Tangan terayun, kaki menendang. Lawan berkelit.

Gempa yang duduk di teras belakang terkagum-kagum sampai mengabaikan udara dingin pagi itu. Sepasang matanya yang berwarna keemasan mengikuti tiap gerakan kedua kakaknya yang saling menyerang dan menangkis—meski lebih banyak si sulung yang menyerang dan Taufan menangkis. Gempa baru tahu kakaknya yang nomor dua itu bisa bergerak segesit angin menghindari sebagian besar serangan Halilintar. Meski begitu, lama kelamaan Taufan jadi banyak terkena pukulan dan tendangan juga. Tubuhnya yang lebih tinggi daripada Halilintar membuatnya jauh lebih mudah disasar ketika kecepatannya menghindar mulai berkurang. Selain itu, melihat stamina Taufan mulai menurun, Halilintar makin gencar menyerang. Tangan dan kaki Halilintar tampak kian kabur saking cepat gerakannya. Taufan, dengan dahi berkerut serius, masih bisa bertahan sampai tiga menit kemudian.

Dengan satu puntiran kuat Halilintar mengakhiri serangannya dan Taufan dibuatnya jatuh terduduk di tanah. Halilintar melepaskan tangannya dan mundur. Sedetik kemudian si anak nomor dua bangkit berdiri dan langsung lari ke arah rumah sambil melolong,

"Kak Hali jahaaaaaaat! Sakiiiiit!"

Gempa bengong.

.

.

.

.

.


.

.

.

BoBoiBoy (c) Animonsta Studios

Through the Darkness (c) Roux Marlet

-Penulis tidak mengambil keuntungan material apa pun dari cerita ini-

Alternate Universe, Elemental Siblings without super powers

Family, Drama, Angst, Hurt/Comfort, Crime, Suspense

.

.

.


.

.

.

.

.

Bab Tujuh: Retak

.

Chapter warning:

violence, blood

.

.

.

"Cukup segitu dulu."

Gempa sudah dibuat terengah-engah dan berkeringat deras oleh Halilintar, padahal ini baru jam delapan pagi. Dia baru diajari beberapa gerakan dasar dalam beladiri dan mempraktikannya sedikit sekali—yang terakhir membuatnya terduduk di tanah seperti Taufan sejam yang lalu.

"Aku masih sanggup, Kak. Ayo lagi," Gempa bersikeras sambil mengatur napas.

"Nggak, hari ini 'kan ada jadwal kelas? Nanti kamu kecapekan."

"Nanti sore?" sambung Gempa, berusaha berdiri meski dirinya memang merasa capek. Ya ampun, ini masih pagi. Ternyata latihan beladiri memang cepat sekali menguras tenaga, apalagi mereka sedang puasa. Tak heran Taufan biasanya minta diajari malam hari saja, sekalian berangkat tidur.

"Kamu jadwal masak, 'kan?" Halilintar tetap membantah permintaan Gempa. "Sudah cukup, Gem. Nanti aku dimarahi Tok Aba kalau kamu sampai tumbang gara-gara latihanku."

Taufan mendengus di tepi teras. Di masing-masing tangannya ada sebungkus es batu yang sudah mencair sebagian, gunanya untuk mengompres bekas-bekas peperangannya dengan Halilintar tadi. Dengan cemberut diperhatikannya Gempa masih memohon untuk melanjutkan latihan dan Halilintar yang bersikukuh menolaknya.

Kadang Taufan merasa, Halilintar itu pilih kasih ke Gempa. Bahkan sejak latihan pertamanya dengan si sulung, Taufan sudah mendapatkan tendangan dan pukulan yang tidak main-main. Seolah Halilintar memang menganggapnya orang jahat dan berniat melukainya separah mungkin. Sedangkan, tadi? Lihat saja betapa 'lembut' pukulan-pukulan Halilintar yang dilontarkan ke arah Gempa. Makanya Gempa masih bisa minta tambah porsi latihan—dia tidak merasakan apa yang Taufan rasakan di latihan pertamanya.

"Aku nggak pilih kasih, Fan. Jangan cemberut gitu, aneh tahu kalau kamu cemberut."

Taufan tersentak saat Halilintar bicara begitu di kamar. Gempa sedang mandi (lagi) karena merasa badannya lengket oleh keringat jadi Taufan memang hanya berdua dengan Halilintar di kamar itu. Si sulung tidak menoleh ke arahnya, tapi menghadap ke meja belajarnya sendiri, sedang menekuni buku pelajaran.

"Kamu itu lincah, sedangkan Gempa nggak sepertimu. Refleksnya lambat. Bakalan babak belur dia kalau kuserang seperti aku menyerangmu. Apalagi baru pertama."

"Memangnya aku nggak babak belur habis dihajar Kak Hali pertama kali?" balas Taufan masih sambil manyun, menatap punggung sang kakak dengan sebal.

"Kamu udah tahu sendiri dan nyiapin kompres es, tuh."

"Ya 'kan aku nggak mau badanku sakit berhari-hari. Lagian, tadi itu apa-apaan? Nggak biasanya kamu menyerangku seganas itu, Kak."

"Yaaa anggap saja … balas dendam untuk riasan yang waktu itu."

Taufan tersenyum kecut. "Alamak … masih juga tentang itu. Kak Hali, jadi pendendam itu nggak baik."

"Gimana lagi? Sudah bawaan dari lahir. Dengan begini kuharap kamu bakal berpikir dua kali kalau mau mengerjaiku."

"Mana ada bawaan lahir? Kita ini dibuat dan dilahirkannya 'kan berbarengan?"

Halilintar mendadak bersuara ketus, "Fan, aku mau ada kuis. Jangan berisik."

"Ish, ish. Kak Hali. Selalu mengalihkan topik kalau aku bicara soal ini."

"Lho, aku beneran ada kuis. Dan hentikan itu. Ayah sudah pernah bilang tentang urutan kelahiran kita. Kamu setelah aku, Gempa setelah kamu."

"Tapi Kak Hali juga nggak menganggapku kakaknya Gempa, kok," Taufan merajuk.

Halilintar berbalik dan menatap adiknya tajam. "Astaga, apa perlu aku ucapkan terus terang, Taufan bin Amato?" Dia melotot, manik matanya yang sewarna rubi itu menyorot kesal. "Aku melatihmu lebih keras daripada Gempa karena aku berharap banyak padamu, Anak Nomor Dua. Gempa termasuk adikmu yang harus kaulindungi."

Mendengarnya, Taufan meringis. "Aku harus terharu atau tersindir, Kak?"

"Terserah."

Taufan sebetulnya merasa senang dan terharu dengan kalimat Halilintar, tapi jahilnya kumat.

"Terima kasih ya, Kak Halilintar tersayang~"

"Jijik," balas si sulung datar, kembali menghadap bukunya supaya Taufan tidak bisa melihat rona merah di wajahnya.

"Uuh, bilang aja Kak Hali sayang Taufan~" sang adik malah makin menjadi-jadi.

Halilintar membalas tanpa menoleh, "Iya, sayang kok … sayang banget bola basketnya Blaze nggak ada di sini. Kalau ada, mau kutimpuk kepalamu, Fan."

"Aaa, bola basket, ya." Taufan tiba-tiba berhenti dari menggoda kakaknya, nadanya kembali serius. "Kak Hali, strategi kita sudah mulai jalan hari ini, 'kan?"

Si sulung tidak langsung menjawab. Taufan menunggunya bersuara.

"Iya, Fan. Nggak akan kubiarkan hal itu terulang lagi."

.

.

.

.

.

Ibarat telur yang retak, seseorang yang mengalami trauma mendalam biasanya tidak bisa kembali utuh seperti semula.

Demikian halnya dengan Blaze bin Amato. Dia tak lagi menemukan kesenangan ketika menyentuh bola basketnya. Sejak seminggu setelah Ice pulang ke rumah, Blaze masih belum bisa tersenyum, tertawa, apalagi berbuat jahil—membuat Taufan merasakan kehilangan terbesar.

Selama Gempa masih dalam pelatihan, hanya Halilintar atau Taufan yang boleh mendampingi kalau ada yang perlu keluar rumah—dan yang keluar rumah bersama mereka pun, hanya Gempa, Duri, atau Solar. Mereka sepakat tidak mengajak Blaze pergi kalau tidak ada yang mendesak. Ice dengan bijaksana juga tidak menawarkan diri untuk ikut pergi. Sekarang ke mana-mana di dalam rumah mereka selalu berdua dan Blaze hampir selalu menggenggam tangan Ice yang sekarang senantiasa terasa hangat.

