blaze, lalu ke laptop lagi. "Perlu tahu apa ...?"
Amato menghela napas dalam-dalam. Dari semua anaknya, hanya Duri yang tidak tahu apa yang terjadi pada Blaze dan Ice secara mendetail. Bukannya dia ingin menyalahkan sifat protektif saudara-saudara Duri, tapi itu cara yang tidak tepat untuk mendidik. "Sekali lagi Ayah minta maaf. Harusnya Ayah ajari kalian tentang ini waktu pulang ke Rintis dulu. Di luar sana banyak orang jahat, Duri … dan ada yang menggunakan hubungan seksual sebagai sarana kejahatan. Termasuk yang dialami kakak-kakakmu, Blaze dan Ice, waktu mereka diculik."
Duri mengerjapkan mata beberapa kali dalam ketidakpahaman. Sepasang netra hijaunya menatap kedua kakak yang disebut namanya. Blaze menunduk sambil memeluk kedua lengannya sendiri, sedangkan Ice balas menatap Duri dengan senyum sedih.
"Untungnya mereka sebatas disentuh-sentuh saja, tapi itu sudah kejahatan, karena tanpa seizin orang yang disentuh. Ayah bersyukur penjahat itu tidak berbuat lainnya … Duri ingat barusan Ayah bilang, ada orang yang menggunakan hubungan seksual untuk kejahatan? Kalau sampai terjadi hubungan seksual di mana salah satu pihak tidak setuju apalagi mengizinkan hubungan itu, dengan kata lain, DIPAKSA ... itu adalah sebuah kejahatan. Namanya pemerkosaan."
Duri membelalak ketika otaknya mulai memahami penuturan sang ayah.
"Mereka mengata-ngatai aku dan Kak Blaze, Ayah," balas Ice lirih. "Apa itu juga termasuk kejahatan?"
"Kata-kata apa?" tanya Gempa yang merasa bahwa ini hal baru. Blaze tidak cerita apa-apa soal itu.
"Si perempuan, terutama … dia menyebut aku dan Kak Blaze …" Ice menggigit bibir. "Anak manis, anak imut, dan banyak lagi. Dia juga mencubit-cubit pipiku."
Amato merenung. "Ya, itu termasuk … meski hanya perkataan dan cubitan, tapi itu melecehkan."
"Pelecehan," dengus Blaze yang tidak mau menatap siapa pun. "Orang-orang gila, mereka semua ... Ice," tiba-tiba dia menggenggam tangan adiknya dan bersuara gemetar, "mereka bahkan mengancam akan memperkosamu kalau aku terus berisik waktu itu. Ma-makanya, waktu kamu dibawa naik kapal, aku … aku takut kamu beneran ..."
Mata biru Ice membelalak dan langsung berkaca-kaca. Napas Blaze mulai memburu. Gempa cepat-cepat berujar,
"Ayah, kurasa penjelasannya sudah cukup. Di sini hampir Magrib, Ayah masih ada rapat lagi?"
"Memang masih." Amato masih mengamati Blaze dan Ice sejenak. "Kalian semua, hati-hati ya … termasuk kamu, Duri. Jangan sampai kamu jadi korban karena ketidaktahuan."
Duri merangkul Blaze dan Ice perlahan, wajahnya murung. "Baik, Ayah."
"Ayah janji ya segera pulang?" ujar Halilintar lagi. Dalam hati dia menambahkan, memangnya Ayah mau tunggu ada kejadian ekstrem lainnya baru pulang?
"Ayah janji … Halilintar, jaga adik-adikmu."
"Tentu saja, Ayah."
.
.
.
.
.
"Tadi Amato telepon ya?"
Pertanyaan Tok Aba saat mereka makan malam membuat semuanya berhenti makan.
"Atok cerita ke Ayah …?" tanya Gempa perlahan.
Sang kakek tersenyum sedih. "Tentu saja. Dia cemas sekali, tahu, sejak ditelepon Halilintar pertama kali."
"Nggak kelihatan, Tok," sahut Halilintar tanpa mem-filter nada skeptisnya.
Senyum Tok Aba melebar. "Ya, memang begitu. Kamu kira sifatmu yang aslinya peduli tapi pura-pura tak peduli itu menurun dari siapa, Halilintar?"
Taufan hanya nyengir melihat kakaknya tertunduk malu.
"Aku kaget tiba-tiba Ayah telepon dan malah bahas soal seks," lanjut Gempa. "Dan ya ampun, Solar, nanti aku harus razia isi ponselmu."
"Alamak," protes si bungsu, tapi hanya begitu saja.
"Iya tuh, coba dibongkar ponselnya Solar, Gem!" Taufan menyambar.
"Yang pernah nonton drama dewasa diam aja bisa nggak," balas Gempa datar. "Dikira aku nggak tahu Kak Taufan pernah unduh diam-diam lalu dihapus?"
"Eh?" Si nomor dua jadi salah tingkah.
"Ish, ish. Sudah lah. Makanannya keburu dingin," sela Halilintar kesal. "Dan ada yang lebih penting untuk dibahas."
Taufan senang ada kesempatan membelokkan pembicaraan dari interogasi Gempa. "Kokotiam hanya terima delivery dari rumah, 'kan?"
"Ya. Dan satu lagi, Fan … yang kita bahas tadi."
Gempa menatap si sulung bingung, perhatiannya sukses teralih. Apa yang dibahas Halilintar dengan Taufan? Kok dia tidak tahu?
"Mulai sekarang kalau keluar rumah minimal berdua, dan salah satunya harus ada aku atau Taufan."
Gempa agak kaget mendengar kalimat Halilintar. "Aku juga sama salah satu kalian …?"
"Iya, Gem," Taufan manggut-manggut sambil tersenyum penuh makna. "Keberatan?"
"Kenapa begitu?" balas Gempa tak paham, menatap berkeliling ke arah saudaranya yang lain yang menyimak sambil melanjutkan makan dalam diam. "Kalau soal bela diri, 'kan cuma Kak Halilintar yang ..."
Taufan memotong, "Nggak tahu aja kamu Gem, apa yang kulakukan kalau malam-malam berduaan di kamar dengan Kak Hali."
"Fan, cerita yang bener, nggak usah pakai bumbu!" seru Halilintar ketus.
Gempa agak merengut karena bisa menebak. "Kak Taufan dilatih bela diri?"
"Yups!" sahut si nomor dua bangga. "Baru sedikit-sedikit, sih."
"Tapi puntiran Kak Taufan waktu itu cukup sakit—" Blaze angkat bicara dan langsung menyetop kalimatnya sendiri, sadar dia sedang menyentuh topik terlarang soal pencekikan Solar. Duri sedang menatapnya tanpa berkedip.
"Eh … Kak Taufan bilang nggak ada rahasia-rahasiaan!" sela Gempa, mengalihkan topik setelah mengerling kepada Blaze penuh peringatan. "Kok aku nggak pernah tahu Kak Halilintar ngelatih Kak Taufan?"
"Itulah. Kamu sering pulang larut malam, sih, Gem. Kamu pulang, akunya sudah tidur. Salah sendiri, weeek!" Taufan menjulurkan lidah. Gempa tak bisa membantah lagi, rasanya kesal dan malu digoda Taufan sampai tak berkutik seperti itu. Tapi kenyataannya memang begitu, 'kan ...
"Kalau aku dilatih juga, boleh nggak?" pinta Gempa pada Halilintar.
Si sulung menjawab datar, "Boleh aja."
"Aku juga mau," sembur Blaze langsung.
"Gempa dulu, ya," pungkas Halilintar.
Blaze manyun. "Huuuh. Setelah Kak Gempa mahir, selanjutnya aku, ya."
"Kita lihat nanti," sahut si sulung, menutup diskusi tentang itu.
"Oh ya, soal edukasi dari Ayah tadi, ada yang mau ditanyakan?" lontar Gempa, lebih kepada Duri, tapi juga kalau-kalau memang ada yang perlu dibahas lagi.
Duri berpikir sebentar sebelum bertanya, "Jadi kalau ada orang yang pegang-pegang Duri tanpa izin, Duri harus apa?"
"Teriak," jawab Solar.
"Lari," sahut Gempa.
"Tendang alat kelaminnya," imbuh Halilintar. Bahunya ditoyor oleh Taufan sambil berteriak,
"Kak Hali!"
Si sulung balas mendelik. "Apa? Itu cara jitu, terutama kalau orangnya lebih tinggi."
"Kalau penjahatnya perempuan, gimana?" Blaze mengerucutkan bibir.
"Tampar mukanya," jawab Halilintar dengan tampang datar.
"Yah, kemarin aku nggak dalam kondisi bisa menampar orang," lanjut Blaze lagi, nadanya pahit. "Seandainya tanganku nggak diikat, pasti sudah kutampar dia."