"Ice, kamu mau ke mana?" Blaze bertanya ketika Ice beranjak dari sofa ruang tamu. Mereka sedang nonton televisi di hari Minggu.

Yang ditanya menyahut, "Ambil susu di dapur."

Blaze ikut bangkit dari sofa. "Biar kutemani."

Kalau kebetulan Taufan bertemu pandang dengan Ice, seperti yang terjadi saat dia mengambil susu dari kulkas dengan diawasi oleh Blaze, dia hanya akan menggoda,

"Duh, kasihan Blaze lagi puasa harus nonton Ice minum susu."

Itu ledekan sekaligus sindiran miris, karena Ice tersenyum kepadanya dengan sorot maklum. Ice memang masih dalam penyesuaian dosis obat tiroidnya sehingga dokter menyarankan untuk menunda puasa bulan depan.

"Tambah pahala," balas Blaze, entah bercanda entah tidak, Taufan sulit membedakan ketika wajah Blaze senantiasa murung seperti ini. "Ayo, Ice."

Lain waktu, Ice dicegat ketika baru berdiri dari kursi belajar dan hendak membuka pintu kamar untuk keluar.

"Ice mau ke mana?" Blaze tiba-tiba sudah di dekatnya.

"Kamar mandi, Kak. Kebelet nih."

"Oke. Jangan lama-lama, ya."

"Nggak lama, tergantung isinya banyak atau enggak," balas Ice sambil nyengir, mengelus-elus perutnya yang tak segendut dulu—dan Blaze masih tidak ikut tersenyum.

Ice sudah belajar: dia akan pamit duluan tiap kali akan keluar dari batas penglihatan Blaze.

"Kak Blaze, aku mau ke kamar mandi dulu."

Dan bilik kamar mandi menjadi saksi, betapa Ice selalu menahan diri untuk tidak menangis di depan kakaknya. Seperti kata Solar, memang ada luka yang sulit untuk sembuh ...

.

.

.

.

.

Di antara semua orang serumah, Ice dan Taufan adalah yang paling merasakan dampak dari perubahan Blaze. Taufan masih ingat permulaan laporan Fang waktu isolasi mandiri—bertepatan dengan Tok Aba yang menyampaikan padanya dan pada Gempa tentang tingkah Blaze dalam isolasinya.

"Aku bingung mau bilang pada siapa … di antara kalian semua, aku paling dekat dengan Blaze. Meski sekelas juga dengan Duri dan Solar, aku nggak sedekat itu untuk bisa ngomong tentang ini ke mereka. Halilintar dan aku cukup dekat, tapi dia ada di rumah sakit. Jadi ya sudah, kalian berdua saja, ya. Kalian awasi Blaze betul-betul. Dia bilang dia mau mati saja."

Mana mungkin Taufan dan Gempa tidak panik mendengar kabar itu meski bisa menduganya sebelumnya? Sementara mendengarkan cerita Fang soal keluhan-keluhan Blaze lewat telepon, waktu itulah Tok Aba masuk ke kamar mereka berdua dan membuktikan apa yang disampaikan Fang. Dugaan terburuk mereka jadi kenyataan.

"Jadi karena itu Atok minta masker kemarin …?" seloroh Gempa sambil merenung.

Mereka berdua memutuskan untuk mendatangi Blaze, tak hanya dengan pelindung pernapasan alias masker, tapi juga berusaha menguatkan hati. Di saat terakhir, Gempa yang gemetaran mengurungkan niat untuk masuk ke kamar itu.

"Kak Taufan duluan saja …" Si anak nomor tiga berpaling, menyembunyikan matanya yang berkaca-kaca. Tok Aba menemaninya duduk di sofa ruang tamu, tanpa suara memberikan semangat pada Taufan untuk masuk sendirian. Taufan merasa seperti akan terjun ke medan perang ketika membuka pintu kamarnya sendiri—setelah mengetuknya singkat.

"Blaze ..."

Adik Taufan itu duduk bersandar di atas ranjang dengan kepala terbenam di antara lututnya. Dia tidak menyahut maupun mendongak. Di lengan atasnya terlihat jelas bekas-bekas cakaran yang masih baru. Sprei ranjangnya acak-acakan, begitu pula rambutnya.

"Blaze," panggil Taufan lagi. Dia sudah duduk di tepi ranjang Halilintar yang dipakai Blaze. "Kamu oke?"

Taufan yakin Blaze tidak sedang tidur. Lama sekali baru Blaze menjawabnya dengan suara parau,

"Ice akan mati, apa aku oke dengan itu, Kak?"

Hati Taufan serasa disiram air es. "Kita harus optimis, Blaze. Ice butuh doa kita."

Blaze menggeleng dengan gusar, kepalanya masih tertunduk. "Ice sudah mau mati … gara-gara aku ..."

"Blaze, bukan gara-gara kamu," sahut Taufan dengan lembut.

"Lebih baik aku mati saja … aku nggak sanggup hidup kalau nggak ada Ice."

Mendengar itu Taufan hampir saja naik pitam—tapi dia bukan Halilintar, dan Blaze pasti mengucapkan kalimat egois barusan tanpa berpikir jernih, jadi dia menanggapi pelan-pelan, "Blaze … coba pikir, kalau amit-amit Ice nggak tertolong, lalu kamu sengaja milih mati … aku nggak sanggup lho kehilangan dua adik sekaligus. Ice juga pasti nggak mau kamu memilih mengakhiri hidup sendiri. Aku nggak akan kotbah tentang dosa dan segala macam ... aku sayang kamu, kamu adikku. Apa kamu nggak sayang aku?"

Untuk pertanyaan itu, Blaze mengangkat kepalanya. Kelopak matanya sembab karena banyak menangis, pandangnya bertemu dengan netra biru Taufan yang bersinar jahil.

"Eh, kalau nggak sayang sama Kak Taufan nggak apa-apa sih. Tapi kamu sayang Tok Aba, Kak Hali, Gempa, dan adik-adikmu, 'kan?" lanjut Taufan sambil memasang cengiran. Dia berhasil membuat sudut bibir Blaze naik sedikit, tapi hanya sekilas saja.

"Aku nggak mau Ice mati."

"Aku juga, Blaze. Kita semua juga. Yang bisa kita lakukan sekarang adalah berharap."

.

.

.

.

.

Harapan mereka terbayar lunas waktu Ice bangun dari koma. Sekarang, setelah semua itu berlalu, Ice merasa dia wajib membayar utang. Dia sudah diberi kesempatan kedua oleh Tuhan untuk melanjutkan hidup.

Karena itu artinya belum waktunya untuk mati, Ice yakin ada hal yang masih harus dikerjakannya di dunia. Hal itu berhubungan dengan apa yang membuatnya sempat memilih akan menyeberang ke kematian—rasa bersalahnya pada kedua adiknya, Duri dan Solar, terkait insiden tujuh tahun silam. Meski itu hanya perasaan sepihak sedangkan baik Duri maupun Solar tidak ada yang menganggap Ice bersalah, Ice merasa dia bertanggung jawab memastikan kedua adiknya itu selalu baik-baik saja. Terutama si bungsu, yang selama Ice koma terkena akibat langsung dari retaknya hati Blaze.

Kalau ada kesempatan, Ice pasti mencoba mengamati gerak-gerik Solar. Adik bungsunya itu menyimpan rahasia dari semua kakaknya dan saat ini hanya Ice yang tahu. Di leher Solar masih ada bekas memar tapi entah bagaimana caranya si bungsu berhasil menyamarkan warna gelap itu dan dengan santainya memakai baju kaus biasa, bukan lagi turtleneck yang menutupi leher. Sepertinya Solar yakin sekali dengan kecanggihan make-up miliknya yang tak mudah luntur kena keringat. Kalau bukan karena Ice tahu ada memar di bagian situ saat Solar habis cuci muka setelah maskeran, dia pasti juga tidak menyadarinya.

"Aku kalau ada luka memar, memang lama hilangnya Kak," ujar Solar waktu itu. "Mungkin saking putihnya kulitku, ya? Hahaha."

"Tapi apa nggak bahaya, Solar? Sudah dua minggu dan bekasnya masih sejelas itu."

"Nggak masalah, bisa kututup pakai foundation dan bedak, kok."

"Bukan masalah kelihatan atau nggak ..."

"Terus Kak Ice mau minta aku berobat? Nanti ditanya dokter, ini kenapa bisa memar di leher? Terus aku mau jawab apa, Kak?"