"Kok perempuan berani begitu, sih?" celetuk Taufan tak paham, benar-benar awam soal itu. "Kok rasanya terbalik, gitu. Biasanya perempuan yang jadi korban ..."
"Perempuan yang itu temannya laki-laki besar semua, Kak. Makanya dia berani," sela Ice dengan nada kalem.
"Kalau perempuan terus jahatnya kayak apa?" tanya Duri lagi. "Duri masih bingung ..."
"Ya itu, pegang-pegang," jawab Ice sambil bergidik. "Tapi bisa saja lebih jauh dari itu ..."
"Sudahlah," sela Halilintar tegas. "Yang penting Duri sudah tahu apa yang harus dilakukan kalau ada orang yang berbuat begitu."
"Siap, Kak Hali!" balas Duri ceria. "Ah, aku pengin tahu cerita Kak Ice selama tidur panjang di rumah sakit. Cerita dong, Kak!"
Ice terbelalak, tidak menduga Duri bertanya demikian. Ternyata kini semuanya termasuk Tok Aba menatapnya penuh perhatian.
"Katanya Kak Ice mimpi tentang laut? Laut kayak di seberang Pulau Rintis? Atau seperti laut yang kita lihat dari bawah akuarium raksasa di Kuala Lumpur?"
Pertanyaan beruntun Duri dijawab dengan tatapan sayu Ice sebagai permulaan. "Ceritanya panjang ..."
"Pendekkan, Kak." Duri menatapnya penuh permohonan, menjurus memelas.
Ice jadi luluh. Ditariknya napas dalam-dalam sambil memejamkan mata, lalu dikeluarkannya pelan-pelan. Ketika Ice membuka mata lagi, ditatapnya Duri dengan serius, dan mulai bercerita.
"Aku mimpi ada di lautan yang mahaluas … aku belum pernah lihat laut seperti itu di mana pun." Ice mengambil jeda untuk mengedarkan pandangan pada semua pendengarnya sebelum meneruskan, "Sejauh mata memandang hanya ada air dan langit. Nggak ada siapa-siapa atau apa-apa."
Blaze bergidik. "Kamu nggak takut, Ice?"
Ice menggeleng, menatap Blaze lekat-lekat. "Justru aku merasa tenang sekali. Di sana begitu damai … dan aku bergerak ke suatu arah seperti ada yang menggerakkan."
"Bergerak itu … kamu berenang?" tanya Taufan.
Ice menggeleng lagi, ganti menatap Taufan. "Bisa dibilang … melayang."
Kali ini Halilintar yang merinding dan buru-buru menyantap makanannya yang belum habis.
"Melayang di atas air," lanjut Ice dengan nada merenung. "Seperti sudah jelas tujuanku untuk pergi ke suatu arah dan suatu saat aku melihat daratan di kejauhan. Saat melihatnya, aku tahu ke sanalah tujuan akhirku … tapi aku mendengar ada yang memanggilku. Sepertinya pertama-tama suara Kak Hali, lalu Kak Blaze."
"Oh, astaga ..." Gempa bergumam lirih.
"Aku ragu mau balik arah atau terus maju. Selama beberapa waktu aku berputar-putar di tempat. Aku teringat Solar ..." Ice menatap si bungsu, lalu si nomor enam, "juga Duri … dan kesalahanku pada kalian berdua. Aku berpikir, apa aku masih bisa dimaafkan?"
"Tentu saja, Kak Ice," balas Solar cepat.
"Duri sayang Kak Ice!" imbuh Duri.
Ice tersenyum lemah. "Ketika ada suara yang memanggilku, aku berbalik arah. Tapi setiap kali hampir sampai ke tempatku semula, aku ragu. Apa reaksi kalian berdua, Duri, dan Solar, kalau tahu yang sebenarnya? Lalu aku berbalik lagi menuju tujuan akhir di seberang. Kak Blaze memanggilku lagi, aku berusaha kembali lagi, tapi tak pernah sampai. Begitu terus … sampai … rasanya ada cahaya terang di suatu tempat."
"Cahaya terang?" ulang Gempa.
Ice mengangguk. "Aku belum sampaikan tadi. Di mimpiku, langitnya gelap seperti malam hari. Cahaya itu seperti matahari terbit dan letaknya ada di arah semula." Ice menjeda dan menambahkan, "Bukan di seberang."
"Matahari terbit," gumam Solar sambil tersenyum.
"Kuikuti arah cahaya itu berasal … aku berbalik dari tujuan seberang … panggilan-panggilan dari kalian semakin keras … dan akhirnya aku bangun."
Semuanya terdiam saat Ice menamatkan ceritanya. Halilintar menghela napas keras.
"Syukurlah, Ice," ujar si sulung, tak mau membahas kisah 'penampakan' yang dialaminya, yang mungkin terjadi selama Ice 'berputar-putar di laut' menurut ceritanya.
Tok Aba tak berkomentar, tapi ditepuknya kepala Ice yang duduk persis di sampingnya. Blaze di sisi satunya menggenggam tangan Ice seolah tak mau melepaskannya lagi.
"Setelah kunjungan kalian … Dokter Kaizo bilang, sebetulnya aku masih harus di ICU sampai betul-betul sadar. Tapi kasus Covid sedang banyak dan kebutuhan ICU meningkat. Lalu karena ada tanda-tanda perbaikan, aku dipindah ke bangsal biasa. Justru dengan begitu kalian bisa memanggilku … untuk kembali ke dunia ini."
Ice sudah menitikkan air mata, tapi dia tersenyum.
"Ice ..." Mata Gempa ikut berkaca-kaca, tak menyangka masa empat belas hari koma dari sudut pandang sang adik begitu kelam.
Terisak sedikit, Ice melanjutkan, "Selanjutnya Dokter Shielda menjelaskan tentang sakitku. Dia bilang terus terang kalau kemungkinannya 50:50 antara aku bakal meninggal atau bangun karena sudah komplikasi."
Genggaman Blaze mengerat di tangan Ice.
"Aku beruntung masih punya kesempatan," bisik Ice, menggeletar ngeri membayangkan kemungkinan satunya. "Setelah itu ada fisioterapis yang datang, karena badanku kaku setelah tidur terus dua minggu. Barulah selanjutnya Kak Hali kembali ke kamar dan mengajakku menemui psikolog bernama Tok Kasa. Lalu pulang ke sini."
"Ice," panggil Taufan setelah sekian menit keheningan. "Aku baru tahu kamu bisa ngomong sebanyak ini, hehehe."
Ice tersipu. "Yah, 'kan habis tidur dua minggu, Kak ..."
"Kak Hali tuh diajarin biar nggak irit ngomong," sambung Taufan dengan usil.
"Fan, minta dijitak ya?" balas Halilintar yang duduk tiga kursi jauhnya dari adik pertamanya itu—ada Gempa dan Duri di antara mereka.
"Ampun Kak Hali~" Taufan cengengesan.
.
.
.
.
.
Malam itu, Ice dibuat heran karena Blaze menyeret sleeping bag ke dalam kamar.
"Punya Kak Hali, kupinjam," ujarnya singkat.
"Kenapa nggak tidur di ranjangmu Kak?" Ice bertanya dari meja belajarnya.
"Kakiku masih sakit," sahut Blaze tanpa memandang adiknya.
"Kalau gitu, aku aja yang di atas," usul Ice, mengira kaki Blaze belum kuat dipakai memanjat tangga.
"Nggak, Ice. Kamu tetap di ranjangmu. Aku di bawah sini." Kemudian Blaze tertegun sejenak. "Eh, tunggu. Memangnya kamu nggak males manjat tangga?"
"Ya kalau demi Kak Blaze nggak apa-apa, sih, lagian sementara aja 'kan?"
Tiba-tiba Blaze menerjangnya dan memeluknya erat. Ice sampai bingung, mau berapa kali lagi Blaze memeluknya dalam sehari ini? Namun Ice sadar, kakaknya itu pasti paling cemas selama dia koma. Selama beberapa saat mereka berdua berpelukan tanpa ada yang bicara. Sampai Ice merasa napasnya jadi berat karena Blaze mengetatkan pelukannya.
"Kak Blaze … sesak … lepasin ..."
Blaze melepaskannya dan menggumamkan permintaan maaf. Dia masih tak mau menatap mata Ice.
"Kamu sudah mau tidur, Ice?"
"Iya, Kak."
"Kalau gitu aku juga. Yuk."
.
.
.
.
.
"Kak Hali, gimana?"
Halilintar sedang setengah melamun di meja belajarnya waktu Taufan melontarkan pertanyaan barusan. Dia mengerjap satu kali dan mengamati lagi tulisan dalam buku catatan kecil di tangannya.