Ice tidak bisa menjawab pertanyaan adiknya yang cerdas itu. Jadi untuk sementara dibiarkannya saja Solar. Lagipula ada hal lain yang perlu dipikirkannya.

Sejak pembicaraannya dengan Gempa dan Tok Aba, Ice tahu ini saatnya dialah yang menjaga kakaknya, Blaze. Saat ini ke mana-mana Blaze selalu menggandengnya dengan pandangan mata yang sering kosong, tapi tiap Ice mengajaknya bicara pasti mata itu kembali bersinar-sinar senang. Blaze hanya melepaskannya kalau mereka sudah kembali ke kamar, atau ada yang perlu ke kamar mandi, atau saat wudu dan salat, atau saat di meja makan. Bukannya Ice merasa seperti jadi tahanan Blaze, dia justru merasa kasihan. Akankah Blaze bisa kembali seperti yang dulu? Sekarang ini sekolah masih daring, tapi nanti kalau sudah pembelajaran tatap muka dan mereka beda kelas, apa jadinya?

Saat suatu siang Blaze ke kamar mandi untuk buang air, Taufan memanfaatkan kesempatan itu untuk duduk di sebelah Ice di ruang tamu dan menepuk pundaknya. Halilintar dan Gempa sedang pergi belanja, sedangkan Tok Aba, Duri, dan Solar di kamar masing-masing.

"Blaze aman?" tanya Taufan sambil tersenyum miring.

"Aman, Kak." Kalau yang dimaksud adalah tindakan melukai diri sendiri, Blaze sudah tidak pernah melakukannya. "No self-harm," tambah Ice.

"Masih sering ngigau?"

"Nggak, Kak. Tapi kalau mau ngomongin ini lebih lanjut, lewat chat saja, Kak Taufan."

"Alamak, kita ini tinggal serumah, masa mau ngobrol saja lewat medsos?" gerutu Taufan tapi masih sambil nyengir. "Blaze belum mau main bola?"

Ice menggeleng. "Dia banyak melamun, Kak. Kasihan."

Taufan menghela napas. "Pelan-pelan kita akan cari jalan keluarnya ..." Tiba-tiba Taufan teringat sesuatu. Selama ini seolah-olah mereka menganggap 'tidak terjadi apa-apa pada Ice selain dia sakit tiroid dan koma' padahal pengalamannya sama mengerikan dengan Blaze. "Oh iya, Ice, kamu sendiri … tentang penculikan itu, kamu nggak apa-apa?"

Awalnya Ice agak bingung dengan pertanyaan Taufan, tapi lalu dia paham. "Aku sudah nggak kepikiran tentang itu. Ada yang lebih penting untuk dipikirkan."

Mungkin hasil tes Pak Guru Kokoci memang masih relevan untuk saat ini. Ice itu kuat mentalnya dan dia merasa punya tanggung jawab menolong Blaze yang kini terpuruk. Taufan sendiri tak bisa membayangkan, kalau dia yang di posisi Ice dan mengalami semua itu, mulai dari penculikan, pelecehan, dipaksa minum alkohol, sampai koma dan nyaris mati … masihkah dia sanggup untuk tersenyum, seperti Ice sekarang ini?

"Terbaik, Ice ..." Taufan tak tahu mesti berkomentar apa lagi.

"Terima kasih, Kak," sahut Ice, senyumnya tipis. "Tapi bukan hanya Kak Blaze yang kupikirkan. Solar … coba Kak Taufan amati dia."

"Solar?" Dahi Taufan berkerut. "Kenapa dia?"

Saat itu ternyata Blaze sudah kembali dari kamar mandi. Ice tidak jadi mengungkap sebuah rahasia.

"Hola, Blaze. Sudah lunas setorannya?" Taufan menyapa Blaze duluan, lengkap dengan cengiran.

"Sudah."

Taufan yakin sekali inilah yang disebut 'sakit tapi tidak berdarah' seperti yang warganet ributkan di media sosial. Hatinya sakit mendapati jawaban sang adik yang demikian datar, yang kemudian bergegas menggenggam kembali tangan Ice yang tidak beranjak ke mana-mana.

Blaze yang ceria dan suka bikin party, Blaze si tukang bikin onar, Blaze yang nomor dua terjahil di rumah setelah Taufan … Blaze yang itu sudah pergi dan belum (atau tidak akan?) kembali. Sebagai gantinya mereka mendapatkan Ice yang tak lagi pemalas dan lamban, Ice yang bisa diandalkan, Ice yang menjadi wakil manajer rumah tangga nomor dua (wakil manajer nomor satu adalah Halilintar). Tunggu dulu, apa-apaan sih nama jabatan wakil manajer rumah tangga itu? Yah, Gempa si manajer rumah tangga sendiri yang bikin istilah begitu, suka-suka dia saja lah.

Taufan tahu dan percaya Tuhan itu mahaadil. Sesudah kesulitan pasti ada kemudahan. Hanya saja … kapan kemudahan itu akan datang?

Ah, dia jadi teringat pesan Ice untuk mengamati adik bungsunya. Memangnya Solar kenapa? Tak perlu diamati pun anak itu sudah mencolok, kok, dengan kacamata oranye terangnya dan penampilannya yang selalu berkilauan. Yah, dulu sebelum Solar kecelakaan yang pertama, dia tidak sebegitu bawelnya soal penampilan. Taufan beranggapan Solar itu terlalu cepat puber, tapi pertumbuhan badannya tidak mendukung hal itu. Di umur sepuluh tahun, Solar yang mungil sudah menjelma menjadi pemuda narsis yang sangat menjaga imejnya.

Sampai sekarang pun Solar tetap mungil, meski masih lebih mungil Duri tentu saja. Malah Taufan sendiri yang pertumbuhannya paling pesat di antara semuanya dan sering membuat jengkel Halilintar yang jadi kalah tinggi. Taufan senang-senang saja punya badan tinggi. Kalau kebagian tugas meliput di klubnya, dia jadi bisa mengambil gambar dengan lebih leluasa.

Taufan memang suka fotografi dan bidang yang menyertainya, yaitu jurnalistik. Ada alasan kuat kenapa dia minta dibelikan kamera dan laptop sendiri bahkan menyeleksi sendiri berdasarkan spesifikasinya—Taufan meyakini, foto adalah citra memori yang abadi. Foto yang dicetak bisa pudar oleh waktu, tapi foto digital cukup disimpan di cloud drive dan akan selama-lamanya ada di sana selama selalu dilakukan back up. Kapan pun foto itu ingin dilihat, tinggal buka perangkat.

.

.

.

.

.

Saking termakan ucapan Ice untuk mengamati Solar, Taufan jadi tanpa sadar sering menatap adik bungsunya itu, dari jarak aman tentu saja, karena kalau yang bersangkutan sadar dirinya diamati maka dia akan makin tebar pesona. Taufan kadang sebal kalau Solar kebagian jadwal mencuci piring. Lihat saja si narsis itu, bahkan sekadar membilas piring gerakannya bisa tampak keren dan elegan sekali.

Hari itu, tiga hari menjelang hari raya Idul Fitri. Kelas-kelas daring sudah diliburkan. Duri dan Solar tutorial memasak dengan Taufan dan Gempa sebagai pemandu, sementara Blaze dan Ice mencari resep di internet, duduk berdua di ruang tamu ditemani kakek mereka. Halilintar pergi ke apotek langganan mereka untuk membeli obat rutin Tok Aba—sendirian dengan sepeda motor, tak ada yang perlu dikhawatirkan kalau si sulung yang pergi sendirian. Halilintar pernah pulang dari bepergian seorang diri dengan baju kotor dan dia bilang sempat disergap preman di jalan karena saat itu sudah sore. Hasil akhirnya? Premannya yang terkapar, tentu saja.

Untuk persiapan hari raya, mereka masih harus belanja beberapa bahan makanan, dan yang kebagian jatah pergi siang itu adalah Taufan, Gempa, dan Duri. Saat itu Gempa sudah dianggap cukup mahir beladiri oleh Halilintar, tapi dia tetap perlu pengawasan.

"Apa lihat-lihat? Kak Taufan ngefans sama aku?"

"Dalam mimpimu, Solar," dengus si nomor dua, kesal karena ketahuan sedang mengamati si bungsu yang mengelap piring. "Hei," panggil Taufan ketika dia menyadari sesuatu. "Itu di lehermu ..."

"Bekas memar. Kayaknya memang nggak bisa hilang, sudah capek aku pakai bedak tiap hari."