Mereka baru saja menyidang Solar dan merazia isi ponselnya yang ternyata sama sekali tidak berbahaya. Karena ternyata Solar mencari soal seks di internet hanya dari sudut pandang dunia kedokteran. Hampir semua riwayat alat pencarinya di ponsel berisi situs WebMD, Medscape, dan MedLine Plus, demikian pula pencari video dan gambarnya terbatas pada penyedia konten medis. Taufan yang tahu cara mengembalikan riwayat yang sudah dihapus sampai tersipu malu karena ternyata mereka sudah berburuk sangka pada Solar.
Solar mungkin anak terkecil, tapi soal ilmu dan batasan moral dia yang paling dewasa. Dia sudah tahu sendiri apa yang bisa menjadi candu berujung dosa, menghindarinya tanpa perlu dinasihati, dan tetap mendapatkan pengetahuan yang dicarinya. Setelah ponselnya dikembalikan oleh Gempa, dia hanya tersenyum kecil dan pamitan pada ketiganya dengan sopan.
Sepeninggal si adik bungsu, Gempa menyodorkan sebuah daftar kepada Halilintar yang dari tadi memang tidak ikut merazia ponsel Solar.
"Sori, aku baru kurang fokus. Terus kenapa?" balas Halilintar, menatap Taufan dan juga Gempa yang menunggu responnya dari tadi.
Si anak nomor tiga bertukar pandang dengan si nomor dua. "Kakak kelihatannya nggak berminat?" seloroh Gempa. "Sebetulnya aku mau membicarakan soal Ice dari daftar ini."
Mata Halilintar menatap tulisan Gempa di tangannya. "Ice kenapa? Skornya tinggi semua."
"Ya, Kak. Menurut Pak Guru Kokoci, Ice itu punya potensi sebagai pemimpin kalau dari hasil tes ini."
"Gem," ujar Halilintar dengan nada lelah. "Umur berapa kita waktu dites? Dan, Pak Guru Kokoci? Paling besar kita umur enam tahun waktu terakhir kali diajar oleh beliau. Sudah sebelas tahun yang lalu, apa masih relevan?"
Gempa tak menjawab. Taufan sama saja bisunya. Halilintar meneruskan,
"Setahuku, EQ dan SQ itu bisa berubah, tergantung pendidikan emosional dan spiritual orang. Aku baru dengar kalau AQ. Tapi bahkan IQ juga bisa menumpul kalau nggak diasah terus, meski kalau IQ kita semua kayaknya masih sama saja sih ... Kenapa, Gem? Kamu takut posisimu sebagai manajer rumah tangga digeser oleh Ice?"
Gempa agak sakit hati mendengar kalimat terakhir, tapi yang dikatakan Halilintar sebetulnya benar adanya. Halilintar memang hebat sekali membaca situasi dan melontarkan kalimat yang tepat menusuk. Gempa merasa dirinya kakak yang buruk karena malah memikirkan kemungkinan itu ketika hari ini dia mendapati Ice jadi lebih banyak bicara dan aktif bergerak daripada sebelum dia koma.
"Yah, aku sendiri pun nggak sempurna, Kak," balas Gempa sambil angkat bahu.
"Memang lah, Gempa pulang ke rumah aja sering malam-malam. Tak patut, tak patut," kelakar Taufan di situasi yang tidak tepat. Gempa mendelik, baru pertama kalinya dia merasa pengin menjitak kepala kakaknya itu.
"Eh? Jangan melihatku seperti itu dong, Gem. Aku cuma bercanda. Kamu juga nih, sering banget silap lidah nyebut namaku langsung dan aku selalu memaafkanmu."
"Soal itu … ya maaf, Kak Taufan." Yah, Gempa sendiri sadar dia sering salah sebut Taufan langsung dengan namanya tanpa embel-embel "Kak". Bukannya dia sengaja. Hanya saja seringnya Taufan memang tidak seperti sosok kakak baginya … meski Gempa tak mengucapkannya, Halilintar dan Taufan sendiri bisa menebaknya.
Si sulung berkata lagi, nadanya melembut, "Begitu pun, nggak akan ada yang bisa mimpin kita sebagus Gempa, kok. Kamu tenang aja, Gem. Justru Ice bisa jadi pendukungmu … untuk mengatur saudara-saudara kita yang troublemakers." Halilintar sengaja melirik ke arah Taufan waktu mengucapkannya.
"Oi, Kak Haliiii?" Si nomor dua melotot tak terima.