Taufan tertegun. Apakah itu yang dimaksud Ice?

Gempa yang sedang mengajari Duri memotong sosis mendongak dengan paras cemas. "Memar yang waktu itu, Solar?"

"Iya, Kak. Udah nggak sakit, kok. Tenang saja. Cuma memang bekasnya masih samar-samar."

Duri menatap mereka semua kebingungan. "Leher Solar kenapa?"

"Aku jatuh," jawab Solar cepat, tidak sepenuhnya berdusta karena waktu itu dia memang jatuh diterjang Blaze. "Nggak apa, Kak Duri. Sini, aku juga mau potong sosisnya!"

"Huu dasar, ambil kerjaan termudah, ya!" sambar Taufan dengan seringaian khasnya. "Sini lho, bilas dulu ayamnya sampai bersih!"

"Nggak mau, aku sudah cuci tangan," elak Solar.

"Yaa 'kan setelah pegang sosis juga nanti cuci tangan lagi," imbuh Gempa yang geli. Solar masih tidak mau berurusan dengan darah ayam. Akhirnya Gempa menyingkir dan membiarkan Solar bersama Duri memotong-motong sosis sementara dia sendiri yang menangani daging ayam. Taufan menyiapkan air dalam panci untuk direbus dan bumbu-bumbu yang akan dipakai.

"Kapan Corona pergi sih, Solar?" celoteh Duri sambil menggerakkan pisaunya hati-hati. Mata hijaunya fokus pada sosis di depannya.

"Nggak tahu, Kak. Para ahli dunia saja nggak bisa jawab," sahut Solar yang juga berkonsentrasi penuh pada pisau dan sosisnya. Dia tahu kedua kakak mereka mengawasi betul-betul kegiatan sederhana dengan pisau itu. "Kenapa memangnya, Kak Duri?"

"Duri pengen ajak Kak Ice pergi beli gelato yang waktu itu!" seru si nomor enam antusias.

Tiba-tiba ada teriakan yang amat keras dari ruang tamu. "NGGAK BOLEH!"

Semua yang ada di dapur terlonjak, termasuk Duri yang sedang menekan pisaunya dan meleset karena kaget. Jari telunjuknya teriris dan langsung berdarah. Duri memekik kencang dan Solar di sebelahnya langsung mundur dengan gugup.

"HUAAAAAAAAAAAAAAAA!"

"Ice di rumah saja … di luar banyak orang jahat!" lanjut Blaze yang tadi berteriak dari ruang tamu karena mendengar Duri mau mengajak Ice pergi.

"Kak Blaze ..." Ice merangkul kakaknya yang mendadak terlihat murka, seluruh wajahnya memerah dan matanya melotot. Ice juga bisa mendengar Duri menangis di dapur disusul suara-suara panik—apa yang barusan terjadi di sana? Sebelum Ice bisa melakukan apa pun, Blaze sudah melompat dari sofa dan menghambur ke dapur.

"Blaze!" seru Tok Aba. Sang kakek dan Ice segera beranjak dari posisi masing-masing dan ikut masuk ke dapur.

"Astaga, astaga!" jerit Gempa tanpa bisa menahan paniknya melihat Duri terluka.

"Duri, Duri, tenang dulu, sini pelan-pelan ..." bujuk Taufan yang juga panik tapi mendekati Duri yang berjongkok sambil menangis, tangan yang terluka digenggamnya erat. "Sini Kak Taufan lihat ..."

Solar sudah mundur sampai ke pojok ruangan menyaksikan kakaknya berdarah. Tak ada yang sempat memerhatikannya, Taufan dan Gempa fokus pada adik yang terluka.

"Nggak ada yang boleh bawa Ice pergi!" seru Blaze sambil menerjang maju. Susah payah Ice menahannya, merangkulnya dari belakang dengan kedua tangan.

"Kak Blaze, aku nggak pergi ..."

"DIAM!" Blaze membentaknya. Tak hanya Ice yang terlonjak kaget mendengar bentakan sekeras itu. Solar yang gugup tak sengaja menyenggol wadah gula dan garam, membuat semuanya terguling tumpah ke lantai. Tangisan Duri makin keras.

"Blaze, kita ke kamar saja ..." bujuk Tok Aba.

"NGGAK!" balas Blaze yang tak mengindahkan fakta bahwa kakeknyalah yang barusan bicara. Dia meronta-ronta seperti kesetanan. "Errrrghhh Ice, lepaskan!"

"Kalau kulepas, Kakak mau apa?" Ice berusaha menarik Blaze keluar dapur, dia bahkan bisa melihat otot yang tegang dan pembuluh darah bertonjolan di sekitar leher dan wajah kakaknya—bahaya sekali kalau Blaze dilepaskannya. "Kita ke kamar!"

Dapur itu dipenuhi erangan Blaze yang masih meronta, tangisan Duri yang terbagi antara kesakitan dan ketakutan, serta usaha dari Ice dan Taufan menenangkan saudara di pelukan masing-masing.

"Kak Blaze … kenapa … seram … huhuuu … sakiiiiit. Huweeeee!"

"Gem, ambil antiseptik dan plester!" seru Taufan yang kerepotan membagi perhatiannya.

"Ya Kak." Gempa sudah hampir berderap pergi dengan paras tegang, tapi dia melihat pergulatan Ice di ambang pintu dapur yang tampak kewalahan menahan Blaze seorang diri. Gempa mendorong kedua adiknya itu menjauh dari dapur sambil berseru pada si bungsu,

"Solar, kamu yang ambil antiseptik dan plester. Di mejaku, pojok kanan, di sebelah kotak alat tulis."

Ada jeda dua detik sebelum Solar menyahut mengiyakan dan menyelinap keluar dapur menuju kamar tiga kembar tertua. Gempa sudah berhasil menggiring biang masalah ke ruang tamu.

"Ice, kamu minggir … Blaze, aku nggak mau menyakitimu … tapi aku terpaksa. Maaf."

Blaze mengaduh keras saat Gempa memuntir tangannya kuat-kuat. Setelah dibegitukan barulah Blaze tertunduk dan berhenti meronta. Sambil masih memaki-maki pelan, anak nomor empat itu diseret naik oleh Tok Aba dan Ice, sedangkan Gempa kembali ke dapur.

Luka Duri sudah dibersihkan dan ditutup plester oleh Taufan, tapi dia masih terisak-isak keras. Solar membereskan tumpahan bahan di lantai tanpa bicara, sorot matanya juga tegang seperti Gempa.

"Huhuuuu … sakiiiiit Kak …" ujar Duri di sela isakannya.

"Cup cup, Duri, sudah jangan nangis. Puasanya batal."

Taufan memeluk adiknya itu, mengelus-elus punggungnya supaya sang adik tenang. Duri sangat jarang terluka karena proteksi saudara-saudaranya, jadi sekalinya dia mengalaminya, bisa sangat heboh efeknya.

"Gem, kamu sama Solar saja yang pergi belanja, bisa?" usul Taufan sementara Duri di pelukannya masih sesenggukan. "Kamu toh lebih paham pernak-pernik belanjaan daripada aku."

Gempa tertegun sejenak. "Oke kalau begitu, Kak. Solar …?" Dia menoleh pada si bungsu yang baru disadarinya tampak pucat meski coba tersenyum seolah dia baik-baik saja. "Kamu nggak apa-apa?" Barulah Gempa ingat, Solar masih takut melihat darah.

"Nggak apa-apa, Kak. Lagian aku tadi numpahin garam dan gula, jadi aku ikut belanja aja. Aku ganti baju dulu ya." Solar segera melesat ke lantai dua.

Gempa mengernyit, bertukar pandang dengan Taufan yang masih memeluk Duri. Mereka sepakat, Blaze memang masih sakit.

"Kita perlu hubungi Tok Kasa, Kak Taufan?"

Taufan tak langsung menjawab. "Iya, nanti aku hubungi. Kamu belanja saja, keburu terlalu siang."

.

.

.

.

.

Ada sesuatu dari insiden barusan yang membuat Solar terkenang masa lalu. Warna hijau dan merah … sepertinya ada kenangan menyakitkan soal dua warna itu. Dia setengah melamun sambil berjalan kaki bersama Gempa ke arah supermarket yang letaknya tak terlalu jauh, jadi mereka lebih memilih jalan daripada bersepeda.