"Terutama, troublemaker yang tengah, ya," ujar Gempa sendu sekaligus merasa lega karena Halilintar mendukungnya. "Kak Taufan saja yang cerita ke Kak Halilintar soal Blaze."
.
.
.
.
.
Keesokan paginya Ice bangun dengan badan yang terasa segar. Mungkin memang karena ia sudah tidur sangat lama dan karena obatnya membantu fungsi tubuhnya kembali normal. Ice agak kaget ketika disadarinya saat itu bahkan baru jam setengah dua pagi. Blaze masih terlelap dalam sleeping bag di lantai hampir tepat di depannya, jadi Ice sangat berhati-hati saat menapakkan kaki untuk turun.
Dia merasa lapar sekali. Barangkali minum susu hangat pagi-pagi nikmat juga. Jadi Ice turun ke dapur pelan-pelan sambil menggosok mata, lalu kaget lagi ketika sampai di bawah tangga dan mendapati lampu ruang tamu terang benderang. Ada orang yang duduk di depan televisi.
"Ice?"
"Kak Gempa?" Ice menggosok mata lagi karena penglihatannya masih buram dan mendadak diserbu banyak cahaya, meski dia kenal suara Gempa yang lembut tapi tegas itu.
"Ice sudah bangun?" Satu suara terdengar lagi, ternyata Gempa sedang bersama kakek mereka.
"Iya, Tok Aba. Aku lapar, mau ke dapur." Ice belum jadi berbelok ke dapur dan malah menuju ruang tamu. "Atok dan Kak Gem sudah bangun atau malah belum tidur ...?"
"Sudah bangun. Mau nyiapin sahur," sahut Gempa yang juga keheranan mendapati Ice bangun sepagi ini. "Blaze masih tidur?"
Ice mengangguk dan menguap. "Ya ampun, aku lapar tapi ternyata aku masih ngantuk. Untung nggak mimpi gigit bantal sendiri."
Tok Aba terkekeh kecil mendengarnya. "Sepertinya obat tiroid bikin orang gampang lapar, Ice. Dulu waktu awal-awal minum obat, Atok juga sering merasa lapar."
"Begitu ya Tok? Hehehe."
"Ice, duduk sini sebentar," undang Gempa sambil berdiri dari sofa. "Ada sesuatu yang harus kamu tahu tentang Blaze."
"Biarkan dia ke dapur dulu, Gempa …?" balas Tok Aba.
"Keburu Blaze atau Duri bangun, Tok. Sini Ice, duduklah."
Ice duduk dan mendengarkan, mengira Gempa yang akan bercerita. Ternyata malah Tok Aba yang memulai,
"Jadi begini Ice … selama Blaze isolasi mandiri, dia tidur di ranjangnya Halilintar."
"Iya Tok …?"
Tok Aba menunjuk ke arah kamar tiga saudara tertua. "Kamu tahu ranjangnya Halilintar di sisi tembok sebelah sini, yang mana persis di ruangan sebelahnya adalah ranjang Atok. Atok bisa dengar Blaze beberapa kali memukul tembok."
Ice masih menyimak.
"Awalnya Atok kira, ada nyamuk di dekat tembok dan Blaze terganggu, karena dia harus sering buka jendela dan di sebelah luar ada kebun jadi pasti banyak nyamuk. Ternyata bukan."
"Ternyata bukan?" ulang Ice, dahinya berkerut.
"Atok dengar Blaze menangis setelahnya." Dahi sang kakek ikut berkerut dalam, membuat keriput wajahnya semakin jelas. "Jadi Atok minta masker ke Gempa dan masuk ke kamar kalau mendengar suara seperti itu." Tiba-tiba mata renta Tok Aba berkaca-kaca. "Blaze … dia ..."
Sang kakek tak sanggup meneruskan, bibirnya bergetar.
"Blaze menghantamkan kepalanya sendiri ke tembok," Gempa melanjutkan perlahan. "Saat Tok Aba masuk kamar, dia meracau. Di antaranya dia bilang kalau dirinya nggak berguna ..." Gempa menelan ludah. "Bahwa salahnyalah kalau kamu sampai meninggal, Ice … salahnyalah jadi kakak sekamar yang nggak peka bahwa kamu sakit … lebih baik dia yang mati saja … dan seterusnya, dan sebagainya. Dia mencakari tangannya sendiri, menjambak rambutnya sendiri, sambil meracau itu."
Ice membekap mulutnya dengan tangan, menahan isakan keras yang hadir tiba-tiba. Air matanya sudah menetes.
"Kami juga dapat laporan dari Fang yang hampir tiap hari ditelepon Blaze ... kemudian aku dan Kak Taufan memindahkan gunting, cutter, pulpen, dan lainnya yang berujung tajam dari meja belajar masing-masing. Pisau dan lainnya yang ada di dapur, kami kunci di dalam lemari. Seminggu terakhir kamu koma adalah yang terberat ..." Gempa menghela napas di akhir kalimat.
"Yang setelah Kak Hali kumat vertigo itu ...?" Ice mengingat-ingat cerita Taufan sepanjang perjalanan pulang kemarin, masih sambil menangis.
"Iya, setelah itu. Setelah Blaze 'melihatmu' datang ke rumah ini dan naik ke lantai dua tapi berhenti di depan pintu Duri dan Solar."
Untuk semenit penuh, ketiga orang di ruangan itu terdiam.
Tok Aba yang sudah tenang berbicara lagi, "Atok juga khawatir Blaze bakal mencelakakan dirinya sendiri. Jadi Atok sering masuk ke kamarnya untuk sekadar menengok. Blaze tahu banyak luka baru di tubuhnya, dia ingat dia menyakiti diri sendiri tapi merasa dia layak mendapatkannya karena sudah membuatmu koma."
"Bukan salahnya Kak Blaze ..." protes Ice.
"Memang bukan, Ice, tapi dia merasa begitu dan Atok tak berhasil mengubah pemikirannya. Dia berteriak pada Atok kalau Atok mencoba bicara bahwa dia tidak bersalah."
Ice membelalak lagi.
"Kamu tenang, Ice. Blaze tidak berbuat apa pun pada Atok, hanya berteriak saja, itu pun tidak keras. Oh ya, Gempa sudah cerita pada Atok soal Blaze mencekik Solar. Ayah kalian juga sudah tahu tentang ini, tapi Atok belum bicara dengan Solar sendiri soal ini."
Ice masih belum bersuara. Gempa menggigit bibirnya dengan gelisah, menunggu kakeknya meneruskan.
"Kami menghubungi si psikolog rumah sakit, Hang Kasa, dan dia minta bicara dengan Blaze. Lewat panggilan video, kami tak tahu apa saja yang mereka bicarakan, tapi berikutnya Tok Kasa bilang pada Taufan dan Gempa bahwa apa yang keduanya lakukan sebagai pencegahan sudah cukup, juga agar tetap menjalankan ibadah bersama supaya ada komunikasi."
Si anak nomor lima tak tahu harus menanggapi seperti apa.
Tok Aba melanjutkan, "Kemarin pagi, Blaze akhirnya selesai isolasi, dan semua makan sahur bersama-sama untuk pertama kali. Kami dapat kabar dari Halilintar bahwa kamu sudah dipindah ke bangsal biasa, lalu semuanya berkemas untuk berangkat, kecuali Atok. Meski Atok juga kepengin pergi, tapi Gempa melarang," lanjut sang kakek, tersenyum lembut ke arah cucu yang dimaksud. "Lalu karena sudah sampai RS Yong Pin, Blaze juga menemui Tok Kasa sekalian. Dan untungnya kamu bangun, Ice ..."
"Iya Tok," sahut Ice lirih. Dia tak bisa membayangkan apa jadinya kalau sebaliknya, kalau Ice bin Amato bukan kembali ke rumah tapi ke rahmatullah? Bagaimana dengan Tok Aba, Ayah dan Ibu? Juga seperti apa saudara-saudaranya kalau kehilangan satu dari tujuh kembaran yang selalu bersama-sama? Lalu ternyata Tok Kasa sudah bertemu dengan Blaze sebelum berbincang dengan dirinya? Jadi rupanya pesan sang psikolog untuk "menjaga Blaze" betul-betul serius?
Gempa bersuara lagi, "Kamu lihat Blaze pakai baju berlengan sejak kemarin? Itu buat menutupi luka-luka di tangannya. Dia nggak mau kamu tahu tentang ini, tapi setelah kudiskusikan dengan Tok Aba, kamu harus tahu. Semoga setelah kamu sadar dari koma, dia nggak melukai diri sendiri lagi. Kusarankan kamu juga singkirkan gunting atau cutter dari meja belajar kalian ... karena kalau dia masih self-harm … kata Tok Kasa, Blaze akan diberi obat."