Gempa sendiri masih memikirkan Blaze dan Duri, berharap Tok Aba dan Ice bisa mengurus Blaze di kamar mereka, dan agak merasa bersalah karena terpaksa menggunakan kekerasan pada adiknya itu. Kenapa tadi Blaze tiba-tiba mengamuk seperti itu, tampaknya semuanya bisa maklum; tapi apakah Duri juga bisa memahami kondisi Blaze? Dan itu bukan sesuatu yang normal dijumpai sehari-hari—Blaze jelas butuh pengobatan. Gempa mengirim pesan pada Halilintar sembari berjalan, mengabarkan apa yang baru saja terjadi.

"Kak Gem ..." panggil Solar. "Dulu itu, Cattus mati terlindas mobil, ya?"

Gempa mendongak dari ponselnya. "Iya," jawabnya berhati-hati.

"Cattus berdarah-darah?"

Sama sekali tak ada bayangan ke mana arah pertanyaan Solar, Gempa menyahut, "Iya ..."

"Waktu itu, Kak Duri memeluk Cattus yang berdarah-darah?"

"Seingatku iya."

Solar tersenyum sendu di balik maskernya. "Kalau begitu, sepertinya itu yang membuatku takut melihat darah."

Gempa terhenyak. Dia tidak terlalu ingat ada di mana Solar saat Cattus mati. Yang jelas dia ingat Duri menangis heboh sekali sampai meraung-raung berjam-jam, tak mau melepaskan jasad kucing kecil itu dari pelukannya sampai ayah mereka harus menunggungnya tertidur baru bisa menguburkan Cattus. Waktu itu Duri tak peduli baju hijau miliknya jadi penuh darah si kucing.

"Mungkin saja, ya ..." sahut Gempa sambil merenung. "Kejadian itu pasti membekas sekali untuknya. Dan untukmu juga, rupanya ya."

Solar mengangguk, mereka sudah hampir sampai supermarket. "Sebetulnya aku nggak terlalu ingat. Karena kejadian tadi, aku jadi samar-samar ingat. Kalau begini terus, apa aku bisa jadi dokter bedah, Kak?"

Gempa menghela napas di balik masker. "Setahuku pulih dari trauma itu bisa, Solar, tapi perlu proses."

Saat itu sebuah suara asing terdengar dari belakang mereka, "Maaf … apa betul dengan Solar bin Amato?"

Kedua anak kembar itu menoleh. Seorang pria yang tubuhnya lebih pendek daripada Solar, sedang membungkuk dengan gestur sopan di hadapan mereka. Dia memakai kemeja rapi warna hijau dengan masker kain berwarna sama dan menyodorkan sebuah kartu nama kepada Solar.

"Saya Kassim, wartawan dari majalah Spektra Malaysia, majalah sains dwibulanan. Saya tahu Anda juara olimpiade fisika tahun lalu. Apa boleh saya wawancara Anda sebentar …?"

.

.

.

.

.

Halilintar sudah selesai membeli obat Tok Aba di apotek langganan mereka, Apotek Ah Beng & Sons. Letaknya agak jauh dari rumah dan pemiliknya memang sempat kehabisan stok obat karena pandemi menghalangi distribusi obat ke Pulau Rintis. Makanya obat Tok Aba yang terakhir hanya bisa diberikan untuk tiga minggu. Si sulung baru akan meluncur kembali ke arah rumah ketika ada panggilan video masuk ke ponselnya.

Nomor Gempa. Ada apa Gempa meneleponnya siang-siang begini? Jangan-jangan ada hal gawat di rumah? Atau di luar rumah? Seingatnya hari ini Taufan, Gempa, dan Duri akan pergi belanja. Segera dijawabnya telepon itu.

Alangkah kagetnya Halilintar ketika yang muncul di layar bukan wajah yang serupa dengannya, namun milik pria dewasa dengan seringaian mengerikan dan rambut jabrik biru keperakan.

"Halilintar bin Amato … ke sini sekarang juga, selamatkan adik-adikmu."

Kamera bergeser, menyorot dua sosok pemuda yang terikat dan terbaring di lantai dengan penerangan samar-samar. Seketika Halilintar menggeram marah.

"Jahanam! Di mana kau?!"

"Sudah kubagikan lokasinya … jangan matikan video ini, atau mereka berdua kubunuh. Dan jangan berani menelepon atau menghubungi siapa pun."

Halilintar menghentikan sepeda motornya. Saat ini dia berada di pinggir hutan, jalanan sangat sepi. Sialan, apakah orang itu yang bernama Retak'ka? Kalau mengingat deskripsi yang diceritakan Ice, mungkin saja demikian.

"Kau masih di situ, Halilintar?" Pria di seberang sambungan melontarkan retorika. Dia harusnya bisa melihat sendiri Halilintar di depan layarnya.

"Siapa kau?" balas si sulung setengah membentak.

"Namaku Retak'ka ..." sambut si pemilik nama sambil menyeringai. "Pasti kau sudah dengar namaku sebelum ini. Ke sini cepat atau mereka berdua mati."

Halilintar melepas sarung tangan berkendaranya dan mengutak-atik layar. Susah payah dia melakukannya karena tangan yang gemetar oleh amarah dan kepanikan. Lokasi yang dibagikan sedang aktif, Halilintar tak sempat lagi membaca pesan Gempa di atasnya. Segera dia tancap gas menuju tempat yang dimaksud dengan pikiran kalut.

Kenapa hanya dua adiknya? Bukankah yang pergi belanja rencananya tiga orang? Kalau hanya berdua, harusnya salah satu adalah Taufan, bukan? Tapi yang meneleponnya ini nomor Gempa, jadi mesti Gempa adalah salah satu yang diculik. Lalu siapa yang satu lagi? Masa Duri? Halilintar menggeletar ngeri membayangkan kalau sampai betul adiknya yang lugu itu terlibat hal seperti ini. Bagaimana bisa mereka sampai tertangkap oleh penjahat yang sama dengan yang menculik Blaze dan Ice?

"Tunjukkan adik-adikku, aku mau lihat mereka," ujar Halilintar sambil memacu kendaraannya. Retak'ka memenuhi permintaannya dan menyorot ke arah dua tawanannya. Halilintar mengurangi kecepatan dan mengamati layar untuk kemudian kembali terbakar rasa marah. Dia tak bisa memastikan siapa yang diculik, tapi memang hanya dua orang, dan keduanya kini tinggal berpakaian dalam saja dengan mata ditutup. Tak ada pembeda apa pun untuk mengenali siapa kembarannya yang diculik ini—hanya dari warna rambut yang identik Halilintar tahu pasti dua orang itu adiknya.

"Kau apakan mereka, hah?" sembur si sulung dengan jantung berdebar.

"Hanya melucuti pakaian mereka, mengikat tangan, juga menutup mata. Kalau kau tidak mau mereka kenapa-kenapa lebih dari ini, datanglah segera. Sendirian."

Halilintar mengertakkan gigi. Dia sedang melakukannya! Sambil terus berkendara, dia mencoba menenangkan diri untuk berpikir. Kalau hanya dua orang yang diculik, pasti ada yang lain di rumah. Jika dalam satu jam mereka yang pergi tidak ada yang pulang atau berkabar, mestinya ada yang akan bertindak. Begitulah strategi yang disusunnya bersama Taufan. Pasti ada jalan—kecuali jika Taufan juga ikut diculik. Itu kemungkinan terburuk dan Halilintar berharap kenyataannya tidak seburuk itu.

Ya Allah, bagaimana bisa kejadian ini terulang kembali, padahal mereka sudah berusaha mencegahnya ...

.

.

.

.

.

Harusnya Gempa sudah waspada sejak mendengar kata "wartawan". Keluarga mereka tidak pernah baik-baik saja jika berurusan dengan media massa dan Gempa seharusnya ingat itu, apalagi Solar baru saja membahas kematian Cattus yang dilindas oleh wartawan-wartawan biadab di Kuala Lumpur, meski Solar dan Duri sendiri tidak tahu sejauh itu. Tapi melihat Solar yang sangat antusias ketika tahu akan diwawancara majalah sains yang barangkali cukup ternama (karena jujur, Gempa sendiri belum pernah mendengarnya), dia tak tega mencegah. Yang jelas, Solar tidak akan dibiarkannya sendirian.

"Saya kakaknya. Saya ikut wawancara, ya."

"Oh ya, silakan saja. Hanya sebentar, saya juga tidak mau mengganggu agenda kalian."

Pria kecil itu membawa mereka ke sebuah taman yang sepi dan mengeluarkan pulpen serta buku catatan.

"Apa nanti akan ada fotoku di majalah itu?" Solar bertanya, sorot matanya di balik kacamata berbinar-binar.

"Boleh saja, tapi teman saya yang membawa kamera. Saya tidak bawa. Soal itu bisa nanti … Nah mungkin data diri dulu. Solar bin Amato … kamu lahir di tanggal berapa?"

"Tiga belas Maret ..."

Pandangan pria itu berpindah sebentar pada Gempa. "Kalian bersaudara kembar?"

"Ya," jawab Gempa cepat.

"Dan namamu, Kakak …?"

"Gempa."

"Jadi Solar dan Kak Gempa lahirnya di tanggal yang sama, ya?"

Gempa mengangguk lagi, berharap tidak akan ada pertanyaan mengenai berapa jumlah saudara kembarnya.

Pria itu kembali pada narasumber utamanya. "Solar suka fisika sejak umur berapa?"

Solar berpikir-pikir. "Sejak masih sekolah dasar, kurasa."

"Teori atau dalil fisika yang paling disukai?"

"Tentang spektrum cahaya … oh, dan dalil termodinamika."

"Tokoh idolamu?"

"Albert Einstein."

"Selain fisika, suka pelajaran lain?"

"Matematika, bahasa Inggris … hmm, kimia dan biologi juga. Ya, aku suka semuanya."

Pria itu tertawa singkat di balik maskernya sambil terus menulis di buku kecilnya. "Kamu suka belajar, ya?"

Solar mengangguk bersemangat. Kemudian pria itu mengarahkan pulpennya pada Solar seolah benda itu mikrofon.

"Apa Solar suka bereksperimen?"

Pertanyaan itu membuat Solar mengerutkan dahi. "Eksperimen apa maksudnya? Kalau tentang laboratorium, aku hanya bisa mencobanya di sekolah. Di rumah terlalu berbahaya."

"Eksperimen yang seperti ini contohnya," pria itu bergumam dan menekan tombol di samping pulpennya. Sesuatu melesat melewati pelipis Solar dan menabrak pohon di belakangnya dengan bunyi keras.

"Apakah ..." Baik Gempa maupun Solar hanya sempat menggumamkan kata itu, karena berikutnya dua orang melompat keluar dari balik semak di belakang mereka dan meringkus keduanya. Gempa segera memasang kuda-kuda sebelum diringkus sepenuhnya dan berhasil menyikut orang yang akan menangkapnya, tapi Solar ditaklukkan dengan mudahnya tanpa bisa melawan.

"TOLONG!" pekik Gempa sekuat tenaga, menghindar lagi dari penyerang yang satu.

Pria besar yang menahan Solar membekap mulutnya yang masih tertutup masker, mencegahnya menjerit kuat-kuat. Solar melotot dan menendang-nendang, tangannya bergerak ke arah kakaknya, menyuruhnya kabur.

"Jangan ke mana-mana, Gempa bin Amato," pria kecil dari majalah sains berkata pelan tapi jelas ketika melihat Gempa bersiap untuk lari minta bantuan. "Atau adikmu kutembak. Pulpen ini isinya mesiu dan timah betulan, tahu." Pria itu menembak ke arah pohon dan segera ada bekas proyektil melingkar di situ. Pelurunya bisa ditembakkan tanpa suara dan pria itu sekarang mengarahkan ujung pulpennya ke kepala Solar. Gempa merasa kakinya lemas dan tak bisa melawan ketika penjahat yang satu lagi, pria kurus tinggi yang tadi belum berhasil menangkapnya, kini meringkus kedua tangannya di belakang tubuhnya. Gempa bisa merasakan sengatan kecil yang kemudian membuat sekujur badannya kesemutan. Apa barusan itu stun gun?

"Kau membohongi kami," tuduh Gempa dengan suara gemetar sementara digiring berjalan ke arah hutan.

"Tidak. Aku memang kerja untuk majalah itu," si pria kecil menjawab dengan entengnya. "Dan kerjaan sambilanku adalah jualan narkoba. Hahaha."

"Penyamaran yang baik, Kechik," komentar si pria besar yang menahan Solar.

"Memang lah. Kau tahu sendiri, Gogobi. Identitasku adalah yang paling aman di antara kita semua."

"Penjahat. Kami mau dibawa ke mana?" ujar Gempa lagi, diliriknya Solar yang langkahnya terhuyung-huyung dan pandangan matanya berkeliaran tak tenang.

"Lihat saja nanti," ujar si pria kecil.

Saat sudah berjalan cukup jauh, mereka sampai di sebuah rumah dengan daun pintu yang sudah lapuk. Gempa dan Solar didorong masuk sampai terhempas di lantai semen yang keras. Solar bersuara duluan,

"Kak Gem … maaf."

"Aku yang minta maaf. Aku lengah."

Belum sempat kedua saudara itu saling bicara lagi, dua pria yang tadi meringkus mereka menarik paksa jaket masing-masing.

"Mau apa kalian?!" pekik Gempa sambil meronta saat jaketnya dilepaskan, tubuhnya masih kaku dan kesemutan. Para penjahat tidak berhenti sampai situ. Ponsel Gempa dan seluruh harta keluarga mereka dalam bentuk kartu ATM ada di dompet dalam saku celananya, yang kini sedang dilepaskan dengan paksa oleh si pria tinggi kurus. "Jangan ..."

"Tidaaaaaak!" jerit Solar ketika baik jaket putih trendi maupun kacamata dan maskernya tak lagi melekat pada tubuhnya. Pria yang bertubuh besar melucuti juga kemeja Solar di bawah jaketnya, sampai sepatu dan celana panjangnya. Solar meringkuk gemetaran, tak bisa bergerak karena habis disetrum stun gun bertegangan rendah, lalu para penjahat mengikat tangannya di balik punggung. Sebelum matanya ditutup dengan kain, dia masih sempat melihat bahwa Gempa bernasib sama sepertinya—nyaris ditelanjangi, hanya tersisa singlet dan celana dalam saja, tangannya juga diikat di punggung. Berikutnya mereka disengat sekali lagi dengan stun gun. Gempa merintih-rintih tertahan, mungkin dia disetrum lebih kuat daripada Solar yang hanya merasa kesemutan sekarang. Kemudian terdengar seseorang menelepon Halilintar.

"... kalau kau tidak mau mereka kenapa-kenapa lebih dari ini, datanglah segera. Sendirian."

.

.

.

.

.

Sepuluh menit sejak perintah terakhir si penjahat, Halilintar masuk ke dalam rumah di mana lokasi itu berakhir.

"Gempa! Solar!" serunya.

Seorang pria bertepuk tangan. "Hebat, hebat. Kau tetap bisa mengenali saudaramu meski mereka seperti ini, ya?"

Ketika Halilintar melihat Retak'ka, pikirannya adalah: barangkali orang ini mantan pegulat atau semacam itu. Badannya tinggi besar, bahunya lebar, lengan dan dadanya kekar dan berotot, tipe orang yang kau tak akan mau berurusan macam-macam dengannya. Halilintar mengedarkan pandangan. Ada tiga orang pria selain Retak'ka di ruangan itu, yang terlihat seperti gudang perkakas besar dengan banyak kotak kayu serta barang-barang logam yang berserakan. Dan saat masuk tadi dia langsung mendapat gambaran jelas tentang siapa yang ditawan: adiknya yang mungil dan kurus itu Solar. Kulit wajah serta lengan dan kakinya putih dan bersih sekali berkat perawatan yang telaten, kalau Duri pastilah ada bagian yang agak gelap karena terbakar sinar matahari ketika berkebun. Yang satunya memang Gempa, tangan dan kakinya agak berotot seperti Blaze tapi tidak ada bekas luka. Lagipula, tak mungkin Blaze mau keluar rumah. Kedua adiknya itu meringkuk membisu, mata tertutup, dan tangan terikat, tapi gemetarnya tubuh Solar terlihat nyata dan Halilintar bisa mendengar rintihan pelan Gempa. Mereka tidak dibius, mereka dalam keadaan sadar.

"Lepaskan mereka!"

Retak'ka tak langsung menjawab, dia menunjuk ke arah Gempa. "Ini adikmu yang nomor … tiga? Dan satunya, nomor tujuh? Kalian benar-benar kembar tujuh?"

Halilintar menolak menjawabnya. Matanya nyalang.

"Yang merah dan biru kemarin, nomor empat dan lima?" Retak'ka tersenyum miring, dia memang tidak memakai masker. "Jadi masih ada yang nomor dua dan nomor enam?"

"Lepaskan mereka," ulang Halilintar dari balik masker hitamnya.