Ice mengangguk lesu.
"Blaze itu paling sayang padamu, Ice," sambung Tok Aba. "Tapi rasa sayang yang berlebihan juga tak baik."
"Kak Blaze semalam tidur di lantai, pinjam sleeping bag-nya Kak Hali," seloroh Ice.
Gempa menyahut, "Iya. Biarkan saja untuk sementara. Dia hanya … nggak ingin kehilangan kamu lagi."
"Jadi bukan karena kakinya masih sakit, ya?" gumam Ice.
Tiba-tiba Gempa menyadari sesuatu. "Kamu segera balik ke kamar, deh. Kalau Blaze bangun dan lihat kamu nggak ada di kamar, takutnya ada yang gawat."
Mendengar itu, Ice jadi berdebar. Seserius itu kah dampaknya dirinya koma? Batal minum susu, Ice bergegas naik ke kamar dan berniat menyalakan lampu agar Blaze tahu dia sudah bangun. Tapi sebelum mencapai kamarnya, dia bertemu dengan Solar yang baru keluar dari kamar mandi, masih berpiyama, tanpa kacamata. Sepertinya Solar habis cuci muka karena semalam si bungsu bilang mau maskeran sebelum tidur. Maskeran selalu jadi cara Solar untuk coping stress dan semalam dia habis disidang oleh tiga kakak tertua mereka.
"Pagi, Kak Ice," sapa sang adik.
"Pagi, Solar. Semalam jadi maskeran?"
"Iya, dong. Biar mukaku tambah mulus dan bersinar," sahut Solar percaya diri. "Oh iya Kak Ice … aku boleh peluk kamu?"
Sesaat Ice bingung. "Eh … memang kemarin kita belum pelukan, ya?"
Solar menggeleng. "Aku maunya peluk Kak Ice sendiri saja. Kemarin 'kan beramai-ramai, nggak enak lah. Yang ada aku kegencet nanti."
Ice tersenyum kecil. "Ya sudah. Sini ..." Ice merentangkan tangan dan mendekat. Solar maju dan merangkulnya balik, Ice agak kaget menyadari betapa kecil dan ringkih tubuh adiknya yang memang terkecil secara urutan kelahiran ini. Solar tidak bicara apa-apa selama memeluknya, tapi Ice bisa merasakan adiknya itu juga sangat lega dan bersyukur. Kemudian Solar melepasnya dan mundur. Ice bisa melihat mata kelabu Solar berkaca-kaca dan berujar,
"Solar, jangan nangis, nanti matamu bengkak. Percuma dong maskerannya."
Solar nyengir mendengarnya dan mengerjap supaya air matanya tidak jadi jatuh. "Iya, Kak."
"Eh, itu di lehermu masih ada sisa masker?" Ice menunjuk. "Sebelah sini."
Solar meraba lehernya pelan-pelan, ke noda gelap yang dimaksud Ice. "Oh, ini bukan sisa masker, Kak Ice," jawab Solar dengan nada tenang bersalut prihatin.
Ice mengerjap heran.
"Ada luka yang memang butuh waktu lama untuk sembuh," imbuh Solar, kali ini mengulas sebuah senyum yang dipaksakan. Anak bungsu itu melirik ke kamar Blaze dan Ice.
Seketika Ice paham apa yang dimaksud adiknya itu, tanpa Solar perlu mengucapkannya.
"Ini memar bekas cekikan Kak Blaze waktu itu ..."
.
.
.
.
.
bersambung.
.
.
.
.
.
.
Catatan Penulis:
Dengan munculnya tema self-harm dan suicidal thoughts di bab ini, serta ke depannya juga akan ada kekerasan yang lebih dari ini ... saya sempat berpikir mau menaikkan rating jadi Mature/Dewasa, tapi toh nantinya saya berusaha untuk tidak eksplisit pada tema-tema yang demikian. Di tiap bab yang dimaksud juga akan diberi warning. Semoga pesannya tetap dapat tersampaikan.
.
Cerita ini direncanakan akan tamat di bab 10. Roux hanya bisa update hari Sabtu atau Minggu, dan minggu terakhir dalam tiap bulan biasanya hectic, jadi kemungkinan setelah bab 6 ini saya baru bisa update lagi setelah masuk bulan Oktober.
Terima kasih sudah membaca dan menantikan kelanjutannya. Kritik dan saran sangat diterima ^^
19.09.2021