"Pemilik Kedai Kokotiam punya tujuh orang cucu kembar, laki-laki semua. Benar begitu, Kechik?"

"Ya Bos." Salah satu pria yang cebol menjawab.

"Dan kau Halilintar, kembaran sulung."

"Apa maumu?!" bentak si empunya nama.

"Aku bebaskan adikmu kalau kau mau ganti diikat."

"Terserah. Bebaskan mereka."

Retak'ka tampak senang mendengar jawaban Halilintar. "Gogobi, Cakada, bawa mereka berdua. Kechik, kau ikat Halilintar."

"Bos, dia ini ahli beladiri, lho. Aku yang harus mengikatnya?"

"Dia tak akan macam-macam selama kita menahan adik-adiknya," ujar Retak'ka dengan yakin. "Betul begitu, Halilintar?"

"Lepaskan dulu mereka. Baru ikat aku."

"Oh, tidak. Lakukan saja bersamaan, supaya adil. Aku menepati janji. Taruh tanganmu di balik punggung."

Halilintar menggigit bibir melihat Solar ditarik berdiri oleh si pria besar dan Gempa oleh pria satunya yang tinggi kurus. Ikatan tali di tangan mereka berdua dilepaskan dan di saat yang sama Halilintar merasakan borgol yang dingin di tangannya, di belakang punggungnya.

"Biarkan mereka pergi," ujar Halilintar lagi, napasnya memburu karena sekarang ganti dirinya yang ditahan. Setidaknya Gempa dan Solar bisa pergi dari sini dan minta pertolongan. Kedua adiknya itu dituntun berjalan oleh dua pria—penutup mata mereka masih terpasang.

"Kenapa mata mereka masih ditutup?!" sergah si sulung. Solar berjalan tersandung-sandung karena tak bisa melihat dan mengaduh karena kakinya tak terlindung dari material sekitar—pria besar itu menyeretnya dengan kasar.

"Mereka tak boleh tahu tempat ini," sahut Retak'ka sambil mengamati tahanan barunya yang berdiri dengan tangan terborgol.

"Mana pakaian mereka?" tantang Halilintar tanpa rasa takut. Apa pun yang mau mereka lakukan terhadapnya, Halilintar akan menanggungnya. Yang penting adik-adiknya bisa bebas! Tapi kalau mereka kabur dengan kondisi nyaris telanjang begitu, juga akan bermasalah.

"Nanti akan dikembalikan, kalau mereka sudah keluar dari rumah ini."

Sejurus kemudian, pria besar dan pria tinggi kurus kembali.

"Sudah beres, Bos."

Retak'ka meraih bahu Halilintar dan mendorongnya untuk berjalan. "Kau ikut kami ke mobil."

"Apa maumu? Tahu apa kau tentang keluargaku?"

"Apa, apa? Bicaramu tak jelas, tahu." Retak'ka menarik masker kain Halilintar terlepas. "Mengganggu saja benda ini."

"Kembalikan!" seru Halilintar, suaranya jadi keras sekali setelah tidak tertahan kain.

"Nah, begitu. Aku jadi bisa mendengarmu dengan jelas."

"Memang kembar identik, ya, Bos. Dia mirip sekali dengan dua yang kemarin, juga dua yang tadi," komentar pria tinggi kurus.

"Tapi yang ini raut wajahnya lebih garang," timpal pria besar.

"Memang patut, dia ini anak sulung ..." ujar pria kecil yang tadi dipanggil Kechik.

"Oh, ya, aku hampir lupa." Retak'ka mengeluarkan sesuatu dari sakunya dan mengetik. Ponsel dengan casing kuning-hitam itu … milik Gempa!

"'Kak Taufan, supermarket ramai sekali. Kami akan pulang terlambat.' Bagaimana? Sudah kedengaran seperti Adik Gempa yang penuh sopan santun, bukan? Kalian punya grup medsos keluarga, ya? Bagus sekali. Di mana ponselmu, Halilintar? Berikan padaku."

Retak'ka mencari sendiri alat komunikasi itu di kedua saku celana Halilintar dan menemukannya di saku sebelah kanan.

"Sebaiknya kamu tidak usah mengirim pesan juga. Nanti adik-adikmu yang lain jadi curiga. Hahaha!"

Mereka sudah sampai di pekarangan, ada sebuah mobil besar terparkir di tengahnya. Pria besar membuka pintu dan mendorong Halilintar masuk.

"Sana naik!"

Halilintar jatuh ke depan, dia sudah pasrah mau diapakan saja karena baginya keselamatan adik-adiknya mengatasi segalanya, tapi hatinya mencelos ketika melihat sudah ada seseorang di jok belakang mobil itu.

"S-solar ..."

Sosok mungil yang nyaris tanpa pakaian itu menggeliat, matanya masih tertutup. "Kak Hali?"

"Kok kamu masih di sini?!" seru si sulung murka. "Dasar sial! Kalian bohong! Retak'ka, jawab aku!"

Terdengar suara Retak'ka, "Aku tidak bohong. Tadi aku bilang akan membebaskan adikmu, bukan 'adik-adikmu' dan kau menerimanya. Hanya satu adikmu yang kubebaskan."

Halilintar mengerang menyadari dirinya telah ditipu dengan keji. Sekarang dia ditahan dan masih ada Solar yang juga ditahan. Grup keluarga sudah dimanipulasi dengan pesan palsu dari 'Gempa' yang mengabarkan mereka akan pulang terlambat, artinya Taufan tidak bakalan bertindak sebelum lewat waktu yang cukup lama.

Harapan mereka tinggal Gempa ...

"Adikmu yang satu lagi sudah kubebaskan dari dunia ini, dia didorong ke jurang ..."

"APAAA?!" Tak hanya Halilintar yang berseru kali ini, Solar juga kaget mendengarnya.

"Penipu!" Halilintar naik pitam. "Penjahat busuk!"

"Teriak saja sepuasmu." Terdengar suara berat salah satu pria bawahan Retak'ka yang membanting pintu mobil menutup. Jok belakang disekat dari bagian depan dan di jendelanya, jadi mereka tak bisa melihat apa-apa di luar. Mobil itu mulai melaju dan Halilintar mengerang lagi.

"Solar, apa yang terjadi?" tanyanya lirih, baru menyadari sekarang tangan Solar juga dipasangi borgol sepertinya. "Sini mendekatlah, kubukakan penutup matamu."

Berikutnya, mata kelabu Solar tampak takut dan cemas.

"Kak Hali … maaf … salah satu dari mereka mengaku wartawan dari majalah sains. Aku diminta wawancara dan kami diringkus. Kak Gempa tadinya sudah melawan dan hampir berhasil kabur, tapi mereka mengancam menembakku kalau Kak Gem berani kabur."

Halilintar lupa ada faktor senjata yang tak selalu bisa dilawan dengan beladiri, juga faktor kelembutan hati Gempa yang tadi dimanfaatkan oleh para penjahat.

"Mereka menggertak saja. Mana mungkin mereka betulan menembakmu."

"Pistolnya berbentuk pulpen dan nggak ada suaranya, Kak."

Halilintar menghela napas dan mengembuskannya keras-keras. "Gempa harusnya langsung kabur sejak pertama, bukannya membiarkanmu diwawancara. Wartawan selalu saja busuk, mau betulan maupun gadungan."

Solar termenung sedikit mendengarnya. "Bukan salahnya Kak Gempa dong … 'kan aku yang mau. Aku yang termakan jebakan mereka. Lagipula, ada apa dengan wartawan? Bukannya Kak Taufan mau jadi wartawan?"

Si sulung tidak menjawab.

Biasanya setelah pertanyaannya tidak terjawab, Solar akan terus mengejar sampai rasa ingin tahunya terpuaskan. Tapi kali ini, Solar juga diam saja.

"Kenapa kamu yang pergi dengan Gempa?" Halilintar bersuara lagi.

"Jarinya Kak Duri teriris pisau. Cuma Kak Taufan yang bisa tenangin dia."

"Teriris pisau? Taufan dan Gempa membiarkan Duri memegang pisau?" Nada suara Halilintar menajam.

"Tadinya Kak Gem mengawasi. Tapi lalu aku juga mau potong sosisnya dan Kak Gempa mengurus daging ayam. Lalu Kak Duri bilang mau ajak Kak Ice pergi beli gelato dan Kak Blaze di ruang tamu teriak … Kak Duri kaget dan nangis keras sekali … Kak Blaze menerjang masuk dapur, Kak Ice dan Tok Aba menahannya … begitulah."

Halilintar terhenyak. Banyak hal yang terjadi di rumah rupanya. Blaze masih belum stabil dan secara tidak langsung membuat Duri terluka … Taufan dan Duri batal pergi belanja, dan sebagai gantinya Gempa dan Solar yang pergi …

"Maaf Kak," ujar Solar bermenit-menit kemudian. "Kak Hali jadi ikut diculik."

"Kamu mengkhawatirkanku, Solar?" tanya Halilintar ketus. "Terbalik, tahu."

"Ya, aku juga khawatir pada diriku sendiri. Tapi Kak Hali itu biarpun garang, sama persis kayak Kak Gempa. Hatimu sebenarnya lembut, jadi kalau aku disiksa, pasti kamu mau menuruti apa pun mau mereka. Itu gunanya ada dua orang yang diculik."

"Dasar sial," rutuk Halilintar sambil berpaling untuk menyembunyikan rona merah di wajahnya, tak bisa membantah.

Solar melanjutkan, "Jadi pendek kata, sepertinya mereka mengincarmu, Kak."

Halilintar menoleh cepat. "Buat apa?"

"Entahlah. Mereka ini pengedar narkoba, 'kan?"

"Iya. Kata Fang mereka suka bereksperimen … entah apa maksudnya."

"Kita ngobrol begini, mereka dengar nggak sih? Atau kita harus bisik-bisik?"

Halilintar angkat bahu. "Biar saja. Mereka sudah mencari tahu tentang kita sebelum hari ini. Bahkan tahu urutan saudara kita."

Solar mengerjap cepat. "Apa Kak Taufan bakal tahu ada yang aneh?"

Dalam hati, Halilintar berharap demikian. Tapi mendadak dia merasa lemas.

"Solar, kamu—?"

Ada gas obat bius dalam kabin mereka. Solar sudah duluan ambruk, Halilintar masih sempat merutuk sebelum ikut pingsan.

.

.

.

.

.

Saat Halilintar mendapatkan kesadarannya kembali, dia duduk terikat dalam posisi yang berbeda. Di kedua tangannya terpasang borgol yang tersambung dengan rantai, terentang ke dua sisi dinding yang tak terlalu lebar. Di hadapannya ada beberapa sofa dan sebuah meja, juga ada empat orang pria selain dirinya di ruangan yang tampak seperti ruang tamu sebuah rumah mewah itu.

Retak'ka melihatnya siuman lalu mendekatinya sambil mengeluarkan alat suntik dari sakunya. Kedua manik merah Halilintar membelalak lebar.

Orang-orang ini pengedar obat terlarang. Kalau dulu mereka mencekoki Ice dengan alkohol, apa kali ini Halilintar mau mereka paksa memakai narkoba?

Habislah …

Napas Halilintar memburu, dia memalingkan wajah sambil mencoba menarik kedua tangannya tanpa hasil. Bunyi rantai bergemerincing, Retak'ka sudah sangat dekat dengannya.

"Kenapa? Takut?"

Bahkan tanpa menatap si penjahat pun, Halilintar tahu orang itu sedang menyeringai penuh kemenangan. "Tolong jangan ..." bisiknya lirih, merasa harga dirinya tercabik dengan memohon kepada seorang penjahat. Halilintar benci sekali harus memelas di hadapan orang itu!

"Kau tidak mau?"

Retorika macam apa ini? Halilintar menggeleng kuat-kuat sambil menarik diri dengan sia-sia, dia masih belum mau melihat Retak'ka. Pria itu sudah meraih ujung lengan jaket merah-hitam Halilintar dan menyibakkan pergelangan tangannya. Halilintar meronta dan berseru sekuat tenaga,

"JANGAN!"

Retak'ka mencengkeram dagunya dan memaksanya berhadapan muka.

"Kau mau adikmu saja yang kusuntik?"

"TENTU SAJA TIDAK, JAHANAM!" sembur Halilintar murka. "Apa maumu sebenarnya? Apa urusanmu dengan keluargaku?"

"Ooh, tidak ada urusan besar, hanya saja … mengetahui kalian kembar tujuh membuatku sangat tertarik. Tenang saja, dengan obat ini kau akan jadi semakin kuat, Halilintar bin Amato."

Mata si sulung menyipit. "Semakin kuat? Jadi itu semacam doping?"

Retak'ka terbahak dan melepaskannya. "Bukan sekadar doping. Kau akan lebih mampu melindungi adik-adikmu dengan ini."

Retak'ka sialan. Dikiranya Halilintar sehina itu sampai perlu obat untuk jadi lebih kuat?

"Tugasmu sebagai anak sulung pastilah berat. Apalagi orang tua sudah tiada."

Apa-apaan itu? "Ayah dan Ibu kami masih ada!" balas Halilintar marah.

"Ooh, masih ada, tapi tak pernah ada di rumah, 'kan?"

Halilintar tak bisa membantah fakta itu. Sampai sejauh mana Retak'ka sudah mendapatkan informasi?

"Kuberi kau penawaran: kusuntik kau lalu kita tarung satu lawan satu. Yang menang adalah yang berhasil menahan lawannya di lantai selama lima detik. Kalau kau menang, kau dan Solar boleh pulang ke rumah Atok."

"Kalau aku kalah …?" Suara Halilintar terdengar kecil sekali.

Retak'ka menyeringai. "Kalian berdua ikut dengan kami ke Thailand."

"Aku akan melawanmu tanpa obat," sergah Halilintar.

"Mana bisa? Kau masih terikat."

"Jadi kalau aku bersedia disuntik, borgol dan rantainya akan dilepas?"

Si penjahat terbahak lagi sambil menggeleng. "Tidak juga." Senyumnya melebar, menikmati ekspresi marah Halilintar yang belum juga paham. "Obat itu bakalan bisa membuatmu mematahkan rantai sekalipun."

Halilintar menggeram. "Licik! Itu sama saja kau tidak memberiku pilihan!"

"Ooh, pilihan masih terbuka. Akan kuberi kau waktu untuk memikirkannya. Sementara itu … nikmati saja tinggal di sini. Anggap saja rumah sendiri!"

Retak'ka terbahak-bahak mendengar leluconnya sendiri, suaranya memantul-mantul di dinding yang dingin. Tawa mengerikannya itu membuat bulu kuduk Halilintar meremang. Untuk pertama kali di hidupnya, Halilintar merasa takut—koreksi, ini kali kedua Halilintar merasa takut. Belum ada dua minggu yang lalu dia takut sekali waktu melihat roh Ice ada di luar ICU, takut adiknya itu betulan akan meninggal … dan sekarang, Halilintar kembali takut. Dia tidak seorang diri saja diculik, ada Solar yang ikut dibawa bersamanya dan perkataan adik bungsunya itu betul—kalau Solar sampai diapa-apakan, Halilintar pasti tak bisa menolak apa pun yang para penjahat ini kehendaki. Dengan sorot was-was diedarkannya pandangan kembali. Dari tadi hanya dia yang ada di ruangan ini, juga ketiga pria yang tadi bersama Retak'ka. Dengan lantang Halilintar bertanya,

"Di mana Solar?"

Tawa jahat Retak'ka makin keras. Untuk semenit penuh pria gila itu tertawa sendirian. Halilintar sampai heran, terbuat dari apa ketiga pria yang adalah bawahan Retak'ka itu—mereka tidak ikut tertawa atau bereaksi apa pun.

"Kau tahu kenapa aku senang sekali?" Retak'ka balik bertanya setelah tawanya reda. "Kau pikir kami tidak menyusun strategi? Kau pikir kami akan keluar begitu saja tanpa rencana matang, setelah kemarin hampir tertangkap aparat di lepas pantai? Kami selalu mengawasi kalian, kami punya banyak skenario ..."

Halilintar merinding dan Retak'ka kembali mencengkeram dagunya.

"Kau dan Solar … kalian berdua adalah tangkapan terbaik dari semua skenario yang mungkin."

.

.

.

.

.

bersambung.

.

.

.


.

.

.

Catatan Penulis:

Akhirnya genre lengkap mulai bab ini, dengan masuknya crime dan suspense. Konflik utama sudah dimulai. Dan judul bab ini memang disengaja untuk permainan kata: 'retak' dalam arti kiasan soal kondisi Blaze, juga unsur nama si penjahat utama dari cerita sebelumnya.

Update berikutnya? Mungkin baru bisa bulan November :" semoga bisa lebih cepat, tergantung sikon di kerjaan.

Akhir kata, terima kasih sudah membaca. Kritik dan saran sangat diterima.

09.10.2021